<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="ms">
	<id>https://ms.wikipasokh.com/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Eaminiea</id>
	<title>WikiPasokh - Sumbangan pengguna [ms]</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://ms.wikipasokh.com/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Eaminiea"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/view/Khas:Sumbangan/Eaminiea"/>
	<updated>2026-05-26T23:56:36Z</updated>
	<subtitle>Sumbangan pengguna</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.43.3</generator>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Tawassul_kepada_Nabi_Isa_as&amp;diff=176</id>
		<title>Tawassul kepada Nabi Isa as</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Tawassul_kepada_Nabi_Isa_as&amp;diff=176"/>
		<updated>2023-05-27T05:12:55Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Eaminiea: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Apakah salah bertawassul kepada Yesus (Nabi Isa as)?&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tawassul adalah menjadikan seseorang atau sesuatu di sisi Tuhan sebagai wasilah (perantara) untuk mendekati-Nya dan terpenuhinya hajat- hajat (kebutuhan). Para Nabi Ilahi adalah termasuk orang-orang yang terhormat (terpandang) di sisi Allah dan melalui mereka kita bisa dekat dengan Tuhan. Oleh karena itu, karena Yesus atau Nabi Isa as adalah salah satu nabi dan hamba Tuhan yang saleh, maka diperbolehkan untuk menjadikannya perantara dan meminta hajat serta bermohon kepada Allah dengan Haq-nya.&lt;br /&gt;
Kaum Muslimin dalam bertawassul, meyakini bahwa hanya Allah semata yang memenuhi hajat (kebutuhan) dan meminta wali-wali Allah untuk meminta kepada Tuhan agar kebutuhan mereka terpenuhi; Oleh karena itu, meminta doa, bukan berarti menganggap selain Allah punya efek, tetapi mengakui bahwa Tuhanlah satu-satunya yang memenuhi hajat dan memiliki efek dalam alam keberadaan. [1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ayat 35 surah Al-Maidah dikatakan: “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ”; Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah kepada-Nya.[2]&lt;br /&gt;
Mengingat tiadanya batasan (qaid) pada kata “Wasilah” , maka hal itu berarti mencakup segala sesuatu yang memiliki kelayakan untuk mendekatkan manusia kepada Tuhan.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Eaminiea</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Urgensi_Pengetahuan_Ketuhanan_(Teologi)&amp;diff=175</id>
		<title>Urgensi Pengetahuan Ketuhanan (Teologi)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Urgensi_Pengetahuan_Ketuhanan_(Teologi)&amp;diff=175"/>
		<updated>2023-05-27T05:12:31Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Eaminiea: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Pertanyaan:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Apa urgensi dan perlunya mengenal Tuhan? Apa akibat dari tiadanya perhatian dalam upaya mengenal Tuhan(teologi)?&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para teolog mengemukakan dua argumen(dalil) terkait urgensi atau perlunya pengenalan Tuhan, yaitu: memperhatikan kemungkinan hukuman di akhirat jika para Nabi mengatakan kebenaran (mencegah kemungkinan hal yang merugikan), dan kewajiban untuk mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan kepada manusia dimana hal itu hanya memungkinkan jika Dia dikenal (perlunya mensyukuri pemberi nikmat). Sepanjang sejarah kemanusiaan, perhatian manusia kepada Tuhan dan kecenderungan dirinya untuk mengidentifikasi sumber atau asal usul keberadaan, telah meningkatkan pentingnya pengenalan Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pentingnya Mengenal Tuhan (Teologi)==&lt;br /&gt;
Mengetahui asal usul eksistensi senantiasa menjadi salah satu perhatian utama umat manusia dan sebagian besar dari sumber-sumber agama adalah mendeskripsikan tentang Tuhan dan hubungan-Nya dengan manusia dan dunia.&lt;br /&gt;
Pentingnya pengenalan Tuhan juga dapat dilihat dari segi pengaruhnya terhadap kehidupan individu dan kolektif manusia. Tidak diragukan lagi bahwa kehidupan orang yang mengenal Tuhan sangatlah berbeda dengan kehidupan orang yang tidak percaya keberadaan Tuhan. Begitupula, perbedaan mendasar nampak pula ketika kita membandingkan kehidupan dua orang yang percaya kepada Tuhan yang masing-masing memiliki gambaran berbeda tentang Tuhannya. Semua ini karena keyakinan seseorang kepada Tuhan dan persepsi yang dia miliki tentang sifat-sifat-Nya, berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan, yaitu dalam motif, niat, penilaian dan tindakannya. Dengan kata lain, semuai itu memberikan makna dan konsep khusus dalam hidupnya dan memberinya karakter dan identitas khusus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Perlunya Pengenalan Tuhan (Teologi)==&lt;br /&gt;
Secara fitrawi dalam diri manusia telah tertanam suatu tingkat pengetahuan tentang Tuhan dan telah berjalin kelindan dengan keberadaan mereka. Pengetahuan bawaan ini hanya menciptakan  atau prakondisi bagi pertumbuhan dan penyempurnaan pengetahuan tentang Tuhan bagi manusia. Namun demikian, untuk lebih menekankan perlunya bergerak kearah pengenalan Tuhan, para teolog Islam telah mengemukakan serentetan argument terkait perlunya perenungan dan pengenalan terhadap Tuhan.[1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Mencegah Kemungkinan Hal Merugikan==&lt;br /&gt;
Setiap orang yang mengetahui kedatangan para nabi Ilahi serta ajakan mereka untuk menyembah Tuhan, akan timbul dalam pikirannya sebuah perkiraan atau kemungkinan bahwa jika saja para nabi benar dalam ajakan mereka, maka dia tentulah akan dihukum karena tidak menjalankan tugas-tugas (kewajiban) yang telah diberikan oleh para nabi. Dan dari sisi ini, kerugian besar akan menimpanya. Di sisi lain, akal menyatakan bahwa seseorang sedapat mungkin harus menghindari hukuman atau hal-hal yang merugikan, meskipun hal itu hanya berupa kemungkinan.&lt;br /&gt;
Olehnya itu, bagi setiap manusia terdapat kemungkinan bahwa ia akan mengalami azab dan hukuman dikarenakan tidak mengikuti agama, dan karena akal menyatakan perlu untuk mencegah kerugian akibat kekufuran, maka akal menetapkan bahwa seseorang harus meneliti dan merenungi keberadaan Tuhan dan sifat-sifatnya sehingga jika benar-benar ada Tuhan dan ajakan para nabi itu benar, dia bisa menyelamatkan dirinya dari azab Ilahi dengan mengikuti mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Perlunya Mensyukuri Pemberi Nikmat==&lt;br /&gt;
Tidak diragukan lagi bahwa manusia dalam hidupnya mendapatkan begitu banyak nikmat dan keberkahan. Di sisi lain, akal manusia menganggap rasa syukur atas “Pemberi nikmat” sebagai hal yang perlu; Oleh karena itu, manusia perlu berterima kasih kepada pemberi nikmat, dan karena rasa terima kasih suatu makhluk bergantung pada pengetahuannya, akal manusia menyatakan bahwa dia harus mengenali sang pemberi nikmat yang sesungguhnya (yaitu Tuhan itu sendiri).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Referensi==&lt;br /&gt;
1.	Dalam beberapa sumber dan referensi ilmu kalam, pembahasan ini diketengahkan dibawah judul umum “Wujub al-Nadzar” (perlunya berpikir). Menurut pendapat ulama Imamiyah dan Mu&#039;tazilah, kewajiban ini merupakan kewajiban rasional, dan Asy&#039;ari menganggapnya sebagai kewajiban syariat. Lihat Allamah Hilli, Kasyf al-Murad, hal. 260 dan 261; Al-Sayuri, Jamaluddin Miqdad bin Abdullah (Fadhil Miqdad), Irsyad al-Thalibin Ila Nahj al-Mustarsyidin, hlm. 111-113.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Eaminiea</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Apa_urgensi_dan_perlunya_mengenal_Tuhan%3F_Apa_akibat_dari_tiadanya_perhatian_dalam_upaya_mengenal_Tuhan(teologi)%3F&amp;diff=174</id>
		<title>Apa urgensi dan perlunya mengenal Tuhan? Apa akibat dari tiadanya perhatian dalam upaya mengenal Tuhan(teologi)?</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Apa_urgensi_dan_perlunya_mengenal_Tuhan%3F_Apa_akibat_dari_tiadanya_perhatian_dalam_upaya_mengenal_Tuhan(teologi)%3F&amp;diff=174"/>
		<updated>2023-05-27T05:12:04Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Eaminiea: Eaminiea telah memindahkan laman Apa urgensi dan perlunya mengenal Tuhan? Apa akibat dari tiadanya perhatian dalam upaya mengenal Tuhan(teologi)? ke Urgensi Pengetahuan Ketuhanan (Teologi)&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;#LENCONG [[Urgensi Pengetahuan Ketuhanan (Teologi)]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Eaminiea</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Urgensi_Pengetahuan_Ketuhanan_(Teologi)&amp;diff=173</id>
		<title>Urgensi Pengetahuan Ketuhanan (Teologi)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Urgensi_Pengetahuan_Ketuhanan_(Teologi)&amp;diff=173"/>
		<updated>2023-05-27T05:12:04Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Eaminiea: Eaminiea telah memindahkan laman Apa urgensi dan perlunya mengenal Tuhan? Apa akibat dari tiadanya perhatian dalam upaya mengenal Tuhan(teologi)? ke Urgensi Pengetahuan Ketuhanan (Teologi)&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Urgensi Pengetahuan Ketuhanan (Teologi)&lt;br /&gt;
Pertanyaan:&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Apa urgensi dan perlunya mengenal Tuhan? Apa akibat dari tiadanya perhatian dalam upaya mengenal Tuhan(teologi)?&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para teolog mengemukakan dua argumen(dalil) terkait urgensi atau perlunya pengenalan Tuhan, yaitu: memperhatikan kemungkinan hukuman di akhirat jika para Nabi mengatakan kebenaran (mencegah kemungkinan hal yang merugikan), dan kewajiban untuk mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan kepada manusia dimana hal itu hanya memungkinkan jika Dia dikenal (perlunya mensyukuri pemberi nikmat). Sepanjang sejarah kemanusiaan, perhatian manusia kepada Tuhan dan kecenderungan dirinya untuk mengidentifikasi sumber atau asal usul keberadaan, telah meningkatkan pentingnya pengenalan Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pentingnya Mengenal Tuhan (Teologi)==&lt;br /&gt;
Mengetahui asal usul eksistensi senantiasa menjadi salah satu perhatian utama umat manusia dan sebagian besar dari sumber-sumber agama adalah mendeskripsikan tentang Tuhan dan hubungan-Nya dengan manusia dan dunia.&lt;br /&gt;
Pentingnya pengenalan Tuhan juga dapat dilihat dari segi pengaruhnya terhadap kehidupan individu dan kolektif manusia. Tidak diragukan lagi bahwa kehidupan orang yang mengenal Tuhan sangatlah berbeda dengan kehidupan orang yang tidak percaya keberadaan Tuhan. Begitupula, perbedaan mendasar nampak pula ketika kita membandingkan kehidupan dua orang yang percaya kepada Tuhan yang masing-masing memiliki gambaran berbeda tentang Tuhannya. Semua ini karena keyakinan seseorang kepada Tuhan dan persepsi yang dia miliki tentang sifat-sifat-Nya, berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan, yaitu dalam motif, niat, penilaian dan tindakannya. Dengan kata lain, semuai itu memberikan makna dan konsep khusus dalam hidupnya dan memberinya karakter dan identitas khusus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Perlunya Pengenalan Tuhan (Teologi)==&lt;br /&gt;
Secara fitrawi dalam diri manusia telah tertanam suatu tingkat pengetahuan tentang Tuhan dan telah berjalin kelindan dengan keberadaan mereka. Pengetahuan bawaan ini hanya menciptakan  atau prakondisi bagi pertumbuhan dan penyempurnaan pengetahuan tentang Tuhan bagi manusia. Namun demikian, untuk lebih menekankan perlunya bergerak kearah pengenalan Tuhan, para teolog Islam telah mengemukakan serentetan argument terkait perlunya perenungan dan pengenalan terhadap Tuhan.[1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Mencegah Kemungkinan Hal Merugikan==&lt;br /&gt;
Setiap orang yang mengetahui kedatangan para nabi Ilahi serta ajakan mereka untuk menyembah Tuhan, akan timbul dalam pikirannya sebuah perkiraan atau kemungkinan bahwa jika saja para nabi benar dalam ajakan mereka, maka dia tentulah akan dihukum karena tidak menjalankan tugas-tugas (kewajiban) yang telah diberikan oleh para nabi. Dan dari sisi ini, kerugian besar akan menimpanya. Di sisi lain, akal menyatakan bahwa seseorang sedapat mungkin harus menghindari hukuman atau hal-hal yang merugikan, meskipun hal itu hanya berupa kemungkinan.&lt;br /&gt;
Olehnya itu, bagi setiap manusia terdapat kemungkinan bahwa ia akan mengalami azab dan hukuman dikarenakan tidak mengikuti agama, dan karena akal menyatakan perlu untuk mencegah kerugian akibat kekufuran, maka akal menetapkan bahwa seseorang harus meneliti dan merenungi keberadaan Tuhan dan sifat-sifatnya sehingga jika benar-benar ada Tuhan dan ajakan para nabi itu benar, dia bisa menyelamatkan dirinya dari azab Ilahi dengan mengikuti mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Perlunya Mensyukuri Pemberi Nikmat==&lt;br /&gt;
Tidak diragukan lagi bahwa manusia dalam hidupnya mendapatkan begitu banyak nikmat dan keberkahan. Di sisi lain, akal manusia menganggap rasa syukur atas “Pemberi nikmat” sebagai hal yang perlu; Oleh karena itu, manusia perlu berterima kasih kepada pemberi nikmat, dan karena rasa terima kasih suatu makhluk bergantung pada pengetahuannya, akal manusia menyatakan bahwa dia harus mengenali sang pemberi nikmat yang sesungguhnya (yaitu Tuhan itu sendiri).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Referensi==&lt;br /&gt;
