Tawassul kepada Nabi Isa as

Semakan 176 pada 08:42, 27 Mei 2023 oleh Eaminiea (bincang | sumb.)
(beza) ← Semakan terdahulu | Semakan semasa (beza) | Semakan berikutnya→ (beza)

Pertanyaan:

Apakah salah bertawassul kepada Yesus (Nabi Isa as)?

Tawassul adalah menjadikan seseorang atau sesuatu di sisi Tuhan sebagai wasilah (perantara) untuk mendekati-Nya dan terpenuhinya hajat- hajat (kebutuhan). Para Nabi Ilahi adalah termasuk orang-orang yang terhormat (terpandang) di sisi Allah dan melalui mereka kita bisa dekat dengan Tuhan. Oleh karena itu, karena Yesus atau Nabi Isa as adalah salah satu nabi dan hamba Tuhan yang saleh, maka diperbolehkan untuk menjadikannya perantara dan meminta hajat serta bermohon kepada Allah dengan Haq-nya. Kaum Muslimin dalam bertawassul, meyakini bahwa hanya Allah semata yang memenuhi hajat (kebutuhan) dan meminta wali-wali Allah untuk meminta kepada Tuhan agar kebutuhan mereka terpenuhi; Oleh karena itu, meminta doa, bukan berarti menganggap selain Allah punya efek, tetapi mengakui bahwa Tuhanlah satu-satunya yang memenuhi hajat dan memiliki efek dalam alam keberadaan. [1]

Dalam ayat 35 surah Al-Maidah dikatakan: “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ”; Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah kepada-Nya.[2] Mengingat tiadanya batasan (qaid) pada kata “Wasilah” , maka hal itu berarti mencakup segala sesuatu yang memiliki kelayakan untuk mendekatkan manusia kepada Tuhan.