<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="ms">
	<id>https://ms.wikipasokh.com/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Abadiyuwono2014</id>
	<title>WikiPasokh - Sumbangan pengguna [ms]</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://ms.wikipasokh.com/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Abadiyuwono2014"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/view/Khas:Sumbangan/Abadiyuwono2014"/>
	<updated>2026-05-26T18:16:06Z</updated>
	<subtitle>Sumbangan pengguna</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.43.3</generator>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Furu%27uddin&amp;diff=970</id>
		<title>Furu&#039;uddin</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Furu%27uddin&amp;diff=970"/>
		<updated>2025-02-28T23:40:49Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Apa yang dimaksud dengan Furu&#039;uddin dan sebutkan apa saja yang termasuk dalam Furu&#039;uddin?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Furu&#039;uddin&#039;&#039;&#039; atau cabang-cabang agama meliputi shalat, [[puasa dalam pandangan Al-Qur&#039;an dan hadis|puasa]], [[haji dalam Al-Qur&#039;an|haji]], jihad, khumus, zakat, amar ma&#039;ruf, nahi munkar, tawalli, dan tabarri. Sebagian besar dari rangkaian amal dan perilaku ibadah dalam budaya Islam dikenal sebagai Furu&#039;uddin. Furu&#039;uddin ini berkaitan dengan aspek praktis dari keimanan Islam. Ketaatan terhadap Furu&#039;uddin sama wajibnya seperti ketaatan terhadap Ushuluddin (prinsip-prinsip agama).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kedudukan ==&lt;br /&gt;
Furu&#039;uddin adalah kewajiban dan adab yang ditetapkan oleh syariat suci bagi orang-orang yang mukallaf (terbebani kewajiban) dalam hal tindakan dan perilaku.&amp;lt;ref&amp;gt;Kamus Fikih Persia, di bawah pengawasan Mahmud Hasyimi Syahrudi, Qom, Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, 1387 H, jilid 5, halaman 679.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ketaatan terhadap Furu&#039;uddin sama wajibnya seperti ketaatan terhadap prinsip-prinsip agama. Furu&#039;uddin adalah serangkaian kewajiban dan tugas praktis yang diambil oleh Nabi saw dari wahyu dan disampaikan untuk kebahagiaan duniawi dan ukhrawi manusia. Beberapa cabang agama mengatur hubungan manusia dengan Allah dalam bentuk hukum dan peraturan, serta menetapkan kewajiban-kewajiban seperti shalat, puasa, dan haji. Beberapa lainnya mengatur kewajiban manusia terhadap sesamanya dan mengatur hubungan antarmanusia, seperti jihad, khumus, dan jual beli.&amp;lt;ref&amp;gt;Khatibi Kushkak, Muhammad dan rekan-rekan, Budaya Syiah, Qom, Zamzam Hidayat, 1386 H, halaman 359.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian besar dari rangkaian amal dan perilaku ibadah dalam budaya Islam dikenal sebagai Furu&#039;uddin. Furu&#039;uddin ini berkaitan dengan aspek praktis dari keimanan [[Islam]]. Dalam pengajaran umum di kalangan [[Syiah Imamiyah]], Furu&#039;uddin ini mencakup [[shalat]], [[puasa]], [[zakat]], [[khumus]], [[haji]], [[jihad]], [[amar ma&#039;ruf]], [[nahi munkar]], [[tawalli]], dan [[tabarri]]. Namun, di kalangan mazhab [[Ahlusunah]], beberapa cabang ini tidak terlalu berkembang dan tidak terlalu ditekankan.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Contoh Furu&#039;uddin ==&lt;br /&gt;
=== Shalat ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam agama Islam, kewajiban ibadah pertama dan terpenting bagi setiap individu yang mukallaf adalah melaksanakan [[shalat]], yang dilakukan lima kali sehari sebagai pengingat iman dan keyakinan seorang Muslim, serta sebagai sarana untuk mengumpulkan kekuatan batin dan spiritual untuk terhubung dengan sumber alam semesta, yaitu Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Puasa ===&lt;br /&gt;
[[Puasa]] adalah salah satu ibadah dalam Islam di mana seseorang menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal tertentu lainnya dari terbit fajar hingga terbenam matahari untuk mendekatkan diri kepada Allah. Istilah ini dalam bahasa Persia setara dengan kata Arab &amp;quot;shaum&amp;quot; dan &amp;quot;siyam&amp;quot;, yang berarti menahan diri dari makan, minum, berbicara, dan hubungan seksual. Puasa untuk pemurnian jiwa dan penyucian diri telah dipraktikkan dalam banyak agama dan kepercayaan sebelumnya, seperti Maya, Hindu, Buddha, Jain, dan Manichaeisme. Puasa dalam Islam adalah salah satu ibadah penting dan dalam hadis disebut sebagai salah satu dari lima rukun Islam. Dalam hadis, banyak manfaat dan keutamaan material dan spiritual yang disebutkan untuk puasa (terutama puasa bulan Ramadhan), seperti diterimanya amal, dikabulkannya doa, pengampunan dosa, hak atas surga dan kenikmatan akhirat, serta keselamatan dari azab neraka (perisai api), yang menunjukkan perhatian khusus Allah kepada orang yang berpuasa. Tidur orang yang berpuasa dianggap sebagai ibadah, dan napasnya adalah tasbih kepada Allah, serta puasa disebut sebagai zakat tubuh.&amp;lt;ref&amp;gt;Husseini Ahagh, Maryam, &amp;quot;Puasa&amp;quot;, Ensiklopedia Dunia Islam, Teheran, Yayasan Ensiklopedia Islam, 1394 H, jilid 20, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Haji ===&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan [[haji]] dalam teks dan sumber [[Islam]], termasuk sumber fikih, adalah perjalanan ke [[Baitullah]] (Ka&#039;bah) untuk melakukan serangkaian ibadah khusus pada waktu tertentu. Menurut beberapa ahli fikih, istilah fikih haji merujuk pada serangkaian tindakan yang dilakukan di tempat-tempat tertentu di [[Mekah]]. Serangkaian tindakan ibadah dalam ritual haji disebut manasik haji. Dalam [[Al-Qur&#039;an]], banyak ayat yang membahas haji, dan haji diwajibkan bagi orang yang mampu serta dianggap sebagai salah satu syiar besar yang layak diagungkan.&amp;lt;ref&amp;gt;Husaini Ahagh, Maryam, &amp;quot;Haji&amp;quot;, Ensiklopedia Dunia Islam, Teheran, Yayasan Ensiklopedia Islam, 1393 H, jilid 12, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Zakat ===&lt;br /&gt;
Dalam Al-Qur&#039;an, sebagai salah satu perintah pertama dalam agama Islam, [[zakat]] disebutkan puluhan kali bersama dengan perintah untuk mendirikan shalat. Zakat, sebagaimana makna harfiahnya dan juga ditegaskan dalam Al-Qur&#039;an, selain sebagai pembayaran finansial, juga merupakan bentuk &amp;quot;pemurnian&amp;quot; dan &amp;quot;penyucian&amp;quot; batin. Oleh karena itu, dalam penafsiran awal ayat-ayat Al-Qur&#039;an, zakat dianggap sebagai ibadah seperti ibadah lainnya di mana niat dan tujuan mendekatkan diri kepada Allah adalah syarat sahnya. Namun, zakat selain sebagai ibadah individu, juga memiliki aspek sosial sebagai cara untuk mendistribusikan kekayaan dan menyediakan dana untuk kepentingan umum umat Islam.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Khumus ===&lt;br /&gt;
Dalam Al-Qur&#039;an, khumus disebutkan sebagai bagian dari rampasan perang, dan dalam fikih [[Ahlusunah]], [[khumus]] hanya berlaku untuk rampasan perang dan beberapa kasus terbatas lainnya. Sebaliknya, dalam fikih [[Syiah]], konsep rampasan dalam ayat tersebut telah diperluas berdasarkan sumber-sumber hadis dan mencakup berbagai topik. Topik utama adalah &amp;quot;keuntungan usaha&amp;quot;, yang menjadikan khumus sebagai pajak umum yang berlaku di semua waktu dan tempat, dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat; artinya, setiap orang yang mukallaf harus menghitung pendapatan usahanya dalam satu tahun keuangan dan membayar seperlima dari kelebihan pendapatan setelah dikurangi kebutuhan tahunan sebagai khumus.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Jihad ===&lt;br /&gt;
[[Jihad]] adalah perang yang sah di jalan [[Allah]] swt dan merupakan salah satu topik dalam fikih Islam. Konsep utama istilah ini dalam teks-teks keagamaan, seperti penggunaan umumnya, adalah bentuk khusus dari upaya, yaitu berjuang di jalan Allah dengan jiwa, harta, dan aset lainnya dengan tujuan menyebarkan Islam atau membelanya.&amp;lt;ref&amp;gt;Sarrami, Saifullah, dan Said Adalatnejad, &amp;quot;Jihad&amp;quot;, Ensiklopedia Dunia Islam, Teheran, Yayasan Ensiklopedia Islam, 1393 H, jilid 11, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Amar Ma&#039;ruf dan Nahi Munkar ===&lt;br /&gt;
[[Amar ma&#039;ruf dan nahi munkar]] adalah dua istilah yang dalam tafsir klasik [[Al-Qur&#039;an]] diartikan sebagai perintah untuk mengikuti [[Nabi Muhammad saw]] dan agama [[Islam]], serta larangan untuk kafir kepada Allah dan mendustakan Rasulullah saw dan agamanya. Dapat dikatakan bahwa amar ma&#039;ruf adalah tindakan untuk mewujudkan apa yang sesuai dengan ajaran agama dan dianggap baik, sedangkan nahi munkar adalah reaksi untuk menghancurkan apa yang dianggap buruk.&amp;lt;ref&amp;gt;Jabirizadeh, Abdulamir, &amp;quot;Amar Ma&#039;ruf dan Nahi Munkar&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 10, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Tawalli dan Tabarri ===&lt;br /&gt;
Dua prinsip penting, &amp;quot;[[tawalli]]&amp;quot; yang berarti mencintai sahabat-sahabat Allah dan pendukung keadilan, dan &amp;quot;[[tabarri]]&amp;quot; yang berarti berlepas diri dari para penindas dan musuh-musuh Allah, memiliki penting yang besar dan menyebabkan pendukung keadilan bersatu melawan penindas dan mengakhiri kezaliman dari masyarakat.&amp;lt;ref&amp;gt;&amp;quot;[https://makarem.ir/main.aspx?typeinfo=42&amp;amp;lid=0&amp;amp;catid=29262&amp;amp;mid=318146 Konsep Tawalli dan Tabarri]&amp;quot;, Situs Informasi Kantor Ayatullah Makarim Syirazi, dipublikasikan: 21 Aban 1402 H.&amp;lt;/ref&amp;gt; Tabarri berarti menjalin persahabatan dengan sahabat-sahabat Allah dan menjauhkan diri dari musuh-musuh Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;&amp;quot;Tawalli dan Tabarri&amp;quot;, Situs Komprehensif Syahid Murtadha Muthahhari, dipublikasikan: 21 Aban 1402 H.&amp;lt;/ref&amp;gt; Tawalli dan tabarri digunakan dalam banyak ayat Al-Qur&#039;an dan dari sana memasuki bidang fikih dan teologi. Dalam ayat-ayat ini, dilarang untuk menjalin persahabatan dengan setan, orang kafir, non-Muslim, orang yang dimurkai Allah, dan mereka yang memerangi orang beriman karena agama, dan dianjurkan untuk menjalin persahabatan dengan Allah, Nabi saw, dan orang-orang beriman.&amp;lt;ref&amp;gt;Jabiri, Amir, &amp;quot;Tawalli dan Tabarri&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 16, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pranala Terkait ==&lt;br /&gt;
* [[Ushuluddin]]&lt;br /&gt;
* [[Perbedaan Antara Ushuluddin Dan Furu’uddin]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch =کلام&lt;br /&gt;
|subbranch1 =&lt;br /&gt;
|subbranch2 =&lt;br /&gt;
|subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه =شد&lt;br /&gt;
 | تیترها =شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش =شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی =شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر =شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت =ج&lt;br /&gt;
 | کیفیت =ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa:فروع دین]]&lt;br /&gt;
[[ru:Фуру’ ад-Дин (Ветви религии)]]&lt;br /&gt;
[[ar:فروع الدين]]&lt;br /&gt;
[[bn:ফুরুয়ে দ্বীন (ধর্মের শাখাসমূহ)]]&lt;br /&gt;
[[es:Los Ramas de la Religión (Furūʿ al-Dīn)]]&lt;br /&gt;
[[ps:د دین فروع]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Kisah_Kepala-Kepala_Syuhada_Karbala&amp;diff=969</id>
		<title>Kisah Kepala-Kepala Syuhada Karbala</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Kisah_Kepala-Kepala_Syuhada_Karbala&amp;diff=969"/>
		<updated>2025-02-28T22:13:04Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Apa yang terjadi dengan kepala para syuhada Karbala, termasuk kepala mulia Imam Husain as?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{portal|امام حسین}}&lt;br /&gt;
Semua kepala syuhada Karbala (kecuali [[Ali Asghar as]] dan [[Hurr bin Yazid Riyahi]]) dipisahkan dari tubuh mereka dan dibawa bersama [[kafilah tawanan Karbala]] ke Kufah dan Syam. Sebagian besar ulama Syiah berpendapat bahwa kepala Imam Husain as setelah Kufah dan Syam dikembalikan ke [[Karbala]] dan dimakamkan di samping jasadnya. Ada juga pendapat lain yang menyatakan bahwa kepala Imam Husain as dimakamkan di [[Damaskus]] dan [[Mesir]]. Beberapa pendapat lain menyebutkan bahwa kepala Imam dikuburkan di [[Madinah]] atau [[Najaf]], namun setelah beberapa waktu, dipindahkan ke Karbala dan dimakamkan di sana.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenai kepala syuhada lainnya, pendapat yang terkenal adalah bahwa kepala mereka dikembalikan ke Karbala dan dimakamkan di sana. Namun, ada juga makam di [[Pemakaman Bab Saghir, Syam]] yang dikaitkan dengan kepala para syuhada Karbala.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pemisahan Kepala Syuhada Karbala==  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah [[kesyahidan Imam Husain as]], atas perintah [[Umar bin Sa&#039;ad]], kepala semua syuhada dipisahkan dari tubuh mereka. Di antara para syuhada, hanya dua orang yang kepalanya tidak dipisahkan:  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Ali Asghar as: Setelah tragedi Karbala, kepalanya tidak dipisahkan dari tubuhnya karena [[Imam Husain as]] telah menguburkannya.  &lt;br /&gt;
* [[Hurr bin Yazid Riyahi]]: Kepalanya juga tidak dipisahkan karena kerabat dan anggota sukunya menghalangi pemenggalan kepalanya.&amp;lt;ref&amp;gt;Abu Mikhnaf, Waq&#039;at al-Thaff, disunting oleh Yusefi Gharavi, diterjemahkan oleh Jawad Soleimani, hlm. 192 dan 199, diterbitkan oleh Institut Imam Khomeini, Qom.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepala para syuhada dibagi di antara berbagai suku untuk dibawa ke Kufah dan Syam guna mendapatkan hadiah. Setelah tiba di Kufah dan beberapa waktu berada di sana, kepala para syuhada dibawa bersama kafilah tawanan peristiwa Karbala menuju Syam.&amp;lt;ref&amp;gt;Abu Mikhnaf, Waq&#039;at al-Thaff, disunting oleh Yusefi Gharavi, diterjemahkan oleh Jawad Soleimani, hlm. 192 dan 199, diterbitkan oleh Institut Imam Khomeini, Qom.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Nasib Kepala Imam Husain as ==  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat berbagai pendapat mengenai nasib kepala Imam Husain as:  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Pengembalian ke Karbala===  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian besar ulama Syiah percaya bahwa [[Imam Sajjad as]] pada [[hari Arba&#039;in]] (20 Safar 61 H) tiba di Karbala dan menguburkan kepala Imam Husain as di sana.&amp;lt;ref&amp;gt;Qadhi Thabathabai, Tahqiq Darbareh Awwalin Arba&#039;in Sayid al-Syuhada, hlm. 337.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Sayid Ibnu Thawus]], seorang ulama Syiah abad ke-7 Hijriah, dalam Luhuf menyatakan bahwa kepala Imam Husain as dikembalikan dari Syam dan dikuburkan di Karbala di samping tubuhnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Luhuf, Sayid Ibnu Thawus, hlm. 112, cetakan kedua, Saida.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sayid Asrar Husaini Tankubani dalam kitab Masaib al-Hudat menyebutkan bahwa pemakaman kepala Imam Husain di Karbala adalah pendapat yang paling masyhur.&amp;lt;ref&amp;gt;Qadhi Thabathabai, Tahqiq Darbareh Awwalin Arba&#039;in Sayid al-Syuhada, hlm. 337.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Pemakaman di Mesir===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut beberapa riwayat, [[Khalifah Fatimiyah]] membawa kepala Imam Husain as dari Bab al-Faradis di Syam ke &#039;Asqalan, yang terletak di antara Syam dan Mesir, lalu memindahkannya ke Mesir dan memakamkannya di tempat yang dikenal hingga kini. Sibth bin Jauzi, seorang sejarawan Sunni abad ke-7 Hijriah, menyatakan bahwa hal ini tidak dapat dibuktikan secara pasti.&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat Lawa&#039;ij al-Asyjan, hlm. 247.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam Yafi&#039;i Yamani Makki (W. 768 H) dalam Mir&#039;at al-Jinan juga menyatakan bahwa pemindahan kepala Imam Husain as ke Asqalan atau Kairo tidak dapat dipastikan.&amp;lt;ref&amp;gt;Mir&#039;at al-Jinan, Yafi&#039;i, jilid 1, hlm. 136, cetakan Hyderabad, 1337 H.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendapat ini banyak dianut oleh kelompok Sunni.&amp;lt;ref&amp;gt;Lihatlah; Wasail al-Syi&#039;ah, jilid. 33 bab Mazar, cetakan Islamiyah, Teheran&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Pemakaman Kepala Imam di Najaf===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sebuah riwayat, [[Imam Shadiq as]] berkata kepada seseorang yang hendak berziarah ke Najaf bahwa ia akan melihat dua makam di sana; makam yang lebih besar adalah makam Imam Ali as, sedangkan makam yang lebih kecil adalah tempat pemakaman kepala Imam Husain as.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibn Qulawaih, &#039;&#039;Kamil al-Ziyarat&#039;&#039;, 1356 H, hlm. 35.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga dikisahkan bahwa Imam Shadiq as ketika tiba di Najaf, melaksanakan salat dua rakaat di tempat yang diyakini sebagai lokasi kepala Imam Husain as.&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat Wasa&#039;il al-Syi&#039;ah, jilid 10, bab 33, dari bab ziarah, cetakan Islamiyah, Teheran.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Sayid Ibnu Tawus menyebutkan bahwa setelah kepala Imam Husain as dimakamkan di Najaf, kemudian dipindahkan dan disatukan kembali dengan jasadnya di Karbala.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammad Hasan, &#039;&#039;Jawahir al-Kalam&#039;&#039;, jilid 20, hlm. 93.&amp;lt;/ref&amp;gt; [[Muhammad Hasan Najafi]], penulis Jawahir al-Kalam, setelah menukil riwayat ini dan pandangan Sayid Ibnu Thawus, menyatakan bahwa kemungkinan kepala Imam Husain as sempat dimakamkan di Najaf, dekat Imam Ali as, sebelum akhirnya dipindahkan dan dikuburkan di Karbala.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammad Hasan, &#039;&#039;Jawahir al-Kalam&#039;&#039;, jilid 20, hlm. 93.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pendapat Lain==  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa [[Yazid]] mengirimkan kepala Imam Husain as kepada gubernur [[Madinah]], yang kemudian menguburkannya di [[Baqi&#039;]].&amp;lt;ref&amp;gt;Imad Hambali, &#039;&#039;Syajarat al-Dzahab&#039;&#039;, jilid 1, hlm. 67; Ibnu Katsir, &#039;&#039;al-Bidayah wa al-Nihayah&#039;&#039;, jilid 8, hlm. 204.&amp;lt;/ref&amp;gt; Riwayat ini dinukil dari Zubair bin Bakar, namun ulama Syiah tidak mempercayainya dan menganggapnya sebagai musuh Ahlul Bait as.&amp;lt;ref&amp;gt;Qadhi Thabathabai,&#039;&#039;Tahqiq Darbareh Awwalin Arba&#039;in Sayid al-Syuhada&#039;&#039;, hlm. 318.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa sejarawan juga meriwayatkan bahwa kepala Imam Husain as dimakamkan di Damaskus.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, &#039;&#039;Ansab al-Asyraf&#039;&#039;, 1996, jilid 3, hlm. 214.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Nasib Kepala Syuhada Lainnya==  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian besar ulama Syiah percaya bahwa Imam Sajjad as pada hari Arba&#039;in tiba di Karbala dan menguburkan kepala syuhada lainnya di sana.&amp;lt;ref&amp;gt;Qadhi Thabathabai, Tahqiq Darbareh Awwalin Arba&#039;in Sayid al-Syuhada, jilid 3, hlm. 304, diterbitkan oleh Yayasan Ilmiah dan Budaya Syahid Qadhi.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, di Pemakaman Bab Saghir, Syam, terdapat sebuah makam yang dikenal sebagai &amp;quot;Makam Kepala Syuhada Karbala,&amp;quot; yang mencantumkan nama banyak syuhada yang diyakini dimakamkan di sana.&amp;lt;ref&amp;gt; Muhammad Ali Alami, &#039;&#039;Husain Nafs Muthmainnah&#039;&#039;, hlm. 365, Penerbit Had, cetakan pertama, 1372 H.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
| main branch =تاریخ&lt;br /&gt;
|subbranch1 =تاریخ اسلام&lt;br /&gt;
|subbranch2 =کربلا&lt;br /&gt;
|subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه =شد&lt;br /&gt;
 | تیترها =شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش =شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی =شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر =&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی =شد&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت =ب&lt;br /&gt;
 | کیفیت =ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[رده:درگاه امام حسین(ع)]]&lt;br /&gt;
[[fa:سرگذشت سرهای شهدای كربلا]]&lt;br /&gt;
[[fr:Sort des têtes des martyrs de Karbala]]&lt;br /&gt;
[[en:The Fate of Karbala Martyrs&#039; Heads]]&lt;br /&gt;
[[ps:د کربلا د شهیدانو په سرونو څه تېر شول]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Ushuluddin&amp;diff=968</id>
		<title>Ushuluddin</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Ushuluddin&amp;diff=968"/>
		<updated>2025-02-28T20:58:25Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Apa yang dimaksud dengan Ushuluddin dan sebutkan apa saja yang termasuk dalam Ushuluddin?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Ushuluddin&#039;&#039;&#039; atau prinsip-prinsip agama dalam Islam meliputi tentang [[tauhid]], [[kenabian]], dan [[hari kebangkitan]]. Ketiga prinsip ini dianggap sebagai dasar dan fondasi agama. Ulama Syiah menambahkan prinsip [[keadilan]] dan [[imamah]] ke dalam tiga prinsip ini, sehingga Ushuluddin dalam Syiah berjumlah lima. Ketidaktahuan dan ketidakpercayaan terhadap Ushuluddin ini dapat mengeluarkan seseorang dari Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istilah &amp;quot;Ushuluddin&amp;quot; tidak disebutkan dalam Al-Qur&#039;an atau hadis, dan istilah ini diciptakan oleh beberapa teolog. Tidak jelas kapan istilah ini mulai digunakan atau siapa yang pertama kali menggunakannya. Para pencetus istilah ini menyebut keyakinan-keyakinan ini sebagai Ushuluddin karena menurut mereka ilmu-ilmu keagamaan seperti hadis, fikih, dan tafsir didasarkan pada prinsip-prinsip ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sejarah Istilah ==&lt;br /&gt;
Istilah &amp;quot;Ushuluddin&amp;quot; sangat terkenal dan memainkan peran penting dalam sejarah pemikiran keagamaan Islam, namun dalam Al-Qur&#039;an dan hadis Syiah maupun Sunni, tidak ada pembagian pengetahuan agama menjadi prinsip dan cabang. Hal ini menunjukkan bahwa kedua istilah ini diciptakan oleh para teolog. Beberapa ulama Muslim seperti [[Ibnu Taimiyah]] (wafat 728 H), yang pada dasarnya menganggap ilmu kalam dan ilmu filsafat bertentangan dengan agama dan keimanan, dan memiliki pandangan yang sangat ekstrem dalam hal ini, berpendapat bahwa karena istilah &amp;quot;Ushuluddin&amp;quot; bukanlah istilah Qurani atau hadis, maka penggunaan istilah ini bertentangan dengan ajaran [[Nabi Muhammad (SAW)]].{{membutuhkan referensi|date=November 2024}} Bagaimanapun, tidak jelas kapan istilah ini mulai digunakan atau siapa yang pertama kali menggunakannya. Ibnu Nadim juga mengaitkan sebuah risalah berjudul &#039;&#039;Ushul al-Din&#039;&#039; kepada Abu Musa al-Murdar, yang menunjukkan bahwa istilah ini sudah dikenal dan mapan pada awal abad ke-3 Hijriyah.&amp;lt;ref&amp;gt;Gozashte, Naser, &amp;quot;Ushul al-Din&amp;quot;, Ensiklopedia Iran, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 4, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kedudukan ==&lt;br /&gt;
Prinsip-prinsip keyakinan Islam adalah iman dan keyakinan kepada tauhid, kenabian, dan hari kebangkitan. Ketiga prinsip ini dianggap sebagai fondasi agama Islam, di mana semua proposisi dalam agama ini mendapatkan maknanya dari salah satu atau ketiga prinsip ini. Oleh karena itu, semua orang yang memeluk agama Islam, meskipun memiliki perbedaan pendapat yang signifikan dan terkadang bertentangan mengenai detail dan interpretasi keyakinan ini, semuanya percaya pada prinsip-prinsip ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para teolog Syiah memiliki perbedaan pendapat mengenai berapa jumlah Ushuluddin dan apa saja yang termasuk di dalamnya. Pendapat yang umum adalah bahwa Ushuluddin mencakup tiga hal: tauhid, kenabian, dan hari kebangkitan; namun, keadilan dan imamah juga harus ditambahkan sebagai prinsip mazhab.&amp;lt;ref&amp;gt;Gozashte, Naser, &amp;quot;Ushul ad-Din&amp;quot;, Ensiklopedia Iran, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 4, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ketidaktahuan dan ketidakpercayaan terhadap Ushuluddin dapat mengeluarkan seseorang dari Islam, dan ketidaktahuan serta ketidakpercayaan terhadap prinsip-prinsip mazhab dapat mengeluarkannya dari mazhab Syiah.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok peneliti, &amp;quot;Ushul al-Din&amp;quot;, Ensiklopedia Teologi Islam, halaman 51.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak ulama Islam percaya bahwa dalam Ushuluddin, taklid (mengikuti tanpa pengetahuan) tidak diperbolehkan, dan keyakinan atau kepastian dalam Ushuluddin harus didasarkan pada bukti. Klaim ijma (konsensus) juga dibuat mengenai hal ini. Kelompok lain, termasuk Abu Hanifah, Sufyan ats-Tsauri, Al-Auza&#039;i, Malik, Asy-Syafi&#039;i, Ahmad bin Hanbal, dan Ahlul Hadis, berpendapat bahwa meskipun berargumen tentang prinsip-prinsip keyakinan adalah wajib dan meninggalkannya dianggap sebagai dosa, iman yang diperoleh melalui taklid dapat diterima.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok peneliti, &amp;quot;Ushul al-Din&amp;quot;, Ensiklopedia Teologi Islam, halaman 51.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut banyak ulama agama, keislaman seseorang tidak mungkin terjadi tanpa keyakinan pada Ushuluddin, dan penolakan terhadap salah satu prinsip ini dapat menyebabkan kekafiran dan layak mendapatkan azab. Para pencetus istilah ini menyebut keyakinan-keyakinan ini sebagai Ushuluddin karena menurut mereka ilmu-ilmu keagamaan seperti hadis, fikih, dan tafsir didasarkan pada prinsip-prinsip ini; dikatakan bahwa agama seperti pohon yang memiliki akar, dan Ushuluddin adalah akar agama yang keberadaannya menentukan kehidupan pohon tersebut.&amp;lt;ref&amp;gt;Gozashte, Nashir, &amp;quot;Ushul al-Din&amp;quot;, Ensiklopedia Iran, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 4, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Contoh Prinsip-Prinsip Agama ==&lt;br /&gt;
=== Tauhid ===&lt;br /&gt;
Tauhid adalah ajaran keyakinan paling mendasar dalam Islam yang memiliki berbagai aspek teoretis dan praktis. Menurut konsep tauhid, Allah adalah satu-satunya, memiliki semua sifat kesempurnaan, tidak ada yang menyerupai-Nya, bebas dari perubahan, Pencipta tunggal alam semesta, dan tidak memiliki sekutu; pengaturan alam semesta dilakukan sesuai dengan kehendak-Nya, dan pengetahuan serta kekuasaan-Nya meliputi seluruh alam semesta; semua makhluk harus menyembah-Nya, dan penyembahan ini tidak memerlukan perantara. Menurut Al-Qur&#039;an,{{membutuhkan referensi|date=November 2024}} keyakinan tauhid berakar pada fitrah manusia, dan setiap keyakinan atau perilaku non-tauhid adalah tanda penyimpangan dari dasar eksistensi ini dan disebabkan oleh faktor psikologis, lingkungan, geografis, sejarah, dan lainnya. Semua nabi adalah penyampai tauhid, dan upaya terbesar mereka adalah menghilangkan kemusyrikan dan praktik-praktik syirik.&amp;lt;ref&amp;gt;Taramirad, Hasan, dan lainnya, &amp;quot;Tauhid&amp;quot;, Ensiklopedia Dunia Islam, Yayasan Ensiklopedia Islam, 1393 H, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Kenabian ===&lt;br /&gt;
Keyakinan pada kenabian berarti bahwa Nabi Muhammad (SAW) adalah utusan dan pesuruh Allah, dan sebagai bagian dari rangkaian nabi, ia dipilih oleh Allah sebagai nabi terakhir. Al-Qur&#039;an adalah kumpulan firman Allah yang diwahyukan kepadanya.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Hari Kebangkitan ===&lt;br /&gt;
Hari kebangkitan berarti kebangkitan kembali.{{membutuhkan referensi|date=November 2024}} Yang dimaksud dengan hari kebangkitan dalam perkataan para teolog dan filsuf adalah kehidupan setelah kematian di mana manusia akan dibangkitkan kembali. Hari kebangkitan adalah hari di mana perbuatan manusia akan diadili, orang-orang baik akan menerima pahala atas kebaikan mereka, dan orang-orang jahat akan dihukum atas perbuatan buruk mereka. Salah satu masalah penting yang telah lama menjadi perhatian agama-agama, teolog, dan filsuf adalah masalah kehidupan setelah kematian dan hari kebangkitan. Pengikut agama-agama percaya pada kehidupan setelah kematian dan menganggapnya sebagai salah satu masalah agama yang paling mendasar.&amp;lt;ref&amp;gt;Sajjadi, Ja&#039;far, Kamus Pengetahuan Islam, jilid 3, halaman 1815.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Keadilan ===&lt;br /&gt;
Meskipun sifat &amp;quot;keadilan&amp;quot; juga merupakan salah satu sifat perbuatan Allah, pentingnya dan penekanan pada sifat ini muncul karena perdebatan sengit antara Asy&#039;ariyah dengan Syiah dan Mu&#039;tazilah mengenai hal ini, dan perdebatan ini menyebabkan Mu&#039;tazilah dan Syiah dikenal sebagai kelompok yang menekankan keadilan, dan secara bertahap prinsip keadilan bersama dengan imamah menjadi ciri khas mazhab Syiah. Mengingat konsep keadilan yang luas, yang mencakup keadilan keyakinan, moral, dan sosial, pantaslah prinsip keyakinan ini dianggap sebagai salah satu pilar Islam.&amp;lt;ref&amp;gt;&amp;quot;[http://www.makarem.ir/main.aspx?typeinfo=42&amp;amp;lid=0&amp;amp;mid=412783&amp;amp;catid=-2 Keadilan sebagai Prinsip Agama]&amp;quot;, Situs Informasi Kantor Ayatullah Makarim Syirazi, dipublikasikan: 10 Mehr 1397 H, diakses: 9 Aban 1402 H.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Imamah ===&lt;br /&gt;
Imamah adalah posisi ilahi, dan semua tugas para nabi—kecuali menerima wahyu dan hal-hal yang serupa—juga berlaku untuk para imam. Oleh karena itu, kemaksuman, yang merupakan syarat kenabian, juga berlaku untuk imam. Perbedaan ini membuat kita menganggap imamah sebagai bagian dari Ushuluddin.&amp;lt;ref&amp;gt;&amp;quot;[https://makarem.ir/main.aspx?lid=0&amp;amp;typeinfo=43&amp;amp;mid=393448 Definisi Imamah]&amp;quot;, Situs Informasi Kantor Ayatullah Makarim Syirazi, dipublikasikan: 29 Farvardin 1395 H, diakses: 9 Aban 1402 H.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imamah tanpa diragukan lagi menempati posisi dan peran sentral dalam pemikiran teologi Syiah Imamiyah. Keyakinan pada &amp;quot;nash&amp;quot; (penunjukan) dan &amp;quot;kemaksuman&amp;quot; di satu sisi, serta peran yang diberikan Syiah kepada posisi spiritual imam, yaitu otoritas keagamaan eksklusif para imam, dapat menunjukkan pentingnya posisi ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Anshari, Hasan, &amp;quot;Imamah&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan Lebih Lanjut ==&lt;br /&gt;
* Muhaqqiq Ardabili, &#039;&#039;&#039;Ushul al-Din&#039;&#039;&#039;, disunting oleh Mohsen Sadeghi, Qom, Bustan Kitab, 1387 H.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pranala Terkait ==&lt;br /&gt;
* [[Furu&#039;uddin]]&lt;br /&gt;
* [[Perbedaan Antara Ushuluddin Dan Furu’uddin]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch =کلام&lt;br /&gt;
|subbranch1 =&lt;br /&gt;
|subbranch2 =&lt;br /&gt;
|subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه =شد&lt;br /&gt;
 | تیترها =شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش =شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی =شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر =شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | ارزیابی کمی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت =ج&lt;br /&gt;
 | کیفیت =ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa:اصول دین]]&lt;br /&gt;
[[ar:أصول الدین]]&lt;br /&gt;
[[fr:Principes fondementaux de la religion]]&lt;br /&gt;
[[ru:Основы религии]]&lt;br /&gt;
[[en:Fundamental Principles of Religion]]&lt;br /&gt;
[[es:Principios de la religión]]&lt;br /&gt;
[[bn:ইসলাম ধর্মের মূলনীতি (উসুলে দ্বীন)]]&lt;br /&gt;
[[ps:د دین اصول]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Mengandalkan_Makna_Lahiriah_Al-Qur%27an&amp;diff=967</id>
		<title>Mengandalkan Makna Lahiriah Al-Qur&#039;an</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Mengandalkan_Makna_Lahiriah_Al-Qur%27an&amp;diff=967"/>
		<updated>2025-02-28T20:37:13Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{نیازمند گسترش}}&lt;br /&gt;
{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Apakah bisa hanya mengandalkan makna lahiriah Al-Qur&#039;an?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
Berpegang pada makna lahiriah [[Al-Qur&#039;an]] memerlukan beberapa syarat, seperti pemahaman bahasa Arab, memperhatikan konteks, dan mengenali ayat-ayat yang muhkam (jelas) dan mutasyabih (samar). Secara umum, ayat-ayat Al-Qur&#039;an terbagi menjadi dua kategori: &#039;&#039;muhkam&#039;&#039; (ayat-ayat yang jelas dan tidak memerlukan takwil) dan &#039;&#039;mutasyabih&#039;&#039; (ayat-ayat yang memerlukan penafsiran berdasarkan ayat-ayat muhkam). Oleh karena itu, jika yang dimaksud dengan &amp;quot;lahiriah&amp;quot; adalah makna literal yang berlawanan dengan &amp;quot;batin,&amp;quot; maka makna lahiriah Al-Qur&#039;an dapat dijadikan hujjah (argumen). Namun, jika yang dimaksud adalah memahami ayat tanpa memperhatikan konteks dan pemahaman yang mendalam, maka tidak mungkin hanya mengandalkan makna lahiriah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Berpegang pada Makna lahiriah dalam Ayat-Ayat ==&lt;br /&gt;
Ayat-ayat Al-Qur&#039;an secara umum terbagi menjadi dua kategori:&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;Muhkamat&#039;&#039;: Ayat-ayat yang tidak memerlukan takwil;&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;Mutasyabihat&#039;&#039;: Ayat-ayat yang memerlukan takwil, yaitu harus ditafsirkan berdasarkan ayat-ayat muhkam yang berfungsi sebagai &amp;quot;Ummul Kitab&amp;quot; (induk Al-Qur&#039;an).&amp;lt;ref&amp;gt;Diambil dari QS. Ali Imran: 7.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika yang dimaksud dengan &amp;quot;lahiriah&amp;quot; adalah makna literal yang berlawanan dengan &amp;quot;batin,&amp;quot; maka kita bisa mengandalkan makna lahiriah, karena makna lahiriah Al-Qur&#039;an adalah hujjah. Hal ini karena memahami makna batin Al-Qur&#039;an hanya mungkin bagi orang-orang yang ma&#039;shum (terjaga dari kesalahan).&amp;lt;ref&amp;gt;QS. Al-Waqi&#039;ah: 79.&amp;lt;/ref&amp;gt; Bahwa Al-Qur&#039;an memiliki makna batin dan lapisan-lapisan makna yang dalam telah disebutkan dalam banyak riwayat. [[Imam Ali as]] berkata: &amp;quot;Al-Qur&#039;an memiliki lahiriah yang indah dan batin yang dalam dan tersembunyi. Keajaibannya tidak akan pernah habis, dan rahasia-rahasianya tidak akan pernah berakhir.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Nahjul Balaghah, terjemahan Muhammad Dasyti, Khutbah 18, halaman 64.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Jabir bin Abdullah Al-Anshari pernah bertanya kepada [[Imam Baqir as]] tentang tafsir sebuah ayat. Imam memberikan jawaban, lalu Jabir bertanya lagi tentang ayat yang sama, dan Imam memberikan jawaban yang berbeda. Jabir berkata: &amp;quot;Anda sebelumnya memberikan jawaban yang berbeda.&amp;quot; Imam menjawab: &amp;quot;Wahai Jabir, Al-Qur&#039;an memiliki batin, dan batinnya juga memiliki batin. lahiriahnya pun memiliki tingkatan-tingkatan. Wahai Jabir, tidak ada sesuatu pun dari Al-Qur&#039;an yang bisa ditafsirkan hanya dengan akal manusia, karena bisa jadi awal ayat berkaitan dengan satu hal dan akhir ayat berkaitan dengan hal lain. Al-Qur&#039;an adalah kalam yang saling terhubung dan memiliki banyak wajah.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, Beirut, Dar Ihya at-Turath al-Arabi, jilid 89, halaman 91, 94, dan 95.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Syarat Mengandalkan Makna lahiriah Ayat ==&lt;br /&gt;
Jika yang dimaksud dengan mengandalkan makna lahiriah adalah memahami ayat tanpa memperhatikan konteks, maka tidak mungkin hanya mengandalkan makna lahiriah. Karena dalam memahami makna lahiriah ayat, selain menguasai kaidah bahasa Arab dan pemahaman mendalam tentang bahasa Al-Qur&#039;an, juga perlu memperhatikan konteks, termasuk ayat-ayat lain dan riwayat-riwayat. Bahkan dalam ayat-ayat yang memiliki makna lahiriah yang jelas dan termasuk dalam kategori muhkam, karena ayat-ayat Al-Qur&#039;an saling terkait, dan sebagian ayat menjadi konteks bagi ayat lainnya. Selain itu, riwayat-riwayat dari [[Rasulullah saw]] dan [[Ahlul Bait as]] sebagai penafsir dan penjelas Al-Qur&#039;an harus diperhatikan. Al-Qur&#039;an sendiri menegaskan: &amp;quot;Kami telah menurunkan Al-Qur&#039;an kepadamu (Muhammad) agar kamu menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, agar mereka berpikir.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;QS. An-Nahl: 44.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dalam ayat-ayat mutasyabihat, tidak mungkin hanya mengandalkan makna lahiriah. Sebagai contoh, dalam ayat {{Quran|وَجَاءَ رَبُّکَ وَالْمَلَکُ صَفًّا صَفًّا}}&amp;lt;ref&amp;gt;QS. Al-Fajr: 22.&amp;lt;/ref&amp;gt;, makna lahiriahnya adalah bahwa Allah datang dan para malaikat berbaris dalam shaf-shaf. Atau dalam ayat {{Quran|الرَّحْمَنُ عَلَی الْعَرْشِ اسْتَوَی}}&amp;lt;ref&amp;gt;QS. Thaha: 5.&amp;lt;/ref&amp;gt;, makna lahiriahnya adalah bahwa Allah bersemayam di atas &#039;Arsy.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat-ayat ini dan ayat-ayat mutasyabihat lainnya harus dipahami dalam konteks ayat-ayat muhkam seperti {{Quran|... لَیْسَ کَمِثْلِهِ شَیْءٌ وَهُوَ السَّمِیعُ الْبَصِیرُ}}&amp;lt;ref&amp;gt;QS. Asy-Syura: 11.&amp;lt;/ref&amp;gt;, yang menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan &amp;quot;datang&amp;quot; adalah perintah Allah swt, dan yang dimaksud dengan &amp;quot;bersemayam&amp;quot; adalah kekuasaan Allah. Jika hanya mengandalkan makna lahiriah, maka akan mengarah pada pemahaman yang keliru, seperti menganggap Allah memiliki bentuk fisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Wahabi]] dengan berpegang pada makna lahiriah ayat-ayat dan tanpa memperhatikan ayat-ayat muhkam serta prinsip-prinsip akal, mengatakan: &amp;quot;Allah memiliki arah dan tempat, dan bersemayam di atas &#039;Arsy yang berada di atas langit. Allah memiliki tangan dan mata dalam makna harfiah.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ad-Durr al-Kaminah, Beirut, halaman 145. Lihat juga Ahmad bin Zaini Dahlan, Mufti Mekah, Sejarah Wahabisme, terjemahan Ibrahim Wahid Damghani, Penerbit Gulistan Kausar, cetakan pertama, 1376, halaman 16.&amp;lt;/ref&amp;gt; Mereka juga mengatakan: &amp;quot;Allah turun ke bumi setiap malam dan kembali ke langit pada pagi hari.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Umar Abdul Salam, Mukhalifah al-Wahabiyyah lil Qur&#039;an wa al-Sunnah, Dar al-Hidayah, cetakan pertama, 1416, halaman 8.&amp;lt;/ref&amp;gt; Bahkan, Ibnu Taimiyah secara tegas mengatakan: &amp;quot;Dalam Al-Qur&#039;an, Sunnah, dan ijma&#039;, tidak ada pembicaraan tentang penafian jismaniyyah (bentuk fisik) atau penafian tasybih (penyerupaan).&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Taimiyah, Al-Fatawa al-Kubra, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, halaman 21-23.&amp;lt;/ref&amp;gt; Pernyataan serupa juga dikemukakan oleh [[Hanabilah]], [[Hasyawiyyah]], dan [[Ibadiyyah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Subhani, Ja&#039;far, Buhuts fi al-Milal wa an-Nihal, Qom, Komite Administrasi Hauzah Ilmiyah, cetakan kedua, 1415, jilid 2, halaman 247.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bacaan Lebih Lanjut==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Tafsir Nemuneh, Ayatullah Makarim Syirazi, jilid 1, halaman 20; jilid 18, halaman 261; dan jilid 26, halaman 11.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Tafsir Tematik Al-Qur&#039;an, Ayatullah Jawadi Amoli, jilid 1, halaman 14.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Metodologi Tafsir Al-Qur&#039;an, Ali Akbar Babaei, Mahmud Rajabi, halaman 290 dan 32.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Majalah Bayyinat, Muhammad Ali Mahdavi Rad, edisi 3, halaman 89.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch = علوم و معارف قرآن&lt;br /&gt;
| subbranch1 = نص قرآن&lt;br /&gt;
| subbranch2 = نص و ظاهر قرآن&lt;br /&gt;
| subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه = -&lt;br /&gt;
 | تیترها = شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش = شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی = شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر = شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی نویسنده = &lt;br /&gt;
 | ارزیابی کمی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت = ج&lt;br /&gt;
 | کیفیت = ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa:اکتفا به ظاهر قرآن]]&lt;br /&gt;
[[ar:الاكتفاء بظاهر القرآن]]&lt;br /&gt;
[[ur:قرآن کے ظاہری معنی پر اکتفا کرنا]]&lt;br /&gt;
[[bn:কুরআনের প্রকাশ্য অর্থের উপর নির্ভর করা]]&lt;br /&gt;
[[ps:د قرآن په ظاهر بسنه]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Imam_Mahdi_as_Dalam_Keyakinan_Ahlusunah&amp;diff=966</id>
		<title>Imam Mahdi as Dalam Keyakinan Ahlusunah</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Imam_Mahdi_as_Dalam_Keyakinan_Ahlusunah&amp;diff=966"/>
		<updated>2025-02-28T20:34:35Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Apakah Ahlusunah meyakini Imam Mahdi as? Siapakah yang mereka anggap sebagai juru selamat Islam?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
{{portal|مهدویت}}&lt;br /&gt;
Keyakinan akan kemunculan seorang penyelamat pada akhir zaman bukanlah suatu hal yang eksklusif bagi kalangan [[Syiah]]. Seluruh umat Islam meyakini bahwa Mahdi berasal dari keturunan Nabi dan merupakan keturunan Husain as, meskipun banyak dari [[Ahlusunah]] meyakini bahwa kelahirannya akan terjadi pada akhir zaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyaknya riwayat mengenai [[Imam Mahdi as]] dalam kitab-kitab hadis dan sumber-sumber otentik Ahlusunah menunjukkan betapa pentingnya riwayat-riwayat ini di kalangan ulama Ahlusunah. Dalam riwayat-riwayat tersebut, selain nama dan ciri-ciri sang penyelamat, beberapa karakteristik lainnya juga disebutkan. Di satu sisi, riwayat-riwayat tentang Mahdi bersifat mutawatir (diriwayatkan oleh banyak orang), dan di sisi lain, banyak ulama Ahlusunah telah mengakui keabsahan riwayat-riwayat tersebut. Kedua hal ini menunjukkan bahwa riwayat-riwayat tentang Mahdi diterima oleh Ahlusunah, dan klaim bahwa riwayat-riwayat tersebut palsu merupakan klaim yang tidak berdasar dan tidak diterima.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Perawi Hadis tentang Mahdi as ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak sahabat dan tabi&#039;in yang meriwayatkan hadis-hadis tentang [[Imam Mahdi as]]. Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, seorang penulis kontemporer Ahlusunah dan dosen di Universitas Madinah, dalam sebuah artikel panjang berjudul &amp;quot;Aqidah Ahlusunah wal Atsar fi Al-Mahdi Al-Muntazhar,&amp;quot; telah mengumpulkan nama-nama 26 sahabat yang meriwayatkan hadis tentang Imam Mahdi as: Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Abdurrahman bin Auf, Hasan bin Ali, Ummu Salamah, Ummu Habibah, Abdullah bin Mas&#039;ud, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amr bin Ash, Abu Sa&#039;id Al-Khudri, Jabir bin Abdullah dari kalangan sahabat, dan dari kalangan tabi&#039;in seperti Muhammad bin Hanafiyah, Qatadah, Makhul, Sa&#039;id bin Jubair, dan lain-lain.&amp;lt;ref&amp;gt;Ali Ridha Ali Nuri, Shenakht-e Hazrat Mahdi as, Qom, Zamzam Hidayat, cetakan ketiga, 1385 HS, halaman 28.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang peneliti lain menyebutkan bahwa terdapat 33 sahabat yang meriwayatkan hadis tentang Mahdi. Selain nama-nama yang telah disebutkan di atas, dia juga menyebutkan nama-nama seperti Thalhah bin Abdullah, Abdullah bin Abbas, Ammar bin Yasir, Tsauban, Qarah bin Iyas Al-Muzani, Abdullah bin Harits, Abu Hurairah, Hudzaifah bin Yaman, Abu Umamah, Jabir bin Majah, Anas bin Malik, dan Imran bin Hushain.&amp;lt;ref&amp;gt;Gholam Hasan Muharrami, Negareshi Tarikhi be Hayat-e Imam Zaman as, Qom, Partow Wilayat, cetakan kedua, 1392 HS, halaman 42.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, persoalan Mahdawiyyah secara umum diterima di kalangan umat Islam, dan ulama besar [[Ahlusunah]] juga telah mengakui keabsahannya. Di antara mereka, kita dapat menyebut nama-nama seperti Abu Dawud, Ahmad bin Hanbal, Tirmidzi, Ibnu Majah, Hakim, Nasa&#039;i, Thabrani, Ruyani, Abu Nu&#039;aim Al-Isfahani, Ad-Dailami, Al-Baihaqi, Al-Tsa&#039;labi, Al-Hamuwaini, Al-Munawi, Ibnu Maghazili, Muhammad Al-Shabban, Al-Mawardi, Al-Kanji Al-Syafi&#039;i, As-Sam&#039;ani, Al-Khawarizmi, Al-Sya&#039;rani, Al-Daraquthni, Ibnu Shabagh Al-Maliki, Al-Syablanji, Muhyiddin Al-Thabari, Ibnu Hajar Al-Haitami, Syaikh Manshur Ali Nashif, Muhammad bin Thalhah, Jalaluddin Al-Suyuthi, Syaikh Sulaiman Al-Hanafi, Al-Qurthubi, Al-Baghawi, dan lain-lain yang telah mencatat berita tentang Mahdi secara rinci dalam kitab-kitab mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat Ayatullah Shafi Golpayegani, Navid-e Amn wa Aman, Tehran, Darul Kutub Al-Islamiyah, halaman 91-92.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa riwayat ini membahas mengenai nasab beliau, sebagian mengenai metode pemerintahan dan penyebaran keadilan, dan sebagian lainnya mengenai tanda-tanda serta peristiwa sebelum kemunculannya, serta hal-hal lain yang terkait dengan beliau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang peneliti menulis: &amp;quot;Tidaklah berlebihan jika kita menyatakan bahwa tidak ada seorang pun ahli hadis dari kalangan Muslim kecuali dia telah meriwayatkan beberapa hadis yang memberikan kabar gembira tentang kemunculan Imam Mahdi as pada akhir zaman.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Sayid Tsamir Hasyim Al-Amidi, Dar Intizar-e Qoqnoos, terjemahan Mahdi Alizadeh, Qom, Muassasah Imam Khomeini, cetakan pertama, 1379 HS, halaman 66.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penulis yang sama juga memberikan daftar lengkap beberapa halaman mengenai ulama dan ahli hadis Ahlusunah yang telah meriwayatkan hadis dan riwayat tentang Imam Mahdi as dalam kitab-kitab mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat Dar Intizar-e Qoqnoos, halaman 66-68.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Ulama Ahlusunah dan Pengakuan atas Riwayat Mahdi as ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keabsahan hadis-hadis tentang Mahdi as telah diakui oleh banyak ulama besar Ahlusunah. Berdasarkan penelitian mendalam oleh Al-Amidi, jumlah ulama yang secara tegas mengakui keabsahan hadis-hadis tentang Mahdi as mencapai lebih dari 60 orang. Di sini, kami hanya menyebutkan beberapa nama di antaranya:&lt;br /&gt;
* Imam Tirmidzi (W. 279 H); beliau menganggap riwayat-riwayat tentang Mahdi sebagai hasan dan sahih.&lt;br /&gt;
* Hafiz Abu Ja&#039;far Al-Uqaili (W. 322 H);&lt;br /&gt;
* Hakim Naisaburi (W. 405 H);&lt;br /&gt;
* Imam Baihaqi (W. 458 H);&lt;br /&gt;
* Imam Baghawi (W. 510 H);&lt;br /&gt;
* Al-Qurthubi Al-Maliki (W. 671 H);&lt;br /&gt;
* [[Ibnu Taimiyah]] (W. 728 H); beliau menulis: &amp;quot;Hadis-hadis yang dia-yaitu Allamah al-Hilli-gunakan untuk membuktikan kebangkitan Mahdi adalah hadis-hadis yang sahih.&amp;quot;&lt;br /&gt;
* Hafiz Adz-Dzahabi (W. 748 H);&lt;br /&gt;
* Hafiz Ibnu Qayyim (W. 751 H);&lt;br /&gt;
* Al-Taftazani (W. 793 H);&lt;br /&gt;
* Nuruddin Al-Haitsami (W. 807 H);&lt;br /&gt;
* Al-Suyuthi (W. 911 H);&lt;br /&gt;
* Al-Syaukani (W. 1250 H).&amp;lt;ref&amp;gt;Dar Intizar-e Qoqnoos, halaman 72-76.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang lebih menarik, ulama besar kontemporer Ahlusunah seperti Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga menerima keabsahan riwayat-riwayat tentang Mahdi; sebagaimana yang dikisahkan oleh Ustadz Khosroshahi bahwa Syaikh bin Baz dalam sebuah ceramah tentang &amp;quot;Mahdi&amp;quot; berkata: &amp;quot;Saya mengetahui banyak hadis-hadis ini, dan di antaranya, sebagaimana yang dikatakan oleh Asy-Syaukani, Ibnu Qayyim, dan lainnya, saya menemukan hadis-hadis yang sahih, hasan (baik), dan dhaif yang diperkuat, serta berita-berita palsu. Namun, dari semua itu, apa yang sanadnya kuat sudah cukup bagi kita! Baik itu sendiri &#039;sahih&#039; atau menjadi sahih karena sanad hadis lain, atau sendiri hasan, atau menjadi hasan karena sanad hadis lain. Demikian juga hadis-hadis dhaif jika diperkuat dan saling menguatkan, maka itu menjadi hujjah di mata ulama; oleh karena itu, mutawatir-nya dari segi keragaman lafaz, makna, banyaknya jalur, dan keragaman sumber diterima, dan ulama terpercaya telah memberikan pendapat tentang keabsahan dan kemutawatirannya, dan kami telah melihat bahwa ulama telah membuktikan banyak hal dengan kurang dari ini, dan yang benar adalah bahwa mayoritas ulama sepakat tentang keabsahan masalah Mahdi dan bahwa dia adalah benar dan akan muncul di akhir zaman. Jika ada ulama yang memiliki pendapat yang bertentangan dengan ini, pendapatnya tidak dianggap.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Sayid Hadi Khosroshahi, Mushlih Jahani wa Mahdi Muntazhar, Tehran, Penerbitan Ettela&#039;at, cetakan kedua, 1374 HS, halaman 106.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, seorang ulama kontemporer Saudi yang telah melakukan penelitian mendalam tentang Mahdi as, mengatakan tentang hal ini dan motivasi karyanya: ::&amp;quot;Saya telah menulis baris-baris ini untuk menunjukkan kesalahan dan kekeliruan dia (salah satu ulama Qatar) dalam risalah itu, agar menjadi jelas bahwa banyak hadis sahih yang menunjukkan kemunculan Mahdi di akhir zaman, dan ulama masa lalu dan kontemporer Ahlusunah sepakat tentang hal ini; kecuali mereka yang telah menyimpang dari jalan kebenaran dan mengikuti pendapat yang aneh.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Mushlih Jahani wa Mahdi Muntazhar, halaman 113.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ulama Sunni ini telah melakukan penelitian mendalam tentang Mahdi Al-Muntazhar as dan membuktikan keabsahan riwayat-riwayat tentang Mahdi dan kemunculannya. Ustadz Khosroshahi telah menerbitkannya dalam bahasa Persia dengan judul &amp;quot;Mushlih Jahani wa Mahdi Muntazhar az Didgah-e Syiah wa Ahlusunah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kemutawatiran Hadis tentang Mahdi as dalam Sumber Ahlusunah ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan merujuk kepada kitab-kitab ulama hadis besar Ahlusunah, kita melihat bahwa mereka telah meriwayatkan banyak hadis tentang Imam Mahdi as dari [[Rasulullah saw]] dalam kitab-kitab mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat Al-Amidi, op.cit., halaman 69.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sebenarnya, ulama hadis Ahlusunah dari masa ke masa telah sangat memperhatikan hadis-hadis tentang Imam Mahdi as dan mengumpulkannya baik dalam kitab-kitab hadis umum maupun khusus. Di antara ulama hadis terkenal Ahlusunah yang telah berusaha meriwayatkan hadis-hadis tentang Mahdi as adalah: Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Nasa&#039;i dalam kitab &amp;quot;Sunan&amp;quot; mereka, Ahmad bin Hanbal dalam &amp;quot;Musnad,&amp;quot; dan Hakim Naisaburi dalam kitab &amp;quot;Al-Mustadrak &#039;ala Ash-Shahihain.&amp;quot; Beberapa ulama dan ahli hadis Ahlusunah lainnya seperti As-Suyuthi, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan pemilik &amp;quot;Kanzul Ummal&amp;quot; juga telah menulis karya khusus dan terpisah tentang Imam Mahdi as.&amp;lt;ref&amp;gt;Shenakht-e Hazrat Mahdi as, halaman 28.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebanyak 17 ulama besar Ahlusunah telah secara tegas menyatakan bahwa hadis-hadis tentang Mahdi dalam kitab-kitab mereka bersifat mutawatir.&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat Mahdi Pishva&#039;i, Sireh-ye Pishvayan, Qom, Penerbitan Muassasah Imam Shadiq, cetakan kedelapan, 1378 HS, halaman 698.&amp;lt;/ref&amp;gt; Al-Amidi, salah satu peneliti yang telah banyak bekerja dalam bidang ini, menulis: &amp;quot;Ulama ilmu dirayah dan beberapa orang yang memiliki keahlian dalam pengajaran atau penelitian ilmu hadis telah secara tegas menyatakan bahwa hadis-hadis tentang Mahdi dalam kitab-kitab Ahlusunah, seperti Shahih dan Musnad, bersifat mutawatir.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Dar Intizar-e Qoqnoos, halaman 76.&amp;lt;/ref&amp;gt; Kemudian beliau secara detail menyebutkan nama-nama dan pernyataan mereka. Di antara mereka, terdapat nama-nama besar seperti Al-Barbahari Al-Hanbali (W. 329 H), Muhammad bin Husain Al-Abri Al-Syafi&#039;i (W. 363 H), Al-Qurthubi Al-Maliki (W. 671 H), Hafiz Jamaluddin Al-Mizi (W. 742 H), Ibnu Qayyim Al-Jauzi (W. 751 H), Syamsuddin Al-Sakhawi (W. 902 H), Al-Suyuthi (wafat 911 H), Ibnu Hajar Al-Haitami (W. 974 H), dan Al-Muttaqi Al-Hindi (W. 975 H), dan lain-lain.&amp;lt;ref&amp;gt;Dar Intizar-e Qoqnoos, halaman 76-80.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlu dicatat bahwa hadis mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh banyak perawi di setiap tingkatan sehingga mustahil bagi mereka untuk sepakat berbohong. Berita seperti ini biasanya memberikan kepastian. Sebaliknya, hadis ahad hanya memberikan dugaan.&amp;lt;ref&amp;gt;Syaikh Abdullah Mamaqani, Miqyas al-Hidayah fi Ilm ad-Dirayah, Qom, Muassasah Al-Bait li Ihya at-Turats, cetakan pertama, 1411 H, jilid 1, halaman 108-112.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Contoh Pernyataan Ulama Ahlusunah tentang Kemutawatiran Berita Mahdi ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Hafiz Abu Abdullah Al-Kanji Al-Syafi&#039;i (W. 658 H) dalam kitab &amp;quot;Al-Bayan fi Akhbar Sahib az-Zaman&amp;quot; menulis: {{arabic|translation=&amp;quot;Hadis-hadis Nabi saw tentang Mahdi, karena banyaknya perawi, telah mencapai tingkat mutawatir.&amp;quot;}}&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Bayan fi Akhbar Sahib az-Zaman, Qom, Muassasah An-Nasyr Al-Islami, cetakan keenam, 1417 H, halaman 124.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Ibnu Hajar Al-Asqalani Al-Syafi&#039;i (W. 852 H), dalam kitab &amp;quot;Fath al-Bari fi Syarh Shahih al-Bukhari,&amp;quot; menulis: {{arabic|translation=&amp;quot;Ada hadis-hadis mutawatir yang menunjukkan bahwa Mahdi as berasal dari umat ini, dan Isa as akan turun dari langit dan shalat di belakangnya.&amp;quot;}}&amp;lt;ref&amp;gt;Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, jilid 6, halaman 493-494.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Syaikh Manshur Ali Nashif, seorang ulama besar kontemporer Al-Azhar dan penulis kitab &amp;quot;AlTaj al-Jami&#039; li al-Ushul,&amp;quot; menulis: {{arabic|translation=&amp;quot;Di antara ulama masa lalu dan sekarang, terkenal bahwa di akhir zaman pasti akan muncul seorang laki-laki dari Ahlul Bait Nabi yang namanya Mahdi. Dia akan menguasai semua negara Islam. Semua Muslim akan mengikutinya, dia akan berbuat adil di antara mereka, dan dia akan memperkuat agama. Kemudian Dajjal akan muncul, dan Isa Al-Masih akan turun dari langit dan membunuh Dajjal, atau bekerja sama dengan Mahdi dalam membunuh Dajjal. Sabda dan hadis Nabi tentang Mahdi telah diriwayatkan oleh sekelompok sahabat Nabi yang baik, dan ulama hadis besar seperti Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Thabrani, Abu Ya&#039;la, Al-Bazzar, Imam Ahmad bin Hanbal, dan Hakim Naisaburi telah meriwayatkan hadis-hadis tersebut dalam kitab-kitab mereka.&amp;quot;}}&amp;lt;ref&amp;gt;At-Taj al-Jami&#039; li al-Ushul, Kairo, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, cetakan kedua, jilid 5, halaman 310.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Contoh Riwayat tentang Mahdi (ajf) dalam Sumber-Sumber Ahlusunah ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Janji tentang Kemunculan Sang Penyelamat===&lt;br /&gt;
* Dari [[Ummu Salamah]] diriwayatkan: &amp;quot;Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: {{arabic|translation=&amp;quot;Mahdi yang dijanjikan berasal dari keturunanku dan anak-anak [[Fatimah sa]].&amp;quot;}}&amp;lt;ref&amp;gt;Abu Dawud, Sunan, tahqiq Sa&#039;id Muhammad Al-Lahham, Darul Fikr, cetakan pertama, 1410 H, jilid 2, halaman 310.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
* [[Imam Ali bin Abi Thalib as]] meriwayatkan dari Nabi saw bahwa beliau bersabda: {{arabic|translation=&amp;quot;Jika dunia hanya tersisa satu hari, Allah akan mengutus seorang laki-laki dari Ahlul Baitku untuk memenuhi bumi dengan keadilan, sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman.&amp;quot;}}&amp;lt;ref&amp;gt;Ibid.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Abu Sa&#039;id Al-Khudri berkata: &amp;quot;Rasulullah saw bersabda: {{arabic|translation=&amp;quot;Mahdi kami memiliki dahi yang lebar dan hidung yang mancung. Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan, sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman. Dia akan memerintah selama tujuh tahun.&amp;quot;}}&amp;lt;ref&amp;gt;Ibid., halaman 208.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, semua mazhab dalam agama Islam meyakini Imam Mahdi as dan kemunculannya di akhir zaman sebagai sang penyelamat. Namun, mengenai waktu kelahiran beliau, berbagai mazhab Islam memiliki pendapat yang berbeda. Ibnu Abi Al-Hadid, seorang ulama Ahlusunah, menulis tentang Imam Zaman: &amp;quot;Telah menjadi kesepakatan di antara semua Muslim bahwa usia dunia dan hukum-hukum syariat tidak akan berakhir kecuali setelah [[kemunculan Mahdi as]].&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Shafi Golpayegani, Luthfullah, Muntakhab al-Atsar, Tehran, Mansyurat Maktabah Shadr, tanpa tahun, halaman 3.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Perbedaan Pendapat antara Ahlusunah dan Syiah tentang Imam Zaman as==&lt;br /&gt;
Tidak diragukan lagi bahwa semua mazhab Islam, baik [[Ahlusunah]] maupun [[Syiah]], serta semua cabang yang berasal dari keduanya, meyakini [[Imam Zaman ajf]] dan kemunculannya di [[akhir zaman]]. Namun, mengenai apakah beliau saat ini masih hidup atau akan lahir di akhir zaman, terdapat perbedaan pendapat di antara mazhab-mazhab Islam. Perbedaan ini cukup mencolok di kalangan Ahlusunah, dan dapat dibagi menjadi dua poin:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Keyakinan bahwa Mahdi as Masih Hidup===&lt;br /&gt;
Sebagian ulama Ahlusunah meyakini bahwa Imam Mahdi ajf telah lahir dan saat ini masih hidup, serta akan muncul di akhir zaman. Di antara yang berpendapat demikian adalah Hafiz Sulaiman bin Ibrahim Al-Qunduzi Al-Hanafi (1294 H), Syaikh Mu&#039;min bin Hasan bin Mu&#039;min Al-Syablanji Al-Syafi&#039;i, Sibth Ibnu Al-Jauzi (654 H), Al-Kanji Al-Syafi&#039;i (658 H), dan lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Qunduzi Al-Hanafi dalam Yanabi&#039; al-Mawaddah menjelaskan secara rinci tentang ayah, ibu, dan proses kelahiran beliau berdasarkan riwayat [[Hakimah Khatun]], putri [[Imam Jawad as]].&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Qunduzi Al-Hanafi, Sulaiman bin Ibrahim, Yanabi&#039; al-Mawaddah, Qom, Penerbitan Syarif Radhi, cetakan pertama, 1371 HS, jilid 2, halaman 464.&amp;lt;/ref&amp;gt; Al-Syablanji dalam Nur al-Abshar,&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Syablanji Al-Syafi&#039;i, Mu&#039;min bin Hasan bin Mu&#039;min, Nur al-Abshar, Beirut, Darul Jabil, 1409 H, halaman 342.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ibnu Al-Jauzi dalam Tadzkirat al-Khawash,&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Al-Jauzi, Tadzkirat al-Khawash, Beirut, Muassasah Ahlul Bait, 1401 H, halaman 325.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan Al-Kanji Al-Syafi&#039;i dalam Al-Bayan juga menyebutkan hal-hal serupa.&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Kanji Al-Syafi&#039;i, Al-Bayan fi Akhbar Sahib az-Zaman ajf, Mansyurat Muassasah Al-Hadi lil Mathbu&#039;at, 1399 H, halaman 148.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kelahiran di Akhir Zaman===&lt;br /&gt;
Sebagian ulama Ahlusunah lainnya berpendapat bahwa Imam Mahdi ajf akan lahir di akhir zaman dan kemudian muncul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mayoritas ulama Ahlusunah termasuk dalam kelompok kedua ini, meskipun dalam riwayat-riwayat mereka sering disebutkan bahwa beliau berasal dari keturunan [[Nabi saw]], [[Ali bin Abi Thalib as]], [[Sayidah Fatimah sa]], kemudian dari keturunan [[Imam Husain as]], serta dari keturunan [[Imam Ridha as]] dan [[Imam Hasan Al-Askari as]].&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Juwaini, Ibrahim bin Muhammad, Fara&#039;id as-Simthin, Beirut, Muassasah Al-Muhammadi lil Thiba&#039;ah wan Nasyr, cetakan pertama, 1400 H, jilid 2, halaman 318, 320, 323, 329, dan 337.&amp;lt;/ref&amp;gt; Namun, pada akhirnya mereka mengatakan bahwa beliau belum lahir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bacaan Lebih Lanjut ==&lt;br /&gt;
* Imam-Imam Ahlul Bait as dalam Pandangan Ahlusunah, Dawud Al-Hamami.&lt;br /&gt;
* Al-Imam Al-Mahdi &#039;inda Ahlusunah, Mahdi Faqih Imani.&lt;br /&gt;
* Muntakhab al-Atsar, Ayatullah Shafi Golpayegani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch =مهدویت&lt;br /&gt;
 | subbranch1 =مهدویت نزد اهل‌سنت&lt;br /&gt;
 | subbranch2 =&lt;br /&gt;
 | subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه =&lt;br /&gt;
 | تیترها =&lt;br /&gt;
 | ویرایش =شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی =شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر =شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی نویسنده =&lt;br /&gt;
 | ارزیابی کمی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت = ب&lt;br /&gt;
 | کیفیت = ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
{{footnotes}}&lt;br /&gt;
[[en:Imam al-Mahdi (aj) in Sunni Beliefs]]&lt;br /&gt;
[[fa:امام زمان(ع) در عقاید اهل‌سنت]]&lt;br /&gt;
[[es:El Imam Mahdi (P) en las Creencias de los Sunitas]]&lt;br /&gt;
[[ar:الإمام المهدي (ع) في عقائد أهل السنة]]&lt;br /&gt;
[[ps:د امام مهدی(عج) اړوند د سنیانو عقیدې]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Permusuhan_Sekte_Wahabi_Terhadap_Ahlul_Bait_as&amp;diff=965</id>
		<title>Permusuhan Sekte Wahabi Terhadap Ahlul Bait as</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Permusuhan_Sekte_Wahabi_Terhadap_Ahlul_Bait_as&amp;diff=965"/>
		<updated>2025-02-27T23:11:31Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Apakah Ibnu Taimiyah dan Wahabi benar-benar memusuhi Ahlul Bait?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
Permusuhan sekte Wahabi terhadap Ahlul Bait Rasulullah saw tidak dapat disembunyikan oleh siapa pun. Permusuhan ini tercermin baik dari [[Ibnu Taimiyah]], yang merupakan Syaikhul Islam sekte [[Wahabi]], maupun dari sekte Wahabi itu sendiri dalam berbagai bentuk. Penolakan terhadap keutamaan [[Ahlul Bait]], penyamaan Imam Ali as dengan Firaun, pensucian musuh-musuh Ahlul Bait, pengafiran pengikut Imam Ali, dukungan terhadap musuh-musuh Imam Ali khususnya Yazid bin Muawiyah, dan penghancuran makam-makam Ahlul Bait adalah bukti nyata permusuhan kelompok ini terhadap Ahlul Bait.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Permusuhan Ibnu Taimiyah terhadap Ahlul Bait Nabi saw ==&lt;br /&gt;
*Ibnu Taimiyah tidak menerima keutamaan apa pun bagi Ahlul Bait. Ia menganggap keutamaan Ahlul Bait sebagai hasil dari [[jahiliyah]] Arab. Ibnu Taimiyah berkata: &amp;quot;Keyakinan akan keunggulan dan keutamaan Ahlul Bait Rasulullah atas orang lain adalah pemikiran dari era jahiliyah, di mana para pemimpin dan kepala suku dianggap lebih unggul daripada yang lain.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim, Minhaj al-Sunnah, Mesir, Muassasah Qurtubah, jilid 3, halaman 269.&amp;lt;/ref&amp;gt; Pernyataan Ibnu Taimiyah ini bertentangan dengan ajaran Islam; karena baik dalam Al-Qur&#039;an, seperti dalam [[Ayat Tathir]], maupun dalam hadis-hadis Nabi saw, khususnya [[Hadits Tsaqalain versi Ibnu Taimiyah|Hadits Tsaqalain]] dan [[Hadits Safinah]], keutamaan Ahlul Bait as ditekankan, dan dalam Ayat Qurbi, mencintai Ahlul Bait diwajibkan bagi umat Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Ibnu Taimiyah menyamakan Imam Ali as dengan [[Firaun]] dalam hal pertumpahan darah dan ambisi kekuasaan, padahal dalam sebuah hadis yang diriwayatkan baik oleh Syiah maupun Sunni, Nabi saw berkata kepada Ali, [[Fatimah sa]], Hasan, dan Husain as: &amp;quot;Aku memerangi siapa pun yang memerangi kalian dan berdamai dengan siapa pun yang berdamai dengan kalian.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Hakim Naisaburi, Muhammad bin Abdullah, Al-Mustadrak &#039;ala ash-Shahihain, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan 1, 1411 H/1990 M, tahqiq: Mustafa Abdul Qadir Ata, jilid 3, halaman 161; Sunan Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid Abu Abdullah al-Qazwini, Sunan Ibnu Majah, Dar al-Fikr - Beirut, tahqiq: Muhammad Fuad Abdul Baqi, halaman 52.&amp;lt;/ref&amp;gt; Setelah menyebutkan hadis ini, Al-Jashash berkata bahwa siapa pun yang memerangi mereka layak disebut sebagai musuh Allah dan Rasul-Nya, meskipun dia bukan seorang musyrik.&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Jashash, Ahmad bin Ali ar-Razi, Ahkam al-Qur&#039;an lil Jashash, Beirut, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, 1405 H, tahqiq: Muhammad as-Sadiq Qamhawi, jilid 4, halaman 51.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan adanya riwayat-riwayat ini dan banyak riwayat lainnya serta bukti-bukti sejarah, dapat dipastikan bahwa sikap dan keyakinan Ibnu Taimiyah dan Wahabi berasal dari kebencian dan permusuhan mereka, tidak hanya terhadap Ahlul Bait, tetapi juga terhadap Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Ibnu Taimiyah menyatakan hal-hal tentang Amirul Mukminin Ali as dan para sahabatnya yang membuktikan permusuhannya yang nyata terhadap [[Imam Ali as]]. Dia berkata: &amp;quot;Orang-orang yang mencela Ali, melaknatnya, dan menganggapnya sebagai kafir dan zalim, seperti Khawarij, Umayyah, dan Marwaniyah, semuanya adalah bagian dari umat Islam dan percaya pada syiar-syiar Islam serta mengamalkannya. Namun, orang-orang yang mensucikan dan menjadi pengikut Ali semuanya adalah bagian dari orang-orang murtad dan kafir.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Taimiyah, Minhaj al-Sunnah, jilid 5, halaman 9.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal, Imam Ali as adalah bagian dari Ahlul Bait, dan Fakhruddin ar-Razi, seorang mufassir terkenal dari kalangan Ahlusunah, berkata: &amp;quot;Siapa pun yang mengikuti Ali bin Abi Thalib dalam agamanya, maka dia telah mendapatkan petunjuk, dan buktinya adalah sabda Nabi saw: &#039;Ya Allah, tempatkan kebenaran bersama Ali di mana pun dia berada.&#039;&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Fakhruddin ar-Razi, Fakhruddin Muhammad bin Umar al-Tamimi al-Razi asy-Syafi&#039;i, At-Tafsir al-Kabir atau Mafatih al-Ghaib, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan 1, 1421 H/2000 M, jilid 1, halaman 168.&amp;lt;/ref&amp;gt; Juga dalam sumber-sumber Ahlusunah disebutkan bahwa Ali bersama kebenaran, dan kebenaran bersama Ali di mana pun dia berada.&amp;lt;ref&amp;gt;Hakim Naisaburi, Al-Mustadrak &#039;ala ash-Shahihain, jilid 3, halaman 134; Haitsami, Nuruddin Ali bin Abu Bakar, Majma&#039; az-Zawaid, Kairo, Dar ar-Rayyan li at-Turats; dan Beirut, Dar al-Maktab al-Ilmiyah, 1408 H, jilid 7, halaman 235.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Ibnu Taimiyah menolak semua hadis yang menyebutkan keutamaan Ahlul Bait, baik dengan mempertanyakan sanadnya maupun menolak maknanya. Sebagai contoh, hadis yang diriwayatkan dalam kitab-kitab Ahlusunah yang sahih, termasuk Sahih Muslim, oleh Ummul Mukminin Aisyah tentang turunnya Ayat Tathir, dan dalam riwayat lain yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah, setelah turunnya ayat ini, Nabi saw berkata: &amp;quot;Ya Allah, mereka adalah Ahlul Baitku, jauhkan kotoran dari mereka dan sucikan mereka.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Beirut, Dar as-Sadir, tanpa tahun, jilid 1, halaman 331.&amp;lt;/ref&amp;gt; Setelah tidak mampu menemukan cacat dalam sanad hadis ini, Ibnu Taimiyah dengan tegas menyatakan bahwa baik ayat yang turun tentang Ahlul Bait maupun doa Nabi untuk mereka tidak memberikan keutamaan atau kelebihan apa pun kepada Ahlul Bait.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Taimiyah, Minhaj al-Sunnah, Mathba&#039;ah Kubra Amiriyah, cetakan 1, 1322 H, jilid 3, halaman 4.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pandangan Alu Syaikh, Mufti Kontemporer Wahabi, tentang Imam Husain as ==&lt;br /&gt;