1.	Dalam beberapa sumber dan referensi ilmu kalam, pembahasan ini diketengahkan dibawah judul umum “Wujub al-Nadzar” (perlunya berpikir). Menurut pendapat ulama Imamiyah dan Mu&#039;tazilah, kewajiban ini merupakan kewajiban rasional, dan Asy&#039;ari menganggapnya sebagai kewajiban syariat. Lihat Allamah Hilli, Kasyf al-Murad, hal. 260 dan 261; Al-Sayuri, Jamaluddin Miqdad bin Abdullah (Fadhil Miqdad), Irsyad al-Thalibin Ila Nahj al-Mustarsyidin, hlm. 111-113.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Eaminiea</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Pahala_Menziarahi_Para_Imam_Maksum_as&amp;diff=172</id>
		<title>Pahala Menziarahi Para Imam Maksum as</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Pahala_Menziarahi_Para_Imam_Maksum_as&amp;diff=172"/>
		<updated>2023-05-27T05:11:39Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Eaminiea: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Pertanyaan: &#039;&#039;&#039;Apakah mengunjungi(menziarahi) kuburan para imam as memiliki pahala? Apakah peziarah akan mendapat suatu balasan dari ziarah tersebut?&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam keyakinan orang Syiah, menziarahi kuburan Ahlulbait, para imam as, para auliya Allah dan imamzade(anak imam), memiliki banyak sekali keutamaan dan pahala. Istiqamah dalam keimanan, terampuni dosa-dosa, mendapat syafaat nabi saw, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara ganjaran yang dijanjikan bagi orang yang berziarah kepada mereka adalah istiqamah dalam keimanan, terampuni dosa-dosa, mendapatkan syafaat nabi saw, memperoleh kenikmatan surga, berada satu naungan dengan Ahlulbait as di surga, beratnya timbangan amal baik, serta mudah dalam hisab di hari kiamat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Hakikat ziarah kepada para Imam as==&lt;br /&gt;
Menziarahi para maksumin as memiliki pahala dan keutamaan yang banyak sekali, dan sesungguhnya menziarahi mereka adalah tanda cinta kepada mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Baqir as menukil sebuah hadis dari Nabi saw di mana Nabi bersabda kepada imam Ali: &amp;quot;Wahai Abu al-Hasan sesungguhnya Allah telah menjadikan kuburanmu dan kuburan para anak keturunanmu sebagai sebuah buq&#039;ah(monumen) dari surga dan Allah juga telah menjadikan hati para wali serta kekasihnya tertambat kepadamu, maka siapa saja di antara mereka yang menziarahimu demi meraih keridhoan ilahi, ketahuilah wahai Ali, mereka akan mendapatkan syafaatku, dan akan menyusulku di telaga kautsar serta akan menjadi para peziarah(pengunjungku) di surga nanti. Kemudian beliau saw bersabda: Siapa yang menziarahi kuburmu akan mendapat pahala setara dengan pahala 70 kali haji dan akan menjadi seperti seorang anak yang baru dilahirkan ibunya tanpa memiliki dosa apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Shadiq as juga berkata: &amp;quot;Tidak ada seorang pun yang menziarahi kuburan kami, kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam ampunan dan rahmat-Nya serta akan mengampuni dosa-dosanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat pula riwayat lain yang menjelaskan bahwa menziarahi semua imam maksum as adalah memiliki pahala yang luar biasa. Tentunya terdapat pula riwayat yang menjelaskan kekhususan dari ziarah setiap masing-masing imam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ziarah Imam Ali as==&lt;br /&gt;
Imam Shadiq as berkata: &amp;quot;Siapa yang menziarahi Amirul Mukminin Ali as dalam kondisi dia mengetahui haknya serta bukan atas dasar takabbur dan keterpaksaan, maka Allah akan memberikan pahala sebanyak seribu shahid kepadanya, selain itu dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang diampuni serta dibangkitkan bersama orang-orang yang beriman dan diberikan hisab yang mudah di akhirat. Dalam riwayat lain Imam Shadiq as berkata: &amp;quot;Surga baginya&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ziarah Imam Hasan al-Mujtaba as&lt;br /&gt;
Nabi saw bersabda kepada imam Hasan as: &amp;quot;Siapa yang menziarahi kuburmu dan ayahmu maka surga baginya&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ziarah Imam Husain as ==&lt;br /&gt;
Imam Shadiq as berkata: &amp;quot;Setiap orang mukmin yang menziarahi kubur al-Husain as dengan mengetahui haknya dan pada selain hari id, maka baginya pahala 20 haji dan umrah yang makbul (diterima), serta pahala jihad dengan nabi atau imam yang adil. Jika mukmin dalam hari id berziarah kepada al-Husain maka baginya pahala 100 haji, umrah serta jihad, dan siapa yang di hari Arafah menziarahi al-Husain maka baginya pahala 1000 umrah, haji dan jihad.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Musa bin Ja&#039;far as berkata: &amp;quot;Siapa yang menziarahi kuburan al-Husain dengan mengetahui haknya, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang lampau dan akan datang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Shadiq as berkata: &amp;quot;Sekiranya orang-orang tahu ada apa di balik ziarah imam Husain as, maka mereka akan saling membunuh dengan pedang satu sama lain demi bisa menziarahinya, harta mereka akan diberikan agar bisa berziarah kepadanya. Sayyidah Fatimah Az-Zahra yang 1000 nabi, 1000 shadiq (artinya gak tahu), dan 1000 malaikat bersamanya, tetap memandang dengan penuh rahmat kepada para peziarah al-Husain dan memohon ampunan dari Allah untuk mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ziarah Imam Baqir as ==&lt;br /&gt;
Hisyam bin Salim berkata: Seseorang datang kepada imam Shadiq as dan bertanya: Pahala apa bagi peziarah ayahmu? Imam Shadiq berkata: Siapa yang menziarahi ayahku, maka surga baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ziarah Imam Musa Kazhim as==&lt;br /&gt;
Perihal ziarah kepada imam Kazhim as, dalam sebuah riwayat Imam Ridho as berkata: &amp;quot;Siapa yang menziarahi ayahku di Baghdad, ia akan mendapat pahala berziarah kepada Imam Ali Amirul Mukminin as dan Nabi saw. &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ziarah Imam Ridho as==&lt;br /&gt;
Makalah asli: Pahala berziarah kepada Imam Ridho as&lt;br /&gt;
Perihal berziarah kepada Imam Ridho as, para maksumin memberikan penekanan lebih, hal itu dikarenakan beliau shahid terasing karena tidak berada di Madinah dan jauh dari sanak keluarga beliau. Karena itu para maksumin menekankan berziarah ke thus (Mashad), dan jangan sampai ingatan terhadap Imam Ridho hilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ziarah imamzadeh (Anak Imam)==&lt;br /&gt;
Dalam hadis-hadis para Imam, terdapat beberapa riwayat yang menjelaskan tentang berziarah kepada sebagian imamzadeh seperti Abdul Adzim Hasani dan ziarah Fatimah Maksumah di Qom.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ziarah Abdul Adzim Hasani==&lt;br /&gt;
Abdul Adzim Hasani (252 HQ) yang terkenal dengan Shah Abdul Adzim adalah seorang ulama dan sayyid dari keturunan Imam Hasan al-Mujtaba serta seorang perawi hadis. Nasabnya sampai kepada imam Hasan as dalam empat generasi. Syekh Shaduq mengenai ziarah kepada Abdul Adzim Hasani menukil riwayat: Ada satu orang yang berasal dari Rei mendatangi imam Hadi as dan berkata: Saya telah berziarah ke kuburan Sayyidus Syuhada. Imam Hadi as berkata kepadanya: Ziarah ke kuburan Abdul Adzim Hasani yang berada di tempat asalmu sama dengan berziarah kepada Husain bin Ali as.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ziarah Sayyidah Fatimah Maksumah ==&lt;br /&gt;
Sayyidah Fatimah Maksumah merupakan putri imam Kazhim as dan saudari imam Ridho as. Dia pergi ke Iran untuk menemui kakaknya yakni imam Ridho as. Dia sakit ketika dalam perjalanan dan meninggal dunia di kota Qom. Seputar ziarah kepada beliau terdapat beberapa riwayat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Ridho as berkata: Siapa yang menziarahi Fatimah binti Musa bin Ja&#039;far dengan mengetahui haknya, maka surga baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Shadiq as: Ziarah kepada Fatimah Maksumah sama dengan surga.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Eaminiea</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Agama_Nabi_Islam_sebelum_diangkat_dan_diutus_sebagai_Nabi&amp;diff=171</id>
		<title>Agama Nabi Islam sebelum diangkat dan diutus sebagai Nabi</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Agama_Nabi_Islam_sebelum_diangkat_dan_diutus_sebagai_Nabi&amp;diff=171"/>
		<updated>2023-05-27T05:11:14Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Eaminiea: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Agama apa yang diikuti Nabi Islam sebelum dilantik menjadi Nabi?&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada berbagai pandangan tentang agama Nabi Islam sebelum diangkat menjadi Nabi(Nubuwah). Di antara beragam pandangan tersebut menyebutkan Yudaisme, Kristen, agama Hanif (syariat Nabi Ibrahim as). Prinsip definitif dalam konteks ini adalah bahwa Nabi saw adalah seorang monoteis(penganut ajaran Tauhid) sebelum dia diutus sebagai Nabi dan senantiasa membenci berhala-berhala. Klaim ini disertai dengan argumen berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Imam Ali as di hadapan orang-orang yang mengenal latar kehidupan Nabi, menekankan kesucian nabi dari kemusyrikan dan dosa[1] serta mengingatkan kebertauhidan beliau dan keluarganya.[2]&lt;br /&gt;
* Berdasarkan bukti-bukti sejarah dan riwayat, Rasulullah saw memiliki nenek moyang yang bertauhid dan kakek-kakek beliau adalah penganut agama yang hanif dan pengikut Nabi Ibrahim saw.&lt;br /&gt;
* Di usia mudanya, dalam suatu perjalanan ke Suriah, Nabi saw  bertemu dengan seorang biarawan bernama Bahira. Ketika Bahira melihat tanda-tanda seorang nabi di wajah Muhammad muda, untuk mengujinya dia mengajaknya bersumpah kepada dua berhala &amp;quot;Lata&amp;quot; dan &amp;quot;Uzza&amp;quot;. Nabi dalam menjawab Bahira berkata, “لا تَسألنی بِهِما، فَوَ اللّه ما أبغضتُ شَیئَاً بُغضهما”(Buatlah aku bersumpah demi kedua berhala ini, aku bersumpah demi Allah, tidak pernah ada yang lebih kubenci selain kedua berhala itu”. [3]&lt;br /&gt;
* Dalam sumber-sumber sejarah disebutkan tentang ibadah-ibadah Nabi saw yang dilakukan nya sebelum diutus, seperti : shalat, puasa, dan haji. Beribadah di gua Hira merupakan salah satu kebiasaan lama Nabi. Haji Nabi tidak selaras dengan kebiasaan orang-orang musyrik, yang disertai dengan slogan musyrik, dan kesesuaian haji Nabi dengan haji Ibrahim tergambar dalam ritual seperti wukuf di Arafah.[4]&lt;br /&gt;
==Referensi==&lt;br /&gt;
* Teks tersebut diambil dari buku Porsman Esmat, Yusufian, Hasan, Markaz Muthaleat wa Pazuheshaye Farhangi Howzeh Elmiyeh(Pusat Kajian Budaya dan Riset Seminari), Qom, 1380 HS.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Eaminiea</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Apakah_salah_bertawassul_kepada_Yesus_(Nabi_Isa_as)%3F&amp;diff=170</id>
		<title>Apakah salah bertawassul kepada Yesus (Nabi Isa as)?</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Apakah_salah_bertawassul_kepada_Yesus_(Nabi_Isa_as)%3F&amp;diff=170"/>
		<updated>2023-05-27T05:10:54Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Eaminiea: Eaminiea telah memindahkan laman Apakah salah bertawassul kepada Yesus (Nabi Isa as)? ke Tawassul kepada Nabi Isa as&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;#LENCONG [[Tawassul kepada Nabi Isa as]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Eaminiea</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Tawassul_kepada_Nabi_Isa_as&amp;diff=169</id>
		<title>Tawassul kepada Nabi Isa as</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Tawassul_kepada_Nabi_Isa_as&amp;diff=169"/>
		<updated>2023-05-27T05:10:54Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Eaminiea: Eaminiea telah memindahkan laman Apakah salah bertawassul kepada Yesus (Nabi Isa as)? ke Tawassul kepada Nabi Isa as&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Tawassul kepada Nabi Isa as&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan:&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Apakah salah bertawassul kepada Yesus (Nabi Isa as)?&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tawassul adalah menjadikan seseorang atau sesuatu di sisi Tuhan sebagai wasilah (perantara) untuk mendekati-Nya dan terpenuhinya hajat- hajat (kebutuhan). Para Nabi Ilahi adalah termasuk orang-orang yang terhormat (terpandang) di sisi Allah dan melalui mereka kita bisa dekat dengan Tuhan. Oleh karena itu, karena Yesus atau Nabi Isa as adalah salah satu nabi dan hamba Tuhan yang saleh, maka diperbolehkan untuk menjadikannya perantara dan meminta hajat serta bermohon kepada Allah dengan Haq-nya.&lt;br /&gt;
Kaum Muslimin dalam bertawassul, meyakini bahwa hanya Allah semata yang memenuhi hajat (kebutuhan) dan meminta wali-wali Allah untuk meminta kepada Tuhan agar kebutuhan mereka terpenuhi; Oleh karena itu, meminta doa, bukan berarti menganggap selain Allah punya efek, tetapi mengakui bahwa Tuhanlah satu-satunya yang memenuhi hajat dan memiliki efek dalam alam keberadaan. [1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ayat 35 surah Al-Maidah dikatakan: “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ”; Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah kepada-Nya.[2]&lt;br /&gt;
Mengingat tiadanya batasan (qaid) pada kata “Wasilah” , maka hal itu berarti mencakup segala sesuatu yang memiliki kelayakan untuk mendekatkan manusia kepada Tuhan.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Eaminiea</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Hakikat_Tawassul&amp;diff=168</id>
		<title>Hakikat Tawassul</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Hakikat_Tawassul&amp;diff=168"/>
		<updated>2023-05-27T05:10:40Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Eaminiea: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Soal:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa hakikat dari tawassul? Menurut ayat-ayat dan riwayat-riwayat Islam, apakah boleh kita bertawassul kepada selain Allah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tawassul adalah menjadikan seseorang atau sesuatu di sisi Tuhan sebagai wasilah (perantara) untuk mendekati-Nya dan terpenuhinya hajat- hajat (kebutuhan). Menurut  kaum Syiah, tawassul adalah salah satu hal yang direkomendasikan dalam Alquran serta riwayat-riwayat, dan contohnya banyak terdapat dalam doa dan ziarah para Imam Syiah. Tawassul  bisa kepada siapa saja atau apa saja seperti para Nabi, para Auliya Allah dan para malaikat yang terpandang (mulia) di sisi Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Konsep Tawassul==&lt;br /&gt;
Tawassul dalam pengertian kata berarti mendekatkan diri  atau sesuatu yang mendekatkan kepada yang lain atas dasar kecintaan dan keinginan.[1] Secara istilah, tawassul adalah menjadikan sesuatu yang berharga (mulia) sebagai wasilah atau perantara untuk mencapai tujuan dan kedekatan Ilahi.[2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa hakikat dari tawassul? Menurut ayat-ayat dan riwayat-riwayat Islam, apakah boleh kita bertawassul kepada selain Allah?&lt;br /&gt;
Tawssul dalam  Alquran&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Apa hakikat dari tawassul? Menurut ayat-ayat dan riwayat-riwayat Islam, apakah boleh kita bertawassul kepada selain Allah?&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat beberapa ayat dalam Alquran yang mengisyaratkan kepada tawassul:&lt;br /&gt;
* “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ”; Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah kepada-Nya dan berjihadlah di jalan-Nya agar kamu beruntung. (Al-Maida: 35) Dalam ayat ini, perintah tentang “Wasilah” telah diberikan kepada orang-orang beriman. Para mufassir menyebut makna wasilah dalam ayat ini memiliki arti yang luas dan mencakup setiap pekerjaan dan segala sesuatu yang mendekatkan kepada Tuhan.&lt;br /&gt;
* Dinyatakan dalam Al-Qur&#039;an:  “Jika mereka datang kepadamu ketika mereka menganiaya diri mereka sendiri (dan melakukan dosa) dan meminta pengampunan kepada Tuhan dan Rasul juga meminta pengampunan untuk mereka, mereka akan menemukan Tuhan penerima taubat dan maha penyayang” (Al-Nisa: 64) Begitupula, saudara-saudara Nabi Yusuf berkata kepada ayah mereka: “Wahai ayah! Mintalah pengampunan dari Tuhan untuk kami, karena kami adalah orang berdosa”[3] dari kedua ayat ini dapat dipahami bahwa para Nabi dan para Auliya dapat menjadi perantara antara Allah dan hamba-hamba yang berdosa dan Allah akan mengampuni manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tawassul dalam Riwayat Ahlusunah==&lt;br /&gt;
Terdapat banyak riwayat di kalangan Syiah dan Ahlusunah yang mengabsahkan tawassul dalam pengertian sebagaiman yang telah disebutkan. Riwayat-riwayat tersebut sangat banyak dan telah dikutip di banyak buku, termasuk sumber-sumber Ahlusunah:&lt;br /&gt;
* Ahmad bin Hanbal, salah satu ulama besar Ahlusunah, meriwayatkan dari Usman bin Hanif: “Seorang pria buta mendatangi Nabi dan berkata: Mintalah kepada Allah untuk membuat saya sehat. Nabi menyuruhnya berwudhu dan sholat dua rakaat”. Kemudian berdoa seperti ini: “Wahai Tuhanku! Aku bermohon kepada-Mu dan melalui Muhammad, Nabi yang rahmat, aku menghadap kepada-Mu. Wahai Muhammad, tentang hajat-hajatku, aku menghadap kepada Tuhan dengan berwasilahkan engkau sehingga hajat-hajatku terkabulkan, Ya Allah, jadikan dia sebagai perantaraku”. [4] Dari riwayat ini dapat dimengerti bahwa bertawassul kepada Nabi Islam dengan maksud terkabulkannya hajat, adalah boleh.[5]&lt;br /&gt;
* Begitupula tawassul melalui para Ahlulbait Nabi saw Juga telah dinukilkan: “Keluarga Nabi adalah wasilahku, mereka adalah sebab kedekatan diriku di hadapannya. Aku berharap lantaran mereka di hari kiamat, catatan amalku diserahkan ke tangan kananku”.[6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tawassul kepada Selain Allah==&lt;br /&gt;
Tujuan dari tawassul adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan terpenuhinya hajat-hajat (kebutuhan). Bertawassul kepada para Nabi dan para Maksum as dianjurkan dalam Alquran dan dalam banyak riwayat jika itu dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Demikian pula, sumpah Allah pada kedudukan para Nabi, para Imam as serta hamba-hamba Allah yang saleh dan beriman adalah bagian dari konsep tawassul dalam makna yang luas.[7]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Eaminiea</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Apa_hakikat_dari_tawassul%3F_Menurut_ayat-ayat_dan_riwayat-riwayat_Islam,_apakah_boleh_kita_bertawassul_kepada_selain_Allah%3F&amp;diff=167</id>
		<title>Apa hakikat dari tawassul? Menurut ayat-ayat dan riwayat-riwayat Islam, apakah boleh kita bertawassul kepada selain Allah?</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Apa_hakikat_dari_tawassul%3F_Menurut_ayat-ayat_dan_riwayat-riwayat_Islam,_apakah_boleh_kita_bertawassul_kepada_selain_Allah%3F&amp;diff=167"/>
		<updated>2023-05-27T05:10:12Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Eaminiea: Eaminiea telah memindahkan laman Apa hakikat dari tawassul? Menurut ayat-ayat dan riwayat-riwayat Islam, apakah boleh kita bertawassul kepada selain Allah? ke Hakikat Tawassul&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;#LENCONG [[Hakikat Tawassul]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Eaminiea</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Hakikat_Tawassul&amp;diff=166</id>
		<title>Hakikat Tawassul</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Hakikat_Tawassul&amp;diff=166"/>
		<updated>2023-05-27T05:10:12Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Eaminiea: Eaminiea telah memindahkan laman Apa hakikat dari tawassul? Menurut ayat-ayat dan riwayat-riwayat Islam, apakah boleh kita bertawassul kepada selain Allah? ke Hakikat Tawassul&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Hakikat Tawassul&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tawassul adalah menjadikan seseorang atau sesuatu di sisi Tuhan sebagai wasilah (perantara) untuk mendekati-Nya dan terpenuhinya hajat- hajat (kebutuhan). Menurut  kaum Syiah, tawassul adalah salah satu hal yang direkomendasikan dalam Alquran serta riwayat-riwayat, dan contohnya banyak terdapat dalam doa dan ziarah para Imam Syiah. Tawassul  bisa kepada siapa saja atau apa saja seperti para Nabi, para Auliya Allah dan para malaikat yang terpandang (mulia) di sisi Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Konsep Tawassul==&lt;br /&gt;
Tawassul dalam pengertian kata berarti mendekatkan diri  atau sesuatu yang mendekatkan kepada yang lain atas dasar kecintaan dan keinginan.[1] Secara istilah, tawassul adalah menjadikan sesuatu yang berharga (mulia) sebagai wasilah atau perantara untuk mencapai tujuan dan kedekatan Ilahi.[2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa hakikat dari tawassul? Menurut ayat-ayat dan riwayat-riwayat Islam, apakah boleh kita bertawassul kepada selain Allah?&lt;br /&gt;
Tawssul dalam  Alquran&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Apa hakikat dari tawassul? Menurut ayat-ayat dan riwayat-riwayat Islam, apakah boleh kita bertawassul kepada selain Allah?&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat beberapa ayat dalam Alquran yang mengisyaratkan kepada tawassul:&lt;br /&gt;
* “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ”; Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah kepada-Nya dan berjihadlah di jalan-Nya agar kamu beruntung. (Al-Maida: 35) Dalam ayat ini, perintah tentang “Wasilah” telah diberikan kepada orang-orang beriman. Para mufassir menyebut makna wasilah dalam ayat ini memiliki arti yang luas dan mencakup setiap pekerjaan dan segala sesuatu yang mendekatkan kepada Tuhan.&lt;br /&gt;
* Dinyatakan dalam Al-Qur&#039;an:  “Jika mereka datang kepadamu ketika mereka menganiaya diri mereka sendiri (dan melakukan dosa) dan meminta pengampunan kepada Tuhan dan Rasul juga meminta pengampunan untuk mereka, mereka akan menemukan Tuhan penerima taubat dan maha penyayang” (Al-Nisa: 64) Begitupula, saudara-saudara Nabi Yusuf berkata kepada ayah mereka: “Wahai ayah! Mintalah pengampunan dari Tuhan untuk kami, karena kami adalah orang berdosa”[3] dari kedua ayat ini dapat dipahami bahwa para Nabi dan para Auliya dapat menjadi perantara antara Allah dan hamba-hamba yang berdosa dan Allah akan mengampuni manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tawassul dalam Riwayat Ahlusunah==&lt;br /&gt;
Terdapat banyak riwayat di kalangan Syiah dan Ahlusunah yang mengabsahkan tawassul dalam pengertian sebagaiman yang telah disebutkan. Riwayat-riwayat tersebut sangat banyak dan telah dikutip di banyak buku, termasuk sumber-sumber Ahlusunah:&lt;br /&gt;
* Ahmad bin Hanbal, salah satu ulama besar Ahlusunah, meriwayatkan dari Usman bin Hanif: “Seorang pria buta mendatangi Nabi dan berkata: Mintalah kepada Allah untuk membuat saya sehat. Nabi menyuruhnya berwudhu dan sholat dua rakaat”. Kemudian berdoa seperti ini: “Wahai Tuhanku! Aku bermohon kepada-Mu dan melalui Muhammad, Nabi yang rahmat, aku menghadap kepada-Mu. Wahai Muhammad, tentang hajat-hajatku, aku menghadap kepada Tuhan dengan berwasilahkan engkau sehingga hajat-hajatku terkabulkan, Ya Allah, jadikan dia sebagai perantaraku”. [4] Dari riwayat ini dapat dimengerti bahwa bertawassul kepada Nabi Islam dengan maksud terkabulkannya hajat, adalah boleh.[5]&lt;br /&gt;
* Begitupula tawassul melalui para Ahlulbait Nabi saw Juga telah dinukilkan: “Keluarga Nabi adalah wasilahku, mereka adalah sebab kedekatan diriku di hadapannya. Aku berharap lantaran mereka di hari kiamat, catatan amalku diserahkan ke tangan kananku”.[6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tawassul kepada Selain Allah==&lt;br /&gt;
Tujuan dari tawassul adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan terpenuhinya hajat-hajat (kebutuhan). Bertawassul kepada para Nabi dan para Maksum as dianjurkan dalam Alquran dan dalam banyak riwayat jika itu dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Demikian pula, sumpah Allah pada kedudukan para Nabi, para Imam as serta hamba-hamba Allah yang saleh dan beriman adalah bagian dari konsep tawassul dalam makna yang luas.[7]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Eaminiea</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Agama_apa_yang_diikuti_Nabi_Islam_sebelum_dilantik_menjadi_Nabi%3F&amp;diff=165</id>
		<title>Agama apa yang diikuti Nabi Islam sebelum dilantik menjadi Nabi?</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Agama_apa_yang_diikuti_Nabi_Islam_sebelum_dilantik_menjadi_Nabi%3F&amp;diff=165"/>
		<updated>2023-05-27T05:09:14Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Eaminiea: Eaminiea telah memindahkan laman Agama apa yang diikuti Nabi Islam sebelum dilantik menjadi Nabi? ke Agama Nabi Islam sebelum diangkat dan diutus sebagai Nabi&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;#LENCONG [[Agama Nabi Islam sebelum diangkat dan diutus sebagai Nabi]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Eaminiea</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Agama_Nabi_Islam_sebelum_diangkat_dan_diutus_sebagai_Nabi&amp;diff=164</id>
		<title>Agama Nabi Islam sebelum diangkat dan diutus sebagai Nabi</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Agama_Nabi_Islam_sebelum_diangkat_dan_diutus_sebagai_Nabi&amp;diff=164"/>
		<updated>2023-05-27T05:09:14Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Eaminiea: Eaminiea telah memindahkan laman Agama apa yang diikuti Nabi Islam sebelum dilantik menjadi Nabi? ke Agama Nabi Islam sebelum diangkat dan diutus sebagai Nabi&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Agama Nabi Islam sebelum diangkat dan diutus sebagai Nabi &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan:&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Agama apa yang diikuti Nabi Islam sebelum dilantik menjadi Nabi?&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada berbagai pandangan tentang agama Nabi Islam sebelum diangkat menjadi Nabi(Nubuwah). Di antara beragam pandangan tersebut menyebutkan Yudaisme, Kristen, agama Hanif (syariat Nabi Ibrahim as). Prinsip definitif dalam konteks ini adalah bahwa Nabi saw adalah seorang monoteis(penganut ajaran Tauhid) sebelum dia diutus sebagai Nabi dan senantiasa membenci berhala-berhala. Klaim ini disertai dengan argumen berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Imam Ali as di hadapan orang-orang yang mengenal latar kehidupan Nabi, menekankan kesucian nabi dari kemusyrikan dan dosa[1] serta mengingatkan kebertauhidan beliau dan keluarganya.[2]&lt;br /&gt;