Pandangan Abdul Aziz Alu Syaikh, mufti kontemporer Wahabi, tentang [[Imam Husain as]] jauh lebih ekstrem dan negatif dibandingkan dengan Ibnu Taimiyah dan pemimpin Wahabi sebelumnya. Alu Syaikh, mufti agung Wahabi, seperti yang tercermin di berbagai situs internet, telah menyingkapkan isi hati Wahabi dengan tegas menyatakan bahwa Yazid berada di pihak yang benar dan Imam Husain as berada di pihak yang salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang dilaporkan di berbagai situs, Alu Syaikh dalam program langsung yang disiarkan oleh saluran &amp;quot;Al-Majd&amp;quot; Arab Saudi menjawab pertanyaan seorang wanita tentang Yazid dan pemberontakan Imam Husain as dengan jawaban yang intinya adalah: &amp;quot;Baiat Yazid bin Muawiyah adalah baiat yang sah yang diambil dari rakyat pada masa ayahnya, Muawiyah, dan rakyat pun membaiat dan menerima baiat ini. Namun, setelah Muawiyah meninggal, Husain bin Ali dan Ibnu Zubair menolak untuk membaiat Yazid; oleh karena itu, Husain dan Ibnu Zubair salah dalam keputusan mereka untuk tidak membaiat. Husain tidak mendengarkan nasihat orang lain dan bertindak melawan kepentingan yang seharusnya, dan Allah pun melaksanakan apa yang telah Dia tetapkan. Dia melanjutkan dengan mengatakan: &#039;Husain telah melakukan kesalahan untuk dirinya sendiri!!... Bagaimanapun, pemberontakan dan perlawanan Husain terhadap Yazid adalah haram!!... Dan lebih baik baginya untuk tidak melakukan hal itu. Tetap tinggal di Madinah dan mengikuti apa yang telah disepakati oleh orang-orang adalah lebih baik dan lebih pantas, dan melanggar batas kekhalifahan tidak diperbolehkan. Namun, meskipun demikian, kami memohon keridhaan Allah untuk Husain dan memohon ampunan serta pengampunan untuknya!!...&#039;&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;http://database-aryana-encyclopaedia.blogspot.com/2013/07/blog-post_14.html&amp;lt;/ref&amp;gt; Padahal, menurut hadis mutawatir dan sahih, Imam Husain as bersama saudaranya Imam Hasan as adalah dua pemuda penghuni surga, sehingga tidak mungkin ada kesalahan atau dosa yang dilakukan oleh beliau sehingga Alu Syaikh atau orang lain perlu memohonkan ampunan untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pandangan Wahabi tentang Hari Asyura ==&lt;br /&gt;
Wahabi kontemporer menganggap hari Asyura sebagai hari kegembiraan. Wahabi di Kuwait, dalam beberapa publikasi milik sekte ini, menyebut hari Asyura Husaini sebagai hari kebahagiaan dan kegembiraan. Selain itu, meskipun Ahlus Sunnah menghormati keluarga Rasulullah, Wahabi dengan sengaja mengadakan pernikahan dan pesta mereka di Kuwait pada malam Tasyu&#039;a dan hari Asyura Husaini.&amp;lt;ref&amp;gt;Khabarmama..., edisi 1153, halaman 53.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alu Syaikh, yang memiliki permusuhan yang sangat kuat terhadap Ahlul Bait Rasulullah saw khususnya Imam Husain as, untuk menunjukkan permusuhan ini, mengadakan pernikahan putranya yang bernama Umar bin Abdul Aziz pada hari [[Asyura]], dan banyak mufti Saudi hadir dalam acara ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Situs Masyregh News.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kebencian Wahabi Terhadap Ziarah Sayidah Zainab sa==&lt;br /&gt;
Jaringan berita Wahabi &amp;quot;Safa&amp;quot;, yang didanai oleh badan intelijen Arab Saudi dan memiliki kantor pusat di Kuwait, Kairo, dan Riyadh, menyebut anggota Tentara Pembebasan Suriah sebagai cucu-cucu [[Bani Umayyah]] di Syam. Jaringan ini menyerukan kepada mereka: &amp;quot;Wahai keturunan [[Muawiyah bin Abu Sufyan]] dan wahai keturunan [[Yazid bin Muawiyah dari perspektif Ibnu Taimiyah|Yazid bin Muawiyah]]! Wahai para prajurit Tentara Pembebasan! Kalian harus menargetkan &#039;kuil&#039; Zainab dan menghancurkannya, serta meruntuhkan semua makam serupa.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Khabarnameh Jame&#039;e Modarresin, edisi 1138, halaman 56.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahabi kontemporer telah mengambil langkah ekstrem dalam hal ini hingga membentuk pasukan dengan nama Yazid dan Ibnu Ziyad. Mereka melakukan pawai di Pakistan dengan slogan &amp;quot;Yazid dan Ibnu Ziyad adalah syahid.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Khabarnameh Jame&#039;e Modarresin, edisi 1195, halaman 51.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Dukungan Terhadap Musuh Ahlul Bait as==&lt;br /&gt;
Wahabi, dalam upaya memusuhi Ahlul Bait Rasulullah saw, menegaskan dukungan mereka terhadap para pembunuh Imam Husain as dan membela mereka dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Ibnu Taimiyah, untuk tujuan ini, dalam jilid ke-4 Minhaj al-Sunnah dari halaman 549 hingga 575, menyamakan Yazid bin Muawiyah dengan para khalifah Muslim lainnya dan berusaha keras untuk membuktikan ketidakbersalahan Yazid dalam tragedi Karbala yang menyebabkan syahidnya Husain bin Ali as, cucu tercinta Rasulullah saw, beserta anak-anak dan sahabat-sahabatnya, serta penawanan keluarga suci Rasulullah saw. Dia berkata: &amp;quot;Bahkan jika Yazid bin Muawiyah adalah seorang fasik dan zalim, Allah akan mengampuninya karena perbuatan baik dan besar yang telah dilakukannya.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim, Majmu&#039; al-Fatawa, tanpa tahun, tanpa tempat, jilid 3, halaman 413 dan jilid 4, halaman 475.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dia dengan tegas membela dan mendukung Umar bin Sa&#039;ad, pembunuh langsung Husain as, dan para pengikutnya dengan mengatakan: &amp;quot;Memang benar Umar bin Sa&#039;ad adalah komandan pasukan dan membunuh Imam Husain as, tetapi dosa Umar bin Sa&#039;ad jauh lebih kecil daripada dosa [[Mukhtar bin Abu Ubaidah]], yang bangkit untuk membalas dendam atas darah Husain dan menghukum para pembunuhnya. Bahkan, dosa Mukhtar jauh lebih besar daripada dosa Umar bin Sa&#039;ad.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Minhaj al-Sunnah, jilid 2, halaman 70.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Wahabi menulis buku tentang musuh-musuh Ahlul Bait, khususnya musuh-musuh Ali as seperti Muawiyah bin Abu Sufyan dan putranya Yazid, dengan judul &amp;quot;Fadhail Muawiyah wa fi Yazid wa annahu la yusab.&amp;quot; Mereka yang bertanya kepada An-Nasa&#039;i tentang keutamaan Muawiyah, An-Nasa&#039;i menjawab: &amp;quot;Aku tidak mengetahui keutamaan apa pun tentang Muawiyah kecuali kutukan terkenal Nabi saw terhadapnya, yaitu: &#039;Semoga Allah tidak mengenyangkan perutnya.&#039;&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;An-Nasa&#039;i, Ahmad bin Syu&#039;aib, Khasa&#039;is Amirul Mukminin as, Maktabah Nainawi al-Haditsah, halaman 23; Abu Dawud, Sulaiman, Musnad Abu Dawud, Beirut, Dar al-Hadits, halaman 359.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Wahabi dengan tegas menyatakan bahwa semua riwayat yang mencela dan mengecam musuh-musuh Ahlul Bait seperti Muawiyah bin Abu Sufyan, Umar bin Sa&#039;ad, Bani Umayyah, [[Bani Marwan]], Amr bin Ash, Yazid bin Muawiyah, dan lainnya adalah dusta dan palsu tanpa memberikan bukti apa pun.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qayyim, Muhammad bin Abu Bakar, Naqd al-Manqul, Beirut, Dar al-Qari, cetakan pertama, 1411 H, halaman 108.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Yazid bin Muawiyah memiliki posisi yang sangat penting dalam pandangan Wahabi kontemporer. Kementerian Pendidikan Arab Saudi bahkan menerbitkan sebuah buku berjudul &amp;quot;Haqaiq &#039;an Amir al-Mu&#039;minin Yazid bin Muawiyah&amp;quot; dan menjadikannya sebagai salah satu teks pelajaran di sekolah-sekolah resmi negara itu.&amp;lt;ref&amp;gt;At-Tijani, Sayid Muhammad, Al-Syi&#039;ah Hum Ahlus Sunnah, catatan kaki halaman 94; dan As&#039;ad Wahid al-Qasim, Haqiqah al-Syi&#039;ah al-Itsna &#039;Asyariyah, halaman 82.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Sebuah media Irak menyiarkan gambar yang menunjukkan bahwa penguasa Wahabi Arab Saudi, untuk menunjukkan kedalaman kebencian mereka terhadap Nabi saw dan Ahlul Bait as, telah menamai sekolah, jalan, dan tempat-tempat umum dengan nama musuh-musuh Rasulullah saw dan Ahlul Baitnya yang suci. Misalnya, Sekolah Yazid bin Muawiyah, Jalan Yazid bin Muawiyah, Sekolah Abu Lahab-yang permusuhannya terhadap Nabi saw sedemikian besar sehingga Allah menurunkan sebuah surah dalam Al-Qur&#039;an untuk melaknatnya-dan Jalan Abrahah al-Habasyi, orang yang ingin menghancurkan Ka&#039;bah pada tahun yang dikenal sebagai Tahun Gajah, tetapi Allah swt menghancurkannya bersama pasukannya dengan azab yang pedih.&amp;lt;ref&amp;gt;Khabarnameh Jame&#039;e Modarresin, edisi 1198, halaman 65.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Penghancuran Makam Ahlul Bait as==&lt;br /&gt;
Wahabi telah membuktikan permusuhan dan kebencian mereka terhadap Ahlul Bait Nabi as melalui tindakan nyata, seperti penghancuran makam-makam Ahlul Bait di pemakaman [[Baqi&#039;]], serangan militer mereka ke [[Karbala]] dan Najaf (tempat dimakamkannya Imam Husain dan Imam Ali as), serta pembantaian kejam terhadap Muslim dan pecinta Ahlul Bait. Tindakan-tindakan ini berasal dari pemikiran menyimpang mereka yang memusuhi Ahlul Bait Rasulullah saw dan mencintai musuh-musuh Ahlul Bait, khususnya Yazid dan keluarganya.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa lagi yang dapat menjelaskan motivasi di balik serangan berturut-turut pasukan Wahabi yang dipimpin oleh Saud bin Abdul Aziz ke Karbala dan [[Najaf]] dari tahun 1216 hingga 1225 H, selain kebencian mereka terhadap Ahlul Bait? Pasukan Wahabi, yang terdiri dari penduduk Najd, suku-suku sekitar, serta penduduk Hijaz dan Tihamah, memasuki kota Karbala pada bulan Dzulqa&#039;dah tahun 1262 H. Mereka membunuh sebagian besar penduduk di jalan-jalan, pasar, dan rumah-rumah. Menjelang siang, mereka keluar dari kota dengan membawa harta rampasan yang melimpah. Mereka berkumpul di daerah yang disebut &amp;quot;Abiyadh&amp;quot; dan membagi harta rampasan tersebut, di mana [[khumus pada masa Nabi saw)|seperlima]] dari harta itu diambil oleh &amp;quot;Saud&amp;quot; sendiri, sedangkan sisanya dibagikan dengan memberikan satu bagian untuk setiap pejalan kaki dan dua bagian untuk setiap penunggang kuda.&amp;lt;ref&amp;gt;Shaleh Al-Utsaimin, Abdullah, &#039;&#039;Tarikh al-Mamlakah al-Saudiyah&#039;&#039;, Riyadh, Obikan, cetakan ke-15, 1430 H, jilid 1, halaman 73.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tindakan-tindakan ini tidak hanya menunjukkan kebencian mereka terhadap Ahlul Bait as, tetapi juga mengungkapkan kedalaman penyimpangan ideologi mereka yang bertentangan dengan ajaran Islam yang sejati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch =ادیان و مذاهب&lt;br /&gt;
 | subbranch1 = اسلام&lt;br /&gt;
 | subbranch2 =وهابیت&lt;br /&gt;
 | subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه =شد&lt;br /&gt;
 | تیترها =شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش =&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی =شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر =&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | ارزیابی کمی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت = الف&lt;br /&gt;
 | کیفیت =ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa:دشمنی وهابیت با اهل‌بیت]]&lt;br /&gt;
[[ar:عداء الوهابية لأهل البيت]]&lt;br /&gt;
[[en:The Hostility of Wahhabis Towards the Ahl al-Bayt (a)]]&lt;br /&gt;
[[ru:Враждебность ваххабизма к Ахль аль-Байт (А)]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Furu%27uddin&amp;diff=964</id>
		<title>Furu&#039;uddin</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Furu%27uddin&amp;diff=964"/>
		<updated>2025-02-27T16:32:02Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Apa yang dimaksud dengan Furu&#039;uddin dan sebutkan apa saja yang termasuk dalam Furu&#039;uddin?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Furu&#039;uddin&#039;&#039;&#039; atau cabang-cabang agama meliputi shalat, [[puasa dalam pandangan Al-Qur&#039;an dan hadis|puasa]], [[haji dalam Al-Qur&#039;an|haji]], jihad, khumus, zakat, amar ma&#039;ruf, nahi munkar, tawalli, dan tabarri. Sebagian besar dari rangkaian amal dan perilaku ibadah dalam budaya Islam dikenal sebagai Furu&#039;uddin. Furu&#039;uddin ini berkaitan dengan aspek praktis dari keimanan Islam. Ketaatan terhadap Furu&#039;uddin sama wajibnya seperti ketaatan terhadap Ushuluddin (prinsip-prinsip agama).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kedudukan ==&lt;br /&gt;
Furu&#039;uddin adalah kewajiban dan adab yang ditetapkan oleh syariat suci bagi orang-orang yang mukallaf (terbebani kewajiban) dalam hal tindakan dan perilaku.&amp;lt;ref&amp;gt;Kamus Fikih Persia, di bawah pengawasan Mahmud Hasyimi Syahrudi, Qom, Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, 1387 H, jilid 5, halaman 679.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ketaatan terhadap Furu&#039;uddin sama wajibnya seperti ketaatan terhadap prinsip-prinsip agama. Furu&#039;uddin adalah serangkaian kewajiban dan tugas praktis yang diambil oleh Nabi saw dari wahyu dan disampaikan untuk kebahagiaan duniawi dan ukhrawi manusia. Beberapa cabang agama mengatur hubungan manusia dengan Allah dalam bentuk hukum dan peraturan, serta menetapkan kewajiban-kewajiban seperti shalat, puasa, dan haji. Beberapa lainnya mengatur kewajiban manusia terhadap sesamanya dan mengatur hubungan antarmanusia, seperti jihad, khumus, dan jual beli.&amp;lt;ref&amp;gt;Khatibi Kushkak, Muhammad dan rekan-rekan, Budaya Syiah, Qom, Zamzam Hidayat, 1386 H, halaman 359.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian besar dari rangkaian amal dan perilaku ibadah dalam budaya Islam dikenal sebagai Furu&#039;uddin. Furu&#039;uddin ini berkaitan dengan aspek praktis dari keimanan [[Islam]]. Dalam pengajaran umum di kalangan [[Syiah Imamiyah]], Furu&#039;uddin ini mencakup [[shalat]], [[puasa]], [[zakat]], [[khumus]], [[haji]], [[jihad]], [[amar ma&#039;ruf]], [[nahi munkar]], [[tawalli]], dan [[tabarri]]. Namun, di kalangan mazhab [[Ahlusunah]], beberapa cabang ini tidak terlalu berkembang dan tidak terlalu ditekankan.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Contoh Furu&#039;uddin ==&lt;br /&gt;
=== Shalat ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam agama Islam, kewajiban ibadah pertama dan terpenting bagi setiap individu yang mukallaf adalah melaksanakan [[shalat]], yang dilakukan lima kali sehari sebagai pengingat iman dan keyakinan seorang Muslim, serta sebagai sarana untuk mengumpulkan kekuatan batin dan spiritual untuk terhubung dengan sumber alam semesta, yaitu Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Puasa ===&lt;br /&gt;
[[Puasa]] adalah salah satu ibadah dalam Islam di mana seseorang menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal tertentu lainnya dari terbit fajar hingga terbenam matahari untuk mendekatkan diri kepada Allah. Istilah ini dalam bahasa Persia setara dengan kata Arab &amp;quot;shaum&amp;quot; dan &amp;quot;siyam&amp;quot;, yang berarti menahan diri dari makan, minum, berbicara, dan hubungan seksual. Puasa untuk pemurnian jiwa dan penyucian diri telah dipraktikkan dalam banyak agama dan kepercayaan sebelumnya, seperti Maya, Hindu, Buddha, Jain, dan Manichaeisme. Puasa dalam Islam adalah salah satu ibadah penting dan dalam hadis disebut sebagai salah satu dari lima rukun Islam. Dalam hadis, banyak manfaat dan keutamaan material dan spiritual yang disebutkan untuk puasa (terutama puasa bulan Ramadhan), seperti diterimanya amal, dikabulkannya doa, pengampunan dosa, hak atas surga dan kenikmatan akhirat, serta keselamatan dari azab neraka (perisai api), yang menunjukkan perhatian khusus Allah kepada orang yang berpuasa. Tidur orang yang berpuasa dianggap sebagai ibadah, dan napasnya adalah tasbih kepada Allah, serta puasa disebut sebagai zakat tubuh.&amp;lt;ref&amp;gt;Husseini Ahagh, Maryam, &amp;quot;Puasa&amp;quot;, Ensiklopedia Dunia Islam, Teheran, Yayasan Ensiklopedia Islam, 1394 H, jilid 20, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Haji ===&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan [[haji]] dalam teks dan sumber [[Islam]], termasuk sumber fikih, adalah perjalanan ke [[Baitullah]] (Ka&#039;bah) untuk melakukan serangkaian ibadah khusus pada waktu tertentu. Menurut beberapa ahli fikih, istilah fikih haji merujuk pada serangkaian tindakan yang dilakukan di tempat-tempat tertentu di [[Mekah]]. Serangkaian tindakan ibadah dalam ritual haji disebut manasik haji. Dalam [[Al-Qur&#039;an]], banyak ayat yang membahas haji, dan haji diwajibkan bagi orang yang mampu serta dianggap sebagai salah satu syiar besar yang layak diagungkan.&amp;lt;ref&amp;gt;Husaini Ahagh, Maryam, &amp;quot;Haji&amp;quot;, Ensiklopedia Dunia Islam, Teheran, Yayasan Ensiklopedia Islam, 1393 H, jilid 12, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Zakat ===&lt;br /&gt;
Dalam Al-Qur&#039;an, sebagai salah satu perintah pertama dalam agama Islam, [[zakat]] disebutkan puluhan kali bersama dengan perintah untuk mendirikan shalat. Zakat, sebagaimana makna harfiahnya dan juga ditegaskan dalam Al-Qur&#039;an, selain sebagai pembayaran finansial, juga merupakan bentuk &amp;quot;pemurnian&amp;quot; dan &amp;quot;penyucian&amp;quot; batin. Oleh karena itu, dalam penafsiran awal ayat-ayat Al-Qur&#039;an, zakat dianggap sebagai ibadah seperti ibadah lainnya di mana niat dan tujuan mendekatkan diri kepada Allah adalah syarat sahnya. Namun, zakat selain sebagai ibadah individu, juga memiliki aspek sosial sebagai cara untuk mendistribusikan kekayaan dan menyediakan dana untuk kepentingan umum umat Islam.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Khumus ===&lt;br /&gt;
Dalam Al-Qur&#039;an, khumus disebutkan sebagai bagian dari rampasan perang, dan dalam fikih [[Ahlusunah]], [[khumus]] hanya berlaku untuk rampasan perang dan beberapa kasus terbatas lainnya. Sebaliknya, dalam fikih [[Syiah]], konsep rampasan dalam ayat tersebut telah diperluas berdasarkan sumber-sumber hadis dan mencakup berbagai topik. Topik utama adalah &amp;quot;keuntungan usaha&amp;quot;, yang menjadikan khumus sebagai pajak umum yang berlaku di semua waktu dan tempat, dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat; artinya, setiap orang yang mukallaf harus menghitung pendapatan usahanya dalam satu tahun keuangan dan membayar seperlima dari kelebihan pendapatan setelah dikurangi kebutuhan tahunan sebagai khumus.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Jihad ===&lt;br /&gt;
[[Jihad]] adalah perang yang sah di jalan [[Allah]] swt dan merupakan salah satu topik dalam fikih Islam. Konsep utama istilah ini dalam teks-teks keagamaan, seperti penggunaan umumnya, adalah bentuk khusus dari upaya, yaitu berjuang di jalan Allah dengan jiwa, harta, dan aset lainnya dengan tujuan menyebarkan Islam atau membelanya.&amp;lt;ref&amp;gt;Sarrami, Saifullah, dan Said Adalatnejad, &amp;quot;Jihad&amp;quot;, Ensiklopedia Dunia Islam, Teheran, Yayasan Ensiklopedia Islam, 1393 H, jilid 11, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Amar Ma&#039;ruf dan Nahi Munkar ===&lt;br /&gt;
[[Amar ma&#039;ruf dan nahi munkar]] adalah dua istilah yang dalam tafsir klasik [[Al-Qur&#039;an]] diartikan sebagai perintah untuk mengikuti [[Nabi Muhammad saw]] dan agama [[Islam]], serta larangan untuk kafir kepada Allah dan mendustakan Rasulullah saw dan agamanya. Dapat dikatakan bahwa amar ma&#039;ruf adalah tindakan untuk mewujudkan apa yang sesuai dengan ajaran agama dan dianggap baik, sedangkan nahi munkar adalah reaksi untuk menghancurkan apa yang dianggap buruk.&amp;lt;ref&amp;gt;Jabirizadeh, Abdulamir, &amp;quot;Amar Ma&#039;ruf dan Nahi Munkar&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 10, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Tawalli dan Tabarri ===&lt;br /&gt;
Dua prinsip penting, &amp;quot;[[tawalli]]&amp;quot; yang berarti mencintai sahabat-sahabat Allah dan pendukung keadilan, dan &amp;quot;[[tabarri]]&amp;quot; yang berarti berlepas diri dari para penindas dan musuh-musuh Allah, memiliki penting yang besar dan menyebabkan pendukung keadilan bersatu melawan penindas dan mengakhiri kezaliman dari masyarakat.&amp;lt;ref&amp;gt;&amp;quot;[https://makarem.ir/main.aspx?typeinfo=42&amp;amp;lid=0&amp;amp;catid=29262&amp;amp;mid=318146 Konsep Tawalli dan Tabarri]&amp;quot;, Situs Informasi Kantor Ayatullah Makarim Syirazi, dipublikasikan: 21 Aban 1402 H.&amp;lt;/ref&amp;gt; Tabarri berarti menjalin persahabatan dengan sahabat-sahabat Allah dan menjauhkan diri dari musuh-musuh Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;&amp;quot;Tawalli dan Tabarri&amp;quot;, Situs Komprehensif Syahid Murtadha Muthahhari, dipublikasikan: 21 Aban 1402 H.&amp;lt;/ref&amp;gt; Tawalli dan tabarri digunakan dalam banyak ayat Al-Qur&#039;an dan dari sana memasuki bidang fikih dan teologi. Dalam ayat-ayat ini, dilarang untuk menjalin persahabatan dengan setan, orang kafir, non-Muslim, orang yang dimurkai Allah, dan mereka yang memerangi orang beriman karena agama, dan dianjurkan untuk menjalin persahabatan dengan Allah, Nabi saw, dan orang-orang beriman.&amp;lt;ref&amp;gt;Jabiri, Amir, &amp;quot;Tawalli dan Tabarri&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 16, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pranala Terkait ==&lt;br /&gt;
* [[Ushuluddin]]&lt;br /&gt;
* [[Perbedaan Antara Ushuluddin Dan Furu’uddin]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch =کلام&lt;br /&gt;
|subbranch1 =&lt;br /&gt;
|subbranch2 =&lt;br /&gt;
|subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه =شد&lt;br /&gt;
 | تیترها =شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش =شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی =شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر =شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت =ج&lt;br /&gt;
 | کیفیت =ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa:فروع دین]]&lt;br /&gt;
[[ru:Фуру’ ад-Дин (Ветви религии)]]&lt;br /&gt;
[[ar:فروع الدين]]&lt;br /&gt;
[[bn:ফুরুয়ে দ্বীন (ধর্মের শাখাসমূহ)]]&lt;br /&gt;
[[es:Los Ramas de la Religión (Furūʿ al-Dīn)]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Kata_Syiah_Dalam_Al-Quran&amp;diff=963</id>
		<title>Kata Syiah Dalam Al-Quran</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Kata_Syiah_Dalam_Al-Quran&amp;diff=963"/>
		<updated>2025-02-27T11:14:09Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{question}}&lt;br /&gt;
Apakah kata &amp;quot;Syiah&amp;quot; dalam Al-Qur&#039;an memiliki konotasi negatif? Mohon jelaskan makna &amp;quot;Syiah&amp;quot; dalam Al-Qur&#039;an?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;kata Syiah dalam Al-Qur&#039;an&#039;&#039;&#039; digunakan dalam berbagai makna. Kata ini pada awalnya berarti kelompok atau golongan, namun makna yang terkandung di dalamnya bisa berbeda tergantung pada konteks ayat. [[Syiah]] dalam arti pengikut: Dalam beberapa ayat [[Al-Qur&#039;an]], kata &amp;quot;Syiah&amp;quot; digunakan untuk merujuk pada pengikut atau orang-orang yang mengikuti tokoh atau keyakinan tertentu. Salah satu contohnya adalah ayat yang menyebutkan [[Nabi Ibrahim as]] sebagai &amp;quot;Syiah&amp;quot; dari [[Nabi Nuh as]]. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam beberapa ayat, kata &amp;quot;Syiah&amp;quot; digunakan secara umum untuk merujuk pada golongan atau umat-umat tertentu, bukan untuk menilai mereka secara positif atau negatif. Ini mengacu pada pembagian orang-orang menjadi kelompok-kelompok dengan keyakinan dan pandangan yang berbeda. Dalam beberapa kasus, kata &amp;quot;Syiah&amp;quot; dalam Al-Qur&#039;an digunakan untuk menggambarkan perpecahan dan pembelahan dalam agama, di mana kelompok-kelompok umat terpecah dan terpisah. Ini bisa menunjukkan pandangan negatif terhadap perpecahan dan ketidaksepakatan dalam umat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Arti Syiah Secara Bahasa dan Istilah==&lt;br /&gt;
[[Syiah]] secara bahasa berarti kelompok, golongan, suku, pengikut, dan pemimpin.&amp;lt;ref&amp;gt;Farāhīdī, Khalīl bin Aḥmad, Al-‘Ayn, tahqiq: Mahdī Makhzūmī - Ibrāhīm Sāmarā’ī, Qom, Mu’assasah Dār al-Hijrah, Cetakan kedua, 1409 H, Jilid 2, halaman 190.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
Jawharī, Ismā‘īl bin Ḥammād, Al-Ṣiḥāḥ, tahqiq: Aḥmad ‘Abd al-Ghafūr al-‘Aṭṭār, Beirut, Dār al-‘Ilm li al-Malāyīn, Cetakan keempat, 1407 H/1987 M, Jilid 3, halaman 1240.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sebuah bangsa yang memiliki kesepakatan terhadap suatu hal atau kenyataan disebut Syiah.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Manẓūr, Muḥammad bin Makram, Lisān al-‘Arab, Qom, Nashr Adab al-Ḥawzah, 1405 H, Jilid 8, halaman 188.&amp;lt;/ref&amp;gt; Jika pengikut Ahlul Bait as juga disebut Syiah, itu karena mereka adalah kelompok yang mengikuti pemikiran Ahlul Bait as.&lt;br /&gt;
Kata Syiah seiring waktu digunakan di kalangan sekte-sekte Islam untuk merujuk pada kelompok yang mempercayai kepemimpinan Ahlul Bait yang makshum.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Athīr al-Jazarī, Mubārak bin Muḥammad, Al-Nihāyah fī Gharīb al-Ḥadīth wa al-Athar, tahqiq: Ṭāhir Aḥmad al-Zāwī, Maḥmūd Muḥammad al-Ṭanāḥī, Qom, Mu’assasah Ismā‘īliyyān li al-Ṭibā‘ah wa al-Nashr wa al-Tawzī‘, Cetakan keempat, 1364 SH, Jilid 2, halaman 519.&amp;lt;/ref&amp;gt; Saat ini, Syiah merujuk pada segolongan umat Islam yang meyakini kepemimpinan dan imamah Ali as yang langsung setelah Nabi saw, dan berpendapat bahwa pengganti Nabi saw ditentukan melalui nas al-Qur&#039;an.&amp;lt;ref&amp;gt;Shaykh Mufīd, Muḥammad bin Muḥammad, Awā’il al-Maqālāt, halaman 35.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;Shahrastānī, Muḥammad bin ‘Abd al-Karīm, Al-Milal wa al-Niḥal, Jilid 1, halaman 146.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Penamaan Syiah untuk Pengikut Ali as Pertama Kali dari Nabi Muhammad saw==&lt;br /&gt;
Penamaan [[Syiah]] bagi pengikut Ali as pertama kali dilakukan oleh [[Nabi Muhammad saw]]. Al-Suyuti (seorang ulama Ahlulsunah) meriwayatkan dari [[Jabir bin Abdullah Al-Ansari]], [[Ibn Abbas]], dan [[Ali bin Abi Thalib]] bahwa Nabi Muhammad saw menafsirkan ayat: {{quran|إِنَّ الَّذينَ آمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحاتِ أُولئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ|translation=dengan merujuk kepada Ali dan bersabda: &amp;quot;Engkau dan pengikut-pengikutmu akan selamat pada hari kiamat.|Sura=Al-Bayyina|verse=65}}&amp;lt;ref&amp;gt;Suyūṭī, ‘Abd al-Raḥmān bin Abī Bakr, Al-Durr al-Manthūr fī al-Tafsīr bi al-Ma’thūr, Qom, Kitābkhānah ‘Āmmī Mar‘ashī Najafī, Cetakan pertama, 1404 H, Jilid 6, halaman 379.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kitab-kitab [[Ahlul Sunnah]] disebutkan: Kami sedang bersama Rasulullah saw ketika Ali datang, dan Rasulullah saw bersabda: ::&amp;quot;Demi Tuhan yang nyawaku ada di tangan-Nya, engkau dan pengikut-pengikutmu akan menjadi orang yang selamat pada hari kiamat.&amp;quot; Allah menurunkan ayat ini: {{quran|إِنَّ الَّذينَ آمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحاتِ أُولئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ|translation=dengan merujuk kepada Ali dan bersabda: &amp;quot;Engkau dan pengikut-pengikutmu akan selamat pada hari kiamat.|Sura=Al-Bayyina|verse=65}} Setiap kali sahabat Nabi saw melihat Ali, mereka berkata: {{arabic|جاء خیر البریة|translation=Ini adalah sebaik-baik makhluk Allah.}}&amp;lt;ref&amp;gt;Suyūṭī, ‘Abd al-Raḥmān bin Abī Bakr, Al-Durr al-Manthūr fī al-Tafsīr bi al-Ma’thūr, Qom, Kitābkhānah ‘Āmmī Mar‘ashī Najafī, Cetakan pertama, 1404 H, Jilid 6, halaman 379.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Syiah dalam Al-Qur&#039;an==&lt;br /&gt;
===Kelompok dan Golongan===&lt;br /&gt;
Salah satu makna utama kata &amp;quot;Syiah&amp;quot; dalam Al-Qur&#039;an adalah kelompok atau golongan. Dalam konteks ini, kata &amp;quot;Syiah&amp;quot; tidak memiliki konotasi positif maupun negatif. Berikut adalah beberapa contoh penggunaan kata &amp;quot;Syiah&amp;quot; dalam [[Al-Qur&#039;an]]:&lt;br /&gt;
* {{quran|قُلْ هُوَ الْقادِرُ عَلی أَنْ یَبْعَثَ عَلَیْکُمْ عَذاباً مِنْ فَوْقِکُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِکُمْ أَوْ یَلْبِسَکُمْ شِیَعاً |translation=Katakanlah: &amp;quot;Dia Maha Kuasa untuk mengirimkan azab kepada kalian dari atas atau dari bawah kaki kalian, atau Dia mencampurkan kalian dalam beberapa kelompok (Syiah).|Sura=Al-An’am|verse=65}}&lt;br /&gt;
* {{quran|وَ لَقَدْ أَرْسَلْنا مِنْ قَبْلِکَ فی شِیَعِ الْأَوَّلینَ|translation=Kami telah mengutus rasul-rasul sebelumnya di kalangan golongan umat terdahulu.|sura=Al-Hijr|verse=10}}&lt;br /&gt;
* {{quran|ثُمَّ لَنَنْزِعَنَّ مِنْ کُلِّ شیعَه أَیُّهُمْ أَشَدُّ عَلَی الرَّحْمنِ عِتِیًّا|translation=Kemudian, kami akan memisahkan dari setiap golongan (Syiah) siapa di antara mereka yang paling keras kepala terhadap Allah Yang Maha Pemurah.|sura=Maryam|verse=69}}&lt;br /&gt;
* {{quran|إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلا فِی الْأَرْضِ وَ جَعَلَ أَهْلَها شِیَعاً|translation=Sesungguhnya Fir’aun telah berlaku sombong di bumi dan membagi penduduknya ke dalam berbagai golongan (Syiah).|sura=Al-Qasas|verse=4}}&lt;br /&gt;
* {{quran| مِنَ الَّذینَ فَرَّقُوا دینَهُمْ وَ کانُوا شِیَعاً کُلُّ حِزْبٍ بِما لَدَیْهِمْ فَرِحُونَ|translation=(Mereka adalah) orang-orang yang membagi-bagi agama mereka dan menjadikannya golongan-golongan (Syiah); setiap golongan merasa senang dengan apa yang mereka miliki.|sura=Ar-Rum|verse=32}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Pengikut===&lt;br /&gt;
Penggunaan kedua kata &amp;quot;Syiah&amp;quot; dalam Al-Qur&#039;an adalah untuk makna pengikut, yaitu orang yang mengikuti atau tunduk pada pemikiran atau ajaran tertentu. Dalam konteks ini, jika seseorang mengikuti sosok yang baik dan benar, maka &amp;quot;Syiah&amp;quot; memiliki makna positif. Sebaliknya, jika seseorang mengikuti sosok yang zalim, maka &amp;quot;Syiah&amp;quot; memiliki makna negatif. Beberapa ayat yang menunjukkan makna ini adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
* {{quran|وَ إِنَّ مِنْ شیعَتِهِ لَإِبْراهیمَ|ترجمه=و از پیروان او ابراهیم بود|Sura=As-Saffat|verse=83}}, Dalam ayat ini, [[Nabi Ibrahim as]] disebut sebagai pengikut [[Nabi Nuh as]].&lt;br /&gt;
* {{quran|وَ دَخَلَ الْمَدینَه عَلی حینِ غَفْلَه مِنْ أَهْلِها فَوَجَدَ فیها رَجُلَیْنِ یَقْتَتِلانِ هذا مِنْ شیعَتِهِ وَ هذا مِنْ عَدُوِّهِ فَاسْتَغاثَهُ الَّذی مِنْ شیعَتِهِ عَلَی الَّذی مِنْ عَدُوِّهِ فَوَکَزَهُ مُوسی فَقَضی عَلَیْهِ قالَ هذا مِنْ عَمَلِ الشَّیْطانِ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُبینٌ|translation=Ketika ia memasuki kota pada saat penduduknya lengah, ia melihat dua orang yang sedang berkelahi, satu dari pengikutnya (dari Bani Israil) dan satu lagi dari musuhnya. Pengikutnya meminta bantuan kepada Musa terhadap musuhnya. Musa kemudian memukulnya hingga ia mati. Musa berkata: &amp;quot;Ini adalah perbuatan setan, sesungguhnya dia adalah musuh yang jelas dan menyesatkan.|sura=Al-Qasas|verse=15}}, Dalam ayat ini, kata &amp;quot;Syiah&amp;quot; digunakan untuk menyebut pengikut [[Nabi Musa as]] dan juga pengikut [[Fir’aun]].&lt;br /&gt;
* {{quran|وَ حیلَ بَیْنَهُمْ وَ بَیْنَ ما یَشْتَهُونَ کَما فُعِلَ بِأَشْیاعِهِمْ مِنْ قَبْلُ إِنَّهُمْ کانُوا فی شَکٍّ مُریبٍ|translation=Dan di antara mereka dan apa yang mereka inginkan terdapat penghalang, sebagaimana yang telah dilakukan terhadap pengikut-pengikut mereka sebelumnya, karena mereka berada dalam keraguan yang membingungkan.|sura=Saba|cerse=54}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Perpecahan dan Perbedaan Pemikiran===&lt;br /&gt;
Kadang-kadang, kata &amp;quot;Syiah&amp;quot; digunakan untuk menggambarkan perpecahan dan penyebaran dalam pemikiran, yang tercela. Salah satu contohnya adalah:&lt;br /&gt;
* {{quran|إِنَّ الَّذینَ فَرَّقُوا دینَهُمْ وَ کانُوا شِیَعاً لَسْتَ مِنْهُمْ فی شَیْءٍ|translation=Sesungguhnya orang-orang yang membagi-bagi agama mereka dan terpecah dalam berbagai golongan (mazhab), maka kamu tidak ada kaitannya dengan mereka sedikit pun!|sura=Al-An’am|verse=159}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bacaan Lebih Lanjut==&lt;br /&gt;
# Syiah dalam Islam, Muhammad Husayn Tabatabai&lt;br /&gt;
# Syiah dalam Al-Qur&#039;an, Amir Zahiri&lt;br /&gt;
# Syiah di Hadapan Al-Qur&#039;an dan Ahlul Bait, Terjemahan Jilid 65 dari Bihar al-Anwar (dari kumpulan 110 jilid, edisi Beirut), Terjemahan: Ali Tehrani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch = علوم و معارف قرآن&lt;br /&gt;
| subbranch1 = مفردات قرآن&lt;br /&gt;
| subbranch2 =&lt;br /&gt;
| subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه = شد&lt;br /&gt;
 | تیترها = شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش = شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی = شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر = شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی نویسنده =&lt;br /&gt;
 | بازبینی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت = ب&lt;br /&gt;
 | کیفیت = ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa: کلمه شیعه در قرآن]]&lt;br /&gt;
[[bn: কুরআনে শিয়া শব্দ]]&lt;br /&gt;
[[en: The Term Shi‘a in the Quran]]&lt;br /&gt;
[[ar: كلمة شيعة في القرآن الكريم]]&lt;br /&gt;
[[ru:Слово шиа в Коране]]&lt;br /&gt;
[[ur:لفظ شیعہ قرآن میں]]&lt;br /&gt;
[[es:La palabra Chiíta en el Corán]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Dendam&amp;diff=962</id>
		<title>Dendam</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Dendam&amp;diff=962"/>
		<updated>2025-02-27T10:30:36Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{question}}&lt;br /&gt;
Apa itu dendam? Apa dampak, faktor penyebab dan bagaimana cara penyembuhannya?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
{{portal|واژه‌ها}}&lt;br /&gt;
{{رذائل اخلاقی}}&lt;br /&gt;
Dendam adalah salah satu [[keburukan moral]] dan keadaan batin di mana seseorang menyimpan permusuhan terhadap orang lain dan mengekspresikannya pada kesempatan yang tepat. Dendam dianggap sebagai [[akibat dari kemarahan]]. Cara untuk mengobati dendam antara lain dengan memperhatikan akibat-akibatnya, memperkuat semangat untuk memaafkan, dan bertindak ramah terhadap orang yang dibenci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Faktor-faktor penyebab dendam termasuk perasaan kekurangan, yang membuat seseorang merasa iri dan membenci orang lain ketika melihat kesuksesan mereka. Perselisihan verbal, [[cercaan]], [[gosip]], [[ejekan]], [[doa buruk]], dan penghinaan adalah faktor lain yang dapat membuat orang membenci seseorang dan menumbuhkan dendam dalam hati mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Definisi dan Posisi Dendam==&lt;br /&gt;
Dendam adalah keadaan batin di mana seseorang menyembunyikan permusuhan terhadap orang lain dan menunggu waktu yang tepat untuk mengekspresikannya.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;Narāqī, Aḥmad, Mi‘rāj al-Sa‘ādah, Nāshir Kashf al-Ghiṭā’, Cetakan pertama, 82, halaman 200.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dendam hanya sebatas perasaan hati, dan jika perasaan ini diwujudkan dalam tindakan, maka itu disebut sebagai &amp;quot;adawat; permusuhan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dendam dianggap sebagai salah satu akibat dari kemarahan, karena ketika seseorang marah kepada orang lain namun tidak dapat mengekspresikan kemarahannya, perasaan itu terpendam dalam hati dan membentuk dendam.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;/&amp;gt;&lt;br /&gt;
Dalam hadis, orang yang menyimpan dendam dianggap telah kehilangan iman yang sejati.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:1&amp;quot;/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Faktor-Faktor Penyebab Dendam==&lt;br /&gt;
{{main|Faktor-Faktor Penyebab Dendam}}&lt;br /&gt;
Terdapat berbagai faktor yang dapat menyebabkan timbulnya dendam, antara lain:&lt;br /&gt;
# [[Perdebatan]]: Dalam hadis-hadis, ada larangan untuk melanjutkan diskusi yang berubah menjadi pertengkaran, di mana kedua pihak tidak menerima pendapat satu sama lain. Diskusi semacam ini dapat menyebabkan terjadinya dendam dan permusuhan.&amp;lt;ref&amp;gt;‘Āmilī Jub‘ī, Zayn al-Dīn bin ‘Alī (dikenal sebagai Shahīd Thānī), Munīyat al-Murīd fī Adab al-Mufīd wa al-Mustafīd, Bāb al-Marā’.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
# [[Mira’]]: berarti mencela atau mengkritik ucapan orang lain. Tindakan ini dapat merusak hubungan persahabatan dan memicu timbulnya dendam.&amp;lt;ref&amp;gt;Tehrānī, Mujtabā, Akhlaq-e Ilāhī, Nāshir: Mu’assasah Farhangī Dānish wa Andīshah-ye Mu‘āṣir, Cetakan pertama, 1381 SH, Jilid 4, halaman 173–174.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
# Harapan yang Berlebihan: Berdasarkan hadis, jika seseorang memiliki harapan yang tidak realistis terhadap orang lain, melebihi kemampuan mereka, dan kemudian mengkritiknya karena tidak dapat memenuhi harapan tersebut, hal ini dapat menumbuhkan dendam di dalam hati.&amp;lt;ref&amp;gt;Muḥammadī Ray-Shahrī, Mīzān al-Ḥikmah, terj. Ḥamīd Riḍā Mashāyikhī, Nashr Dār al-Ḥadīth, Cetakan pertama, 1377 SH, Jilid 3, halaman 1221, Bāb Ḥiqd.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
# Tidak pernah merasa puas: Seseorang yang merasa kurang atau tidak puas dengan dirinya sendiri, ketika menyaksikan kesuksesan orang lain, dapat merasakan kecemburuan dan akhirnya menumbuhkan dendam terhadap mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Abī al-Ḥadīd, Sharḥ Nahj al-Balāghah, 20 Jilid, Beirut, Dār Iḥyā’ al-Turāth, 1385 H, Jilid 20, halaman 322, Ḥadīth 696 dan halaman 327, Ḥadīth 743.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
# [[Ghibah]]: Terkadang, ghibah membuat orang yang digibah menyimpan kebencian terhadap orang yang menggibahnya, karena orang tersebut telah merusak kehormatannya di hadapan orang lain.&amp;lt;ref&amp;gt;Tehrānī, Mujtabā, Akhlaq-e Ilāhī, Nāshir: Mu’assasah Farhangī Dānish wa Andīshah-ye Mu‘āṣir, Cetakan pertama, 1381 SH, Jilid 4, halaman 95 atau 65.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
# [[Mengolok-olok]]: Jika seseorang mengejek orang lain dan orang yang diejek tidak bisa membela diri, kemarahan akan terpendam dan berubah menjadi kebencian, yang akan disimpan untuk membalasnya di lain waktu.&amp;lt;ref&amp;gt;Tehrānī, Mujtabā, Akhlaq-e Ilāhī, Nāshir: Mu’assasah Farhangī Dānish wa Andīshah-ye Mu‘āṣir, Cetakan pertama, 1381 SH, Jilid 4, halaman 295.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
# [[Doa Laknat]]: Laknat dan doa kutukan yang dimaksud adalah yang tercela dan tidak pantas, meskipun dalam beberapa kasus, laknat dan kutukan dapat diperbolehkan.&amp;lt;ref&amp;gt;Tehrānī, Mujtabā, Akhlaq-e Ilāhī, Nāshir: Mu’assasah Farhangī Dānish wa Andīshah-ye Mu‘āṣir, Cetakan pertama, 1381 SH, Jilid 4, halaman 247.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
# [[Berkata Kasar]]: Menghina orang lain dengan kata-kata kasar akan membuat orang tersebut menyimpan kebencian terhadap si penghina.&amp;lt;ref&amp;gt;Tehrānī, Mujtabā, Akhlaq-e Ilāhī, Nāshir: Mu’assasah Farhangī Dānish wa Andīshah-ye Mu‘āṣir, Cetakan pertama, 1381 SH, Jilid 4, halaman 270.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Dampak Negatif==&lt;br /&gt;
Orang yang penuh kebencian akan mengalami penderitaan terus-menerus dan tidak merasakan ketenangan. Karena tidak setia pada persahabatan, dia memiliki sedikit teman. Orang yang penuh kebencian dianggap sebagai teman yang terburuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang penuh kebencian terhalang dari iman sejati; karena menurut hadis, seorang mukmin tidak akan menyimpan kebencian lebih dari satu saat, dan ketika dia berpisah dengan saudaranya, dia tidak akan menyimpan kebencian dalam hatinya terhadapnya.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:1&amp;quot;&amp;gt;Muḥammadī Ray-Shahrī, Mīzān al-Ḥikmah, terj. Ḥamīd Riḍā Mashāyikhī, Nashr Dār al-Ḥadīth, Cetakan pertama, 1377 SH, Jilid 3, halaman 1221, Bāb Ḥiqd.&amp;lt;/ref&amp;gt;Kebencian juga menyebabkan dosa lainnya seperti iri hati, ghibah, fitnah, celaan, teguran, dan merendahkan orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Cara Mengobati==&lt;br /&gt;
{{main|Cara-cara Mengobati Kebencian}}&lt;br /&gt;
Beberapa cara untuk mengatasi kebencian di antaranya adalah:&lt;br /&gt;
# Memperhatikan [[Dampak Kebencian]]: Menyadari bahwa kebencian tidak membawa manfaat bagi si pembenci, justru membuatnya selalu merasa tidak nyaman.&lt;br /&gt;
# Meningkatkan Semangat untuk Memaafkan: Jika seseorang disakiti atau dihina oleh orang lain, alih-alih merasa marah dan membenci, lebih baik memaafkan orang tersebut. Karena sebagaimana sabda [[Nabi Muhammad saw]], memaafkan akan menambah kehormatan dan kemuliaan seseorang.&amp;lt;ref&amp;gt;‘Abdullāh Shubbar, Akhlaq-e Shubbar, Nāshir Hijrat, Cetakan kedua, 1377 SH, halaman 253–254.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
# Bersikap Ramah kepada Orang yang Dibenci: Berusaha untuk memenuhi kebutuhan dan permintaannya serta menyebut kebaikan-kebaikannya di hadapan orang lain.&amp;lt;ref&amp;gt;Narāqī, Aḥmad, Mi‘rāj al-Sa‘ādah, halaman 201.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch = اخلاق&lt;br /&gt;
| subbranch1 = رذائل اخلاقی&lt;br /&gt;
| subbranch2 = کینه&lt;br /&gt;
| subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه = شد&lt;br /&gt;
 | تیترها = شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش = شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی = شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر = شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | ارزیابی کمی =&lt;br /&gt;
 | ارزیابی کیفی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت = ج&lt;br /&gt;
 | کیفیت = ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa: کینه]]&lt;br /&gt;
[[bn: বিদ্বেষ]]&lt;br /&gt;
[[en: Resentment]]&lt;br /&gt;
[[ru: Ненависть]]&lt;br /&gt;
[[ar: الحقد]]&lt;br /&gt;
[[es:Rencor]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Mushaf_Fatimah_Sa&amp;diff=961</id>
		<title>Mushaf Fatimah Sa</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Mushaf_Fatimah_Sa&amp;diff=961"/>
		<updated>2025-02-27T09:54:16Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{question}}&lt;br /&gt;
Apa itu &#039;&#039;Mushaf Fatimah&#039;&#039; sa? Apakah buku ini juga dikenal dengan nama &amp;quot;Saudara Al-Qur&#039;an&amp;quot;?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{distinguish|صحیفه فاطمیه}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
{{portal|فاطمی|واژه‌ها}}&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Mushaf Fatimah sa&#039;&#039;&#039; adalah kitab yang dikatakan dituliskan oleh [[Imam Ali as]] setelah [[Malaikat Jibril]] mengajarkannya kepada [[Fatimah sa]] setelah wafatnya [[Nabi Muhammad saw]]. Keberadaan kitab ini tidak diragukan berdasarkan berbagai riwayat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Riwayat tentang &#039;&#039;Mushaf Fatimah&#039;&#039; sa tercatat dalam sumber-sumber utama [[Syiah]], seperti &#039;&#039;[[Basa&#039;ir al-Darajat]]&#039;&#039; dan &#039;&#039;[[al-Kafi]]&#039;&#039;. Mushaf ini tidak pernah dipublikasikan dan hanya disimpan oleh Imam-imam Syiah as. Riwayat paling banyak tentang Mushaf ini terdapat dalam karya [[Allamah Al-Majlisi]] yang membahas ilmu-ilmu [[Ahlulbait as]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Mushaf Fatimah&#039;&#039; sa berisi penjelasan tentang peristiwa-peristiwa yang akan datang dan nasib keturunan Fatimah sa. Kitab ini juga menjadi rujukan dalam ajaran-ajaran Syiah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, terdapat perbedaan dan kadang pertentangan dalam beberapa riwayat tentang isi &#039;&#039;Mushaf Fatimah&#039;&#039; sa, yang menyebabkan pandangan para ulama tentang rincian kitab ini bervariasi. Di sumber-sumber yang terpercaya, tidak ada bukti bahwa kitab ini disebut &amp;quot;saudara Al-Qur&#039;an&amp;quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ciri-ciri Mushaf Fatimah Sa==&lt;br /&gt;
Dalam riwayat [[Ahlulbait as]], disebutkan bahwa &#039;&#039;Mushaf Fatimah&#039;&#039; sa diwahyukan kepada [[Fatimah sa]].&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;/&amp;gt; Beberapa riwayat ini memiliki sanad yang sah, sehingga tidak ada keraguan tentang keberadaan kitab ini..&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;Mahdavī-Rād, Muḥammad ‘Alī, &amp;quot;Muṣḥaf Fāṭimah (sa)&amp;quot;, Dāneshnāmeh-ye Fāṭimī, di bawah pengawasan ‘Alī Akbar Rashād, Teheran, Penerbit: Pusat Penelitian Kebudayaan dan Pemikiran Islami, 1393 HS, Jilid 3, halaman 64.&amp;lt;/ref&amp;gt; Salah satu riwayat yang sah datang dari [[Imam Ja&#039;far Shadiq as]] yang menjelaskan tentang &#039;&#039;Mushaf Fatimah&#039;&#039; sa sebagai jawaban atas pertanyaan salah seorang pengikutnya. Dalam riwayat ini, dijelaskan bahwa Mushaf tersebut ditulis selama 75 hari setelah wafatnya [[Nabi Muhammad saw]].&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaynī, Muḥammad ibn Ya‘qūb, Al-Kāfī, Qom, Dār al-Ḥadīth, 1429 H, Jilid 1, halaman 599–600.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Riwayat tentang &#039;&#039;Mushaf Fatimah&#039;&#039; sa tercatat dalam sumber-sumber utama Syiah, seperti &#039;&#039;[[Basa&#039;ir al-Darajat]]&#039;&#039;&amp;lt;ref&amp;gt;Ṣaffār Qummī, Muḥammad ibn al-Ḥasan, Baṣā’ir al-Darajāt fī Faḍā’il Āl Muḥammad (ṣ), penyunting: Muḥsin ibn ‘Abbās ‘Alī Kūche Bāghī, Qom, Maktabah Āyatullāh al-Mar‘ashī al-Najafī, 1404 H, halaman 170–181.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan &#039;&#039;[[Al-Kafi]]&#039;&#039;.&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Kulaynī, Al-Kāfī, Jilid 1, halaman 592–602.&amp;lt;/ref&amp;gt; Mayoritas riwayat mengenai Mushaf ini terdapat dalam karya [[Allamah Al-Majlisi]] yang membahas ilmu-ilmu Ahlulbait as.&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisī, Muḥammad Bāqir, Biḥār al-Anwār al-Jāmi‘ah li Durar Akhbār al-A’immah al-Aṭhār, Beirut, Mu’assasah al-Wafā’, 1403 H.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan riwayat Ahlulbait as, &#039;&#039;Mushaf Fatimah&#039;&#039; sa tidak pernah sampai ke tangan orang lain dan tetap disimpan oleh Imam-imam Syiah.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaynī, Muḥammad bin Ya‘qūb, Al-Kāfī, Qom, Dār al-Ḥadīth, 1429 H, Jilid 1, halaman 593.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam beberapa riwayat, dikatakan bahwa ukuran Mushaf ini tiga kali lebih besar dari [[Al-Qur&#039;an]].&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaynī, Muḥammad bin Ya‘qūb, Al-Kāfī, Qom, Dār al-Ḥadīth, 1429 H, Jilid 1, halaman 595.&amp;lt;/ref&amp;gt; Keberadaan &#039;&#039;Mushaf Fatimah&#039;&#039; sa digunakan sebagai sumber dalam ajaran-ajaran Syiah.&amp;lt;ref&amp;gt;Madrassī Ṭabāṭabā’ī, Ḥusayn, Mīrās-e Maktūb-e Shī‘ah, Qom, Nashr Mūrakhkh, 1386 SH, halaman 41.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perbedaan dalam isi beberapa riwayat tentang &#039;&#039;Mushaf Fatimah&#039;&#039; sa dan kadang adanya pertentangan di antaranya menyebabkan pandangan para peneliti tentang rincian Mushaf ini tidak seragam.&amp;lt;ref&amp;gt;Mahdavī-Rād, &amp;quot;Muṣḥaf Fāṭimah (sa)&amp;quot;, Jilid 3, halaman 65.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Penulis dan Penyusun Mushaf Fatimah sa==&lt;br /&gt;
Dalam riwayat-riwayat tentang &#039;&#039;Mushaf Fatimah&#039;&#039; sa, disebutkan berbagai pihak yang terlibat dalam proses penulisan kitab ini, antara lain [[Allah]], Malaikat, [[Jibril]], dan [[Rasulullah saw]].&amp;lt;ref&amp;gt;Mahdavī-Rād, &amp;quot;Muṣḥaf Fāṭimah (sa)&amp;quot;, Jilid 3, halaman 68.&amp;lt;/ref&amp;gt; Allamah Majlisi mencoba menggabungkan riwayat-riwayat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa peneliti menganggap ini sebagai cara terbaik untuk menyatukan pendapat yang berbeda tentang hal tersebut.&amp;lt;ref&amp;gt;Mahdavī-Rād, &amp;quot;Muṣḥaf Fāṭimah (sa)&amp;quot;, Jilid 3, halaman 72.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Rasulullah saw dalam riwayat tersebut adalah Jibril.&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisī, Muḥammad Bāqir, Biḥār al-Anwār al-Jāmi‘ah li-Durar Akhbār al-A’immah al-Aṭhār, Jilid 26, halaman 42.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ulama lain, seperti [[Sayid Muhsin Amin Amili]]&amp;lt;ref&amp;gt;Amīn, Muḥsin, A‘yān al-Shī‘ah, Beirut, Dār al-Ta‘āruf li al-Maṭbū‘āt, 1403 H, Jilid 1, halaman 357.&amp;lt;/ref&amp;gt;, [[Sayid Ja&#039;far Murtadha Amili]]&amp;lt;ref&amp;gt;‘Āmilī, Ja‘far Murtadhā, Mā’sāt al-Zahrah (sa): Shubuhāt wa Rudūd, Beirut, Dār al-Sīrah, 1418 H, Jilid 1, halaman 116.&amp;lt;/ref&amp;gt;, dan [[Sayid Muhammad Husain Fadhlullah]]&amp;lt;ref&amp;gt;Hāshīmī, Hāshim, Ḥiwār ma‘a Faḍlullāh ḥawl al-Zahrah (sa), Beirut, Dār al-Hudā, 1422 H, halaman 151.&amp;lt;/ref&amp;gt;, juga memberikan cara mereka untuk menggabungkan riwayat-riwayat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seluruh ulama Syiah sepakat bahwa penulis dan penyusun &#039;&#039;Mushaf Fatimah&#039;&#039; sa adalah [[Imam Ali as]].&amp;lt;ref&amp;gt;Mahdavī-Rād, &amp;quot;Muṣḥaf Fāṭimah (sa)&amp;quot;, Jilid 3, halaman 73.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kandungan &#039;&#039;Mushaf Fatimah&#039;&#039; sa==&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Mushaf Fatimah&#039;&#039; sa dikatakan berisi:&lt;br /&gt;
# Kedudukan Rasulullah saw dan masa depan keturunan [[Sayidah Fatimah sa]].&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Ṣaffār al-Qummī, Bṣā’ir al-Darajāt fī Faḍā’il Āl Muḥammad Ṣallallāhu ʿalayhim, halaman 174.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
# Penjelasan tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa depan.&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Fattāl al-Nīsābūrī, Muḥammad bin Aḥmad, Rawdat al-Wā‘iẓīn wa Baṣīrat al-Muta‘iẓīn, Qom, Manshūrāt al-Raḍī, 1375 SH, Jilid 1, halaman 211.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
# Nama para nabi Allah as, penerus mereka, dan wasiat mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisī, Muḥammad Bāqir, Biḥār al-Anwār al-Jāmi‘ah li-Durar Akhbār al-A’immah al-Aṭhār, Jilid 26, halaman 18.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
# Nama seluruh raja dan penguasa hingga Hari Kiamat.&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Fattāl al-Nīsābūrī, Rawdat al-Wā‘iẓīn wa Baṣīrat al-Muta‘iẓīn, Jilid 1, halaman 211.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
# [[Abdul Husain Syarafuddin]], seorang ulama [[Syiah]], juga menyebutkan bahwa mushaf ini mengandung peribahasa, hikmah, nasihat, dan berita-berita tertentu.&amp;lt;ref&amp;gt;Sharaf al-Dīn, ʿAbd al-Ḥusayn, Al-Murāja‘āt, Qom, al-Majma‘ al-‘Ālamī li-Ahl al-Bayt (a), 1426 H, halaman 603.&amp;lt;/ref&amp;gt; Namun, pandangan ini dibantah oleh beberapa peneliti.&amp;lt;ref&amp;gt;Hāshimī, Ḥiwār ma‘a Faḍlullāh ḥawl al-Zahrah (sa), halaman 172.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
# Beberapa peneliti, merujuk pada sebuah riwayat&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaynī, Al-Kāfī, Jilid 7, halaman 37–41.&amp;lt;/ref&amp;gt; yang menyebutkan kitab dengan judul Kitab Fatimah sa berisi rincian hukum syariat, menyatakan bahwa &#039;&#039;Mushaf Fatimah&#039;&#039; juga mencakup seluruh hukum syariat secara terperinci serta detail hukum pidana.&amp;lt;ref&amp;gt;Qazwīnī, Muḥammad Kāẓim, Fāṭimah al-Zahrah (sa) min al-Mahd ilā al-Laḥd, tanpa kota penerbitan dan tahun, halaman 96.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sayid Muhammad Husain Fadhlullah mendukung pandangan ini dan menyatakan bahwa Kitab Fatimah sa dan &#039;&#039;Mushaf Fatimah&#039;&#039; sa adalah hal yang sama.&amp;lt;ref&amp;gt;Hāshimī, Ḥiwār ma‘a Faḍlullāh ḥawl al-Zahrah (sa), halaman 167.&amp;lt;/ref&amp;gt; Namun, beberapa peneliti membantah pendapat ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Amīn, Muḥsin, A‘yān al-Shī‘ah, Jilid 1, halaman 356.&amp;lt;/ref&amp;gt; Selain itu, ada kemungkinan bahwa Kitab Fatimah sa berbeda dari &#039;&#039;Mushaf Fatimah&#039;&#039; sa, dan istilah Fatimah dalam Kitab Fatimah sa merujuk pada [[Fatimah binti Husain as]].&amp;lt;ref&amp;gt;Hāshimī, Ḥiwār ma‘a Faḍlullāh ḥawl al-Zahrah (sa), halaman 181.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
# Sayid Husain Mudarrisi Thabathabai, seorang cendekiawan Syiah dan profesor hukum Islam di Universitas Princeton, menyebut bahwa &#039;&#039;Mushaf Fatimah&#039;&#039; sa berisi gagasan-gagasan esoteris Syiah yang sering dirujuk dalam berbagai konteks.&amp;lt;ref&amp;gt;Madrassī Ṭabāṭabā’ī, Mīrās-e Maktūb-e Shī‘ah, halaman 41.&amp;lt;/ref&amp;gt; Namun, pandangan ini mendapat kritik.&amp;lt;ref&amp;gt;Mahdavī-Rād, &amp;quot;Muṣḥaf Fāṭimah (sa)&amp;quot;, Jilid 3, halaman 82.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sumber-sumber yang ada, tidak ditemukan informasi bahwa kitab ini disebut sebagai &amp;quot;saudara Al-Qur&#039;an.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Keraguan Tentang &#039;&#039;Mushaf Fatimah&#039;&#039; sa==&lt;br /&gt;
Beberapa orientalis dan ulama [[Ahlusunah]], dengan mengacu pada istilah Mushaf dalam nama &#039;&#039;Mushaf Fatimah&#039;&#039; sa dan membatasi istilah tersebut hanya untuk Al-Qur&#039;an, menuduh Syiah memiliki Al-Qur&#039;an lain yang berbeda dari Al-Qur&#039;an yang ada di kalangan umat Islam. Di antara mereka adalah Ignaz Goldziher&amp;lt;ref&amp;gt;Goldziher, Ignaz, Gerāyesh-hā-ye Tafsīrī dar Mīān-e Musalmānān, Pengantar oleh Sayyid Muḥammad ‘Alī I‘āzī, Terjemahan oleh Sayyid Nāṣir Ṭabāṭabā’ī, Teheran, Intishārāt Qoqnūs, 1383 SH, halaman 256-257.&amp;lt;/ref&amp;gt;, seorang orientalis terkenal asal Hungaria, dan Abdullah al-Qasimi, seorang penulis [[Salafi]] dari Arab Saudi.&amp;lt;ref&amp;gt;‘Amīdī, Thāmir Hāshim Ḥabīb, Difā‘ ‘an al-Kāfī: Dirasah Naqdīyah Muqāranah li-Ahm Aṭ-ṭu‘ūn wa al-Shubuhāt al-Muthārah ḥawl Kitāb al-Kāfī li al-Shaykh al-Kulaynī, Qom, Markaz al-Ghadīr li al-Dirāsāt al-Islāmīyah, 1415 H, Jilid 2, halaman 353.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai tanggapan, beberapa peneliti menyatakan bahwa para ulama Syiah sepakat bahwa &#039;&#039;Mushaf Fatimah&#039;&#039; sa tidak mengandung Al-Qur&#039;an.&amp;lt;ref&amp;gt;Mahdavī-Rād, &amp;quot;Muṣḥaf Fāṭimah (sa)&amp;quot;, Jilid 3, halaman 75.&amp;lt;/ref&amp;gt; Pernyataan ini didukung oleh banyak riwayat dari [[Imam-Imam Syiah as]] yang menyebut &#039;&#039;Mushaf Fatimah&#039;&#039; sa dengan berbagai istilah, dan hampir semuanya secara tegas menyatakan bahwa kitab ini tidak mencakup Al-Qur&#039;an.&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Ṣaffār al-Qummī, Bṣā’ir al-Darajāt fī Faḍā’il Āl Muḥammad Ṣallallāhu ʿalayhim, halaman 170. Kulaynī, Muḥammad, Al-Kāfī, Jilid 1, halaman 595.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bacaan Lebih Lanjut==&lt;br /&gt;
# Sebuah Kajian tentang &#039;&#039;Mushaf Fatimah&#039;&#039; sa, karya Muhammad Ali Mahdavi Rad, diterbitkan oleh Nashr Mash&#039;ar.&lt;br /&gt;
# Hakikat &#039;&#039;Mushaf Fatimah&#039;&#039; sa menurut Syiah, karya Akram Barakat, diterbitkan oleh Dar al-Safwah.&lt;br /&gt;
# Mushaf Fatimi: Kajian tentang &#039;&#039;Mushaf Fatimah&#039;&#039; sa, karya Abdullah Amini, diterbitkan oleh Dalil Ma Publications.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch = حدیث&lt;br /&gt;
 | subbranch1 = منبع‌شناسی&lt;br /&gt;
 | subbranch2 =&lt;br /&gt;
 | subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه = شد&lt;br /&gt;
 | تیترها = شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش = شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی = شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه = شد&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر =شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | ارزیابی کمی =&lt;br /&gt;
 | ارزیابی کیفی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت =ج&lt;br /&gt;
 | کیفیت =ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa: مصحف فاطمه(س)]]&lt;br /&gt;
[[bn: ফাতেমা (সা.)-এর মুসহাফ]]&lt;br /&gt;
[[ur: مصحف فاطمہ (س)]]&lt;br /&gt;
[[en:Mushaf of Fatima (a)]]&lt;br /&gt;
[[ru: Мусхаф Фатимы (а)]]&lt;br /&gt;
[[ar: مصحف فاطمة (ع)]]&lt;br /&gt;
[[es:El Mus&#039;haf de Fátima (P)]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Ketidakterbatasan_Tuhan&amp;diff=960</id>
		<title>Ketidakterbatasan Tuhan</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Ketidakterbatasan_Tuhan&amp;diff=960"/>
		<updated>2025-02-27T08:54:32Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{question}}&lt;br /&gt;
Bagaimana kita dapat membuktikan ketidakterbatasan Tuhan?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
Ada berbagai cara untuk membuktikan &#039;&#039;&#039;ketidakterbatasan Tuhan&#039;&#039;&#039;. Sebagian cara ini disebutkan dalam ucapan [[Imam Ali]], dan sebagian lainnya dijelaskan oleh para filsuf. Imam Ali as menyatakan bahwa Tuhan tidak dapat ditunjuk dengan isyarat dan menegaskan bahwa jika Tuhan memiliki keterbatasan, maka Dia dapat dihitung. Namun, Tuhan adalah Esa dan tidak memiliki sekutu. Para filsuf, dalam membuktikan ketidakterbatasan Tuhan, merujuk pada konsep seperti &#039;[[wujud mutlak]]&#039;, &#039;sebab dari segala sebab&#039;, dan &#039;[[wujud yang wajib]]&#039;. Dengan menjelaskan konsep-konsep ini, mereka menyimpulkan bahwa Tuhan tidak terbatas. Alasan lain yang diajukan oleh para filsuf adalah bahwa keterbatasan merupakan sifat yang melekat pada hakikat (mawjud), sedangkan hakikat tersebut tidak terdapat dalam esensi Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ucapan Imam Ali as dalam Membuktikan Ketidakterbatasan Tuhan==&lt;br /&gt;
[[Amirul Mukminin as]] dalam khutbah pertama &#039;&#039;[[Nahjul Balaghah]]&#039;&#039; bersabda: {{arabic|و مَن اشار الیه فقد حدّه، وَ مَن حدّه فقد عدّه|translation=Barang siapa menunjuk kepada-Nya, maka ia telah membatasi-Nya, dan barang siapa membatasi-Nya, maka ia telah menghitung-Nya.}}.&amp;lt;ref&amp;gt;Nahj al-Balāghah, Khuṭbah 1.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ucapan ini, [[Imam Ali as]] dengan pernyataan yang sangat jelas menolak keterbatasan bagi [[Allah]] Yang Mahatinggi. Beliau menjelaskan bahwa karena Tuhan berada di atas segala bentuk isyarat dan hitungan, maka terbukti bahwa Dia tidak memiliki batas. Sebab, jika Tuhan memiliki batas, maka Dia dapat dihitung, padahal Tuhan sama sekali tidak dapat dihitung dan tidak dapat dijadikan bilangan. Dia adalah Esa dan tanpa sekutu. Maka jelaslah bahwa Tuhan tidak terbatas. Keterbatasan ini, jika ada, dapat berasal dari dua hal: baik dari sesuatu yang serupa dengan-Nya atau dari sesuatu yang bertentangan dengan-Nya. Namun, karena Tuhan suci dari segala bentuk keserupaan dan pertentangan, maka Dia juga suci dari segala bentuk keterbatasan.&amp;lt;ref&amp;gt;Ja‘farī, Muḥammad Taqī, Sharḥ Nahj al-Balāghah, Teheran, Daftar Nashr Farhang-e Islāmī, 1357 SH, Jilid 2, halaman 35–61.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Ali as dalam Khutbah Lainnya Bersabda: {{arabic|لا یشمل بحدِّ و لا یحسب بعدٍّ و انما تحد الادوات انفسها|translation=uhan tidak memiliki batas dan tidak dapat dihitung dengan angka, karena batas hanya berlaku pada alat-alat yang membatasi dirinya sendiri.}}.&amp;lt;ref&amp;gt;Nahj al-Balāghah, Khuṭbah 186.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernyataan ini dari Imam Ali as bertujuan untuk menegaskan bahwa Tuhan tidak terbatas. Dalam penjelasan yang lebih mendalam tentang pernyataan ini, dijelaskan bahwa &amp;quot;batas&amp;quot; berarti suatu pembatasan atau larangan. Misalnya, batas rumah adalah tempat yang tidak boleh dilalui, batas wilayah suatu negara ditentukan oleh arah tertentu seperti batas utara atau timur, dan sebagainya. Dalam ucapan ini, Imam Ali as menjelaskan bahwa Tuhan tidak memiliki batas seperti yang terdapat pada makhluk-Nya. Artinya, Tuhan tidak memiliki sifat terbatas yang hanya berlaku untuk-Nya dan tidak berlaku untuk makhluk lain, serta tidak dapat disamakan dengan makhluk-makhluk lain seperti manusia, pohon, malaikat, dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila Tuhan dianggap terbatas, berarti Dia akan menjadi makhluk tertentu di antara makhluk lainnya, dan hanya memiliki sebagian sifat atau kesempurnaan tertentu, seperti matahari yang memiliki sifat panas dan terang, air yang memiliki sifat tertentu, atau tanah yang memiliki sifat lainnya. Namun, Tuhan tidak terbatas pada sifat-sifat seperti itu, melainkan semua sifat dan kesempurnaan makhluk berasal dari-Nya sebagai sumber dari segala yang ada.&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, kita tidak dapat menganggap Tuhan memiliki batas, karena jika demikian, kita tidak bisa menghubungkan sifat-sifat terbatas yang ada pada makhluk dengan sumber dari semua wujud mereka, yaitu Tuhan. Tuhan yang terbatas oleh batas tertentu tidak akan dapat menjadi sumber dari segala sifat yang bertentangan yang ada pada makhluk. Tuhan adalah asal dari semua wujud dan kesempurnaan semua makhluk. Maka, dapat disimpulkan bahwa Tuhan adalah Maha Tak Terbatas. Penjelasan lebih lanjut mengenai masalah ini dapat ditemukan dalam referensi berikut.&amp;lt;ref&amp;gt;Sha‘rānī, dikutip dari: Ḥasanzādah, Hezār wa Yek Kalimah, Qom, Daftar Tablīghāt, 1379 SH, Jilid 4, halaman 212.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tuhan, Wujud Mutlak==&lt;br /&gt;
Argumen ketiga yang memiliki pendekatan filosofis mengenai ketidakterbatasan Tuhan adalah bahwa [[wujud mutlak]] itu identik dengan ketidakterbatasan. Karena keterbatasan berasal dari kekurangan dan ketiadaan, dan karena wujud mutlak tidak mengandung ketiadaan, serta tidak dapat mengandung kekurangan dan bilangan, maka wujud mutlak itu tidak terbatas. Oleh karena itu, karena Tuhan adalah wujud mutlak, eksistensi yang murni dan mutlak, maka mustahil bagi-Nya untuk terbatas.&amp;lt;ref&amp;gt;Muṭahharī, Murtaḍā, Majmū‘ah-ye Āthār, Jilid 6, Nashr Ṣadrā, 1379 SH, halaman 1017.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Tuhan terbatas, itu berarti Dia tidak sempurna atau bukan eksistensi yang murni, melainkan memiliki suatu hakikat, karena di mana ada perbedaan dan banyaknya, di situ pasti ada keterbatasan. Jika di suatu tempat tidak ada banyaknya, maka tidak ada keterbatasan. Dan karena Tuhan, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur&#039;an, «Katakanlah, Dia-lah Allah, Yang Maha Esa»&amp;lt;ref&amp;gt;QS. Al-Ikhlas: 1&amp;lt;/ref&amp;gt;, adalah tunggal dan tiada banding, maka tidak ada tempat untuk perbedaan dan banyaknya. Dengan demikian, Tuhan pun terbebas dari keterbatasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tuhan, Sebab dari Segala Sebab==&lt;br /&gt;
Alasan lain untuk ketidakterbatasan Tuhan adalah bahwa keterbatasan itu identik dengan ketergantungan dan keterbatasan sebagai akibat. Artinya, setiap makhluk yang tergantung pada sebab tertentu atau terpengaruh oleh sesuatu, pasti terbatas. Namun, karena Tuhan tidak tergantung pada sebab apapun dan tidak terpengaruh oleh sesuatu, melainkan Dia adalah sebab dari segala sebab, penyebab utama segala sesuatu, dan penguasa mutlak, maka jelas bahwa Tuhan tidak terbatas oleh apapun. Tuhan adalah tak terhingga dan tidak terbatas.&amp;lt;ref&amp;gt;Muṭahharī, Murtaḍā, Majmū‘ah-ye Āthār, Jilid 6, Nashr Ṣadrā, 1379 SH, halaman 1017.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tuhan, Wajibul Wujud==&lt;br /&gt;
Alasan lain adalah bahwa Tuhan adalah [[wajib wujud]] (keberadaanya wajib ada), dan kewajiban wujud itu identik dengan ketidakterbatasan dan tanpa akhir. Dengan kata lain, hakikat wujud itu sama dengan ketidakterbatasan, keharusan, kemurnian dan keesaan. Karena Tuhan adalah hakikat eksistensi, wujud murni, dan wajib wujud, maka Dia adalah tidak terbatas dan tak terhingga. Sebab, jika Tuhan tidak tidak terbatas dan tak terhingga, maka Dia tidak akan menjadi wajib wujud, padahal eksistensi Tuhan adalah wajib mutlak dan berdasarkan dirinya sendiri.&amp;lt;ref&amp;gt;Muṭahharī, Murtaḍā, Majmū‘ah-ye Āthār, Jilid 6, Nashr sebelumnya, halaman 1018.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ketidakberadaan Hakikat Tuhan==&lt;br /&gt;