* Berdasarkan bukti-bukti sejarah dan riwayat, Rasulullah saw memiliki nenek moyang yang bertauhid dan kakek-kakek beliau adalah penganut agama yang hanif dan pengikut Nabi Ibrahim saw.&lt;br /&gt;
* Di usia mudanya, dalam suatu perjalanan ke Suriah, Nabi saw  bertemu dengan seorang biarawan bernama Bahira. Ketika Bahira melihat tanda-tanda seorang nabi di wajah Muhammad muda, untuk mengujinya dia mengajaknya bersumpah kepada dua berhala &amp;quot;Lata&amp;quot; dan &amp;quot;Uzza&amp;quot;. Nabi dalam menjawab Bahira berkata, “لا تَسألنی بِهِما، فَوَ اللّه ما أبغضتُ شَیئَاً بُغضهما”(Buatlah aku bersumpah demi kedua berhala ini, aku bersumpah demi Allah, tidak pernah ada yang lebih kubenci selain kedua berhala itu”. [3]&lt;br /&gt;
* Dalam sumber-sumber sejarah disebutkan tentang ibadah-ibadah Nabi saw yang dilakukan nya sebelum diutus, seperti : shalat, puasa, dan haji. Beribadah di gua Hira merupakan salah satu kebiasaan lama Nabi. Haji Nabi tidak selaras dengan kebiasaan orang-orang musyrik, yang disertai dengan slogan musyrik, dan kesesuaian haji Nabi dengan haji Ibrahim tergambar dalam ritual seperti wukuf di Arafah.[4]&lt;br /&gt;
==Referensi==&lt;br /&gt;
* Teks tersebut diambil dari buku Porsman Esmat, Yusufian, Hasan, Markaz Muthaleat wa Pazuheshaye Farhangi Howzeh Elmiyeh(Pusat Kajian Budaya dan Riset Seminari), Qom, 1380 HS.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Eaminiea</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Apakah_mengunjungi(menziarahi)_kuburan_para_imam_as_memiliki_pahala%3F_Apakah_peziarah_akan_mendapat_suatu_balasan_dari_ziarah_tersebut%3F&amp;diff=163</id>
		<title>Apakah mengunjungi(menziarahi) kuburan para imam as memiliki pahala? Apakah peziarah akan mendapat suatu balasan dari ziarah tersebut?</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Apakah_mengunjungi(menziarahi)_kuburan_para_imam_as_memiliki_pahala%3F_Apakah_peziarah_akan_mendapat_suatu_balasan_dari_ziarah_tersebut%3F&amp;diff=163"/>
		<updated>2023-05-27T05:08:54Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Eaminiea: Eaminiea telah memindahkan laman Apakah mengunjungi(menziarahi) kuburan para imam as memiliki pahala? Apakah peziarah akan mendapat suatu balasan dari ziarah tersebut? ke Pahala Menziarahi Para Imam Maksum as&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;#LENCONG [[Pahala Menziarahi Para Imam Maksum as]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Eaminiea</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Pahala_Menziarahi_Para_Imam_Maksum_as&amp;diff=162</id>
		<title>Pahala Menziarahi Para Imam Maksum as</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Pahala_Menziarahi_Para_Imam_Maksum_as&amp;diff=162"/>
		<updated>2023-05-27T05:08:54Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Eaminiea: Eaminiea telah memindahkan laman Apakah mengunjungi(menziarahi) kuburan para imam as memiliki pahala? Apakah peziarah akan mendapat suatu balasan dari ziarah tersebut? ke Pahala Menziarahi Para Imam Maksum as&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Pahala Menziarahi Para Imam Maksum as&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan: &#039;&#039;&#039;Apakah mengunjungi(menziarahi) kuburan para imam as memiliki pahala? Apakah peziarah akan mendapat suatu balasan dari ziarah tersebut?&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam keyakinan orang Syiah, menziarahi kuburan Ahlulbait, para imam as, para auliya Allah dan imamzade(anak imam), memiliki banyak sekali keutamaan dan pahala. Istiqamah dalam keimanan, terampuni dosa-dosa, mendapat syafaat nabi saw, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara ganjaran yang dijanjikan bagi orang yang berziarah kepada mereka adalah istiqamah dalam keimanan, terampuni dosa-dosa, mendapatkan syafaat nabi saw, memperoleh kenikmatan surga, berada satu naungan dengan Ahlulbait as di surga, beratnya timbangan amal baik, serta mudah dalam hisab di hari kiamat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Hakikat ziarah kepada para Imam as==&lt;br /&gt;
Menziarahi para maksumin as memiliki pahala dan keutamaan yang banyak sekali, dan sesungguhnya menziarahi mereka adalah tanda cinta kepada mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Baqir as menukil sebuah hadis dari Nabi saw di mana Nabi bersabda kepada imam Ali: &amp;quot;Wahai Abu al-Hasan sesungguhnya Allah telah menjadikan kuburanmu dan kuburan para anak keturunanmu sebagai sebuah buq&#039;ah(monumen) dari surga dan Allah juga telah menjadikan hati para wali serta kekasihnya tertambat kepadamu, maka siapa saja di antara mereka yang menziarahimu demi meraih keridhoan ilahi, ketahuilah wahai Ali, mereka akan mendapatkan syafaatku, dan akan menyusulku di telaga kautsar serta akan menjadi para peziarah(pengunjungku) di surga nanti. Kemudian beliau saw bersabda: Siapa yang menziarahi kuburmu akan mendapat pahala setara dengan pahala 70 kali haji dan akan menjadi seperti seorang anak yang baru dilahirkan ibunya tanpa memiliki dosa apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Shadiq as juga berkata: &amp;quot;Tidak ada seorang pun yang menziarahi kuburan kami, kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam ampunan dan rahmat-Nya serta akan mengampuni dosa-dosanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat pula riwayat lain yang menjelaskan bahwa menziarahi semua imam maksum as adalah memiliki pahala yang luar biasa. Tentunya terdapat pula riwayat yang menjelaskan kekhususan dari ziarah setiap masing-masing imam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ziarah Imam Ali as==&lt;br /&gt;
Imam Shadiq as berkata: &amp;quot;Siapa yang menziarahi Amirul Mukminin Ali as dalam kondisi dia mengetahui haknya serta bukan atas dasar takabbur dan keterpaksaan, maka Allah akan memberikan pahala sebanyak seribu shahid kepadanya, selain itu dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang diampuni serta dibangkitkan bersama orang-orang yang beriman dan diberikan hisab yang mudah di akhirat. Dalam riwayat lain Imam Shadiq as berkata: &amp;quot;Surga baginya&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ziarah Imam Hasan al-Mujtaba as&lt;br /&gt;
Nabi saw bersabda kepada imam Hasan as: &amp;quot;Siapa yang menziarahi kuburmu dan ayahmu maka surga baginya&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ziarah Imam Husain as ==&lt;br /&gt;
Imam Shadiq as berkata: &amp;quot;Setiap orang mukmin yang menziarahi kubur al-Husain as dengan mengetahui haknya dan pada selain hari id, maka baginya pahala 20 haji dan umrah yang makbul (diterima), serta pahala jihad dengan nabi atau imam yang adil. Jika mukmin dalam hari id berziarah kepada al-Husain maka baginya pahala 100 haji, umrah serta jihad, dan siapa yang di hari Arafah menziarahi al-Husain maka baginya pahala 1000 umrah, haji dan jihad.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Musa bin Ja&#039;far as berkata: &amp;quot;Siapa yang menziarahi kuburan al-Husain dengan mengetahui haknya, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang lampau dan akan datang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Shadiq as berkata: &amp;quot;Sekiranya orang-orang tahu ada apa di balik ziarah imam Husain as, maka mereka akan saling membunuh dengan pedang satu sama lain demi bisa menziarahinya, harta mereka akan diberikan agar bisa berziarah kepadanya. Sayyidah Fatimah Az-Zahra yang 1000 nabi, 1000 shadiq (artinya gak tahu), dan 1000 malaikat bersamanya, tetap memandang dengan penuh rahmat kepada para peziarah al-Husain dan memohon ampunan dari Allah untuk mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ziarah Imam Baqir as ==&lt;br /&gt;
Hisyam bin Salim berkata: Seseorang datang kepada imam Shadiq as dan bertanya: Pahala apa bagi peziarah ayahmu? Imam Shadiq berkata: Siapa yang menziarahi ayahku, maka surga baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ziarah Imam Musa Kazhim as==&lt;br /&gt;
Perihal ziarah kepada imam Kazhim as, dalam sebuah riwayat Imam Ridho as berkata: &amp;quot;Siapa yang menziarahi ayahku di Baghdad, ia akan mendapat pahala berziarah kepada Imam Ali Amirul Mukminin as dan Nabi saw. &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ziarah Imam Ridho as==&lt;br /&gt;
Makalah asli: Pahala berziarah kepada Imam Ridho as&lt;br /&gt;
Perihal berziarah kepada Imam Ridho as, para maksumin memberikan penekanan lebih, hal itu dikarenakan beliau shahid terasing karena tidak berada di Madinah dan jauh dari sanak keluarga beliau. Karena itu para maksumin menekankan berziarah ke thus (Mashad), dan jangan sampai ingatan terhadap Imam Ridho hilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ziarah imamzadeh (Anak Imam)==&lt;br /&gt;
Dalam hadis-hadis para Imam, terdapat beberapa riwayat yang menjelaskan tentang berziarah kepada sebagian imamzadeh seperti Abdul Adzim Hasani dan ziarah Fatimah Maksumah di Qom.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ziarah Abdul Adzim Hasani==&lt;br /&gt;
Abdul Adzim Hasani (252 HQ) yang terkenal dengan Shah Abdul Adzim adalah seorang ulama dan sayyid dari keturunan Imam Hasan al-Mujtaba serta seorang perawi hadis. Nasabnya sampai kepada imam Hasan as dalam empat generasi. Syekh Shaduq mengenai ziarah kepada Abdul Adzim Hasani menukil riwayat: Ada satu orang yang berasal dari Rei mendatangi imam Hadi as dan berkata: Saya telah berziarah ke kuburan Sayyidus Syuhada. Imam Hadi as berkata kepadanya: Ziarah ke kuburan Abdul Adzim Hasani yang berada di tempat asalmu sama dengan berziarah kepada Husain bin Ali as.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ziarah Sayyidah Fatimah Maksumah ==&lt;br /&gt;
Sayyidah Fatimah Maksumah merupakan putri imam Kazhim as dan saudari imam Ridho as. Dia pergi ke Iran untuk menemui kakaknya yakni imam Ridho as. Dia sakit ketika dalam perjalanan dan meninggal dunia di kota Qom. Seputar ziarah kepada beliau terdapat beberapa riwayat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Ridho as berkata: Siapa yang menziarahi Fatimah binti Musa bin Ja&#039;far dengan mengetahui haknya, maka surga baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Shadiq as: Ziarah kepada Fatimah Maksumah sama dengan surga.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Eaminiea</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Tawasul_Kepada_selain_Allah&amp;diff=161</id>
		<title>Tawasul Kepada selain Allah</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Tawasul_Kepada_selain_Allah&amp;diff=161"/>
		<updated>2023-05-27T05:03:18Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Eaminiea: Mencipta laman baru dengan kandungan &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Soal:&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; Apakah boleh bertawassul kepada para Nabi dan Maksumin as?  Umat Islam menganggap bertawassul kepada selain Allah dengan syarat untuk mendekatkan diri kepada Allah swt adalah hal yang dianjurkan. Juga, tawassul kepada para Maksumin as merupakan sirah dan cara umat Islam serta para ulama untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Tawassul kepada selain Allah termasuk tawassul kepada para nabi dan para imam. Tawassul semacam ini, yaitu untuk me...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Soal:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
Apakah boleh bertawassul kepada para Nabi dan Maksumin as?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umat Islam menganggap bertawassul kepada selain Allah dengan syarat untuk mendekatkan diri kepada Allah swt adalah hal yang dianjurkan. Juga, tawassul kepada para Maksumin as merupakan sirah dan cara umat Islam serta para ulama untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.&lt;br /&gt;
Tawassul kepada selain Allah termasuk tawassul kepada para nabi dan para imam. Tawassul semacam ini, yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, ditekankan dalam Al-Qur&#039;an dan hadis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Keharusan untuk Menggunakan Perantara==&lt;br /&gt;
Menggunakan sarana untuk mencapai suatu hasil adalah sebuah hal yang pasti dan tidak diragukan lagi. Untuk mencapai kedudukan maknawi yang tinggi, Allah swt telah memberikan sarana yang dengannya manusia dapat mencapai kedudukan yang tinggi. Untuk itu, disebutkan dalam Al-Qur&#039;an: “Hai orang-orang yang beriman. , bertakwalah kepada Allah swt dan gunakan sarana yang telah disediakan-Nya untukmu. Dan berjuanglah di jalan Allah, mungkin kalian akan diselamatkan.” (QS. Al-Ma’idah: 35)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tawassul kepada Selain Allah swt dalam Al-Qur&#039;an dan Hadis==&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan “sarana” adalah segala sesuatu yang mendekatkan seseorang kepada Allah swt, kadang-kadang berkaitan dengan orang itu sendiri, seperti ilmu dan kesadaran, salat, haji, zakat, jihad di jalan Allah, dll. Atau orang yang mengambil tangan seseorang di jalan ini, dan mengangkatnya, untuk alasan ini, dalam tafsir ayat 35 surah al-Ma&#039;idah, disebutkan bahwa Ali (as) bersabda: &amp;quot;Aku adalah sarananya&amp;quot;. Dalam tafsiran lain, Imam Ali as bersabda:”Mendekatlah kepada Allah swt melalui Imam.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk itu, dalam ayat-ayat Al-Qur&#039;an disebutkan berbagai contoh dari nabi-nabi terdahulu tentang tawasul, seperti tawasil Nabi Adam as kepada Ahlulbait (Al-Baqarah: 37) dan permintaan saudara-saudara Nabi Yusuf kepada Nabi Yaqub as. Ketika saudara-saudara Nabi Yusuf menyadari bahwa mereka telah melakukan kesalahan, mereka meminta ayah mereka untuk meminta pengampunan bagi mereka, dan Nabi Yaqub as juga berjanji untuk meminta pengampunan bagi mereka: َ&lt;br /&gt;
﴿قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي ۖ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ﴾[۲]&lt;br /&gt;
(Anak-anak Yakub kepada ayahnya sendiri) berkata: Wahai ayah! Mintalah kepada Allah swt untuk mengampuni dosa-dosa kita. Nabi Yaqub as berkata: Aku akan segera meminta ampunan dari Allah swt untuk kalian, karena Dia sangat pemaaf dan baik hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tawasul kepada Nabi saw dan Para Imam as==&lt;br /&gt;
Umat Islam bertawasul kepada Nabi saw baik selama masa hidup dan setelah kematiannya. Orang-orang datang kepada beliau saw untuk meminta bantuan atau pengampunan dan kebutuhan mereka terpenuhi. Sebagai contoh, diriwayatkan bahwa seorang laki-laki dari Arab Badui datang kepada Nabi saw dan membacakan beberapa baris puisi dan menjadikan Nabi saw sebagai sarana agar Allah swt menurunkan hujan. Bait terakhirnya adalah sebagai berikut: Kami tidak punya cara kecuali melarikan diri kepada Anda, kecuali kepada Nabi Allah, ke mana lagi kami bisa berpaling. Nabi (saw) pergi ke mimbar dalam keadaan sedih dan berdoa kemudia hujan turun dengan deras.[3]&lt;br /&gt;
Juga, cara dan sirah umat Islam serta ulama adalah bahwa mereka bertawasul kepada para Imam as. Majlis-majlis dan acara-acara yang diadakan untuk Imam Husain as serta acara duka dan berkabung yang dilakukan merupakan salah satu bentuk dari tawasul kepadanya.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Eaminiea</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Hakikat_Allah&amp;diff=160</id>
		<title>Hakikat Allah</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Hakikat_Allah&amp;diff=160"/>
		<updated>2023-05-27T05:02:14Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Eaminiea: Mencipta laman baru dengan kandungan &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Soal:&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; Mengapa Hakikat Allah swt Tidak Mungkin Bisa Dipahami? Memahami hakikat Allah swt adalah sesuatu yang tidak mungkin karena keterbatasan pengetahuan dan akal manusia serta ketidakterbatasan Hakikat Allah swt. Di sisi lain, Hakikat Allah swt tidak memiliki rupa dan tidak dapat dibayangkan atau dibandingkan dengan kita. Dalam sebuah hadis, Imam Shadiq (as) melarang berpikir tentang hakikat keAllah swtan.  ==Hakikat Allah swt yang Tak Terbatas=...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Soal:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
Mengapa Hakikat Allah swt Tidak Mungkin Bisa Dipahami?&lt;br /&gt;
Memahami hakikat Allah swt adalah sesuatu yang tidak mungkin karena keterbatasan pengetahuan dan akal manusia serta ketidakterbatasan Hakikat Allah swt. Di sisi lain, Hakikat Allah swt tidak memiliki rupa dan tidak dapat dibayangkan atau dibandingkan dengan kita. Dalam sebuah hadis, Imam Shadiq (as) melarang berpikir tentang hakikat keAllah swtan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Hakikat Allah swt yang Tak Terbatas==&lt;br /&gt;
Ketidak terbatasan hakikat Allah swt dan keterbatasan akal, ilmu pengetahuan dan pemahaman manusia menjadi alasan utama kemustahilan memahami hakikat Allah swt. Keberadaan Allah swt tidak terbatas dalam setiap aspek, Hakikat dan sifat-sifatnya seperti ilmu dan kudrat tidak terbatas. Di sisi lain, segala hal yang dimiliki manusia adalah terbatas. Manusia hanya dapat memikirkan secara global tentang hakikat dan sifat Allah swt.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tidak Ada Keserupaan atau Sekutu Bagi Allah swt==&lt;br /&gt;
Allah swt tidak memiliki keserupaan dan sekutu dalam segala hal. Karena jika Dia memiliki keserupaan dan sekutu, keduanya akan terbatas. Jelas tidak mungkin untuk memahami sesuatu yang tidak memiliki kesamaan atau sekutu.  Segala sesuatu selainnya adalah mungkin,  dan sifat-sifat dari sesuatu yang mungkin sama sekali berbeda dari sifat-sifat keberadaan yang wajib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pemahaman Global Tentang Hakikat Allah swt==&lt;br /&gt;
Pengetahuan dan pemahaman global tentang hakikat dan sifat-sifat Allah swt adalah sesuatu yang mungkin. Misalnya, manusia menyadari bahwa Allah swt itu ada, Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Berkehendak, dan Maha Hidup. Namun  tidaklah mungkin memahami kedalaman hakikatnya. Imam Shadiq as bersabda: “Ketika berbicara tentang hakikat Allah swt, berhentilah.”[1] Maksudnya, jangan berbicara tentang hakikat Allah swt, karena memikirkan hakikat yang tak terbatas tidak mungkin dilakukan oleh pikiran dan akal yang terbatas.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Eaminiea</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Wikipasokh:List_of_articles&amp;diff=20</id>
		<title>Wikipasokh:List of articles</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Wikipasokh:List_of_articles&amp;diff=20"/>
		<updated>2023-05-15T10:27:45Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Eaminiea: Mencipta laman baru dengan kandungan &amp;#039;&amp;lt;DynamicPageList&amp;gt; namespace =main ordermethod=created  order = descending mode = ordered &amp;lt;/DynamicPageList&amp;gt;&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;DynamicPageList&amp;gt;&lt;br /&gt;
namespace =main&lt;br /&gt;
ordermethod=created &lt;br /&gt;
order = descending&lt;br /&gt;
mode = ordered&lt;br /&gt;
&amp;lt;/DynamicPageList&amp;gt;&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Eaminiea</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Apakah_waktu_kemunculan_Imam_Zaman_afs_sudah_pasti%3F&amp;diff=19</id>
		<title>Apakah waktu kemunculan Imam Zaman afs sudah pasti?</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Apakah_waktu_kemunculan_Imam_Zaman_afs_sudah_pasti%3F&amp;diff=19"/>
		<updated>2023-05-15T10:01:34Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Eaminiea: Mencipta laman baru dengan kandungan &amp;#039;Menentukan Waktu Kemunculan Imam mahdi afs  Soal: &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Apakah waktu kemunculan Imam Zaman afs sudah pasti?&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; Waktu pasti munculnya Imam Zaman afs hanya diketahui oleh Allah swt. Dalam hadis-hadis para imam as membantah mereka yang menentukan waktu kemunculannya. Namun, banyak Riwayat yang menyebutkan tanda-tanda kemunculannya. Disebutkan bahwa Imam Mahdi afs akan muncul di Makkah di samping Ka’bah. ==Waktu Kemunculannya adalah Rahasia Ilahi== Setelah...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Menentukan Waktu Kemunculan Imam mahdi afs&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Soal: &#039;&#039;&#039;Apakah waktu kemunculan Imam Zaman afs sudah pasti?&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
Waktu pasti munculnya Imam Zaman afs hanya diketahui oleh Allah swt. Dalam hadis-hadis para imam as membantah mereka yang menentukan waktu kemunculannya. Namun, banyak Riwayat yang menyebutkan tanda-tanda kemunculannya. Disebutkan bahwa Imam Mahdi afs akan muncul di Makkah di samping Ka’bah.&lt;br /&gt;
==Waktu Kemunculannya adalah Rahasia Ilahi==&lt;br /&gt;
Setelah wafatnya Ali bin Muhammad Samari, wakil khusus ke-4 Imam Zaman afs), periode kegaiban besar (ghaibah kubro) dimulai dan berlanjut hingga sekarang. Kemunculan dan kebangkitan Imam afs akan terjadi pada akhir periode ini dengan perintah Allah swt.  &lt;br /&gt;
Para Imam Maksum as, dalam banyak riwayat menjelaskan bahwa tidak mungkin untuk menentukan waktu tertentu untuk kemunculannya dan hanya Allah swt yang mengetahuinya. Kemunculannya akan terjadi secara tiba-tiba atas perintah Allah swt, dan siapa pun yang menetapkan waktu kemunculannya adalah pembohong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Basir berkata: Aku bertanya kepada Imam Shadiq as tentang al-Qaim as, dia berkata: &amp;quot;Mereka yang menentukan waktu kemunculannya adalah berbohong, kami Ahlulbait tidak menentukan waktu, lalu dia berkata: Allah swt tidak ingin memunculkan kecuali berlawanan dengan waktu yang ditentukan oleh mereka yang menentukan waktu&amp;quot;. 1]&lt;br /&gt;
Ishaq bin Ya’qub mengirim surat kepada Imam Zaman (A.S.) melalui Muhammad bin Usman al-Amri dan mengajukan beberapa pertanyaan. Dalam jawabannya tentang waktu kemunculannya, Imam berkata: Adapun kemunculan al- Faraj, itu tergantung pada perintah Allah Yang Maha Esa, dan mereka yang menentukan waktu adalah pendusta&amp;quot;.[2]&lt;br /&gt;
==Tanda-Tanda Kemunculan==&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dari menentukan waktu disini adalah  menentukan waktu kemunculannya secara akurat dan pasti, dan jenis penentuan waktu seperti ini tidak diperbolehkan oleh para Imam maksum as. Mereka  menganggap hal ini sebagai salah satu rahasia Ilahi.  Namun, para Imam as menyebutkan beberapa tanda-tanda yang mana ketika tanda-tanda ini terjadi, maka, waktu kemunculan  Imam Mahdi afs sudah dekat.[3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada bererapa riwayat tentang waktu (kebangkitan) Imam Mahdi afs dalam bentuk umum dan tidak terbatas. Dalam beberapa di antaranya, Nuruz (tahun baru) disebutkan sebagai hari awal kebangkitan.[4] Beberapa hadis lainnya menyebutkan hari Asyura dan hari Sabtu sebagai awal kebangkitan Imam Mahdi afs. [6]&lt;br /&gt;
Tidak ada yang salah jika Nuruz bertepatan dengan Asyura. Karena Nowruz dihitung menurut tahun Syamsiah dan Asyura dihitung menurut tahun Qomariyah, dan dua hari ini bisa digabungkan. Juga, bertepatannya dua hari ini dengan hari Jumat atau Sabtu juga dimungkinkan, apakah Asyura dan Nuruz keduanya pada hari Jumat atau Sabtu. Yang tampak sulit dan kontradiktif adalah menyebutkan dua hari dalam seminggu, Sabtu dan Jumat, sebagai hari Qiyam. Namun kelompok riwayat ini juga dapat dibenarkan dan dikumpulkan dengan cara tertentu; Karena jika dalil-dalil riwayat tersebut benar, maka hadis-hadis yang menetapkan hari Jumat sebagai hari kemunculan Imam Zaman afs dapat diartikan sebagai hari kemunculan dan hari kebangkitan, sedangkan hadis yang menyebut hari Sabtu sebagai hari kebangkitan, dapat diartikan kepada hari pendirian dan konsolidasi sistem pemerintahan Mahdawi dan penghancuran para musuh.[7]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Intinya, kemunculan Imam Zaman afs pada awalnya diumumkan oleh seorang pembawa berita surgawi, sambil membelakangi Ka&#039;bah, dia mengumumkan kemunculannya dengan menyerukan kebenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tempat Keunculan==&lt;br /&gt;
Diriwayatkan dari Imam Baqir as bahwa dia berkata: &amp;quot;Hazrat Mahdi (as) muncul di Makkah saat waktu salat Isya, membawa bendera, baju, dan pedang Nabi (saw) dan ketika ia salat Isya, Ia menyeru: Wahai manusia! Aku mengingatkan kalian untuk mengingat Allah swt dan kehadiranmu di hadapan Allah swt (pada hari kiamat), sedangkan Dia telah menyempurnakan hujjah-Nya (di dunia ini) atas kalian, mengutus para Nabi saw dan menurunkan Al-Qur&#039;an. Allah swt memerintahkan kalian untuk tidak menyekutukan-Nya, menaati-Nya dan para Nabi-Nya. Hidupkan kembali apa yang diperintahkan Al-Qur&#039;an untuk dihidupkan kembali, dan musnahkan apa yang diperintahkan untuk dihancurkan. Jadilah penolong di jalan petunjuk dan bekerja sama dalam takwa dan kebaikan; Karena dunia telah menuju kemusnahan dan pembusukan, dan telah mengucapkan selamat tinggal. Aku mengajak kalian kepada Allah swt dan Rasul-Nya, untuk mengikuti Kitab-Nya, untuk menghancurkan kepalsuan, dan untuk menghidupkan kembali kehidupan Nabi saw, kemudian dia akan muncul di antara tiga ratus tiga belas sahabatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Sahabat Imam Mahdi afs==&lt;br /&gt;
Menurut banyak riwayat, ketika Imam Zaman afs muncul, jumlah sahabat khususnya adalah 313 orang, sepertu jumlah prajurit Badr. Aban bin Taghlib berkata: Saya berada di Makkah di sebuah masjid menemui Imam Shadiq as, dan tanganku berada di tangannya, kemudian beliau as berkata: Wahai Aban! Semoga Allah swt membawa 313 orang ke masjid ini... mereka membawa pedang yang tertulis namanya, nama ayah, sifat-sifat dan garis keturunannya. Kemudian dia memerintahkan seseorang untuk berteriak: Ini adalah Mahdi, dia memerintah sesuai aturan Nabi Daud as dan Sulaiman as, dan dia tidak memerlukan saksi.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Eaminiea</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Pahala_Menziarahi_Para_Imam_Maksum_as&amp;diff=18</id>
		<title>Pahala Menziarahi Para Imam Maksum as</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Pahala_Menziarahi_Para_Imam_Maksum_as&amp;diff=18"/>