Argumen lain untuk membuktikan ketakterbatasan Tuhan adalah bahwa keterbatasan selalu muncul dari hakikat (esensi). Artinya, hakikat adalah sumber munculnya keterbatasan pada makhluk. Hakikat itu sendiri adalah penentuan (ta&#039;ayyun) dan pembatasan. Karena Tuhan Mahasuci dari hakikat&amp;lt;ref&amp;gt;Ṣadr al-Muta’allihīn, Al-Asfār, Beirut, Dār al-Iḥyā’, tanpa tahun, Jilid 1, halaman 96.&amp;lt;/ref&amp;gt;, maka sebagai konsekuensinya, Ia juga Mahasuci dari segala bentuk penentuan dan batasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penjelasannya adalah sebagai berikut: semua makhluk memiliki hakikat, yaitu keberadaan yang tertentu dan memiliki batasan wujud yang khusus. Misalnya, ada yang berhakikat manusia, ada yang pohon, ada yang hewan, dan sebagainya. Oleh karena itu, makhluk-makhluk semacam ini terbatas. Akan tetapi, karena Tuhan Mahasuci dari segala bentuk hakikat dan penentuan wujud, maka Ia juga tidak memiliki keterbatasan. Dengan kata lain, karena Ia Mahasuci dari hakikat yang merupakan sumber penentuan dan keterbatasan, maka Ia sendiri juga tidak memiliki keterbatasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Studi Lebih Lanjut==&lt;br /&gt;
# Murtadha Mutahhari, Kumpulan Karya Jilid 4, Bagian Tauhid, Penerbit Sadra, 1377 H.&lt;br /&gt;
# Muhammad Taqi Misbah, Pengajaran Filsafat Jilid 2, hal. 356, Penerbit Organisasi Penyuluhan Islam, 1374 H.&lt;br /&gt;
# Muhammad Amin Sadeqi Urzgani, Ajaran Mistisisme dari Perspektif Ali (a.s.), Bab 2, Penerbit Pusat Penelitian dan Kebudayaan Islam, Qom, 1384 H.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch = کلام&lt;br /&gt;
 | subbranch1 = آفریدگار&lt;br /&gt;
 | subbranch2 = صفات سلبیه&lt;br /&gt;
 | subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه = شد&lt;br /&gt;
 | تیترها = شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش = شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی = شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه = شد&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر = شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی نویسنده =&lt;br /&gt;
 | بازبینی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت = ب&lt;br /&gt;
 | کیفیت = ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[رده:اسماء و صفات الهی]]&lt;br /&gt;
[[رده:برهان اثبات خدا]]&lt;br /&gt;
[[رده:شناخت و اثبات خدا]]&lt;br /&gt;
[[رده:صفات ثبوتیه]]&lt;br /&gt;
[[ps:د خدای لامحدودیت]]&lt;br /&gt;
[[fa: نامحدود بودن خداوند]]&lt;br /&gt;
[[bn: আল্লাহর অসীম সত্তা]]&lt;br /&gt;
[[ur: خدا کا لامحدود ہونا]]&lt;br /&gt;
[[en: The Boundlessness of God]]&lt;br /&gt;
[[ar: لا محدودیة لله تعالى]]&lt;br /&gt;
[[es:La infinitud de Dios]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Qadha_Dan_Qadar&amp;diff=959</id>
		<title>Qadha Dan Qadar</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Qadha_Dan_Qadar&amp;diff=959"/>
		<updated>2025-02-27T08:28:38Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{question}}&lt;br /&gt;
Apa yang dimaksud dengan Qadha dan Qadar?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Qadha dan Qadar Ilahi&#039;&#039;&#039; merupakan konsep mendasar dalam teologi [[Islam]] yang menjelaskan bagaimana peristiwa terjadi serta bagaimana pengaturan seluruh urusan di alam semesta dilakukan. Qadha berarti kepastian akhir dan mutlak dari suatu peristiwa setelah terpenuhinya semua syarat dan kondisi materialnya. Dengan kata lain, Qadha Ilahi adalah hasil pasti dari proses bertahap dan kausalitas yang membawa kepada terjadinya suatu peristiwa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Qadar, atau yang dikenal sebagai Takdir Ilahi, mengacu pada penentuan ukuran, batas, dan sifat setiap peristiwa oleh [[Allah]] swt. Penentuan ini dilakukan sesuai dengan berbagai faktor yang memengaruhi, dan secara bertahap terealisasi.&lt;br /&gt;
Dalam ajaran Islam, Qadha dan Qadar terbagi menjadi dua jenis:&lt;br /&gt;
* Qadha dan Qadar Ilmiah: Qadha dan Qadar Ilmiah berkaitan dengan pengetahuan Allah swt mengenai waktu, tempat, dan cara terjadinya setiap peristiwa. Dalam pandangan ini, Allah telah mengetahui dengan pasti bagaimana dan dalam kondisi apa setiap peristiwa akan terjadi. Pengetahuan ini mencakup segala hal, baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi. Pengetahuan Ilahi ini tidak bertentangan dengan kebebasan memilih manusia, karena Allah mengetahui dengan sempurna pilihan-pilihan yang akan diambil oleh manusia. Allah mengetahui arah yang akan diambil oleh setiap individu berdasarkan kehendak dan kebebasan yang dimilikinya.&lt;br /&gt;
* Qadha dan Qadar &#039;Aini: Qadha dan Qadar &#039;Aini merujuk pada realisasi atau terjadinya peristiwa secara faktual dan eksternal. Dalam konteks ini, Allah swt telah menentukan ukuran, karakteristik, dan batasan bagi setiap makhluk dan fenomena. Beberapa contoh dari Qadha dan Qadar ‘Aini mencakup bentuk fisik manusia, jenis kelamin, warna kulit, bahkan durasi hidupnya di dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perilaku dan tindakan manusia juga terjadi dalam kerangka Qadha dan Qadar ‘Aini ini. Meskipun terdapat batasan-batasan tersebut, manusia tetap memiliki kebebasan dan kehendak untuk memilih jalan hidup yang mereka inginkan.&lt;br /&gt;
Dalam pandangan dunia Islam, qadha dan qadar tidak bertentangan dengan pilihan dan kehendak manusia. Meskipun Allah swt telah menentukan ukuran dan batasan umum dari segala sesuatu, namun pilihan akhir dalam tindakan dan perbuatan berada di tangan manusia. Oleh karena itu, manusia bertanggung jawab atas konsekuensi dari keputusan dan perbuatannya sendiri.&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Ṭabarānī, Abū al-Qāsim (1415 H). [https://lib.efatwa.ir/42124/3/58/Al-Mu‘jam%20al-Kabīr Al-Mu‘jam al-Kabīr], Jilid 3, Kairo: Maktabah Ibn Taymiyyah, halaman 58.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Arti Qadha==&lt;br /&gt;
Kata &amp;quot;qadhā&amp;quot; dalam bahasa Arab bermakna memutuskan atau memberikan keputusan, baik itu berupa tindakan maupun perkataan, baik yang disandarkan kepada [[Allah]] swt maupun selain-Nya.&amp;lt;ref&amp;gt;Rāghib Iṣfahānī, Ḥusayn, Mufradāt Alfāẓ al-Qur’ān, halaman 406.&amp;lt;/ref&amp;gt; Selain itu, kata ini juga dapat merujuk pada tindakan menyelesaikan atau memberikan keputusan. Istilah &amp;quot;qādhī&amp;quot; (hakim) sendiri diambil dari arti ini, karena hakim bertugas untuk memberikan keputusan antara dua pihak dan menyelesaikan urusan mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Miṣbāḥ Yazdī, Muḥammad Taqī, Āmūzish-e Falsafah, Jilid 2, halaman 408.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;Miṣbāḥ Yazdī, Muḥammad Taqī, Āmūzish-e ‘Aqā’id, Jilid 1, halaman 180.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam konteks Qur&#039;ani, kata &amp;quot;qadhā&amp;quot; digunakan dalam tiga makna yang berbeda&amp;lt;ref&amp;gt;Ḥillī, Ḥasan. Kashf al-Marād, Qom: Mu’assasah Nashr Islāmī, halaman 315.&amp;lt;/ref&amp;gt;:&lt;br /&gt;
* Qadha dalam arti penciptaan, pembentukan, dan penyelesaian suatu urusan: {{quran|وَ قَضاهُنَّ سَبْعَ سَماواتٍ فِی یَوْمَیْنِ|ترجمه=Dia menciptakan tujuh langit dalam dua hari dan menyelesaikannya.|سوره=Fushshilat|آیه=12}}&lt;br /&gt;
* Dalam arti menetapkan dan mewajibkan suatu perintah: {{quran|وَ قَضی رَبُّکَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ إِیَّاهُ|ترجمه=Tuhanmu telah memutuskan (memerintahkan) agar kamu tidak menyembah selain Dia.|سوره=Al-Isra|آیه=23}}&lt;br /&gt;
* Dalam arti mengumumkan dan memberitahukan: {{quran|وَ قَضَیْنا إِلی بَنِی إِسْرائِیلَ فِی الْکِتابِ|ترجمه=Kami memberi keputusan kepada Bani Israil dalam kitab.|سوره=Al-Isra|آیه=4}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Qadha Ilahi, dalam terminologi para ulama ilmu kalam, merujuk pada pencapaian tahap akhir dan pasti dari suatu peristiwa setelah seluruh persiapan, sebab, dan kondisi yang diperlukan terpenuhi. Dengan kata lain, Qadha Ilahi menunjukkan bahwa setelah segala faktor dan syarat yang diperlukan untuk terjadinya suatu peristiwa lengkap, peristiwa tersebut akan mencapai tahap final dan tak terelakkan.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Arti Qadar==&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan qadar atau takdir ilahi adalah bahwa Allah swt telah menetapkan ukuran, batasan, serta kondisi kuantitatif, kualitatif, waktu, dan tempat tertentu bagi setiap fenomena. Tahap qadar adalah tahap yang mendahului qadha. Pada tahap qadar, Allah swt melakukan pengukuran dan menyediakan segala sebab serta kondisi yang diperlukan untuk terjadinya suatu peristiwa, sedangkan tahap qadha adalah tahap di mana peristiwa tersebut mencapai titik akhir dan terselesaikan.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;/&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Qadha dan Qadar Ilmiah dan Aini==&lt;br /&gt;
Qadha dan Qadar dibagi menjadi dua kategori: ilmiah dan aini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Qadha dan Qadar Ilmiah===&lt;br /&gt;
Qadar ilmiah berarti bahwa Allah swt sudah mengetahui sebelumnya kapan, di mana, dan dalam kondisi apa setiap peristiwa akan terjadi. Ilmu ilahi ini mencakup pengetahuan tentang persiapan yang diperlukan, sebab-sebab munculnya, dan kepastian terjadinya setiap peristiwa. Pengetahuan seperti ini dikenal sebagai qadar ilmiah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ilmu Allah tentang perbuatan dan pilihan manusia tidak bertentangan dengan kebebasan mereka. Allah mengetahui jalan yang akan dipilih oleh setiap individu, baik itu menuju dosa ataupun jalan amal yang saleh. Akibat dari perbuatan-perbuatan tersebut serta konsekuensinya juga berada dalam pengetahuan Allah. Dengan demikian, pengetahuan Allah yang mendahului pilihan dan perbuatan manusia tidak berarti menghapuskan kebebasan dan pilihan mereka, melainkan menunjukkan penguasaan Allah yang sempurna atas sistem sebab-akibat dan kebebasan di dunia ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Khaidānī, Leila (1388 HS). &amp;quot;Rābithah Qaḍā wa Qadar bā ‘Ilm-e Pīshīn-e Ilāhī wa Jabr wa Ikhtiyār az Didgāh-e Ṣadr al-Muta’allihīn&amp;quot;, Ta’amulāt-e Falsafī (2): 159–160.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Qadha dan Qadar &#039;Aini===&lt;br /&gt;
Semua makhluk di alam semesta, baik manusia maupun fenomena lainnya, memiliki batasan, ketentuan, dan karakteristik tertentu. Tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang sepenuhnya tidak terbatas; bahkan tindakan pilihan manusia pun dipengaruhi oleh kondisi dan pembatasan yang jelas. Sebagai contoh, manusia tidak dapat berbicara hanya dengan tangan atau mata; untuk dapat berbicara, kesehatan tenggorokan, lidah, gigi, dan bibir adalah hal yang sangat diperlukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Takdir yang nyata merujuk pada penentuan ukuran, batasan, dan karakteristik setiap fenomena, beserta kondisi-kondisi yang memungkinkan terjadinya fenomena tersebut. Takdir Ilahi ini mencakup sifat-sifat esensial dan syarat-syarat yang memungkinkan terjadinya sesuatu, seperti bagaimana setiap makhluk hadir dengan karakteristik tertentu, serta kapan dan di mana ia akan ada.&amp;lt;ref&amp;gt;Subḥānī, Ja‘far. Muḥāḍarāt fī al-Ilāhiyyāt, Qom, halaman 226–227.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch = کلام&lt;br /&gt;
| subbranch1 = عدل الهی&lt;br /&gt;
| subbranch2 = جبر و اختیار&lt;br /&gt;
| subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{ارزیابی&lt;br /&gt;
 | شناسه = شد &amp;lt;!--خالی | شد--&amp;gt;&lt;br /&gt;
 | عکس = &amp;lt;!--خالی | شد--&amp;gt;&lt;br /&gt;
 | درگاه = شد &amp;lt;!--خالی | شد--&amp;gt;&lt;br /&gt;
 | ادبیات = شد &amp;lt;!--خالی | شد--&amp;gt;&lt;br /&gt;
 | پیوند = شد &amp;lt;!--خالی | شد--&amp;gt;&lt;br /&gt;
 | ناوبری = &amp;lt;!--خالی | شد--&amp;gt;&lt;br /&gt;
 | تغییرمسیر = شد &amp;lt;!--خالی | شد--&amp;gt;&lt;br /&gt;
 | ارجاعات = شد &amp;lt;!--خالی | شد--&amp;gt;&lt;br /&gt;
 | ارزیابی کمی = شد &amp;lt;!--خالی | شد--&amp;gt;&lt;br /&gt;
 | ارزیابی کیفی = شد &amp;lt;!--خالی | شد--&amp;gt;&lt;br /&gt;
 | اولویت = ب &amp;lt;!--الف | ب | ج | د--&amp;gt;&lt;br /&gt;
 | کیفیت = متوسط &amp;lt;!--خیلی خوب | خوب | متوسط | ضعیف--&amp;gt;&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[رده:قضا و قدر| ]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[fa: قضا و قدر]]&lt;br /&gt;
[[bn: ক্বাজা ও ক্বাদার]]&lt;br /&gt;
[[ur: قضا و قدر]]&lt;br /&gt;
[[en: Divine Decree and Predestination]]&lt;br /&gt;
[[ru: Каза и Кадар]]&lt;br /&gt;
[[ar: القضاء والقدر]]&lt;br /&gt;
[[es:El Qadha y el Qadar]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Kata_Syiah_Dalam_Al-Quran&amp;diff=958</id>
		<title>Kata Syiah Dalam Al-Quran</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Kata_Syiah_Dalam_Al-Quran&amp;diff=958"/>
		<updated>2025-02-26T21:45:38Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{question}}&lt;br /&gt;
Apakah kata &amp;quot;Syiah&amp;quot; dalam Al-Qur&#039;an memiliki konotasi negatif? Mohon jelaskan makna &amp;quot;Syiah&amp;quot; dalam Al-Qur&#039;an?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;kata Syiah dalam Al-Qur&#039;an&#039;&#039;&#039; digunakan dalam berbagai makna. Kata ini pada awalnya berarti kelompok atau golongan, namun makna yang terkandung di dalamnya bisa berbeda tergantung pada konteks ayat. [[Syiah]] dalam arti pengikut: Dalam beberapa ayat [[Al-Qur&#039;an]], kata &amp;quot;Syiah&amp;quot; digunakan untuk merujuk pada pengikut atau orang-orang yang mengikuti tokoh atau keyakinan tertentu. Salah satu contohnya adalah ayat yang menyebutkan [[Nabi Ibrahim as]] sebagai &amp;quot;Syiah&amp;quot; dari [[Nabi Nuh as]]. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam beberapa ayat, kata &amp;quot;Syiah&amp;quot; digunakan secara umum untuk merujuk pada golongan atau umat-umat tertentu, bukan untuk menilai mereka secara positif atau negatif. Ini mengacu pada pembagian orang-orang menjadi kelompok-kelompok dengan keyakinan dan pandangan yang berbeda. Dalam beberapa kasus, kata &amp;quot;Syiah&amp;quot; dalam Al-Qur&#039;an digunakan untuk menggambarkan perpecahan dan pembelahan dalam agama, di mana kelompok-kelompok umat terpecah dan terpisah. Ini bisa menunjukkan pandangan negatif terhadap perpecahan dan ketidaksepakatan dalam umat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Arti Syiah Secara Bahasa dan Istilah==&lt;br /&gt;
[[Syiah]] secara bahasa berarti kelompok, golongan, suku, pengikut, dan pemimpin.&amp;lt;ref&amp;gt;Farāhīdī, Khalīl bin Aḥmad, Al-‘Ayn, tahqiq: Mahdī Makhzūmī - Ibrāhīm Sāmarā’ī, Qom, Mu’assasah Dār al-Hijrah, Cetakan kedua, 1409 H, Jilid 2, halaman 190.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
Jawharī, Ismā‘īl bin Ḥammād, Al-Ṣiḥāḥ, tahqiq: Aḥmad ‘Abd al-Ghafūr al-‘Aṭṭār, Beirut, Dār al-‘Ilm li al-Malāyīn, Cetakan keempat, 1407 H/1987 M, Jilid 3, halaman 1240.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sebuah bangsa yang memiliki kesepakatan terhadap suatu hal atau kenyataan disebut Syiah.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Manẓūr, Muḥammad bin Makram, Lisān al-‘Arab, Qom, Nashr Adab al-Ḥawzah, 1405 H, Jilid 8, halaman 188.&amp;lt;/ref&amp;gt; Jika pengikut Ahlul Bait as juga disebut Syiah, itu karena mereka adalah kelompok yang mengikuti pemikiran Ahlul Bait as.&lt;br /&gt;
Kata Syiah seiring waktu digunakan di kalangan sekte-sekte Islam untuk merujuk pada kelompok yang mempercayai kepemimpinan Ahlul Bait yang makshum.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Athīr al-Jazarī, Mubārak bin Muḥammad, Al-Nihāyah fī Gharīb al-Ḥadīth wa al-Athar, tahqiq: Ṭāhir Aḥmad al-Zāwī, Maḥmūd Muḥammad al-Ṭanāḥī, Qom, Mu’assasah Ismā‘īliyyān li al-Ṭibā‘ah wa al-Nashr wa al-Tawzī‘, Cetakan keempat, 1364 SH, Jilid 2, halaman 519.&amp;lt;/ref&amp;gt; Saat ini, Syiah merujuk pada segolongan umat Islam yang meyakini kepemimpinan dan imamah Ali as yang langsung setelah Nabi saw, dan berpendapat bahwa pengganti Nabi saw ditentukan melalui nas al-Qur&#039;an.&amp;lt;ref&amp;gt;Shaykh Mufīd, Muḥammad bin Muḥammad, Awā’il al-Maqālāt, halaman 35.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;Shahrastānī, Muḥammad bin ‘Abd al-Karīm, Al-Milal wa al-Niḥal, Jilid 1, halaman 146.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Penamaan Syiah untuk Pengikut Ali as Pertama Kali dari Nabi Muhammad saw==&lt;br /&gt;
Penamaan [[Syiah]] bagi pengikut Ali as pertama kali dilakukan oleh [[Nabi Muhammad saw]]. Al-Suyuti (seorang ulama Ahlulsunah) meriwayatkan dari [[Jabir bin Abdullah Al-Ansari]], [[Ibn Abbas]], dan [[Ali bin Abi Thalib]] bahwa Nabi Muhammad saw menafsirkan ayat: {{quran|إِنَّ الَّذينَ آمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحاتِ أُولئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ|translation=dengan merujuk kepada Ali dan bersabda: &amp;quot;Engkau dan pengikut-pengikutmu akan selamat pada hari kiamat.|Sura=Al-Bayyina|verse=65}}&amp;lt;ref&amp;gt;Suyūṭī, ‘Abd al-Raḥmān bin Abī Bakr, Al-Durr al-Manthūr fī al-Tafsīr bi al-Ma’thūr, Qom, Kitābkhānah ‘Āmmī Mar‘ashī Najafī, Cetakan pertama, 1404 H, Jilid 6, halaman 379.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kitab-kitab [[Ahlul Sunnah]] disebutkan: Kami sedang bersama Rasulullah saw ketika Ali datang, dan Rasulullah saw bersabda: ::&amp;quot;Demi Tuhan yang nyawaku ada di tangan-Nya, engkau dan pengikut-pengikutmu akan menjadi orang yang selamat pada hari kiamat.&amp;quot; Allah menurunkan ayat ini: {{quran|إِنَّ الَّذينَ آمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحاتِ أُولئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ|translation=dengan merujuk kepada Ali dan bersabda: &amp;quot;Engkau dan pengikut-pengikutmu akan selamat pada hari kiamat.|Sura=Al-Bayyina|verse=65}} Setiap kali sahabat Nabi saw melihat Ali, mereka berkata: {{arabic|جاء خیر البریة|translation=Ini adalah sebaik-baik makhluk Allah.}}&amp;lt;ref&amp;gt;Suyūṭī, ‘Abd al-Raḥmān bin Abī Bakr, Al-Durr al-Manthūr fī al-Tafsīr bi al-Ma’thūr, Qom, Kitābkhānah ‘Āmmī Mar‘ashī Najafī, Cetakan pertama, 1404 H, Jilid 6, halaman 379.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Syiah dalam Al-Qur&#039;an==&lt;br /&gt;
===Kelompok dan Golongan===&lt;br /&gt;
Salah satu makna utama kata &amp;quot;Syiah&amp;quot; dalam Al-Qur&#039;an adalah kelompok atau golongan. Dalam konteks ini, kata &amp;quot;Syiah&amp;quot; tidak memiliki konotasi positif maupun negatif. Berikut adalah beberapa contoh penggunaan kata &amp;quot;Syiah&amp;quot; dalam [[Al-Qur&#039;an]]:&lt;br /&gt;
* {{quran|قُلْ هُوَ الْقادِرُ عَلی أَنْ یَبْعَثَ عَلَیْکُمْ عَذاباً مِنْ فَوْقِکُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِکُمْ أَوْ یَلْبِسَکُمْ شِیَعاً |translation=Katakanlah: &amp;quot;Dia Maha Kuasa untuk mengirimkan azab kepada kalian dari atas atau dari bawah kaki kalian, atau Dia mencampurkan kalian dalam beberapa kelompok (Syiah).|Sura=Al-An’am|verse=65}}&lt;br /&gt;
* {{quran|وَ لَقَدْ أَرْسَلْنا مِنْ قَبْلِکَ فی شِیَعِ الْأَوَّلینَ|translation=Kami telah mengutus rasul-rasul sebelumnya di kalangan golongan umat terdahulu.|sura=Al-Hijr|verse=10}}&lt;br /&gt;
* {{quran|ثُمَّ لَنَنْزِعَنَّ مِنْ کُلِّ شیعَه أَیُّهُمْ أَشَدُّ عَلَی الرَّحْمنِ عِتِیًّا|translation=Kemudian, kami akan memisahkan dari setiap golongan (Syiah) siapa di antara mereka yang paling keras kepala terhadap Allah Yang Maha Pemurah.|sura=Maryam|verse=69}}&lt;br /&gt;
* {{quran|إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلا فِی الْأَرْضِ وَ جَعَلَ أَهْلَها شِیَعاً|translation=Sesungguhnya Fir’aun telah berlaku sombong di bumi dan membagi penduduknya ke dalam berbagai golongan (Syiah).|sura=Al-Qasas|verse=4}}&lt;br /&gt;
* {{quran| مِنَ الَّذینَ فَرَّقُوا دینَهُمْ وَ کانُوا شِیَعاً کُلُّ حِزْبٍ بِما لَدَیْهِمْ فَرِحُونَ|translation=(Mereka adalah) orang-orang yang membagi-bagi agama mereka dan menjadikannya golongan-golongan (Syiah); setiap golongan merasa senang dengan apa yang mereka miliki.|sura=Ar-Rum|verse=32}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Pengikut===&lt;br /&gt;
Penggunaan kedua kata &amp;quot;Syiah&amp;quot; dalam Al-Qur&#039;an adalah untuk makna pengikut, yaitu orang yang mengikuti atau tunduk pada pemikiran atau ajaran tertentu. Dalam konteks ini, jika seseorang mengikuti sosok yang baik dan benar, maka &amp;quot;Syiah&amp;quot; memiliki makna positif. Sebaliknya, jika seseorang mengikuti sosok yang zalim, maka &amp;quot;Syiah&amp;quot; memiliki makna negatif. Beberapa ayat yang menunjukkan makna ini adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
* {{quran|وَ إِنَّ مِنْ شیعَتِهِ لَإِبْراهیمَ|ترجمه=و از پیروان او ابراهیم بود|Sura=As-Saffat|verse=83}}, Dalam ayat ini, [[Nabi Ibrahim as]] disebut sebagai pengikut [[Nabi Nuh as]].&lt;br /&gt;
* {{quran|وَ دَخَلَ الْمَدینَه عَلی حینِ غَفْلَه مِنْ أَهْلِها فَوَجَدَ فیها رَجُلَیْنِ یَقْتَتِلانِ هذا مِنْ شیعَتِهِ وَ هذا مِنْ عَدُوِّهِ فَاسْتَغاثَهُ الَّذی مِنْ شیعَتِهِ عَلَی الَّذی مِنْ عَدُوِّهِ فَوَکَزَهُ مُوسی فَقَضی عَلَیْهِ قالَ هذا مِنْ عَمَلِ الشَّیْطانِ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُبینٌ|translation=Ketika ia memasuki kota pada saat penduduknya lengah, ia melihat dua orang yang sedang berkelahi, satu dari pengikutnya (dari Bani Israil) dan satu lagi dari musuhnya. Pengikutnya meminta bantuan kepada Musa terhadap musuhnya. Musa kemudian memukulnya hingga ia mati. Musa berkata: &amp;quot;Ini adalah perbuatan setan, sesungguhnya dia adalah musuh yang jelas dan menyesatkan.|sura=Al-Qasas|verse=15}}, Dalam ayat ini, kata &amp;quot;Syiah&amp;quot; digunakan untuk menyebut pengikut [[Nabi Musa as]] dan juga pengikut [[Fir’aun]].&lt;br /&gt;
* {{quran|وَ حیلَ بَیْنَهُمْ وَ بَیْنَ ما یَشْتَهُونَ کَما فُعِلَ بِأَشْیاعِهِمْ مِنْ قَبْلُ إِنَّهُمْ کانُوا فی شَکٍّ مُریبٍ|translation=Dan di antara mereka dan apa yang mereka inginkan terdapat penghalang, sebagaimana yang telah dilakukan terhadap pengikut-pengikut mereka sebelumnya, karena mereka berada dalam keraguan yang membingungkan.|sura=Saba|cerse=54}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Perpecahan dan Perbedaan Pemikiran===&lt;br /&gt;
Kadang-kadang, kata &amp;quot;Syiah&amp;quot; digunakan untuk menggambarkan perpecahan dan penyebaran dalam pemikiran, yang tercela. Salah satu contohnya adalah:&lt;br /&gt;
* {{quran|إِنَّ الَّذینَ فَرَّقُوا دینَهُمْ وَ کانُوا شِیَعاً لَسْتَ مِنْهُمْ فی شَیْءٍ|translation=Sesungguhnya orang-orang yang membagi-bagi agama mereka dan terpecah dalam berbagai golongan (mazhab), maka kamu tidak ada kaitannya dengan mereka sedikit pun!|sura=Al-An’am|verse=159}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bacaan Lebih Lanjut==&lt;br /&gt;
# Syiah dalam Islam, Muhammad Husayn Tabatabai&lt;br /&gt;
# Syiah dalam Al-Qur&#039;an, Amir Zahiri&lt;br /&gt;
# Syiah di Hadapan Al-Qur&#039;an dan Ahlul Bait, Terjemahan Jilid 65 dari Bihar al-Anwar (dari kumpulan 110 jilid, edisi Beirut), Terjemahan: Ali Tehrani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch = علوم و معارف قرآن&lt;br /&gt;
| subbranch1 = مفردات قرآن&lt;br /&gt;
| subbranch2 =&lt;br /&gt;
| subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه = شد&lt;br /&gt;
 | تیترها = شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش = شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی = شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر = شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی نویسنده =&lt;br /&gt;
 | بازبینی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت = ب&lt;br /&gt;
 | کیفیت = ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa: کلمه شیعه در قرآن]]&lt;br /&gt;
[[bn: কুরআনে শিয়া শব্দ]]&lt;br /&gt;
[[en: The Term Shi‘a in the Quran]]&lt;br /&gt;
[[ar: كلمة شيعة في القرآن الكريم]]&lt;br /&gt;
[[ru:Слово шиа в Коране]]&lt;br /&gt;
[[ur:لفظ شیعہ قرآن میں]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Pandangan_Wahabi_Tentang_Tawasul&amp;diff=957</id>
		<title>Pandangan Wahabi Tentang Tawasul</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Pandangan_Wahabi_Tentang_Tawasul&amp;diff=957"/>
		<updated>2025-02-25T21:50:21Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Bagaimana pandangan Wahabi mengenai tawasul (berperantara) kepada Al-Qur&#039;an dan Ahlul Bait, dan bagaimana pandangan mereka dapat dibantah?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
{{portal|سنت}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tawasul kepada [[para nabi]] dan Ahlul Bait as dalam mazhab [[Syiah]] dianggap sebagai tindakan yang sah dan efektif. Orang-orang beriman percaya bahwa Ahlul Bait as dapat menjadi perantara antara Allah dan hamba-hamba-Nya, memberikan syafaat di dunia dan akhirat, serta menjawab doa dan permintaan orang-orang beriman di saat-saat sulit. Tindakan ini dianggap sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan terkabulnya doa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa pada berbagai masa, orang-orang beriman telah melakukan tawasul kepada [[Ahlul Bait as]] dan meminta pertolongan dari mereka. Ziarah-ziarah terkenal seperti Ziarah Asyura dan Ziarah Jami&#039;ah Kabirah adalah contoh-contoh tawasul dalam doa dan ziarah, di mana syafaat dan pertolongan Ahlul Bait as disebutkan. Tindakan ini membantu memperkuat iman dan mendekatkan diri kepada Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu topik yang telah umum di kalangan semua Muslim sepanjang sejarah adalah masalah [[istighatsah]] (meminta pertolongan) dan meminta hajat dari para wali Allah, yang diterima oleh semua [[Muslim]] kecuali [[Wahabi]], yang menganggap tindakan ini sah dan diperbolehkan. Sebenarnya, manusia dengan melakukan istighatsah menjadikan keberadaan suci [[Nabi saw]] dan [[para imam maksum as]] sebagai perantara rahmat dan percaya bahwa segala urusan berada di bawah kekuasaan Allah Yang Maha Tinggi, dan seseorang menjadikan para imam maksum as sebagai perantara antara dirinya dan Allah Yang Maha Tinggi. Namun, para ulama Wahabi memiliki pandangan khusus dan tidak menganggap tindakan ini diperbolehkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahabi memiliki pandangan yang tidak konsisten mengenai [[tawasul]]. [[Muhammad bin Abdul Wahhab]] menganggapnya sebagai pelanggaran terhadap Islam secara mutlak dan menganggapnya sebagai bukti kekafiran. Namun, mereka mengizinkan tawasul kepada nama-nama dan sifat-sifat [[Allah]] serta [[Al-Qur&#039;an]]. Wahabi kontemporer memiliki pandangan yang lebih rinci mengenai tawasul. Muslim non-Wahabi memiliki pandangan yang bertentangan dengan Wahabi. Selain itu, terdapat dalil-dalil yang membolehkan tawasul baik dalam Al-Qur&#039;an maupun dalam hadis dan perkataan ulama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pendahuluan ==&lt;br /&gt;
=== Istilah-Istilah ===&lt;br /&gt;
==== 1. Tawasul ====&lt;br /&gt;
Secara bahasa, tawasul berasal dari kata &amp;quot;washl&amp;quot; yang berarti mendekat atau mencari kedekatan melalui suatu perbuatan.&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Kitab Al-Ain|year=1409|last=Khalil bin Ahmad|first=Farahidi|publisher=Muassasah Dar Al-Hijrah|volume=1|page=871}}&amp;lt;/ref&amp;gt; Al-Fayumi menjelaskan maknanya: {{arabic|توسل الی ربه بوسیله تقرب الیه بعمل}}  yang berarti mendekat kepada Allah melalui suatu perbuatan.&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Al-Mishbah Al-Munir|year=1428|last=Ahmad bin Muhammad|first=Abul Abbas Al-Fayumi|publisher=Al-Maktabah Al-Asriyah|volume=2|page=660}}&amp;lt;/ref&amp;gt; Penulis [[Lisan Al-Arab]] juga setuju dengan makna ini.&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Lisan Al-Arab|year=1408|last= Muhammad bin Mukarram|first=Ibnu Manzur|publisher=Dar Ihya&#039; At-Turath Al-Arabi|volume=11|page=724}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara istilah, tawasul berarti mencari kedekatan dan mendekatkan diri, karena umumnya tawasul dimaknai sebagai seseorang yang menjadikan sesuatu atau seseorang sebagai perantara di hadapan Allah agar doanya diterima dan dia mencapai tujuannya. Oleh karena itu, dikatakan bahwa secara istilah, {{Arabic|فالتوسل هو التوصل الی المراد و السعی فی تحقیقه}}&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Ushul Al-Iman fi Dhau&#039; Al-Kitab wa As-Sunnah|year=1421|last=Nukhbat min Al-Ulama|publisher=Kementerian Urusan Islam, Wakaf, Dakwah, dan Bimbingan|volume=1|page=57}}&amp;lt;/ref&amp;gt;, dan penulis kitab [[Al-Ziyarah wa At-Tawasul|Al-Ziyarah wa At-Tawasul]] mendefinisikannya sebagai: seorang hamba mendekat kepada Allah melalui sesuatu yang menjadi perantara baginya untuk terkabulnya doa dan tercapainya keinginan.&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Al-Ziyarah wa At-Tawasul|year=1421|last=Abdul Hamid|first=Sa&#039;ib|publisher=Markaz Ar-Risalah|page=6|location=Qom}}&amp;lt;/ref&amp;gt; Namun, ini tidak berarti meminta sesuatu secara independen dari Nabi atau Imam, melainkan meminta kepada Allah melalui [[amal saleh]], mengikuti Nabi dan Imam, atau memohon syafaat mereka, atau bersumpah kepada Allah dengan kedudukan dan ajaran mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Tafsir Nemuneh|year=1374|last=Naser|first=Makarem Shirazi|publisher=Dar Al-Kutub Al-Islamiyah|volume=4|page=365|location=Tehran}}&amp;lt;/ref&amp;gt; Oleh karena itu, terdapat kesesuaian antara makna bahasa dan istilah tawasul, di mana kedekatan dan pencapaian tujuan dipertimbangkan dalam keduanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Istighatsah&lt;br /&gt;
[[Istighatsah]] memiliki kedekatan makna dengan tawasul dan berasal dari kata &amp;quot;ghauts&amp;quot; yang berarti pertolongan.&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits wa Al-Athar|year=1979|last=Mubarak bin Muhammad|first=Ibn Al-Athir Al-Jazari|publisher=Al-Maktabah Al-Ilmiyah|volume=3|page=393|location=Beirut}}&amp;lt;/ref&amp;gt; Ketika makna permintaan (istif&#039;al) digunakan, maka maknanya menjadi meminta pertolongan, dan dengan demikian memiliki makna yang sama dengan tawasul, sebagaimana dalam hadis Nabi, istighatsah digunakan sebagai pengganti tawasul: {{Arabic|ان الشمس تدعوا یوم القیامة حتی یبلغ العرق نصف الاذن فبینما هم کذلک استغاثوا بآدم ثم موسی ثم بمحمد صلی الله علیه و السلم|translation=Pada hari kiamat, matahari akan mendekat sehingga keringat mencapai tengah telinga, dan ketika orang-orang dalam keadaan seperti itu, mereka meminta pertolongan kepada Nabi Adam, kemudian Nabi Musa, dan kemudian Nabi Muhammad saw.}}&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Al-Jami&#039; As-Sahih|year=1407|last= Muhammad bin Ismail|first=Al-Bukhari|publisher=Dar Al-Kathir|volume=5|page=474|location=Beirut}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Syafaat&lt;br /&gt;
[[Syafaat]] berasal dari kata &amp;quot;shaf&#039;a&amp;quot;, yang berarti menggabungkan dua atau lebih hal; oleh karena itu, makna syafaat adalah meminta pertolongan dari para wali dan nabi pada hari kiamat untuk diselamatkan dari [[neraka]], yang tentu saja ini adalah bentuk tawasul. [[Al-Samhudi]] menulis: {{Arabic|التوسل به صلی الله تعالی علی و سلم فی عرصات القیامة فیشفع الی ربه تعالی|translation=Tawasul kepada Rasulullah saw juga ada di padang mahsyar, di mana beliau akan memberikan syafaat kepada Allah Yang Maha Tinggi.}}&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Wafa&#039; Al-Wafa bi Akhbar Dar Al-Mustafa|year=1419|last=Ali bin Abdullah|first=As-Samhudi|publisher=Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah|volume=1|page=196|location=Beirut}}&amp;lt;/ref&amp;gt; Namun, kata syafaat dengan makna ini terkadang juga digunakan dalam arti tawasul secara umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tawasul dalam Mazhab Wahabi==&lt;br /&gt;
===Pandangan Wahabi===&lt;br /&gt;
Beberapa Wahabi membagi tawasul menjadi yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan. Salah satu bentuk tawasul yang diperbolehkan adalah tawasul kepada [[nama-nama]] dan [[sifat-sifat Allah]]; yaitu, menurut Wahabi, tawasul kepada Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya adalah diperbolehkan, sebagaimana firman Allah dalam ayat: {{Quran|وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَی فَادْعُوهُ بِهَا|Surah=Al-A&#039;raf|Ayat=180}}.&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Manhaj Asy-Syaikh Abdul Razzaq Afifi wa Juhuduhu fi Taqrir Al-Aqidah wa Ar-Radd &#039;ala Al-Mukhalifin|year=1431|last=Ahmad bin Ali|first=Az-Zamili Al-Asiri|publisher=Universitas Imam Muhammad bin Saud Al-Islamiyah|page=276|location=Riyadh|editor=Abdurrahman bin Abdullah bin Abdul Muhsin At-Turki}}&amp;lt;/ref&amp;gt; Dan berdasarkan beberapa ayat Al-Qur&#039;an seperti: &amp;quot;Dan sesungguhnya masjid-masjid itu milik Allah, maka janganlah kamu menyembah selain Allah seorang pun&amp;quot;, &amp;quot;Katakanlah: Hanya milik Allah segala syafaat&amp;quot;, dan &amp;quot;Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan mudarat dan tidak pula manfaat kepada mereka, dan mereka berkata: &#039;Mereka adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah.&#039; Katakanlah: &#039;Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan di bumi?&#039; Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan&amp;quot;, maka segala bentuk perantara antara Allah dan manusia dianggap sebagai syirik.&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Majmu&#039;ah Al-Mu&#039;allafat|last= Muhammad bin Abdul Wahhab|page=385}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Majmu&#039;ah Al-Mu&#039;allafat|last= Muhammad bin Abdul Wahhab|page=9|volume=6}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Majmu&#039;ah Al-Mu&#039;allafat|last= Muhammad bin Abdul Wahhab|page=68|volume=6}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Majmu&#039;ah Al-Mu&#039;allafat|last= Muhammad bin Abdul Wahhab|page=213|volume=6}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, Wahabi mengizinkan tawasul kepada [[Al-Qur&#039;an]] karena Al-Qur&#039;an dianggap sebagai salah satu sifat Allah. Mereka mengatakan bahwa tawasul kepada Al-Qur&#039;an diperbolehkan karena Al-Qur&#039;an, baik dari segi lafal maupun makna, adalah kalam Allah, dan [[kalam Allah]] adalah salah satu sifat Allah. Jadi, tawasul kepada Al-Qur&#039;an adalah tawasul kepada salah satu sifat Allah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Hal ini tidak bertentangan dengan tauhid dan tidak mengarah pada syirik.&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Lajnah Ad-Da&#039;imah lil Buhuts Al-Ilmiyah wal Ifta&#039;, Fatawa Al-Lajnah Ad-Da&#039;imah, Al-Majmu&#039;ah Al-Ula, Arab Saudi, Riyadh, Ri&#039;asah Idarat Al-Buhuts Al-Ilmiyah wal Ifta&#039; - Al-Idarah Al-&#039;Ammah lith-Thiba&#039;, pengumpulan dan penyusunan: Ahmad bin Abdul Razzaq Ad-Duwaisy, jilid 1, halaman 519.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, mereka tidak mengizinkan tawasul kepada [[para wali]], [[para nabi]], dan [[Ahlul Bait]] Rasulullah. [[Muhammad bin Abdul Wahhab]] berkata: &amp;quot;Jika seseorang berkata, &#039;Ya Allah, aku bertawasul kepada-Mu melalui Nabi-Mu saw agar Engkau melimpahkan rahmat-Mu kepadaku,&#039; maka orang tersebut telah melakukan syirik dan keyakinannya adalah keyakinan orang-orang musyrik.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammad bin Abdul Wahhab, Tathir Al-I&#039;tiqad, tanpa penerbit, tanpa tahun, halaman 36; Rasa&#039;il &#039;Amaliyah, tanpa penerbit, tanpa tahun, halaman 145.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Tathir Al-I&#039;tiqad|last= Muhammad bin Abdul Wahhab|page=36}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pandangan Wahabi Kontemporer====&lt;br /&gt;
Wahabi kontemporer dalam masalah ini terbagi dan membagi tawasul kepada para wali Allah menjadi beberapa jenis:&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Manhaj Al-Syaikh Abdul Razzaq Afifi wa Juhuduhu fi Taqrir Al-Aqidah wa Ar-Radd &#039;ala Al-Mukhalifin|last=Ahmad bin Ali Az-Zamili|first=Al-Asiri|pages=274–277}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Jenis Pertama: Seseorang meminta kepada wali Allah yang masih hidup untuk memohon kepada Allah agar diberikan rezeki yang luas, kesembuhan bagi orang sakit, dan sebagainya. Menurut mereka, jenis tawasul ini diperbolehkan.&lt;br /&gt;
   &lt;br /&gt;
2. Jenis Kedua: Seseorang memanggil Allah dan bertawasul dengan cinta dan kasih sayang antara dirinya dengan Nabi atau antara dirinya dengan para wali Allah. Jenis tawasul ini juga diperbolehkan. Misalnya, seseorang berkata: {{Arabic|اللهم إنی أسألك بحبی لنبیك واتباعی له وبحبی لأولیائك أن تعطینی كذا}} (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan cintaku kepada Nabi-Mu dan dengan mengikutinya, serta dengan cintaku kepada para wali-Mu, agar Engkau memberiku ini dan itu).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Jenis Ketiga: Tawasul kepada kedudukan dan martabat Nabi atau para wali Allah. Misalnya, seseorang berkata: {{Arabic|اللهم إنی أسألك بجاه نبیك أو بجاه الحسین}} (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan kedudukan Nabi-Mu atau dengan kedudukan Husain). Jenis tawasul ini tidak diperbolehkan karena dilakukan setelah wafatnya para nabi dan wali, meskipun kedudukan mereka agung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Jenis Keempat: Tawasul kepada para wali Allah secara langsung dan meminta hajat kepada Allah melalui mereka. Misalnya, seseorang berkata: {{Arabic|اللهم إنی أسألک کذا بولیک فلان أو بحق نبیک فلان}} (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ini dan itu melalui wali-Mu si fulan atau dengan hak Nabi-Mu si fulan). Jenis tawasul ini juga tidak diperbolehkan. Wahabi berpendapat bahwa tidak ada makhluk yang memiliki hak atas Allah sehingga Allah dapat diminta untuk memenuhi hajat melalui mereka. Menurut Wahabi, jenis tawasul ini termasuk dalam bentuk syirik yang jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pandangan Muhammad bin Abdul Wahhab====&lt;br /&gt;
[[Muhammad bin Abdul Wahhab]] menganggap tawasul sebagai salah satu hal yang membatalkan Islam. Dia berkata bahwa jika seseorang menjadikan perantara antara dirinya dan Allah dan meminta syafaat dari mereka, hal itu dapat menyebabkan kekafiran.&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title= Majmu&#039;ah Rasa&#039;il fi At-Tauhid wa Al-Iman|last= Muhammad bin Abdul Wahhab|first=Sulaiman At-Tamimi An-Najdi|publisher=Universitas Imam Muhammad bin Saud|page=385|location=Riyadh|editor=Ismail bin Muhammad Al-Ansari}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bantahan terhadap Pandangan Wahabi oleh Ahlusunah==&lt;br /&gt;
Bantahan pertama terhadap Muhammad bin Abdul Wahhab datang dari saudaranya sendiri, [[Sulaiman bin Abdul Wahhab]], dalam bukunya [[Al-Shawa&#039;iq Al-Ilahiyyah fi Ar-Radd &#039;ala Al-Wahabiyyah]]. Penyimpangan Wahabi dalam masalah tawasul selalu dikritik oleh Ahlusunah. Seperti yang dikatakan oleh As-Salami: {{Arabic|القول بجواز التوسل و استجابه هو قول جمهور علماء اهل السنه و الجماعه، بل هو قول المسلمین بجمیع فرقهم و مذاهبهم الا المذهب الذی ینتسب الیه مدعو السلفیه}} (Pendapat yang membolehkan tawasul dan meminta pertolongan adalah pendapat mayoritas ulama Ahlusunah, bahkan ini adalah pendapat semua Muslim dari berbagai mazhab kecuali mazhab yang diikuti oleh mereka yang mengklaim sebagai Salafi).&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Haqiqah Al-Hiwar ma&#039;a Al-Syaikh Al-Ja&#039;fari|year=1415|last=Abdurrahman|first=As-Salami|publisher=Ad-Dakwah wa Al-Irsyad|page=85|location=Arab Saudi}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Al-Saqqaf Al-Qurashi]] berkata: &amp;quot;Meminta pertolongan dan syafaat melalui Nabi saw kepada Allah tidak pernah diingkari oleh ulama terdahulu maupun sekarang, sampai datangnya Ibnu Taimiyah yang mengingkarinya dan menyimpang dari jalan yang lurus. Dia mengada-adakan sesuatu yang tidak pernah dikatakan oleh seorang ulama pun sebelumnya. Jika perkataan Ibnu Taimiyah benar, mengapa Nabi saw mengajarkan seorang laki-laki untuk bertawasul melalui beliau kepada Allah: {{Arabic|اللهم إنی أتوجه الیک بنبیک محمد نبی الرحمة}} (Ya Allah, aku menghadap kepada-Mu melalui Nabi-Mu Muhammad, Nabi pembawa rahmat)? Apakah dengan tawasul ini menjadi syirik kepada Allah? Dan apakah Nabi saw mengajarkan sesuatu yang mengarahkan manusia kepada syirik? Maha Suci Allah, ini adalah tuduhan besar.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Sahih Syarh Al-Aqidah Al-Thahawiyyah min Fikr Al-Bait|year=1991|last=Hasan bin Ali|first=As-Saqqaf Al-Qurashi|page=36}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tawasul Imam Syafi&#039;i kepada Ahlul Bait Nabi saw==&lt;br /&gt;
[[Ibnu Hajar Al-Makki]] dalam [[Al-Shawa&#039;iq Al-Muhriqah]] meriwayatkan dari [[Imam Syafi&#039;i]], pemimpin terkenal [[Ahlusunah]], bahwa Imam Syafi&#039;i bertawasul kepada [[Ahlul Bait]] Nabi saw dan mengutip syair terkenal darinya:&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Syawahid Al-Haq fi Al-Istifathah bi Sayyid Al-Khalq|last=Yusuf bin Ismail|first=An-Nabhani|page=167|editor=Offset/Hussein Hilmi bin Said Istanbul}}&amp;lt;/ref&amp;gt;{{Poem|آل النبی ذریعتی|و هم الیه وسیلتی|Keluarga Nabi adalah perantara saya|Mereka adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya}}{{Poem|ارجوا بهم أعطی غداً|بید الیمین صحیفتی|Saya berharap melalui mereka, besok|Buku catatan amal saya akan diberikan di tangan kanan saya}}Dari riwayat-riwayat ini, jelas bahwa tawasul kepada Nabi saw untuk memenuhi kebutuhan dan hajat adalah diperbolehkan. Bahkan, Nabi saw memerintahkan seorang laki-laki buta untuk bertawasul melalui beliau kepada Allah untuk memenuhi kebutuhannya. Inilah filosofi sebenarnya dari tawasul, di mana orang-orang yang membutuhkan dan berdosa menggunakan para wali Allah sebagai perantara untuk mencapai keinginan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tawasul dalam Mazhab Syiah==&lt;br /&gt;
===Pandangan Mazhab Syiah===&lt;br /&gt;
[[Tawasul]] secara bahasa berarti memilih perantara, dan perantara berarti sesuatu yang mendekatkan seseorang kepada yang lain. [[Lisan Al-Arab]] mengatakan: &amp;quot;Tawasul kepada Allah dan memilih perantara adalah melakukan suatu tindakan yang mendekatkan seseorang kepada Allah, dan perantara berarti sesuatu yang digunakan seseorang untuk mendekatkan diri kepada sesuatu yang lain.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Lisan Al-Arab|last= Muhammad bin Mukarram|first=Ibnu Manzur|publisher=Nasyr Adab Al-Hawzah|volume=8|page=69}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesalahan besar [[Wahabi]] adalah mereka menganggap para wali Allah sebagai penolak bahaya dan sumber independen pemenuhan kebutuhan serta penghilang kesulitan. Padahal, makna tawasul bukanlah demikian. Ketika kita bertawasul kepada Nabi saw, kita tidak menganggap beliau sebagai sumber independen dalam memberikan pengaruh atau menghilangkan bahaya, sehingga kita menyembahnya. Tawasul yang diajarkan Al-Qur&#039;an adalah mendekatkan diri kepada Allah melalui beliau, yaitu beliau memberikan syafaat di hadapan Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Syi&#039;ah Menjawab|last=Naser|first=Makarem Shirazi|page=233|location=Qom, Madrasah Imam Ali bin Abi Thalib as}}&amp;lt;/ref&amp;gt; Ini seperti seseorang yang ingin pergi ke rumah seorang tokoh besar yang tidak dikenalnya, lalu meminta seseorang yang mengenal tokoh tersebut untuk menemaninya dan memperkenalkannya, sehingga tokoh tersebut dapat membantunya. Tindakan ini bukanlah penyembahan atau pengakuan independen terhadap pengaruh seseorang. Oleh karena itu, klaim bahwa tawasul adalah syirik adalah klaim tanpa dasar.&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Syi&#039;ah Menjawab|last=Naser|first=Makarem Shirazi|location=Qom, Madrasah Imam Ali bin Abi Thalib as|page=234}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, pandangan Wahabi bertentangan dengan ajaran Al-Qur&#039;an, sehingga ulama [[Sunni]] dan [[Syiah]] menganggapnya sebagai bid&#039;ah Wahabi dan menolaknya. Wahabi menggunakan masalah ini untuk mengkafirkan Muslim dan memanfaatkannya untuk kepentingan mereka. Seorang ulama Ahlusunah, As-Subki, berkata bahwa tawasul, istighatsah, dan meminta syafaat melalui Nabi saw kepada Allah adalah tindakan yang terpuji, dan tidak ada seorang pun dari ulama terdahulu maupun sekarang yang mengingkarinya, sampai datangnya Ibnu Taimiyah yang mengingkarinya dan menyimpang dari jalan yang lurus. Dia mengada-adakan sesuatu yang tidak pernah dikatakan oleh seorang ulama pun sebelumnya, dan dengan bid&#039;ah ini, dia menciptakan perpecahan di antara umat Islam.&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Faidh Al-Qadir Syarh Jami&#039; Al-Shaghir|year=1356|last=Abdurrauf|first=Al-Munawi|publisher=Al-Maktabah Al-Tijariyah Al-Kubra|volume=2|page=135|location=Mesir}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Tawasul dalam Al-Qur&#039;an===&lt;br /&gt;
Pandangan Wahabi ini jelas bertentangan dengan beberapa ayat [[Al-Qur&#039;an]]. Dalam Al-Qur&#039;an, terdapat banyak ayat yang menunjukkan kebolehan tawasul untuk memenuhi kebutuhan, pengampunan dosa, dan mendekatkan diri kepada Allah. Salah satunya adalah ayat berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah berfirman kepada orang-orang beriman: {{Quran|یا أَیهَا الَّذینَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَ ابْتَغُوا إِلَیهِ الْوَسیلَه وَ جاهِدُوا فی سَبیلِهِ لَعَلَّکُمْ تُفْلِحُونَ|translation=Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (perantara) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya agar kamu beruntung.|Surah=Al-Maidah|Ayat=35}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penulis tafsir Al-Maraghi, seorang ulama Ahlusunah, mengatakan bahwa yang dimaksud dengan wasilah dalam ayat ini adalah sesuatu yang digunakan untuk mendapatkan keridhaan Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Kemudian dia mengutip hadis dari [[Shahih Al-Bukhari]] dan kitab-kitab sunan lainnya di mana Rasulullah saw dijadikan sebagai wasilah. Dalam hadis ini, Nabi saw bersabda: {{Arabic|من قال حین یسمع النداء (الاذان) اللهم رب هذاه الدعوه التامه و الصلاة القائمة آت محمدا الوسیلة والفضیلة و ابعثه المقام المحمود الذی وعدته، حلت له شفاعتی یوم القیامه|translation=Barangsiapa yang ketika mendengar azan berkata: &amp;quot;Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini dan shalat yang didirikan, berikanlah kepada Muhammad wasilah dan keutamaan, dan bangkitkanlah dia di tempat terpuji yang Engkau janjikan,&amp;quot; maka syafaatku akan halal baginya pada hari kiamat.}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadis ini dengan jelas menunjukkan bahwa Nabi saw sendiri adalah wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan karena itu, beliau memiliki kedudukan terpuji di sisi Allah sehingga pada hari kiamat beliau dapat memberikan syafaat kepada orang-orang beriman. Oleh karena itu, tawasul sama sekali tidak menyebabkan syirik atau kekafiran. Jika demikian, menjadikan Nabi saw sebagai wasilah akan menyebabkan kekafiran dan syirik.&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Tafsir Al-Maraghi|last=Ahmad bin Mustafa|first=Al-Maraghi|volume=6|page=109}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Tawasul dalam Hadis===&lt;br /&gt;
Dalam sumber-sumber [[Syiah]], masalah tawasul sangat jelas sehingga tidak perlu mengutip hadis. Namun, sebagai contoh, kami akan menyebutkan beberapa riwayat yang terdapat dalam kitab-kitab terkenal [[Ahlusunah]]:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Tawasul kepada Nabi untuk Mengatasi Kelaparan&lt;br /&gt;
Selain tidak ada syirik atau kekafiran dalam tawasul, tawasul kepada Nabi saw setelah wafatnya adalah bukti jelas kebolehan tawasul jenis ini. Diriwayatkan bahwa terjadi kelaparan hebat di Madinah. Sekelompok orang mendatangi Aisyah dan meminta solusi. [[Aisyah]] berkata: &amp;quot;Pergilah ke samping makam Nabi saw, buatlah lubang di atap di atas makam sehingga langit terlihat dari sana, dan tunggulah hasilnya.&amp;quot; Mereka pergi dan melubangi atap itu sehingga langit terlihat, dan hujan pun turun dengan deras, sehingga setelah beberapa waktu, padang pasir menjadi hijau dan unta-unta menjadi gemuk.&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Darimi Abdullah bin Bahram, Sunan Al-Darimi, jilid 1, halaman 44, Mathba&#039;ah Al-I&#039;tidal, Damaskus, 1349 H.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Tawasul Seorang Pria Buta kepada Nabi&lt;br /&gt;
[[Ahmad bin Hanbal]] dalam Musnad-nya meriwayatkan dari [[Utsman bin Hunaif]]:&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Al-Musnad|last=Ahmad bin Hanbal|first=Ibnu Hanbal|volume=28|page=478|chapter=Kisah 17240}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Sunan An-Nasa&#039;i Al-Kubra|last=Ahmad bin Syu&#039;aib|first=An-Nasa&#039;i|volume=9|page=244|chapter=Kisah 10419}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Sunan Ibnu Majah|last= Muhammad bin Yazid|first=Ibnu Majah Al-Qazwini|page=441|chapter=Kitab Ash-Shalah, Bab 189, Hadis 1385}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=As-Sunan At-Tirmidzi|last=Abu Isa|first=At-Tirmidzi|volume=5|page=569|chapter=Kitab Ad-Da&#039;awat, Bab 119, Hadis 3578}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Seorang pria buta mendatangi Nabi saw dan berkata: &#039;Mohon doakan agar Allah menyembuhkanku.&#039; Nabi saw berkata: &#039;Jika kamu ingin, aku akan mendoakanmu, atau jika kamu mau, aku akan menundanya, dan itu lebih baik.&#039; Pria buta itu berkata: &#039;Doakanlah.&#039; Nabi saw memerintahkannya untuk berwudhu dengan baik, shalat dua rakaat, dan berdoa: &#039;Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu melalui Nabi-Mu, Nabi pembawa rahmat. Wahai Muhammad, aku menghadap kepada Tuhanku melalui dirimu agar Dia memenuhi kebutuhanku. Ya Allah, jadikanlah dia pemberi syafaat bagiku.&#039;&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Tawasul Umar bin Khattab&lt;br /&gt;
[[Anas]] berkata:&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Shahih Al-Bukhari|last= Muhammad bin Ismail|first=Al-Bukhari|volume=2|page=27|chapter=Kitab Al-Istisqa&#039;, Bab 3, Hadis 1010}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{Arabic|ان عمر بن الخطاب کان اذا قحطوا استسقی بالعباس بن عبدالمطلب، فقال: اللهم انا کنا نتوسل الیک بنبینا فتسقینا، و انا نتوسل الیک بعم نبینا فاسقنا، قال: فیسقون|translation=Ketika terjadi kekeringan, Umar bin Khattab meminta hujan melalui Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi saw, dan berkata: &#039;Ya Allah, dahulu kami bertawasul kepada-Mu melalui Nabi kami, dan Engkau menurunkan hujan kepada kami. Sekarang kami bertawasul kepada-Mu melalui paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan kepada kami.&#039; Lalu hujan pun turun.&amp;quot;}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Doa Nabi untuk Fatimah binti Asad&lt;br /&gt;
Dalam riwayat lain, kita membaca:&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Hilyatul Awliya wa Thabaqatul Asfiya|last=Ahmad bin Abdullah|first=Al-Isfahani|volume=3|page=121}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Mu&#039;jam Al-Kabir|last=Sulaiman bin Ahmad|first=At-Thabrani|volume=24|page=351|chapter=Bab Al-Fa&#039;}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Majma&#039; Az-Zawa&#039;id wa Manba&#039; Al-Fawa&#039;id|year=1408|last=Ali bin Abi Bakr|first=Al-Haitsami|publisher=Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah|page=257|location=Beirut}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ketika Fatimah binti Asad meninggal, Rasulullah saw setelah mengetahui kematiannya, duduk di samping jenazahnya dan berkata: &#039;Wahai ibuku setelah ibuku, semoga Allah merahmatimu.&#039; Kemudian beliau memanggil [[Usamah]], [[Abu Ayyub]], [[Umar bin Khattab]], dan seorang budak hitam untuk menyiapkan kuburan. Setelah kuburan siap, Nabi saw membuat liang lahad dan mengeluarkan tanahnya dengan tangannya sendiri. Kemudian beliau berbaring miring di dalam kuburan dan berdoa: &#039;Ya Allah, Yang Menghidupkan dan Mematikan, dan Engkau hidup dan tidak mati, ampunilah ibuku Fatimah binti Asad dan luaskanlah tempatnya, demi hak Nabi-Mu dan para nabi sebelumku.&#039;&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Tobat Nabi Adam&lt;br /&gt;
Sebagian mufasir, ahli hadis, dan sejarawan Ahlusunah meriwayatkan dengan sanad dari Umar bin Khattab bahwa Nabi saw bersabda:&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Kanzul Ummal|last=Ali bin Husam|first=Al-Muttaqi Al-Hindi|volume=11|page=455|chapter=Kisah 32138}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Majma&#039; Az-Zawa&#039;id wa Manba&#039; Al-Fawa&#039;id|last=Ali bin Abi Bakr|first=Al-Haitsami|publisher=Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah|volume=8|page=253|location=Beirut}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Mu&#039;jam Al-Awsath|last=Sulaiman bin Ahmad|first=At-Thabrani|volume=6|page=313|chapter=Kisah 6502}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ketika [[Adam dan Hawa dalam hadis 308 Raudhah Kafi|Adam]] melakukan [[dosa]], dia menengadah ke langit dan berkata: &#039;Ya Allah, aku memohon kepada-Mu demi hak Muhammad, ampunilah aku.&#039; Allah mewahyukan kepadanya: &#039;Siapakah Muhammad?&#039; Adam menjawab: &#039;Ketika Engkau menciptakanku, aku menengadah ke Arsy dan melihat tulisan yang tertulis: (Tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah). Aku berkata dalam hati: Muhammad adalah makhluk teragung yang Allah sebutkan namanya bersama-Nya.&#039; Kemudian Allah mewahyukan kepadanya: &#039;Dia adalah nabi terakhir dari keturunanmu, dan jika bukan karena dia, Aku tidak akan menciptakanmu.&#039;&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari riwayat-riwayat ini, jelas bahwa tawasul kepada Nabi saw dan para wali Allah adalah praktik yang diterima dalam Islam, baik oleh Ahlusunah maupun Syiah. Wahabi, dengan pandangan ekstrem mereka, menolak praktik ini dan menganggapnya sebagai syirik, meskipun terdapat banyak dalil dari Al-Qur&#039;an, hadis, dan praktik ulama terdahulu yang mendukung kebolehan tawasul. Oleh karena itu, pandangan Wahabi dalam hal ini dianggap menyimpang dan bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch = ادیان و مذاهب&lt;br /&gt;
 | subbranch1 =اسلام&lt;br /&gt;
 | subbranch2 =وهابیت&lt;br /&gt;
 | subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{ارزیابی&lt;br /&gt;
 | شناسه = شد&lt;br /&gt;
 | عکس = شد&lt;br /&gt;
 | درگاه = شد&lt;br /&gt;
 | ادبیات = شد&lt;br /&gt;
 | پیوند = شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری = &amp;lt;!--خالی | شد--&amp;gt;&lt;br /&gt;
 | تغییرمسیر = &amp;lt;!--خالی | شد--&amp;gt;&lt;br /&gt;
 | ارجاعات = شد&lt;br /&gt;
 | ارزیابی کمی = شد&lt;br /&gt;
 | ارزیابی کیفی = &amp;lt;!--خالی | شد--&amp;gt;&lt;br /&gt;
 | اولویت = ب&lt;br /&gt;
 | کیفیت = خوب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa:توسل از نظر وهابیت]]&lt;br /&gt;
[[ar:التوسل من وجهة نظر الوهابية]]&lt;br /&gt;
[[en:Tawassul from the Perspective of Wahhabism]]&lt;br /&gt;
[[bn:ওহাবীদের দৃষ্টিতে তাওয়াসসুল]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Furu%27uddin&amp;diff=956</id>
		<title>Furu&#039;uddin</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Furu%27uddin&amp;diff=956"/>
		<updated>2025-02-25T19:05:12Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Apa yang dimaksud dengan Furu&#039;uddin dan sebutkan apa saja yang termasuk dalam Furu&#039;uddin?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Furu&#039;uddin&#039;&#039;&#039; atau cabang-cabang agama meliputi shalat, [[puasa dalam pandangan Al-Qur&#039;an dan hadis|puasa]], [[haji dalam Al-Qur&#039;an|haji]], jihad, khumus, zakat, amar ma&#039;ruf, nahi munkar, tawalli, dan tabarri. Sebagian besar dari rangkaian amal dan perilaku ibadah dalam budaya Islam dikenal sebagai Furu&#039;uddin. Furu&#039;uddin ini berkaitan dengan aspek praktis dari keimanan Islam. Ketaatan terhadap Furu&#039;uddin sama wajibnya seperti ketaatan terhadap Ushuluddin (prinsip-prinsip agama).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kedudukan ==&lt;br /&gt;
Furu&#039;uddin adalah kewajiban dan adab yang ditetapkan oleh syariat suci bagi orang-orang yang mukallaf (terbebani kewajiban) dalam hal tindakan dan perilaku.&amp;lt;ref&amp;gt;Kamus Fikih Persia, di bawah pengawasan Mahmud Hasyimi Syahrudi, Qom, Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, 1387 H, jilid 5, halaman 679.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ketaatan terhadap Furu&#039;uddin sama wajibnya seperti ketaatan terhadap prinsip-prinsip agama. Furu&#039;uddin adalah serangkaian kewajiban dan tugas praktis yang diambil oleh Nabi saw dari wahyu dan disampaikan untuk kebahagiaan duniawi dan ukhrawi manusia. Beberapa cabang agama mengatur hubungan manusia dengan Allah dalam bentuk hukum dan peraturan, serta menetapkan kewajiban-kewajiban seperti shalat, puasa, dan haji. Beberapa lainnya mengatur kewajiban manusia terhadap sesamanya dan mengatur hubungan antarmanusia, seperti jihad, khumus, dan jual beli.&amp;lt;ref&amp;gt;Khatibi Kushkak, Muhammad dan rekan-rekan, Budaya Syiah, Qom, Zamzam Hidayat, 1386 H, halaman 359.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian besar dari rangkaian amal dan perilaku ibadah dalam budaya Islam dikenal sebagai Furu&#039;uddin. Furu&#039;uddin ini berkaitan dengan aspek praktis dari keimanan [[Islam]]. Dalam pengajaran umum di kalangan [[Syiah Imamiyah]], Furu&#039;uddin ini mencakup [[shalat]], [[puasa]], [[zakat]], [[khumus]], [[haji]], [[jihad]], [[amar ma&#039;ruf]], [[nahi munkar]], [[tawalli]], dan [[tabarri]]. Namun, di kalangan mazhab [[Ahlusunah]], beberapa cabang ini tidak terlalu berkembang dan tidak terlalu ditekankan.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Contoh Furu&#039;uddin ==&lt;br /&gt;
=== Shalat ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam agama Islam, kewajiban ibadah pertama dan terpenting bagi setiap individu yang mukallaf adalah melaksanakan [[shalat]], yang dilakukan lima kali sehari sebagai pengingat iman dan keyakinan seorang Muslim, serta sebagai sarana untuk mengumpulkan kekuatan batin dan spiritual untuk terhubung dengan sumber alam semesta, yaitu Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Puasa ===&lt;br /&gt;
[[Puasa]] adalah salah satu ibadah dalam Islam di mana seseorang menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal tertentu lainnya dari terbit fajar hingga terbenam matahari untuk mendekatkan diri kepada Allah. Istilah ini dalam bahasa Persia setara dengan kata Arab &amp;quot;shaum&amp;quot; dan &amp;quot;siyam&amp;quot;, yang berarti menahan diri dari makan, minum, berbicara, dan hubungan seksual. Puasa untuk pemurnian jiwa dan penyucian diri telah dipraktikkan dalam banyak agama dan kepercayaan sebelumnya, seperti Maya, Hindu, Buddha, Jain, dan Manichaeisme. Puasa dalam Islam adalah salah satu ibadah penting dan dalam hadis disebut sebagai salah satu dari lima rukun Islam. Dalam hadis, banyak manfaat dan keutamaan material dan spiritual yang disebutkan untuk puasa (terutama puasa bulan Ramadhan), seperti diterimanya amal, dikabulkannya doa, pengampunan dosa, hak atas surga dan kenikmatan akhirat, serta keselamatan dari azab neraka (perisai api), yang menunjukkan perhatian khusus Allah kepada orang yang berpuasa. Tidur orang yang berpuasa dianggap sebagai ibadah, dan napasnya adalah tasbih kepada Allah, serta puasa disebut sebagai zakat tubuh.&amp;lt;ref&amp;gt;Husseini Ahagh, Maryam, &amp;quot;Puasa&amp;quot;, Ensiklopedia Dunia Islam, Teheran, Yayasan Ensiklopedia Islam, 1394 H, jilid 20, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Haji ===&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan [[haji]] dalam teks dan sumber [[Islam]], termasuk sumber fikih, adalah perjalanan ke [[Baitullah]] (Ka&#039;bah) untuk melakukan serangkaian ibadah khusus pada waktu tertentu. Menurut beberapa ahli fikih, istilah fikih haji merujuk pada serangkaian tindakan yang dilakukan di tempat-tempat tertentu di [[Mekah]]. Serangkaian tindakan ibadah dalam ritual haji disebut manasik haji. Dalam [[Al-Qur&#039;an]], banyak ayat yang membahas haji, dan haji diwajibkan bagi orang yang mampu serta dianggap sebagai salah satu syiar besar yang layak diagungkan.&amp;lt;ref&amp;gt;Husaini Ahagh, Maryam, &amp;quot;Haji&amp;quot;, Ensiklopedia Dunia Islam, Teheran, Yayasan Ensiklopedia Islam, 1393 H, jilid 12, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Zakat ===&lt;br /&gt;
Dalam Al-Qur&#039;an, sebagai salah satu perintah pertama dalam agama Islam, [[zakat]] disebutkan puluhan kali bersama dengan perintah untuk mendirikan shalat. Zakat, sebagaimana makna harfiahnya dan juga ditegaskan dalam Al-Qur&#039;an, selain sebagai pembayaran finansial, juga merupakan bentuk &amp;quot;pemurnian&amp;quot; dan &amp;quot;penyucian&amp;quot; batin. Oleh karena itu, dalam penafsiran awal ayat-ayat Al-Qur&#039;an, zakat dianggap sebagai ibadah seperti ibadah lainnya di mana niat dan tujuan mendekatkan diri kepada Allah adalah syarat sahnya. Namun, zakat selain sebagai ibadah individu, juga memiliki aspek sosial sebagai cara untuk mendistribusikan kekayaan dan menyediakan dana untuk kepentingan umum umat Islam.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Khumus ===&lt;br /&gt;
Dalam Al-Qur&#039;an, khumus disebutkan sebagai bagian dari rampasan perang, dan dalam fikih [[Ahlusunah]], [[khumus]] hanya berlaku untuk rampasan perang dan beberapa kasus terbatas lainnya. Sebaliknya, dalam fikih [[Syiah]], konsep rampasan dalam ayat tersebut telah diperluas berdasarkan sumber-sumber hadis dan mencakup berbagai topik. Topik utama adalah &amp;quot;keuntungan usaha&amp;quot;, yang menjadikan khumus sebagai pajak umum yang berlaku di semua waktu dan tempat, dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat; artinya, setiap orang yang mukallaf harus menghitung pendapatan usahanya dalam satu tahun keuangan dan membayar seperlima dari kelebihan pendapatan setelah dikurangi kebutuhan tahunan sebagai khumus.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Jihad ===&lt;br /&gt;
[[Jihad]] adalah perang yang sah di jalan [[Allah]] swt dan merupakan salah satu topik dalam fikih Islam. Konsep utama istilah ini dalam teks-teks keagamaan, seperti penggunaan umumnya, adalah bentuk khusus dari upaya, yaitu berjuang di jalan Allah dengan jiwa, harta, dan aset lainnya dengan tujuan menyebarkan Islam atau membelanya.&amp;lt;ref&amp;gt;Sarrami, Saifullah, dan Said Adalatnejad, &amp;quot;Jihad&amp;quot;, Ensiklopedia Dunia Islam, Teheran, Yayasan Ensiklopedia Islam, 1393 H, jilid 11, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Amar Ma&#039;ruf dan Nahi Munkar ===&lt;br /&gt;
[[Amar ma&#039;ruf dan nahi munkar]] adalah dua istilah yang dalam tafsir klasik [[Al-Qur&#039;an]] diartikan sebagai perintah untuk mengikuti [[Nabi Muhammad saw]] dan agama [[Islam]], serta larangan untuk kafir kepada Allah dan mendustakan Rasulullah saw dan agamanya. Dapat dikatakan bahwa amar ma&#039;ruf adalah tindakan untuk mewujudkan apa yang sesuai dengan ajaran agama dan dianggap baik, sedangkan nahi munkar adalah reaksi untuk menghancurkan apa yang dianggap buruk.&amp;lt;ref&amp;gt;Jabirizadeh, Abdulamir, &amp;quot;Amar Ma&#039;ruf dan Nahi Munkar&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 10, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Tawalli dan Tabarri ===&lt;br /&gt;
Dua prinsip penting, &amp;quot;[[tawalli]]&amp;quot; yang berarti mencintai sahabat-sahabat Allah dan pendukung keadilan, dan &amp;quot;[[tabarri]]&amp;quot; yang berarti berlepas diri dari para penindas dan musuh-musuh Allah, memiliki penting yang besar dan menyebabkan pendukung keadilan bersatu melawan penindas dan mengakhiri kezaliman dari masyarakat.&amp;lt;ref&amp;gt;&amp;quot;[https://makarem.ir/main.aspx?typeinfo=42&amp;amp;lid=0&amp;amp;catid=29262&amp;amp;mid=318146 Konsep Tawalli dan Tabarri]&amp;quot;, Situs Informasi Kantor Ayatullah Makarim Syirazi, dipublikasikan: 21 Aban 1402 H.&amp;lt;/ref&amp;gt; Tabarri berarti menjalin persahabatan dengan sahabat-sahabat Allah dan menjauhkan diri dari musuh-musuh Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;&amp;quot;Tawalli dan Tabarri&amp;quot;, Situs Komprehensif Syahid Murtadha Muthahhari, dipublikasikan: 21 Aban 1402 H.&amp;lt;/ref&amp;gt; Tawalli dan tabarri digunakan dalam banyak ayat Al-Qur&#039;an dan dari sana memasuki bidang fikih dan teologi. Dalam ayat-ayat ini, dilarang untuk menjalin persahabatan dengan setan, orang kafir, non-Muslim, orang yang dimurkai Allah, dan mereka yang memerangi orang beriman karena agama, dan dianjurkan untuk menjalin persahabatan dengan Allah, Nabi saw, dan orang-orang beriman.&amp;lt;ref&amp;gt;Jabiri, Amir, &amp;quot;Tawalli dan Tabarri&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 16, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pranala Terkait ==&lt;br /&gt;
* [[Ushuluddin]]&lt;br /&gt;
* [[Perbedaan Antara Ushuluddin Dan Furu’uddin]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch =کلام&lt;br /&gt;
|subbranch1 =&lt;br /&gt;
|subbranch2 =&lt;br /&gt;
|subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه =شد&lt;br /&gt;
 | تیترها =شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش =شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی =شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر =شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت =ج&lt;br /&gt;
 | کیفیت =ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa:فروع دین]]&lt;br /&gt;
[[ru:Фуру’ ад-Дин (Ветви религии)]]&lt;br /&gt;
[[ar:فروع الدين]]&lt;br /&gt;
[[bn:ফুরুয়ে দ্বীন (ধর্মের শাখাসমূহ)]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Mengandalkan_Makna_Lahiriah_Al-Qur%27an&amp;diff=955</id>
		<title>Mengandalkan Makna Lahiriah Al-Qur&#039;an</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Mengandalkan_Makna_Lahiriah_Al-Qur%27an&amp;diff=955"/>
		<updated>2025-02-25T18:39:10Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{نیازمند گسترش}}&lt;br /&gt;
{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Apakah bisa hanya mengandalkan makna lahiriah Al-Qur&#039;an?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