		<updated>2023-05-15T10:00:20Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Eaminiea: Mencipta laman baru dengan kandungan &amp;#039;Pahala Menziarahi Para Imam Maksum as  Pertanyaan: &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Apakah mengunjungi(menziarahi) kuburan para imam as memiliki pahala? Apakah peziarah akan mendapat suatu balasan dari ziarah tersebut?&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;  Dalam keyakinan orang Syiah, menziarahi kuburan Ahlulbait, para imam as, para auliya Allah dan imamzade(anak imam), memiliki banyak sekali keutamaan dan pahala. Istiqamah dalam keimanan, terampuni dosa-dosa, mendapat syafaat nabi saw,   Di antara ganjaran yang di...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Pahala Menziarahi Para Imam Maksum as&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan: &#039;&#039;&#039;Apakah mengunjungi(menziarahi) kuburan para imam as memiliki pahala? Apakah peziarah akan mendapat suatu balasan dari ziarah tersebut?&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam keyakinan orang Syiah, menziarahi kuburan Ahlulbait, para imam as, para auliya Allah dan imamzade(anak imam), memiliki banyak sekali keutamaan dan pahala. Istiqamah dalam keimanan, terampuni dosa-dosa, mendapat syafaat nabi saw, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara ganjaran yang dijanjikan bagi orang yang berziarah kepada mereka adalah istiqamah dalam keimanan, terampuni dosa-dosa, mendapatkan syafaat nabi saw, memperoleh kenikmatan surga, berada satu naungan dengan Ahlulbait as di surga, beratnya timbangan amal baik, serta mudah dalam hisab di hari kiamat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Hakikat ziarah kepada para Imam as==&lt;br /&gt;
Menziarahi para maksumin as memiliki pahala dan keutamaan yang banyak sekali, dan sesungguhnya menziarahi mereka adalah tanda cinta kepada mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Baqir as menukil sebuah hadis dari Nabi saw di mana Nabi bersabda kepada imam Ali: &amp;quot;Wahai Abu al-Hasan sesungguhnya Allah telah menjadikan kuburanmu dan kuburan para anak keturunanmu sebagai sebuah buq&#039;ah(monumen) dari surga dan Allah juga telah menjadikan hati para wali serta kekasihnya tertambat kepadamu, maka siapa saja di antara mereka yang menziarahimu demi meraih keridhoan ilahi, ketahuilah wahai Ali, mereka akan mendapatkan syafaatku, dan akan menyusulku di telaga kautsar serta akan menjadi para peziarah(pengunjungku) di surga nanti. Kemudian beliau saw bersabda: Siapa yang menziarahi kuburmu akan mendapat pahala setara dengan pahala 70 kali haji dan akan menjadi seperti seorang anak yang baru dilahirkan ibunya tanpa memiliki dosa apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Shadiq as juga berkata: &amp;quot;Tidak ada seorang pun yang menziarahi kuburan kami, kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam ampunan dan rahmat-Nya serta akan mengampuni dosa-dosanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat pula riwayat lain yang menjelaskan bahwa menziarahi semua imam maksum as adalah memiliki pahala yang luar biasa. Tentunya terdapat pula riwayat yang menjelaskan kekhususan dari ziarah setiap masing-masing imam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ziarah Imam Ali as==&lt;br /&gt;
Imam Shadiq as berkata: &amp;quot;Siapa yang menziarahi Amirul Mukminin Ali as dalam kondisi dia mengetahui haknya serta bukan atas dasar takabbur dan keterpaksaan, maka Allah akan memberikan pahala sebanyak seribu shahid kepadanya, selain itu dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang diampuni serta dibangkitkan bersama orang-orang yang beriman dan diberikan hisab yang mudah di akhirat. Dalam riwayat lain Imam Shadiq as berkata: &amp;quot;Surga baginya&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ziarah Imam Hasan al-Mujtaba as&lt;br /&gt;
Nabi saw bersabda kepada imam Hasan as: &amp;quot;Siapa yang menziarahi kuburmu dan ayahmu maka surga baginya&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ziarah Imam Husain as ==&lt;br /&gt;
Imam Shadiq as berkata: &amp;quot;Setiap orang mukmin yang menziarahi kubur al-Husain as dengan mengetahui haknya dan pada selain hari id, maka baginya pahala 20 haji dan umrah yang makbul (diterima), serta pahala jihad dengan nabi atau imam yang adil. Jika mukmin dalam hari id berziarah kepada al-Husain maka baginya pahala 100 haji, umrah serta jihad, dan siapa yang di hari Arafah menziarahi al-Husain maka baginya pahala 1000 umrah, haji dan jihad.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Musa bin Ja&#039;far as berkata: &amp;quot;Siapa yang menziarahi kuburan al-Husain dengan mengetahui haknya, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang lampau dan akan datang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Shadiq as berkata: &amp;quot;Sekiranya orang-orang tahu ada apa di balik ziarah imam Husain as, maka mereka akan saling membunuh dengan pedang satu sama lain demi bisa menziarahinya, harta mereka akan diberikan agar bisa berziarah kepadanya. Sayyidah Fatimah Az-Zahra yang 1000 nabi, 1000 shadiq (artinya gak tahu), dan 1000 malaikat bersamanya, tetap memandang dengan penuh rahmat kepada para peziarah al-Husain dan memohon ampunan dari Allah untuk mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ziarah Imam Baqir as ==&lt;br /&gt;
Hisyam bin Salim berkata: Seseorang datang kepada imam Shadiq as dan bertanya: Pahala apa bagi peziarah ayahmu? Imam Shadiq berkata: Siapa yang menziarahi ayahku, maka surga baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ziarah Imam Musa Kazhim as==&lt;br /&gt;
Perihal ziarah kepada imam Kazhim as, dalam sebuah riwayat Imam Ridho as berkata: &amp;quot;Siapa yang menziarahi ayahku di Baghdad, ia akan mendapat pahala berziarah kepada Imam Ali Amirul Mukminin as dan Nabi saw. &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ziarah Imam Ridho as==&lt;br /&gt;
Makalah asli: Pahala berziarah kepada Imam Ridho as&lt;br /&gt;
Perihal berziarah kepada Imam Ridho as, para maksumin memberikan penekanan lebih, hal itu dikarenakan beliau shahid terasing karena tidak berada di Madinah dan jauh dari sanak keluarga beliau. Karena itu para maksumin menekankan berziarah ke thus (Mashad), dan jangan sampai ingatan terhadap Imam Ridho hilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ziarah imamzadeh (Anak Imam)==&lt;br /&gt;
Dalam hadis-hadis para Imam, terdapat beberapa riwayat yang menjelaskan tentang berziarah kepada sebagian imamzadeh seperti Abdul Adzim Hasani dan ziarah Fatimah Maksumah di Qom.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ziarah Abdul Adzim Hasani==&lt;br /&gt;
Abdul Adzim Hasani (252 HQ) yang terkenal dengan Shah Abdul Adzim adalah seorang ulama dan sayyid dari keturunan Imam Hasan al-Mujtaba serta seorang perawi hadis. Nasabnya sampai kepada imam Hasan as dalam empat generasi. Syekh Shaduq mengenai ziarah kepada Abdul Adzim Hasani menukil riwayat: Ada satu orang yang berasal dari Rei mendatangi imam Hadi as dan berkata: Saya telah berziarah ke kuburan Sayyidus Syuhada. Imam Hadi as berkata kepadanya: Ziarah ke kuburan Abdul Adzim Hasani yang berada di tempat asalmu sama dengan berziarah kepada Husain bin Ali as.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ziarah Sayyidah Fatimah Maksumah ==&lt;br /&gt;
Sayyidah Fatimah Maksumah merupakan putri imam Kazhim as dan saudari imam Ridho as. Dia pergi ke Iran untuk menemui kakaknya yakni imam Ridho as. Dia sakit ketika dalam perjalanan dan meninggal dunia di kota Qom. Seputar ziarah kepada beliau terdapat beberapa riwayat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Ridho as berkata: Siapa yang menziarahi Fatimah binti Musa bin Ja&#039;far dengan mengetahui haknya, maka surga baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Shadiq as: Ziarah kepada Fatimah Maksumah sama dengan surga.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Eaminiea</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Hakikat_Tawassul&amp;diff=17</id>
		<title>Hakikat Tawassul</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Hakikat_Tawassul&amp;diff=17"/>
		<updated>2023-05-15T09:58:52Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Eaminiea: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Hakikat Tawassul&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tawassul adalah menjadikan seseorang atau sesuatu di sisi Tuhan sebagai wasilah (perantara) untuk mendekati-Nya dan terpenuhinya hajat- hajat (kebutuhan). Menurut  kaum Syiah, tawassul adalah salah satu hal yang direkomendasikan dalam Alquran serta riwayat-riwayat, dan contohnya banyak terdapat dalam doa dan ziarah para Imam Syiah. Tawassul  bisa kepada siapa saja atau apa saja seperti para Nabi, para Auliya Allah dan para malaikat yang terpandang (mulia) di sisi Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Konsep Tawassul==&lt;br /&gt;
Tawassul dalam pengertian kata berarti mendekatkan diri  atau sesuatu yang mendekatkan kepada yang lain atas dasar kecintaan dan keinginan.[1] Secara istilah, tawassul adalah menjadikan sesuatu yang berharga (mulia) sebagai wasilah atau perantara untuk mencapai tujuan dan kedekatan Ilahi.[2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa hakikat dari tawassul? Menurut ayat-ayat dan riwayat-riwayat Islam, apakah boleh kita bertawassul kepada selain Allah?&lt;br /&gt;
Tawssul dalam  Alquran&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Apa hakikat dari tawassul? Menurut ayat-ayat dan riwayat-riwayat Islam, apakah boleh kita bertawassul kepada selain Allah?&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat beberapa ayat dalam Alquran yang mengisyaratkan kepada tawassul:&lt;br /&gt;
* “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ”; Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah kepada-Nya dan berjihadlah di jalan-Nya agar kamu beruntung. (Al-Maida: 35) Dalam ayat ini, perintah tentang “Wasilah” telah diberikan kepada orang-orang beriman. Para mufassir menyebut makna wasilah dalam ayat ini memiliki arti yang luas dan mencakup setiap pekerjaan dan segala sesuatu yang mendekatkan kepada Tuhan.&lt;br /&gt;
* Dinyatakan dalam Al-Qur&#039;an:  “Jika mereka datang kepadamu ketika mereka menganiaya diri mereka sendiri (dan melakukan dosa) dan meminta pengampunan kepada Tuhan dan Rasul juga meminta pengampunan untuk mereka, mereka akan menemukan Tuhan penerima taubat dan maha penyayang” (Al-Nisa: 64) Begitupula, saudara-saudara Nabi Yusuf berkata kepada ayah mereka: “Wahai ayah! Mintalah pengampunan dari Tuhan untuk kami, karena kami adalah orang berdosa”[3] dari kedua ayat ini dapat dipahami bahwa para Nabi dan para Auliya dapat menjadi perantara antara Allah dan hamba-hamba yang berdosa dan Allah akan mengampuni manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tawassul dalam Riwayat Ahlusunah==&lt;br /&gt;
Terdapat banyak riwayat di kalangan Syiah dan Ahlusunah yang mengabsahkan tawassul dalam pengertian sebagaiman yang telah disebutkan. Riwayat-riwayat tersebut sangat banyak dan telah dikutip di banyak buku, termasuk sumber-sumber Ahlusunah:&lt;br /&gt;
* Ahmad bin Hanbal, salah satu ulama besar Ahlusunah, meriwayatkan dari Usman bin Hanif: “Seorang pria buta mendatangi Nabi dan berkata: Mintalah kepada Allah untuk membuat saya sehat. Nabi menyuruhnya berwudhu dan sholat dua rakaat”. Kemudian berdoa seperti ini: “Wahai Tuhanku! Aku bermohon kepada-Mu dan melalui Muhammad, Nabi yang rahmat, aku menghadap kepada-Mu. Wahai Muhammad, tentang hajat-hajatku, aku menghadap kepada Tuhan dengan berwasilahkan engkau sehingga hajat-hajatku terkabulkan, Ya Allah, jadikan dia sebagai perantaraku”. [4] Dari riwayat ini dapat dimengerti bahwa bertawassul kepada Nabi Islam dengan maksud terkabulkannya hajat, adalah boleh.[5]&lt;br /&gt;
* Begitupula tawassul melalui para Ahlulbait Nabi saw Juga telah dinukilkan: “Keluarga Nabi adalah wasilahku, mereka adalah sebab kedekatan diriku di hadapannya. Aku berharap lantaran mereka di hari kiamat, catatan amalku diserahkan ke tangan kananku”.[6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tawassul kepada Selain Allah==&lt;br /&gt;
Tujuan dari tawassul adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan terpenuhinya hajat-hajat (kebutuhan). Bertawassul kepada para Nabi dan para Maksum as dianjurkan dalam Alquran dan dalam banyak riwayat jika itu dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Demikian pula, sumpah Allah pada kedudukan para Nabi, para Imam as serta hamba-hamba Allah yang saleh dan beriman adalah bagian dari konsep tawassul dalam makna yang luas.[7]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Eaminiea</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Hakikat_Tawassul&amp;diff=16</id>
		<title>Hakikat Tawassul</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Hakikat_Tawassul&amp;diff=16"/>
		<updated>2023-05-15T09:58:17Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Eaminiea: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Hakikat Tawassul&lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
Pertanyaan:&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Apa hakikat dari tawassul? Menurut ayat-ayat dan riwayat-riwayat Islam, apakah boleh kita bertawassul  kepada selain Allah?&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tawassul adalah menjadikan seseorang atau sesuatu di sisi Tuhan sebagai wasilah (perantara) untuk mendekati-Nya dan terpenuhinya hajat- hajat (kebutuhan). Menurut  kaum Syiah, tawassul adalah salah satu hal yang direkomendasikan dalam Alquran serta riwayat-riwayat, dan contohnya banyak terdapat dalam doa dan ziarah para Imam Syiah. Tawassul  bisa kepada siapa saja atau apa saja seperti para Nabi, para Auliya Allah dan para malaikat yang terpandang (mulia) di sisi Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Konsep Tawassul==&lt;br /&gt;