Berpegang pada makna lahiriah [[Al-Qur&#039;an]] memerlukan beberapa syarat, seperti pemahaman bahasa Arab, memperhatikan konteks, dan mengenali ayat-ayat yang muhkam (jelas) dan mutasyabih (samar). Secara umum, ayat-ayat Al-Qur&#039;an terbagi menjadi dua kategori: &#039;&#039;muhkam&#039;&#039; (ayat-ayat yang jelas dan tidak memerlukan takwil) dan &#039;&#039;mutasyabih&#039;&#039; (ayat-ayat yang memerlukan penafsiran berdasarkan ayat-ayat muhkam). Oleh karena itu, jika yang dimaksud dengan &amp;quot;lahiriah&amp;quot; adalah makna literal yang berlawanan dengan &amp;quot;batin,&amp;quot; maka makna lahiriah Al-Qur&#039;an dapat dijadikan hujjah (argumen). Namun, jika yang dimaksud adalah memahami ayat tanpa memperhatikan konteks dan pemahaman yang mendalam, maka tidak mungkin hanya mengandalkan makna lahiriah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Berpegang pada Makna lahiriah dalam Ayat-Ayat ==&lt;br /&gt;
Ayat-ayat Al-Qur&#039;an secara umum terbagi menjadi dua kategori:&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;Muhkamat&#039;&#039;: Ayat-ayat yang tidak memerlukan takwil;&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;Mutasyabihat&#039;&#039;: Ayat-ayat yang memerlukan takwil, yaitu harus ditafsirkan berdasarkan ayat-ayat muhkam yang berfungsi sebagai &amp;quot;Ummul Kitab&amp;quot; (induk Al-Qur&#039;an).&amp;lt;ref&amp;gt;Diambil dari QS. Ali Imran: 7.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika yang dimaksud dengan &amp;quot;lahiriah&amp;quot; adalah makna literal yang berlawanan dengan &amp;quot;batin,&amp;quot; maka kita bisa mengandalkan makna lahiriah, karena makna lahiriah Al-Qur&#039;an adalah hujjah. Hal ini karena memahami makna batin Al-Qur&#039;an hanya mungkin bagi orang-orang yang ma&#039;shum (terjaga dari kesalahan).&amp;lt;ref&amp;gt;QS. Al-Waqi&#039;ah: 79.&amp;lt;/ref&amp;gt; Bahwa Al-Qur&#039;an memiliki makna batin dan lapisan-lapisan makna yang dalam telah disebutkan dalam banyak riwayat. [[Imam Ali as]] berkata: &amp;quot;Al-Qur&#039;an memiliki lahiriah yang indah dan batin yang dalam dan tersembunyi. Keajaibannya tidak akan pernah habis, dan rahasia-rahasianya tidak akan pernah berakhir.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Nahjul Balaghah, terjemahan Muhammad Dasyti, Khutbah 18, halaman 64.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Jabir bin Abdullah Al-Anshari pernah bertanya kepada [[Imam Baqir as]] tentang tafsir sebuah ayat. Imam memberikan jawaban, lalu Jabir bertanya lagi tentang ayat yang sama, dan Imam memberikan jawaban yang berbeda. Jabir berkata: &amp;quot;Anda sebelumnya memberikan jawaban yang berbeda.&amp;quot; Imam menjawab: &amp;quot;Wahai Jabir, Al-Qur&#039;an memiliki batin, dan batinnya juga memiliki batin. lahiriahnya pun memiliki tingkatan-tingkatan. Wahai Jabir, tidak ada sesuatu pun dari Al-Qur&#039;an yang bisa ditafsirkan hanya dengan akal manusia, karena bisa jadi awal ayat berkaitan dengan satu hal dan akhir ayat berkaitan dengan hal lain. Al-Qur&#039;an adalah kalam yang saling terhubung dan memiliki banyak wajah.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, Beirut, Dar Ihya at-Turath al-Arabi, jilid 89, halaman 91, 94, dan 95.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Syarat Mengandalkan Makna lahiriah Ayat ==&lt;br /&gt;
Jika yang dimaksud dengan mengandalkan makna lahiriah adalah memahami ayat tanpa memperhatikan konteks, maka tidak mungkin hanya mengandalkan makna lahiriah. Karena dalam memahami makna lahiriah ayat, selain menguasai kaidah bahasa Arab dan pemahaman mendalam tentang bahasa Al-Qur&#039;an, juga perlu memperhatikan konteks, termasuk ayat-ayat lain dan riwayat-riwayat. Bahkan dalam ayat-ayat yang memiliki makna lahiriah yang jelas dan termasuk dalam kategori muhkam, karena ayat-ayat Al-Qur&#039;an saling terkait, dan sebagian ayat menjadi konteks bagi ayat lainnya. Selain itu, riwayat-riwayat dari [[Rasulullah saw]] dan [[Ahlul Bait as]] sebagai penafsir dan penjelas Al-Qur&#039;an harus diperhatikan. Al-Qur&#039;an sendiri menegaskan: &amp;quot;Kami telah menurunkan Al-Qur&#039;an kepadamu (Muhammad) agar kamu menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, agar mereka berpikir.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;QS. An-Nahl: 44.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dalam ayat-ayat mutasyabihat, tidak mungkin hanya mengandalkan makna lahiriah. Sebagai contoh, dalam ayat {{Quran|وَجَاءَ رَبُّکَ وَالْمَلَکُ صَفًّا صَفًّا}}&amp;lt;ref&amp;gt;QS. Al-Fajr: 22.&amp;lt;/ref&amp;gt;, makna lahiriahnya adalah bahwa Allah datang dan para malaikat berbaris dalam shaf-shaf. Atau dalam ayat {{Quran|الرَّحْمَنُ عَلَی الْعَرْشِ اسْتَوَی}}&amp;lt;ref&amp;gt;QS. Thaha: 5.&amp;lt;/ref&amp;gt;, makna lahiriahnya adalah bahwa Allah bersemayam di atas &#039;Arsy.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat-ayat ini dan ayat-ayat mutasyabihat lainnya harus dipahami dalam konteks ayat-ayat muhkam seperti {{Quran|... لَیْسَ کَمِثْلِهِ شَیْءٌ وَهُوَ السَّمِیعُ الْبَصِیرُ}}&amp;lt;ref&amp;gt;QS. Asy-Syura: 11.&amp;lt;/ref&amp;gt;, yang menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan &amp;quot;datang&amp;quot; adalah perintah Allah swt, dan yang dimaksud dengan &amp;quot;bersemayam&amp;quot; adalah kekuasaan Allah. Jika hanya mengandalkan makna lahiriah, maka akan mengarah pada pemahaman yang keliru, seperti menganggap Allah memiliki bentuk fisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Wahabi]] dengan berpegang pada makna lahiriah ayat-ayat dan tanpa memperhatikan ayat-ayat muhkam serta prinsip-prinsip akal, mengatakan: &amp;quot;Allah memiliki arah dan tempat, dan bersemayam di atas &#039;Arsy yang berada di atas langit. Allah memiliki tangan dan mata dalam makna harfiah.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ad-Durr al-Kaminah, Beirut, halaman 145. Lihat juga Ahmad bin Zaini Dahlan, Mufti Mekah, Sejarah Wahabisme, terjemahan Ibrahim Wahid Damghani, Penerbit Gulistan Kausar, cetakan pertama, 1376, halaman 16.&amp;lt;/ref&amp;gt; Mereka juga mengatakan: &amp;quot;Allah turun ke bumi setiap malam dan kembali ke langit pada pagi hari.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Umar Abdul Salam, Mukhalifah al-Wahabiyyah lil Qur&#039;an wa al-Sunnah, Dar al-Hidayah, cetakan pertama, 1416, halaman 8.&amp;lt;/ref&amp;gt; Bahkan, Ibnu Taimiyah secara tegas mengatakan: &amp;quot;Dalam Al-Qur&#039;an, Sunnah, dan ijma&#039;, tidak ada pembicaraan tentang penafian jismaniyyah (bentuk fisik) atau penafian tasybih (penyerupaan).&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Taimiyah, Al-Fatawa al-Kubra, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, halaman 21-23.&amp;lt;/ref&amp;gt; Pernyataan serupa juga dikemukakan oleh [[Hanabilah]], [[Hasyawiyyah]], dan [[Ibadiyyah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Subhani, Ja&#039;far, Buhuts fi al-Milal wa an-Nihal, Qom, Komite Administrasi Hauzah Ilmiyah, cetakan kedua, 1415, jilid 2, halaman 247.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bacaan Lebih Lanjut==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Tafsir Nemuneh, Ayatullah Makarim Syirazi, jilid 1, halaman 20; jilid 18, halaman 261; dan jilid 26, halaman 11.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Tafsir Tematik Al-Qur&#039;an, Ayatullah Jawadi Amoli, jilid 1, halaman 14.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Metodologi Tafsir Al-Qur&#039;an, Ali Akbar Babaei, Mahmud Rajabi, halaman 290 dan 32.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Majalah Bayyinat, Muhammad Ali Mahdavi Rad, edisi 3, halaman 89.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch = علوم و معارف قرآن&lt;br /&gt;
| subbranch1 = نص قرآن&lt;br /&gt;
| subbranch2 = نص و ظاهر قرآن&lt;br /&gt;
| subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه = -&lt;br /&gt;
 | تیترها = شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش = شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی = شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر = شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی نویسنده = &lt;br /&gt;
 | ارزیابی کمی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت = ج&lt;br /&gt;
 | کیفیت = ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa:اکتفا به ظاهر قرآن]]&lt;br /&gt;
[[ar:الاكتفاء بظاهر القرآن]]&lt;br /&gt;
[[ur:قرآن کے ظاہری معنی پر اکتفا کرنا]]&lt;br /&gt;
[[bn:কুরআনের প্রকাশ্য অর্থের উপর নির্ভর করা]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Ushuluddin&amp;diff=954</id>
		<title>Ushuluddin</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Ushuluddin&amp;diff=954"/>
		<updated>2025-02-25T13:59:26Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Apa yang dimaksud dengan Ushuluddin dan sebutkan apa saja yang termasuk dalam Ushuluddin?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Ushuluddin&#039;&#039;&#039; atau prinsip-prinsip agama dalam Islam meliputi tentang [[tauhid]], [[kenabian]], dan [[hari kebangkitan]]. Ketiga prinsip ini dianggap sebagai dasar dan fondasi agama. Ulama Syiah menambahkan prinsip [[keadilan]] dan [[imamah]] ke dalam tiga prinsip ini, sehingga Ushuluddin dalam Syiah berjumlah lima. Ketidaktahuan dan ketidakpercayaan terhadap Ushuluddin ini dapat mengeluarkan seseorang dari Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istilah &amp;quot;Ushuluddin&amp;quot; tidak disebutkan dalam Al-Qur&#039;an atau hadis, dan istilah ini diciptakan oleh beberapa teolog. Tidak jelas kapan istilah ini mulai digunakan atau siapa yang pertama kali menggunakannya. Para pencetus istilah ini menyebut keyakinan-keyakinan ini sebagai Ushuluddin karena menurut mereka ilmu-ilmu keagamaan seperti hadis, fikih, dan tafsir didasarkan pada prinsip-prinsip ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sejarah Istilah ==&lt;br /&gt;
Istilah &amp;quot;Ushuluddin&amp;quot; sangat terkenal dan memainkan peran penting dalam sejarah pemikiran keagamaan Islam, namun dalam Al-Qur&#039;an dan hadis Syiah maupun Sunni, tidak ada pembagian pengetahuan agama menjadi prinsip dan cabang. Hal ini menunjukkan bahwa kedua istilah ini diciptakan oleh para teolog. Beberapa ulama Muslim seperti [[Ibnu Taimiyah]] (wafat 728 H), yang pada dasarnya menganggap ilmu kalam dan ilmu filsafat bertentangan dengan agama dan keimanan, dan memiliki pandangan yang sangat ekstrem dalam hal ini, berpendapat bahwa karena istilah &amp;quot;Ushuluddin&amp;quot; bukanlah istilah Qurani atau hadis, maka penggunaan istilah ini bertentangan dengan ajaran [[Nabi Muhammad (SAW)]].{{membutuhkan referensi|date=November 2024}} Bagaimanapun, tidak jelas kapan istilah ini mulai digunakan atau siapa yang pertama kali menggunakannya. Ibnu Nadim juga mengaitkan sebuah risalah berjudul &#039;&#039;Ushul al-Din&#039;&#039; kepada Abu Musa al-Murdar, yang menunjukkan bahwa istilah ini sudah dikenal dan mapan pada awal abad ke-3 Hijriyah.&amp;lt;ref&amp;gt;Gozashte, Naser, &amp;quot;Ushul al-Din&amp;quot;, Ensiklopedia Iran, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 4, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kedudukan ==&lt;br /&gt;
Prinsip-prinsip keyakinan Islam adalah iman dan keyakinan kepada tauhid, kenabian, dan hari kebangkitan. Ketiga prinsip ini dianggap sebagai fondasi agama Islam, di mana semua proposisi dalam agama ini mendapatkan maknanya dari salah satu atau ketiga prinsip ini. Oleh karena itu, semua orang yang memeluk agama Islam, meskipun memiliki perbedaan pendapat yang signifikan dan terkadang bertentangan mengenai detail dan interpretasi keyakinan ini, semuanya percaya pada prinsip-prinsip ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para teolog Syiah memiliki perbedaan pendapat mengenai berapa jumlah Ushuluddin dan apa saja yang termasuk di dalamnya. Pendapat yang umum adalah bahwa Ushuluddin mencakup tiga hal: tauhid, kenabian, dan hari kebangkitan; namun, keadilan dan imamah juga harus ditambahkan sebagai prinsip mazhab.&amp;lt;ref&amp;gt;Gozashte, Naser, &amp;quot;Ushul ad-Din&amp;quot;, Ensiklopedia Iran, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 4, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ketidaktahuan dan ketidakpercayaan terhadap Ushuluddin dapat mengeluarkan seseorang dari Islam, dan ketidaktahuan serta ketidakpercayaan terhadap prinsip-prinsip mazhab dapat mengeluarkannya dari mazhab Syiah.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok peneliti, &amp;quot;Ushul al-Din&amp;quot;, Ensiklopedia Teologi Islam, halaman 51.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak ulama Islam percaya bahwa dalam Ushuluddin, taklid (mengikuti tanpa pengetahuan) tidak diperbolehkan, dan keyakinan atau kepastian dalam Ushuluddin harus didasarkan pada bukti. Klaim ijma (konsensus) juga dibuat mengenai hal ini. Kelompok lain, termasuk Abu Hanifah, Sufyan ats-Tsauri, Al-Auza&#039;i, Malik, Asy-Syafi&#039;i, Ahmad bin Hanbal, dan Ahlul Hadis, berpendapat bahwa meskipun berargumen tentang prinsip-prinsip keyakinan adalah wajib dan meninggalkannya dianggap sebagai dosa, iman yang diperoleh melalui taklid dapat diterima.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok peneliti, &amp;quot;Ushul al-Din&amp;quot;, Ensiklopedia Teologi Islam, halaman 51.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut banyak ulama agama, keislaman seseorang tidak mungkin terjadi tanpa keyakinan pada Ushuluddin, dan penolakan terhadap salah satu prinsip ini dapat menyebabkan kekafiran dan layak mendapatkan azab. Para pencetus istilah ini menyebut keyakinan-keyakinan ini sebagai Ushuluddin karena menurut mereka ilmu-ilmu keagamaan seperti hadis, fikih, dan tafsir didasarkan pada prinsip-prinsip ini; dikatakan bahwa agama seperti pohon yang memiliki akar, dan Ushuluddin adalah akar agama yang keberadaannya menentukan kehidupan pohon tersebut.&amp;lt;ref&amp;gt;Gozashte, Nashir, &amp;quot;Ushul al-Din&amp;quot;, Ensiklopedia Iran, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 4, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Contoh Prinsip-Prinsip Agama ==&lt;br /&gt;
=== Tauhid ===&lt;br /&gt;
Tauhid adalah ajaran keyakinan paling mendasar dalam Islam yang memiliki berbagai aspek teoretis dan praktis. Menurut konsep tauhid, Allah adalah satu-satunya, memiliki semua sifat kesempurnaan, tidak ada yang menyerupai-Nya, bebas dari perubahan, Pencipta tunggal alam semesta, dan tidak memiliki sekutu; pengaturan alam semesta dilakukan sesuai dengan kehendak-Nya, dan pengetahuan serta kekuasaan-Nya meliputi seluruh alam semesta; semua makhluk harus menyembah-Nya, dan penyembahan ini tidak memerlukan perantara. Menurut Al-Qur&#039;an,{{membutuhkan referensi|date=November 2024}} keyakinan tauhid berakar pada fitrah manusia, dan setiap keyakinan atau perilaku non-tauhid adalah tanda penyimpangan dari dasar eksistensi ini dan disebabkan oleh faktor psikologis, lingkungan, geografis, sejarah, dan lainnya. Semua nabi adalah penyampai tauhid, dan upaya terbesar mereka adalah menghilangkan kemusyrikan dan praktik-praktik syirik.&amp;lt;ref&amp;gt;Taramirad, Hasan, dan lainnya, &amp;quot;Tauhid&amp;quot;, Ensiklopedia Dunia Islam, Yayasan Ensiklopedia Islam, 1393 H, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Kenabian ===&lt;br /&gt;
Keyakinan pada kenabian berarti bahwa Nabi Muhammad (SAW) adalah utusan dan pesuruh Allah, dan sebagai bagian dari rangkaian nabi, ia dipilih oleh Allah sebagai nabi terakhir. Al-Qur&#039;an adalah kumpulan firman Allah yang diwahyukan kepadanya.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Hari Kebangkitan ===&lt;br /&gt;
Hari kebangkitan berarti kebangkitan kembali.{{membutuhkan referensi|date=November 2024}} Yang dimaksud dengan hari kebangkitan dalam perkataan para teolog dan filsuf adalah kehidupan setelah kematian di mana manusia akan dibangkitkan kembali. Hari kebangkitan adalah hari di mana perbuatan manusia akan diadili, orang-orang baik akan menerima pahala atas kebaikan mereka, dan orang-orang jahat akan dihukum atas perbuatan buruk mereka. Salah satu masalah penting yang telah lama menjadi perhatian agama-agama, teolog, dan filsuf adalah masalah kehidupan setelah kematian dan hari kebangkitan. Pengikut agama-agama percaya pada kehidupan setelah kematian dan menganggapnya sebagai salah satu masalah agama yang paling mendasar.&amp;lt;ref&amp;gt;Sajjadi, Ja&#039;far, Kamus Pengetahuan Islam, jilid 3, halaman 1815.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Keadilan ===&lt;br /&gt;
Meskipun sifat &amp;quot;keadilan&amp;quot; juga merupakan salah satu sifat perbuatan Allah, pentingnya dan penekanan pada sifat ini muncul karena perdebatan sengit antara Asy&#039;ariyah dengan Syiah dan Mu&#039;tazilah mengenai hal ini, dan perdebatan ini menyebabkan Mu&#039;tazilah dan Syiah dikenal sebagai kelompok yang menekankan keadilan, dan secara bertahap prinsip keadilan bersama dengan imamah menjadi ciri khas mazhab Syiah. Mengingat konsep keadilan yang luas, yang mencakup keadilan keyakinan, moral, dan sosial, pantaslah prinsip keyakinan ini dianggap sebagai salah satu pilar Islam.&amp;lt;ref&amp;gt;&amp;quot;[http://www.makarem.ir/main.aspx?typeinfo=42&amp;amp;lid=0&amp;amp;mid=412783&amp;amp;catid=-2 Keadilan sebagai Prinsip Agama]&amp;quot;, Situs Informasi Kantor Ayatullah Makarim Syirazi, dipublikasikan: 10 Mehr 1397 H, diakses: 9 Aban 1402 H.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Imamah ===&lt;br /&gt;
Imamah adalah posisi ilahi, dan semua tugas para nabi—kecuali menerima wahyu dan hal-hal yang serupa—juga berlaku untuk para imam. Oleh karena itu, kemaksuman, yang merupakan syarat kenabian, juga berlaku untuk imam. Perbedaan ini membuat kita menganggap imamah sebagai bagian dari Ushuluddin.&amp;lt;ref&amp;gt;&amp;quot;[https://makarem.ir/main.aspx?lid=0&amp;amp;typeinfo=43&amp;amp;mid=393448 Definisi Imamah]&amp;quot;, Situs Informasi Kantor Ayatullah Makarim Syirazi, dipublikasikan: 29 Farvardin 1395 H, diakses: 9 Aban 1402 H.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imamah tanpa diragukan lagi menempati posisi dan peran sentral dalam pemikiran teologi Syiah Imamiyah. Keyakinan pada &amp;quot;nash&amp;quot; (penunjukan) dan &amp;quot;kemaksuman&amp;quot; di satu sisi, serta peran yang diberikan Syiah kepada posisi spiritual imam, yaitu otoritas keagamaan eksklusif para imam, dapat menunjukkan pentingnya posisi ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Anshari, Hasan, &amp;quot;Imamah&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan Lebih Lanjut ==&lt;br /&gt;
* Muhaqqiq Ardabili, &#039;&#039;&#039;Ushul al-Din&#039;&#039;&#039;, disunting oleh Mohsen Sadeghi, Qom, Bustan Kitab, 1387 H.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pranala Terkait ==&lt;br /&gt;
* [[Furu&#039;uddin]]&lt;br /&gt;
* [[Perbedaan Antara Ushuluddin Dan Furu’uddin]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch =کلام&lt;br /&gt;
|subbranch1 =&lt;br /&gt;
|subbranch2 =&lt;br /&gt;
|subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه =شد&lt;br /&gt;
 | تیترها =شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش =شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی =شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر =شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | ارزیابی کمی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت =ج&lt;br /&gt;
 | کیفیت =ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa:اصول دین]]&lt;br /&gt;
[[ar:أصول الدین]]&lt;br /&gt;
[[fr:Principes fondementaux de la religion]]&lt;br /&gt;
[[ru:Основы религии]]&lt;br /&gt;
[[en:Fundamental Principles of Religion]]&lt;br /&gt;
[[es:Principios de la religión]]&lt;br /&gt;
[[bn:ইসলাম ধর্মের মূলনীতি (উসুলে দ্বীন)]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Mengandalkan_Makna_Lahiriah_Al-Qur%27an&amp;diff=953</id>
		<title>Mengandalkan Makna Lahiriah Al-Qur&#039;an</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Mengandalkan_Makna_Lahiriah_Al-Qur%27an&amp;diff=953"/>
		<updated>2025-02-25T00:16:25Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{نیازمند گسترش}}&lt;br /&gt;
{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Apakah bisa hanya mengandalkan makna lahiriah Al-Qur&#039;an?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
Berpegang pada makna lahiriah [[Al-Qur&#039;an]] memerlukan beberapa syarat, seperti pemahaman bahasa Arab, memperhatikan konteks, dan mengenali ayat-ayat yang muhkam (jelas) dan mutasyabih (samar). Secara umum, ayat-ayat Al-Qur&#039;an terbagi menjadi dua kategori: &#039;&#039;muhkam&#039;&#039; (ayat-ayat yang jelas dan tidak memerlukan takwil) dan &#039;&#039;mutasyabih&#039;&#039; (ayat-ayat yang memerlukan penafsiran berdasarkan ayat-ayat muhkam). Oleh karena itu, jika yang dimaksud dengan &amp;quot;lahiriah&amp;quot; adalah makna literal yang berlawanan dengan &amp;quot;batin,&amp;quot; maka makna lahiriah Al-Qur&#039;an dapat dijadikan hujjah (argumen). Namun, jika yang dimaksud adalah memahami ayat tanpa memperhatikan konteks dan pemahaman yang mendalam, maka tidak mungkin hanya mengandalkan makna lahiriah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Berpegang pada Makna lahiriah dalam Ayat-Ayat ==&lt;br /&gt;
Ayat-ayat Al-Qur&#039;an secara umum terbagi menjadi dua kategori:&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;Muhkamat&#039;&#039;: Ayat-ayat yang tidak memerlukan takwil;&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;Mutasyabihat&#039;&#039;: Ayat-ayat yang memerlukan takwil, yaitu harus ditafsirkan berdasarkan ayat-ayat muhkam yang berfungsi sebagai &amp;quot;Ummul Kitab&amp;quot; (induk Al-Qur&#039;an).&amp;lt;ref&amp;gt;Diambil dari QS. Ali Imran: 7.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika yang dimaksud dengan &amp;quot;lahiriah&amp;quot; adalah makna literal yang berlawanan dengan &amp;quot;batin,&amp;quot; maka kita bisa mengandalkan makna lahiriah, karena makna lahiriah Al-Qur&#039;an adalah hujjah. Hal ini karena memahami makna batin Al-Qur&#039;an hanya mungkin bagi orang-orang yang ma&#039;shum (terjaga dari kesalahan).&amp;lt;ref&amp;gt;QS. Al-Waqi&#039;ah: 79.&amp;lt;/ref&amp;gt; Bahwa Al-Qur&#039;an memiliki makna batin dan lapisan-lapisan makna yang dalam telah disebutkan dalam banyak riwayat. [[Imam Ali as]] berkata: &amp;quot;Al-Qur&#039;an memiliki lahiriah yang indah dan batin yang dalam dan tersembunyi. Keajaibannya tidak akan pernah habis, dan rahasia-rahasianya tidak akan pernah berakhir.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Nahjul Balaghah, terjemahan Muhammad Dasyti, Khutbah 18, halaman 64.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Jabir bin Abdullah Al-Anshari pernah bertanya kepada [[Imam Baqir as]] tentang tafsir sebuah ayat. Imam memberikan jawaban, lalu Jabir bertanya lagi tentang ayat yang sama, dan Imam memberikan jawaban yang berbeda. Jabir berkata: &amp;quot;Anda sebelumnya memberikan jawaban yang berbeda.&amp;quot; Imam menjawab: &amp;quot;Wahai Jabir, Al-Qur&#039;an memiliki batin, dan batinnya juga memiliki batin. lahiriahnya pun memiliki tingkatan-tingkatan. Wahai Jabir, tidak ada sesuatu pun dari Al-Qur&#039;an yang bisa ditafsirkan hanya dengan akal manusia, karena bisa jadi awal ayat berkaitan dengan satu hal dan akhir ayat berkaitan dengan hal lain. Al-Qur&#039;an adalah kalam yang saling terhubung dan memiliki banyak wajah.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, Beirut, Dar Ihya at-Turath al-Arabi, jilid 89, halaman 91, 94, dan 95.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Syarat Mengandalkan Makna lahiriah Ayat ==&lt;br /&gt;
Jika yang dimaksud dengan mengandalkan makna lahiriah adalah memahami ayat tanpa memperhatikan konteks, maka tidak mungkin hanya mengandalkan makna lahiriah. Karena dalam memahami makna lahiriah ayat, selain menguasai kaidah bahasa Arab dan pemahaman mendalam tentang bahasa Al-Qur&#039;an, juga perlu memperhatikan konteks, termasuk ayat-ayat lain dan riwayat-riwayat. Bahkan dalam ayat-ayat yang memiliki makna lahiriah yang jelas dan termasuk dalam kategori muhkam, karena ayat-ayat Al-Qur&#039;an saling terkait, dan sebagian ayat menjadi konteks bagi ayat lainnya. Selain itu, riwayat-riwayat dari [[Rasulullah saw]] dan [[Ahlul Bait as]] sebagai penafsir dan penjelas Al-Qur&#039;an harus diperhatikan. Al-Qur&#039;an sendiri menegaskan: &amp;quot;Kami telah menurunkan Al-Qur&#039;an kepadamu (Muhammad) agar kamu menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, agar mereka berpikir.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;QS. An-Nahl: 44.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dalam ayat-ayat mutasyabihat, tidak mungkin hanya mengandalkan makna lahiriah. Sebagai contoh, dalam ayat {{Quran|وَجَاءَ رَبُّکَ وَالْمَلَکُ صَفًّا صَفًّا}}&amp;lt;ref&amp;gt;QS. Al-Fajr: 22.&amp;lt;/ref&amp;gt;, makna lahiriahnya adalah bahwa Allah datang dan para malaikat berbaris dalam shaf-shaf. Atau dalam ayat {{Quran|الرَّحْمَنُ عَلَی الْعَرْشِ اسْتَوَی}}&amp;lt;ref&amp;gt;QS. Thaha: 5.&amp;lt;/ref&amp;gt;, makna lahiriahnya adalah bahwa Allah bersemayam di atas &#039;Arsy.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat-ayat ini dan ayat-ayat mutasyabihat lainnya harus dipahami dalam konteks ayat-ayat muhkam seperti {{Quran|... لَیْسَ کَمِثْلِهِ شَیْءٌ وَهُوَ السَّمِیعُ الْبَصِیرُ}}&amp;lt;ref&amp;gt;QS. Asy-Syura: 11.&amp;lt;/ref&amp;gt;, yang menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan &amp;quot;datang&amp;quot; adalah perintah Allah swt, dan yang dimaksud dengan &amp;quot;bersemayam&amp;quot; adalah kekuasaan Allah. Jika hanya mengandalkan makna lahiriah, maka akan mengarah pada pemahaman yang keliru, seperti menganggap Allah memiliki bentuk fisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Wahabi]] dengan berpegang pada makna lahiriah ayat-ayat dan tanpa memperhatikan ayat-ayat muhkam serta prinsip-prinsip akal, mengatakan: &amp;quot;Allah memiliki arah dan tempat, dan bersemayam di atas &#039;Arsy yang berada di atas langit. Allah memiliki tangan dan mata dalam makna harfiah.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ad-Durr al-Kaminah, Beirut, halaman 145. Lihat juga Ahmad bin Zaini Dahlan, Mufti Mekah, Sejarah Wahabisme, terjemahan Ibrahim Wahid Damghani, Penerbit Gulistan Kausar, cetakan pertama, 1376, halaman 16.&amp;lt;/ref&amp;gt; Mereka juga mengatakan: &amp;quot;Allah turun ke bumi setiap malam dan kembali ke langit pada pagi hari.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Umar Abdul Salam, Mukhalifah al-Wahabiyyah lil Qur&#039;an wa al-Sunnah, Dar al-Hidayah, cetakan pertama, 1416, halaman 8.&amp;lt;/ref&amp;gt; Bahkan, Ibnu Taimiyah secara tegas mengatakan: &amp;quot;Dalam Al-Qur&#039;an, Sunnah, dan ijma&#039;, tidak ada pembicaraan tentang penafian jismaniyyah (bentuk fisik) atau penafian tasybih (penyerupaan).&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Taimiyah, Al-Fatawa al-Kubra, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, halaman 21-23.&amp;lt;/ref&amp;gt; Pernyataan serupa juga dikemukakan oleh [[Hanabilah]], [[Hasyawiyyah]], dan [[Ibadiyyah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Subhani, Ja&#039;far, Buhuts fi al-Milal wa an-Nihal, Qom, Komite Administrasi Hauzah Ilmiyah, cetakan kedua, 1415, jilid 2, halaman 247.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bacaan Lebih Lanjut==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Tafsir Nemuneh, Ayatullah Makarim Syirazi, jilid 1, halaman 20; jilid 18, halaman 261; dan jilid 26, halaman 11.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Tafsir Tematik Al-Qur&#039;an, Ayatullah Jawadi Amoli, jilid 1, halaman 14.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Metodologi Tafsir Al-Qur&#039;an, Ali Akbar Babaei, Mahmud Rajabi, halaman 290 dan 32.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Majalah Bayyinat, Muhammad Ali Mahdavi Rad, edisi 3, halaman 89.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch = علوم و معارف قرآن&lt;br /&gt;
| subbranch1 = نص قرآن&lt;br /&gt;
| subbranch2 = نص و ظاهر قرآن&lt;br /&gt;
| subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه = -&lt;br /&gt;
 | تیترها = شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش = شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی = شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر = شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی نویسنده = &lt;br /&gt;
 | ارزیابی کمی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت = ج&lt;br /&gt;
 | کیفیت = ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa:اکتفا به ظاهر قرآن]]&lt;br /&gt;
[[ar:الاكتفاء بظاهر القرآن]]&lt;br /&gt;
[[ur:قرآن کے ظاہری معنی پر اکتفا کرنا]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Infak_Dalam_Al-Quran&amp;diff=952</id>
		<title>Infak Dalam Al-Quran</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Infak_Dalam_Al-Quran&amp;diff=952"/>
		<updated>2025-02-24T22:12:40Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{question}}&lt;br /&gt;
Apa yang dijelaskan oleh Al-Qur&#039;an mengenai kedudukan, pentingnya, dan dampak Infak?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Infak&#039;&#039; adalah salah satu elemen paling penting dan sentral dalam agama yang sering ditekankan dalam [[Al-Qur&#039;an]], dan untuknya dijanjikan pahala yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara dampak &#039;&#039;Infak&#039;&#039; adalah penyucian dan pemurnian diri, pencapaian kebaikan dan kedudukan spiritual, serta pengurangan kemiskinan dalam masyarakat. Mereka yang melakukan &#039;&#039;Infak&#039;&#039; dalam [[Al-Qur&#039;an]] adalah orang-orang yang beriman, bertakwa, dan berbuat baik. &#039;&#039;Infak&#039;&#039;, bersama dengan sifat-sifat seperti iman kepada yang gaib, kesabaran, kebaikan, dan mendirikan [[salat]], dianggap sebagai ciri utama seorang Muslim yang dijanjikan [[Allah]] dengan surga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Al-Qur&#039;an, orang-orang yang berhak menerima &#039;&#039;Infak&#039;&#039; antara lain adalah orang miskin, orang terpinggirkan, anak yatim, mereka yang dalam perjalanan, dan orang-orang yang membutuhkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Keutamaan dan Pentingnya &#039;&#039;Infak&#039;&#039;==&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Infak&#039;&#039; berarti memberi di jalan Allah dari apa yang telah Allah berikan sebagai rezeki.&amp;lt;ref&amp;gt;Mo’ini, Mohsen, “Infaq,” Ensiklopedia Al-Qur’an dan Penelitian Al-Qur’an, disunting oleh Bahaddin Khormashahi, Teheran, Doostan, Nahid, 1381 SH, jilid 1, hal. 313.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Infak&#039;&#039; adalah salah satu konsep moral yang paling penting dan salah satu amalan yang paling mulia yang banyak ditekankan dalam Al-Qur&#039;an. Allah menjanjikan pahala besar dan surga bagi mereka yang ber&#039;&#039;Infak&#039;&#039;.&amp;lt;ref&amp;gt;Surat Al-Hadid, ayat 11. Surat Al-Anfal, ayat 60. Surat At-Tawbah, ayat 21.&amp;lt;/ref&amp;gt; [[Allah]] menggandakan harta yang di&#039;&#039;Infak&#039;&#039;kan.&amp;lt;ref&amp;gt;Surat Al-Baqarah, ayat 261. Surat Al-Qasas, ayat 54.&amp;lt;/ref&amp;gt; Bagi mereka yang ber&#039;&#039;Infak&#039;&#039;, tidak ada rasa takut dan kesedihan.&amp;lt;ref&amp;gt;Surat Al-Baqarah, ayat 274.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam Al-Qur&#039;an, terdapat ratusan ayat yang membahas tentang membantu orang-orang yang membutuhkan, baik dalam bentuk zakat, khumus, sedekah, &#039;&#039;Infak&#039;&#039;, pinjaman tanpa bunga, memberi makan, pengorbanan, dan lain-lain. Al-Qur&#039;an memberikan petunjuk tentang jenis dan jumlah &#039;&#039;Infak&#039;&#039;, serta syarat-syarat bagi pemberi dan penerima &#039;&#039;Infak&#039;&#039;.&amp;lt;ref&amp;gt;Qara’ati, Mohsen, Tafsir Nur, Teheran, Pusat Kebudayaan Pelajaran dari Al-Qur’an, 1388 SH, jilid 9, hal. 461.&amp;lt;/ref&amp;gt; Allah seringkali memerintahkan untuk ber&#039;&#039;Infak&#039;&#039; dalam Al-Qur&#039;an.&amp;lt;ref&amp;gt;Surat Al-Baqarah, ayat 195. Surat Al-Hadid, ayat 10.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam satu ayat, dengan nada teguran, Allah bertanya, &amp;quot;Mengapa kamu tidak ber&#039;&#039;Infak&#039;&#039; di jalan Allah, padahal segala sesuatu adalah milik Allah?&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Thabathaba’i, Muhammad Husain, Al-Mizan fi Tafsir Al-Qur’an, terj. Muhammad Baqir Musavi Hamadani, Qum, Daftar Intisharat Islami, 1374 SH, jilid 2, hal. 587.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Infak&#039;&#039; memiliki dua dimensi dan fungsi, yaitu ibadah dan sosial:&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;Infak&#039;&#039; meningkatkan derajat spiritual seseorang.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;Infak&#039;&#039; memperbaiki kondisi ekonomi dan sosial masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak ayat dalam Al-Qur&#039;an yang menyebutkan sifat orang-orang baik dan bertakwa, serta menekankan pentingnya &#039;&#039;Infak&#039;&#039;. Salah satu hal terbesar yang mendapat perhatian dalam Islam, baik dalam &amp;quot;hak-hak Allah&amp;quot; maupun &amp;quot;hak-hak manusia,&amp;quot; adalah &#039;&#039;Infak&#039;&#039;, yang diperintahkan kepada umat.&amp;lt;ref&amp;gt;Surat Al-Baqarah, ayat 272. Surat Fatir, ayat 29. Surat Saba’, ayat 39.&amp;lt;/ref&amp;gt; Allah berfirman dalam Al-Qur&#039;an bahwa apapun yang kamu &#039;&#039;Infak&#039;&#039;kan, Allah akan menggantikannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Surat Al-Baqarah, ayat 261. Subhani, Ja’far, “Perumpamaan yang Indah dalam Al-Qur’an,” Jurnal Pelajaran dari Maktab Islam, edisi 9 (80).&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam satu ayat, &#039;&#039;Infak&#039;&#039; disamakan dengan biji yang tumbuh menjadi tujuh ratus butir.&amp;lt;ref&amp;gt;Makarem Syirazi, Nashir, Tafsir Nemuneh, Teheran, Dar Al-Kutub Al-Islamiyah, 1371 SH, jilid 18, hal. 117.&amp;lt;/ref&amp;gt; Para mufassir mengatakan bahwa apa pun yang di&#039;&#039;Infak&#039;&#039;kan di jalan Allah adalah perdagangan yang menguntungkan, karena Allah sendiri yang menjamin balasannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Makarem Syirazi, Nashir, Tafsir Nemuneh, Teheran, Dar Al-Kutub Al-Islamiyah, cetakan kesepuluh, 1371 SH, jilid 27, hal. 82.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Tazkiyah===&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Tazkiyah&#039;&#039; dan pembersihan diri adalah salah satu dampak penting dari &#039;&#039;Infak&#039;&#039;. Hal ini didasarkan pada ayat 18 [[Surah Al-Lail]]: {{quran|الَّذِی یُؤْتِی مَالَهُ یَتَزَکَّیٰ|translation=yang artinya, &amp;quot;Orang yang memberikan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan diri.|sura=Surah Al-Lail|verse=18}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para mufasir (ahli tafsir) menjelaskan makna tazkiyah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
* Niat ikhlas dan mendekatkan diri kepada Allah: Kata &amp;quot;yatazakka&amp;quot; (&#039;&#039;يَتَزَكَّىٰ&#039;&#039;) pada dasarnya merujuk pada niat yang ikhlas dan tujuan mendekatkan diri kepada Allah dalam ber&#039;&#039;Infak&#039;&#039;. Artinya, orang yang ber&#039;&#039;Infak&#039;&#039; hendaknya melakukannya dengan niat yang tulus semata-mata karena Allah, bukan karena riya (pamer) atau tujuan duniawi lainnya.&lt;br /&gt;
* Pertumbuhan spiritual dan rohani: Salah satu makna tazkiyah adalah pertumbuhan spiritual dan rohani. &#039;&#039;Infak&#039;&#039; dapat menumbuhkan dan meningkatkan kualitas spiritual seseorang serta membebaskannya dari keterikatan pada materi.&lt;br /&gt;
* Pembersihan harta: Makna lain dari tazkiyah adalah pembersihan harta. Dengan meng&#039;&#039;Infak&#039;&#039;kan sebagian harta, sisa harta tersebut dibersihkan dari hal-hal yang kurang baik atau syubhat (keragu-raguan). Dengan kata lain, &#039;&#039;Infak&#039;&#039; merupakan bentuk penyucian harta.&lt;br /&gt;
Kedua makna ini (pertumbuhan spiritual dan pembersihan harta) terkandung dalam kata &amp;quot;tazkiyah&amp;quot;.&lt;br /&gt;
Untuk memperkuat penjelasan ini, teks tersebut juga mengutip ayat 103 Surah At-Taubah&amp;lt;ref&amp;gt;Surat Al-Baqarah, ayat 271. Surat Aali ‘Imran, ayat 92.&amp;lt;/ref&amp;gt;:&lt;br /&gt;
{{quran|خُذْ مِنْ أَمْوالِهِمْ صَدَقَه تُطَهِّرُهُمْ‏ وَ تُزَكِّيهِمْ بِها وَ صَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ|translation=Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka.|sura=Surah At-Taubah|verse=103}}.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Al-Qur&#039;an, &#039;&#039;Infak&#039;&#039; menghapuskan dosa-dosa (kesalahan).&amp;lt;ref&amp;gt;Misbah Yazdi, Muhammad Taqi, Rastagaran, Qum, Ma’had Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini (ra), tanpa tahun, jilid 1, hal. 59.&amp;lt;/ref&amp;gt; Seseorang tidak akan mencapai kebaikan kecuali ia meng&#039;&#039;Infak&#039;&#039;kan sebagian dari apa yang ia cintai.&amp;lt;ref&amp;gt;Mottahari, Murtadha, Mojmoueh Asar, Teheran, Sadra, 1390 SH, jilid 26, hal. 126.&amp;lt;/ref&amp;gt; Rahasia mengapa &#039;&#039;Infak&#039;&#039; membawa keselamatan bagi seseorang adalah karena ia melepaskan ikatan-ikatan keterikatan dari hati dan jiwanya.&amp;lt;ref&amp;gt;Misbah Yazdi, Muhammad Taqi, Rastagaran, Qum, Ma’had Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini (ra), tanpa tahun, jilid 1, hal. 59.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Syahid Mutahhari]] menjelaskan tentang peran &#039;&#039;Infak&#039;&#039; dalam membentuk manusia, dengan mengatakan bahwa ketika seseorang memiliki sesuatu dan melepaskannya, ia menjadi cerminan dari rahmat Tuhan, dan ini memiliki peran besar dalam pembentukan manusia.&amp;lt;ref&amp;gt;Mottahari, Murtadha, Mojmoueh Asar, Teheran, Sadra, 1390 SH, jilid 26, hal. 126.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam kitab Majma&#039; al-Bayan, disebutkan: &amp;quot;Orang yang ber&#039;&#039;Infak&#039;&#039; berusaha untuk tetap bersih di hadapan Allah dan dalam &#039;&#039;Infak&#039;&#039;nya ia tidak menginginkan ketenaran atau pujian.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Thabarsi, Fadhl bin Hasan, Majma’ Al-Bayan, terj. Ahmad Behesti dkk., Teheran, Farahani, tanpa tahun, jilid 27, hal. 131.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Mengatasi Kemiskinan===&lt;br /&gt;
Topik yang paling luas dalam Al-Qur&#039;an terkait dengan tugas ekonomi adalah &#039;&#039;Infak&#039;&#039;. Kata ini muncul lebih dari delapan puluh kali dalam Al-Qur&#039;an dengan berbagai ungkapan, dan mendorong umat Islam untuk memberikan sebagian dari karunia Allah kepada orang lain.&amp;lt;ref&amp;gt;Montazeri, Hossein Ali, Islam Din Fitrah, Teheran, Saye, 1385 SH, jilid 1, hal. 574.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu tujuan &#039;&#039;Infak&#039;&#039; dalam Islam adalah mengatasi kemiskinan di masyarakat. Para ulama agama mengatakan bahwa budaya &#039;&#039;Infak&#039;&#039; menunjukkan bahwa setiap individu dalam masyarakat peduli terhadap sesama dan memikirkan kesejahteraan serta kehidupan mereka. Jika budaya &#039;&#039;Infak&#039;&#039; yang ditekankan oleh Al-Qur&#039;an diterapkan dengan baik dalam masyarakat, maka masalah kemiskinan yang menjadi salah satu isu mendasar dalam masyarakat manusia akan banyak membaik, bahkan mungkin dapat diatasi sepenuhnya. Para mufassir mengatakan bahwa salah satu tujuan Islam adalah menghilangkan ketidakadilan yang muncul akibat ketimpangan sosial antara kelas kaya dan miskin. Islam memiliki rencana besar untuk mencapai tujuan ini, dan salah satu yang terpenting adalah &#039;&#039;Infak&#039;&#039; dan bantuan finansial kepada sesama.&amp;lt;ref&amp;gt;Makarem Syirazi, Nashir, Tafsir Nemuneh, Teheran, Dar Al-Kutub Al-Islamiyah, 1371 SH, jilid 2, hal. 316.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membantu Orang Lain dan Berusaha Mengatasi Kemiskinan Masyarakat adalah contoh dari amal saleh yang sangat ditekankan dalam Al-Qur&#039;an. Allah menjanjikan azab yang pedih bagi mereka yang menyimpan emas dan perak tetapi tidak meng&#039;&#039;Infak&#039;&#039;kannya di jalan Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;Surat At-Tawbah, ayat 34.&amp;lt;/ref&amp;gt; Aksi menumpuk kekayaan dan tidak melakukan &#039;&#039;Infak&#039;&#039; dilarang dalam ajaran agama, dan orang yang mengumpulkan kekayaan tanpa ber&#039;&#039;Infak&#039;&#039; dikecam dengan keras.&amp;lt;ref&amp;gt;Montazeri, Hossein Ali, Islam Din Fitrah, Teheran, Saye, 1385 SH, jilid 1, hal. 576.&lt;br /&gt;
&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ciri-Ciri Pemberi &#039;&#039;Infak&#039;&#039;==&lt;br /&gt;
Pemberi &#039;&#039;Infak&#039;&#039; dalam Al-Qur&#039;an digambarkan sebagai orang-orang yang bertakwa, orang-orang baik&amp;lt;ref&amp;gt;Surat Al-Baqarah, ayat 195.&amp;lt;/ref&amp;gt;, orang-orang beriman&amp;lt;ref&amp;gt;Surat Al-Baqarah, ayat 254.&amp;lt;/ref&amp;gt;, orang-orang yang selamat&amp;lt;ref&amp;gt;Surat At-Taghabun, ayat 16.&amp;lt;/ref&amp;gt;, dan sebagainya. Mereka yang beriman kepada yang gaib dan menegakkan salat adalah orang-orang yang ber&#039;&#039;Infak&#039;&#039;.&amp;lt;ref&amp;gt;Surat Al-Baqarah, ayat 3.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Qur&#039;an, dengan menyebutkan berbagai jenis kebaikan, menganggap &#039;&#039;Infak&#039;&#039; sebagai salah satu bentuk kebaikan.&amp;lt;ref&amp;gt;Surat Al-Baqarah, ayat 177.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam ayat 16 [[Surah At-Taghabun]], mereka disebut sebagai muflihun (orang yang beruntung), dan mereka yang berjihad dengan harta dan jiwa mereka disebut &#039;&#039;fa&#039;izun&#039;&#039; (orang yang berhasil).&amp;lt;ref&amp;gt;Surat At-Tawbah, ayat 20.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam [[Surah Ali Imran]] disebutkan bahwa mereka ber&#039;&#039;Infak&#039;&#039; dalam keadaan lapang maupun sempit, dan Allah mencintai mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Surat Aali ‘Imran, ayat 134.&amp;lt;/ref&amp;gt; Salah satu sifat orang yang bertakwa adalah menetapkan hak tertentu bagi orang miskin dan yang membutuhkan atas harta mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Surat Adh-Dhariyat, ayat 19.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dan tentang sifat orang yang rendah hati, disebutkan bahwa mereka sabar, menegakkan salat, dan ber&#039;&#039;Infak&#039;&#039; dari apa yang telah diberikan [[Allah]] kepada mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Surat Al-Hajj, ayat 34 dan 35.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam menjelaskan ciri-ciri orang beriman, Al-Qur&#039;an menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka adalah orang-orang yang jujur.&amp;lt;ref&amp;gt;Surat Al-Hujurat, ayat 15.&amp;lt;/ref&amp;gt; Al-Qur&#039;an menganggap &#039;&#039;Infak&#039;&#039; sebagai salah satu pilar [[iman]]. Pentingnya dan besarnya &#039;&#039;Infak&#039;&#039; serta pengorbanan harta ini begitu besar sehingga ditempatkan sejajar dengan masalah-masalah dasar dalam [[Islam]].&amp;lt;ref&amp;gt;“Shadaqah dan Infaq dalam Ayat-ayat dan Riwayat,” Situs Informasi Kantor Ustadz Hossein Ansarian. Tanggal kunjungan: 12 Mehr 1402 SH.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Qur&#039;an memandang orang-orang yang membutuhkan, fakir miskin, musafir yang kehabisan bekal, anak yatim, orang-orang yang kekurangan, dan lain-lain sebagai pihak yang berhak menerima &#039;&#039;Infak&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
{{quran||translation=Sedekah itu hanya untuk orang-orang fakir, miskin, pengurusnya, orang yang dibujuk hatinya, untuk pembebasan budak, orang yang berutang, di jalan Allah, dan orang yang sedang dalam perjalanan. Ini adalah kewajiban yang ditetapkan oleh Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.|sura=At-Taubah|verse=60}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Qur&#039;an menjadikan beberapa bentuk &#039;&#039;Infak&#039;&#039;, seperti zakat, khumus, kafarat harta, dan jenis fidyah sebagai kewajiban, sementara beberapa jenis sedekah dan hal-hal seperti wakaf, memberi tempat tinggal, wasiat, pemberian, dan lainnya adalah perkara yang dianjurkan.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabathaba’i, Mohsen, Tafsir al-Mizan, terj. Muhammad Baqir Musavi, Qum, Daftar Intisharat Islami, 1374 SH, jilid 2, hal. 587.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Cara Ber&#039;&#039;Infak&#039;&#039;==&lt;br /&gt;
Allah swt memandang baik setiap jenis &#039;&#039;Infak&#039;&#039;, baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi, dan memberikan pahala untuk keduanya&amp;lt;ref&amp;gt;Surat Al-Baqarah, ayat 284.&amp;lt;/ref&amp;gt;, namun &#039;&#039;Infak&#039;&#039; yang tersembunyi lebih baik.&amp;lt;ref&amp;gt;Surat Al-Baqarah, ayat 271.&amp;lt;/ref&amp;gt; Para mufassir berpendapat bahwa &#039;&#039;Infak&#039;&#039; secara terang-terangan dan tersembunyi memiliki banyak manfaat. &#039;&#039;Infak&#039;&#039; yang terbuka mengundang orang lain untuk melakukan kebaikan ini dan mendorong masyarakat untuk ikut serta dalam amal tersebut. Namun, &#039;&#039;Infak&#039;&#039; yang tersembunyi terjaga dari riya, tidak menyakiti, merendahkan, atau menghinakan orang miskin, dan memiliki dampak spiritual serta moral yang sangat besar dan mulia.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabathaba’i, Muhammad Husain, Al-Mizan fi Tafsir Al-Qur’an, terj. Muhammad Baqir Musavi Hamadani, Qum, Daftar Intisharat Islami, 1374 SH, jilid 2, hal. 610.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam budaya Qurani, tujuan utama dari &#039;&#039;Infak&#039;&#039; adalah untuk meningkatkan kualitas spiritual manusia, yang memberi makna pada perbuatan ini adalah niat. Setiap &#039;&#039;Infak&#039;&#039; yang dilakukan dengan niat riya dianggap tidak bernilai.&amp;lt;ref&amp;gt;Sekelompok Penulis, “Infaq,” Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 10, di bawah entri.&amp;lt;/ref&amp;gt; Selama &#039;&#039;Infak&#039;&#039; dilakukan di jalan Allah dan bukan untuk mencari kedudukan atau keunggulan atas orang lain, maka itu akan tetap dianggap sebagai [[amal saleh]].&amp;lt;ref&amp;gt;Madani, Muhammad Taqi, Hukum Ibadah, Qum, Penerbitan Mubahat Al-Husayn (as), 1381 SH, jilid 1, hal. 523.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Infak&#039;&#039; harus dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan keridhaan Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;Surat Al-Baqarah, ayat 265.&amp;lt;/ref&amp;gt; Bukan untuk ambisi duniawi atau nafsu pribadi.&amp;lt;ref&amp;gt;Mohseni, Muhammad Asif, Ufuk A’la, Kabul, Risalat, 1396 SH, jilid 3, hal. 196.&amp;lt;/ref&amp;gt; Jika &#039;&#039;Infak&#039;&#039; disertai dengan pengingat atau menyakitkan hati orang yang menerima, maka seluruh pahalanya akan hilang.&amp;lt;ref&amp;gt;Mottahari, Murtadha, Mojmoueh Asar, Teheran, Sadra, 1390 SH, jilid 22, hal. 187.&amp;lt;/ref&amp;gt; Namun, jika &#039;&#039;Infak&#039;&#039; dilakukan tanpa menyakiti dan tanpa mengingatkan&amp;lt;ref&amp;gt;Makarem Syirazi, Nashir, Tafsir Nemuneh, Teheran, Dar Al-Kutub Al-Islamiyah, 1371 SH, jilid 2, hal. 318.&amp;lt;/ref&amp;gt;, maka pahala &#039;&#039;Infak&#039;&#039; tersebut akan tetap terjaga di sisi Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;Surat Al-Baqarah, ayat 262.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Studi Lebih Lanjut==&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;Infak&#039;&#039;, Tafsir Al-Qur&#039;an, Imam Musa Sadr, diterjemahkan oleh Alireza Mahmoudi, Institut Imam Musa Sadr.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;Infak&#039;&#039; (Dari &#039;&#039;Infak&#039;&#039; yang Merusak hingga &#039;&#039;Infak&#039;&#039; yang Membangun), Ali Safaei Haeri.&lt;br /&gt;
# &#039;&#039;Infak&#039;&#039; dalam Al-Qur&#039;an, Abul Fath Azizii Abraghi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch = علوم و معارف قرآن&lt;br /&gt;
|subbranch1 = اخلاق در قرآن&lt;br /&gt;
|subbranch2 = فضایل اخلاقی&lt;br /&gt;
|subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه =شد&lt;br /&gt;
 | تیترها =شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش =شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی =شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر =شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | ارزیابی کمی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت =ب&lt;br /&gt;
 | کیفیت =ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa: انفاق در قرآن]]&lt;br /&gt;
[[bn: কোরআনের দৃষ্টিতে ইনফাক]]&lt;br /&gt;
[[ur: انفاق قرآن کریم کی روشنی میں]]&lt;br /&gt;
[[en: Charity in the Qur&#039;an]]&lt;br /&gt;
[[ar: الإنفاق في القرآن]]&lt;br /&gt;
[[ru:Пожертвования (Инфак) в Коране]]&lt;br /&gt;
[[es:La Caridad en el Corán]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Fenomena_Takfir_Dalam_Masyarakat_Islam&amp;diff=951</id>
		<title>Fenomena Takfir Dalam Masyarakat Islam</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Fenomena_Takfir_Dalam_Masyarakat_Islam&amp;diff=951"/>
		<updated>2025-02-24T21:35:01Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{question}}&lt;br /&gt;
Kapan dan berdasarkan landasan apa fenomena takfir (mengkafirkan orang lain) muncul di kalangan umat Islam?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
Dalam masyarakat [[Islam]], takfir berarti menuduh seseorang yang mengaku Muslim dan beriman sebagai kafir. Fenomena ini bisa terjadi secara individu atau berkembang menjadi gerakan pemikiran. Yang berbahaya adalah [[gerakan-gerakan takfiri]] yang mengkafirkan sesama Muslim berdasarkan kriteria tertentu. Misalnya, Khawarij mengkafirkan Muslim karena dosa besar, sementara Salafi dan Wahabi mengkafirkan karena praktik seperti ziarah kubur, meminta syafaat, tabarruk dan hal yang serupa lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Takfir Individu==&lt;br /&gt;
Takfir individu mengacu pada tindakan seorang Muslim yang menuduh Muslim lain sebagai kafir. Tuduhan ini umumnya tidak memiliki dasar yang kuat dan sering kali didorong oleh permusuhan atau kebencian pribadi. Pada masa awal Islam, bahkan di era kehidupan Rasulullah saw [diperlukan sumber], serta pada masa kekhalifahan, beberapa Muslim pernah mengalami takfir oleh individu tertentu. Sebagai contoh, pada masa kekhalifahan [[Abu Bakar]], [[Malik bin Nuwairah]] dan kaumnya dituduh kafir dengan alasan menolak membayar [[zakat]]. Tuduhan tersebut berujung pada pembantaian mereka oleh [[Khalid bin Walid]].&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Ṭabarī, Abū Ja‘far Muḥammad bin Jarīr, Tārīkh al-Ṭabarī, Beirut, Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tanpa tahun, Jilid 2, halaman 272–273.&amp;lt;/ref&amp;gt; Meskipun demikian, takfir jenis ini bersifat individual dan tidak termasuk dalam kategori gerakan takfiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Gerakan dan Sekte Takfiri==&lt;br /&gt;
Fenomena yang saat ini menjadi perhatian dunia [[Islam]] adalah kemunculan [[Gerakan-gerakan takfiri|gerakan-gerakan takfiri]] yang beroperasi dalam bentuk mazhab atau sekte tertentu, bertentangan dengan kaum Muslim lainnya. Gerakan-gerakan ini memiliki sejarah perkembangan dan transformasi yang penting untuk diperhatikan.&lt;br /&gt;
=== Gerakan Takfiri Khawarij ===&lt;br /&gt;
Gerakan takfiri lahir sebagai hasil dari pemikiran tertentu yang mengkafirkan sesama Muslim. [[Sekte Khawarij]] adalah gerakan takfiri pertama yang muncul dalam sejarah Islam. Kata &amp;quot;Khawarij&amp;quot; merupakan bentuk jamak dari Khariji, yang berasal dari kata khuruj, yang berarti pemberontakan atau pembangkangan. Dalam bahasa Persia, istilah ini setara dengan &amp;quot;pemberontak&amp;quot; (syuresyan).&amp;lt;ref&amp;gt;Ḥawzī Sharunūmī, Sa‘īd, Aqrab al-Mawārid, Beirut, Maṭba‘ah Mursalī al-Yasū‘iyyah, 1889, Jilid 1, halaman 264.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekte Khawarij muncul pada tahun 37 Hijriah dalam konteks [[Perang Shiffin]], setelah proses arbitrase (tahkim) antara [[Imam Ali as]] dan [[Muawiyah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Dīnawarī, Akhbār al-Ṭiwāl, terj. Maḥmūd Mahdī Dāmgānī, Teheran, Nashr Nī, Cetakan ke-4, 1371 SH, halaman 23.&amp;lt;/ref&amp;gt; Para pengikut Khawarij awalnya adalah sebagian pasukan Imam Ali as yang terpedaya oleh tipu muslihat Muawiyah dan [[Amr bin Ash]]. Mereka menerima usulan arbitrase yang diajukan oleh Muawiyah dan memaksa Imam Ali as untuk menyetujuinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, setelah keputusan arbitrase diumumkan, mereka menyadari kesalahan mereka. Bukannya mengakui kekeliruan dan meminta maaf kepada Imam Ali as, mereka justru membuat kesalahan yang lebih besar dengan mengusung slogan &amp;quot;La hukma illa lillah&amp;quot; (Tiada hukum selain hukum Allah).&amp;lt;ref&amp;gt;Dīnawarī, Akhbār al-Ṭiwāl, halaman 23.&amp;lt;/ref&amp;gt; Mereka menolak arbitrase sebagai sesuatu yang bertentangan dengan hukum Allah, serta menyebutnya sebagai penyebab syirik dan kekufuran.&amp;lt;ref&amp;gt;Dīnawarī, Akhbār al-Ṭiwāl, halaman 247.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
Khawarij kemudian menuntut Imam Ali as untuk bertobat atas apa yang telah dilakukan, membatalkan perjanjian gencatan senjata, dan melanjutkan perang melawan Muawiyah.&amp;lt;ref&amp;gt;Dīnawarī, Akhbār al-Ṭiwāl, halaman 252.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Ali as menanggapi kelompok Khawarij dengan tegas, mengingatkan mereka bahwa pemahaman mereka tentang arbitrase adalah keliru. Beliau menjelaskan bahwa yang seharusnya dijadikan arbitrase bukanlah individu, tetapi [[Al-Qur&#039;an]], yang merupakan hukum Allah. Allah memerintahkan umat Islam untuk kembali kepada-Nya dan [[Rasulullah saw]] dalam setiap perselisihan. Kembali kepada Al-Qur&#039;an berarti menerima keputusan yang ditetapkan oleh-Nya, sementara kembali kepada sunnah Rasulullah&amp;lt;ref&amp;gt;Surah al-Nisā’, ayat 59.&amp;lt;/ref&amp;gt; berarti mengikuti petunjuk dan teladan beliau. Jika penyelesaian dilakukan berdasarkan Al-Qur&#039;an dan sunnah, maka kebenaran akan berpihak pada kita.&amp;lt;ref&amp;gt;Fayḍ al-Islām, Nahj al-Balāghah, halaman 386, Khuṭbah 125.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelompok Khawarij menganggap setiap orang yang melakukan dosa besar sebagai kafir. Setelah kemunculan Khawarij, kaum [[Syiah]] pun mulai difitnah sebagai kafir oleh [[Dinasti Umayyah]], dan dengan tuduhan tersebut, banyak orang Syiah yang menjadi korban pembantaian secara massal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Gerakan Takfiri Barbahari ===&lt;br /&gt;
[[Bahrabari]] sangat keras dalam menentang mereka yang dianggapnya sebagai [[ahli bid&#039;ah]], hingga ia mengkafirkan lawan-lawannya dan membentuk kelompok untuk menumpas mereka. Tindakannya ini menyebabkan Khalifah al-Qahir Billah marah dan mengusirnya ke Basra. Pada masa Khalifah al-Radhi Billah, kelompok Barbahari semakin menggila, sehingga dua orang dari kelompok ini dilarang berkumpul di kota atas perintah khalifah. Karena tekanan dari pemerintah Abbasiyah, Barbahari akhirnya bersembunyi dan meninggal di tempat persembunyiannya. Banyak pengikutnya yang dipenjara, sementara sebagian lainnya melarikan diri atau bersembunyi di kota-kota lain.&amp;lt;ref&amp;gt;Zarkalī, Khayr al-Dīn, Al-A‘lām, Jilid 2, halaman 201, Beirut, Dār al-‘Ilm li al-Malāyīn, Cetakan ke-5, 1980 M.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Ibnu Taiminyah Sebagai Pembaharu Aliran Barbahari ===&lt;br /&gt;
Setelah pergerakan Barbahari yang ditekan oleh khalifah Abbasiyah, pada abad ke-7 Hijriyah, Ahmad bin Abdul Halim al-Harrani, yang lebih dikenal dengan nama [[Ibn Taimiyyah]] (l. 661 H)&amp;lt;ref&amp;gt;Kathīrī, Sayyid Muḥammad, Al-Salafiyyah Bayn al-Sunnah wa al-Imāmiyyah, halaman 211, Beirut, Intishārāt Ghadīr, Cetakan pertama, 1418 H.&amp;lt;/ref&amp;gt;, menghidupkan kembali ajaran Barbahari. Ibn Taimiyyah mengkafirkan umat Islam yang meyakini [[ziarah]], [[tawassul]], [[syafaat]], dan [[berkat]] (tabarruk).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn Taimiyyah merupakan pendiri ajaran [[Wahabi]]. Ia menyusun pandangannya tentang larangan ziarah dan meminta syafaat kepada Nabi Muhammad saw serta para wali dalam beberapa bukunya, yang berfokus pada isu syirik dan tauhid. Menanggapi pandangan-pandangan baru tersebut, para ulama besar dari kalangan Sunni dan Syiah, baik pada masa Ibn Taimiyyah maupun setelahnya, banyak yang menulis buku untuk membantah pandangannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Kathīrī, Sayyid Muḥammad, Al-Salafiyyah Bayn al-Sunnah wa al-Imāmiyyah, halaman 235–239, Beirut, Intishārāt Ghadīr, Cetakan pertama, 1418 H.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Muhammad bin Abdul Wahhab Pembaharu Pemikiran Ibn Taimiyyah ===&lt;br /&gt;
Setelah Ibn Taimiyyah, aliran takfir di dunia [[Isla]]m tidak begitu berkembang hingga pada abad ke-12 Hijriyah, [[Muhammad bin Abdul Wahhab]] menghidupkan kembali aliran ini. Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman al-Tamimi, menurut satu pendapat lahir pada tahun (1111 H), dan menurut pendapat lain pada tahun (1115 H) dan (1703 atau 1704 M) di kota Uyaynah, salah satu kota di wilayah Najd.&amp;lt;ref&amp;gt;Subḥānī, Ja‘far, Buḥūth fī al-Milal wa al-Niḥal, Jilid 4, halaman 334, Mu’assasah Nashr Islāmī, Cetakan ketiga, 1414 H.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Muhammad bin Abdul Wahhab, pemimpin aliran Wahabi, sangat keras dalam permusuhannya terhadap umat Muslim hingga ia secara ekstrem menyatakan bahwa syirik umat Muslim lebih buruk daripada syirik orang-orang musyrik pada masa [[Jahiliyah]]. Ia beralasan bahwa musyrik pada masa itu hanya menyembah berhala saat dalam keadaan makmur, tetapi ketika kesulitan datang, mereka kembali menyembah Tuhan yang Maha Esa. Sementara itu, menurutnya, umat Muslim tetap musyrik baik dalam keadaan senang maupun susah.&amp;lt;ref&amp;gt;Muḥammad bin ‘Abd al-Wahhāb ‘Azīz al-‘Aẓmah, halaman 121; Muḥammad bin ‘Abd al-Wahhāb, Kashf al-Shubuhāt, halaman 33–34, Riyadh, Wizārat al-Shu’ūn al-Islāmiyyah, Cetakan keenam, 1420 H.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia juga berpendapat bahwa siapa pun yang tidak mengkafirkan umat Muslim yang dianggap musyrik atau meragukan kekufuran mereka adalah salah satu pembatal Islam yang paling besar.&amp;lt;ref&amp;gt;Abd al-Ḥalīm ‘Awbīs, Al-Da‘wah ‘alā Manhaj al-Nubuwwah (Athar al-Tajdīd fī al-Jazā’ir), halaman 135, Riyadh, 1423 H.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam hal ini, al-Qanouji menyatakan: &amp;quot;Pada masa kami, pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab yang berasal dari Najd dan menguasai dua tanah suci, serta mengklaim diri mereka sebagai pengikut [[madzhab Hanbali]], meyakini bahwa hanya mereka yang dianggap Muslim, sementara selain mereka dianggap musyrik. Dengan keyakinan ini, mereka menghalalkan pembunuhan terhadap Ahlusunah dan ulama mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Qannūjī, Ṣiddīq bin Ḥasan, Abjad al-‘Ulūm, Jilid 3, halaman 198, Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1998 M, dikutip dari Ḥāshiyah Ibnu ‘Ābidīn.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aliran ini disebut sebagai aliran Salafi Takfiri. Kelompok Salafi Takfiri menganggap orang yang berbeda pandangan dengan mereka sebagai kafir. Pada zaman sekarang, Wahabisme merupakan contoh dari [[Salafi Takfiri]], karena menurut pandangan Wahabi, semua Muslim dianggap musyrik karena melakukan beberapa amalan keagamaan tertentu, dengan alasan ini mereka dianggap sebagai orang yang darahnya halal untuk ditumpahkan. Oleh karena itu, seluruh perang yang dilakukan oleh Wahabi hanya ditujukan kepada sesama Muslim.&amp;lt;ref&amp;gt;‘Alīzādah Mūsawī, Sayyid Mahdī, Salafīgarī wa Wahhābiyyah (Tabārshināsī), Jilid 1, halaman 94–95, Qom, Daftar Tablīghāt Islāmī Ḥawzah ‘Ilmiyyah Qom, Mu‘āwinat Farhangī.&amp;lt;/ref&amp;gt; Saat ini, semua kelompok takfiri terpengaruh oleh pemikiran Wahabi dan mereka semua adalah Salafi Takfiri yang menumpahkan darah sesama Muslim dan bekerja sama dengan musuh-musuh Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch = ادیان و مذاهب&lt;br /&gt;
 | subbranch1 = اسلام&lt;br /&gt;
 | subbranch2 = وهابیت&lt;br /&gt;
 | subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه = شد&lt;br /&gt;
 | تیترها = شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش =&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی = شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر = شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت =ب&lt;br /&gt;
 | کیفیت = ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa: پدیده تکفیر در جامعه اسلامی]]&lt;br /&gt;
[[es:El fenómeno del takfir en la sociedad islámica]]&lt;br /&gt;
[[bn: ইসলামি সমাজে তাকফিরের সূচনা]]&lt;br /&gt;
[[ur: اسلامی معاشرے میں تکفیر کا سلسلہ]]&lt;br /&gt;
[[en: The Phenomenon of Takfir in Islamic Society]]&lt;br /&gt;
[[ru: Появление феномена такфир в исламском обществе]]&lt;br /&gt;
[[ar: ظاهرة التكفير في المجتمع الإسلامي]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Peristiwa_Saqifah&amp;diff=950</id>
		<title>Peristiwa Saqifah</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Peristiwa_Saqifah&amp;diff=950"/>
		<updated>2025-02-24T18:56:37Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Jelaskan tentang peristiwa Saqifah?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
{{portal|واژه‌ها}}&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Peristiwa Saqifah Bani Sa&#039;idah&#039;&#039;&#039; terjadi setelah wafatnya Nabi Muhammad saw untuk menentukan penerus beliau. Sejumlah kelompok dari [[Muhajirin]] dan [[Anshar]], tanpa kehadiran [[Imam Ali as]] dan [[Sahabat-sahabat]] terkenal, berkumpul di Saqifah Bani Sa&#039;idah. Setelah banyak diskusi dan perdebatan, mereka memilih [[Abu Bakar]] sebagai [[Khalifah]]. Mereka segera menggunakan berbagai metode untuk mendapatkan baiat dari orang lain dan mengokohkan kekhalifahan Abu Bakar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Lokasi dan Fungsi Saqifah==&lt;br /&gt;
Saqifah Bani Sa&#039;idah terletak di bagian barat laut [[Masjid Nabawi]]. Tempat ini hanya mampu menampung kurang dari seratus orang. Ini adalah tempat pertemuan Anshar (penduduk Madinah, termasuk suku Aws dan Khazraj). Dalam bahasa Arab, &amp;quot;saqifah&amp;quot; berarti sebuah bangunan dengan atap kayu kecil (tempat berteduh).&amp;lt;ref&amp;gt;Hasani, Ali Akbar, Sejarah Analitis dan Politik Islam dari Jahiliyah hingga Zaman Umayyah, Penerbit Farhang, cetakan pertama, 1373, hal. 319.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pertemuan untuk Menentukan Penerus Nabi Muhammad saw di Saqifah==&lt;br /&gt;
Setelah meninggalnya Nabi Muhammad saw, saat Imam Ali as dan [[Bani Hasyim]] sibuk membersihkan dan menguburkan jenazah Nabi saw, sekelompok [[Anshar]] dan beberapa [[Muhajirin]] berkumpul di Saqifah Bani Sa&#039;idah untuk menentukan siapa yang akan menjadi penerus Nabi Muhammad saw.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peserta di Saqifah menganggap kelompok mereka lebih layak daripada yang lain. Anshar menganggap keyakinan mereka dalam membawa iman dan mendukung Nabi saw sebagai alasan utama mengapa mereka harus memiliki prioritas dalam menentukan penerus Nabi saww. Sementara itu, Muhajirin menekankan senioritas mereka dalam Islam dan hubungan dekat mereka dengan Nabi saw sebagai dasar mengapa mereka lebih pantas menjadi penerus Nabi saw. Anshar kemudian mengusulkan teori bahwa ada satu pemimpin dari mereka dan satu lagi dari Muhajirin; namun, [[Abu Bakar]] menolak usulan ini dengan merujuk pada hadis Nabi yang menyebutkan bahwa penerus harus dari kabilah Quraisy.&amp;lt;ref&amp;gt;Shahidi, Syekh Ja&#039;far, Sejarah Analitis Islam, Teheran, Pusat Penerbitan Universitas, cetakan kedua, 63, hal. 92.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anshar, yang awalnya mendukung kepemimpinan [[Sa&#039;ad bin Ubadah]], akhirnya kalah dan setuju dengan usulan Umar untuk menjadikan Abu Bakar sebagai Khalifah. Mereka segera memberikan baiat kepada Abu Bakar, dan sebagian besar peserta lainnya mengikuti jejak mereka. Beberapa percaya bahwa permusuhan lama antara [[Aus dan Khazraj]] juga memainkan peran penting dalam mendorong usulan Muhajirin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pengambilan Baiat dari Orang-orang Lain==&lt;br /&gt;
Setelah meninggalkan Saqifah, mereka menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan baiat dari orang lain, sehingga upaya [[Imam Ali as]] dan [[Fatimah az-Zahra sa]] serta beberapa sahabat Nabi saw tidak berhasil menghentikan proses tersebut, dan kekhalifahan Abu Bakar pun ditetapkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian orang dipaksa memberikan baiat karena alasan bahwa mereka tidak boleh melawan mayoritas umat Islam. Para penjahat menggunakan manipulasi, nasihat, janji-janji palsu, ancaman, pembunuhan, teror, dan penciptaan hadis palsu untuk mendapatkan baiat dari sebagian besar orang dalam waktu singkat. Beberapa memberikan baiat dengan sukarela, sementara yang lain melakukannya dengan enggan atau di bawah tekanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam pemilihan ini, Imam Ali as, keluarga [[Bani Hasyim]], dan sebagian besar pemimpin Muhajirin dan Anshar yang berpengalaman seperti [[Abbas bin Abdul Muththalib]], pamanda Nabi, [[Salman al-Farisi]], [[Miqdad]], [[Amir]], [[Abu Dzar]], dan lainnya tidak hadir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadhrat Fatimah sa mengekspresikan kemarahannya atas penyimpangan dalam kepemimpinan Khalifah kepada wanita-wanita dari Quraisy: &amp;quot;Aku muak dengan duniamu dan gembira dengan perpisahanmu, karena hak-hakku tidak dijaga, perjanjian dan sumpah Nabi saw tidak dihormati, dan wasiatnya tidak diterima.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa berpendapat bahwa dengan [[pencurian kekhalifahan]] oleh Abu Bakar dan Umar, umat Islam semakin menjauh dari Ahlul Bait Nabi saw, dan dampak negatifnya mulai terlihat; namun, sikap dan pandangan Imam Ali as dan para Imam Maksum as mencegah penyimpangan total dalam Islam.&amp;lt;ref&amp;gt;Hasani, Ali Akbar, Sejarah Analitis Politik Islam, Penerbit Farhang, cetakan pertama, 1373, hal. 321.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Referensi Lebih Lanjut==&lt;br /&gt;
* Sejarah Analitis Islam; Syekh Ja&#039;far Syahidi&lt;br /&gt;
* Sejarah Analitis dan Politik Islam dari Jahiliyah hingga Zaman Umayyah; Ali Akbar Hasani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch = تاریخ&lt;br /&gt;
 | subbranch1 = حکومت‌های پس از پیامبر(ص)&lt;br /&gt;
 | subbranch2 = خلفا&lt;br /&gt;
 | subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه =شد&lt;br /&gt;
 | تیترها =شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش =شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی =شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر =شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | ارزیابی کمی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت =ج&lt;br /&gt;
 | کیفیت =ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa:جریان سقیفه]]&lt;br /&gt;
[[bn:সাকীফার ঘটনা]]&lt;br /&gt;
[[en:The Saqifa Incident]]&lt;br /&gt;
[[ps:دسقیفه پیښه]]&lt;br /&gt;
[[ur:واقعہ سقیفہ]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Pahala_18_Kali_Lipat_Bagi_Pemberi_Pinjaman&amp;diff=949</id>
		<title>Pahala 18 Kali Lipat Bagi Pemberi Pinjaman</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Pahala_18_Kali_Lipat_Bagi_Pemberi_Pinjaman&amp;diff=949"/>
		<updated>2025-02-24T18:34:04Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{question}}&lt;br /&gt;
Apakah hadis yang mengatakan pahala 18 kali lipat bagi orang yang memberi pinjaman adalah benar?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
Matan hadis yang terdapat dalam [[kitab al-Kafi]] dan [[Kitab Tahdzib al-Ahkam|Tahdzib al-Ahkam]] menyebutkan pahala memberikan pinjaman 18 kali lebih besar. Salah satu riwayat yang dinukil dari [[Imam Ja&#039;far Shadiq as]] secara sanad dianggap muktabar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan riwayat ini, pahala [[sedekah]] adalah 10 kali lipat, sementara pahala pinjaman adalah 18 kali lipat.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Hadis Pertama==&lt;br /&gt;
{{arabic|عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ(ع): مَكْتُوبٌ عَلى بَابِ الْجَنَّةِ: الصَّدَقَةُ بِعَشَرَةٍ، وَ الْقَرْضُ بِثَمَانِيَةَ عَشَرَ|translation=&amp;quot;Tertulis di pintu surga: pahala sedekah sepuluh kali lipat, dan pahala pinjaman delapan belas kali lipat.}}&amp;lt;ref&amp;gt;al-Kulaini, Muhammad, al-Kafi, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan keempat, 1407 H, jilid 4, bab al-Qardh, hal. 33.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kajian Sanad==&lt;br /&gt;
Hadis ini diriwayatkan oleh [[Muhammad bin Ya&#039;qub al-Kulaini]] dalam kitab &#039;&#039;[[al-Kafi]]&#039;&#039; dari [[Imam Ja&#039;far Shadiq as]]. Para perawi hadis ini adalah [[Ali bin Ibrahim]], ayahnya, Ibnu Abi Umayr, Mansur bin Yunus, dan Ishaq bin Ammar.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Allamah Majlisi]] dalam kitab [[Mir&#039;ah al-Uqul]] menilai sanad hadis ini sebagai hasan atau muwatstsaq. &amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, Mir&#039;ah al-Uqul fi Syarh Akhbar Al Rasul, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan kedua, jilid 16, hal. 162.&amp;lt;/ref&amp;gt; Menurut [[Syekh Thusi]], Mansur bin Yunus, salah satu perawi hadis ini, adalah penganut mazhab [[Waqifiyyah]],&amp;lt;ref&amp;gt;Thusi, Rijal al-Thusi, disunting oleh Jawad Qayyumi Isfahani, Qom, Jama&#039;ah al-Mudarrisin, 1373 H, hal. 343.&amp;lt;/ref&amp;gt; tetapi ia tetap dianggap tsiqah dan terpercaya.&amp;lt;ref&amp;gt;Najasyi, Rijal al-Najasyi, disunting oleh Musa Syubairi Zanjani, Qom, Jama&#039;ah al-Mudarrisin, 1365 H, hal. 412.&amp;lt;/ref&amp;gt; Oleh sebab itu, riwayat ini muwatstsaq dan [[muktabar]].  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Syekh Shaduq]] juga mencatat hadis ini dalam kitab &#039;&#039;[[Man La Yahdhuruhu al-Faqih]]&#039;&#039;.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Babawaih, Muhammad, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, Qom, Jama&#039;ah al-Mudarrisin, cetakan kedua, 1413 H, jilid 2, bab Tsawab al-Qardh, hal. 58, hadis 1697 dan jilid 2, bab Fadhil al-Shadaqah, hal. 67, hadis 1738.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Hadis Kedua==&lt;br /&gt;
{{arabic|عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ(ع)، قَالَ: «قَالَ رَسُولُ اللَّهِ(ص): الصَّدَقَةُ بِعَشَرَةٍ، وَ الْقَرْضُ بِثَمَانِيَةَ عَشَر…|translation=[[Imam Shadiq as]] meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: &amp;quot;Pahala sedekah sepuluh kali lipat, dan pahala pinjaman delapan belas kali lipat.&amp;quot;}}.&amp;lt;ref&amp;gt;al-Kulaini, Muhammad, al-Kafi, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan keempat, 1407 H, jilid 4, bab al-Shadaqah &#039;ala al-Qarabah, hal. 10.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kajian Sanad==  &lt;br /&gt;
Hadis ini diriwayatkan oleh [[Syekh Kulaini]] dalam kitab &#039;&#039;[[al-Kafi]]&#039;&#039; dari [[Imam Shadiq as]], yang menyampaikan dari [[Rasulullah saw]]. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu perawi, [[Nufali]], tidak ditetapkan tsiqah ataupun dha&#039;if dalam kitab-kitab rijal terdahulu.&amp;lt;ref&amp;gt;Najasyi, Rijal al-Najasyi, disunting oleh Musa Syubairi Zanjani, Qom, Jama&#039;ah al-Mudarrisin, 1365 H, hal. 38; Thusi, Muhammad bin Hasan, Rijal al-Thusi, disunting oleh Jawad Qayyumi Isfahani, Qom, Jama&#039;ah al-Mudarrisin, 1373 H, hal. 490.&amp;lt;/ref&amp;gt; Menurut [[Abdullah Mamaqani]], sebagian ulama menilainya lemah, namun ia sendiri menyebutnya sebagai hasan. &amp;lt;ref&amp;gt;Mamqani, Abdullah, Tanqih al-Maqal fi &#039;Ilm al-Rijal, disunting oleh Muhyiuddin Mamqani dan Muhammad Ridha Mamqani, Qom, Mu&#039;assasah Al al-Bayt as, 1431 H, hal. 155.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut [[Allamah Hilli]], [[Sakuni]], perawi lainnya, adalah seorang [[Ahlusunah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf, Rijal al-Allamah al-Hilli, disunting oleh Muhammad Shadiq Bahrul Ulum, Qom, al-Syarif al-Radhi, 1402 H, hal. 199.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beberapa ulama menilainya tsiqah dan menerima riwayatnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Istirabadi, Muhammad bin Ali, Manhaj al-Maqal fi Tahqiq Ahwal al-Rijal, Qom, Mu&#039;assasah Al al-Bayt as, 1422 H, jilid 2, hal. 307.&amp;lt;/ref&amp;gt; Oleh karena itu, validitas sanad hadis ini bergantung pada metode penilaian rijal yang digunakan.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Allamah Majlisi]] dalam kitab &#039;&#039;[[Mir&#039;ah al-Uqul]]&#039;&#039;&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, Mir&#039;ah al-Uqul fi Syarh Akhbar al-Rasul, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan kedua, jilid 16, hal. 135.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan &#039;&#039;[[Miladz al-Akhyar]]&#039;&#039; &amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, Miladz al-Akhyar fi Fahm Tahdzib al-Akhbar, Qom, Perpustakaan Mar&#039;asyi Najafi, cetakan pertama, jilid 6, hal. 278.&amp;lt;/ref&amp;gt; menilai sanad hadis ini sebagai dha&#039;if. [[Syekh Thusi]] juga mencatat hadis ini dalam kitab &#039;&#039;[[Tahdzib al-Ahkam]]&#039;&#039; dengan sanad yang sama seperti yang digunakan oleh Syekh Kulaini.&amp;lt;ref&amp;gt;Thusi, Muhammad, Tahdzib al-Ahkam, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan keempat, 1407 H, jilid 4, bab 29, Bab Ziyadah fi al-Zakah, hal. 106, hadis 36.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch = حدیث&lt;br /&gt;
| subbranch1 = منبع‌شناسی&lt;br /&gt;
| subbranch2 =&lt;br /&gt;
| subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه = شد&lt;br /&gt;
 | تیترها = شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش = شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی = شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر = شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی نویسنده =&lt;br /&gt;
 | ارزیابی کمی =شد&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت = ج&lt;br /&gt;
 | کیفیت = ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa:ثواب هجده برابری قرض دادن]]&lt;br /&gt;
[[ps:د قرض ورکولو اتلس چنده ثواب]]&lt;br /&gt;
[[ur:قرض دینی پر اٹهاره گنا ثواب]]&lt;br /&gt;
[[bn:ঋণ প্রদানের আঠারো গুণ সাওয়াব]]&lt;br /&gt;
[[es:La recompensa dieciocho veces mayor por prestar]]&lt;br /&gt;
[[en:The Eighteen-Fold Reward of Giving Loans]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Ketidakterbatasan_Tuhan&amp;diff=948</id>
		<title>Ketidakterbatasan Tuhan</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Ketidakterbatasan_Tuhan&amp;diff=948"/>
		<updated>2025-02-24T18:11:32Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{question}}&lt;br /&gt;
Bagaimana kita dapat membuktikan ketidakterbatasan Tuhan?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
Ada berbagai cara untuk membuktikan &#039;&#039;&#039;ketidakterbatasan Tuhan&#039;&#039;&#039;. Sebagian cara ini disebutkan dalam ucapan [[Imam Ali]], dan sebagian lainnya dijelaskan oleh para filsuf. Imam Ali as menyatakan bahwa Tuhan tidak dapat ditunjuk dengan isyarat dan menegaskan bahwa jika Tuhan memiliki keterbatasan, maka Dia dapat dihitung. Namun, Tuhan adalah Esa dan tidak memiliki sekutu. Para filsuf, dalam membuktikan ketidakterbatasan Tuhan, merujuk pada konsep seperti &#039;[[wujud mutlak]]&#039;, &#039;sebab dari segala sebab&#039;, dan &#039;[[wujud yang wajib]]&#039;. Dengan menjelaskan konsep-konsep ini, mereka menyimpulkan bahwa Tuhan tidak terbatas. Alasan lain yang diajukan oleh para filsuf adalah bahwa keterbatasan merupakan sifat yang melekat pada hakikat (mawjud), sedangkan hakikat tersebut tidak terdapat dalam esensi Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ucapan Imam Ali as dalam Membuktikan Ketidakterbatasan Tuhan==&lt;br /&gt;
[[Amirul Mukminin as]] dalam khutbah pertama &#039;&#039;[[Nahjul Balaghah]]&#039;&#039; bersabda: {{arabic|و مَن اشار الیه فقد حدّه، وَ مَن حدّه فقد عدّه|translation=Barang siapa menunjuk kepada-Nya, maka ia telah membatasi-Nya, dan barang siapa membatasi-Nya, maka ia telah menghitung-Nya.}}.&amp;lt;ref&amp;gt;Nahj al-Balāghah, Khuṭbah 1.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ucapan ini, [[Imam Ali as]] dengan pernyataan yang sangat jelas menolak keterbatasan bagi [[Allah]] Yang Mahatinggi. Beliau menjelaskan bahwa karena Tuhan berada di atas segala bentuk isyarat dan hitungan, maka terbukti bahwa Dia tidak memiliki batas. Sebab, jika Tuhan memiliki batas, maka Dia dapat dihitung, padahal Tuhan sama sekali tidak dapat dihitung dan tidak dapat dijadikan bilangan. Dia adalah Esa dan tanpa sekutu. Maka jelaslah bahwa Tuhan tidak terbatas. Keterbatasan ini, jika ada, dapat berasal dari dua hal: baik dari sesuatu yang serupa dengan-Nya atau dari sesuatu yang bertentangan dengan-Nya. Namun, karena Tuhan suci dari segala bentuk keserupaan dan pertentangan, maka Dia juga suci dari segala bentuk keterbatasan.&amp;lt;ref&amp;gt;Ja‘farī, Muḥammad Taqī, Sharḥ Nahj al-Balāghah, Teheran, Daftar Nashr Farhang-e Islāmī, 1357 SH, Jilid 2, halaman 35–61.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Ali as dalam Khutbah Lainnya Bersabda: {{arabic|لا یشمل بحدِّ و لا یحسب بعدٍّ و انما تحد الادوات انفسها|translation=uhan tidak memiliki batas dan tidak dapat dihitung dengan angka, karena batas hanya berlaku pada alat-alat yang membatasi dirinya sendiri.}}.&amp;lt;ref&amp;gt;Nahj al-Balāghah, Khuṭbah 186.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernyataan ini dari Imam Ali as bertujuan untuk menegaskan bahwa Tuhan tidak terbatas. Dalam penjelasan yang lebih mendalam tentang pernyataan ini, dijelaskan bahwa &amp;quot;batas&amp;quot; berarti suatu pembatasan atau larangan. Misalnya, batas rumah adalah tempat yang tidak boleh dilalui, batas wilayah suatu negara ditentukan oleh arah tertentu seperti batas utara atau timur, dan sebagainya. Dalam ucapan ini, Imam Ali as menjelaskan bahwa Tuhan tidak memiliki batas seperti yang terdapat pada makhluk-Nya. Artinya, Tuhan tidak memiliki sifat terbatas yang hanya berlaku untuk-Nya dan tidak berlaku untuk makhluk lain, serta tidak dapat disamakan dengan makhluk-makhluk lain seperti manusia, pohon, malaikat, dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila Tuhan dianggap terbatas, berarti Dia akan menjadi makhluk tertentu di antara makhluk lainnya, dan hanya memiliki sebagian sifat atau kesempurnaan tertentu, seperti matahari yang memiliki sifat panas dan terang, air yang memiliki sifat tertentu, atau tanah yang memiliki sifat lainnya. Namun, Tuhan tidak terbatas pada sifat-sifat seperti itu, melainkan semua sifat dan kesempurnaan makhluk berasal dari-Nya sebagai sumber dari segala yang ada.&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, kita tidak dapat menganggap Tuhan memiliki batas, karena jika demikian, kita tidak bisa menghubungkan sifat-sifat terbatas yang ada pada makhluk dengan sumber dari semua wujud mereka, yaitu Tuhan. Tuhan yang terbatas oleh batas tertentu tidak akan dapat menjadi sumber dari segala sifat yang bertentangan yang ada pada makhluk. Tuhan adalah asal dari semua wujud dan kesempurnaan semua makhluk. Maka, dapat disimpulkan bahwa Tuhan adalah Maha Tak Terbatas. Penjelasan lebih lanjut mengenai masalah ini dapat ditemukan dalam referensi berikut.&amp;lt;ref&amp;gt;Sha‘rānī, dikutip dari: Ḥasanzādah, Hezār wa Yek Kalimah, Qom, Daftar Tablīghāt, 1379 SH, Jilid 4, halaman 212.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tuhan, Wujud Mutlak==&lt;br /&gt;
Argumen ketiga yang memiliki pendekatan filosofis mengenai ketidakterbatasan Tuhan adalah bahwa [[wujud mutlak]] itu identik dengan ketidakterbatasan. Karena keterbatasan berasal dari kekurangan dan ketiadaan, dan karena wujud mutlak tidak mengandung ketiadaan, serta tidak dapat mengandung kekurangan dan bilangan, maka wujud mutlak itu tidak terbatas. Oleh karena itu, karena Tuhan adalah wujud mutlak, eksistensi yang murni dan mutlak, maka mustahil bagi-Nya untuk terbatas.&amp;lt;ref&amp;gt;Muṭahharī, Murtaḍā, Majmū‘ah-ye Āthār, Jilid 6, Nashr Ṣadrā, 1379 SH, halaman 1017.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Tuhan terbatas, itu berarti Dia tidak sempurna atau bukan eksistensi yang murni, melainkan memiliki suatu hakikat, karena di mana ada perbedaan dan banyaknya, di situ pasti ada keterbatasan. Jika di suatu tempat tidak ada banyaknya, maka tidak ada keterbatasan. Dan karena Tuhan, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur&#039;an, «Katakanlah, Dia-lah Allah, Yang Maha Esa»&amp;lt;ref&amp;gt;QS. Al-Ikhlas: 1&amp;lt;/ref&amp;gt;, adalah tunggal dan tiada banding, maka tidak ada tempat untuk perbedaan dan banyaknya. Dengan demikian, Tuhan pun terbebas dari keterbatasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tuhan, Sebab dari Segala Sebab==&lt;br /&gt;
Alasan lain untuk ketidakterbatasan Tuhan adalah bahwa keterbatasan itu identik dengan ketergantungan dan keterbatasan sebagai akibat. Artinya, setiap makhluk yang tergantung pada sebab tertentu atau terpengaruh oleh sesuatu, pasti terbatas. Namun, karena Tuhan tidak tergantung pada sebab apapun dan tidak terpengaruh oleh sesuatu, melainkan Dia adalah sebab dari segala sebab, penyebab utama segala sesuatu, dan penguasa mutlak, maka jelas bahwa Tuhan tidak terbatas oleh apapun. Tuhan adalah tak terhingga dan tidak terbatas.&amp;lt;ref&amp;gt;Muṭahharī, Murtaḍā, Majmū‘ah-ye Āthār, Jilid 6, Nashr Ṣadrā, 1379 SH, halaman 1017.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tuhan, Wajibul Wujud==&lt;br /&gt;
Alasan lain adalah bahwa Tuhan adalah [[wajib wujud]] (keberadaanya wajib ada), dan kewajiban wujud itu identik dengan ketidakterbatasan dan tanpa akhir. Dengan kata lain, hakikat wujud itu sama dengan ketidakterbatasan, keharusan, kemurnian dan keesaan. Karena Tuhan adalah hakikat eksistensi, wujud murni, dan wajib wujud, maka Dia adalah tidak terbatas dan tak terhingga. Sebab, jika Tuhan tidak tidak terbatas dan tak terhingga, maka Dia tidak akan menjadi wajib wujud, padahal eksistensi Tuhan adalah wajib mutlak dan berdasarkan dirinya sendiri.&amp;lt;ref&amp;gt;Muṭahharī, Murtaḍā, Majmū‘ah-ye Āthār, Jilid 6, Nashr sebelumnya, halaman 1018.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ketidakberadaan Hakikat Tuhan==&lt;br /&gt;
Argumen lain untuk membuktikan ketakterbatasan Tuhan adalah bahwa keterbatasan selalu muncul dari hakikat (esensi). Artinya, hakikat adalah sumber munculnya keterbatasan pada makhluk. Hakikat itu sendiri adalah penentuan (ta&#039;ayyun) dan pembatasan. Karena Tuhan Mahasuci dari hakikat&amp;lt;ref&amp;gt;Ṣadr al-Muta’allihīn, Al-Asfār, Beirut, Dār al-Iḥyā’, tanpa tahun, Jilid 1, halaman 96.&amp;lt;/ref&amp;gt;, maka sebagai konsekuensinya, Ia juga Mahasuci dari segala bentuk penentuan dan batasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penjelasannya adalah sebagai berikut: semua makhluk memiliki hakikat, yaitu keberadaan yang tertentu dan memiliki batasan wujud yang khusus. Misalnya, ada yang berhakikat manusia, ada yang pohon, ada yang hewan, dan sebagainya. Oleh karena itu, makhluk-makhluk semacam ini terbatas. Akan tetapi, karena Tuhan Mahasuci dari segala bentuk hakikat dan penentuan wujud, maka Ia juga tidak memiliki keterbatasan. Dengan kata lain, karena Ia Mahasuci dari hakikat yang merupakan sumber penentuan dan keterbatasan, maka Ia sendiri juga tidak memiliki keterbatasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Studi Lebih Lanjut==&lt;br /&gt;
# Murtadha Mutahhari, Kumpulan Karya Jilid 4, Bagian Tauhid, Penerbit Sadra, 1377 H.&lt;br /&gt;
# Muhammad Taqi Misbah, Pengajaran Filsafat Jilid 2, hal. 356, Penerbit Organisasi Penyuluhan Islam, 1374 H.&lt;br /&gt;
# Muhammad Amin Sadeqi Urzgani, Ajaran Mistisisme dari Perspektif Ali (a.s.), Bab 2, Penerbit Pusat Penelitian dan Kebudayaan Islam, Qom, 1384 H.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch = کلام&lt;br /&gt;
 | subbranch1 = آفریدگار&lt;br /&gt;
 | subbranch2 = صفات سلبیه&lt;br /&gt;
 | subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه = شد&lt;br /&gt;
 | تیترها = شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش = شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی = شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه = شد&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر = شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی نویسنده =&lt;br /&gt;
 | بازبینی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت = ب&lt;br /&gt;
 | کیفیت = ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[رده:اسماء و صفات الهی]]&lt;br /&gt;
[[رده:برهان اثبات خدا]]&lt;br /&gt;
[[رده:شناخت و اثبات خدا]]&lt;br /&gt;
[[رده:صفات ثبوتیه]]&lt;br /&gt;
[[ps:د خدای لامحدودیت]]&lt;br /&gt;
[[fa: نامحدود بودن خداوند]]&lt;br /&gt;
[[bn: আল্লাহর অসীম সত্তা]]&lt;br /&gt;
[[ur: خدا کا لامحدود ہونا]]&lt;br /&gt;
[[en: The Boundlessness of God]]&lt;br /&gt;
[[ar: لا محدودیة لله تعالى]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Muhaddatsah_(gelar)&amp;diff=947</id>
		<title>Muhaddatsah (gelar)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Muhaddatsah_(gelar)&amp;diff=947"/>
		<updated>2025-02-24T17:31:07Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Mengapa Sayidah Fatimah Zahra sa disebut sebagai Muhaddasah?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Muhaddatsah&#039;&#039;&#039; adalah salah satu gelar [[Sayidah Fatimah sa]] yang berarti seseorang yang berbicara dengan malaikat. Fatimah sa disebut Muhaddatsah karena ia berkomunikasi dengan malaikat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pemahaman tentang Muhaddats dan Muhaddatsah== &lt;br /&gt;
Muhaddats dan Muhaddatsah (dengan fathah pada huruf dal dan tasydid) berarti seseorang yang diajak berbicara; ia diberi wahyu.&amp;lt;ref&amp;gt;Huseini Zabidi, Muhammad Murtadha, Taj al-&#039;Arus min Jawahir al-Qamus, Beirut, Dar al-Fikr, edisi pertama, 1414 H, jilid 3, hal 192.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam riwayat Islam, &#039;&#039;&#039;Muhaddats&#039;&#039;&#039; adalah seseorang yang mendengar perkataan [[malaikat]], dia diberi wahyu yang masuk ke dalam hatinya.&amp;lt;ref&amp;gt;Safar, Muhammad bin Hasan, Basair al-Darajat fi Fadhail Ahl Muhammad saw, Qum, Perpustakaan Mar&#039;asyi Najafi, edisi kedua, 1404 H, hal 367, Bab 1, Hadis 1 dan 17.&amp;lt;/ref&amp;gt; Buku-buku lain mendefinisikan Muhaddats sebagai seseorang yang, meskipun bukan nabi, berbicara dengan malaikat.&amp;lt;ref&amp;gt;Amini, Abdul Husain, Al-Ghadir, Pusat Studi Al-Ghadir, jilid 5, hal 67.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam-imam Ahlulbait as adalah Muhaddats, dan Sayidah Fatimah Zahra sa juga adalah Muhaddatsah.&amp;lt;ref&amp;gt;Safar, Muhammad bin Hasan, Basair al-Darajat fi Fadhail Ahl Muhammad صلى الله عليه وسلم, Qum, Perpustakaan Mar&#039;asyi Najafi, edisi kedua, 1404 H, hal 367, Bab 1.&amp;lt;/ref&amp;gt; Seperti ibu [[Nabi Musa|Nabi Musa as]] yang bukan nabi, tetapi Allah memberikan wahyu kepadanya.&amp;lt;ref&amp;gt;Sura Al-Qashas, ayat 7.&amp;lt;/ref&amp;gt; [[Sayidah Maryam sa]] juga bukan nabi, tetapi malaikat berbicara dengannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Sura Maryam, ayat 16-26.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pembicaraan Malaikat dengan Fatimah sa == &lt;br /&gt;
Terdapat banyak riwayat yang menunjukkan bahwa Sayidah Fatimah adalah Muhaddatsah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* [[Imam Shadiq as]]: {{arabic||translation=Sayidah Fatimah disebut Muhaddatsah karena malaikat turun dari langit dan berbicara dengannya, sebagaimana mereka berbicara dengan Sayidah Maryam.}}&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Babawaih, Muhammad bin Ali, Al-&#039;Ilal al-Syarayi&#039;, Qum, Penerbit Da&#039;uri, edisi pertama, 1385 H/1966 M, jilid 1, hal 182, Bab 146, Hadis 1. Al-Thabari Amili Saghir, Muhammad bin Jarir bin Rustam, Dala&#039;il al-Imamah, Qum, Bi&#039;athah, edisi pertama, 1413 H, hal 80, Hadis 20.&amp;lt;/ref&amp;gt; &lt;br /&gt;
* Imam Shadiq as: {{arabic|translation= Ketika Allah mengambil ruh Nabi-Nya, Fatimah merasakan kesedihan yang sangat dalam, yang hanya diketahui oleh Allah. Allah mengirim malaikat untuk menghiburnya, mengurangi kesedihannya, dan berbicara dengannya.}}&amp;lt;ref&amp;gt;Safar, Muhammad bin Hasan, Basair al-Darajat fi Fadhail Ahl Muhammad saw, Qum, edisi kedua, 1404 H, Bab 14, hal 157, Hadis 18. Kulayni, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, edisi keempat, 1407 H, jilid 1, hal 238, Bab tentang al-Sahifah, al-Jafr, al-Jami&#039;ah dan Mushaf Fatimah, Hadis 2.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Imam Shadiq as: {{arabic||translation= Sayidah Fatimah hidup lebih dari 75 hari setelah wafatnya Nabi, dan rasa kesedihan yang mendalam karena ayahnya menghampirinya. Oleh karena itu, Jibril datang berkali-kali untuk menghiburnya, mengucapkan bela sungkawa atas wafat ayahnya, dan menghibur hati Fatimah. Kadang ia menceritakan kedudukan ayahnya yang mulia, dan kadang memberi tahu tentang peristiwa yang akan terjadi pada keturunannya setelah wafatnya beliau.}}&amp;lt;ref&amp;gt;Safar, Muhammad bin Hasan, Basair al-Darajat fi Fadhail Ahl Muhammad saw, Qum, edisi kedua, 1404 H, Bab 14, hal 154, Hadis 6.&amp;lt;/ref&amp;gt; &lt;br /&gt;
* Dalam ziarah Sayidah Fatimah sa disebutkan: {{arabic| السَّلَامُ عَلَيْكِ أَيَّتُهَا الْمُحَدَّثَه الْعَلِيمَه|translation=Salam untukmu, wahai Muhaddatsah yang bijaksana.}}&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Babawaih, Muhammad bin Ali, Man La Yahduruhu al-Faqih, Qum, Penerbit Islamiyah, edisi kedua, 1413 H, jilid 2, hal 573. Al-Thusi, Muhammad bin al-Hasan, Tahzib al-Ahkam, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, edisi ke-4, 1407 H, jilid 6, hal 10.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Mushaf Fatimah sebagai bukti Muhaddatsahnya Sayidah Fatimah == &lt;br /&gt;
{{see also|Mushaf Fatimah Sa}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Mushaf Fatimah Sa|Mushaf Fatimah]] sa adalah kitab yang [[Jibril]] ajarkan kepada [[Sayidah Fatimah Zahra sa]] setelah wafatnya [[Nabi Islam|Nabi Muhammad sa]], dan [[Imam Ali as]] menulisnya. Berdasarkan riwayat, keberadaan kitab ini tidak diragukan.&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Qum, Dar al-Hadith, 1429 H, jilid 1, hal 599-600.&amp;lt;/ref&amp;gt; Riwayat tentang keberadaan Mushaf Fatimah sa terdapat dalam sumber-sumber tertua dari kitab-kitab hadits Syiah, seperti [[Basair al-Darajat]]&amp;lt;ref&amp;gt;Safar Qumi, Muhammad bin al-Hasan, Basair al-Darajat fi Fadhail Ahl Muhammad صلى الله عليه وسلم, penelitian oleh Mohsin bin Abbasali Kochebaghi, Qum, Maktabah Ayatullah Mar&#039;asyi Najafi, 1404 H, hal 170-181.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan [[Al-Kafi]]&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, jilid 1, hal 592-602.&amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keberadaan Mushaf Fatimah dianggap sebagai bukti bahwa malaikat Allah berbicara dengan Sayidah Fatimah sa dan ini membuktikan bahwa beliau adalah Muhaddatsah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pranala terkait==&lt;br /&gt;
* [[Penurunan Jibril pada Sayidah Fatimah sa]]&lt;br /&gt;
* [[Mushaf Fatimah sa]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch = حدیث&lt;br /&gt;
 | subbranch1 = معارف حدیثی&lt;br /&gt;
 | subbranch2 =&lt;br /&gt;
 | subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه = شد&lt;br /&gt;
 | تیترها = شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش =&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی = شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر = شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی =شد&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت = ج&lt;br /&gt;
 | کیفیت = ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa:محدثه‌بودن حضرت فاطمه(س)]]&lt;br /&gt;
[[ps:د حضرت فاطمه(س) محدثه شونه]]&lt;br /&gt;
[[ar:المُحَدَّثة السیدة فاطمة (ع)]]&lt;br /&gt;
[[es:Ser Muhaddiza de la Excelencia Fátima Zahra (P)]]&lt;br /&gt;
[[bn:হযরত ফাতেমা’র মুহাদ্দাসা হওয়া]]&lt;br /&gt;
[[ur:حضرت فاطمه سلام الله علیها کا محدثه هونا]]&lt;br /&gt;
[[en:Muhaddatha, the Title of Fatima (a)]]&lt;br /&gt;
[[ru:Мухаддаса титул Фатимы (да будет мир с ней)]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Keutamaan_Menghadiri_Proses_Pemakaman&amp;diff=946</id>
		<title>Keutamaan Menghadiri Proses Pemakaman</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Keutamaan_Menghadiri_Proses_Pemakaman&amp;diff=946"/>
		<updated>2025-02-24T14:08:15Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Apakah prosesi pemakaman bermanfaat bagi jenazah atau bagi mereka yang menghadirinya?&lt;br /&gt;
{{question end}}  &lt;br /&gt;
Dianjurkan untuk [[menghadiri prosesi]] pemakaman karena hal ini mengingatkan peserta akan [[kematian]] dan [[akhirat]]. Selain itu, salah satu manfaat menghadiri pemakaman adalah pahala yang diperoleh baik bagi peserta maupun bagi almarhum. [[Nabi Muhammad saw]] menganjurkan untuk menghadiri pemakaman karena hal ini dapat mengingatkan seseorang akan kehidupan setelah kematian. [[Imam Ja&#039;far Shadiq as]] juga menyarankan agar keluarga almarhum memberitahukan orang lain tentang wafatnya kerabat mereka agar mereka dapat menghadiri pemakaman, menyalatkannya, dan dengan demikian memperoleh pahala serta [[beristighfar]] untuk almarhum.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Mengingat Kematian dan Akhirat==  &lt;br /&gt;
Beberapa riwayat menyebutkan bahwa salah satu manfaat menghadiri pemakaman adalah untuk mengingat [[Kematian|kematian]] dan [[Akhirat|akhirat]]. [[Nabi Muhammad saw]] menganjurkan kehadiran dalam pemakaman karena hal ini mengingatkan manusia pada kehidupan setelah mati. Dalam [[riwayat]] disebutkan bahwa ketika beliau menghadiri pemakaman, beliau tampak sedih dan berbicara lebih sedikit.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Abbas Qummi, Safinah al-Bihar, Penerbit Oswa, jilid 4, hlm. 565.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
{{جعبه نقل قول| عنوان = | نقل‌قول = [[امام صادق(ع)]]:{{-}}Imam Ja&#039;far Shadiq as: &amp;quot;Ketika menghadiri pemakaman, anggaplah bahwa Allah telah mengembalikanmu ke dunia. Sekarang, pikirkan bagaimana engkau akan menebus kesalahanmu.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Husaini Tehrani, Ma&#039;ad Shanasi, jilid 3, hlm. 34.&amp;lt;/ref&amp;gt;| منبع = | تراز = چپ| عرض = ۲۳۰px| اندازه خط = 14px|رنگ پس‌زمینه =#FFF9E7| گیومه نقل‌قول =| تراز منبع = چپ}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Imam Muhammad Baqir as]] lebih mengutamakan menghadiri pemakaman dibandingkan dengan menghadiri jamuan, karena pemakaman mengingatkan manusia akan kematian dan akhirat.&amp;lt;ref&amp;gt;Allamah Majlisi, &#039;&#039;Bihar al-Anwar&#039;&#039;, 1403 H, jilid 78, hlm. 284.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Nabi Muhammad saw]] juga memberikan nasihat kepada [[Abu Dzar al-Ghifari]] mengenai prosesi pemakaman dan memperingatkannya bahwa saat mengikuti jenazah, pikirannya harus sibuk dengan renungan dan kekhusyukan, karena pada akhirnya ia sendiri akan mengalami hal yang sama.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabarsi, &#039;&#039;Makarim al-Akhlaq&#039;&#039;, 1412 H, hlm. 465.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam suatu pemakaman, Imam Ali as mendengar seseorang tertawa dan berkata:  &lt;br /&gt;
::&amp;quot;Seolah-olah kematian hanya ditakdirkan untuk orang lain, bukan untuk kita.&amp;quot;&amp;lt;ref name=&amp;quot;:1&amp;quot;/&amp;gt;  &lt;br /&gt;
Beliau kemudian mengingatkan bahwa orang-orang yang kini sedang dikuburkan tidak akan kembali, dan kita juga tidak akan kekal di dunia ini.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:1&amp;quot;&amp;gt;Shubhi Shaleh, Nahjul Balaghah, Hikmah 122, hlm. 490.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Penghapusan Dosa bagi yang Hadir dan yang Meninggal==  &lt;br /&gt;
Salah satu manfaat menghadiri pemakaman adalah pahala yang diperoleh oleh peserta prosesi.&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Anwar al-Nu&#039;maniyyah, hlm. 220.&amp;lt;/ref&amp;gt; Riwayat dari [[Imam Muhammad Baqir as]] menyebutkan bahwa ada empat bentuk syafaat bagi mereka yang menghadiri pemakaman.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Abbas Qummi, Safinah al-Bihar wa Madinah al-Hikam, Penerbit Oswa, jilid 4, hlm. 565.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para malaikat juga memberi kabar gembira tentang surga kepada mereka yang menghadiri prosesi pemakaman.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;Al-Kulaini, &#039;&#039;Al-Kafi&#039;&#039;, 1407 H, jilid 3, hlm. 172.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa setiap orang yang mengiringi jenazah seorang mukmin hingga dimakamkan, [[Allah]] akan mengutus tujuh puluh malaikat untuk menemaninya di hari kiamat serta memohonkan ampunan baginya.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammad Baqir Majlisi, Zad al-Ma&#039;ad, hlm. 54-55.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Imam Ja&#039;far Shadiq as]] menyarankan agar keluarga almarhum mengumumkan berita kematian agar banyak orang yang menghadiri pemakaman, menyalatkannya, dan memperoleh pahala serta mendoakan almarhum.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabarsi, Makarim al-Akhlaq, 1412 H, hlm. 360.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Muhammad Baqir as juga menyatakan bahwa pengampunan dosa adalah hadiah bagi mereka yang menghadiri pemakaman.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ajaran [[Islam]], pemakaman mengutamakan nilai kemanusiaan. Dalam satu [[Riwayat|riwayat]] disebutkan bahwa suatu ketika Nabi dan para sahabat sedang duduk ketika jenazah seseorang lewat. Nabi dan para sahabat segera berdiri untuk memberi penghormatan. Seseorang memberi tahu Nabi bahwa jenazah itu adalah seorang Yahudi, dan mereka bertanya mengapa beliau tetap menunjukkan penghormatan kepadanya. Nabi menjawab:  &lt;br /&gt;
::&amp;quot;Bukankah dia seorang manusia?&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Bihar al-Anwar, jilid 18, hlm. 254.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
  | main branch = کلام&lt;br /&gt;
| subbranch1 = معاد&lt;br /&gt;
|subbranch2 =احکام جنازه&lt;br /&gt;
|subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه =شد&lt;br /&gt;
 | تیترها =شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش =شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی =شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر =&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی =شد&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت =ب&lt;br /&gt;
 | کیفیت =ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa:فضیلت تشییع جنازه]]&lt;br /&gt;
[[ps:د جنازې د مراسمو فضیلت]]&lt;br /&gt;
[[es:La virtud de acompañar el funeral]]&lt;br /&gt;
[[bn:মৃত ব্যক্তি দাফন অনুষ্ঠানে শরীক হওয়ার ফযিলত]]&lt;br /&gt;
[[ur:جنازے میں شرکت کی فضیلت]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Sebab_Imam_Ali_as_Berdiam_Diri_di_Rumah&amp;diff=945</id>
		<title>Sebab Imam Ali as Berdiam Diri di Rumah</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Sebab_Imam_Ali_as_Berdiam_Diri_di_Rumah&amp;diff=945"/>
		<updated>2025-02-24T13:34:58Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Mengapa Imam Ali as berdiam diri di rumah pada tahun-tahun awal setelah wafatnya Nabi Muhammad saw? Apakah sikap diam beliau lebih bermanfaat bagi Islam dibandingkan perjuangan aktif?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}  &lt;br /&gt;
Alasan [[Imam Ali as]] berdiam diri setelah wafatnya [[Nabi Muhammad saw]] adalah untuk menjaga Islam serta persatuan dan kesatuan umat Islam. Setelah wafatnya Nabi Muhammad saw, masyarakat Islam mengalami guncangan besar, dan beberapa tradisi Jahiliyah mulai muncul kembali. Tokoh seperti Abu Sufyan dan [[Abbas bin Abdul Muththalib]] mengusulkan baiat kepada Imam Ali as untuk mendorongnya melawan khalifah. Namun, karena Imam Ali as tidak memiliki pendukung yang cukup kuat untuk melakukan pemberontakan, dan demi menghindari perpecahan, beliau memilih untuk berdiam diri di rumah.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pentingnya Persatuan Umat Islam== &lt;br /&gt;
Sebagian besar sejarawan berpendapat bahwa pada masa wafatnya Nabi Muhammad saw, Islam masih merupakan gerakan yang baru berkembang, dan mayoritas masyarakat belum sepenuhnya menerima ajaran [[Islam]] dengan tulus.&amp;lt;ref&amp;gt;Subhani, Ja&#039;far, &#039;&#039;Al-Madzahib al-Islamiyyah&#039;, hlm. 194, Institut Imam Shadiq, 1423 H.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beberapa sejarawan mencatat bahwa setelah wafatnya Nabi, semangat Jahiliyah mulai kembali dan kaum munafik mulai menampakkan diri.&amp;lt;ref&amp;gt;Sirah Ibnu Hisyam, jilid 4, hlm. 316, dikutip oleh Makarim Syirazi dalam Payam-e Imam, cetakan pertama, 1375 H, Dar al-Kutub al-Islamiyyah.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Upaya Kaum Munafik untuk Menimbulkan Konflik==&lt;br /&gt;
Salah satu cara terbaik untuk menghancurkan persatuan umat Islam adalah dengan memicu konflik antara Imam Ali as dan pemimpin pemerintahan saat itu. Oleh karena itu, [[Abu Sufyan]], dengan dukungan [[Abbas bin Abdul Muththalib]], datang bersama sekelompok [[Bani Hasyim]] kepada Imam Ali as dan mengusulkan baiat kepadanya. Abu Sufyan berusaha membangkitkan emosi Imam Ali as dengan berkata: &lt;br /&gt;
::&amp;quot;Wahai Abal-Hasan, jangan abaikan kesempatan ini! Sejak kapan kita tunduk kepada keluarga rendahan seperti Bani Taim (keluarga [[Abu Bakar]])?&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Dikutip dari: Rei Syahri, Muhammad, Kepemimpinan dalam Islam, hlm. 234, Dar al-Hadits, cetakan pertama, 1379 H.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Imam Ali as]] menjawab:  &lt;br /&gt;
::&amp;quot;Kalian semua tahu bahwa aku lebih layak daripada siapa pun untuk urusan kekhalifahan. Demi Allah, selama keadaan umat Islam masih terkendali dan hanya aku yang terzalimi, aku akan tetap diam.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Nahjul Balaghah, Khutbah no. 74.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, seandainya Imam Ali as melihat situasi yang tepat untuk melakukan perlawanan, beliau pasti akan bertindak tanpa perlu dorongan dari pihak lain.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu alasan lain tidak adanya pemberontakan adalah kurangnya pendukung yang setia. Suatu pemberontakan harus mendapat dukungan luas dari masyarakat dan harus dilakukan pada waktu yang tepat. Imam Ali as pernah berkata:&lt;br /&gt;
::&amp;quot;Aku melihat sekelilingku, tetapi tidak menemukan penolong kecuali keluargaku sendiri. Aku tidak rela menyerahkan mereka kepada kematian.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Nahjul Balaghah, Khutbah 26.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Peran Imam Ali as Selama Masa Menyendiri==&lt;br /&gt;
Dalam periode 25 tahun kepemimpinan tiga khalifah, Imam Ali as tetap berusaha membimbing masyarakat Islam. Sejarawan modern Ja&#039;far Syahidi menulis bahwa kapan pun masyarakat membutuhkan bimbingan, Imam Ali as selalu membantu mereka. Jika ada masalah, beliau menyelesaikannya. Jika ada keputusan hukum yang salah, beliau menunjukkan kebenaran, dan beliau tidak pernah menolak memberikan nasihat kepada mereka yang telah merebut posisi kekhalifahan sebelumnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Syahidi, Ja&#039;far, Ali dari Ucapannya Sendiri, hlm. 42, Kantor Penerbitan Budaya Islam, cetakan ke-6, 1376 H.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
| main branch = تاریخ&lt;br /&gt;
| subbranch1 = تاریخ و سیره معصومان&lt;br /&gt;
| subbranch2 = امام علی(ع)&lt;br /&gt;
| subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه = شد&lt;br /&gt;
 | تیترها = شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش = شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی = شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر = شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی نویسنده =&lt;br /&gt;
 | بازبینی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت = ج&lt;br /&gt;
 | کیفیت = ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[ps:د امام علی(ع) په کور کې د کښیناستو سببونه]]&lt;br /&gt;
[[en:The 25 Years of Withdrawal of Imam Ali (peace be upon him)]]&lt;br /&gt;
[[fa:علت خانه‌نشینی امام علی(ع)]]&lt;br /&gt;
[[es:El motivo por el que el Imam Ali (P) se queda en casa]]&lt;br /&gt;
[[bn:ইমাম আলী’র (আ.) ঘরে অবস্থান করার রহস্য]]&lt;br /&gt;
[[ur:امام علیؑ کی ۲۵ ساله خاموشی]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Akidah_Khusus_Syiah_Imamiyah&amp;diff=944</id>
		<title>Akidah Khusus Syiah Imamiyah</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Akidah_Khusus_Syiah_Imamiyah&amp;diff=944"/>
		<updated>2025-02-24T11:29:20Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Apa yang dimaksud dengan akidah khusus Syiah Imamiyah?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
Di antara keyakinan yang khusus dimiliki oleh Syiah adalah [[wilayah]], Bada&#039;, [[raj&#039;ah]], dan keberlanjutan imamah. Keyakinan lain seperti imamah, [[syafaat]], keadilan Allah, [[tawassul]], dan mahdawiyah adalah keyakinan yang umum dalam Islam, namun terdapat perbedaan dalam makna dan penafsirannya atau dalam penerapannya pada kasus-kasus tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Wilayah ==&lt;br /&gt;
Syahid Muthahhari mengatakan: &amp;quot;Imamah [dalam Syiah, selain sebagai kepemimpinan sosial dan otoritas keagamaan] memiliki tingkat dan derajat ketiga yang merupakan puncak konsep imamah, dan buku-buku Syiah penuh dengan pembahasan ini, yaitu imamah dalam arti wilayah [yang berarti] pada setiap zaman terdapat seorang manusia sempurna (imam) yang membawa spiritualitas universal kemanusiaan... Artinya, ia adalah jiwa universal yang melingkupi semua jiwa (dan urusan alam).&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masalah wilayah dalam Syiah berarti hujjah zaman, dan menurut ajaran Syiah, bumi tidak pernah kosong dari hujjah: &amp;quot;Dan jika bukan karena hujjah, bumi akan menelan penduduknya&amp;quot; (jika tidak ada hujjah, bumi akan menelan penduduknya), artinya tidak pernah dan tidak akan pernah ada waktu di mana bumi kosong dari manusia sempurna (dan khalifah Ilahi); dan bagi manusia sempurna tersebut, terdapat banyak kedudukan dan derajat, dan dalam banyak ziarah yang kita baca, kita mengakui dan mengakui wilayah dan imamah seperti ini, yaitu kita meyakini bahwa imam memiliki jiwa universal seperti itu.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Imamah dan Kepemimpinan, Allamah Syahid Muthahhari, halaman 56, Penerbit Sadra.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bada&#039; ==&lt;br /&gt;
Al-Qur&#039;an menyebutkan bada&#039; dalam ayat ini: {{quran|يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ|terjemah=Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab (induk segala kitab).|sura=Ar-Ra&#039;d (13)|verse=39}}.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bada&#039; pada dasarnya berarti &amp;quot;menampakkan sesuatu dari seseorang&amp;quot;, dan secara terminologis, bada&#039; berarti menampakkan sesuatu dari Allah SWT yang sebelumnya tidak diketahui oleh manusia dan mereka mengira sebaliknya&amp;lt;ref&amp;gt;Awail al-Maqalat, Syaikh Mufid, halaman 80.&amp;lt;/ref&amp;gt; (menampakkan setelah tersembunyi).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syahid Muthahhari mengatakan: &amp;quot;Makna bada&#039; (dalam terminologi teologi Syiah) adalah bahwa terjadi revisi dalam ketetapan dan takdir Ilahi. Maksudnya adalah bahwa dalam peristiwa-peristiwa sejarah manusia, Allah tidak menetapkan bentuk yang pasti untuk kemajuan atau kemunduran sejarah manusia. Artinya, wahai manusia, engkaulah pelaksana ketetapan dan takdir Ilahi, engkaulah yang dapat memajukan sejarah, engkaulah yang dapat memundurkannya. Engkau dapat mempertahankannya, tidak ada sesuatu pun, baik dari alam, alat-alat kehidupan, maupun kehendak Ilahi, yang menguasai sejarah.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Perkembangan Sosial Manusia, Allamah Muthahhari, halaman 16.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Raj&#039;ah ==&lt;br /&gt;
Raj&#039;ah berarti kembalinya, dan dalam teologi Syiah, raj&#039;ah berarti bahwa sebelum [[hari kiamat]], dalam kelanjutan pemerintahan [[Imam Mahdi as]], masa raj&#039;ah akan tiba, dan sekelompok orang baik serta sekelompok orang jahat dari setiap zaman akan kembali ke dunia, orang-orang baik untuk melihat pemerintahan mulia Ahlul Bait as dan mencapai harapan pemerintahan [[keadilan Ilahi|keadilan]] serta menerima beberapa pahala yang telah Allah tetapkan untuk diberikan kepada mereka di dunia, sedangkan orang-orang jahat dan kafir yang memusuhi, untuk dihukum dan disiksa di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Shadiq as bersabda: &amp;quot;Sesungguhnya raj&#039;ah tidak bersifat umum, melainkan khusus, dan hanya orang-orang yang murni dalam keimanan atau murni dalam kekafiran yang akan kembali.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Mizan al-Hikmah, Rei Syahri, jilid 4, halaman 1984.&amp;lt;/ref&amp;gt; Raj&#039;ah tidak bersifat universal melainkan khusus, dan hanya mereka yang murni dalam keimanan atau kekafiran yang akan kembali ke dunia. Menurut beberapa riwayat, orang pertama dari para imam as yang akan kembali adalah [[Imam Husain as]].&amp;lt;ref&amp;gt;Mizan al-Hikmah, Rei Syahri, jilid 4, halaman 1982.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dari Imam Ridha as diriwayatkan bahwa beliau bersabda: &amp;quot;... (Raj&#039;ah) adalah kebenaran dan juga terjadi pada umat-umat sebelumnya, dan Al-Qur&#039;an telah menyebutkannya&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Seperti: Al-Baqarah:243; An-Naml:83; Ghafir:11.&amp;lt;/ref&amp;gt;, dan Rasulullah saw bersabda bahwa segala sesuatu yang terjadi pada umat-umat sebelumnya akan terjadi pula pada umat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Keberlanjutan Imamah ==&lt;br /&gt;
Menurut Syiah, imamah adalah sistem Ilahi yang tidak terputus dan tidak memiliki masa vakum, dan ia ada di setiap zaman dan era. Imamah telah terbentuk sejak era Nabi Muhammad saw dan terus berlanjut hingga sekarang, dan akan terus berlanjut selama dunia masih ada, sebagaimana yang dikatakan oleh Amirul Mukminin as: {{arabic|لا تخلو الارض من قائم لله بحجّة، امّا ظاهراً مشهورا، و امّا خائفا مغمورا، لئلا تبطل حجج الله و بیّناته|translation=Bumi tidak akan kosong dari seorang qaim (imam) yang menjadi hujjah bagi Allah, baik yang tampak dan terkenal, maupun yang takut dan tersembunyi, agar hujjah-hujjah Allah dan bukti-bukti-Nya tidak menjadi sia-sia.}}&amp;lt;ref&amp;gt;Nahjul Balaghah, Hikmah, 147, Tadzkiratul Fuqaha, Adz-Dzahabi, jilid 1, halaman 12.&amp;lt;/ref&amp;gt; Bumi tidak akan kosong dari seorang qaim (imam) yang menjadi hujjah bagi Allah (dan hujjah ini) baik yang tampak dan terkenal maupun yang takut dan tersembunyi, agar hujjah-hujjah Allah dan bukti-bukti-Nya tidak menjadi sia-sia; oleh karena itu, imam baik yang tampak dan terkenal serta hadir di tengah-tengah masyarakat, seperti pada masa kehadiran para imam suci, maupun yang takut dan tersembunyi, seperti pada [[era kegaiban]], dan Imam Zaman as meskipun gaib, tetap memegang kepemimpinan dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan Lebih Lanjut ==&lt;br /&gt;
* Raj&#039;ah Menurut Syiah, Najmuddin Thabarsi.&lt;br /&gt;
* Diskursus Mahdawiyah, Ayatullah Shafi Gulpaygani.&lt;br /&gt;
* Awail al-Maqalat, Syaikh Mufid Quddas Sirruh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch = ادیان و مذاهب&lt;br /&gt;
 | subbranch1 = شیعه امامیه&lt;br /&gt;
 | subbranch2 = عقاید شیعه&lt;br /&gt;
 | subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه = شد&lt;br /&gt;
 | تیترها = شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش = شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی =شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =شد&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر =شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی نویسنده =&lt;br /&gt;
 | بازبینی =شد&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت = الف&lt;br /&gt;
 | کیفیت = ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[رده:اختلافات شیعه و سنی]]&lt;br /&gt;
[[fa:عقاید خاص شیعه]]&lt;br /&gt;
[[ps:د شیعیانو ځانګړي عقاید]]&lt;br /&gt;
[[ur:شیعوں کی مخصوص عقائد]]&lt;br /&gt;
[[ar:عقائد الشیعة الخاصة]]&lt;br /&gt;
[[fr:Croyances spécifiques des chiites]]&lt;br /&gt;
[[bn:শিয়াদের নিজস্ব আকিদা ও বিশ্বাস]]&lt;br /&gt;
[[en:Distinctive Shia Beliefs]]&lt;br /&gt;
[[ru:Особые верования шиитов]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Doa_Keselamatan_Imam_Zaman_as&amp;diff=943</id>
		<title>Doa Keselamatan Imam Zaman as</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Doa_Keselamatan_Imam_Zaman_as&amp;diff=943"/>
		<updated>2025-02-23T16:12:25Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{question}}&lt;br /&gt;
Apakah doa &amp;quot;Ya Allah, jadilah pelindung bagi wali-Mu&amp;quot; sahih? Doa ini diturunkan dari Imam Mahdi as mana?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
{{portal|مهدویت}}&lt;br /&gt;
{{Informasi Hadis&lt;br /&gt;
 | Judul =&lt;br /&gt;
 | Gambar = Doa Ya Allah Jadilah Pelindung.jpg&lt;br /&gt;
 | Penjelasan Gambar = &amp;lt;small&amp;gt;Fragmen kaligrafi dari doa &amp;quot;Ya Allah, jadilah pelindung bagi wali-Mu,&amp;quot; karya Fath Ali Waqshani Farahani.&amp;lt;/small&amp;gt;&lt;br /&gt;
 | Ukuran Gambar =&lt;br /&gt;
 | Nama Lain = &lt;br /&gt;
 | Topik = Doa untuk [[Imam Mahdi as]]&lt;br /&gt;
 | Diturunkan Dari =&lt;br /&gt;
 | Versi Serupa =&lt;br /&gt;
 | Narator Utama = Muhammad bin Isa bin Ubaid bin Yaqutin&lt;br /&gt;
 | Narator Lain =&lt;br /&gt;
 | Keabsahan Sumber =&lt;br /&gt;
 | Referensi Syiah = [[Al-Kafi (Buku)|Al-Kafi]], [[Tahdhib Al-Ahkam (Buku)|Tahdib Al-Ahkam]]&lt;br /&gt;
 | Referensi Sunni =&lt;br /&gt;
 | Penjelasan =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Doa &amp;quot;Ya Allah, jadilah pelindung bagi wali-Mu&amp;quot;&#039;&#039;&#039;, juga dikenal sebagai Doa Pembebasan dan Doa Kesehatan Imam Zaman as, adalah sebuah doa yang diriwayatkan dalam beberapa sumber tepercaya Syiah seperti [[Al-Kafi (Buku)|Al-Kafi]] dan [[Tahdhib Al-Ahkam]]. Dalam doa ini, permohonan dibuat kepada Allah untuk menjadi pelindung, penjaga, pemimpin, pembantu, pemandu, dan pengawas bagi [[Imam Mahdi as]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sumber-sumber tersebut, riwayat ini disampaikan oleh salah satu Imam suci as, tetapi tidak jelas Imam suci manakah yang merupakan sumber dari doa ini. Mengenai keotentikan salah satu narator dalam rantai hadis ini, ada perbedaan pendapat di antara para ahli rijal. Beberapa menganggapnya sebagai seorang &#039;&#039;tsiqah&#039;&#039; (tepercaya) dan dapat diandalkan, sementara yang lain menganggapnya lemah (tidak dapat diandalkan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Teks dan Terjemahan Doa ==&lt;br /&gt;
{{Doa|اللّٰهُمَّ کُنْ لِوَلِیِّکَ الحُجَّةِ بْنِ الحَسَنِ فِی هٰذِهِ السَّاعَةِ وَفی کُلِّ ساعَةٍ وَلِیّاً وَحافِظاً وَقائِداً وَناصِراً وَدَلِیلاً وَعَیْناً حَتَّیٰ تُسْکِنَهُ أَرْضَکَ طَوْعاً وَتُمَتِّعَهُ فِیها طَوِیلاً.&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Tusi, Muhammad bin Hasan, Tahdhib Al-Ahkam, Teheran, Dar Al-Kutub Al-Islamiyah, 1365H, Jilid 3, hal. 102, No. 37.&amp;lt;/ref&amp;gt;|transation=Ya Allah, jadilah Engkau pelindung bagi wali-Mu al-Hujjah bin al-Hasan {{Catatan|Kalimat tambahan &amp;quot;shalawat-Mu atas dia dan atas nenek moyangnya&amp;quot; bukan bagian dari teks asli doa dalam referensi. Kalimat ini dimasukkan sesuai dengan tradisi ulama dan umum masyarakat Syiah setelah menyebut nama Imam as sebagai bentuk rasa hormat.}} pada jam ini dan pada setiap saat sebagai pelindung, penjaga, pemimpin, pembantu, pemandu, dan pengawas hingga Engkau membiarkannya menetap di bumi-Mu dengan sukarela dan memberinya kesenangan selama waktu yang lama.&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Analisis Rantai Hadis ==&lt;br /&gt;
{{Artikel Utama|Sumber Doa Ya Allah Jadilah Pelindung}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doa &amp;quot;Ya Allah, jadilah pelindung bagi wali-Mu&amp;quot; dengan sedikit variasi dalam beberapa frasa disebutkan dalam buku-buku Al-Kafi&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;Al-Kulaini, Muhammad bin Yakub, Al-Kafi, Teheran, Dar Al-Kutub Al-Islamiyah, 1365H, Jilid 4, hal. 162, No. 4.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan Tahdhib Al-Ahkam,&amp;lt;ref name=&amp;quot;:1&amp;quot;&amp;gt;Al-Tusi, Muhammad bin Hasan, Tahdhib Al-Ahkam, Teheran, Dar Al-Kutub Al-Islamiyah, 1365H, Jilid 3, hal. 102, No. 37.&amp;lt;/ref&amp;gt; yang merupakan bagian dari empat kitab utama dalam Islam Syiah. Doa ini disebutkan sebagai salah satu ibadah malam pada tanggal 23 bulan Ramadan. Selain itu, juga dianjurkan untuk membacanya pada hari-hari lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam rantai narator yang disebutkan dalam kedua kitab ini, terdapat Muhammad bin Isa bin Ubaid bin Yaqtin. Sebagian ahli rijal Syiah menganggap narator ini lemah.&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Fihrist, redaksi Syekh Jawad Al-Qayyumi, Qom, Muassasah Nashr Al-Fiqhah, 1417H, hal. 216.&amp;lt;/ref&amp;gt; Namun, Syekh Abu Qasim Al-Khui, seorang Marja&#039; Taqlid dan ahli rijal Syiah, menganggapnya sebagai thiqah dan tepercaya, serta menolak pandangan-pandangan yang menyatakan bahwa dia lemah.&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Khui, Syekh Abu al-Qasim, Majmu&#039;ah Rijal Al-Hadis wa Tafsil Tabakat Ar-Rawat, Qom, Markaz Nashr Athar al-Syiah, Jilid 17, hal. 113-120.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam rantai narasi ini, tidak disebutkan nama Imam tertentu sebagai sumber hadis, melainkan hanya disebutkan kata-kata seperti &amp;quot;salihin&amp;quot; dalam Al-Kafi&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;/&amp;gt; dan &amp;quot;shiddiqin&amp;quot; dalam Tahdzib Al-Ahkam.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:1&amp;quot;/&amp;gt; Menurut para ahli hadis, istilah ini biasanya digunakan untuk merujuk kepada [[para Imam as)]], namun tidak jelas Imam mana yang menjadi sumbernya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Sayid Ibnu Thawus]] dalam [[Iqbal Al-A&#039;mal (Buku)|Kitab Iqbal Al-A&#039;mal]] menyebutkan bahwa doa ini memiliki banyak sumber. Dia juga mencatat rantai narasi yang disebutkan dalam Al-Kafi dan Tahdhib Al-Ahkam di dalam bukunya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Tawus, Radhiuddin Ali bin Musa, Iqbal Bil A&#039;mal al-Salihah, Qom, Penerbitan Kantor Dakwah Islam, 1376H, Jilid 1, hal. 191.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan Kaki ==&lt;br /&gt;
{{footnotes}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch = کلام&lt;br /&gt;
 | subbranch1 = مهدویت&lt;br /&gt;
 | subbranch2 =&lt;br /&gt;
 | subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه =شد&lt;br /&gt;
 | تیترها =شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش =شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی =شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر =شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | ارزیابی کمی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت =ج&lt;br /&gt;
 | کیفیت =ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa:دعای اللهم کن لولیک]]&lt;br /&gt;
[[ur:دعائی اللّٰهُمَّ کُنْ لِوَلِیِّکَ]]&lt;br /&gt;
[[ps:د اللهم کن لولیک دعا]]&lt;br /&gt;
[[bn:দোয়া আল্লাহুম্মা কুন লি ওয়ালিয়্যিক]]&lt;br /&gt;
[[en:The Dua Allahumma Kun Li-Waliyyik]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Imam_Husain_as&amp;diff=942</id>
		<title>Imam Husain as</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Imam_Husain_as&amp;diff=942"/>
		<updated>2025-02-23T14:27:26Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Siapakah Imam Husain (as)?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Imam Husain as&#039;&#039;&#039; ([[4 H-61 H]]) adalah [[Imam]] ketiga [[Syiah]] setelah [[Imam Ali as]] dan [[Imam Hasan as]]. Beliau adalah cucu [[Nabi Muhammad saw]] dan anak dari [[Imam Ali as]] serta [[Sayidah Fatimah sa]], serta adik dari [[Imam Hasan as]]. Masa imamah Imam Husain as diketahui selama sebelas tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut sumber-sumber terpercaya dari [[Syiah]] dan [[Sunni]], Imam Husain as termasuk dalam [[Ashabul Kisa]] dan dianggap sebagai manifestasi dari [[Ayat Tathir]] serta kata &amp;quot;abna&#039;ana&amp;quot; dalam [[Ayat Mubahalah]]. Imam Husain as sangat dicintai oleh Nabi Muhammad saw, yang menyebutnya sebagai lentera petunjuk, kapal keselamatan, dan [[penghulu pemuda surga]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat sedikit laporan tentang kehidupan Imam Husain as sebelum masa imamahnya, seperti kehadirannya dalam tiga peperangan bersama ayahnya, dukungannya terhadap [[perdamaian Imam Hasan as]] dengan [[Muawiyah bin Abu Sufyan]], dan kesetiaannya kepada saudaranya. Setelah syahidnya Imam Hasan as, Imam Husain as tidak melakukan tindakan apa pun terhadap Muawiyah dan tetap setia pada perjanjian yang dibuat oleh saudaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepuluh tahun dari masa imamah Imam Husain as bertepatan dengan pemerintahan Muawiyah. Imam Husain as menentang beberapa tindakan Muawiyah, seperti pembunuhan terhadap beberapa [[sahabat Nabi saw]] dan pengangkatan [[Yazid bin Muawiyah]] sebagai putra mahkota. Imam Husain as menyatakan bahwa Yazid tidak layak dan dirinyalah yang lebih berhak atas [[kekhalifahan]]. Dalam sebuah khutbah, Imam Husain as menyampaikan posisi politiknya terhadap Bani Umayyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kematian Muawiyah, Imam Husain as menolak untuk berbaiat kepada Yazid, yang dianggapnya tidak sah. Pada 28 Rajab tahun 60 H, setelah diperintahkan untuk dibunuh jika menolak berbaiat, Imam Husain as meninggalkan Madinah menuju Mekah. Beliau menerima banyak surat dari penduduk Kufah yang memintanya untuk memimpin mereka. Setelah utusannya, Muslim bin Aqil, mengonfirmasi dukungan penduduk Kufah, Imam Husain as berangkat menuju Kufah pada 8 Dzulhijjah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ubaidullah bin Ziyad, gubernur Kufah, mengirim pasukan di bawah komando Hurr bin Yazid untuk menghadang dan memblokir jalan Imam Husain as. Setelah jalannya terhalang, Imam Husain as terpaksa menuju Karbala. Akhirnya, setelah pertempuran dengan pasukan Kufah pada hari Asyura, Imam Husain as dan para sahabatnya gugur sebagai syahid, dan keluarganya ditawan. Jenazah Imam Husain as dan para sahabatnya dimakamkan pada tanggal 11 atau 13 Muharram oleh sekelompok orang dari Bani Asad di Karbala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kedudukan Imam==&lt;br /&gt;
[[Fail:نام امام حسین(ع) در ایاصوفیه.jpg|250px|thumb|Nama Imam Husain as di Masjid Hagia Sophia, Turki]]&lt;br /&gt;
Husain bin Ali as adalah Imam ketiga [[Syiah]], setelah Imam Ali as dan Imam Hasan as. Imam Husain as memiliki kedudukan yang sangat istimewa di kalangan umat Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau dianggap sebagai orang yang paling mulia dan pemimpin Bani Hasyim;&amp;lt;ref&amp;gt;Yaqubi, Ahmad bin Abi Yaqub, Tarikh al-Yaqubi, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 226; Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 363.&amp;lt;/ref&amp;gt; sehingga pendapatnya diutamakan di antara Bani Hasyim lainnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 414–416.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam sebuah riwayat dari [[Nabi Muhammad saw]] yang diriwayatkan oleh beberapa sumber [[Syiah]] dan [[Sunni]], Husain disebut sebagai salah satu dari Asbat (keturunan Nabi).&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, &#039;&#039;Ansab al-Asyraf&#039;&#039;, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 142; Syekh Mufid, &#039;&#039;Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad&#039;&#039;, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 127; Maqrizi, Taqiyuddin, &#039;&#039;Imta&#039; al-Asma&#039; bima li al-Nabi min al-Ahwal wa al-Amwal wa al-Hafadah wa al-Mata&#039; &#039;&#039;, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1420 H, jilid 6, hlm. 19.&amp;lt;/ref&amp;gt; Asbat dalam ayat dan riwayat merujuk pada Imam atau pemimpin yang dipilih oleh Allah dan berasal dari keturunan para nabi.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammadi Rei Syahri, Muhammad dan kawan-kawan, Ensiklopedia Imam Husain as, terjemahan oleh Muhammad Muradi, Qum, Dar al-Hadits, 1430 H, jilid 1, hlm. 474–477.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as bagi umat Islam, khususnya Syiah, setelah [[Peristiwa Karbala]] pada tahun [[61 H]] dianggap sebagai sosok yang memperjuangkan kebenaran, pemberani, dan rela berkorban.&amp;lt;ref&amp;gt;Haj Manouchehri, Faramarz, &amp;quot;Husain as, Imam&amp;quot;, dalam Ensiklopedia Besar Islam, jilid 20, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, 1391 HS, hlm. 681.&amp;lt;/ref&amp;gt; Kedudukannya yang tinggi di kalangan umat Islam terutama berasal dari perjuangannya di jalan Allah dan pengorbanan jiwa, harta, dan keluarganya.&amp;lt;ref&amp;gt;[https://hawzah.net/fa/Article/View/82145 Ayyub, &amp;quot;Keutamaan Imam Husain as dalam Hadis-hadis Ahlusunah&amp;quot;].&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peristiwa Karbala sebagai bentuk pertama pelecehan dan serangan terbuka terhadap keluarga Nabi saw memiliki pengaruh besar pada budaya Syiah.&amp;lt;ref&amp;gt;Haj Manouchehri, Faramarz, &amp;quot;Husain as, Imam&amp;quot;, dalam Ensiklopedia Besar Islam, jilid 20, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, 1391 HS, hlm. 686.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sehingga, perjuangannya menjadi simbol amar ma&#039;ruf nahi munkar, melawan kezaliman, pengorbanan, dan kesediaan berkorban.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhadditsi, Jawad, Budaya Asyura, Qum, Penerbit Ma&#039;ruf, cetakan ketujuh belas, 1393 HS, hlm. 372.&amp;lt;/ref&amp;gt; Hal ini juga menjadi landasan bagi pemberontakan Syiah melawan penguasa yang zalim.&amp;lt;ref&amp;gt;Haj Manouchehri, Faramarz, &amp;quot;Husain as, Imam&amp;quot;, dalam Ensiklopedia Besar Islam, jilid 20, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, 1391 HS, hlm. 687.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam ranah budaya umum, umat Islam bahkan pengikut agama lain menganggap Husain bin Ali as sebagai simbol dan teladan pengorbanan, ketidakmampuan menerima kezaliman, cinta kebebasan, menjaga nilai-nilai, dan memperjuangkan kebenaran.&amp;lt;ref&amp;gt;[http://www.iwpeace.com/news/36736 &amp;quot;Budaya Asyura Melampaui Batas Muslim&amp;quot;, situs web Majelis Perdamaian Islam Dunia].&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan-bulan [[Muharram]] dan [[Safar]] memiliki tempat khusus dalam budaya Syiah, terutama pada hari-hari [[Tasua]] dan [[Asyura]] serta [[Arbain Husaini]], di mana berbagai ritual diadakan untuk memperingati peristiwa ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Haj Manouchehri, Faramarz, &amp;quot;Husain as, Imam&amp;quot;, dalam Ensiklopedia Besar Islam, jilid 20, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, 1391 HS, hlm. 689.&amp;lt;/ref&amp;gt; Syiah, mengikuti [[para Imam as]], ketika minum air, mengingat kehausan Imam Husain dan mengucapkan salam untuknya.&amp;lt;ref&amp;gt;Haj Manouchehri, Faramarz, &amp;quot;Husain as, Imam&amp;quot;, dalam Ensiklopedia Besar Islam, jilid 20, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, 1391 HS, hlm. 681; Muhadditsi, Jawad, Budaya Asyura, Qum, Penerbit Ma&#039;ruf, cetakan ketujuh belas, 1393 HS, hlm. 508.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Cucu Nabi Muhammad saw==&lt;br /&gt;
[[Fail:نام امام حسین(ع) بر دیوار مسجد النبی.JPG|250px|thumb|Nama Imam Husain as di dinding Masjid Nabawi]]&lt;br /&gt;
Imam Husain as lahir pada tanggal 3&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Masyhadi, Muhammad bin Ja&#039;far, Al-Mazar [Al-Kabir], penelitian oleh Jawad al-Qayyumi al-Isfahani, Qum, Muassasah al-Nashr al-Islami, 1419 H, hlm. 397; Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Mishbah al-Mutahajjid, Beirut, Muassasah Fiqh al-Syiah, 1411 H, hlm. 826, 828; Sayid bin Thawus, Ali bin Musa, Iqbal al-A&#039;mal, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1367 HS, hlm. 689–690.&amp;lt;/ref&amp;gt; atau 5 Sya&#039;ban&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27.&amp;lt;/ref&amp;gt; tahun ke-4 Hijriah di [[Madinah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Yaqubi, Ahmad bin Abi Yaqub, Tarikh al-Yaqubi, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 246; Dulabi, Muhammad bin Ahmad, Al-Dzurriyah al-Thahirah, cetakan oleh Muhammad Jawad Husaini Jalali, Qum, 1407 H, hlm. 102, 121; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1962 M, jilid 2, hlm. 555; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau berasal dari keluarga [[Bani Hasyim]] dan [[Quraisy]], cucu [[Nabi Muhammad saw]], anak dari [[Imam Ali as]] dan [[Sayidah Fatimah sa]], serta adik dari [[Imam Hasan as]].&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27.&amp;lt;/ref&amp;gt; [[Abbas as]], [[Muhammad bin Hanafiyah]] adalah saudara-saudaranya, dan [[Sayidah Zainab sa]] serta [[Ummu Kultsum]] adalah saudari-saudarinya.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber-sumber dari kedua mazhab menyebutkan bahwa Nabi saw memilih nama &amp;quot;Husain&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27; Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Beirut, Dar Shadir, tanpa tahun, jilid 1, hlm. 98, 118.&amp;lt;/ref&amp;gt; atas perintah [[Allah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 3, hlm. 397; Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 244.&amp;lt;/ref&amp;gt; Nama Husain setara dengan Syabir&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Manzur, Muhammad bin Mukarram, Lisan al-Arab, Beirut, Dar Sadir, 1414 H, jilid 4, hlm. 393; Zabidi Wasti, Murtadha Husaini, Taj al-Arus min Jawahir al-Qamus, Beirut, Dar al-Fikr, 1414 H, jilid 7, hlm. 4.&amp;lt;/ref&amp;gt;, yang merupakan nama salah satu putra [[Harun]].&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 13, hlm. 171.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ummu Fadhl&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 129; Maqrizi, Taqiyuddin, Imta&#039; al-Asma&#039; bima li al-Nabi min al-Ahwal wa al-Amwal wa al-Hafadah wa al-Mata&#039;, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1420 H, jilid 12, hlm. 237; Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun, jilid 6, hlm. 230.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan ibu dari Abdullah bin Yaqthar&amp;lt;ref&amp;gt;Samawi, Muhammad bin Thahir, Ibsar al-&#039;Ain fi Ansar al-Husain as, Qum, Universitas Syahid Muhallati, cetakan pertama, 1419 H, hlm. 93.&amp;lt;/ref&amp;gt; disebut sebagai pengasuh Imam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kunyah]] Husain bin Ali as adalah [[Abu Abdillah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27; Ibnu Abi Syaibah, Al-Musannaf fi al-Ahadits wa al-Atsar, cetakan oleh Sa&#039;id Muhammad Lahham, Beirut, 1409 H, jilid 8, hlm. 65; Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Ma&#039;arif, penelitian oleh Tsarwat &#039;Akasyah, Kairo, Hai&#039;ah al-Mishriyah al-&#039;Ammah lil Kitab, 1960 M, jilid 1, hlm. 213.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau dikenal dengan gelar-gelar seperti Sayid Syabab Ahl al-Jannah (penghulu pemuda surga), Zakiy, Thayyib, Wafiy, Sayid, dan Al-Tabi&#039; li Mardhatillah.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Abi al-Tsalj, Tarikh al-A&#039;immah, dalam Majmu&#039;ah Nafisah fi Tarikh al-A&#039;immah, cetakan oleh Mahmud Mar&#039;asyi, Qum, Perpustakaan Ayatullah Mar&#039;asyi Najafi, 1406 H, hlm. 28; Ibnu Thalhah al-Syafi&#039;i, Mathalib al-Su&#039;ul fi Manaqib Al al-Rasul, cetakan oleh Majid bin Ahmad &#039;Athiyah, tanpa tempat, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 374; untuk daftar gelar Imam Husain as, lihat: Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, cetakan oleh Yusuf Baqa&#039;i, 1385 HS, jilid 4, hlm. 86.&amp;lt;/ref&amp;gt; [[Tsaarullah]], [[Qatil al-&#039;Abarat]],&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Quluwaih, Ja&#039;far bin Muhammad, Kamil al-Ziyarat, Najaf, Dar al-Murtadhawiyah, 1356 H, hlm. 176.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan [[Sayid al-Syuhada]]&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat: Himyari, Abdullah bin Ja&#039;far, Qurb al-Isnad, Qum, Muassasah Al al-Bait as, cetakan pertama, 1413 H, hlm. 99–100; Ibnu Quluwaih, Ja&#039;far bin Muhammad, Kamil al-Ziyarat, cetakan oleh Jawad Qayyumi Isfahani, Qum, 1417 H, hlm. 216–219; Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Amali, Qum, Dar al-Thaqafah, 1414 H, hlm. 49–50.&amp;lt;/ref&amp;gt; adalah gelar-gelar lain yang disebutkan dalam [[ziarah]]-ziarah untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Keutamaan dan Sifat Lahiriah serta Perilaku==&lt;br /&gt;