Tawassul dalam pengertian kata berarti mendekatkan diri  atau sesuatu yang mendekatkan kepada yang lain atas dasar kecintaan dan keinginan.[1] Secara istilah, tawassul adalah menjadikan sesuatu yang berharga (mulia) sebagai wasilah atau perantara untuk mencapai tujuan dan kedekatan Ilahi.[2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa hakikat dari tawassul? Menurut ayat-ayat dan riwayat-riwayat Islam, apakah boleh kita bertawassul kepada selain Allah?&lt;br /&gt;
Tawssul dalam  Alquran&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Apa hakikat dari tawassul? Menurut ayat-ayat dan riwayat-riwayat Islam, apakah boleh kita bertawassul kepada selain Allah?&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat beberapa ayat dalam Alquran yang mengisyaratkan kepada tawassul:&lt;br /&gt;
* “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ”; Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah kepada-Nya dan berjihadlah di jalan-Nya agar kamu beruntung. (Al-Maida: 35) Dalam ayat ini, perintah tentang “Wasilah” telah diberikan kepada orang-orang beriman. Para mufassir menyebut makna wasilah dalam ayat ini memiliki arti yang luas dan mencakup setiap pekerjaan dan segala sesuatu yang mendekatkan kepada Tuhan.&lt;br /&gt;
* Dinyatakan dalam Al-Qur&#039;an:  “Jika mereka datang kepadamu ketika mereka menganiaya diri mereka sendiri (dan melakukan dosa) dan meminta pengampunan kepada Tuhan dan Rasul juga meminta pengampunan untuk mereka, mereka akan menemukan Tuhan penerima taubat dan maha penyayang” (Al-Nisa: 64) Begitupula, saudara-saudara Nabi Yusuf berkata kepada ayah mereka: “Wahai ayah! Mintalah pengampunan dari Tuhan untuk kami, karena kami adalah orang berdosa”[3] dari kedua ayat ini dapat dipahami bahwa para Nabi dan para Auliya dapat menjadi perantara antara Allah dan hamba-hamba yang berdosa dan Allah akan mengampuni manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tawassul dalam Riwayat Ahlusunah==&lt;br /&gt;
Terdapat banyak riwayat di kalangan Syiah dan Ahlusunah yang mengabsahkan tawassul dalam pengertian sebagaiman yang telah disebutkan. Riwayat-riwayat tersebut sangat banyak dan telah dikutip di banyak buku, termasuk sumber-sumber Ahlusunah:&lt;br /&gt;
* Ahmad bin Hanbal, salah satu ulama besar Ahlusunah, meriwayatkan dari Usman bin Hanif: “Seorang pria buta mendatangi Nabi dan berkata: Mintalah kepada Allah untuk membuat saya sehat. Nabi menyuruhnya berwudhu dan sholat dua rakaat”. Kemudian berdoa seperti ini: “Wahai Tuhanku! Aku bermohon kepada-Mu dan melalui Muhammad, Nabi yang rahmat, aku menghadap kepada-Mu. Wahai Muhammad, tentang hajat-hajatku, aku menghadap kepada Tuhan dengan berwasilahkan engkau sehingga hajat-hajatku terkabulkan, Ya Allah, jadikan dia sebagai perantaraku”. [4] Dari riwayat ini dapat dimengerti bahwa bertawassul kepada Nabi Islam dengan maksud terkabulkannya hajat, adalah boleh.[5]&lt;br /&gt;
* Begitupula tawassul melalui para Ahlulbait Nabi saw Juga telah dinukilkan: “Keluarga Nabi adalah wasilahku, mereka adalah sebab kedekatan diriku di hadapannya. Aku berharap lantaran mereka di hari kiamat, catatan amalku diserahkan ke tangan kananku”.[6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tawassul kepada Selain Allah==&lt;br /&gt;
Tujuan dari tawassul adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan terpenuhinya hajat-hajat (kebutuhan). Bertawassul kepada para Nabi dan para Maksum as dianjurkan dalam Alquran dan dalam banyak riwayat jika itu dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Demikian pula, sumpah Allah pada kedudukan para Nabi, para Imam as serta hamba-hamba Allah yang saleh dan beriman adalah bagian dari konsep tawassul dalam makna yang luas.[7]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Eaminiea</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Hakikat_Tawassul&amp;diff=15</id>
		<title>Hakikat Tawassul</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Hakikat_Tawassul&amp;diff=15"/>
		<updated>2023-05-15T09:51:25Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Eaminiea: Mencipta laman baru dengan kandungan &amp;#039;Hakikat Tawassul      Pertanyaan: Apa hakikat dari tawassul? Menurut ayat-ayat dan riwayat-riwayat Islam, apakah boleh kita bertawassul  kepada selain Allah? Tawassul adalah menjadikan seseorang atau sesuatu di sisi Tuhan sebagai wasilah (perantara) untuk mendekati-Nya dan terpenuhinya hajat- hajat (kebutuhan). Menurut  kaum Syiah, tawassul adalah salah satu hal yang direkomendasikan dalam Alquran serta riwayat-riwayat, dan contohnya banyak terdapat da...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Hakikat Tawassul&lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
Pertanyaan:&lt;br /&gt;
Apa hakikat dari tawassul? Menurut ayat-ayat dan riwayat-riwayat Islam, apakah boleh kita bertawassul  kepada selain Allah?&lt;br /&gt;
Tawassul adalah menjadikan seseorang atau sesuatu di sisi Tuhan sebagai wasilah (perantara) untuk mendekati-Nya dan terpenuhinya hajat- hajat (kebutuhan). Menurut  kaum Syiah, tawassul adalah salah satu hal yang direkomendasikan dalam Alquran serta riwayat-riwayat, dan contohnya banyak terdapat dalam doa dan ziarah para Imam Syiah. Tawassul  bisa kepada siapa saja atau apa saja seperti para Nabi, para Auliya Allah dan para malaikat yang terpandang (mulia) di sisi Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konsep Tawassul&lt;br /&gt;
Tawassul dalam pengertian kata berarti mendekatkan diri  atau sesuatu yang mendekatkan kepada yang lain atas dasar kecintaan dan keinginan.[1] Secara istilah, tawassul adalah menjadikan sesuatu yang berharga (mulia) sebagai wasilah atau perantara untuk mencapai tujuan dan kedekatan Ilahi.[2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa hakikat dari tawassul? Menurut ayat-ayat dan riwayat-riwayat Islam, apakah boleh kita bertawassul kepada selain Allah?&lt;br /&gt;
Tawssul dalam  Alquran&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Apa hakikat dari tawassul? Menurut ayat-ayat dan riwayat-riwayat Islam, apakah boleh kita bertawassul kepada selain Allah?&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat beberapa ayat dalam Alquran yang mengisyaratkan kepada tawassul:&lt;br /&gt;
* “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ”; Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah kepada-Nya dan berjihadlah di jalan-Nya agar kamu beruntung. (Al-Maida: 35) Dalam ayat ini, perintah tentang “Wasilah” telah diberikan kepada orang-orang beriman. Para mufassir menyebut makna wasilah dalam ayat ini memiliki arti yang luas dan mencakup setiap pekerjaan dan segala sesuatu yang mendekatkan kepada Tuhan.&lt;br /&gt;
* Dinyatakan dalam Al-Qur&#039;an:  “Jika mereka datang kepadamu ketika mereka menganiaya diri mereka sendiri (dan melakukan dosa) dan meminta pengampunan kepada Tuhan dan Rasul juga meminta pengampunan untuk mereka, mereka akan menemukan Tuhan penerima taubat dan maha penyayang” (Al-Nisa: 64) Begitupula, saudara-saudara Nabi Yusuf berkata kepada ayah mereka: “Wahai ayah! Mintalah pengampunan dari Tuhan untuk kami, karena kami adalah orang berdosa”[3] dari kedua ayat ini dapat dipahami bahwa para Nabi dan para Auliya dapat menjadi perantara antara Allah dan hamba-hamba yang berdosa dan Allah akan mengampuni manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tawassul dalam Riwayat Ahlusunah==&lt;br /&gt;
Terdapat banyak riwayat di kalangan Syiah dan Ahlusunah yang mengabsahkan tawassul dalam pengertian sebagaiman yang telah disebutkan. Riwayat-riwayat tersebut sangat banyak dan telah dikutip di banyak buku, termasuk sumber-sumber Ahlusunah:&lt;br /&gt;
* Ahmad bin Hanbal, salah satu ulama besar Ahlusunah, meriwayatkan dari Usman bin Hanif: “Seorang pria buta mendatangi Nabi dan berkata: Mintalah kepada Allah untuk membuat saya sehat. Nabi menyuruhnya berwudhu dan sholat dua rakaat”. Kemudian berdoa seperti ini: “Wahai Tuhanku! Aku bermohon kepada-Mu dan melalui Muhammad, Nabi yang rahmat, aku menghadap kepada-Mu. Wahai Muhammad, tentang hajat-hajatku, aku menghadap kepada Tuhan dengan berwasilahkan engkau sehingga hajat-hajatku terkabulkan, Ya Allah, jadikan dia sebagai perantaraku”. [4] Dari riwayat ini dapat dimengerti bahwa bertawassul kepada Nabi Islam dengan maksud terkabulkannya hajat, adalah boleh.[5]&lt;br /&gt;
* Begitupula tawassul melalui para Ahlulbait Nabi saw Juga telah dinukilkan: “Keluarga Nabi adalah wasilahku, mereka adalah sebab kedekatan diriku di hadapannya. Aku berharap lantaran mereka di hari kiamat, catatan amalku diserahkan ke tangan kananku”.[6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tawassul kepada Selain Allah==&lt;br /&gt;
Tujuan dari tawassul adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan terpenuhinya hajat-hajat (kebutuhan). Bertawassul kepada para Nabi dan para Maksum as dianjurkan dalam Alquran dan dalam banyak riwayat jika itu dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Demikian pula, sumpah Allah pada kedudukan para Nabi, para Imam as serta hamba-hamba Allah yang saleh dan beriman adalah bagian dari konsep tawassul dalam makna yang luas.[7]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Eaminiea</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Tawassul_kepada_Nabi_Isa_as&amp;diff=14</id>
		<title>Tawassul kepada Nabi Isa as</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Tawassul_kepada_Nabi_Isa_as&amp;diff=14"/>
		<updated>2023-05-15T09:48:56Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Eaminiea: Mencipta laman baru dengan kandungan &amp;#039;Tawassul kepada Nabi Isa as  Pertanyaan: &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Apakah salah bertawassul kepada Yesus (Nabi Isa as)?&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;  Tawassul adalah menjadikan seseorang atau sesuatu di sisi Tuhan sebagai wasilah (perantara) untuk mendekati-Nya dan terpenuhinya hajat- hajat (kebutuhan). Para Nabi Ilahi adalah termasuk orang-orang yang terhormat (terpandang) di sisi Allah dan melalui mereka kita bisa dekat dengan Tuhan. Oleh karena itu, karena Yesus atau Nabi Isa as adalah salah satu...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Tawassul kepada Nabi Isa as&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan:&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Apakah salah bertawassul kepada Yesus (Nabi Isa as)?&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tawassul adalah menjadikan seseorang atau sesuatu di sisi Tuhan sebagai wasilah (perantara) untuk mendekati-Nya dan terpenuhinya hajat- hajat (kebutuhan). Para Nabi Ilahi adalah termasuk orang-orang yang terhormat (terpandang) di sisi Allah dan melalui mereka kita bisa dekat dengan Tuhan. Oleh karena itu, karena Yesus atau Nabi Isa as adalah salah satu nabi dan hamba Tuhan yang saleh, maka diperbolehkan untuk menjadikannya perantara dan meminta hajat serta bermohon kepada Allah dengan Haq-nya.&lt;br /&gt;
Kaum Muslimin dalam bertawassul, meyakini bahwa hanya Allah semata yang memenuhi hajat (kebutuhan) dan meminta wali-wali Allah untuk meminta kepada Tuhan agar kebutuhan mereka terpenuhi; Oleh karena itu, meminta doa, bukan berarti menganggap selain Allah punya efek, tetapi mengakui bahwa Tuhanlah satu-satunya yang memenuhi hajat dan memiliki efek dalam alam keberadaan. [1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ayat 35 surah Al-Maidah dikatakan: “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ”; Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah kepada-Nya.[2]&lt;br /&gt;
Mengingat tiadanya batasan (qaid) pada kata “Wasilah” , maka hal itu berarti mencakup segala sesuatu yang memiliki kelayakan untuk mendekatkan manusia kepada Tuhan.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Eaminiea</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Agama_Nabi_Islam_sebelum_diangkat_dan_diutus_sebagai_Nabi&amp;diff=13</id>
		<title>Agama Nabi Islam sebelum diangkat dan diutus sebagai Nabi</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Agama_Nabi_Islam_sebelum_diangkat_dan_diutus_sebagai_Nabi&amp;diff=13"/>
		<updated>2023-05-15T09:47:39Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Eaminiea: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Agama Nabi Islam sebelum diangkat dan diutus sebagai Nabi &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan:&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Agama apa yang diikuti Nabi Islam sebelum dilantik menjadi Nabi?&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada berbagai pandangan tentang agama Nabi Islam sebelum diangkat menjadi Nabi(Nubuwah). Di antara beragam pandangan tersebut menyebutkan Yudaisme, Kristen, agama Hanif (syariat Nabi Ibrahim as). Prinsip definitif dalam konteks ini adalah bahwa Nabi saw adalah seorang monoteis(penganut ajaran Tauhid) sebelum dia diutus sebagai Nabi dan senantiasa membenci berhala-berhala. Klaim ini disertai dengan argumen berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Imam Ali as di hadapan orang-orang yang mengenal latar kehidupan Nabi, menekankan kesucian nabi dari kemusyrikan dan dosa[1] serta mengingatkan kebertauhidan beliau dan keluarganya.[2]&lt;br /&gt;
* Berdasarkan bukti-bukti sejarah dan riwayat, Rasulullah saw memiliki nenek moyang yang bertauhid dan kakek-kakek beliau adalah penganut agama yang hanif dan pengikut Nabi Ibrahim saw.&lt;br /&gt;