[[Fail:مقام رأس الحسین در اسرائیل.jpg|250px|thumb|Makam Ra&#039;s al-Husain di kota Ashkelon di wilayah pendudukan Palestina. Tempat ini dijaga dan diziarahi oleh sebagian Syiah (Bohra Ismailiyah).&amp;lt;ref&amp;gt;«[https://nournews.ir/Fa/News/74717/مقام-%C2«Ø±Ø£Ø³-Ø§ÙØ­Ø³ÛÙ%C2»-Ø¯Ø±-Ø³Ø±Ø²ÙÛÙâÙØ§Û-Ø§Ø´ØºØ§ÙÛ Makam «Ra&#039;s al-Husain» di Wilayah Pendudukan]», situs Nour News, tanggal kunjungan: 10 Mordad 1402 HS.&amp;lt;/ref&amp;gt;]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sumber-sumber Syiah dan Sunni, Husain bin Ali as adalah salah satu dari [[Ashabul Kisa]]&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat: Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, &#039;&#039;Al-Kafi&#039;&#039;, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 HS, jilid 1, hlm. 287; Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, 1423 H, jilid 15, hlm. 190.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan salah satu dari [[Ahlul Bait]] yang [[Ayat Tathir]] turun tentang mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 1, hlm. 331; Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Tafsir al-Qur&#039;an al-&#039;Azhim, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1419 H, jilid 3, hlm. 799; Syaukani, Muhammad bin Ali, Fath al-Qadir, Beirut, Alam al-Kutub, tanpa tahun, jilid 4, hlm. 279.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau bersama saudaranya, Imam Hasan as, dianggap sebagai manifestasi dari kata &amp;quot;abna&#039;ana&amp;quot; (anak-anak kami) dalam [[Ayat Mubahalah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Zamakhsyari, Mahmud, Al-Kasyaf &#039;an Haqaiq Ghawamid al-Tanzil, Qum, Nasyr al-Balaghah, cetakan kedua, 1415 H, terkait ayat 61 Surah Ali Imran; Fakhr Razi, Muhammad bin Umar, Al-Tafsir al-Kabir, Beirut, Dar al-Fikr, 1405 H, terkait ayat 61 Surah Ali Imran.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber-sumber terpercaya [[Ahlusunah]] meriwayatkan banyak hadis tentang kedudukan dan keutamaan Husain bin Ali as.&amp;lt;ref&amp;gt;Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, 1423 H, jilid 15, hlm. 190; Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 376–410; Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 7; Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Tafsir al-Qur&#039;an al-&#039;Azhim, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1419 H, jilid 3, hlm. 799.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sebagaimana diriwayatkan dari Nabi saw bahwa Husain as adalah lentera petunjuk dan kapal keselamatan&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali bin Babawaih, Kamal al-Din wa Tamam al-Ni&#039;mah, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1395 HS, jilid 1, hlm. 265.&amp;lt;/ref&amp;gt; serta [[penghulu pemuda surga]].&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 7; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27.&amp;lt;/ref&amp;gt; Juga dalam sebuah riwayat, Nabi saw bersabda, [[Aku dari Husain|Husain dariku dan aku dari Husain]].&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 142; Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 385.&amp;lt;/ref&amp;gt; Barangsiapa mencintai keduanya (Hasan dan Husain), maka ia mencintaiku, dan barangsiapa memusuhi mereka, maka ia memusuhiku.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 266; Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 13, hlm. 198–199; Arbili, Ali bin Isa, Kasyf al-Ghummah fi Ma&#039;rifah al-A&#039;immah, Qum, Radhi, cetakan pertama, 1421 H, jilid 1, hlm. 602.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dikatakan bahwa [[Rasulullah saw]] di antara [[Ahlul Bait]]-nya, lebih mencintai [[Hasanain|Hasan dan Husain as]] daripada yang lain&amp;lt;ref&amp;gt;Tirmidzi, Muhammad bin Isa, Sunan Tirmidzi, penelitian oleh Abdurrahman Muhammad Utsman, Beirut, Dar al-Fikr, 1403 H, jilid 5, hlm. 323.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan kecintaan ini sedemikian rupa sehingga terkadang ketika keduanya masuk ke [[masjid]], beliau menghentikan khutbahnya, turun dari mimbar, dan memeluk mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 5, hlm. 354; Tirmidzi, Muhammad bin Isa, Sunan Tirmidzi, penelitian oleh Abdurrahman Muhammad Utsman, Beirut, Dar al-Fikr, 1403 H, jilid 5, hlm. 322; Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban, penelitian oleh Syu&#039;aib Arnauth, tanpa tempat, Al-Risalah, 1993 M, jilid 13, hlm. 402; Hakim Naisaburi, Al-Mustadrak &#039;ala al-Shahihain, penelitian oleh Yusuf Abdurrahman al-Mar&#039;asyi, Beirut, 1406 H, jilid 1, hlm. 287.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam riwayat disebutkan bahwa Allah menjadikan kesembuhan dalam [[tanah]] Husain as dan [[pengabulan doa]] di samping makamnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 4, hlm. 82; Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar al-Jami&#039;ah li Durar Akhbar al-A&#039;immah al-Athhar, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 HS, jilid 98, hlm. 69.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam kitab [[Al-Khashaish al-Husainiyah]], lebih dari tiga ratus keistimewaan khusus Imam Husain disebutkan.&amp;lt;ref&amp;gt;Syusytari, Syekh Ja&#039;far, Al-Khashaish al-Husainiyah, Syarif Radhi, cetakan pertama, tanpa tahun, hlm. 20.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kebanyakan sumber hadis, sejarah, dan rijal, disebutkan tentang kemiripan Husain as dengan [[Nabi Muhammad saw]]&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 142, 453; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27; Thabrani, Sulaiman bin Ahmad, Al-Mu&#039;jam al-Kabir, Kairo, Dar al-Nasyr, Maktabah Ibnu Taimiyah, cetakan kedua, tanpa tahun, jilid 3, hlm. 95.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan dalam sebuah riwayat, beliau disebut sebagai orang yang paling mirip dengan Nabi saw.&amp;lt;ref&amp;gt;Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 3, hlm. 261; Tirmidzi, Muhammad bin Isa, Sunan Tirmidzi, penelitian oleh Abdurrahman Muhammad Utsman, Beirut, Dar al-Fikr, 1403 H, jilid 5, hlm. 325.&amp;lt;/ref&amp;gt; Tentang beliau, dikatakan bahwa terkadang beliau mengenakan pakaian dari bulu atau memakai sorban dari bulu&amp;lt;ref&amp;gt;Thabrani, Sulaiman bin Ahmad, Al-Mu&#039;jam al-Kabir, Kairo, Dar al-Nasyr, Maktabah Ibnu Taimiyah, cetakan kedua, tanpa tahun, jilid 3, hlm. 101.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan mewarnai rambut serta janggutnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 6, hlm. 419–422; Ibnu Abi Syaibah, Al-Musannaf fi al-Ahadits wa al-Atsar, cetakan oleh Sa&#039;id Muhammad Lahham, Beirut, 1409 H, jilid 6, hlm. 3, 15.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as sangat dermawan dan dikenal dengan kedermawanannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammadi Rey Shahri, Muhammad dan kawan-kawan, Ensiklopedia Imam Husain as, terjemahan oleh Muhammad Muradi, Qum, Dar al-Hadits, 1430 H, jilid 2, hlm. 114–118.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau duduk bersama orang-orang miskin, menerima undangan mereka, makan bersama mereka, mengundang mereka ke rumahnya, dan tidak menahan apa yang ada di rumahnya dari mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 411; Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 14, hlm. 181.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau membebaskan budak-budak dan [[hamba sahaya]]nya sebagai balasan atas perilaku baik mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 70, hlm. 196–197; Ibnu Hazm, Al-Muhalla, penelitian oleh Muhammad Syakir, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun, jilid 8, hlm. 515; Arbili, Ali bin Isa, &#039;&#039;Kasyf al-Ghummah fi Ma&#039;rifah al-A&#039;immah as&#039;&#039;, cetakan oleh Ali Fadhili, Qum, 1426 H, jilid 2, hlm. 476.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam sumber-sumber disebutkan bahwa beliau menunaikan [[haji]] dengan berjalan kaki sebanyak 25 kali.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 401; Ibnu Abd al-Barr, Al-Isti&#039;ab fi Ma&#039;rifah al-Ashab, penelitian oleh Ali Muhammad al-Bajawi, Beirut, Dar al-Jil, cetakan pertama, 1412 H, jilid 1, hlm. 397.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Istri dan Anak-anak==&lt;br /&gt;
[[Fail:Mosibat Karbala.jpg|250px|thumb|Lukisan &amp;quot;Musibah Karbala&amp;quot; dalam gaya lukisan kafe oleh Husain Qollar Aghasi]]&lt;br /&gt;
{{main|Daftar Istri dan Anak-anak Imam Husain as}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Syahrbanu]] adalah nama salah satu istri Imam, yang dikatakan sebagai putri Yazdegerd, raja Sasani, dan ibu dari [[Imam Sajjad as]]. Para peneliti kontemporer meragukan nasab Syahrbanu.&amp;lt;ref&amp;gt;Sebagai contoh, lihat: Muthahhari, Murtadha, &#039;&#039;Khidmat-e Mutaqabil-e Islam va Iran&#039;&#039;, Teheran, Penerbit Sadra, 1380 HS, hlm. 131–133; Syariati Ali, Tasyayyu&#039;-e Alawi va Tasyayyu&#039;-e Safawi, Teheran, Chapkhash, 1377 HS, hlm. 91; Syahidi, Sayid Ja&#039;far, Zindagani Ali bin al-Husain, Teheran, Daftar Nasyr Farhang, 1365 HS, hlm. 12.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu istri Imam lainnya adalah [[Rabab]], putri Amru al-Qais bin Adi. Dia adalah ibu dari [[Sukainah binti Husain|Sukainah]] dan [[Abdullah bin al-Husain|Abdullah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Isfahani, Abul Faraj, &#039;&#039;Maqatil al-Thalibiyyin&#039;&#039;, penelitian oleh Ahmad Saqr, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, tanpa tahun, hlm. 59; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 135.&amp;lt;/ref&amp;gt; Rabab hadir di [[Karbala]] dan bersama para tawanan pergi ke [[Syam]].&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1408 H, jilid 8, hlm. 229.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sebagian besar sumber menyebutkan bahwa Abdullah (Ali Asghar) masih bayi saat syahid.&amp;lt;ref&amp;gt;Mus&#039;ab bin Abdullah, Kitab Nasab Quraisy, cetakan oleh Levi Provencal, Kairo, 1953 M, jilid 1, hlm. 59; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 468; Bukhari, Sahl bin Abdullah, Sirr al-Silsilah al-Alawiyah, cetakan oleh Muhammad Sadiq Bahar al-Ulum, Najaf, 1381 H, jilid 1, hlm. 30.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Laila binti Abi Murrah|Layla]], putri Abi Murrah bin Urwah bin Mas&#039;ud al-Tsaqafi,&amp;lt;ref&amp;gt;Mus&#039;ab bin Abdullah, &#039;&#039;Kitab Nasab Quraisy&#039;&#039;, cetakan oleh Levi Provencal, Kairo, 1953 M, hlm. 57; Yaqubi, Ahmad bin Abi Yaqub, Tarikh al-Yaqubi, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 246–247; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 446.&amp;lt;/ref&amp;gt; adalah nama salah satu istri Imam lainnya. Dia adalah ibu dari [[Ali Akbar as]]&amp;lt;ref&amp;gt;Maqrizi, Taqiyuddin, Imta&#039; al-Asma&#039; bima li al-Nabi min al-Ahwal wa al-Amwal wa al-Hafadah wa al-Mata&#039;, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1420 H, jilid 6, hlm. 269.&amp;lt;/ref&amp;gt; yang syahid dalam [[Peristiwa Karbala]].&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 446; Isfahani, Abul Faraj, Maqatil al-Thalibiyyin, penelitian oleh Ahmad Saqr, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, tanpa tahun, hlm. 80.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Umm Ishaq binti Thalhah bin Ubaidullah|Umm Ishaq]], putri Thalhah bin Ubaidullah, juga dianggap sebagai salah satu istri Imam Husain as. Dia adalah ibu dari [[Fatimah binti Husain|Fatimah]], putri sulung Imam Husain as.&amp;lt;ref&amp;gt;Isfahani, Abul Faraj, Kitab al-Aghani, Kairo, 1383 H, jilid 21, hlm. 78.&amp;lt;/ref&amp;gt; Umm Ishaq sebelumnya adalah istri [[Imam Hasan Mujtaba as]] dan setelah syahidnya Imam Hasan, dia menikah dengan Imam Husain as.&amp;lt;ref&amp;gt;Isfahani, Abul Faraj, Kitab al-Aghani, Kairo, 1383 H, jilid 21, hlm. 78.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Thalhah al-Syafi&#039;i dalam kitab [[Mathalib al-Su&#039;ul fi Manaqib Al al-Rasul]] menyebutkan bahwa Imam memiliki sepuluh anak.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Thalhah al-Syafi&#039;i, Mathalib al-Su&#039;ul fi Manaqib Al al-Rasul, cetakan oleh Majid bin Ahmad Athiyah, tanpa tempat, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 69.&amp;lt;/ref&amp;gt; Namun, beberapa sumber menyebutkan bahwa Imam memiliki empat putra dan dua putri&amp;lt;ref&amp;gt;Mus&#039;ab bin Abdullah, Kitab Nasab Quraisy, cetakan oleh Levi Provencal, Kairo, 1953 M, jilid 1, hlm. 57–59; Bukhari, Sahl bin Abdullah, Sirr al-Silsilah al-Alawiyah, cetakan oleh Muhammad Sadiq Bahar al-Ulum, Najaf, 1381 H, jilid 1, hlm. 30; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 135.&amp;lt;/ref&amp;gt; atau enam putra dan tiga putri.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Dalail al-Imamah, Beirut, Muassasah al-A&#039;lami lil Mathbu&#039;at, 1408 H, jilid 1, hlm. 74; Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 4, hlm. 77; Ibnu Thalhah al-Syafi&#039;i, Mathalib al-Su&#039;ul fi Manaqib Al al-Rasul, cetakan oleh Majid bin Ahmad Athiyah, tanpa tempat, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 69.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam kitab [[Lubab al-Ansab]]&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Funduq al-Baihaqi, Ali bin Zaid, Lubab al-Ansab wa al-Alqab wa al-A&#039;qab, penelitian oleh Mahdi Rajai, Qum, Maktabah Ayatullah al-Mar&#039;asyi, 1385 HS, hlm. 355.&amp;lt;/ref&amp;gt; dari sumber abad keenam, disebutkan tentang seorang putri bernama [[Ruqayyah binti Husain|Ruqayyah]], dan dalam kitab [[Kamil al-Bahai]] dari sumber abad ketujuh, disebutkan tentang seorang putri berusia empat tahun yang meninggal di [[Syam]].&amp;lt;ref&amp;gt;Kasyifi Sabzawari, Mulla Husain, Rawdhah al-Syuhada, Qum, Nawaid Islam, 1382 HS, hlm. 484.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Masa Tiga Khalifah==&lt;br /&gt;
Sedikit informasi sejarah yang dilaporkan tentang periode 25 tahun kehidupan Imam Husain as selama masa tiga khalifah.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammadi Rey Shahri, Muhammad dan kawan-kawan, Ensiklopedia Imam Husain as, terjemahan oleh Muhammad Muradi, Qum, Dar al-Hadits, 1430 H, jilid 2, hlm. 325.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dikatakan bahwa beliau menikmati penghormatan khusus dari khalifah kedua.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 14, hlm. 175; Sibth bin al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawash, Qum, Mansyurat al-Syarif al-Radhi, cetakan pertama, 1418 H, hlm. 211–212.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada laporan tentang Imam Husain as selama masa pemerintahan Utsman, di mana Imam bersama ayah dan saudaranya mengantar Abu Dzar, yang diasingkan oleh khalifah ketiga ke Rabdzah, meskipun bertentangan dengan perintah khalifah.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1365 HS, jilid 8, hlm. 206–207; Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, 1385–1387 H, jilid 8, hlm. 253–254.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa sumber [[Ahlusunah]] menyebutkan kehadiran beliau bersama saudaranya dalam beberapa penaklukan seperti Afrika pada tahun 26 H&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Khaldun, Al-&#039;Ibar, 1401 H, jilid 2, hlm. 573–574.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan [[Tabaristan]] pada tahun 30 H.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 4, hlm. 269.&amp;lt;/ref&amp;gt; Namun, laporan semacam ini tidak ditemukan dalam sumber Syiah. Beberapa peneliti Syiah seperti [[Ja&#039;far Murtadha Amili]] menganggap laporan-laporan ini sebagai palsu.&amp;lt;ref&amp;gt;Ja&#039;far Murtadha, Al-Hayah al-Siyasiyah lil Imam al-Hasan, Dar al-Sirah, hlm. 158.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Kehadiran Imam Hasan as dan Imam Husain as dalam Penaklukan Iran}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu laporan lain yang menyebutkan Imam Husain as adalah pemberontakan terhadap Utsman dan pembunuhan khalifah. Imam bersama saudaranya, Imam Hasan as, meskipun tidak senang dengan kinerja khalifah, melindungi rumah Utsman.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 59; Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 5, hlm. 558.&amp;lt;/ref&amp;gt; Laporan ini memiliki pendukung dan penentang di antara para peneliti Syiah.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammadi Rei Shahri, Muhammad dan kawan-kawan, Ensiklopedia Imam Husain as, terjemahan oleh Muhammad Muradi, Qum, Dar al-Hadits, 1430 H, jilid 2, hlm. 331–332.&amp;lt;/ref&amp;gt; [[Sayid Murtadha]] setelah meragukan pengiriman Hasanain as oleh Amirul Mukminin as, menyatakan bahwa alasannya adalah untuk mencegah pembunuhan sengaja terhadap Utsman dan memberikan air serta makanan kepada keluarganya, bukan untuk mencegah pencopotan Utsman dari kekhalifahan, karena Utsman layak dicopot karena tindakan-tindakannya yang tidak pantas.&amp;lt;ref&amp;gt;Sayid Murtadha, Ali bin Husain, &#039;&#039;Al-Syafi fi al-Imamah&#039;&#039;, Qum, Muassasah Ismailiyan, cetakan kedua, 1410 H, jilid 4, hlm. 242.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Pertahanan Imam Hasan as dan Imam Husain as atas Rumah Utsman}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Masa Pemerintahan Imam Ali as==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat sedikit laporan tentang Imam Husain as selama masa pemerintahan Imam Ali as. Salah satunya adalah bahwa beliau membacakan khutbah setelah [[baiat]] masyarakat kepada [[Amirul Mukminin as]].&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, &#039;&#039;Bihar al-Anwar al-Jami&#039;ah li Durar Akhbar al-A&#039;immah al-Athhar&#039;&#039;, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 HS, jilid 10, hlm. 121.&amp;lt;/ref&amp;gt; Kehadiran Imam Husain as dalam Perang Jamal dan kepemimpinannya atas sayap kiri pasukan Imam Ali as tercatat dalam berbagai sumber.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Muhammad bin Nu&#039;man, Al-Jamal wa al-Nusrah li Sayid al-Itrah fi Harb al-Basrah, Qum, Kongres Syekh Mufid, 1413 H, hlm. 348; Dzahabi, Syamsuddin, Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A&#039;lam, Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, cetakan kedua, 1409 H, jilid 3, hlm. 485.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau juga hadir dalam [[Perang Shiffin|Perang Shiffin]] dan menjadi salah satu komandan sayap kanan pasukan.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu A&#039;tsam, Ahmad, Al-Futuh, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, 1411 H, jilid 3, hlm. 24; Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, &#039;&#039;Manaqib Al Abi Thalib&#039;&#039;, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 3, hlm. 168.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam Husain as membacakan khutbah untuk mendorong masyarakat berjihad&amp;lt;ref&amp;gt;Manqari, Nashr bin Muzahim, Waq&#039;ah Shiffin, penelitian oleh Abdussalam Muhammad Harun, Kairo, 1382 H, hlm. 114–115.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan terlibat dalam upaya merebut kembali air dari pasukan Syam.&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar al-Jami&#039;ah li Durar Akhbar al-A&#039;immah al-Athhar, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 HS, jilid 44, hlm. 266.&amp;lt;/ref&amp;gt; Meskipun demikian, disebutkan bahwa berdasarkan laporan-laporan terkait Perang Shiffin, Imam Ali as mencegah Hasanain as untuk ikut berperang, dengan alasan menjaga keturunan Nabi saw.&amp;lt;ref&amp;gt;Arbili, Ali bin Isa, Kasyf al-Ghummah fi Ma&#039;rifah al-A&#039;immah, Qum, Radhi, cetakan pertama, 1421 H, jilid 1, hlm. 569; Sayid Radhi, Muhammad bin Husain, Nahj al-Balaghah, penelitian oleh Shubhi Shalih, Qum, Hijrah, 1414 H, khutbah 207, hlm. 323.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ada juga laporan tentang kehadirannya dalam [[Perang Nahrawan]].&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Abd al-Barr, Al-Isti&#039;ab fi Ma&#039;rifah al-Ashab, penelitian oleh Ali Muhammad al-Bajawi, Beirut, Dar al-Jail, cetakan pertama, 1412 H, jilid 3, hlm. 939.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak sumber menyebutkan bahwa Imam Husain as berada di sisi Imam Ali as saat [[syahid]]&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 147.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan hadir dalam prosesi pemakamannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 181; Syekh Mufid, Muhammad bin Nu&#039;man, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Beirut, 1414 H; jilid 1, hlm. 25.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dikatakan bahwa Imam Husain as sedang menjalankan misi di [[Mada&#039;in]] ketika ayahnya terluka, dan setelah menerima surat dari Imam Hasan as, beliau kembali ke Kufah.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 HS, jilid 3, hlm. 220; Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 2, hlm. 497–498.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Masa Imam Hasan as==&lt;br /&gt;
Husain bin Ali as selama masa imamah dan pemerintahan saudaranya, [[Imam Hasan as]], menunjukkan penghormatan yang besar kepadanya. Bahkan disebutkan bahwa beliau sepenuhnya taat pada perintah saudaranya dan tidak berbicara dalam majelis di mana Imam Hasan as hadir.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 HS, jilid 1, hlm. 291; Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 3, hlm. 401.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ketaatan dan kepatuhannya kepada saudaranya sedemikian rupa sehingga beliau menolak permintaan baiat dari beberapa kelompok Khawarij yang bersikeras untuk berperang melawan pasukan Syam.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 184.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as mendukung saudaranya dalam peristiwa [[perdamaian dengan Muawiyah]] dan mengonfirmasi tindakannya&amp;lt;ref&amp;gt;Dinawari, Ahmad bin Dawud, Al-Akhbar al-Thiwal, penelitian oleh Abdulmun&#039;im Amir dengan tinjauan oleh Jamaluddin Syial, Qum, Mansyurat Radhi, 1368 HS, hlm. 221.&amp;lt;/ref&amp;gt; serta menegaskan imamahnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thusi, Ikhtiyar Ma&#039;rifah al-Rijal (Rijal al-Kasyi), Masyhad, Universitas Masyhad, 1348 HS, hlm. 110.&amp;lt;/ref&amp;gt; Meskipun demikian, beberapa laporan menyebutkan bahwa beliau tidak berbaiat kepada Muawiyah&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu A&#039;tsam, Ahmad, Al-Futuh, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, 1411 H, jilid 4, hlm. 292; Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 4, hlm. 35.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan merasa tidak puas dengan tindakan saudaranya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 160; Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 13, hlm. 267.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as setelah perdamaian dengan Muawiyah pada [[tahun 41 H]], kembali dari [[Kufah]] ke [[Madinah]] bersama saudaranya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 165; Ibnu Jauzi, Abdurrahman bin Ali, Al-Muntazam fi Tarikh al-Umam wa al-Muluk, penelitian oleh Muhammad Abdulqadir Atha dan Mustafa Abdulqadir Atha, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1992 M, jilid 5, hlm. 184.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Masa Imamah==&lt;br /&gt;
[[Fail:Emam hossein.jpg|250px|thumb|Lukisan rakyat tentang Imam Husain as karya Muhammad Tajwidi, gouache, 1351 HS.&amp;lt;ref&amp;gt;Yasini, Radhiyah, «[https://negareh.shahed.ac.ir/article_356_d795c939486fd14a24bfb563a741891d.pdf Perkembangan Seni Lukis Islam Iran dari Penafian hingga Penyerupaan]» hlm. 14.&amp;lt;/ref&amp;gt;]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as menjadi [[imam]] setelah [[syahid]]nya saudaranya pada tahun [[50 H]] dan memegang imamah hingga tahun [[61 H]].&amp;lt;ref&amp;gt;Shabiri, Husain, Tarikh Firaq Islamiyah Firaq Syiah wa Firaq Mansub biha, Teheran, Samt, cetakan kelima, 1388 HS, jilid 1, hlm. 181.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ulama Syiah, selain argumen umum untuk membuktikan [[imamah dua belas imam]],&amp;lt;ref&amp;gt;Sebagai contoh, lihat: Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali bin Babawaih, Al-I&#039;tiqadat al-Imamiyah, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan kedua, 1414 H, hlm. 104; Ibnu Babawaih al-Qummi, Abul Hasan bin Ali, Al-Imamah wa al-Tabshirah min al-Hairah, penelitian: Ali Akbar Ghaffari, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1363 HS, hlm. 104.&amp;lt;/ref&amp;gt; juga merujuk pada argumen khusus tentang imamah Husain bin Ali as, termasuk riwayat dari [[Nabi saw]] yang menyebutnya sebagai imam.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Muhammad bin Nu&#039;man, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Beirut, 1414 H; jilid 2, hlm. 30.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sebagaimana penegasan Imam Ali as tentang imamah Husain as setelah [[Imam Hasan as]]&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 HS, jilid 1, hlm. 297.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan pengenalan beliau oleh Imam Hasan sebagai imam setelahnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 HS, jilid 1, hlm. 301.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as setelah syahidnya Imam Hasan as tidak melanggar baiatnya kepada Muawiyah.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 32.&amp;lt;/ref&amp;gt; Bahkan beliau menolak permintaan sebagian Syiah untuk mengumpulkan pasukan dan berperang melawan Muawiyah karena menjaga janji dan membela tindakan saudaranya.&amp;lt;ref&amp;gt;Dinawari, Ahmad bin Dawud, Al-Akhbar al-Thiwal, penelitian oleh Abdulmun&#039;im Amir dengan tinjauan oleh Jamaluddin Syial, Qum, Mansyurat Radhi, 1368 HS, hlm. 220.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau menunda keputusan dalam hal ini hingga setelah kematian Muawiyah.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 150.&amp;lt;/ref&amp;gt; Menurut Syekh Mufid, Imam Husain as hingga kematian Muawiyah tidak mengajak masyarakat kepada dirinya karena [[taqiyah]] dan perjanjian yang dibuat dalam peristiwa [[perdamaian Imam Hasan]]. Namun, setelah kematian Muawiyah, beliau menjelaskan kedudukannya kepada mereka yang tidak mengetahuinya.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Muhammad bin Nu&#039;man, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Beirut, 1414 H, jilid 2, hlm. 31.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Sikap Terhadap Tindakan Muawiyah==&lt;br /&gt;
Menurut sumber sejarah, Imam Husain as tidak melakukan tindakan melawan pemerintahan Muawiyah, tetapi beberapa sejarawan berdasarkan beberapa bukti dan percakapan antara mereka meyakini bahwa Imam as secara politik tidak menerima legitimasi Muawiyah.&amp;lt;ref&amp;gt;Ja&#039;fariyan, Rasul, Hayat Fikri wa Siyasi Imamane Syiah, Qum, Anshariyan, cetakan keenam, 1381 HS, hlm. 175.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan dalam beberapa kasus menentang kebijakan Muawiyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Protes Imam Husain as terhadap tindakan Muawiyah dalam membunuh orang-orang seperti [[Hujr bin Adi]], [[Amr bin Hamq al-Khuza&#039;i]], dan [[Abdullah bin Yahya al-Hadhrami]] tercatat dalam berbagai sumber.&amp;lt;ref&amp;gt;Dinawari, Ahmad bin Dawud, Al-Akhbar al-Thiwal, penelitian oleh Abdulmun&#039;im Amir dengan tinjauan oleh Jamaluddin Syial, Qum, Mansyurat Radhi, 1368 HS, hlm. 224–225; Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 5, hlm. 120–121; Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 202–204.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam dalam suratnya kepada Muawiyah mengecam pembunuhan para sahabat Imam Ali as dan mengecam tindakan buruk Muawiyah, menyebut jihad melawannya sebagai keharusan untuk menghidupkan agama dan menganggap pemerintahannya sebagai fitnah besar bagi [[umat]] Islam.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 5, hlm. 121–122; Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 440; Thusi, Ikhtiyar Ma&#039;rifah al-Rijal (Rijal al-Kasyi), Masyhad, Universitas Masyhad, 1348 HS, hlm. 50; Dzahabi, Syamsuddin, Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A&#039;lam, Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, cetakan kedua, 1409 H, jilid 5, hlm. 6; Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 14, hlm. 206.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Muawiyah pada tahun 56 H, bertentangan dengan ketentuan [[perjanjian damai Imam Hasan]] yang melarang penunjukan penerus, mengajak masyarakat untuk berbaiat kepada Yazid,&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun, jilid 8, hlm. 79.&amp;lt;/ref&amp;gt; beberapa tokoh, termasuk Imam Husain as, menolak berbaiat.&amp;lt;ref&amp;gt;http://ensani.ir/fa/article/45732/&amp;lt;/ref&amp;gt; Muawiyah pergi ke Madinah untuk mendapatkan dukungan para tokoh kota tersebut untuk penunjukan Yazid sebagai putra mahkota.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 204.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam Husain dalam sebuah majelis yang dihadiri oleh Muawiyah, [[Ibnu Abbas]], dan beberapa pejabat serta keluarga Umayyah, mengecam Muawiyah dan memperingatkannya untuk tidak berusaha menjadikan Yazid sebagai penerus. Beliau menegaskan kedudukan dan haknya serta membantah argumen Muawiyah untuk mendapatkan baiat kepada Yazid.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 208–209.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sebuah majelis lain yang dihadiri oleh masyarakat umum, Imam Husain menanggapi ucapan Muawiyah tentang kelayakan Yazid. Beliau menyatakan bahwa dirinya lebih layak secara individu dan keluarga untuk menjadi khalifah, sementara Yazid digambarkan sebagai pemabuk dan pengikut hawa nafsu.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, tahqiq Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, halaman 211.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 58 Hijriah, Imam Husain as menyampaikan khutbah protes di Mina akibat tekanan Muawiyah terhadap Syiah.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok peneliti sejarah, Tarikh Qiyam wa Maqtal Jami&#039; Sayid al-Syuhada, 1389 H, jilid 1, halaman 392.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam khutbah ini, beliau menyebutkan keutamaan Amirul Mukminin as dan Ahlul Bait, mengajak untuk melakukan amar ma&#039;ruf nahi munkar, menekankan pentingnya tugas ini dalam Islam, serta menjelaskan kewajiban ulama untuk bangkit melawan para penindas dan bahaya diamnya ulama di hadapan penguasa zalim.&amp;lt;ref&amp;gt;Harrani, Hasan bin Syu&#039;bah, Tuhaf al-&#039;Uqul, Qum, Jamaah Mudarrisin, 1404 H, halaman 68.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Ketidakbangkitannya Imam Husain as pada masa Muawiyah}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Reaksi Terhadap Kekhalifahan Yazid==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kematian Muawiyah pada 15 Rajab tahun 60 Hijriah, Yazid naik takhta.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 155; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 32.&amp;lt;/ref&amp;gt; Untuk melegitimasi pemerintahannya, Yazid berusaha memaksa para tokoh besar seperti Imam Husain as yang menolak baiat kepadanya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 338.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam Husain as menolak untuk berbaiat&amp;lt;ref&amp;gt;Abu Mikhnaf, Maqtal al-Husain as, tahqiq dan ta&#039;liq Husain al-Ghaffari, Qum, Mathba&#039;ah Ilmiyah, tanpa tahun, halaman 5; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 33.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan pergi bersama keluarga serta pengikutnya dari Madinah ke Mekah.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 160; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 34.&amp;lt;/ref&amp;gt; Di sana, beliau disambut oleh masyarakat dan para jamaah umrah.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 156; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 36.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam tinggal di kota ini selama lebih dari empat bulan.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 66.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syiah Kufah yang mengetahui penolakan Imam untuk berbaiat mengirim surat-surat yang mengundang beliau ke Kufah.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 157–159; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 36–38.&amp;lt;/ref&amp;gt; Husain bin Ali mengutus Muslim bin Aqil ke Kufah untuk memastikan situasi. Setelah melihat sambutan dan baiat masyarakat, Muslim memanggil Imam Husain ke Kufah.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 41.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam kemudian berangkat bersama keluarga dan pengikutnya pada tanggal 8 Dzulhijjah dari Mekah menuju Kufah.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 160; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 66.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut beberapa laporan, Imam Husain as mengetahui adanya rencana pembunuhan terhadap dirinya di Mekah. Untuk menjaga kesucian Mekah, beliau meninggalkan kota tersebut menuju Irak.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;d, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, halaman 450; Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun, jilid 8, halaman 159 dan 161.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Aktivitas Politik Imam Husain as Sebelum Qiyam}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Peristiwa Karbala==&lt;br /&gt;
{{poem|Ketika kekhalifahan terlepas dari Al-Qur&#039;an|Racun kebebasan dituangkan ke dalam mulut|Di tanah Karbala, hujan turun dan pergi|Bunga lalale tumbuh di reruntuhan|Hingga hari kiamat, ia menghentikan tirani|Gelombang darahnya menciptakan taman|Darahnya menjelaskan rahasia ini|Membangunkan umat yang tertidur|Pedang &amp;quot;La&amp;quot; ia hunus|Mengalirkan darah para pengikut kebatilan|Rahasia Al-Qur&#039;an kami pelajari dari Husain|Dari apinya, kami menyimpan nyala|Wahai angin, wahai utusan yang jauh|Sampaikan air mata kami ke tanah sucinya&amp;lt;ref&amp;gt;Iqbal Lahori, Ramuz-e-Bekhudi, &amp;quot;[https://ganjoor.net/iqbal/romooz-bikhodi/sh13 Bagian 13, tentang makna kebebasan Islam dan rahasia peristiwa Karbala]&amp;quot;&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
|Align = kiri&lt;br /&gt;
|Judul= Tentang Makna Kebebasan Islam dan Rahasia Peristiwa Karbala&lt;br /&gt;
|Penyair= Iqbal Lahori}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peristiwa Karbala terjadi akibat penolakan Imam Husain as untuk berbaiat kepada Yazid. Husain as memenuhi undangan penduduk Kufah dan berangkat bersama keluarga serta pengikutnya menuju Kufah. Namun, di daerah bernama Dzuhusam, beliau dihadang oleh pasukan yang dipimpin oleh Hurr bin Yazid al-Riyahi dan terpaksa mengubah rute perjalanannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 408; Ibnu Miskawaih, Ahmad bin Muhammad, Tajarib al-Umam wa Ta&#039;aqub al-Himam, tahqiq: Abu al-Qasim Imami, Teheran, Surush, 1379 H; jilid 2, halaman 67; Ibnu Atsir, Ali bin Abi al-Karam, Al-Kamil fi al-Tarikh, Beirut, Dar Shadir, 1965 M, jilid 4, halaman 51.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kafilah Imam tiba di Karbala pada tanggal 2 Muharram&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu A&#039;tsam, Ahmad, Al-Futuh, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, 1411 H, jilid 5, halaman 83; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 409; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 84; Ibnu Miskawaih, Ahmad bin Muhammad, Tajarib al-Umam wa Ta&#039;aqub al-Himam, tahqiq: Abu al-Qasim Imami, Teheran, Surush, 1379 H, jilid 2, halaman 68.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan pada tanggal 3 Muharram, pasukan dari Kufah yang dipimpin oleh Umar bin Sa&#039;ad tiba di Karbala.&amp;lt;ref&amp;gt;Dinawari, Ahmad bin Dawud, Al-Akhbar al-Thiwal, tahqiq Abdul Mun&#039;im Amir, Qum, Mansyurat Razi, 1368 H, halaman 253; Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 176; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 409; Ibnu Atsir, Ali bin Abi al-Karam, Al-Kamil fi al-Tarikh, Beirut, Dar Shadir, 1965 M, jilid 4, halaman 52.&amp;lt;/ref&amp;gt; Menurut laporan sejarah, beberapa perundingan terjadi antara Husain bin Ali dan Umar bin Sa&#039;ad;&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 414; Ibnu Miskawaih, Ahmad bin Muhammad, Tajarib al-Umam wa Ta&#039;aqub al-Himam, tahqiq: Abu al-Qasim Imami, Teheran, Surush, 1379 H; jilid 2, halaman 71.&amp;lt;/ref&amp;gt; namun Ibnu Ziyad hanya menerima baiat Husain as kepada Yazid atau perang.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 182; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 414; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 88.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada malam Asyura, Imam Husain as melepas baiat dari para pengikutnya setelah menyampaikan pidato; namun mereka menegaskan kesetiaan dan dukungan mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 91–94.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertempuran dimulai pada pagi hari Asyura. Setelah para sahabat dan kerabat Imam as gugur,&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 446; Isfahani, Abu al-Faraj, Maqatil al-Thalibiyyin, tahqiq Ahmad Saqr, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, tanpa tahun, halaman 80.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam sendiri maju ke medan perang dan gugur sebagai syahid pada sore hari.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad, 1413 H, jilid 2, halaman 112.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
{{see also|Daftar Syuhada Karbala}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syamr bin Dzil Jausyan&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 112; Khuwarizmi, Muaffaq bin Ahmad, Maqtal al-Husain as, Qum, Anwar al-Huda, cetakan kedua, 1423 H, jilid 2, halaman 41; Thabarsi, Fadhl bin Hasan, I&#039;lam al-Wara bi A&#039;lam al-Huda, Teheran, Islamiyah, 1390 H, jilid 1, halaman 469.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan menurut riwayat lain, Sinan bin Anas&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 450–453; Ibnu Sa&#039;d, Al-Thabaqat al-Kubra, cetakan Ihsan Abbas, Beirut, 1968, jilid 6, halaman 441; Isfahani, Abu al-Faraj, Maqatil al-Thalibiyyin, tahqiq Ahmad Saqr, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, tanpa tahun, halaman 118; Mas&#039;udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jilid 3, halaman 62.&amp;lt;/ref&amp;gt; memenggal kepala beliau dan mengirimkannya kepada Ibnu Ziyad pada hari yang sama.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 411; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 456.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Pembunuh Imam Husain as}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluarga Imam Husain as ditawan dan dibawa ke Kufah, kemudian ke Syam.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 456.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Lama Masa Penawanan Ahlul Bait as Setelah Peristiwa Karbala}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jenazah Imam Husain as dan para syuhada Karbala dimakamkan pada tanggal 11&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 455.&amp;lt;/ref&amp;gt; atau 13 Muharram oleh sekelompok orang dari Bani Asad, dan menurut riwayat lain, dengan kehadiran Imam Sajjad as di tempat syahid.&amp;lt;ref&amp;gt;Musawi al-Muqarram, Abdul Razzaq, Maqtal al-Husain as, Beirut, Dar al-Kitab al-Islamiyah, halaman 335–336.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Fail:حرم امام حسین.jpg|250px|thumb|Foto tertua yang diyakini sebagai Haram Imam Husain as]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Reaksi Terhadap Peristiwa Karbala==  &lt;br /&gt;
Kebangkitan Imam Husain as dan kesyahidannya menimbulkan banyak reaksi dan memicu gerakan revolusioner serta protes selama bertahun-tahun, seperti Kebangkitan Tawwabin, Kebangkitan Mukhtar, Kebangkitan Zaid bin Ali, dan Kebangkitan Yahya bin Zaid.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, dalam Kebangkitan Siyah Jamegan yang dipimpin oleh Abu Muslim al-Khurasani—yang mengakibatkan kejatuhan Dinasti Umayyah—slogan &amp;quot;Ya Latharat al-Husain&amp;quot; (Wahai Penuntut Balas Kematian Husain) digunakan.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 9, halaman 317.&amp;lt;/ref&amp;gt; Revolusi Islam Iran juga dianggap terinspirasi oleh kebangkitan Imam Husain as.&amp;lt;ref&amp;gt;[http://farsi.rouhollah.ir/library/sahifeh?volume=17&amp;amp;tid=22 Khomeini, Sahifeh Nur, 1379 H, jilid 17, halaman 58.]&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat banyak riwayat yang meramalkan kesyahidan Husain bin Ali as.&amp;lt;ref&amp;gt;Rei Syahri, Danesyameh Imam Husain, 1388 H, jilid 3, halaman 166–317.&amp;lt;/ref&amp;gt; Salah satunya adalah Hadits Lauh yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad (saw), di mana Allah memuliakan Husain dengan kesyahidan dan menjadikannya sebagai syahid terbaik.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 H, jilid 1, halaman 528; Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Ghaibah, Qum, Dar al-Ma&#039;arif al-Islamiyah, 1411 H, halaman 145.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tujuan Kebangkitan==  &lt;br /&gt;
Terdapat berbagai pandangan mengenai tujuan Imam Husain as dalam kebangkitannya. Beberapa ulama seperti Luthfullah Shafi, Murtadha Muthahhari, Sayid Muhsin Amin, dan Ali Syariati menyatakan bahwa tujuan Husain bin Ali as adalah untuk mencapai syahid.&amp;lt;ref&amp;gt;Esfandiyari, Asyura Syenasi, 1387 H, halaman 157.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayid Murtadha&amp;lt;ref&amp;gt;Sayid Murtadha, Ali bin Husain, Tanzih al-Anbiya, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan kedua, 1409 H, halaman 227–228.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan ulama kontemporer seperti Shalehi Najaf Abadi menyatakan bahwa tujuan Imam adalah untuk membentuk pemerintahan.&amp;lt;ref&amp;gt;Shalehi Najaf Abadi, Nimatullah, Syahid Javid, Teheran, Omid Farda, 1387 H, halaman 157–158.&amp;lt;/ref&amp;gt; Selain itu, ada juga pandangan lain seperti tujuan untuk menyelamatkan nyawa.&amp;lt;ref&amp;gt;Asytahardi, Ali Panah, Haft Saleh Chera Seda Dar Avard?, Qum, Penerbit Allamah, cetakan pertama, 1391 H, halaman 154.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{main|Kebangkitan Asyura: Gerakan Ilahi atau Keinginan Rakyat?|Kesadaran Imam Husain as tentang Akhir Kebangkitan}}  &lt;br /&gt;
[[File:Tazie ashora.jpg|thumb|Bagian dari tradisi Taziyah|280x280px]]  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kebangkitan Imam dalam Pandangan Ahlusunah==  &lt;br /&gt;
{{main|Pandangan Al-Ghazali tentang Kebangkitan Imam Husain as}}  &lt;br /&gt;
Di kalangan Ahlusunah, terdapat dua pandangan tentang Kebangkitan Imam Husain as: sebagian mengkritiknya, sementara banyak yang memujinya.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Khaldun, sejarawan Ahlusunah abad ke-9, menekankan bahwa syarat untuk memerangi para penindas adalah adanya pemimpin yang adil. Ia menyebut Husain as sebagai orang yang paling adil untuk memimpin perlawanan ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, Beirut, Dar al-Fikr, 1401 H, jilid 1, halaman 217.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ia juga menyatakan bahwa ketika kefasikan Yazid menjadi jelas bagi semua orang, Husain merasa wajib untuk bangkit melawannya karena ia merasa memiliki kelayakan dan kekuatan untuk melakukannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jilid 1, halaman 216.&amp;lt;/ref&amp;gt; Syihabuddin Alusi, ulama Ahlusunah abad ke-13, dalam kitab Ruh al-Ma&#039;ani, mengkritik dan mengutuk Ibnu Arabi yang mencela Imam Husain. Ia menyatakan bahwa klaim Ibnu Arabi tentang kebangkitan Husain sebagai sumber kejahatan dan ketidakbaikan adalah dusta dan fitnah besar.&amp;lt;ref&amp;gt;Alusi, Ruh al-Ma&#039;ani, tahqiq: Ali Abdul Bari Athiyah, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1415 H, jilid 13, halaman 228.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abbas Mahmud Al-Aqqad, penulis dan sastrawan Mesir abad ke-14, dalam bukunya Abu al-Syuhada: Al-Husain bin Ali, menulis bahwa situasi pada masa Yazid telah mencapai titik di mana hanya syahid yang dapat menyelesaikannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Aqqad, Abbas Mahmud, Abu al-Syuhada Al-Husain bin Ali, Teheran, Al-Majma&#039; al-Alami li al-Taqrib, cetakan kedua, 1429 H, halaman 207.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ia percaya bahwa kebangkitan seperti ini hanya dapat dilakukan oleh manusia langka yang diciptakan untuk tujuan ini, dan gerakan mereka tidak dapat dibandingkan dengan orang lain karena mereka memahami dan menuntut sesuatu yang berbeda.&amp;lt;ref&amp;gt;Aqqad, Abbas Mahmud, Abu al-Syuhada Al-Husain bin Ali, Teheran, Al-Majma&#039; al-Alami li al-Taqrib, cetakan kedua, 1429 H, halaman 141.&amp;lt;/ref&amp;gt; Thaha Husain, penulis Ahlusunah, berpendapat bahwa penolakan Husain untuk berbaiat bukan karena keras kepala, tetapi karena ia tahu bahwa berbaiat kepada Yazid berarti mengkhianati hati nuraninya dan bertentangan dengan agamanya, karena baginya berbaiat kepada Yazid adalah dosa.&amp;lt;ref&amp;gt;Husain, Thaha, Ali wa Banuh, Kairo, Dar al-Ma&#039;arif, tanpa tahun, halaman 239.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar Farrukh juga menekankan bahwa diam di hadapan kezaliman tidak dapat dibenarkan. Ia percaya bahwa umat Islam saat ini membutuhkan seorang &amp;quot;Husain&amp;quot; yang bangkit untuk membimbing kita ke jalan yang benar dalam membela kebenaran.&amp;lt;ref&amp;gt;Farrukh, Umar, Tajdid fi al-Muslimin la fi al-Islam, Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, tanpa tahun, halaman 152.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tradisi Berkabung==  &lt;br /&gt;
Syiah dan bahkan non-Syiah melakukan tradisi berkabung untuk Imam Husain dan syuhada Karbala selama bulan Muharram. Syiah memiliki ritual berkabung yang umum, seperti pembacaan kisah tragedi Karbala (rawdhah), memukul dada (sineh-zani), pertunjukan teater tragedi Karbala (ta&#039;ziyah), dan membaca ziarah seperti Ziarah Asyura, Ziarah Warits, dan Ziarah Nahiyah Muqaddasah secara individu atau berkelompok.&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat: [http://fa.abna24.com/news/اخبار-آسیای-شرقی/عزاداری-ماه-محرم-در-کشورهای-جنوب-شرقی-آسیا-برگزار-می‌شود_725804.html «Tradisi Berkabung Bulan Muharram di Negara Asia Tenggara», ABNA News Agency]; [http://www.beytoote.com/art/city-country/different-cities2-muharram.html «Adat dan Tradisi Masyarakat di Berbagai Kota Iran pada Bulan Muharram», Situs Beytoote.]&amp;lt;/ref&amp;gt; Tempat yang dikhususkan untuk berkabung disebut Husainiyah.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tradisi berkabung untuk Imam Husain as dimulai sejak hari-hari pertama setelah Asyura.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 206.&amp;lt;/ref&amp;gt; Menurut sebuah riwayat, ketika tawanan Karbala tiba di Syam, para wanita Bani Hasyim berkabung selama beberapa hari dengan mengenakan pakaian hitam.&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 H, jilid 45, halaman 196.&amp;lt;/ref&amp;gt; Setelah berkuasanya pemerintahan Syiah dan berkurangnya tekanan terhadap Syiah, tradisi berkabung menjadi resmi.&amp;lt;ref&amp;gt;Aeinehvand, Sadeq dan Velayati, Ali Akbar, Sunnat Azadari wa Manqabat-Khani dar Tarikh Syiah Imamiyah, dengan pengantar Muhammad Taqi-Zadeh Davari, Qum, Muassasah Syiah-Syenasi, cetakan kedua, 1386 H, halaman 65–66, mengutip Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, jilid 11, halaman 183; Ibnu Jauzi, Abdul Rahman bin Ali, Al-Muntazam fi Tarikh Thabari, tahqiq Muhammad Abdul Qadir Atha dan Mustafa Abdul Qadir Atha, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1992 M, jilid 7, halaman 15.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sumber Syiah dan Ahlusunah disebutkan bahwa Nabi Muhammad (saw) menangis saat kelahiran Husain dan memberitakan kesyahidannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 129; Maqrizi, Taqiyuddin, Imta&#039; al-Asma&#039;, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1420 H, jilid 12, halaman 237; Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun, jilid 6, halaman 230.&amp;lt;/ref&amp;gt; Menurut laporan sejarah dan hadis, para Imam Syiah sangat menekankan pentingnya berkabung dan menangis untuk mengenang Husain bin Ali, serta menganjurkan Syiah untuk menjaga ingatan tentang Asyura.&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 H, jilid 44, bab 34, halaman 278–296.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{main|Perkembangan Tradisi Berkabung|Kesedihan dan Tangisan dalam Berkabung untuk Imam Husain as|Tradisi Berkabung Para Imam Syiah untuk Imam Husain as}}  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Makam Imam Husain as==  &lt;br /&gt;
[[Fail:حرم امام حسین(ع).jpg|250px|thumb|Pemandangan Makam Imam Husain as pada tahun 1932 M.]]&lt;br /&gt;
Menurut laporan yang ada, bangunan pertama di atas makam Husain bin Ali as dibangun pada masa Mukhtar al-Tsaqafi atas perintahnya. Sejak saat itu, bangunan makam telah beberapa kali direnovasi dan diperluas.&amp;lt;ref&amp;gt;Al Tu&#039;mah, Salman Hadi, Karbala wa Haram-ha-ye Muthahhar, Teheran, Masyar, tanpa tahun, halaman 89–112.&amp;lt;/ref&amp;gt; Makam Imam Husain as beberapa kali dihancurkan oleh beberapa khalifah Abbasiyah&amp;lt;ref&amp;gt;Isfahani, Abu al-Faraj, Maqatil al-Thalibiyyin, tahqiq Ahmad Saqr, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, tanpa tahun, halaman 477.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan kelompok Wahabi.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, Negahi Now be Jaryan-e Asyura, 1387 H, halaman 425.&amp;lt;/ref&amp;gt; Misalnya, Khalifah Al-Mutawakkil Abbasi memerintahkan untuk membajak tanah Hair dan mengalirkan air ke makam.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Amali, Qum, Dar al-Tsaqafah, 1414 H, halaman 327; Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 2, halaman 211.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Area sekitar makam Imam Husain as disebut Hair Husaini. Area ini memiliki keutamaan dan hukum fikih khusus, dan seorang musafir dapat melaksanakan shalat lengkap di dalamnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabathabai Yazdi, Sayid Muhammad Kazhim, &#039;&#039;Al-Urwah al-Wutsqa&#039;&#039;, Beirut, 1404 H, jilid 2, halaman 164.&amp;lt;/ref&amp;gt; Terdapat beberapa pendapat tentang luas pasti Hair, dan minimalnya adalah area dengan radius 11 meter dari makam Imam Husain, yang memiliki tingkat keutamaan tertinggi.&amp;lt;ref&amp;gt;Kalidar, Abdul Jawad, Tarikh Karbala wa Hair al-Husain Alaih al-Salam, Najaf, cetakan ofset Qum, 1376 H, halaman 51–52, 58–60.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ziarah ke Makam Imam Husain as==  &lt;br /&gt;
Dalam riwayat para Imam Maksum, ziarah ke makam Imam Husain as tidak hanya ditekankan, tetapi juga dianggap sebagai salah satu amalan terbaik dan paling utama.&amp;lt;ref&amp;gt;Muassasah Imam Hadi as, Jami&#039; Ziyarat al-Ma&#039;sumin, Qum, Payam Imam Hadi as, 1389 H, jilid 3, halaman 36–69.&amp;lt;/ref&amp;gt; Bahkan, pahalanya disamakan dengan haji dan umrah.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qulawiyah, Ja&#039;far bin Muhammad, Kamil al-Ziyarat, Najaf, Dar al-Murtadhawiyah, 1356 H, halaman 158–161.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kitab-kitab ziarah, terdapat beberapa ziarah mutlak untuk Imam Husain yang dapat dibaca kapan saja&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammadi Risyahri, Muhammad dan kawan-kawan, Danesyameh Imam Husain as, terjemahan Muhammad Muradi, Qum, Dar al-Hadits, 1430 H, jilid 12, halaman 256–452.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan beberapa ziarah khusus yang dibaca pada waktu tertentu.&amp;lt;ref&amp;gt;[https://hawzah.net/fa/Magazine/View/6444/8140/107167/زیارت-های-مخصوصه-امام-حسین «Ziarah Khusus Imam Husain», Situs Informasi Hauzah.]&amp;lt;/ref&amp;gt; Ziarah Asyura, Ziarah Warits, dan Ziarah Nahiyah Muqaddasah adalah beberapa ziarah yang paling terkenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Arbain Husaini==&lt;br /&gt;
{{main|Arbain Husaini}}&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Syiah melakukan tradisi berkabung pada hari ke-40 setelah kesyahidan Imam Husain as, yang dikenal sebagai Arbain Husaini. Pada hari ini, para pecinta Imam Husain as pergi berziarah ke makam beliau di Karbala.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut beberapa laporan sejarah, tawanan Karbala dalam perjalanan kembali dari Syam ke Madinah berziarah ke makam syuhada Karbala pada hari Arbain.&amp;lt;ref&amp;gt;Sayid bin Thawus, Ali bin Musa, Al-Luhuf &#039;ala Qatla al-Thufuf, Qum, Aswah, 1414 H, halaman 225.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dikatakan bahwa Jabir bin Abdullah al-Anshari adalah orang pertama yang hadir di makam Imam Husain as pada hari ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Mishbah al-Mutahajjid, Beirut, Muassasah Fiqh al-Syiah, 1411 H, halaman 787.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anjuran untuk melakukan ziarah Arbain telah mendorong umat Syiah dari berbagai penjuru dunia untuk berbondong-bondong menuju Karbala setiap tahunnya. Perjalanan ini, yang biasanya dilakukan dengan berjalan kaki, dianggap sebagai salah satu prosesi terbesar di dunia. Sumber berita melaporkan bahwa jumlah peziarah Arbain pada tahun 1398 Hijriah mencapai lebih dari 18 juta orang.&amp;lt;ref&amp;gt;[https://www.irna.ir/news/83522637/ «Jumlah Peziarah Arbain Tahun Ini Melebihi 18 Juta», Kantor Berita Republik Islam.]&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Riwayat-Riwayat Imam Husain== &lt;br /&gt;
Dalam berbagai sumber hadis dan sejarah, terdapat banyak referensi tentang ucapan,&amp;lt;ref&amp;gt;Ma&#039;had Penelitian Baqir al-Ulum as, Mausu&#039;ah Kalimat al-Imam al-Husain, 1416 H, pengantar, halaman Z.&amp;lt;/ref&amp;gt; doa,&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, Tehran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 H, jilid 95, halaman 214.&amp;lt;/ref&amp;gt; surat,&amp;lt;ref&amp;gt;Ahmadi Miyanji, Ali, Makatib al-A&#039;immah, Ayatullah Ahmadi Miyanji, Qum, Dar al-Hadits, 1426 H, jilid 3, halaman 83–156.&amp;lt;/ref&amp;gt; syair,&amp;lt;ref&amp;gt;Karbasi, Muhammad Shadiq, Da&#039;irat al-Ma&#039;arif al-Husainiyah, Diwan al-Imam al-Husain, London, Al-Markaz al-Husaini li al-Dirasat, 2001 M, jilid 1 dan 2.&amp;lt;/ref&amp;gt; khutbah,&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Syu&#039;bah Harrani, Hasan bin Ali, Tuhaf al-&#039;Uqul, Qum, Jamaah Mudarrisin, 1404 H, halaman 237–240; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 97–98.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan wasiat Imam Husain as.&amp;lt;ref&amp;gt;Khuwarizmi, Muaffaq bin Ahmad, Maqtal al-Husain as, Qum, Anwar al-Huda, cetakan kedua, 1423 H, jilid 1, halaman 273.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam buku Musnad al-Imam al-Syahid karya Azizullah Atharadi dan Mausu&#039;ah Kalimat al-Imam al-Husain, semua riwayat dari Imam as telah dikumpulkan.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Karya-Karya tentang Kehidupan Imam== &lt;br /&gt;
Tentang kepribadian dan kehidupan Husain bin Ali as, banyak karya telah ditulis dalam bentuk ensiklopedia, biografi, maqtal (kisah kesyahidan), dan sejarah analitis. Lebih dari empat puluh buku dan artikel telah membahas topik &amp;quot;bibliografi Imam Husain&amp;quot;.&amp;lt;ref&amp;gt;[http://www.ensani.ir/fa/content/187015/default.aspx Esfandiyari, «Bibliografi Bibliografi Imam Husain as», halaman 41.]&amp;lt;/ref&amp;gt; Sebagai contoh, dalam «Bibliografi Khusus Imam Husain», disebutkan 1.428 karya dengan detail penerbitan.&amp;lt;ref&amp;gt;Safar Ali Pour, Heshmatullah, Kitab Syenasi Ikhtisasi Imam Husain, Qum, Yaqut, 1381 H, halaman 255.&amp;lt;/ref&amp;gt; Agha Buzurg Tehrani juga dalam bukunya Al-Dzari&#039;ah ila Tashanif al-Syiah memperkenalkan 985 buku tentang topik ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Esfandiyari, Muhammad, Kitab Syenasi Tarikhi Imam Husain as, Tehran, Organisasi Penerbitan dan Percetakan, 1380 H, halaman 491.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan Kaki ==&lt;br /&gt;
{{footnotes|3}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch = تاریخ&lt;br /&gt;
 | subbranch1 = تاریخ و سیره معصومان&lt;br /&gt;
 | subbranch2 = امام حسین(ع)&lt;br /&gt;
 | subbranch3 =&lt;br /&gt;
 | شاخه فرعی۴ =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه =شد&lt;br /&gt;
 | تیترها =شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش =شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی =شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر =شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی نویسنده =&lt;br /&gt;
 | ارزیابی کمی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت =ج&lt;br /&gt;
 | کیفیت =ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[bn:ইমাম হুসাইন আলাইহিস সালাম]]&lt;br /&gt;
[[fa:امام حسین علیه‌السلام]]&lt;br /&gt;
[[ru:Имам Хусейн (мир ему)]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Akidah_Khusus_Syiah_Imamiyah&amp;diff=941</id>
		<title>Akidah Khusus Syiah Imamiyah</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Akidah_Khusus_Syiah_Imamiyah&amp;diff=941"/>
		<updated>2025-02-21T22:42:04Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Apa yang dimaksud dengan akidah khusus Syiah Imamiyah?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
Di antara keyakinan yang khusus dimiliki oleh Syiah adalah [[wilayah]], Bada&#039;, [[raj&#039;ah]], dan keberlanjutan imamah. Keyakinan lain seperti imamah, [[syafaat]], keadilan Allah, [[tawassul]], dan mahdawiyah adalah keyakinan yang umum dalam Islam, namun terdapat perbedaan dalam makna dan penafsirannya atau dalam penerapannya pada kasus-kasus tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Wilayah ==&lt;br /&gt;
Syahid Muthahhari mengatakan: &amp;quot;Imamah [dalam Syiah, selain sebagai kepemimpinan sosial dan otoritas keagamaan] memiliki tingkat dan derajat ketiga yang merupakan puncak konsep imamah, dan buku-buku Syiah penuh dengan pembahasan ini, yaitu imamah dalam arti wilayah [yang berarti] pada setiap zaman terdapat seorang manusia sempurna (imam) yang membawa spiritualitas universal kemanusiaan... Artinya, ia adalah jiwa universal yang melingkupi semua jiwa (dan urusan alam).&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masalah wilayah dalam Syiah berarti hujjah zaman, dan menurut ajaran Syiah, bumi tidak pernah kosong dari hujjah: &amp;quot;Dan jika bukan karena hujjah, bumi akan menelan penduduknya&amp;quot; (jika tidak ada hujjah, bumi akan menelan penduduknya), artinya tidak pernah dan tidak akan pernah ada waktu di mana bumi kosong dari manusia sempurna (dan khalifah Ilahi); dan bagi manusia sempurna tersebut, terdapat banyak kedudukan dan derajat, dan dalam banyak ziarah yang kita baca, kita mengakui dan mengakui wilayah dan imamah seperti ini, yaitu kita meyakini bahwa imam memiliki jiwa universal seperti itu.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Imamah dan Kepemimpinan, Allamah Syahid Muthahhari, halaman 56, Penerbit Sadra.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bada&#039; ==&lt;br /&gt;
Al-Qur&#039;an menyebutkan bada&#039; dalam ayat ini: {{quran|يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ|terjemah=Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab (induk segala kitab).|sura=Ar-Ra&#039;d (13)|verse=39}}.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bada&#039; pada dasarnya berarti &amp;quot;menampakkan sesuatu dari seseorang&amp;quot;, dan secara terminologis, bada&#039; berarti menampakkan sesuatu dari Allah SWT yang sebelumnya tidak diketahui oleh manusia dan mereka mengira sebaliknya&amp;lt;ref&amp;gt;Awail al-Maqalat, Syaikh Mufid, halaman 80.&amp;lt;/ref&amp;gt; (menampakkan setelah tersembunyi).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syahid Muthahhari mengatakan: &amp;quot;Makna bada&#039; (dalam terminologi teologi Syiah) adalah bahwa terjadi revisi dalam ketetapan dan takdir Ilahi. Maksudnya adalah bahwa dalam peristiwa-peristiwa sejarah manusia, Allah tidak menetapkan bentuk yang pasti untuk kemajuan atau kemunduran sejarah manusia. Artinya, wahai manusia, engkaulah pelaksana ketetapan dan takdir Ilahi, engkaulah yang dapat memajukan sejarah, engkaulah yang dapat memundurkannya. Engkau dapat mempertahankannya, tidak ada sesuatu pun, baik dari alam, alat-alat kehidupan, maupun kehendak Ilahi, yang menguasai sejarah.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Perkembangan Sosial Manusia, Allamah Muthahhari, halaman 16.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Raj&#039;ah ==&lt;br /&gt;
Raj&#039;ah berarti kembalinya, dan dalam teologi Syiah, raj&#039;ah berarti bahwa sebelum [[hari kiamat]], dalam kelanjutan pemerintahan [[Imam Mahdi as]], masa raj&#039;ah akan tiba, dan sekelompok orang baik serta sekelompok orang jahat dari setiap zaman akan kembali ke dunia, orang-orang baik untuk melihat pemerintahan mulia Ahlul Bait as dan mencapai harapan pemerintahan [[keadilan Ilahi|keadilan]] serta menerima beberapa pahala yang telah Allah tetapkan untuk diberikan kepada mereka di dunia, sedangkan orang-orang jahat dan kafir yang memusuhi, untuk dihukum dan disiksa di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Shadiq as bersabda: &amp;quot;Sesungguhnya raj&#039;ah tidak bersifat umum, melainkan khusus, dan hanya orang-orang yang murni dalam keimanan atau murni dalam kekafiran yang akan kembali.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Mizan al-Hikmah, Rei Syahri, jilid 4, halaman 1984.&amp;lt;/ref&amp;gt; Raj&#039;ah tidak bersifat universal melainkan khusus, dan hanya mereka yang murni dalam keimanan atau kekafiran yang akan kembali ke dunia. Menurut beberapa riwayat, orang pertama dari para imam as yang akan kembali adalah [[Imam Husain as]].&amp;lt;ref&amp;gt;Mizan al-Hikmah, Rei Syahri, jilid 4, halaman 1982.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dari Imam Ridha as diriwayatkan bahwa beliau bersabda: &amp;quot;... (Raj&#039;ah) adalah kebenaran dan juga terjadi pada umat-umat sebelumnya, dan Al-Qur&#039;an telah menyebutkannya&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Seperti: Al-Baqarah:243; An-Naml:83; Ghafir:11.&amp;lt;/ref&amp;gt;, dan Rasulullah saw bersabda bahwa segala sesuatu yang terjadi pada umat-umat sebelumnya akan terjadi pula pada umat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Keberlanjutan Imamah ==&lt;br /&gt;
Menurut Syiah, imamah adalah sistem Ilahi yang tidak terputus dan tidak memiliki masa vakum, dan ia ada di setiap zaman dan era. Imamah telah terbentuk sejak era Nabi Muhammad saw dan terus berlanjut hingga sekarang, dan akan terus berlanjut selama dunia masih ada, sebagaimana yang dikatakan oleh Amirul Mukminin as: {{arabic|لا تخلو الارض من قائم لله بحجّة، امّا ظاهراً مشهورا، و امّا خائفا مغمورا، لئلا تبطل حجج الله و بیّناته|translation=Bumi tidak akan kosong dari seorang qaim (imam) yang menjadi hujjah bagi Allah, baik yang tampak dan terkenal, maupun yang takut dan tersembunyi, agar hujjah-hujjah Allah dan bukti-bukti-Nya tidak menjadi sia-sia.}}&amp;lt;ref&amp;gt;Nahjul Balaghah, Hikmah, 147, Tadzkiratul Fuqaha, Adz-Dzahabi, jilid 1, halaman 12.&amp;lt;/ref&amp;gt; Bumi tidak akan kosong dari seorang qaim (imam) yang menjadi hujjah bagi Allah (dan hujjah ini) baik yang tampak dan terkenal maupun yang takut dan tersembunyi, agar hujjah-hujjah Allah dan bukti-bukti-Nya tidak menjadi sia-sia; oleh karena itu, imam baik yang tampak dan terkenal serta hadir di tengah-tengah masyarakat, seperti pada masa kehadiran para imam suci, maupun yang takut dan tersembunyi, seperti pada [[era kegaiban]], dan Imam Zaman as meskipun gaib, tetap memegang kepemimpinan dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan Lebih Lanjut ==&lt;br /&gt;
* Raj&#039;ah Menurut Syiah, Najmuddin Thabarsi.&lt;br /&gt;
* Diskursus Mahdawiyah, Ayatullah Shafi Gulpaygani.&lt;br /&gt;
* Awail al-Maqalat, Syaikh Mufid Quddas Sirruh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch = ادیان و مذاهب&lt;br /&gt;
 | subbranch1 = شیعه امامیه&lt;br /&gt;
 | subbranch2 = عقاید شیعه&lt;br /&gt;
 | subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه = شد&lt;br /&gt;
 | تیترها = شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش = شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی =شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =شد&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر =شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی نویسنده =&lt;br /&gt;
 | بازبینی =شد&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت = الف&lt;br /&gt;
 | کیفیت = ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[رده:اختلافات شیعه و سنی]]&lt;br /&gt;
[[fa:عقاید خاص شیعه]]&lt;br /&gt;
[[ur:شیعوں کی مخصوص عقائد]]&lt;br /&gt;
[[ar:عقائد الشیعة الخاصة]]&lt;br /&gt;
[[fr:Croyances spécifiques des chiites]]&lt;br /&gt;
[[bn:শিয়াদের নিজস্ব আকিদা ও বিশ্বাস]]&lt;br /&gt;
[[en:Distinctive Shia Beliefs]]&lt;br /&gt;
[[ru:Особые верования шиитов]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Muhaddatsah_(gelar)&amp;diff=940</id>
		<title>Muhaddatsah (gelar)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Muhaddatsah_(gelar)&amp;diff=940"/>
		<updated>2025-02-21T22:18:02Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Mengapa Sayidah Fatimah Zahra sa disebut sebagai Muhaddasah?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Muhaddatsah&#039;&#039;&#039; adalah salah satu gelar [[Sayidah Fatimah sa]] yang berarti seseorang yang berbicara dengan malaikat. Fatimah sa disebut Muhaddatsah karena ia berkomunikasi dengan malaikat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pemahaman tentang Muhaddats dan Muhaddatsah== &lt;br /&gt;
Muhaddats dan Muhaddatsah (dengan fathah pada huruf dal dan tasydid) berarti seseorang yang diajak berbicara; ia diberi wahyu.&amp;lt;ref&amp;gt;Huseini Zabidi, Muhammad Murtadha, Taj al-&#039;Arus min Jawahir al-Qamus, Beirut, Dar al-Fikr, edisi pertama, 1414 H, jilid 3, hal 192.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam riwayat Islam, &#039;&#039;&#039;Muhaddats&#039;&#039;&#039; adalah seseorang yang mendengar perkataan [[malaikat]], dia diberi wahyu yang masuk ke dalam hatinya.&amp;lt;ref&amp;gt;Safar, Muhammad bin Hasan, Basair al-Darajat fi Fadhail Ahl Muhammad saw, Qum, Perpustakaan Mar&#039;asyi Najafi, edisi kedua, 1404 H, hal 367, Bab 1, Hadis 1 dan 17.&amp;lt;/ref&amp;gt; Buku-buku lain mendefinisikan Muhaddats sebagai seseorang yang, meskipun bukan nabi, berbicara dengan malaikat.&amp;lt;ref&amp;gt;Amini, Abdul Husain, Al-Ghadir, Pusat Studi Al-Ghadir, jilid 5, hal 67.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam-imam Ahlulbait as adalah Muhaddats, dan Sayidah Fatimah Zahra sa juga adalah Muhaddatsah.&amp;lt;ref&amp;gt;Safar, Muhammad bin Hasan, Basair al-Darajat fi Fadhail Ahl Muhammad صلى الله عليه وسلم, Qum, Perpustakaan Mar&#039;asyi Najafi, edisi kedua, 1404 H, hal 367, Bab 1.&amp;lt;/ref&amp;gt; Seperti ibu [[Nabi Musa|Nabi Musa as]] yang bukan nabi, tetapi Allah memberikan wahyu kepadanya.&amp;lt;ref&amp;gt;Sura Al-Qashas, ayat 7.&amp;lt;/ref&amp;gt; [[Sayidah Maryam sa]] juga bukan nabi, tetapi malaikat berbicara dengannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Sura Maryam, ayat 16-26.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pembicaraan Malaikat dengan Fatimah sa == &lt;br /&gt;
Terdapat banyak riwayat yang menunjukkan bahwa Sayidah Fatimah adalah Muhaddatsah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* [[Imam Shadiq as]]: {{arabic||translation=Sayidah Fatimah disebut Muhaddatsah karena malaikat turun dari langit dan berbicara dengannya, sebagaimana mereka berbicara dengan Sayidah Maryam.}}&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Babawaih, Muhammad bin Ali, Al-&#039;Ilal al-Syarayi&#039;, Qum, Penerbit Da&#039;uri, edisi pertama, 1385 H/1966 M, jilid 1, hal 182, Bab 146, Hadis 1. Al-Thabari Amili Saghir, Muhammad bin Jarir bin Rustam, Dala&#039;il al-Imamah, Qum, Bi&#039;athah, edisi pertama, 1413 H, hal 80, Hadis 20.&amp;lt;/ref&amp;gt; &lt;br /&gt;
* Imam Shadiq as: {{arabic|translation= Ketika Allah mengambil ruh Nabi-Nya, Fatimah merasakan kesedihan yang sangat dalam, yang hanya diketahui oleh Allah. Allah mengirim malaikat untuk menghiburnya, mengurangi kesedihannya, dan berbicara dengannya.}}&amp;lt;ref&amp;gt;Safar, Muhammad bin Hasan, Basair al-Darajat fi Fadhail Ahl Muhammad saw, Qum, edisi kedua, 1404 H, Bab 14, hal 157, Hadis 18. Kulayni, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, edisi keempat, 1407 H, jilid 1, hal 238, Bab tentang al-Sahifah, al-Jafr, al-Jami&#039;ah dan Mushaf Fatimah, Hadis 2.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Imam Shadiq as: {{arabic||translation= Sayidah Fatimah hidup lebih dari 75 hari setelah wafatnya Nabi, dan rasa kesedihan yang mendalam karena ayahnya menghampirinya. Oleh karena itu, Jibril datang berkali-kali untuk menghiburnya, mengucapkan bela sungkawa atas wafat ayahnya, dan menghibur hati Fatimah. Kadang ia menceritakan kedudukan ayahnya yang mulia, dan kadang memberi tahu tentang peristiwa yang akan terjadi pada keturunannya setelah wafatnya beliau.}}&amp;lt;ref&amp;gt;Safar, Muhammad bin Hasan, Basair al-Darajat fi Fadhail Ahl Muhammad saw, Qum, edisi kedua, 1404 H, Bab 14, hal 154, Hadis 6.&amp;lt;/ref&amp;gt; &lt;br /&gt;
* Dalam ziarah Sayidah Fatimah sa disebutkan: {{arabic| السَّلَامُ عَلَيْكِ أَيَّتُهَا الْمُحَدَّثَه الْعَلِيمَه|translation=Salam untukmu, wahai Muhaddatsah yang bijaksana.}}&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Babawaih, Muhammad bin Ali, Man La Yahduruhu al-Faqih, Qum, Penerbit Islamiyah, edisi kedua, 1413 H, jilid 2, hal 573. Al-Thusi, Muhammad bin al-Hasan, Tahzib al-Ahkam, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, edisi ke-4, 1407 H, jilid 6, hal 10.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Mushaf Fatimah sebagai bukti Muhaddatsahnya Sayidah Fatimah == &lt;br /&gt;
{{see also|Mushaf Fatimah Sa}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Mushaf Fatimah Sa|Mushaf Fatimah]] sa adalah kitab yang [[Jibril]] ajarkan kepada [[Sayidah Fatimah Zahra sa]] setelah wafatnya [[Nabi Islam|Nabi Muhammad sa]], dan [[Imam Ali as]] menulisnya. Berdasarkan riwayat, keberadaan kitab ini tidak diragukan.&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Qum, Dar al-Hadith, 1429 H, jilid 1, hal 599-600.&amp;lt;/ref&amp;gt; Riwayat tentang keberadaan Mushaf Fatimah sa terdapat dalam sumber-sumber tertua dari kitab-kitab hadits Syiah, seperti [[Basair al-Darajat]]&amp;lt;ref&amp;gt;Safar Qumi, Muhammad bin al-Hasan, Basair al-Darajat fi Fadhail Ahl Muhammad صلى الله عليه وسلم, penelitian oleh Mohsin bin Abbasali Kochebaghi, Qum, Maktabah Ayatullah Mar&#039;asyi Najafi, 1404 H, hal 170-181.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan [[Al-Kafi]]&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, jilid 1, hal 592-602.&amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keberadaan Mushaf Fatimah dianggap sebagai bukti bahwa malaikat Allah berbicara dengan Sayidah Fatimah sa dan ini membuktikan bahwa beliau adalah Muhaddatsah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Pranala terkait==&lt;br /&gt;
* [[Penurunan Jibril pada Sayidah Fatimah sa]]&lt;br /&gt;
* [[Mushaf Fatimah sa]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch = حدیث&lt;br /&gt;
 | subbranch1 = معارف حدیثی&lt;br /&gt;
 | subbranch2 =&lt;br /&gt;
 | subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه = شد&lt;br /&gt;
 | تیترها = شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش =&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی = شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر = شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی =شد&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت = ج&lt;br /&gt;
 | کیفیت = ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa:محدثه‌بودن حضرت فاطمه(س)]]&lt;br /&gt;
[[ar:المُحَدَّثة السیدة فاطمة (ع)]]&lt;br /&gt;
[[es:Ser Muhaddiza de la Excelencia Fátima Zahra (P)]]&lt;br /&gt;
[[bn:হযরত ফাতেমা’র মুহাদ্দাসা হওয়া]]&lt;br /&gt;
[[ur:حضرت فاطمه سلام الله علیها کا محدثه هونا]]&lt;br /&gt;
[[en:Muhaddatha, the Title of Fatima (a)]]&lt;br /&gt;
[[ru:Мухаддаса титул Фатимы (да будет мир с ней)]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Permusuhan_Sekte_Wahabi_Terhadap_Ahlul_Bait_as&amp;diff=939</id>
		<title>Permusuhan Sekte Wahabi Terhadap Ahlul Bait as</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Permusuhan_Sekte_Wahabi_Terhadap_Ahlul_Bait_as&amp;diff=939"/>
		<updated>2025-02-21T19:20:51Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Apakah Ibnu Taimiyah dan Wahabi benar-benar memusuhi Ahlul Bait?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
Permusuhan sekte Wahabi terhadap Ahlul Bait Rasulullah saw tidak dapat disembunyikan oleh siapa pun. Permusuhan ini tercermin baik dari [[Ibnu Taimiyah]], yang merupakan Syaikhul Islam sekte [[Wahabi]], maupun dari sekte Wahabi itu sendiri dalam berbagai bentuk. Penolakan terhadap keutamaan [[Ahlul Bait]], penyamaan Imam Ali as dengan Firaun, pensucian musuh-musuh Ahlul Bait, pengafiran pengikut Imam Ali, dukungan terhadap musuh-musuh Imam Ali khususnya Yazid bin Muawiyah, dan penghancuran makam-makam Ahlul Bait adalah bukti nyata permusuhan kelompok ini terhadap Ahlul Bait.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Permusuhan Ibnu Taimiyah terhadap Ahlul Bait Nabi saw ==&lt;br /&gt;
*Ibnu Taimiyah tidak menerima keutamaan apa pun bagi Ahlul Bait. Ia menganggap keutamaan Ahlul Bait sebagai hasil dari [[jahiliyah]] Arab. Ibnu Taimiyah berkata: &amp;quot;Keyakinan akan keunggulan dan keutamaan Ahlul Bait Rasulullah atas orang lain adalah pemikiran dari era jahiliyah, di mana para pemimpin dan kepala suku dianggap lebih unggul daripada yang lain.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim, Minhaj al-Sunnah, Mesir, Muassasah Qurtubah, jilid 3, halaman 269.&amp;lt;/ref&amp;gt; Pernyataan Ibnu Taimiyah ini bertentangan dengan ajaran Islam; karena baik dalam Al-Qur&#039;an, seperti dalam [[Ayat Tathir]], maupun dalam hadis-hadis Nabi saw, khususnya [[Hadits Tsaqalain versi Ibnu Taimiyah|Hadits Tsaqalain]] dan [[Hadits Safinah]], keutamaan Ahlul Bait as ditekankan, dan dalam Ayat Qurbi, mencintai Ahlul Bait diwajibkan bagi umat Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Ibnu Taimiyah menyamakan Imam Ali as dengan [[Firaun]] dalam hal pertumpahan darah dan ambisi kekuasaan, padahal dalam sebuah hadis yang diriwayatkan baik oleh Syiah maupun Sunni, Nabi saw berkata kepada Ali, [[Fatimah sa]], Hasan, dan Husain as: &amp;quot;Aku memerangi siapa pun yang memerangi kalian dan berdamai dengan siapa pun yang berdamai dengan kalian.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Hakim Naisaburi, Muhammad bin Abdullah, Al-Mustadrak &#039;ala ash-Shahihain, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan 1, 1411 H/1990 M, tahqiq: Mustafa Abdul Qadir Ata, jilid 3, halaman 161; Sunan Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid Abu Abdullah al-Qazwini, Sunan Ibnu Majah, Dar al-Fikr - Beirut, tahqiq: Muhammad Fuad Abdul Baqi, halaman 52.&amp;lt;/ref&amp;gt; Setelah menyebutkan hadis ini, Al-Jashash berkata bahwa siapa pun yang memerangi mereka layak disebut sebagai musuh Allah dan Rasul-Nya, meskipun dia bukan seorang musyrik.&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Jashash, Ahmad bin Ali ar-Razi, Ahkam al-Qur&#039;an lil Jashash, Beirut, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, 1405 H, tahqiq: Muhammad as-Sadiq Qamhawi, jilid 4, halaman 51.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan adanya riwayat-riwayat ini dan banyak riwayat lainnya serta bukti-bukti sejarah, dapat dipastikan bahwa sikap dan keyakinan Ibnu Taimiyah dan Wahabi berasal dari kebencian dan permusuhan mereka, tidak hanya terhadap Ahlul Bait, tetapi juga terhadap Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Ibnu Taimiyah menyatakan hal-hal tentang Amirul Mukminin Ali as dan para sahabatnya yang membuktikan permusuhannya yang nyata terhadap [[Imam Ali as]]. Dia berkata: &amp;quot;Orang-orang yang mencela Ali, melaknatnya, dan menganggapnya sebagai kafir dan zalim, seperti Khawarij, Umayyah, dan Marwaniyah, semuanya adalah bagian dari umat Islam dan percaya pada syiar-syiar Islam serta mengamalkannya. Namun, orang-orang yang mensucikan dan menjadi pengikut Ali semuanya adalah bagian dari orang-orang murtad dan kafir.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Taimiyah, Minhaj al-Sunnah, jilid 5, halaman 9.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal, Imam Ali as adalah bagian dari Ahlul Bait, dan Fakhruddin ar-Razi, seorang mufassir terkenal dari kalangan Ahlusunah, berkata: &amp;quot;Siapa pun yang mengikuti Ali bin Abi Thalib dalam agamanya, maka dia telah mendapatkan petunjuk, dan buktinya adalah sabda Nabi saw: &#039;Ya Allah, tempatkan kebenaran bersama Ali di mana pun dia berada.&#039;&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Fakhruddin ar-Razi, Fakhruddin Muhammad bin Umar al-Tamimi al-Razi asy-Syafi&#039;i, At-Tafsir al-Kabir atau Mafatih al-Ghaib, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan 1, 1421 H/2000 M, jilid 1, halaman 168.&amp;lt;/ref&amp;gt; Juga dalam sumber-sumber Ahlusunah disebutkan bahwa Ali bersama kebenaran, dan kebenaran bersama Ali di mana pun dia berada.&amp;lt;ref&amp;gt;Hakim Naisaburi, Al-Mustadrak &#039;ala ash-Shahihain, jilid 3, halaman 134; Haitsami, Nuruddin Ali bin Abu Bakar, Majma&#039; az-Zawaid, Kairo, Dar ar-Rayyan li at-Turats; dan Beirut, Dar al-Maktab al-Ilmiyah, 1408 H, jilid 7, halaman 235.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Ibnu Taimiyah menolak semua hadis yang menyebutkan keutamaan Ahlul Bait, baik dengan mempertanyakan sanadnya maupun menolak maknanya. Sebagai contoh, hadis yang diriwayatkan dalam kitab-kitab Ahlusunah yang sahih, termasuk Sahih Muslim, oleh Ummul Mukminin Aisyah tentang turunnya Ayat Tathir, dan dalam riwayat lain yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah, setelah turunnya ayat ini, Nabi saw berkata: &amp;quot;Ya Allah, mereka adalah Ahlul Baitku, jauhkan kotoran dari mereka dan sucikan mereka.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Beirut, Dar as-Sadir, tanpa tahun, jilid 1, halaman 331.&amp;lt;/ref&amp;gt; Setelah tidak mampu menemukan cacat dalam sanad hadis ini, Ibnu Taimiyah dengan tegas menyatakan bahwa baik ayat yang turun tentang Ahlul Bait maupun doa Nabi untuk mereka tidak memberikan keutamaan atau kelebihan apa pun kepada Ahlul Bait.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Taimiyah, Minhaj al-Sunnah, Mathba&#039;ah Kubra Amiriyah, cetakan 1, 1322 H, jilid 3, halaman 4.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pandangan Alu Syaikh, Mufti Kontemporer Wahabi, tentang Imam Husain as ==&lt;br /&gt;
Pandangan Abdul Aziz Alu Syaikh, mufti kontemporer Wahabi, tentang [[Imam Husain as]] jauh lebih ekstrem dan negatif dibandingkan dengan Ibnu Taimiyah dan pemimpin Wahabi sebelumnya. Alu Syaikh, mufti agung Wahabi, seperti yang tercermin di berbagai situs internet, telah menyingkapkan isi hati Wahabi dengan tegas menyatakan bahwa Yazid berada di pihak yang benar dan Imam Husain as berada di pihak yang salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang dilaporkan di berbagai situs, Alu Syaikh dalam program langsung yang disiarkan oleh saluran &amp;quot;Al-Majd&amp;quot; Arab Saudi menjawab pertanyaan seorang wanita tentang Yazid dan pemberontakan Imam Husain as dengan jawaban yang intinya adalah: &amp;quot;Baiat Yazid bin Muawiyah adalah baiat yang sah yang diambil dari rakyat pada masa ayahnya, Muawiyah, dan rakyat pun membaiat dan menerima baiat ini. Namun, setelah Muawiyah meninggal, Husain bin Ali dan Ibnu Zubair menolak untuk membaiat Yazid; oleh karena itu, Husain dan Ibnu Zubair salah dalam keputusan mereka untuk tidak membaiat. Husain tidak mendengarkan nasihat orang lain dan bertindak melawan kepentingan yang seharusnya, dan Allah pun melaksanakan apa yang telah Dia tetapkan. Dia melanjutkan dengan mengatakan: &#039;Husain telah melakukan kesalahan untuk dirinya sendiri!!... Bagaimanapun, pemberontakan dan perlawanan Husain terhadap Yazid adalah haram!!... Dan lebih baik baginya untuk tidak melakukan hal itu. Tetap tinggal di Madinah dan mengikuti apa yang telah disepakati oleh orang-orang adalah lebih baik dan lebih pantas, dan melanggar batas kekhalifahan tidak diperbolehkan. Namun, meskipun demikian, kami memohon keridhaan Allah untuk Husain dan memohon ampunan serta pengampunan untuknya!!...&#039;&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;http://database-aryana-encyclopaedia.blogspot.com/2013/07/blog-post_14.html&amp;lt;/ref&amp;gt; Padahal, menurut hadis mutawatir dan sahih, Imam Husain as bersama saudaranya Imam Hasan as adalah dua pemuda penghuni surga, sehingga tidak mungkin ada kesalahan atau dosa yang dilakukan oleh beliau sehingga Alu Syaikh atau orang lain perlu memohonkan ampunan untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pandangan Wahabi tentang Hari Asyura ==&lt;br /&gt;
Wahabi kontemporer menganggap hari Asyura sebagai hari kegembiraan. Wahabi di Kuwait, dalam beberapa publikasi milik sekte ini, menyebut hari Asyura Husaini sebagai hari kebahagiaan dan kegembiraan. Selain itu, meskipun Ahlus Sunnah menghormati keluarga Rasulullah, Wahabi dengan sengaja mengadakan pernikahan dan pesta mereka di Kuwait pada malam Tasyu&#039;a dan hari Asyura Husaini.&amp;lt;ref&amp;gt;Khabarmama..., edisi 1153, halaman 53.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alu Syaikh, yang memiliki permusuhan yang sangat kuat terhadap Ahlul Bait Rasulullah saw khususnya Imam Husain as, untuk menunjukkan permusuhan ini, mengadakan pernikahan putranya yang bernama Umar bin Abdul Aziz pada hari [[Asyura]], dan banyak mufti Saudi hadir dalam acara ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Situs Masyregh News.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kebencian Wahabi Terhadap Ziarah Sayidah Zainab sa==&lt;br /&gt;
Jaringan berita Wahabi &amp;quot;Safa&amp;quot;, yang didanai oleh badan intelijen Arab Saudi dan memiliki kantor pusat di Kuwait, Kairo, dan Riyadh, menyebut anggota Tentara Pembebasan Suriah sebagai cucu-cucu [[Bani Umayyah]] di Syam. Jaringan ini menyerukan kepada mereka: &amp;quot;Wahai keturunan [[Muawiyah bin Abu Sufyan]] dan wahai keturunan [[Yazid bin Muawiyah dari perspektif Ibnu Taimiyah|Yazid bin Muawiyah]]! Wahai para prajurit Tentara Pembebasan! Kalian harus menargetkan &#039;kuil&#039; Zainab dan menghancurkannya, serta meruntuhkan semua makam serupa.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Khabarnameh Jame&#039;e Modarresin, edisi 1138, halaman 56.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahabi kontemporer telah mengambil langkah ekstrem dalam hal ini hingga membentuk pasukan dengan nama Yazid dan Ibnu Ziyad. Mereka melakukan pawai di Pakistan dengan slogan &amp;quot;Yazid dan Ibnu Ziyad adalah syahid.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Khabarnameh Jame&#039;e Modarresin, edisi 1195, halaman 51.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Dukungan Terhadap Musuh Ahlul Bait as==&lt;br /&gt;
Wahabi, dalam upaya memusuhi Ahlul Bait Rasulullah saw, menegaskan dukungan mereka terhadap para pembunuh Imam Husain as dan membela mereka dengan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Ibnu Taimiyah, untuk tujuan ini, dalam jilid ke-4 Minhaj al-Sunnah dari halaman 549 hingga 575, menyamakan Yazid bin Muawiyah dengan para khalifah Muslim lainnya dan berusaha keras untuk membuktikan ketidakbersalahan Yazid dalam tragedi Karbala yang menyebabkan syahidnya Husain bin Ali as, cucu tercinta Rasulullah saw, beserta anak-anak dan sahabat-sahabatnya, serta penawanan keluarga suci Rasulullah saw. Dia berkata: &amp;quot;Bahkan jika Yazid bin Muawiyah adalah seorang fasik dan zalim, Allah akan mengampuninya karena perbuatan baik dan besar yang telah dilakukannya.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim, Majmu&#039; al-Fatawa, tanpa tahun, tanpa tempat, jilid 3, halaman 413 dan jilid 4, halaman 475.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dia dengan tegas membela dan mendukung Umar bin Sa&#039;ad, pembunuh langsung Husain as, dan para pengikutnya dengan mengatakan: &amp;quot;Memang benar Umar bin Sa&#039;ad adalah komandan pasukan dan membunuh Imam Husain as, tetapi dosa Umar bin Sa&#039;ad jauh lebih kecil daripada dosa [[Mukhtar bin Abu Ubaidah]], yang bangkit untuk membalas dendam atas darah Husain dan menghukum para pembunuhnya. Bahkan, dosa Mukhtar jauh lebih besar daripada dosa Umar bin Sa&#039;ad.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Minhaj al-Sunnah, jilid 2, halaman 70.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Wahabi menulis buku tentang musuh-musuh Ahlul Bait, khususnya musuh-musuh Ali as seperti Muawiyah bin Abu Sufyan dan putranya Yazid, dengan judul &amp;quot;Fadhail Muawiyah wa fi Yazid wa annahu la yusab.&amp;quot; Mereka yang bertanya kepada An-Nasa&#039;i tentang keutamaan Muawiyah, An-Nasa&#039;i menjawab: &amp;quot;Aku tidak mengetahui keutamaan apa pun tentang Muawiyah kecuali kutukan terkenal Nabi saw terhadapnya, yaitu: &#039;Semoga Allah tidak mengenyangkan perutnya.&#039;&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;An-Nasa&#039;i, Ahmad bin Syu&#039;aib, Khasa&#039;is Amirul Mukminin as, Maktabah Nainawi al-Haditsah, halaman 23; Abu Dawud, Sulaiman, Musnad Abu Dawud, Beirut, Dar al-Hadits, halaman 359.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Wahabi dengan tegas menyatakan bahwa semua riwayat yang mencela dan mengecam musuh-musuh Ahlul Bait seperti Muawiyah bin Abu Sufyan, Umar bin Sa&#039;ad, Bani Umayyah, [[Bani Marwan]], Amr bin Ash, Yazid bin Muawiyah, dan lainnya adalah dusta dan palsu tanpa memberikan bukti apa pun.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qayyim, Muhammad bin Abu Bakar, Naqd al-Manqul, Beirut, Dar al-Qari, cetakan pertama, 1411 H, halaman 108.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Yazid bin Muawiyah memiliki posisi yang sangat penting dalam pandangan Wahabi kontemporer. Kementerian Pendidikan Arab Saudi bahkan menerbitkan sebuah buku berjudul &amp;quot;Haqaiq &#039;an Amir al-Mu&#039;minin Yazid bin Muawiyah&amp;quot; dan menjadikannya sebagai salah satu teks pelajaran di sekolah-sekolah resmi negara itu.&amp;lt;ref&amp;gt;At-Tijani, Sayid Muhammad, Al-Syi&#039;ah Hum Ahlus Sunnah, catatan kaki halaman 94; dan As&#039;ad Wahid al-Qasim, Haqiqah al-Syi&#039;ah al-Itsna &#039;Asyariyah, halaman 82.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Sebuah media Irak menyiarkan gambar yang menunjukkan bahwa penguasa Wahabi Arab Saudi, untuk menunjukkan kedalaman kebencian mereka terhadap Nabi saw dan Ahlul Bait as, telah menamai sekolah, jalan, dan tempat-tempat umum dengan nama musuh-musuh Rasulullah saw dan Ahlul Baitnya yang suci. Misalnya, Sekolah Yazid bin Muawiyah, Jalan Yazid bin Muawiyah, Sekolah Abu Lahab-yang permusuhannya terhadap Nabi saw sedemikian besar sehingga Allah menurunkan sebuah surah dalam Al-Qur&#039;an untuk melaknatnya-dan Jalan Abrahah al-Habasyi, orang yang ingin menghancurkan Ka&#039;bah pada tahun yang dikenal sebagai Tahun Gajah, tetapi Allah swt menghancurkannya bersama pasukannya dengan azab yang pedih.&amp;lt;ref&amp;gt;Khabarnameh Jame&#039;e Modarresin, edisi 1198, halaman 65.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Penghancuran Makam Ahlul Bait as==&lt;br /&gt;
Wahabi telah membuktikan permusuhan dan kebencian mereka terhadap Ahlul Bait Nabi as melalui tindakan nyata, seperti penghancuran makam-makam Ahlul Bait di pemakaman [[Baqi&#039;]], serangan militer mereka ke [[Karbala]] dan Najaf (tempat dimakamkannya Imam Husain dan Imam Ali as), serta pembantaian kejam terhadap Muslim dan pecinta Ahlul Bait. Tindakan-tindakan ini berasal dari pemikiran menyimpang mereka yang memusuhi Ahlul Bait Rasulullah saw dan mencintai musuh-musuh Ahlul Bait, khususnya Yazid dan keluarganya.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa lagi yang dapat menjelaskan motivasi di balik serangan berturut-turut pasukan Wahabi yang dipimpin oleh Saud bin Abdul Aziz ke Karbala dan [[Najaf]] dari tahun 1216 hingga 1225 H, selain kebencian mereka terhadap Ahlul Bait? Pasukan Wahabi, yang terdiri dari penduduk Najd, suku-suku sekitar, serta penduduk Hijaz dan Tihamah, memasuki kota Karbala pada bulan Dzulqa&#039;dah tahun 1262 H. Mereka membunuh sebagian besar penduduk di jalan-jalan, pasar, dan rumah-rumah. Menjelang siang, mereka keluar dari kota dengan membawa harta rampasan yang melimpah. Mereka berkumpul di daerah yang disebut &amp;quot;Abiyadh&amp;quot; dan membagi harta rampasan tersebut, di mana [[khumus pada masa Nabi saw)|seperlima]] dari harta itu diambil oleh &amp;quot;Saud&amp;quot; sendiri, sedangkan sisanya dibagikan dengan memberikan satu bagian untuk setiap pejalan kaki dan dua bagian untuk setiap penunggang kuda.&amp;lt;ref&amp;gt;Shaleh Al-Utsaimin, Abdullah, &#039;&#039;Tarikh al-Mamlakah al-Saudiyah&#039;&#039;, Riyadh, Obikan, cetakan ke-15, 1430 H, jilid 1, halaman 73.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tindakan-tindakan ini tidak hanya menunjukkan kebencian mereka terhadap Ahlul Bait as, tetapi juga mengungkapkan kedalaman penyimpangan ideologi mereka yang bertentangan dengan ajaran Islam yang sejati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch =ادیان و مذاهب&lt;br /&gt;
 | subbranch1 = اسلام&lt;br /&gt;
 | subbranch2 =وهابیت&lt;br /&gt;
 | subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه =شد&lt;br /&gt;
 | تیترها =شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش =&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی =شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر =&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | ارزیابی کمی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت = الف&lt;br /&gt;
 | کیفیت =ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa:دشمنی وهابیت با اهل‌بیت]]&lt;br /&gt;
[[ar:عداء الوهابية لأهل البيت]]&lt;br /&gt;
[[en:The Hostility of Wahhabis Towards the Ahl al-Bayt (a)]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Pandangan_Wahabi_Tentang_Tawasul&amp;diff=938</id>
		<title>Pandangan Wahabi Tentang Tawasul</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Pandangan_Wahabi_Tentang_Tawasul&amp;diff=938"/>
		<updated>2025-02-21T18:39:20Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Bagaimana pandangan Wahabi mengenai tawasul (berperantara) kepada Al-Qur&#039;an dan Ahlul Bait, dan bagaimana pandangan mereka dapat dibantah?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
{{portal|سنت}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tawasul kepada [[para nabi]] dan Ahlul Bait as dalam mazhab [[Syiah]] dianggap sebagai tindakan yang sah dan efektif. Orang-orang beriman percaya bahwa Ahlul Bait as dapat menjadi perantara antara Allah dan hamba-hamba-Nya, memberikan syafaat di dunia dan akhirat, serta menjawab doa dan permintaan orang-orang beriman di saat-saat sulit. Tindakan ini dianggap sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan terkabulnya doa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa pada berbagai masa, orang-orang beriman telah melakukan tawasul kepada [[Ahlul Bait as]] dan meminta pertolongan dari mereka. Ziarah-ziarah terkenal seperti Ziarah Asyura dan Ziarah Jami&#039;ah Kabirah adalah contoh-contoh tawasul dalam doa dan ziarah, di mana syafaat dan pertolongan Ahlul Bait as disebutkan. Tindakan ini membantu memperkuat iman dan mendekatkan diri kepada Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu topik yang telah umum di kalangan semua Muslim sepanjang sejarah adalah masalah [[istighatsah]] (meminta pertolongan) dan meminta hajat dari para wali Allah, yang diterima oleh semua [[Muslim]] kecuali [[Wahabi]], yang menganggap tindakan ini sah dan diperbolehkan. Sebenarnya, manusia dengan melakukan istighatsah menjadikan keberadaan suci [[Nabi saw]] dan [[para imam maksum as]] sebagai perantara rahmat dan percaya bahwa segala urusan berada di bawah kekuasaan Allah Yang Maha Tinggi, dan seseorang menjadikan para imam maksum as sebagai perantara antara dirinya dan Allah Yang Maha Tinggi. Namun, para ulama Wahabi memiliki pandangan khusus dan tidak menganggap tindakan ini diperbolehkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahabi memiliki pandangan yang tidak konsisten mengenai [[tawasul]]. [[Muhammad bin Abdul Wahhab]] menganggapnya sebagai pelanggaran terhadap Islam secara mutlak dan menganggapnya sebagai bukti kekafiran. Namun, mereka mengizinkan tawasul kepada nama-nama dan sifat-sifat [[Allah]] serta [[Al-Qur&#039;an]]. Wahabi kontemporer memiliki pandangan yang lebih rinci mengenai tawasul. Muslim non-Wahabi memiliki pandangan yang bertentangan dengan Wahabi. Selain itu, terdapat dalil-dalil yang membolehkan tawasul baik dalam Al-Qur&#039;an maupun dalam hadis dan perkataan ulama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pendahuluan ==&lt;br /&gt;
=== Istilah-Istilah ===&lt;br /&gt;
==== 1. Tawasul ====&lt;br /&gt;
Secara bahasa, tawasul berasal dari kata &amp;quot;washl&amp;quot; yang berarti mendekat atau mencari kedekatan melalui suatu perbuatan.&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Kitab Al-Ain|year=1409|last=Khalil bin Ahmad|first=Farahidi|publisher=Muassasah Dar Al-Hijrah|volume=1|page=871}}&amp;lt;/ref&amp;gt; Al-Fayumi menjelaskan maknanya: {{arabic|توسل الی ربه بوسیله تقرب الیه بعمل}}  yang berarti mendekat kepada Allah melalui suatu perbuatan.&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Al-Mishbah Al-Munir|year=1428|last=Ahmad bin Muhammad|first=Abul Abbas Al-Fayumi|publisher=Al-Maktabah Al-Asriyah|volume=2|page=660}}&amp;lt;/ref&amp;gt; Penulis [[Lisan Al-Arab]] juga setuju dengan makna ini.&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Lisan Al-Arab|year=1408|last= Muhammad bin Mukarram|first=Ibnu Manzur|publisher=Dar Ihya&#039; At-Turath Al-Arabi|volume=11|page=724}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara istilah, tawasul berarti mencari kedekatan dan mendekatkan diri, karena umumnya tawasul dimaknai sebagai seseorang yang menjadikan sesuatu atau seseorang sebagai perantara di hadapan Allah agar doanya diterima dan dia mencapai tujuannya. Oleh karena itu, dikatakan bahwa secara istilah, {{Arabic|فالتوسل هو التوصل الی المراد و السعی فی تحقیقه}}&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Ushul Al-Iman fi Dhau&#039; Al-Kitab wa As-Sunnah|year=1421|last=Nukhbat min Al-Ulama|publisher=Kementerian Urusan Islam, Wakaf, Dakwah, dan Bimbingan|volume=1|page=57}}&amp;lt;/ref&amp;gt;, dan penulis kitab [[Al-Ziyarah wa At-Tawasul|Al-Ziyarah wa At-Tawasul]] mendefinisikannya sebagai: seorang hamba mendekat kepada Allah melalui sesuatu yang menjadi perantara baginya untuk terkabulnya doa dan tercapainya keinginan.&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Al-Ziyarah wa At-Tawasul|year=1421|last=Abdul Hamid|first=Sa&#039;ib|publisher=Markaz Ar-Risalah|page=6|location=Qom}}&amp;lt;/ref&amp;gt; Namun, ini tidak berarti meminta sesuatu secara independen dari Nabi atau Imam, melainkan meminta kepada Allah melalui [[amal saleh]], mengikuti Nabi dan Imam, atau memohon syafaat mereka, atau bersumpah kepada Allah dengan kedudukan dan ajaran mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Tafsir Nemuneh|year=1374|last=Naser|first=Makarem Shirazi|publisher=Dar Al-Kutub Al-Islamiyah|volume=4|page=365|location=Tehran}}&amp;lt;/ref&amp;gt; Oleh karena itu, terdapat kesesuaian antara makna bahasa dan istilah tawasul, di mana kedekatan dan pencapaian tujuan dipertimbangkan dalam keduanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Istighatsah&lt;br /&gt;
[[Istighatsah]] memiliki kedekatan makna dengan tawasul dan berasal dari kata &amp;quot;ghauts&amp;quot; yang berarti pertolongan.&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits wa Al-Athar|year=1979|last=Mubarak bin Muhammad|first=Ibn Al-Athir Al-Jazari|publisher=Al-Maktabah Al-Ilmiyah|volume=3|page=393|location=Beirut}}&amp;lt;/ref&amp;gt; Ketika makna permintaan (istif&#039;al) digunakan, maka maknanya menjadi meminta pertolongan, dan dengan demikian memiliki makna yang sama dengan tawasul, sebagaimana dalam hadis Nabi, istighatsah digunakan sebagai pengganti tawasul: {{Arabic|ان الشمس تدعوا یوم القیامة حتی یبلغ العرق نصف الاذن فبینما هم کذلک استغاثوا بآدم ثم موسی ثم بمحمد صلی الله علیه و السلم|translation=Pada hari kiamat, matahari akan mendekat sehingga keringat mencapai tengah telinga, dan ketika orang-orang dalam keadaan seperti itu, mereka meminta pertolongan kepada Nabi Adam, kemudian Nabi Musa, dan kemudian Nabi Muhammad saw.}}&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Al-Jami&#039; As-Sahih|year=1407|last= Muhammad bin Ismail|first=Al-Bukhari|publisher=Dar Al-Kathir|volume=5|page=474|location=Beirut}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Syafaat&lt;br /&gt;
[[Syafaat]] berasal dari kata &amp;quot;shaf&#039;a&amp;quot;, yang berarti menggabungkan dua atau lebih hal; oleh karena itu, makna syafaat adalah meminta pertolongan dari para wali dan nabi pada hari kiamat untuk diselamatkan dari [[neraka]], yang tentu saja ini adalah bentuk tawasul. [[Al-Samhudi]] menulis: {{Arabic|التوسل به صلی الله تعالی علی و سلم فی عرصات القیامة فیشفع الی ربه تعالی|translation=Tawasul kepada Rasulullah saw juga ada di padang mahsyar, di mana beliau akan memberikan syafaat kepada Allah Yang Maha Tinggi.}}&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Wafa&#039; Al-Wafa bi Akhbar Dar Al-Mustafa|year=1419|last=Ali bin Abdullah|first=As-Samhudi|publisher=Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah|volume=1|page=196|location=Beirut}}&amp;lt;/ref&amp;gt; Namun, kata syafaat dengan makna ini terkadang juga digunakan dalam arti tawasul secara umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tawasul dalam Mazhab Wahabi==&lt;br /&gt;
===Pandangan Wahabi===&lt;br /&gt;
Beberapa Wahabi membagi tawasul menjadi yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan. Salah satu bentuk tawasul yang diperbolehkan adalah tawasul kepada [[nama-nama]] dan [[sifat-sifat Allah]]; yaitu, menurut Wahabi, tawasul kepada Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya adalah diperbolehkan, sebagaimana firman Allah dalam ayat: {{Quran|وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَی فَادْعُوهُ بِهَا|Surah=Al-A&#039;raf|Ayat=180}}.&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Manhaj Asy-Syaikh Abdul Razzaq Afifi wa Juhuduhu fi Taqrir Al-Aqidah wa Ar-Radd &#039;ala Al-Mukhalifin|year=1431|last=Ahmad bin Ali|first=Az-Zamili Al-Asiri|publisher=Universitas Imam Muhammad bin Saud Al-Islamiyah|page=276|location=Riyadh|editor=Abdurrahman bin Abdullah bin Abdul Muhsin At-Turki}}&amp;lt;/ref&amp;gt; Dan berdasarkan beberapa ayat Al-Qur&#039;an seperti: &amp;quot;Dan sesungguhnya masjid-masjid itu milik Allah, maka janganlah kamu menyembah selain Allah seorang pun&amp;quot;, &amp;quot;Katakanlah: Hanya milik Allah segala syafaat&amp;quot;, dan &amp;quot;Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan mudarat dan tidak pula manfaat kepada mereka, dan mereka berkata: &#039;Mereka adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah.&#039; Katakanlah: &#039;Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan di bumi?&#039; Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan&amp;quot;, maka segala bentuk perantara antara Allah dan manusia dianggap sebagai syirik.&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Majmu&#039;ah Al-Mu&#039;allafat|last= Muhammad bin Abdul Wahhab|page=385}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Majmu&#039;ah Al-Mu&#039;allafat|last= Muhammad bin Abdul Wahhab|page=9|volume=6}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Majmu&#039;ah Al-Mu&#039;allafat|last= Muhammad bin Abdul Wahhab|page=68|volume=6}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Majmu&#039;ah Al-Mu&#039;allafat|last= Muhammad bin Abdul Wahhab|page=213|volume=6}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, Wahabi mengizinkan tawasul kepada [[Al-Qur&#039;an]] karena Al-Qur&#039;an dianggap sebagai salah satu sifat Allah. Mereka mengatakan bahwa tawasul kepada Al-Qur&#039;an diperbolehkan karena Al-Qur&#039;an, baik dari segi lafal maupun makna, adalah kalam Allah, dan [[kalam Allah]] adalah salah satu sifat Allah. Jadi, tawasul kepada Al-Qur&#039;an adalah tawasul kepada salah satu sifat Allah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Hal ini tidak bertentangan dengan tauhid dan tidak mengarah pada syirik.&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Lajnah Ad-Da&#039;imah lil Buhuts Al-Ilmiyah wal Ifta&#039;, Fatawa Al-Lajnah Ad-Da&#039;imah, Al-Majmu&#039;ah Al-Ula, Arab Saudi, Riyadh, Ri&#039;asah Idarat Al-Buhuts Al-Ilmiyah wal Ifta&#039; - Al-Idarah Al-&#039;Ammah lith-Thiba&#039;, pengumpulan dan penyusunan: Ahmad bin Abdul Razzaq Ad-Duwaisy, jilid 1, halaman 519.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, mereka tidak mengizinkan tawasul kepada [[para wali]], [[para nabi]], dan [[Ahlul Bait]] Rasulullah. [[Muhammad bin Abdul Wahhab]] berkata: &amp;quot;Jika seseorang berkata, &#039;Ya Allah, aku bertawasul kepada-Mu melalui Nabi-Mu saw agar Engkau melimpahkan rahmat-Mu kepadaku,&#039; maka orang tersebut telah melakukan syirik dan keyakinannya adalah keyakinan orang-orang musyrik.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammad bin Abdul Wahhab, Tathir Al-I&#039;tiqad, tanpa penerbit, tanpa tahun, halaman 36; Rasa&#039;il &#039;Amaliyah, tanpa penerbit, tanpa tahun, halaman 145.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Tathir Al-I&#039;tiqad|last= Muhammad bin Abdul Wahhab|page=36}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pandangan Wahabi Kontemporer====&lt;br /&gt;
Wahabi kontemporer dalam masalah ini terbagi dan membagi tawasul kepada para wali Allah menjadi beberapa jenis:&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Manhaj Al-Syaikh Abdul Razzaq Afifi wa Juhuduhu fi Taqrir Al-Aqidah wa Ar-Radd &#039;ala Al-Mukhalifin|last=Ahmad bin Ali Az-Zamili|first=Al-Asiri|pages=274–277}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Jenis Pertama: Seseorang meminta kepada wali Allah yang masih hidup untuk memohon kepada Allah agar diberikan rezeki yang luas, kesembuhan bagi orang sakit, dan sebagainya. Menurut mereka, jenis tawasul ini diperbolehkan.&lt;br /&gt;
   &lt;br /&gt;
2. Jenis Kedua: Seseorang memanggil Allah dan bertawasul dengan cinta dan kasih sayang antara dirinya dengan Nabi atau antara dirinya dengan para wali Allah. Jenis tawasul ini juga diperbolehkan. Misalnya, seseorang berkata: {{Arabic|اللهم إنی أسألك بحبی لنبیك واتباعی له وبحبی لأولیائك أن تعطینی كذا}} (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan cintaku kepada Nabi-Mu dan dengan mengikutinya, serta dengan cintaku kepada para wali-Mu, agar Engkau memberiku ini dan itu).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Jenis Ketiga: Tawasul kepada kedudukan dan martabat Nabi atau para wali Allah. Misalnya, seseorang berkata: {{Arabic|اللهم إنی أسألك بجاه نبیك أو بجاه الحسین}} (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan kedudukan Nabi-Mu atau dengan kedudukan Husain). Jenis tawasul ini tidak diperbolehkan karena dilakukan setelah wafatnya para nabi dan wali, meskipun kedudukan mereka agung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Jenis Keempat: Tawasul kepada para wali Allah secara langsung dan meminta hajat kepada Allah melalui mereka. Misalnya, seseorang berkata: {{Arabic|اللهم إنی أسألک کذا بولیک فلان أو بحق نبیک فلان}} (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ini dan itu melalui wali-Mu si fulan atau dengan hak Nabi-Mu si fulan). Jenis tawasul ini juga tidak diperbolehkan. Wahabi berpendapat bahwa tidak ada makhluk yang memiliki hak atas Allah sehingga Allah dapat diminta untuk memenuhi hajat melalui mereka. Menurut Wahabi, jenis tawasul ini termasuk dalam bentuk syirik yang jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pandangan Muhammad bin Abdul Wahhab====&lt;br /&gt;
[[Muhammad bin Abdul Wahhab]] menganggap tawasul sebagai salah satu hal yang membatalkan Islam. Dia berkata bahwa jika seseorang menjadikan perantara antara dirinya dan Allah dan meminta syafaat dari mereka, hal itu dapat menyebabkan kekafiran.&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title= Majmu&#039;ah Rasa&#039;il fi At-Tauhid wa Al-Iman|last= Muhammad bin Abdul Wahhab|first=Sulaiman At-Tamimi An-Najdi|publisher=Universitas Imam Muhammad bin Saud|page=385|location=Riyadh|editor=Ismail bin Muhammad Al-Ansari}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bantahan terhadap Pandangan Wahabi oleh Ahlusunah==&lt;br /&gt;
Bantahan pertama terhadap Muhammad bin Abdul Wahhab datang dari saudaranya sendiri, [[Sulaiman bin Abdul Wahhab]], dalam bukunya [[Al-Shawa&#039;iq Al-Ilahiyyah fi Ar-Radd &#039;ala Al-Wahabiyyah]]. Penyimpangan Wahabi dalam masalah tawasul selalu dikritik oleh Ahlusunah. Seperti yang dikatakan oleh As-Salami: {{Arabic|القول بجواز التوسل و استجابه هو قول جمهور علماء اهل السنه و الجماعه، بل هو قول المسلمین بجمیع فرقهم و مذاهبهم الا المذهب الذی ینتسب الیه مدعو السلفیه}} (Pendapat yang membolehkan tawasul dan meminta pertolongan adalah pendapat mayoritas ulama Ahlusunah, bahkan ini adalah pendapat semua Muslim dari berbagai mazhab kecuali mazhab yang diikuti oleh mereka yang mengklaim sebagai Salafi).&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Haqiqah Al-Hiwar ma&#039;a Al-Syaikh Al-Ja&#039;fari|year=1415|last=Abdurrahman|first=As-Salami|publisher=Ad-Dakwah wa Al-Irsyad|page=85|location=Arab Saudi}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Al-Saqqaf Al-Qurashi]] berkata: &amp;quot;Meminta pertolongan dan syafaat melalui Nabi saw kepada Allah tidak pernah diingkari oleh ulama terdahulu maupun sekarang, sampai datangnya Ibnu Taimiyah yang mengingkarinya dan menyimpang dari jalan yang lurus. Dia mengada-adakan sesuatu yang tidak pernah dikatakan oleh seorang ulama pun sebelumnya. Jika perkataan Ibnu Taimiyah benar, mengapa Nabi saw mengajarkan seorang laki-laki untuk bertawasul melalui beliau kepada Allah: {{Arabic|اللهم إنی أتوجه الیک بنبیک محمد نبی الرحمة}} (Ya Allah, aku menghadap kepada-Mu melalui Nabi-Mu Muhammad, Nabi pembawa rahmat)? Apakah dengan tawasul ini menjadi syirik kepada Allah? Dan apakah Nabi saw mengajarkan sesuatu yang mengarahkan manusia kepada syirik? Maha Suci Allah, ini adalah tuduhan besar.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Sahih Syarh Al-Aqidah Al-Thahawiyyah min Fikr Al-Bait|year=1991|last=Hasan bin Ali|first=As-Saqqaf Al-Qurashi|page=36}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tawasul Imam Syafi&#039;i kepada Ahlul Bait Nabi saw==&lt;br /&gt;
[[Ibnu Hajar Al-Makki]] dalam [[Al-Shawa&#039;iq Al-Muhriqah]] meriwayatkan dari [[Imam Syafi&#039;i]], pemimpin terkenal [[Ahlusunah]], bahwa Imam Syafi&#039;i bertawasul kepada [[Ahlul Bait]] Nabi saw dan mengutip syair terkenal darinya:&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Syawahid Al-Haq fi Al-Istifathah bi Sayyid Al-Khalq|last=Yusuf bin Ismail|first=An-Nabhani|page=167|editor=Offset/Hussein Hilmi bin Said Istanbul}}&amp;lt;/ref&amp;gt;{{Poem|آل النبی ذریعتی|و هم الیه وسیلتی|Keluarga Nabi adalah perantara saya|Mereka adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya}}{{Poem|ارجوا بهم أعطی غداً|بید الیمین صحیفتی|Saya berharap melalui mereka, besok|Buku catatan amal saya akan diberikan di tangan kanan saya}}Dari riwayat-riwayat ini, jelas bahwa tawasul kepada Nabi saw untuk memenuhi kebutuhan dan hajat adalah diperbolehkan. Bahkan, Nabi saw memerintahkan seorang laki-laki buta untuk bertawasul melalui beliau kepada Allah untuk memenuhi kebutuhannya. Inilah filosofi sebenarnya dari tawasul, di mana orang-orang yang membutuhkan dan berdosa menggunakan para wali Allah sebagai perantara untuk mencapai keinginan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tawasul dalam Mazhab Syiah==&lt;br /&gt;
===Pandangan Mazhab Syiah===&lt;br /&gt;
[[Tawasul]] secara bahasa berarti memilih perantara, dan perantara berarti sesuatu yang mendekatkan seseorang kepada yang lain. [[Lisan Al-Arab]] mengatakan: &amp;quot;Tawasul kepada Allah dan memilih perantara adalah melakukan suatu tindakan yang mendekatkan seseorang kepada Allah, dan perantara berarti sesuatu yang digunakan seseorang untuk mendekatkan diri kepada sesuatu yang lain.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Lisan Al-Arab|last= Muhammad bin Mukarram|first=Ibnu Manzur|publisher=Nasyr Adab Al-Hawzah|volume=8|page=69}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesalahan besar [[Wahabi]] adalah mereka menganggap para wali Allah sebagai penolak bahaya dan sumber independen pemenuhan kebutuhan serta penghilang kesulitan. Padahal, makna tawasul bukanlah demikian. Ketika kita bertawasul kepada Nabi saw, kita tidak menganggap beliau sebagai sumber independen dalam memberikan pengaruh atau menghilangkan bahaya, sehingga kita menyembahnya. Tawasul yang diajarkan Al-Qur&#039;an adalah mendekatkan diri kepada Allah melalui beliau, yaitu beliau memberikan syafaat di hadapan Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Syi&#039;ah Menjawab|last=Naser|first=Makarem Shirazi|page=233|location=Qom, Madrasah Imam Ali bin Abi Thalib as}}&amp;lt;/ref&amp;gt; Ini seperti seseorang yang ingin pergi ke rumah seorang tokoh besar yang tidak dikenalnya, lalu meminta seseorang yang mengenal tokoh tersebut untuk menemaninya dan memperkenalkannya, sehingga tokoh tersebut dapat membantunya. Tindakan ini bukanlah penyembahan atau pengakuan independen terhadap pengaruh seseorang. Oleh karena itu, klaim bahwa tawasul adalah syirik adalah klaim tanpa dasar.&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Syi&#039;ah Menjawab|last=Naser|first=Makarem Shirazi|location=Qom, Madrasah Imam Ali bin Abi Thalib as|page=234}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, pandangan Wahabi bertentangan dengan ajaran Al-Qur&#039;an, sehingga ulama [[Sunni]] dan [[Syiah]] menganggapnya sebagai bid&#039;ah Wahabi dan menolaknya. Wahabi menggunakan masalah ini untuk mengkafirkan Muslim dan memanfaatkannya untuk kepentingan mereka. Seorang ulama Ahlusunah, As-Subki, berkata bahwa tawasul, istighatsah, dan meminta syafaat melalui Nabi saw kepada Allah adalah tindakan yang terpuji, dan tidak ada seorang pun dari ulama terdahulu maupun sekarang yang mengingkarinya, sampai datangnya Ibnu Taimiyah yang mengingkarinya dan menyimpang dari jalan yang lurus. Dia mengada-adakan sesuatu yang tidak pernah dikatakan oleh seorang ulama pun sebelumnya, dan dengan bid&#039;ah ini, dia menciptakan perpecahan di antara umat Islam.&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Faidh Al-Qadir Syarh Jami&#039; Al-Shaghir|year=1356|last=Abdurrauf|first=Al-Munawi|publisher=Al-Maktabah Al-Tijariyah Al-Kubra|volume=2|page=135|location=Mesir}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Tawasul dalam Al-Qur&#039;an===&lt;br /&gt;
Pandangan Wahabi ini jelas bertentangan dengan beberapa ayat [[Al-Qur&#039;an]]. Dalam Al-Qur&#039;an, terdapat banyak ayat yang menunjukkan kebolehan tawasul untuk memenuhi kebutuhan, pengampunan dosa, dan mendekatkan diri kepada Allah. Salah satunya adalah ayat berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah berfirman kepada orang-orang beriman: {{Quran|یا أَیهَا الَّذینَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَ ابْتَغُوا إِلَیهِ الْوَسیلَه وَ جاهِدُوا فی سَبیلِهِ لَعَلَّکُمْ تُفْلِحُونَ|translation=Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (perantara) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya agar kamu beruntung.|Surah=Al-Maidah|Ayat=35}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penulis tafsir Al-Maraghi, seorang ulama Ahlusunah, mengatakan bahwa yang dimaksud dengan wasilah dalam ayat ini adalah sesuatu yang digunakan untuk mendapatkan keridhaan Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Kemudian dia mengutip hadis dari [[Shahih Al-Bukhari]] dan kitab-kitab sunan lainnya di mana Rasulullah saw dijadikan sebagai wasilah. Dalam hadis ini, Nabi saw bersabda: {{Arabic|من قال حین یسمع النداء (الاذان) اللهم رب هذاه الدعوه التامه و الصلاة القائمة آت محمدا الوسیلة والفضیلة و ابعثه المقام المحمود الذی وعدته، حلت له شفاعتی یوم القیامه|translation=Barangsiapa yang ketika mendengar azan berkata: &amp;quot;Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini dan shalat yang didirikan, berikanlah kepada Muhammad wasilah dan keutamaan, dan bangkitkanlah dia di tempat terpuji yang Engkau janjikan,&amp;quot; maka syafaatku akan halal baginya pada hari kiamat.}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadis ini dengan jelas menunjukkan bahwa Nabi saw sendiri adalah wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan karena itu, beliau memiliki kedudukan terpuji di sisi Allah sehingga pada hari kiamat beliau dapat memberikan syafaat kepada orang-orang beriman. Oleh karena itu, tawasul sama sekali tidak menyebabkan syirik atau kekafiran. Jika demikian, menjadikan Nabi saw sebagai wasilah akan menyebabkan kekafiran dan syirik.&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Tafsir Al-Maraghi|last=Ahmad bin Mustafa|first=Al-Maraghi|volume=6|page=109}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Tawasul dalam Hadis===&lt;br /&gt;
Dalam sumber-sumber [[Syiah]], masalah tawasul sangat jelas sehingga tidak perlu mengutip hadis. Namun, sebagai contoh, kami akan menyebutkan beberapa riwayat yang terdapat dalam kitab-kitab terkenal [[Ahlusunah]]:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Tawasul kepada Nabi untuk Mengatasi Kelaparan&lt;br /&gt;
Selain tidak ada syirik atau kekafiran dalam tawasul, tawasul kepada Nabi saw setelah wafatnya adalah bukti jelas kebolehan tawasul jenis ini. Diriwayatkan bahwa terjadi kelaparan hebat di Madinah. Sekelompok orang mendatangi Aisyah dan meminta solusi. [[Aisyah]] berkata: &amp;quot;Pergilah ke samping makam Nabi saw, buatlah lubang di atap di atas makam sehingga langit terlihat dari sana, dan tunggulah hasilnya.&amp;quot; Mereka pergi dan melubangi atap itu sehingga langit terlihat, dan hujan pun turun dengan deras, sehingga setelah beberapa waktu, padang pasir menjadi hijau dan unta-unta menjadi gemuk.&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Darimi Abdullah bin Bahram, Sunan Al-Darimi, jilid 1, halaman 44, Mathba&#039;ah Al-I&#039;tidal, Damaskus, 1349 H.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Tawasul Seorang Pria Buta kepada Nabi&lt;br /&gt;
[[Ahmad bin Hanbal]] dalam Musnad-nya meriwayatkan dari [[Utsman bin Hunaif]]:&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Al-Musnad|last=Ahmad bin Hanbal|first=Ibnu Hanbal|volume=28|page=478|chapter=Kisah 17240}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Sunan An-Nasa&#039;i Al-Kubra|last=Ahmad bin Syu&#039;aib|first=An-Nasa&#039;i|volume=9|page=244|chapter=Kisah 10419}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Sunan Ibnu Majah|last= Muhammad bin Yazid|first=Ibnu Majah Al-Qazwini|page=441|chapter=Kitab Ash-Shalah, Bab 189, Hadis 1385}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=As-Sunan At-Tirmidzi|last=Abu Isa|first=At-Tirmidzi|volume=5|page=569|chapter=Kitab Ad-Da&#039;awat, Bab 119, Hadis 3578}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Seorang pria buta mendatangi Nabi saw dan berkata: &#039;Mohon doakan agar Allah menyembuhkanku.&#039; Nabi saw berkata: &#039;Jika kamu ingin, aku akan mendoakanmu, atau jika kamu mau, aku akan menundanya, dan itu lebih baik.&#039; Pria buta itu berkata: &#039;Doakanlah.&#039; Nabi saw memerintahkannya untuk berwudhu dengan baik, shalat dua rakaat, dan berdoa: &#039;Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu melalui Nabi-Mu, Nabi pembawa rahmat. Wahai Muhammad, aku menghadap kepada Tuhanku melalui dirimu agar Dia memenuhi kebutuhanku. Ya Allah, jadikanlah dia pemberi syafaat bagiku.&#039;&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Tawasul Umar bin Khattab&lt;br /&gt;
[[Anas]] berkata:&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Shahih Al-Bukhari|last= Muhammad bin Ismail|first=Al-Bukhari|volume=2|page=27|chapter=Kitab Al-Istisqa&#039;, Bab 3, Hadis 1010}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{Arabic|ان عمر بن الخطاب کان اذا قحطوا استسقی بالعباس بن عبدالمطلب، فقال: اللهم انا کنا نتوسل الیک بنبینا فتسقینا، و انا نتوسل الیک بعم نبینا فاسقنا، قال: فیسقون|translation=Ketika terjadi kekeringan, Umar bin Khattab meminta hujan melalui Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi saw, dan berkata: &#039;Ya Allah, dahulu kami bertawasul kepada-Mu melalui Nabi kami, dan Engkau menurunkan hujan kepada kami. Sekarang kami bertawasul kepada-Mu melalui paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan kepada kami.&#039; Lalu hujan pun turun.&amp;quot;}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Doa Nabi untuk Fatimah binti Asad&lt;br /&gt;
Dalam riwayat lain, kita membaca:&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Hilyatul Awliya wa Thabaqatul Asfiya|last=Ahmad bin Abdullah|first=Al-Isfahani|volume=3|page=121}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Mu&#039;jam Al-Kabir|last=Sulaiman bin Ahmad|first=At-Thabrani|volume=24|page=351|chapter=Bab Al-Fa&#039;}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Majma&#039; Az-Zawa&#039;id wa Manba&#039; Al-Fawa&#039;id|year=1408|last=Ali bin Abi Bakr|first=Al-Haitsami|publisher=Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah|page=257|location=Beirut}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ketika Fatimah binti Asad meninggal, Rasulullah saw setelah mengetahui kematiannya, duduk di samping jenazahnya dan berkata: &#039;Wahai ibuku setelah ibuku, semoga Allah merahmatimu.&#039; Kemudian beliau memanggil [[Usamah]], [[Abu Ayyub]], [[Umar bin Khattab]], dan seorang budak hitam untuk menyiapkan kuburan. Setelah kuburan siap, Nabi saw membuat liang lahad dan mengeluarkan tanahnya dengan tangannya sendiri. Kemudian beliau berbaring miring di dalam kuburan dan berdoa: &#039;Ya Allah, Yang Menghidupkan dan Mematikan, dan Engkau hidup dan tidak mati, ampunilah ibuku Fatimah binti Asad dan luaskanlah tempatnya, demi hak Nabi-Mu dan para nabi sebelumku.&#039;&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Tobat Nabi Adam&lt;br /&gt;
Sebagian mufasir, ahli hadis, dan sejarawan Ahlusunah meriwayatkan dengan sanad dari Umar bin Khattab bahwa Nabi saw bersabda:&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Kanzul Ummal|last=Ali bin Husam|first=Al-Muttaqi Al-Hindi|volume=11|page=455|chapter=Kisah 32138}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Majma&#039; Az-Zawa&#039;id wa Manba&#039; Al-Fawa&#039;id|last=Ali bin Abi Bakr|first=Al-Haitsami|publisher=Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah|volume=8|page=253|location=Beirut}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;ref&amp;gt;{{Cite book|title=Mu&#039;jam Al-Awsath|last=Sulaiman bin Ahmad|first=At-Thabrani|volume=6|page=313|chapter=Kisah 6502}}&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ketika [[Adam dan Hawa dalam hadis 308 Raudhah Kafi|Adam]] melakukan [[dosa]], dia menengadah ke langit dan berkata: &#039;Ya Allah, aku memohon kepada-Mu demi hak Muhammad, ampunilah aku.&#039; Allah mewahyukan kepadanya: &#039;Siapakah Muhammad?&#039; Adam menjawab: &#039;Ketika Engkau menciptakanku, aku menengadah ke Arsy dan melihat tulisan yang tertulis: (Tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah). Aku berkata dalam hati: Muhammad adalah makhluk teragung yang Allah sebutkan namanya bersama-Nya.&#039; Kemudian Allah mewahyukan kepadanya: &#039;Dia adalah nabi terakhir dari keturunanmu, dan jika bukan karena dia, Aku tidak akan menciptakanmu.&#039;&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari riwayat-riwayat ini, jelas bahwa tawasul kepada Nabi saw dan para wali Allah adalah praktik yang diterima dalam Islam, baik oleh Ahlusunah maupun Syiah. Wahabi, dengan pandangan ekstrem mereka, menolak praktik ini dan menganggapnya sebagai syirik, meskipun terdapat banyak dalil dari Al-Qur&#039;an, hadis, dan praktik ulama terdahulu yang mendukung kebolehan tawasul. Oleh karena itu, pandangan Wahabi dalam hal ini dianggap menyimpang dan bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch = ادیان و مذاهب&lt;br /&gt;
 | subbranch1 =اسلام&lt;br /&gt;
 | subbranch2 =وهابیت&lt;br /&gt;
 | subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{ارزیابی&lt;br /&gt;
 | شناسه = شد&lt;br /&gt;
 | عکس = شد&lt;br /&gt;
 | درگاه = شد&lt;br /&gt;
 | ادبیات = شد&lt;br /&gt;
 | پیوند = شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری = &amp;lt;!--خالی | شد--&amp;gt;&lt;br /&gt;
 | تغییرمسیر = &amp;lt;!--خالی | شد--&amp;gt;&lt;br /&gt;
 | ارجاعات = شد&lt;br /&gt;
 | ارزیابی کمی = شد&lt;br /&gt;
 | ارزیابی کیفی = &amp;lt;!--خالی | شد--&amp;gt;&lt;br /&gt;
 | اولویت = ب&lt;br /&gt;
 | کیفیت = خوب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa:توسل از نظر وهابیت]]&lt;br /&gt;
[[ar:التوسل من وجهة نظر الوهابية]]&lt;br /&gt;
[[en:Tawassul from the Perspective of Wahhabism]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Mengandalkan_Makna_Lahiriah_Al-Qur%27an&amp;diff=937</id>
		<title>Mengandalkan Makna Lahiriah Al-Qur&#039;an</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Mengandalkan_Makna_Lahiriah_Al-Qur%27an&amp;diff=937"/>
		<updated>2025-02-21T14:11:53Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{نیازمند گسترش}}&lt;br /&gt;
{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Apakah bisa hanya mengandalkan makna lahiriah Al-Qur&#039;an?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
Berpegang pada makna lahiriah [[Al-Qur&#039;an]] memerlukan beberapa syarat, seperti pemahaman bahasa Arab, memperhatikan konteks, dan mengenali ayat-ayat yang muhkam (jelas) dan mutasyabih (samar). Secara umum, ayat-ayat Al-Qur&#039;an terbagi menjadi dua kategori: &#039;&#039;muhkam&#039;&#039; (ayat-ayat yang jelas dan tidak memerlukan takwil) dan &#039;&#039;mutasyabih&#039;&#039; (ayat-ayat yang memerlukan penafsiran berdasarkan ayat-ayat muhkam). Oleh karena itu, jika yang dimaksud dengan &amp;quot;lahiriah&amp;quot; adalah makna literal yang berlawanan dengan &amp;quot;batin,&amp;quot; maka makna lahiriah Al-Qur&#039;an dapat dijadikan hujjah (argumen). Namun, jika yang dimaksud adalah memahami ayat tanpa memperhatikan konteks dan pemahaman yang mendalam, maka tidak mungkin hanya mengandalkan makna lahiriah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Berpegang pada Makna lahiriah dalam Ayat-Ayat ==&lt;br /&gt;
Ayat-ayat Al-Qur&#039;an secara umum terbagi menjadi dua kategori:&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;Muhkamat&#039;&#039;: Ayat-ayat yang tidak memerlukan takwil;&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;Mutasyabihat&#039;&#039;: Ayat-ayat yang memerlukan takwil, yaitu harus ditafsirkan berdasarkan ayat-ayat muhkam yang berfungsi sebagai &amp;quot;Ummul Kitab&amp;quot; (induk Al-Qur&#039;an).&amp;lt;ref&amp;gt;Diambil dari QS. Ali Imran: 7.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika yang dimaksud dengan &amp;quot;lahiriah&amp;quot; adalah makna literal yang berlawanan dengan &amp;quot;batin,&amp;quot; maka kita bisa mengandalkan makna lahiriah, karena makna lahiriah Al-Qur&#039;an adalah hujjah. Hal ini karena memahami makna batin Al-Qur&#039;an hanya mungkin bagi orang-orang yang ma&#039;shum (terjaga dari kesalahan).&amp;lt;ref&amp;gt;QS. Al-Waqi&#039;ah: 79.&amp;lt;/ref&amp;gt; Bahwa Al-Qur&#039;an memiliki makna batin dan lapisan-lapisan makna yang dalam telah disebutkan dalam banyak riwayat. [[Imam Ali as]] berkata: &amp;quot;Al-Qur&#039;an memiliki lahiriah yang indah dan batin yang dalam dan tersembunyi. Keajaibannya tidak akan pernah habis, dan rahasia-rahasianya tidak akan pernah berakhir.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Nahjul Balaghah, terjemahan Muhammad Dasyti, Khutbah 18, halaman 64.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Jabir bin Abdullah Al-Anshari pernah bertanya kepada [[Imam Baqir as]] tentang tafsir sebuah ayat. Imam memberikan jawaban, lalu Jabir bertanya lagi tentang ayat yang sama, dan Imam memberikan jawaban yang berbeda. Jabir berkata: &amp;quot;Anda sebelumnya memberikan jawaban yang berbeda.&amp;quot; Imam menjawab: &amp;quot;Wahai Jabir, Al-Qur&#039;an memiliki batin, dan batinnya juga memiliki batin. lahiriahnya pun memiliki tingkatan-tingkatan. Wahai Jabir, tidak ada sesuatu pun dari Al-Qur&#039;an yang bisa ditafsirkan hanya dengan akal manusia, karena bisa jadi awal ayat berkaitan dengan satu hal dan akhir ayat berkaitan dengan hal lain. Al-Qur&#039;an adalah kalam yang saling terhubung dan memiliki banyak wajah.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, Beirut, Dar Ihya at-Turath al-Arabi, jilid 89, halaman 91, 94, dan 95.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Syarat Mengandalkan Makna lahiriah Ayat ==&lt;br /&gt;
Jika yang dimaksud dengan mengandalkan makna lahiriah adalah memahami ayat tanpa memperhatikan konteks, maka tidak mungkin hanya mengandalkan makna lahiriah. Karena dalam memahami makna lahiriah ayat, selain menguasai kaidah bahasa Arab dan pemahaman mendalam tentang bahasa Al-Qur&#039;an, juga perlu memperhatikan konteks, termasuk ayat-ayat lain dan riwayat-riwayat. Bahkan dalam ayat-ayat yang memiliki makna lahiriah yang jelas dan termasuk dalam kategori muhkam, karena ayat-ayat Al-Qur&#039;an saling terkait, dan sebagian ayat menjadi konteks bagi ayat lainnya. Selain itu, riwayat-riwayat dari [[Rasulullah saw]] dan [[Ahlul Bait as]] sebagai penafsir dan penjelas Al-Qur&#039;an harus diperhatikan. Al-Qur&#039;an sendiri menegaskan: &amp;quot;Kami telah menurunkan Al-Qur&#039;an kepadamu (Muhammad) agar kamu menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, agar mereka berpikir.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;QS. An-Nahl: 44.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dalam ayat-ayat mutasyabihat, tidak mungkin hanya mengandalkan makna lahiriah. Sebagai contoh, dalam ayat {{Quran|وَجَاءَ رَبُّکَ وَالْمَلَکُ صَفًّا صَفًّا}}&amp;lt;ref&amp;gt;QS. Al-Fajr: 22.&amp;lt;/ref&amp;gt;, makna lahiriahnya adalah bahwa Allah datang dan para malaikat berbaris dalam shaf-shaf. Atau dalam ayat {{Quran|الرَّحْمَنُ عَلَی الْعَرْشِ اسْتَوَی}}&amp;lt;ref&amp;gt;QS. Thaha: 5.&amp;lt;/ref&amp;gt;, makna lahiriahnya adalah bahwa Allah bersemayam di atas &#039;Arsy.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat-ayat ini dan ayat-ayat mutasyabihat lainnya harus dipahami dalam konteks ayat-ayat muhkam seperti {{Quran|... لَیْسَ کَمِثْلِهِ شَیْءٌ وَهُوَ السَّمِیعُ الْبَصِیرُ}}&amp;lt;ref&amp;gt;QS. Asy-Syura: 11.&amp;lt;/ref&amp;gt;, yang menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan &amp;quot;datang&amp;quot; adalah perintah Allah swt, dan yang dimaksud dengan &amp;quot;bersemayam&amp;quot; adalah kekuasaan Allah. Jika hanya mengandalkan makna lahiriah, maka akan mengarah pada pemahaman yang keliru, seperti menganggap Allah memiliki bentuk fisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Wahabi]] dengan berpegang pada makna lahiriah ayat-ayat dan tanpa memperhatikan ayat-ayat muhkam serta prinsip-prinsip akal, mengatakan: &amp;quot;Allah memiliki arah dan tempat, dan bersemayam di atas &#039;Arsy yang berada di atas langit. Allah memiliki tangan dan mata dalam makna harfiah.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ad-Durr al-Kaminah, Beirut, halaman 145. Lihat juga Ahmad bin Zaini Dahlan, Mufti Mekah, Sejarah Wahabisme, terjemahan Ibrahim Wahid Damghani, Penerbit Gulistan Kausar, cetakan pertama, 1376, halaman 16.&amp;lt;/ref&amp;gt; Mereka juga mengatakan: &amp;quot;Allah turun ke bumi setiap malam dan kembali ke langit pada pagi hari.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Umar Abdul Salam, Mukhalifah al-Wahabiyyah lil Qur&#039;an wa al-Sunnah, Dar al-Hidayah, cetakan pertama, 1416, halaman 8.&amp;lt;/ref&amp;gt; Bahkan, Ibnu Taimiyah secara tegas mengatakan: &amp;quot;Dalam Al-Qur&#039;an, Sunnah, dan ijma&#039;, tidak ada pembicaraan tentang penafian jismaniyyah (bentuk fisik) atau penafian tasybih (penyerupaan).&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Taimiyah, Al-Fatawa al-Kubra, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, halaman 21-23.&amp;lt;/ref&amp;gt; Pernyataan serupa juga dikemukakan oleh [[Hanabilah]], [[Hasyawiyyah]], dan [[Ibadiyyah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Subhani, Ja&#039;far, Buhuts fi al-Milal wa an-Nihal, Qom, Komite Administrasi Hauzah Ilmiyah, cetakan kedua, 1415, jilid 2, halaman 247.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bacaan Lebih Lanjut==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Tafsir Nemuneh, Ayatullah Makarim Syirazi, jilid 1, halaman 20; jilid 18, halaman 261; dan jilid 26, halaman 11.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Tafsir Tematik Al-Qur&#039;an, Ayatullah Jawadi Amoli, jilid 1, halaman 14.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Metodologi Tafsir Al-Qur&#039;an, Ali Akbar Babaei, Mahmud Rajabi, halaman 290 dan 32.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Majalah Bayyinat, Muhammad Ali Mahdavi Rad, edisi 3, halaman 89.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch = علوم و معارف قرآن&lt;br /&gt;
| subbranch1 = نص قرآن&lt;br /&gt;
| subbranch2 = نص و ظاهر قرآن&lt;br /&gt;
| subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه = -&lt;br /&gt;
 | تیترها = شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش = شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی = شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر = شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی نویسنده = &lt;br /&gt;
 | ارزیابی کمی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت = ج&lt;br /&gt;
 | کیفیت = ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa:اکتفا به ظاهر قرآن]]&lt;br /&gt;
[[ar:الاكتفاء بظاهر القرآن]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Ushuluddin&amp;diff=936</id>
		<title>Ushuluddin</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Ushuluddin&amp;diff=936"/>