* Di usia mudanya, dalam suatu perjalanan ke Suriah, Nabi saw  bertemu dengan seorang biarawan bernama Bahira. Ketika Bahira melihat tanda-tanda seorang nabi di wajah Muhammad muda, untuk mengujinya dia mengajaknya bersumpah kepada dua berhala &amp;quot;Lata&amp;quot; dan &amp;quot;Uzza&amp;quot;. Nabi dalam menjawab Bahira berkata, “لا تَسألنی بِهِما، فَوَ اللّه ما أبغضتُ شَیئَاً بُغضهما”(Buatlah aku bersumpah demi kedua berhala ini, aku bersumpah demi Allah, tidak pernah ada yang lebih kubenci selain kedua berhala itu”. [3]&lt;br /&gt;
* Dalam sumber-sumber sejarah disebutkan tentang ibadah-ibadah Nabi saw yang dilakukan nya sebelum diutus, seperti : shalat, puasa, dan haji. Beribadah di gua Hira merupakan salah satu kebiasaan lama Nabi. Haji Nabi tidak selaras dengan kebiasaan orang-orang musyrik, yang disertai dengan slogan musyrik, dan kesesuaian haji Nabi dengan haji Ibrahim tergambar dalam ritual seperti wukuf di Arafah.[4]&lt;br /&gt;
==Referensi==&lt;br /&gt;
* Teks tersebut diambil dari buku Porsman Esmat, Yusufian, Hasan, Markaz Muthaleat wa Pazuheshaye Farhangi Howzeh Elmiyeh(Pusat Kajian Budaya dan Riset Seminari), Qom, 1380 HS.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Eaminiea</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Agama_Nabi_Islam_sebelum_diangkat_dan_diutus_sebagai_Nabi&amp;diff=12</id>
		<title>Agama Nabi Islam sebelum diangkat dan diutus sebagai Nabi</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Agama_Nabi_Islam_sebelum_diangkat_dan_diutus_sebagai_Nabi&amp;diff=12"/>
		<updated>2023-05-15T09:47:28Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Eaminiea: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Agama Nabi Islam sebelum diangkat dan diutus sebagai Nabi &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan:&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Agama apa yang diikuti Nabi Islam sebelum dilantik menjadi Nabi?&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada berbagai pandangan tentang agama Nabi Islam sebelum diangkat menjadi Nabi(Nubuwah). Di antara beragam pandangan tersebut menyebutkan Yudaisme, Kristen, agama Hanif (syariat Nabi Ibrahim as). Prinsip definitif dalam konteks ini adalah bahwa Nabi saw adalah seorang monoteis(penganut ajaran Tauhid) sebelum dia diutus sebagai Nabi dan senantiasa membenci berhala-berhala. Klaim ini disertai dengan argumen berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Imam Ali as di hadapan orang-orang yang mengenal latar kehidupan Nabi, menekankan kesucian nabi dari kemusyrikan dan dosa[1] serta mengingatkan kebertauhidan beliau dan keluarganya.[2]&lt;br /&gt;
* Berdasarkan bukti-bukti sejarah dan riwayat, Rasulullah saw memiliki nenek moyang yang bertauhid dan kakek-kakek beliau adalah penganut agama yang hanif dan pengikut Nabi Ibrahim saw.&lt;br /&gt;
* Di usia mudanya, dalam suatu perjalanan ke Suriah, Nabi saw  bertemu dengan seorang biarawan bernama Bahira. Ketika Bahira melihat tanda-tanda seorang nabi di wajah Muhammad muda, untuk mengujinya dia mengajaknya bersumpah kepada dua berhala &amp;quot;Lata&amp;quot; dan &amp;quot;Uzza&amp;quot;. Nabi dalam menjawab Bahira berkata, “لا تَسألنی بِهِما، فَوَ اللّه ما أبغضتُ شَیئَاً بُغضهما”(Buatlah aku bersumpah demi kedua berhala ini, aku bersumpah demi Allah, tidak pernah ada yang lebih kubenci selain kedua berhala itu”. [3]&lt;br /&gt;
* Dalam sumber-sumber sejarah disebutkan tentang ibadah-ibadah Nabi saw yang dilakukan nya sebelum diutus, seperti : shalat, puasa, dan haji. Beribadah di gua Hira merupakan salah satu kebiasaan lama Nabi. Haji Nabi tidak selaras dengan kebiasaan orang-orang musyrik, yang disertai dengan slogan musyrik, dan kesesuaian haji Nabi dengan haji Ibrahim tergambar dalam ritual seperti wukuf di Arafah.[4]&lt;br /&gt;
==Referensi==&lt;br /&gt;
Teks tersebut diambil dari buku Porsman Esmat, Yusufian, Hasan, Markaz Muthaleat wa Pazuheshaye Farhangi Howzeh Elmiyeh(Pusat Kajian Budaya dan Riset Seminari), Qom, 1380 HS.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Eaminiea</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Agama_Nabi_Islam_sebelum_diangkat_dan_diutus_sebagai_Nabi&amp;diff=11</id>
		<title>Agama Nabi Islam sebelum diangkat dan diutus sebagai Nabi</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Agama_Nabi_Islam_sebelum_diangkat_dan_diutus_sebagai_Nabi&amp;diff=11"/>
		<updated>2023-05-15T09:47:15Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Eaminiea: Mencipta laman baru dengan kandungan &amp;#039;Agama Nabi Islam sebelum diangkat dan diutus sebagai Nabi  Pertanyaan: &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Agama apa yang diikuti Nabi Islam sebelum dilantik menjadi Nabi?&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;  Ada berbagai pandangan tentang agama Nabi Islam sebelum diangkat menjadi Nabi(Nubuwah). Di antara beragam pandangan tersebut menyebutkan Yudaisme, Kristen, agama Hanif (syariat Nabi Ibrahim as). Prinsip definitif dalam konteks ini adalah bahwa Nabi saw adalah seorang monoteis(penganut ajaran Tauhid) sebelum dia...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Agama Nabi Islam sebelum diangkat dan diutus sebagai Nabi &lt;br /&gt;
Pertanyaan:&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Agama apa yang diikuti Nabi Islam sebelum dilantik menjadi Nabi?&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada berbagai pandangan tentang agama Nabi Islam sebelum diangkat menjadi Nabi(Nubuwah). Di antara beragam pandangan tersebut menyebutkan Yudaisme, Kristen, agama Hanif (syariat Nabi Ibrahim as). Prinsip definitif dalam konteks ini adalah bahwa Nabi saw adalah seorang monoteis(penganut ajaran Tauhid) sebelum dia diutus sebagai Nabi dan senantiasa membenci berhala-berhala. Klaim ini disertai dengan argumen berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Imam Ali as di hadapan orang-orang yang mengenal latar kehidupan Nabi, menekankan kesucian nabi dari kemusyrikan dan dosa[1] serta mengingatkan kebertauhidan beliau dan keluarganya.[2]&lt;br /&gt;
* Berdasarkan bukti-bukti sejarah dan riwayat, Rasulullah saw memiliki nenek moyang yang bertauhid dan kakek-kakek beliau adalah penganut agama yang hanif dan pengikut Nabi Ibrahim saw.&lt;br /&gt;
* Di usia mudanya, dalam suatu perjalanan ke Suriah, Nabi saw  bertemu dengan seorang biarawan bernama Bahira. Ketika Bahira melihat tanda-tanda seorang nabi di wajah Muhammad muda, untuk mengujinya dia mengajaknya bersumpah kepada dua berhala &amp;quot;Lata&amp;quot; dan &amp;quot;Uzza&amp;quot;. Nabi dalam menjawab Bahira berkata, “لا تَسألنی بِهِما، فَوَ اللّه ما أبغضتُ شَیئَاً بُغضهما”(Buatlah aku bersumpah demi kedua berhala ini, aku bersumpah demi Allah, tidak pernah ada yang lebih kubenci selain kedua berhala itu”. [3]&lt;br /&gt;
* Dalam sumber-sumber sejarah disebutkan tentang ibadah-ibadah Nabi saw yang dilakukan nya sebelum diutus, seperti : shalat, puasa, dan haji. Beribadah di gua Hira merupakan salah satu kebiasaan lama Nabi. Haji Nabi tidak selaras dengan kebiasaan orang-orang musyrik, yang disertai dengan slogan musyrik, dan kesesuaian haji Nabi dengan haji Ibrahim tergambar dalam ritual seperti wukuf di Arafah.[4]&lt;br /&gt;
==Referensi==&lt;br /&gt;
Teks tersebut diambil dari buku Porsman Esmat, Yusufian, Hasan, Markaz Muthaleat wa Pazuheshaye Farhangi Howzeh Elmiyeh(Pusat Kajian Budaya dan Riset Seminari), Qom, 1380 HS.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Eaminiea</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Urgensi_Pengetahuan_Ketuhanan_(Teologi)&amp;diff=10</id>
		<title>Urgensi Pengetahuan Ketuhanan (Teologi)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Urgensi_Pengetahuan_Ketuhanan_(Teologi)&amp;diff=10"/>
		<updated>2023-05-15T09:46:21Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Eaminiea: Mencipta laman baru dengan kandungan &amp;#039;Urgensi Pengetahuan Ketuhanan (Teologi) Pertanyaan: &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Apa urgensi dan perlunya mengenal Tuhan? Apa akibat dari tiadanya perhatian dalam upaya mengenal Tuhan(teologi)?&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;  Para teolog mengemukakan dua argumen(dalil) terkait urgensi atau perlunya pengenalan Tuhan, yaitu: memperhatikan kemungkinan hukuman di akhirat jika para Nabi mengatakan kebenaran (mencegah kemungkinan hal yang merugikan), dan kewajiban untuk mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan ke...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Urgensi Pengetahuan Ketuhanan (Teologi)&lt;br /&gt;
Pertanyaan:&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Apa urgensi dan perlunya mengenal Tuhan? Apa akibat dari tiadanya perhatian dalam upaya mengenal Tuhan(teologi)?&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para teolog mengemukakan dua argumen(dalil) terkait urgensi atau perlunya pengenalan Tuhan, yaitu: memperhatikan kemungkinan hukuman di akhirat jika para Nabi mengatakan kebenaran (mencegah kemungkinan hal yang merugikan), dan kewajiban untuk mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan kepada manusia dimana hal itu hanya memungkinkan jika Dia dikenal (perlunya mensyukuri pemberi nikmat). Sepanjang sejarah kemanusiaan, perhatian manusia kepada Tuhan dan kecenderungan dirinya untuk mengidentifikasi sumber atau asal usul keberadaan, telah meningkatkan pentingnya pengenalan Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pentingnya Mengenal Tuhan (Teologi)==&lt;br /&gt;
Mengetahui asal usul eksistensi senantiasa menjadi salah satu perhatian utama umat manusia dan sebagian besar dari sumber-sumber agama adalah mendeskripsikan tentang Tuhan dan hubungan-Nya dengan manusia dan dunia.&lt;br /&gt;
Pentingnya pengenalan Tuhan juga dapat dilihat dari segi pengaruhnya terhadap kehidupan individu dan kolektif manusia. Tidak diragukan lagi bahwa kehidupan orang yang mengenal Tuhan sangatlah berbeda dengan kehidupan orang yang tidak percaya keberadaan Tuhan. Begitupula, perbedaan mendasar nampak pula ketika kita membandingkan kehidupan dua orang yang percaya kepada Tuhan yang masing-masing memiliki gambaran berbeda tentang Tuhannya. Semua ini karena keyakinan seseorang kepada Tuhan dan persepsi yang dia miliki tentang sifat-sifat-Nya, berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan, yaitu dalam motif, niat, penilaian dan tindakannya. Dengan kata lain, semuai itu memberikan makna dan konsep khusus dalam hidupnya dan memberinya karakter dan identitas khusus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Perlunya Pengenalan Tuhan (Teologi)==&lt;br /&gt;
Secara fitrawi dalam diri manusia telah tertanam suatu tingkat pengetahuan tentang Tuhan dan telah berjalin kelindan dengan keberadaan mereka. Pengetahuan bawaan ini hanya menciptakan  atau prakondisi bagi pertumbuhan dan penyempurnaan pengetahuan tentang Tuhan bagi manusia. Namun demikian, untuk lebih menekankan perlunya bergerak kearah pengenalan Tuhan, para teolog Islam telah mengemukakan serentetan argument terkait perlunya perenungan dan pengenalan terhadap Tuhan.[1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Mencegah Kemungkinan Hal Merugikan==&lt;br /&gt;
Setiap orang yang mengetahui kedatangan para nabi Ilahi serta ajakan mereka untuk menyembah Tuhan, akan timbul dalam pikirannya sebuah perkiraan atau kemungkinan bahwa jika saja para nabi benar dalam ajakan mereka, maka dia tentulah akan dihukum karena tidak menjalankan tugas-tugas (kewajiban) yang telah diberikan oleh para nabi. Dan dari sisi ini, kerugian besar akan menimpanya. Di sisi lain, akal menyatakan bahwa seseorang sedapat mungkin harus menghindari hukuman atau hal-hal yang merugikan, meskipun hal itu hanya berupa kemungkinan.&lt;br /&gt;
Olehnya itu, bagi setiap manusia terdapat kemungkinan bahwa ia akan mengalami azab dan hukuman dikarenakan tidak mengikuti agama, dan karena akal menyatakan perlu untuk mencegah kerugian akibat kekufuran, maka akal menetapkan bahwa seseorang harus meneliti dan merenungi keberadaan Tuhan dan sifat-sifatnya sehingga jika benar-benar ada Tuhan dan ajakan para nabi itu benar, dia bisa menyelamatkan dirinya dari azab Ilahi dengan mengikuti mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Perlunya Mensyukuri Pemberi Nikmat==&lt;br /&gt;
Tidak diragukan lagi bahwa manusia dalam hidupnya mendapatkan begitu banyak nikmat dan keberkahan. Di sisi lain, akal manusia menganggap rasa syukur atas “Pemberi nikmat” sebagai hal yang perlu; Oleh karena itu, manusia perlu berterima kasih kepada pemberi nikmat, dan karena rasa terima kasih suatu makhluk bergantung pada pengetahuannya, akal manusia menyatakan bahwa dia harus mengenali sang pemberi nikmat yang sesungguhnya (yaitu Tuhan itu sendiri).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Referensi==&lt;br /&gt;
1.	Dalam beberapa sumber dan referensi ilmu kalam, pembahasan ini diketengahkan dibawah judul umum “Wujub al-Nadzar” (perlunya berpikir). Menurut pendapat ulama Imamiyah dan Mu&#039;tazilah, kewajiban ini merupakan kewajiban rasional, dan Asy&#039;ari menganggapnya sebagai kewajiban syariat. Lihat Allamah Hilli, Kasyf al-Murad, hal. 260 dan 261; Al-Sayuri, Jamaluddin Miqdad bin Abdullah (Fadhil Miqdad), Irsyad al-Thalibin Ila Nahj al-Mustarsyidin, hlm. 111-113.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Eaminiea</name></author>
	</entry>
</feed>