		<updated>2025-02-21T13:41:07Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Pranala Terkait */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Apa yang dimaksud dengan Ushuluddin dan sebutkan apa saja yang termasuk dalam Ushuluddin?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Ushuluddin&#039;&#039;&#039; atau prinsip-prinsip agama dalam Islam meliputi tentang [[tauhid]], [[kenabian]], dan [[hari kebangkitan]]. Ketiga prinsip ini dianggap sebagai dasar dan fondasi agama. Ulama Syiah menambahkan prinsip [[keadilan]] dan [[imamah]] ke dalam tiga prinsip ini, sehingga Ushuluddin dalam Syiah berjumlah lima. Ketidaktahuan dan ketidakpercayaan terhadap Ushuluddin ini dapat mengeluarkan seseorang dari Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istilah &amp;quot;Ushuluddin&amp;quot; tidak disebutkan dalam Al-Qur&#039;an atau hadis, dan istilah ini diciptakan oleh beberapa teolog. Tidak jelas kapan istilah ini mulai digunakan atau siapa yang pertama kali menggunakannya. Para pencetus istilah ini menyebut keyakinan-keyakinan ini sebagai Ushuluddin karena menurut mereka ilmu-ilmu keagamaan seperti hadis, fikih, dan tafsir didasarkan pada prinsip-prinsip ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sejarah Istilah ==&lt;br /&gt;
Istilah &amp;quot;Ushuluddin&amp;quot; sangat terkenal dan memainkan peran penting dalam sejarah pemikiran keagamaan Islam, namun dalam Al-Qur&#039;an dan hadis Syiah maupun Sunni, tidak ada pembagian pengetahuan agama menjadi prinsip dan cabang. Hal ini menunjukkan bahwa kedua istilah ini diciptakan oleh para teolog. Beberapa ulama Muslim seperti [[Ibnu Taimiyah]] (wafat 728 H), yang pada dasarnya menganggap ilmu kalam dan ilmu filsafat bertentangan dengan agama dan keimanan, dan memiliki pandangan yang sangat ekstrem dalam hal ini, berpendapat bahwa karena istilah &amp;quot;Ushuluddin&amp;quot; bukanlah istilah Qurani atau hadis, maka penggunaan istilah ini bertentangan dengan ajaran [[Nabi Muhammad (SAW)]].{{membutuhkan referensi|date=November 2024}} Bagaimanapun, tidak jelas kapan istilah ini mulai digunakan atau siapa yang pertama kali menggunakannya. Ibnu Nadim juga mengaitkan sebuah risalah berjudul &#039;&#039;Ushul al-Din&#039;&#039; kepada Abu Musa al-Murdar, yang menunjukkan bahwa istilah ini sudah dikenal dan mapan pada awal abad ke-3 Hijriyah.&amp;lt;ref&amp;gt;Gozashte, Naser, &amp;quot;Ushul al-Din&amp;quot;, Ensiklopedia Iran, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 4, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kedudukan ==&lt;br /&gt;
Prinsip-prinsip keyakinan Islam adalah iman dan keyakinan kepada tauhid, kenabian, dan hari kebangkitan. Ketiga prinsip ini dianggap sebagai fondasi agama Islam, di mana semua proposisi dalam agama ini mendapatkan maknanya dari salah satu atau ketiga prinsip ini. Oleh karena itu, semua orang yang memeluk agama Islam, meskipun memiliki perbedaan pendapat yang signifikan dan terkadang bertentangan mengenai detail dan interpretasi keyakinan ini, semuanya percaya pada prinsip-prinsip ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para teolog Syiah memiliki perbedaan pendapat mengenai berapa jumlah Ushuluddin dan apa saja yang termasuk di dalamnya. Pendapat yang umum adalah bahwa Ushuluddin mencakup tiga hal: tauhid, kenabian, dan hari kebangkitan; namun, keadilan dan imamah juga harus ditambahkan sebagai prinsip mazhab.&amp;lt;ref&amp;gt;Gozashte, Naser, &amp;quot;Ushul ad-Din&amp;quot;, Ensiklopedia Iran, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 4, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ketidaktahuan dan ketidakpercayaan terhadap Ushuluddin dapat mengeluarkan seseorang dari Islam, dan ketidaktahuan serta ketidakpercayaan terhadap prinsip-prinsip mazhab dapat mengeluarkannya dari mazhab Syiah.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok peneliti, &amp;quot;Ushul al-Din&amp;quot;, Ensiklopedia Teologi Islam, halaman 51.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak ulama Islam percaya bahwa dalam Ushuluddin, taklid (mengikuti tanpa pengetahuan) tidak diperbolehkan, dan keyakinan atau kepastian dalam Ushuluddin harus didasarkan pada bukti. Klaim ijma (konsensus) juga dibuat mengenai hal ini. Kelompok lain, termasuk Abu Hanifah, Sufyan ats-Tsauri, Al-Auza&#039;i, Malik, Asy-Syafi&#039;i, Ahmad bin Hanbal, dan Ahlul Hadis, berpendapat bahwa meskipun berargumen tentang prinsip-prinsip keyakinan adalah wajib dan meninggalkannya dianggap sebagai dosa, iman yang diperoleh melalui taklid dapat diterima.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok peneliti, &amp;quot;Ushul al-Din&amp;quot;, Ensiklopedia Teologi Islam, halaman 51.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut banyak ulama agama, keislaman seseorang tidak mungkin terjadi tanpa keyakinan pada Ushuluddin, dan penolakan terhadap salah satu prinsip ini dapat menyebabkan kekafiran dan layak mendapatkan azab. Para pencetus istilah ini menyebut keyakinan-keyakinan ini sebagai Ushuluddin karena menurut mereka ilmu-ilmu keagamaan seperti hadis, fikih, dan tafsir didasarkan pada prinsip-prinsip ini; dikatakan bahwa agama seperti pohon yang memiliki akar, dan Ushuluddin adalah akar agama yang keberadaannya menentukan kehidupan pohon tersebut.&amp;lt;ref&amp;gt;Gozashte, Nashir, &amp;quot;Ushul al-Din&amp;quot;, Ensiklopedia Iran, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 4, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Contoh Prinsip-Prinsip Agama ==&lt;br /&gt;
=== Tauhid ===&lt;br /&gt;
Tauhid adalah ajaran keyakinan paling mendasar dalam Islam yang memiliki berbagai aspek teoretis dan praktis. Menurut konsep tauhid, Allah adalah satu-satunya, memiliki semua sifat kesempurnaan, tidak ada yang menyerupai-Nya, bebas dari perubahan, Pencipta tunggal alam semesta, dan tidak memiliki sekutu; pengaturan alam semesta dilakukan sesuai dengan kehendak-Nya, dan pengetahuan serta kekuasaan-Nya meliputi seluruh alam semesta; semua makhluk harus menyembah-Nya, dan penyembahan ini tidak memerlukan perantara. Menurut Al-Qur&#039;an,{{membutuhkan referensi|date=November 2024}} keyakinan tauhid berakar pada fitrah manusia, dan setiap keyakinan atau perilaku non-tauhid adalah tanda penyimpangan dari dasar eksistensi ini dan disebabkan oleh faktor psikologis, lingkungan, geografis, sejarah, dan lainnya. Semua nabi adalah penyampai tauhid, dan upaya terbesar mereka adalah menghilangkan kemusyrikan dan praktik-praktik syirik.&amp;lt;ref&amp;gt;Taramirad, Hasan, dan lainnya, &amp;quot;Tauhid&amp;quot;, Ensiklopedia Dunia Islam, Yayasan Ensiklopedia Islam, 1393 H, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Kenabian ===&lt;br /&gt;
Keyakinan pada kenabian berarti bahwa Nabi Muhammad (SAW) adalah utusan dan pesuruh Allah, dan sebagai bagian dari rangkaian nabi, ia dipilih oleh Allah sebagai nabi terakhir. Al-Qur&#039;an adalah kumpulan firman Allah yang diwahyukan kepadanya.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Hari Kebangkitan ===&lt;br /&gt;
Hari kebangkitan berarti kebangkitan kembali.{{membutuhkan referensi|date=November 2024}} Yang dimaksud dengan hari kebangkitan dalam perkataan para teolog dan filsuf adalah kehidupan setelah kematian di mana manusia akan dibangkitkan kembali. Hari kebangkitan adalah hari di mana perbuatan manusia akan diadili, orang-orang baik akan menerima pahala atas kebaikan mereka, dan orang-orang jahat akan dihukum atas perbuatan buruk mereka. Salah satu masalah penting yang telah lama menjadi perhatian agama-agama, teolog, dan filsuf adalah masalah kehidupan setelah kematian dan hari kebangkitan. Pengikut agama-agama percaya pada kehidupan setelah kematian dan menganggapnya sebagai salah satu masalah agama yang paling mendasar.&amp;lt;ref&amp;gt;Sajjadi, Ja&#039;far, Kamus Pengetahuan Islam, jilid 3, halaman 1815.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Keadilan ===&lt;br /&gt;
Meskipun sifat &amp;quot;keadilan&amp;quot; juga merupakan salah satu sifat perbuatan Allah, pentingnya dan penekanan pada sifat ini muncul karena perdebatan sengit antara Asy&#039;ariyah dengan Syiah dan Mu&#039;tazilah mengenai hal ini, dan perdebatan ini menyebabkan Mu&#039;tazilah dan Syiah dikenal sebagai kelompok yang menekankan keadilan, dan secara bertahap prinsip keadilan bersama dengan imamah menjadi ciri khas mazhab Syiah. Mengingat konsep keadilan yang luas, yang mencakup keadilan keyakinan, moral, dan sosial, pantaslah prinsip keyakinan ini dianggap sebagai salah satu pilar Islam.&amp;lt;ref&amp;gt;&amp;quot;[http://www.makarem.ir/main.aspx?typeinfo=42&amp;amp;lid=0&amp;amp;mid=412783&amp;amp;catid=-2 Keadilan sebagai Prinsip Agama]&amp;quot;, Situs Informasi Kantor Ayatullah Makarim Syirazi, dipublikasikan: 10 Mehr 1397 H, diakses: 9 Aban 1402 H.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Imamah ===&lt;br /&gt;
Imamah adalah posisi ilahi, dan semua tugas para nabi—kecuali menerima wahyu dan hal-hal yang serupa—juga berlaku untuk para imam. Oleh karena itu, kemaksuman, yang merupakan syarat kenabian, juga berlaku untuk imam. Perbedaan ini membuat kita menganggap imamah sebagai bagian dari Ushuluddin.&amp;lt;ref&amp;gt;&amp;quot;[https://makarem.ir/main.aspx?lid=0&amp;amp;typeinfo=43&amp;amp;mid=393448 Definisi Imamah]&amp;quot;, Situs Informasi Kantor Ayatullah Makarim Syirazi, dipublikasikan: 29 Farvardin 1395 H, diakses: 9 Aban 1402 H.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imamah tanpa diragukan lagi menempati posisi dan peran sentral dalam pemikiran teologi Syiah Imamiyah. Keyakinan pada &amp;quot;nash&amp;quot; (penunjukan) dan &amp;quot;kemaksuman&amp;quot; di satu sisi, serta peran yang diberikan Syiah kepada posisi spiritual imam, yaitu otoritas keagamaan eksklusif para imam, dapat menunjukkan pentingnya posisi ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Anshari, Hasan, &amp;quot;Imamah&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan Lebih Lanjut ==&lt;br /&gt;
* Muhaqqiq Ardabili, &#039;&#039;&#039;Ushul al-Din&#039;&#039;&#039;, disunting oleh Mohsen Sadeghi, Qom, Bustan Kitab, 1387 H.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pranala Terkait ==&lt;br /&gt;
* [[Furu&#039;uddin]]&lt;br /&gt;
* [[Perbedaan Antara Ushuluddin Dan Furu’uddin]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch =کلام&lt;br /&gt;
|subbranch1 =&lt;br /&gt;
|subbranch2 =&lt;br /&gt;
|subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه =شد&lt;br /&gt;
 | تیترها =شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش =شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی =شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر =شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | ارزیابی کمی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت =ج&lt;br /&gt;
 | کیفیت =ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa:اصول دین]]&lt;br /&gt;
[[ar:أصول الدین]]&lt;br /&gt;
[[fr:Principes fondementaux de la religion]]&lt;br /&gt;
[[ru:Основы религии]]&lt;br /&gt;
[[en:Fundamental Principles of Religion]]&lt;br /&gt;
[[es:Principios de la religión]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Perbedaan_Antara_Ushuluddin_Dan_Furu%E2%80%99uddin&amp;diff=935</id>
		<title>Perbedaan Antara Ushuluddin Dan Furu’uddin</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Perbedaan_Antara_Ushuluddin_Dan_Furu%E2%80%99uddin&amp;diff=935"/>
		<updated>2025-02-21T13:40:28Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{question}}&lt;br /&gt;
Apa perbedaan antara Ushuluddin dan Furu’uddin?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Ushuluddin&#039;&#039;&#039; terdiri dari kepercayaan-kepercayaan, sedangkan Furu’uddin berkaitan dengan amal perbuatan dan perilaku. Ushuluddin membutuhkan keyakinan dan kepastian, sedangkan dalam Furu’uddin diperbolehkan melakukan taklid (mengikuti pendapat ulama). Dalam Ushuluddin, seseorang harus mencapai keyakinan melalui akal, tetapi dalam Furu’uddin tidak diperlukan pembuktian rasional.  &lt;br /&gt;
== Kedudukan ==&lt;br /&gt;
Para ulama mengatakan bahwa setiap syariat memiliki &#039;&#039;ushul&#039;&#039; (prinsip) dan &#039;&#039;furu&#039;&#039;&#039; (cabang). Ushul adalah fondasi-fondasi dasar agama yang harus dipegang terlebih dahulu. Setelah itu baru mengamalkan Furu&#039;, yang didasarkan pada prinsip tersebut.&amp;lt;ref&amp;gt;Sajjādī, Ja‘far, Farhang-e Ma‘ārif-e Islāmī, Kūmish, Jilid 1, halaman 223.&amp;lt;/ref&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian besar ulama [[Islam]] berpendapat bahwa taklid dalam [[Ushuluddin]] tidak diperbolehkan, dan keyakinan atau Ithmi’nan (ketenangan) dalam Ushuluddin harus didasarkan pada alasan atau dalil. Bahkan sebuah [[Ijma’]] juga telah diklaim sekaitan dengan masalah ini. Beberapa ulama seperti Abu Hanifah, Sufyan Tsauri, Malik, Syafi&#039;i, Ahmad bin Hanbal, dan kelompok Ahli Hadis berpendapat bahwa meskipun memiliki argumentasi atas prinsip-prinsip akidah itu wajib, tetapi iman yang diperoleh melalui taklid juga tetap diterima.&amp;lt;ref&amp;gt;Jam‘ī az Muḥaqqiqīn, &amp;quot;Uṣūl-e Dīn&amp;quot;, Dāneshnāmeh-ye Kalām-e Islāmī, halaman 51.&amp;lt;/ref&amp;gt; &lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
Para ulama [[Syiah]] menyakini bahwa Ushuluddin terdiri dari lima prinsip, sementara [[Furu’uddin]] terdiri dari delapan atau sepuluh cabang. Bahkan dalam beberapa konteks, semua hukum praktis yang bukan bagian dari prinsip akidah dianggap sebagai Furu’uddin.&amp;lt;ref&amp;gt;Khaṭībī Kūshkak, Muḥammad wa Hamkārān, Farhang-e Shī‘ah, Qom, Zamzam-e Hidāyat, 1386 HS, halaman 360.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Ushuluddin===&lt;br /&gt;
Para ulama menyebutkan bahwa Ushuluddin meliputi keyakinan terhadap [[tauhid]] (keesaan Allah), [[Kenabian|kenabian]], dan hari [[Akhirat|akhirat]] (ma’ad). Tiga prinsip ini dianggap sebagai dasar agama [[Islam]].&amp;lt;ref&amp;gt;Jam‘ī az Nawīsandagān, &amp;quot;Islām&amp;quot;, Dā’irat al-Ma‘ārif-e Bozorg-e Islāmī, Teheran, Markaz-e Dā’irat al-Ma‘ārif-e Bozorg-e Islāmī, Jilid 8, di bawah entri.&amp;lt;/ref&amp;gt; Para ulama [[Syiah]] menambahkan dua prinsip lagi, [[Yaitu keadilan|yaitu keadilan]] (adl) dan [[Kepemimpinan|kepemimpinan]] (imamah), sehingga Ushuluddin dalam mazhab Syiah terdiri dari lima prinsip.&amp;lt;ref&amp;gt;Jam‘ī az Muḥaqqiqīn, &amp;quot;Uṣūl-e Dīn&amp;quot;, Dāneshnāmeh-ye Kalām-e Islāmī, halaman 51.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
   &lt;br /&gt;
===Furu&#039;uddin===&lt;br /&gt;
Sekumpulan amal perbuatan dan perilaku ibadah dikenal dalam budaya Islam sebagai Furu’uddin. Berbeda dengan [[Ushuluddin]] yang mencakup aspek keyakinan, [[Furu’uddin]] mencakup aspek-aspek praktis dari agama Islam. Dalam ajaran [[Syiah Imamiyah]], Furu’uddin terdiri dari: [[shalat]], [[Puasa|puasa]], [[Zakat|zakat]], [[Khumus|khumus]], [[Haji|haji]], [[Jihad|jihad]], Amar ma’ruf ([[Mengajak kepada kebaikan|mengajak kepada kebaikan]]), nahi mungkar ([[Mencegah kemungkaran|mencegah kemungkaran]]), tawalli ([[Berpihak kepada wali Allah|berpihak kepada wali Allah]]), tabarri ([[Berlepas diri dari musuh Allah|berlepas diri dari musuh Allah]]).&lt;br /&gt;
Beberapa mazhab [[Ahlusunah]] tidak terlalu mementingkan beberapa masalah Furu&#039; ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Jam‘ī az Nawīsandagān, &amp;quot;Islām&amp;quot;, Dā’irat al-Ma‘ārif-e Bozorg-e Islāmī, Teheran, Markaz-e Dā’irat al-Ma‘ārif-e Bozorg-e Islāmī, Jilid 8, di bawah entri.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
==Berbagai Perbedaan Antara Ushuluddin dan Furu&#039;uddin==&lt;br /&gt;
* Ushuluddin adalah persoalan-persoalan kepercayaan (Akidah) di mana penggunaan akal, pengetahuan, dan keyakinan menjadi syarat utama. Sedangkan Furu’uddin adalah persoalan-persoalan yang menekankan pada amal perbuatan, baik dalam melakukan suatu tindakan atau meninggalkannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Jam‘ī az Muḥaqqiqīn, &amp;quot;Uṣūl-e Dīn&amp;quot;, Dāneshnāmeh-ye Kalām-e Islāmī, halaman 51.&amp;lt;/ref&amp;gt; &lt;br /&gt;
* Bagian akidah dalam agama disebut sebagai “ushul” (prinsip), sementara bagian hukum praktis disebut sebagai “furu’” (cabang).  &lt;br /&gt;
* Dalam Ushuluddin, [[taklid]] (mengikuti pendapat orang lain) tidak diperbolehkan.&amp;lt;ref&amp;gt;Khaṭībī Kūshkak, Muḥammad wa Hamkārān, Farhang-e Shī‘ah, Qom, Zamzam-e Hidāyat, 1386 HS, halaman 359.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sedangkan dalam Furu’uddin, taklid diperbolehkan. Dalam masalah-masalah praktis agama, seseorang harus merujuk kepada ahli (ulama) dan mempercayakan pada mereka. Perbuatan dan praktik mempercayai fatwa para ulama dalam urusan Furu’ ini yang disebut sebagai taklid&amp;lt;ref&amp;gt;Kāshifī, Muḥammad Riḍā, Kalām-e Shī‘ah, Qom, Pizhūhishgāh-e ‘Ulūm wa Farhang-e Islāmī, 1386 HS, halaman 257.&amp;lt;/ref&amp;gt;, sementara dalam Ushuluddin seseorang harus mencapai keyakinan melalui penelitian dan pemahamannya sendiri.  &lt;br /&gt;
* Dalam Ushuluddin, keyakinan harus dicapai melalui pembuktian akal. Sedangkan dalam Furu’uddin, pembuktian akal tidak diperlukan.  &lt;br /&gt;
* Ibadah merupakan bagian penting dari kumpulan amal perbuatan dan perilaku yang dalam budaya Islam dikenal sebagai “Furu&#039;uddin”. Di samping kumpulan keyakinan “Ushuluddin”, Furu&#039;uddin berfokus pada aspek-aspek praktis agama Islam.&amp;lt;ref&amp;gt;Jam‘ī az Nawīsandagān, &amp;quot;Islām&amp;quot;, Dā’irat al-Ma‘ārif-e Bozorg-e Islāmī, Teheran, Markaz-e Dā’irat al-Ma‘ārif-e Bozorg-e Islāmī, Jilid 8, di bawah entri.&amp;lt;/ref&amp;gt; &lt;br /&gt;
* Ushuluddin berhubungan dengan pemikiran dan keyakinan manusia, sehingga harus diwujudkan dalam bentuk iman dan kepercayaan. Furu&#039;uddin terkait dengan amal perbuatan dan perilaku manusia. Ushuluddin, pada dasarnya, membentuk identitas intelektual dan struktur akidah seseorang, sekaligus menjelaskan cara hidup dan perilaku orang-orang beriman. Ushuluddin adalah fondasi agama, di mana tanpa prinsip-prinsip dasar ini, agama tidak akan memiliki dasar yang kokoh. Sekumpulan prinsip yang jika salah satu prinsip ini diabaikan, agama beserta tujuan-tujuannya akan hancur. &lt;br /&gt;
* Ushuluddin bersifat informatif dan deskriptif. Sementara Furu’uddin bersifat instruktif dan normatif, terdiri atas perintah (amar) dan larangan (nahi).  &lt;br /&gt;
* Nasakh ([[Penghapusan]]) dapat berlaku dalam Furu&#039;uddin (misalnya, hukum tertentu diubah atau dihapuskan). Namun, nasakh tidak berlaku dalam Ushuluddin.&amp;lt;ref&amp;gt;Nashriyyah-ye Ḥawzah, Mukhlisī ‘Abbās, Sīrī dar Andīshah-hā-ye Kalāmī, Jilid 81, halaman 89.&amp;lt;/ref&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pranala Terkait ==&lt;br /&gt;
* [[Furu&#039;uddin]]&lt;br /&gt;
* [[Ushuluddin]]&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch = کلام&lt;br /&gt;
 | subbranch1 =&lt;br /&gt;
 | subbranch2 =&lt;br /&gt;
 | subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
| شناسه = شد&lt;br /&gt;
| تیترها = شد&lt;br /&gt;
| ویرایش = شد&lt;br /&gt;
| لینک‌دهی = شد&lt;br /&gt;
| ناوبری =&lt;br /&gt;
| نمایه =&lt;br /&gt;
| تغییر مسیر = شد&lt;br /&gt;
| بازبینی =شد&lt;br /&gt;
| تکمیل =&lt;br /&gt;
| اولویت = الف&lt;br /&gt;
| کیفیت = ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[رده:مقاله‌های پیشنهادی]]&lt;br /&gt;
[[fa: فرق بین اصول دین و فروع دین]]&lt;br /&gt;
[[bn: উসুলে দ্বিন এবং ফুরূয়ে দ্বিনের মধ্যে পার্থক্য]]&lt;br /&gt;
[[ur: اصول دین اور فروع دین میں فرق]]&lt;br /&gt;
[[es: la diferencia entre los principios de la religión y las ramas de la religión]]&lt;br /&gt;
[[en: Difference between the fundamentals of faith (Usul al-Din) and the branches of faith (Furu&#039; al-Din)]]&lt;br /&gt;
[[ps: د اصول دین او فروع دین تر مینځ فرق]]&lt;br /&gt;
[[ru: Разница между основами религии и её ответвлениями]]&lt;br /&gt;
[[ar: الفرق بين أصول الدين وفروع الدين]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Furu%27uddin&amp;diff=934</id>
		<title>Furu&#039;uddin</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Furu%27uddin&amp;diff=934"/>
		<updated>2025-02-21T13:38:48Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Pranala Terkait */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Apa yang dimaksud dengan Furu&#039;uddin dan sebutkan apa saja yang termasuk dalam Furu&#039;uddin?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Furu&#039;uddin&#039;&#039;&#039; atau cabang-cabang agama meliputi shalat, [[puasa dalam pandangan Al-Qur&#039;an dan hadis|puasa]], [[haji dalam Al-Qur&#039;an|haji]], jihad, khumus, zakat, amar ma&#039;ruf, nahi munkar, tawalli, dan tabarri. Sebagian besar dari rangkaian amal dan perilaku ibadah dalam budaya Islam dikenal sebagai Furu&#039;uddin. Furu&#039;uddin ini berkaitan dengan aspek praktis dari keimanan Islam. Ketaatan terhadap Furu&#039;uddin sama wajibnya seperti ketaatan terhadap Ushuluddin (prinsip-prinsip agama).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kedudukan ==&lt;br /&gt;
Furu&#039;uddin adalah kewajiban dan adab yang ditetapkan oleh syariat suci bagi orang-orang yang mukallaf (terbebani kewajiban) dalam hal tindakan dan perilaku.&amp;lt;ref&amp;gt;Kamus Fikih Persia, di bawah pengawasan Mahmud Hasyimi Syahrudi, Qom, Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, 1387 H, jilid 5, halaman 679.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ketaatan terhadap Furu&#039;uddin sama wajibnya seperti ketaatan terhadap prinsip-prinsip agama. Furu&#039;uddin adalah serangkaian kewajiban dan tugas praktis yang diambil oleh Nabi saw dari wahyu dan disampaikan untuk kebahagiaan duniawi dan ukhrawi manusia. Beberapa cabang agama mengatur hubungan manusia dengan Allah dalam bentuk hukum dan peraturan, serta menetapkan kewajiban-kewajiban seperti shalat, puasa, dan haji. Beberapa lainnya mengatur kewajiban manusia terhadap sesamanya dan mengatur hubungan antarmanusia, seperti jihad, khumus, dan jual beli.&amp;lt;ref&amp;gt;Khatibi Kushkak, Muhammad dan rekan-rekan, Budaya Syiah, Qom, Zamzam Hidayat, 1386 H, halaman 359.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian besar dari rangkaian amal dan perilaku ibadah dalam budaya Islam dikenal sebagai Furu&#039;uddin. Furu&#039;uddin ini berkaitan dengan aspek praktis dari keimanan [[Islam]]. Dalam pengajaran umum di kalangan [[Syiah Imamiyah]], Furu&#039;uddin ini mencakup [[shalat]], [[puasa]], [[zakat]], [[khumus]], [[haji]], [[jihad]], [[amar ma&#039;ruf]], [[nahi munkar]], [[tawalli]], dan [[tabarri]]. Namun, di kalangan mazhab [[Ahlusunah]], beberapa cabang ini tidak terlalu berkembang dan tidak terlalu ditekankan.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Contoh Furu&#039;uddin ==&lt;br /&gt;
=== Shalat ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam agama Islam, kewajiban ibadah pertama dan terpenting bagi setiap individu yang mukallaf adalah melaksanakan [[shalat]], yang dilakukan lima kali sehari sebagai pengingat iman dan keyakinan seorang Muslim, serta sebagai sarana untuk mengumpulkan kekuatan batin dan spiritual untuk terhubung dengan sumber alam semesta, yaitu Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Puasa ===&lt;br /&gt;
[[Puasa]] adalah salah satu ibadah dalam Islam di mana seseorang menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal tertentu lainnya dari terbit fajar hingga terbenam matahari untuk mendekatkan diri kepada Allah. Istilah ini dalam bahasa Persia setara dengan kata Arab &amp;quot;shaum&amp;quot; dan &amp;quot;siyam&amp;quot;, yang berarti menahan diri dari makan, minum, berbicara, dan hubungan seksual. Puasa untuk pemurnian jiwa dan penyucian diri telah dipraktikkan dalam banyak agama dan kepercayaan sebelumnya, seperti Maya, Hindu, Buddha, Jain, dan Manichaeisme. Puasa dalam Islam adalah salah satu ibadah penting dan dalam hadis disebut sebagai salah satu dari lima rukun Islam. Dalam hadis, banyak manfaat dan keutamaan material dan spiritual yang disebutkan untuk puasa (terutama puasa bulan Ramadhan), seperti diterimanya amal, dikabulkannya doa, pengampunan dosa, hak atas surga dan kenikmatan akhirat, serta keselamatan dari azab neraka (perisai api), yang menunjukkan perhatian khusus Allah kepada orang yang berpuasa. Tidur orang yang berpuasa dianggap sebagai ibadah, dan napasnya adalah tasbih kepada Allah, serta puasa disebut sebagai zakat tubuh.&amp;lt;ref&amp;gt;Husseini Ahagh, Maryam, &amp;quot;Puasa&amp;quot;, Ensiklopedia Dunia Islam, Teheran, Yayasan Ensiklopedia Islam, 1394 H, jilid 20, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Haji ===&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan [[haji]] dalam teks dan sumber [[Islam]], termasuk sumber fikih, adalah perjalanan ke [[Baitullah]] (Ka&#039;bah) untuk melakukan serangkaian ibadah khusus pada waktu tertentu. Menurut beberapa ahli fikih, istilah fikih haji merujuk pada serangkaian tindakan yang dilakukan di tempat-tempat tertentu di [[Mekah]]. Serangkaian tindakan ibadah dalam ritual haji disebut manasik haji. Dalam [[Al-Qur&#039;an]], banyak ayat yang membahas haji, dan haji diwajibkan bagi orang yang mampu serta dianggap sebagai salah satu syiar besar yang layak diagungkan.&amp;lt;ref&amp;gt;Husaini Ahagh, Maryam, &amp;quot;Haji&amp;quot;, Ensiklopedia Dunia Islam, Teheran, Yayasan Ensiklopedia Islam, 1393 H, jilid 12, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Zakat ===&lt;br /&gt;
Dalam Al-Qur&#039;an, sebagai salah satu perintah pertama dalam agama Islam, [[zakat]] disebutkan puluhan kali bersama dengan perintah untuk mendirikan shalat. Zakat, sebagaimana makna harfiahnya dan juga ditegaskan dalam Al-Qur&#039;an, selain sebagai pembayaran finansial, juga merupakan bentuk &amp;quot;pemurnian&amp;quot; dan &amp;quot;penyucian&amp;quot; batin. Oleh karena itu, dalam penafsiran awal ayat-ayat Al-Qur&#039;an, zakat dianggap sebagai ibadah seperti ibadah lainnya di mana niat dan tujuan mendekatkan diri kepada Allah adalah syarat sahnya. Namun, zakat selain sebagai ibadah individu, juga memiliki aspek sosial sebagai cara untuk mendistribusikan kekayaan dan menyediakan dana untuk kepentingan umum umat Islam.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Khumus ===&lt;br /&gt;
Dalam Al-Qur&#039;an, khumus disebutkan sebagai bagian dari rampasan perang, dan dalam fikih [[Ahlusunah]], [[khumus]] hanya berlaku untuk rampasan perang dan beberapa kasus terbatas lainnya. Sebaliknya, dalam fikih [[Syiah]], konsep rampasan dalam ayat tersebut telah diperluas berdasarkan sumber-sumber hadis dan mencakup berbagai topik. Topik utama adalah &amp;quot;keuntungan usaha&amp;quot;, yang menjadikan khumus sebagai pajak umum yang berlaku di semua waktu dan tempat, dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat; artinya, setiap orang yang mukallaf harus menghitung pendapatan usahanya dalam satu tahun keuangan dan membayar seperlima dari kelebihan pendapatan setelah dikurangi kebutuhan tahunan sebagai khumus.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Jihad ===&lt;br /&gt;
[[Jihad]] adalah perang yang sah di jalan [[Allah]] swt dan merupakan salah satu topik dalam fikih Islam. Konsep utama istilah ini dalam teks-teks keagamaan, seperti penggunaan umumnya, adalah bentuk khusus dari upaya, yaitu berjuang di jalan Allah dengan jiwa, harta, dan aset lainnya dengan tujuan menyebarkan Islam atau membelanya.&amp;lt;ref&amp;gt;Sarrami, Saifullah, dan Said Adalatnejad, &amp;quot;Jihad&amp;quot;, Ensiklopedia Dunia Islam, Teheran, Yayasan Ensiklopedia Islam, 1393 H, jilid 11, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Amar Ma&#039;ruf dan Nahi Munkar ===&lt;br /&gt;
[[Amar ma&#039;ruf dan nahi munkar]] adalah dua istilah yang dalam tafsir klasik [[Al-Qur&#039;an]] diartikan sebagai perintah untuk mengikuti [[Nabi Muhammad saw]] dan agama [[Islam]], serta larangan untuk kafir kepada Allah dan mendustakan Rasulullah saw dan agamanya. Dapat dikatakan bahwa amar ma&#039;ruf adalah tindakan untuk mewujudkan apa yang sesuai dengan ajaran agama dan dianggap baik, sedangkan nahi munkar adalah reaksi untuk menghancurkan apa yang dianggap buruk.&amp;lt;ref&amp;gt;Jabirizadeh, Abdulamir, &amp;quot;Amar Ma&#039;ruf dan Nahi Munkar&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 10, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Tawalli dan Tabarri ===&lt;br /&gt;
Dua prinsip penting, &amp;quot;[[tawalli]]&amp;quot; yang berarti mencintai sahabat-sahabat Allah dan pendukung keadilan, dan &amp;quot;[[tabarri]]&amp;quot; yang berarti berlepas diri dari para penindas dan musuh-musuh Allah, memiliki penting yang besar dan menyebabkan pendukung keadilan bersatu melawan penindas dan mengakhiri kezaliman dari masyarakat.&amp;lt;ref&amp;gt;&amp;quot;[https://makarem.ir/main.aspx?typeinfo=42&amp;amp;lid=0&amp;amp;catid=29262&amp;amp;mid=318146 Konsep Tawalli dan Tabarri]&amp;quot;, Situs Informasi Kantor Ayatullah Makarim Syirazi, dipublikasikan: 21 Aban 1402 H.&amp;lt;/ref&amp;gt; Tabarri berarti menjalin persahabatan dengan sahabat-sahabat Allah dan menjauhkan diri dari musuh-musuh Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;&amp;quot;Tawalli dan Tabarri&amp;quot;, Situs Komprehensif Syahid Murtadha Muthahhari, dipublikasikan: 21 Aban 1402 H.&amp;lt;/ref&amp;gt; Tawalli dan tabarri digunakan dalam banyak ayat Al-Qur&#039;an dan dari sana memasuki bidang fikih dan teologi. Dalam ayat-ayat ini, dilarang untuk menjalin persahabatan dengan setan, orang kafir, non-Muslim, orang yang dimurkai Allah, dan mereka yang memerangi orang beriman karena agama, dan dianjurkan untuk menjalin persahabatan dengan Allah, Nabi saw, dan orang-orang beriman.&amp;lt;ref&amp;gt;Jabiri, Amir, &amp;quot;Tawalli dan Tabarri&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 16, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pranala Terkait ==&lt;br /&gt;
* [[Ushuluddin]]&lt;br /&gt;
* [[Perbedaan Antara Ushuluddin Dan Furu’uddin]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch =کلام&lt;br /&gt;
|subbranch1 =&lt;br /&gt;
|subbranch2 =&lt;br /&gt;
|subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه =شد&lt;br /&gt;
 | تیترها =شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش =شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی =شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر =شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت =ج&lt;br /&gt;
 | کیفیت =ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa:فروع دین]]&lt;br /&gt;
[[ru:Фуру’ ад-Дин (Ветви религии)]]&lt;br /&gt;
[[ar:فروع الدين]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Furu%27uddin&amp;diff=933</id>
		<title>Furu&#039;uddin</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Furu%27uddin&amp;diff=933"/>
		<updated>2025-02-21T13:36:53Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Contoh Furu&amp;#039;uddin */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Apa yang dimaksud dengan Furu&#039;uddin dan sebutkan apa saja yang termasuk dalam Furu&#039;uddin?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Furu&#039;uddin&#039;&#039;&#039; atau cabang-cabang agama meliputi shalat, [[puasa dalam pandangan Al-Qur&#039;an dan hadis|puasa]], [[haji dalam Al-Qur&#039;an|haji]], jihad, khumus, zakat, amar ma&#039;ruf, nahi munkar, tawalli, dan tabarri. Sebagian besar dari rangkaian amal dan perilaku ibadah dalam budaya Islam dikenal sebagai Furu&#039;uddin. Furu&#039;uddin ini berkaitan dengan aspek praktis dari keimanan Islam. Ketaatan terhadap Furu&#039;uddin sama wajibnya seperti ketaatan terhadap Ushuluddin (prinsip-prinsip agama).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kedudukan ==&lt;br /&gt;
Furu&#039;uddin adalah kewajiban dan adab yang ditetapkan oleh syariat suci bagi orang-orang yang mukallaf (terbebani kewajiban) dalam hal tindakan dan perilaku.&amp;lt;ref&amp;gt;Kamus Fikih Persia, di bawah pengawasan Mahmud Hasyimi Syahrudi, Qom, Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, 1387 H, jilid 5, halaman 679.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ketaatan terhadap Furu&#039;uddin sama wajibnya seperti ketaatan terhadap prinsip-prinsip agama. Furu&#039;uddin adalah serangkaian kewajiban dan tugas praktis yang diambil oleh Nabi saw dari wahyu dan disampaikan untuk kebahagiaan duniawi dan ukhrawi manusia. Beberapa cabang agama mengatur hubungan manusia dengan Allah dalam bentuk hukum dan peraturan, serta menetapkan kewajiban-kewajiban seperti shalat, puasa, dan haji. Beberapa lainnya mengatur kewajiban manusia terhadap sesamanya dan mengatur hubungan antarmanusia, seperti jihad, khumus, dan jual beli.&amp;lt;ref&amp;gt;Khatibi Kushkak, Muhammad dan rekan-rekan, Budaya Syiah, Qom, Zamzam Hidayat, 1386 H, halaman 359.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian besar dari rangkaian amal dan perilaku ibadah dalam budaya Islam dikenal sebagai Furu&#039;uddin. Furu&#039;uddin ini berkaitan dengan aspek praktis dari keimanan [[Islam]]. Dalam pengajaran umum di kalangan [[Syiah Imamiyah]], Furu&#039;uddin ini mencakup [[shalat]], [[puasa]], [[zakat]], [[khumus]], [[haji]], [[jihad]], [[amar ma&#039;ruf]], [[nahi munkar]], [[tawalli]], dan [[tabarri]]. Namun, di kalangan mazhab [[Ahlusunah]], beberapa cabang ini tidak terlalu berkembang dan tidak terlalu ditekankan.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Contoh Furu&#039;uddin ==&lt;br /&gt;
=== Shalat ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam agama Islam, kewajiban ibadah pertama dan terpenting bagi setiap individu yang mukallaf adalah melaksanakan [[shalat]], yang dilakukan lima kali sehari sebagai pengingat iman dan keyakinan seorang Muslim, serta sebagai sarana untuk mengumpulkan kekuatan batin dan spiritual untuk terhubung dengan sumber alam semesta, yaitu Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Puasa ===&lt;br /&gt;
[[Puasa]] adalah salah satu ibadah dalam Islam di mana seseorang menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal tertentu lainnya dari terbit fajar hingga terbenam matahari untuk mendekatkan diri kepada Allah. Istilah ini dalam bahasa Persia setara dengan kata Arab &amp;quot;shaum&amp;quot; dan &amp;quot;siyam&amp;quot;, yang berarti menahan diri dari makan, minum, berbicara, dan hubungan seksual. Puasa untuk pemurnian jiwa dan penyucian diri telah dipraktikkan dalam banyak agama dan kepercayaan sebelumnya, seperti Maya, Hindu, Buddha, Jain, dan Manichaeisme. Puasa dalam Islam adalah salah satu ibadah penting dan dalam hadis disebut sebagai salah satu dari lima rukun Islam. Dalam hadis, banyak manfaat dan keutamaan material dan spiritual yang disebutkan untuk puasa (terutama puasa bulan Ramadhan), seperti diterimanya amal, dikabulkannya doa, pengampunan dosa, hak atas surga dan kenikmatan akhirat, serta keselamatan dari azab neraka (perisai api), yang menunjukkan perhatian khusus Allah kepada orang yang berpuasa. Tidur orang yang berpuasa dianggap sebagai ibadah, dan napasnya adalah tasbih kepada Allah, serta puasa disebut sebagai zakat tubuh.&amp;lt;ref&amp;gt;Husseini Ahagh, Maryam, &amp;quot;Puasa&amp;quot;, Ensiklopedia Dunia Islam, Teheran, Yayasan Ensiklopedia Islam, 1394 H, jilid 20, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Haji ===&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan [[haji]] dalam teks dan sumber [[Islam]], termasuk sumber fikih, adalah perjalanan ke [[Baitullah]] (Ka&#039;bah) untuk melakukan serangkaian ibadah khusus pada waktu tertentu. Menurut beberapa ahli fikih, istilah fikih haji merujuk pada serangkaian tindakan yang dilakukan di tempat-tempat tertentu di [[Mekah]]. Serangkaian tindakan ibadah dalam ritual haji disebut manasik haji. Dalam [[Al-Qur&#039;an]], banyak ayat yang membahas haji, dan haji diwajibkan bagi orang yang mampu serta dianggap sebagai salah satu syiar besar yang layak diagungkan.&amp;lt;ref&amp;gt;Husaini Ahagh, Maryam, &amp;quot;Haji&amp;quot;, Ensiklopedia Dunia Islam, Teheran, Yayasan Ensiklopedia Islam, 1393 H, jilid 12, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Zakat ===&lt;br /&gt;
Dalam Al-Qur&#039;an, sebagai salah satu perintah pertama dalam agama Islam, [[zakat]] disebutkan puluhan kali bersama dengan perintah untuk mendirikan shalat. Zakat, sebagaimana makna harfiahnya dan juga ditegaskan dalam Al-Qur&#039;an, selain sebagai pembayaran finansial, juga merupakan bentuk &amp;quot;pemurnian&amp;quot; dan &amp;quot;penyucian&amp;quot; batin. Oleh karena itu, dalam penafsiran awal ayat-ayat Al-Qur&#039;an, zakat dianggap sebagai ibadah seperti ibadah lainnya di mana niat dan tujuan mendekatkan diri kepada Allah adalah syarat sahnya. Namun, zakat selain sebagai ibadah individu, juga memiliki aspek sosial sebagai cara untuk mendistribusikan kekayaan dan menyediakan dana untuk kepentingan umum umat Islam.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Khumus ===&lt;br /&gt;
Dalam Al-Qur&#039;an, khumus disebutkan sebagai bagian dari rampasan perang, dan dalam fikih [[Ahlusunah]], [[khumus]] hanya berlaku untuk rampasan perang dan beberapa kasus terbatas lainnya. Sebaliknya, dalam fikih [[Syiah]], konsep rampasan dalam ayat tersebut telah diperluas berdasarkan sumber-sumber hadis dan mencakup berbagai topik. Topik utama adalah &amp;quot;keuntungan usaha&amp;quot;, yang menjadikan khumus sebagai pajak umum yang berlaku di semua waktu dan tempat, dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat; artinya, setiap orang yang mukallaf harus menghitung pendapatan usahanya dalam satu tahun keuangan dan membayar seperlima dari kelebihan pendapatan setelah dikurangi kebutuhan tahunan sebagai khumus.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Jihad ===&lt;br /&gt;
[[Jihad]] adalah perang yang sah di jalan [[Allah]] swt dan merupakan salah satu topik dalam fikih Islam. Konsep utama istilah ini dalam teks-teks keagamaan, seperti penggunaan umumnya, adalah bentuk khusus dari upaya, yaitu berjuang di jalan Allah dengan jiwa, harta, dan aset lainnya dengan tujuan menyebarkan Islam atau membelanya.&amp;lt;ref&amp;gt;Sarrami, Saifullah, dan Said Adalatnejad, &amp;quot;Jihad&amp;quot;, Ensiklopedia Dunia Islam, Teheran, Yayasan Ensiklopedia Islam, 1393 H, jilid 11, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Amar Ma&#039;ruf dan Nahi Munkar ===&lt;br /&gt;
[[Amar ma&#039;ruf dan nahi munkar]] adalah dua istilah yang dalam tafsir klasik [[Al-Qur&#039;an]] diartikan sebagai perintah untuk mengikuti [[Nabi Muhammad saw]] dan agama [[Islam]], serta larangan untuk kafir kepada Allah dan mendustakan Rasulullah saw dan agamanya. Dapat dikatakan bahwa amar ma&#039;ruf adalah tindakan untuk mewujudkan apa yang sesuai dengan ajaran agama dan dianggap baik, sedangkan nahi munkar adalah reaksi untuk menghancurkan apa yang dianggap buruk.&amp;lt;ref&amp;gt;Jabirizadeh, Abdulamir, &amp;quot;Amar Ma&#039;ruf dan Nahi Munkar&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 10, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Tawalli dan Tabarri ===&lt;br /&gt;
Dua prinsip penting, &amp;quot;[[tawalli]]&amp;quot; yang berarti mencintai sahabat-sahabat Allah dan pendukung keadilan, dan &amp;quot;[[tabarri]]&amp;quot; yang berarti berlepas diri dari para penindas dan musuh-musuh Allah, memiliki penting yang besar dan menyebabkan pendukung keadilan bersatu melawan penindas dan mengakhiri kezaliman dari masyarakat.&amp;lt;ref&amp;gt;&amp;quot;[https://makarem.ir/main.aspx?typeinfo=42&amp;amp;lid=0&amp;amp;catid=29262&amp;amp;mid=318146 Konsep Tawalli dan Tabarri]&amp;quot;, Situs Informasi Kantor Ayatullah Makarim Syirazi, dipublikasikan: 21 Aban 1402 H.&amp;lt;/ref&amp;gt; Tabarri berarti menjalin persahabatan dengan sahabat-sahabat Allah dan menjauhkan diri dari musuh-musuh Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;&amp;quot;Tawalli dan Tabarri&amp;quot;, Situs Komprehensif Syahid Murtadha Muthahhari, dipublikasikan: 21 Aban 1402 H.&amp;lt;/ref&amp;gt; Tawalli dan tabarri digunakan dalam banyak ayat Al-Qur&#039;an dan dari sana memasuki bidang fikih dan teologi. Dalam ayat-ayat ini, dilarang untuk menjalin persahabatan dengan setan, orang kafir, non-Muslim, orang yang dimurkai Allah, dan mereka yang memerangi orang beriman karena agama, dan dianjurkan untuk menjalin persahabatan dengan Allah, Nabi saw, dan orang-orang beriman.&amp;lt;ref&amp;gt;Jabiri, Amir, &amp;quot;Tawalli dan Tabarri&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 16, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pranala Terkait ==&lt;br /&gt;
* [[Prinsip-prinsip agama (Ushuluddin)]]&lt;br /&gt;
* [[Perbedaan antara Ushuluddin dan Furu&#039;uddin]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch =کلام&lt;br /&gt;
|subbranch1 =&lt;br /&gt;
|subbranch2 =&lt;br /&gt;
|subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه =شد&lt;br /&gt;
 | تیترها =شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش =شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی =شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر =شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت =ج&lt;br /&gt;
 | کیفیت =ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa:فروع دین]]&lt;br /&gt;
[[ru:Фуру’ ад-Дин (Ветви религии)]]&lt;br /&gt;
[[ar:فروع الدين]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Furu%27uddin&amp;diff=932</id>
		<title>Furu&#039;uddin</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Furu%27uddin&amp;diff=932"/>
		<updated>2025-02-21T13:33:02Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Kedudukan */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Apa yang dimaksud dengan Furu&#039;uddin dan sebutkan apa saja yang termasuk dalam Furu&#039;uddin?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Furu&#039;uddin&#039;&#039;&#039; atau cabang-cabang agama meliputi shalat, [[puasa dalam pandangan Al-Qur&#039;an dan hadis|puasa]], [[haji dalam Al-Qur&#039;an|haji]], jihad, khumus, zakat, amar ma&#039;ruf, nahi munkar, tawalli, dan tabarri. Sebagian besar dari rangkaian amal dan perilaku ibadah dalam budaya Islam dikenal sebagai Furu&#039;uddin. Furu&#039;uddin ini berkaitan dengan aspek praktis dari keimanan Islam. Ketaatan terhadap Furu&#039;uddin sama wajibnya seperti ketaatan terhadap Ushuluddin (prinsip-prinsip agama).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kedudukan ==&lt;br /&gt;
Furu&#039;uddin adalah kewajiban dan adab yang ditetapkan oleh syariat suci bagi orang-orang yang mukallaf (terbebani kewajiban) dalam hal tindakan dan perilaku.&amp;lt;ref&amp;gt;Kamus Fikih Persia, di bawah pengawasan Mahmud Hasyimi Syahrudi, Qom, Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, 1387 H, jilid 5, halaman 679.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ketaatan terhadap Furu&#039;uddin sama wajibnya seperti ketaatan terhadap prinsip-prinsip agama. Furu&#039;uddin adalah serangkaian kewajiban dan tugas praktis yang diambil oleh Nabi saw dari wahyu dan disampaikan untuk kebahagiaan duniawi dan ukhrawi manusia. Beberapa cabang agama mengatur hubungan manusia dengan Allah dalam bentuk hukum dan peraturan, serta menetapkan kewajiban-kewajiban seperti shalat, puasa, dan haji. Beberapa lainnya mengatur kewajiban manusia terhadap sesamanya dan mengatur hubungan antarmanusia, seperti jihad, khumus, dan jual beli.&amp;lt;ref&amp;gt;Khatibi Kushkak, Muhammad dan rekan-rekan, Budaya Syiah, Qom, Zamzam Hidayat, 1386 H, halaman 359.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian besar dari rangkaian amal dan perilaku ibadah dalam budaya Islam dikenal sebagai Furu&#039;uddin. Furu&#039;uddin ini berkaitan dengan aspek praktis dari keimanan [[Islam]]. Dalam pengajaran umum di kalangan [[Syiah Imamiyah]], Furu&#039;uddin ini mencakup [[shalat]], [[puasa]], [[zakat]], [[khumus]], [[haji]], [[jihad]], [[amar ma&#039;ruf]], [[nahi munkar]], [[tawalli]], dan [[tabarri]]. Namun, di kalangan mazhab [[Ahlusunah]], beberapa cabang ini tidak terlalu berkembang dan tidak terlalu ditekankan.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Contoh Furu&#039;uddin ==&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Shalat&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam agama Islam, kewajiban ibadah pertama dan terpenting bagi setiap individu yang mukallaf adalah melaksanakan shalat, yang dilakukan lima kali sehari sebagai pengingat iman dan keyakinan seorang Muslim, serta sebagai sarana untuk mengumpulkan kekuatan batin dan spiritual untuk terhubung dengan sumber alam semesta, yaitu Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Puasa&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Puasa adalah salah satu ibadah dalam Islam di mana seseorang menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal tertentu lainnya dari terbit fajar hingga terbenam matahari untuk mendekatkan diri kepada Allah. Istilah ini dalam bahasa Persia setara dengan kata Arab &amp;quot;shaum&amp;quot; dan &amp;quot;siyam&amp;quot;, yang berarti menahan diri dari makan, minum, berbicara, dan hubungan seksual. Puasa untuk pemurnian jiwa dan penyucian diri telah dipraktikkan dalam banyak agama dan kepercayaan sebelumnya, seperti Maya, Hindu, Buddha, Jain, dan Manichaeisme. Puasa dalam Islam adalah salah satu ibadah penting dan dalam hadis disebut sebagai salah satu dari lima rukun Islam. Dalam hadis, banyak manfaat dan keutamaan material dan spiritual yang disebutkan untuk puasa (terutama puasa bulan Ramadhan), seperti diterimanya amal, dikabulkannya doa, pengampunan dosa, hak atas surga dan kenikmatan akhirat, serta keselamatan dari azab neraka (perisai api), yang menunjukkan perhatian khusus Allah kepada orang yang berpuasa. Tidur orang yang berpuasa dianggap sebagai ibadah, dan napasnya adalah tasbih kepada Allah, serta puasa disebut sebagai zakat tubuh.&amp;lt;ref&amp;gt;Husseini Ahagh, Maryam, &amp;quot;Puasa&amp;quot;, Ensiklopedia Dunia Islam, Teheran, Yayasan Ensiklopedia Islam, 1394 H, jilid 20, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Haji&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan haji dalam teks dan sumber Islam, termasuk sumber fikih, adalah perjalanan ke Baitullah (Ka&#039;bah) untuk melakukan serangkaian ibadah khusus pada waktu tertentu. Menurut beberapa ahli fikih, istilah fikih haji merujuk pada serangkaian tindakan yang dilakukan di tempat-tempat tertentu di Mekah. Serangkaian tindakan ibadah dalam ritual haji disebut manasik haji. Dalam Al-Qur&#039;an, banyak ayat yang membahas haji, dan haji diwajibkan bagi orang yang mampu serta dianggap sebagai salah satu syiar besar yang layak diagungkan.&amp;lt;ref&amp;gt;Husaini Ahagh, Maryam, &amp;quot;Haji&amp;quot;, Ensiklopedia Dunia Islam, Teheran, Yayasan Ensiklopedia Islam, 1393 H, jilid 12, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Zakat&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Al-Qur&#039;an, sebagai salah satu perintah pertama dalam agama Islam, zakat disebutkan puluhan kali bersama dengan perintah untuk mendirikan shalat. Zakat, sebagaimana makna harfiahnya dan juga ditegaskan dalam Al-Qur&#039;an, selain sebagai pembayaran finansial, juga merupakan bentuk &amp;quot;pemurnian&amp;quot; dan &amp;quot;penyucian&amp;quot; batin. Oleh karena itu, dalam penafsiran awal ayat-ayat Al-Qur&#039;an, zakat dianggap sebagai ibadah seperti ibadah lainnya di mana niat dan tujuan mendekatkan diri kepada Allah adalah syarat sahnya. Namun, zakat selain sebagai ibadah individu, juga memiliki aspek sosial sebagai cara untuk mendistribusikan kekayaan dan menyediakan dana untuk kepentingan umum umat Islam.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Khumus&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Al-Qur&#039;an, khumus disebutkan sebagai bagian dari rampasan perang, dan dalam fikih Ahlusunah, khumus hanya berlaku untuk rampasan perang dan beberapa kasus terbatas lainnya. Sebaliknya, dalam fikih Syiah, konsep rampasan dalam ayat tersebut telah diperluas berdasarkan sumber-sumber hadis dan mencakup berbagai topik. Topik utama adalah &amp;quot;keuntungan usaha&amp;quot;, yang menjadikan khumus sebagai pajak umum yang berlaku di semua waktu dan tempat, dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat; artinya, setiap orang yang mukallaf harus menghitung pendapatan usahanya dalam satu tahun keuangan dan membayar seperlima dari kelebihan pendapatan setelah dikurangi kebutuhan tahunan sebagai khumus.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Jihad&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jihad adalah perang yang sah di jalan Allah swt dan merupakan salah satu topik dalam fikih Islam. Konsep utama istilah ini dalam teks-teks keagamaan, seperti penggunaan umumnya, adalah bentuk khusus dari upaya, yaitu berjuang di jalan Allah dengan jiwa, harta, dan aset lainnya dengan tujuan menyebarkan Islam atau membelanya.&amp;lt;ref&amp;gt;Sarrami, Saifullah, dan Said Adalatnejad, &amp;quot;Jihad&amp;quot;, Ensiklopedia Dunia Islam, Teheran, Yayasan Ensiklopedia Islam, 1393 H, jilid 11, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Amar Ma&#039;ruf dan Nahi Munkar&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Amar ma&#039;ruf dan nahi munkar adalah dua istilah yang dalam tafsir klasik Al-Qur&#039;an diartikan sebagai perintah untuk mengikuti Nabi Muhammad saw dan agama Islam, serta larangan untuk kafir kepada Allah dan mendustakan Rasulullah saw dan agamanya. Dapat dikatakan bahwa amar ma&#039;ruf adalah tindakan untuk mewujudkan apa yang sesuai dengan ajaran agama dan dianggap baik, sedangkan nahi munkar adalah reaksi untuk menghancurkan apa yang dianggap buruk.&amp;lt;ref&amp;gt;Jabirizadeh, Abdulamir, &amp;quot;Amar Ma&#039;ruf dan Nahi Munkar&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 10, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Tawalli dan Tabarri&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua prinsip penting, &amp;quot;tawalli&amp;quot; yang berarti mencintai sahabat-sahabat Allah dan pendukung keadilan, dan &amp;quot;tabarri&amp;quot; yang berarti berlepas diri dari para penindas dan musuh-musuh Allah, memiliki penting yang besar dan menyebabkan pendukung keadilan bersatu melawan penindas dan mengakhiri kezaliman dari masyarakat.&amp;lt;ref&amp;gt;&amp;quot;[https://makarem.ir/main.aspx?typeinfo=42&amp;amp;lid=0&amp;amp;catid=29262&amp;amp;mid=318146 Konsep Tawalli dan Tabarri]&amp;quot;, Situs Informasi Kantor Ayatullah Makarim Syirazi, dipublikasikan: 21 Aban 1402 H.&amp;lt;/ref&amp;gt; Tabarri berarti menjalin persahabatan dengan sahabat-sahabat Allah dan menjauhkan diri dari musuh-musuh Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;&amp;quot;Tawalli dan Tabarri&amp;quot;, Situs Komprehensif Syahid Murtadha Muthahhari, dipublikasikan: 21 Aban 1402 H.&amp;lt;/ref&amp;gt; Tawalli dan tabarri digunakan dalam banyak ayat Al-Qur&#039;an dan dari sana memasuki bidang fikih dan teologi. Dalam ayat-ayat ini, dilarang untuk menjalin persahabatan dengan setan, orang kafir, non-Muslim, orang yang dimurkai Allah, dan mereka yang memerangi orang beriman karena agama, dan dianjurkan untuk menjalin persahabatan dengan Allah, Nabi saw, dan orang-orang beriman.&amp;lt;ref&amp;gt;Jabiri, Amir, &amp;quot;Tawalli dan Tabarri&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 16, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pranala Terkait ==&lt;br /&gt;
* [[Prinsip-prinsip agama (Ushuluddin)]]&lt;br /&gt;
* [[Perbedaan antara Ushuluddin dan Furu&#039;uddin]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch =کلام&lt;br /&gt;
|subbranch1 =&lt;br /&gt;
|subbranch2 =&lt;br /&gt;
|subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه =شد&lt;br /&gt;
 | تیترها =شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش =شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی =شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر =شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت =ج&lt;br /&gt;
 | کیفیت =ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa:فروع دین]]&lt;br /&gt;
[[ru:Фуру’ ад-Дин (Ветви религии)]]&lt;br /&gt;
[[ar:فروع الدين]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Furu%27uddin&amp;diff=931</id>
		<title>Furu&#039;uddin</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Furu%27uddin&amp;diff=931"/>
		<updated>2025-02-21T13:31:47Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Apa yang dimaksud dengan Furu&#039;uddin dan sebutkan apa saja yang termasuk dalam Furu&#039;uddin?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Furu&#039;uddin&#039;&#039;&#039; atau cabang-cabang agama meliputi shalat, [[puasa dalam pandangan Al-Qur&#039;an dan hadis|puasa]], [[haji dalam Al-Qur&#039;an|haji]], jihad, khumus, zakat, amar ma&#039;ruf, nahi munkar, tawalli, dan tabarri. Sebagian besar dari rangkaian amal dan perilaku ibadah dalam budaya Islam dikenal sebagai Furu&#039;uddin. Furu&#039;uddin ini berkaitan dengan aspek praktis dari keimanan Islam. Ketaatan terhadap Furu&#039;uddin sama wajibnya seperti ketaatan terhadap Ushuluddin (prinsip-prinsip agama).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kedudukan ==&lt;br /&gt;
Furu&#039;uddin adalah kewajiban dan adab yang ditetapkan oleh syariat suci bagi orang-orang yang mukallaf (terbebani kewajiban) dalam hal tindakan dan perilaku.&amp;lt;ref&amp;gt;Kamus Fikih Persia, di bawah pengawasan Mahmud Hasyimi Syahrudi, Qom, Lembaga Ensiklopedia Fikih Islam, 1387 H, jilid 5, halaman 679.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ketaatan terhadap Furu&#039;uddin sama wajibnya seperti ketaatan terhadap prinsip-prinsip agama. Furu&#039;uddin adalah serangkaian kewajiban dan tugas praktis yang diambil oleh Nabi saw dari wahyu dan disampaikan untuk kebahagiaan duniawi dan ukhrawi manusia. Beberapa cabang agama mengatur hubungan manusia dengan Allah dalam bentuk hukum dan peraturan, serta menetapkan kewajiban-kewajiban seperti shalat, puasa, dan haji. Beberapa lainnya mengatur kewajiban manusia terhadap sesamanya dan mengatur hubungan antarmanusia, seperti jihad, khumus, dan jual beli.&amp;lt;ref&amp;gt;Khatibi Kushkak, Muhammad dan rekan-rekan, Budaya Syiah, Qom, Zamzam Hidayat, 1386 H, halaman 359.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian besar dari rangkaian amal dan perilaku ibadah dalam budaya Islam dikenal sebagai Furu&#039;uddin. Furu&#039;uddin ini berkaitan dengan aspek praktis dari keimanan Islam. Dalam pengajaran umum di kalangan Syiah Imamiyah, Furu&#039;uddin ini mencakup shalat, puasa, zakat, khumus, haji, jihad, amar ma&#039;ruf, nahi munkar, tawalli, dan tabarri. Namun, di kalangan mazhab Ahlusunah, beberapa cabang ini tidak terlalu berkembang dan tidak terlalu ditekankan.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Contoh Furu&#039;uddin ==&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Shalat&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam agama Islam, kewajiban ibadah pertama dan terpenting bagi setiap individu yang mukallaf adalah melaksanakan shalat, yang dilakukan lima kali sehari sebagai pengingat iman dan keyakinan seorang Muslim, serta sebagai sarana untuk mengumpulkan kekuatan batin dan spiritual untuk terhubung dengan sumber alam semesta, yaitu Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Puasa&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Puasa adalah salah satu ibadah dalam Islam di mana seseorang menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal tertentu lainnya dari terbit fajar hingga terbenam matahari untuk mendekatkan diri kepada Allah. Istilah ini dalam bahasa Persia setara dengan kata Arab &amp;quot;shaum&amp;quot; dan &amp;quot;siyam&amp;quot;, yang berarti menahan diri dari makan, minum, berbicara, dan hubungan seksual. Puasa untuk pemurnian jiwa dan penyucian diri telah dipraktikkan dalam banyak agama dan kepercayaan sebelumnya, seperti Maya, Hindu, Buddha, Jain, dan Manichaeisme. Puasa dalam Islam adalah salah satu ibadah penting dan dalam hadis disebut sebagai salah satu dari lima rukun Islam. Dalam hadis, banyak manfaat dan keutamaan material dan spiritual yang disebutkan untuk puasa (terutama puasa bulan Ramadhan), seperti diterimanya amal, dikabulkannya doa, pengampunan dosa, hak atas surga dan kenikmatan akhirat, serta keselamatan dari azab neraka (perisai api), yang menunjukkan perhatian khusus Allah kepada orang yang berpuasa. Tidur orang yang berpuasa dianggap sebagai ibadah, dan napasnya adalah tasbih kepada Allah, serta puasa disebut sebagai zakat tubuh.&amp;lt;ref&amp;gt;Husseini Ahagh, Maryam, &amp;quot;Puasa&amp;quot;, Ensiklopedia Dunia Islam, Teheran, Yayasan Ensiklopedia Islam, 1394 H, jilid 20, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Haji&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan haji dalam teks dan sumber Islam, termasuk sumber fikih, adalah perjalanan ke Baitullah (Ka&#039;bah) untuk melakukan serangkaian ibadah khusus pada waktu tertentu. Menurut beberapa ahli fikih, istilah fikih haji merujuk pada serangkaian tindakan yang dilakukan di tempat-tempat tertentu di Mekah. Serangkaian tindakan ibadah dalam ritual haji disebut manasik haji. Dalam Al-Qur&#039;an, banyak ayat yang membahas haji, dan haji diwajibkan bagi orang yang mampu serta dianggap sebagai salah satu syiar besar yang layak diagungkan.&amp;lt;ref&amp;gt;Husaini Ahagh, Maryam, &amp;quot;Haji&amp;quot;, Ensiklopedia Dunia Islam, Teheran, Yayasan Ensiklopedia Islam, 1393 H, jilid 12, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Zakat&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Al-Qur&#039;an, sebagai salah satu perintah pertama dalam agama Islam, zakat disebutkan puluhan kali bersama dengan perintah untuk mendirikan shalat. Zakat, sebagaimana makna harfiahnya dan juga ditegaskan dalam Al-Qur&#039;an, selain sebagai pembayaran finansial, juga merupakan bentuk &amp;quot;pemurnian&amp;quot; dan &amp;quot;penyucian&amp;quot; batin. Oleh karena itu, dalam penafsiran awal ayat-ayat Al-Qur&#039;an, zakat dianggap sebagai ibadah seperti ibadah lainnya di mana niat dan tujuan mendekatkan diri kepada Allah adalah syarat sahnya. Namun, zakat selain sebagai ibadah individu, juga memiliki aspek sosial sebagai cara untuk mendistribusikan kekayaan dan menyediakan dana untuk kepentingan umum umat Islam.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Khumus&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Al-Qur&#039;an, khumus disebutkan sebagai bagian dari rampasan perang, dan dalam fikih Ahlusunah, khumus hanya berlaku untuk rampasan perang dan beberapa kasus terbatas lainnya. Sebaliknya, dalam fikih Syiah, konsep rampasan dalam ayat tersebut telah diperluas berdasarkan sumber-sumber hadis dan mencakup berbagai topik. Topik utama adalah &amp;quot;keuntungan usaha&amp;quot;, yang menjadikan khumus sebagai pajak umum yang berlaku di semua waktu dan tempat, dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat; artinya, setiap orang yang mukallaf harus menghitung pendapatan usahanya dalam satu tahun keuangan dan membayar seperlima dari kelebihan pendapatan setelah dikurangi kebutuhan tahunan sebagai khumus.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Jihad&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jihad adalah perang yang sah di jalan Allah swt dan merupakan salah satu topik dalam fikih Islam. Konsep utama istilah ini dalam teks-teks keagamaan, seperti penggunaan umumnya, adalah bentuk khusus dari upaya, yaitu berjuang di jalan Allah dengan jiwa, harta, dan aset lainnya dengan tujuan menyebarkan Islam atau membelanya.&amp;lt;ref&amp;gt;Sarrami, Saifullah, dan Said Adalatnejad, &amp;quot;Jihad&amp;quot;, Ensiklopedia Dunia Islam, Teheran, Yayasan Ensiklopedia Islam, 1393 H, jilid 11, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Amar Ma&#039;ruf dan Nahi Munkar&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Amar ma&#039;ruf dan nahi munkar adalah dua istilah yang dalam tafsir klasik Al-Qur&#039;an diartikan sebagai perintah untuk mengikuti Nabi Muhammad saw dan agama Islam, serta larangan untuk kafir kepada Allah dan mendustakan Rasulullah saw dan agamanya. Dapat dikatakan bahwa amar ma&#039;ruf adalah tindakan untuk mewujudkan apa yang sesuai dengan ajaran agama dan dianggap baik, sedangkan nahi munkar adalah reaksi untuk menghancurkan apa yang dianggap buruk.&amp;lt;ref&amp;gt;Jabirizadeh, Abdulamir, &amp;quot;Amar Ma&#039;ruf dan Nahi Munkar&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 10, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Tawalli dan Tabarri&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua prinsip penting, &amp;quot;tawalli&amp;quot; yang berarti mencintai sahabat-sahabat Allah dan pendukung keadilan, dan &amp;quot;tabarri&amp;quot; yang berarti berlepas diri dari para penindas dan musuh-musuh Allah, memiliki penting yang besar dan menyebabkan pendukung keadilan bersatu melawan penindas dan mengakhiri kezaliman dari masyarakat.&amp;lt;ref&amp;gt;&amp;quot;[https://makarem.ir/main.aspx?typeinfo=42&amp;amp;lid=0&amp;amp;catid=29262&amp;amp;mid=318146 Konsep Tawalli dan Tabarri]&amp;quot;, Situs Informasi Kantor Ayatullah Makarim Syirazi, dipublikasikan: 21 Aban 1402 H.&amp;lt;/ref&amp;gt; Tabarri berarti menjalin persahabatan dengan sahabat-sahabat Allah dan menjauhkan diri dari musuh-musuh Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;&amp;quot;Tawalli dan Tabarri&amp;quot;, Situs Komprehensif Syahid Murtadha Muthahhari, dipublikasikan: 21 Aban 1402 H.&amp;lt;/ref&amp;gt; Tawalli dan tabarri digunakan dalam banyak ayat Al-Qur&#039;an dan dari sana memasuki bidang fikih dan teologi. Dalam ayat-ayat ini, dilarang untuk menjalin persahabatan dengan setan, orang kafir, non-Muslim, orang yang dimurkai Allah, dan mereka yang memerangi orang beriman karena agama, dan dianjurkan untuk menjalin persahabatan dengan Allah, Nabi saw, dan orang-orang beriman.&amp;lt;ref&amp;gt;Jabiri, Amir, &amp;quot;Tawalli dan Tabarri&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 16, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pranala Terkait ==&lt;br /&gt;
* [[Prinsip-prinsip agama (Ushuluddin)]]&lt;br /&gt;
* [[Perbedaan antara Ushuluddin dan Furu&#039;uddin]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch =کلام&lt;br /&gt;
|subbranch1 =&lt;br /&gt;
|subbranch2 =&lt;br /&gt;
|subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه =شد&lt;br /&gt;
 | تیترها =شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش =شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی =شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر =شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت =ج&lt;br /&gt;
 | کیفیت =ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa:فروع دین]]&lt;br /&gt;
[[ru:Фуру’ ад-Дин (Ветви религии)]]&lt;br /&gt;
[[ar:فروع الدين]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Imam_Mahdi_as_Dalam_Keyakinan_Ahlusunah&amp;diff=930</id>
		<title>Imam Mahdi as Dalam Keyakinan Ahlusunah</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Imam_Mahdi_as_Dalam_Keyakinan_Ahlusunah&amp;diff=930"/>
		<updated>2025-02-20T22:42:12Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Apakah Ahlusunah meyakini Imam Mahdi as? Siapakah yang mereka anggap sebagai juru selamat Islam?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
{{portal|مهدویت}}&lt;br /&gt;
Keyakinan akan kemunculan seorang penyelamat pada akhir zaman bukanlah suatu hal yang eksklusif bagi kalangan [[Syiah]]. Seluruh umat Islam meyakini bahwa Mahdi berasal dari keturunan Nabi dan merupakan keturunan Husain as, meskipun banyak dari [[Ahlusunah]] meyakini bahwa kelahirannya akan terjadi pada akhir zaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyaknya riwayat mengenai [[Imam Mahdi as]] dalam kitab-kitab hadis dan sumber-sumber otentik Ahlusunah menunjukkan betapa pentingnya riwayat-riwayat ini di kalangan ulama Ahlusunah. Dalam riwayat-riwayat tersebut, selain nama dan ciri-ciri sang penyelamat, beberapa karakteristik lainnya juga disebutkan. Di satu sisi, riwayat-riwayat tentang Mahdi bersifat mutawatir (diriwayatkan oleh banyak orang), dan di sisi lain, banyak ulama Ahlusunah telah mengakui keabsahan riwayat-riwayat tersebut. Kedua hal ini menunjukkan bahwa riwayat-riwayat tentang Mahdi diterima oleh Ahlusunah, dan klaim bahwa riwayat-riwayat tersebut palsu merupakan klaim yang tidak berdasar dan tidak diterima.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Perawi Hadis tentang Mahdi as ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak sahabat dan tabi&#039;in yang meriwayatkan hadis-hadis tentang [[Imam Mahdi as]]. Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, seorang penulis kontemporer Ahlusunah dan dosen di Universitas Madinah, dalam sebuah artikel panjang berjudul &amp;quot;Aqidah Ahlusunah wal Atsar fi Al-Mahdi Al-Muntazhar,&amp;quot; telah mengumpulkan nama-nama 26 sahabat yang meriwayatkan hadis tentang Imam Mahdi as: Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Abdurrahman bin Auf, Hasan bin Ali, Ummu Salamah, Ummu Habibah, Abdullah bin Mas&#039;ud, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amr bin Ash, Abu Sa&#039;id Al-Khudri, Jabir bin Abdullah dari kalangan sahabat, dan dari kalangan tabi&#039;in seperti Muhammad bin Hanafiyah, Qatadah, Makhul, Sa&#039;id bin Jubair, dan lain-lain.&amp;lt;ref&amp;gt;Ali Ridha Ali Nuri, Shenakht-e Hazrat Mahdi as, Qom, Zamzam Hidayat, cetakan ketiga, 1385 HS, halaman 28.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang peneliti lain menyebutkan bahwa terdapat 33 sahabat yang meriwayatkan hadis tentang Mahdi. Selain nama-nama yang telah disebutkan di atas, dia juga menyebutkan nama-nama seperti Thalhah bin Abdullah, Abdullah bin Abbas, Ammar bin Yasir, Tsauban, Qarah bin Iyas Al-Muzani, Abdullah bin Harits, Abu Hurairah, Hudzaifah bin Yaman, Abu Umamah, Jabir bin Majah, Anas bin Malik, dan Imran bin Hushain.&amp;lt;ref&amp;gt;Gholam Hasan Muharrami, Negareshi Tarikhi be Hayat-e Imam Zaman as, Qom, Partow Wilayat, cetakan kedua, 1392 HS, halaman 42.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, persoalan Mahdawiyyah secara umum diterima di kalangan umat Islam, dan ulama besar [[Ahlusunah]] juga telah mengakui keabsahannya. Di antara mereka, kita dapat menyebut nama-nama seperti Abu Dawud, Ahmad bin Hanbal, Tirmidzi, Ibnu Majah, Hakim, Nasa&#039;i, Thabrani, Ruyani, Abu Nu&#039;aim Al-Isfahani, Ad-Dailami, Al-Baihaqi, Al-Tsa&#039;labi, Al-Hamuwaini, Al-Munawi, Ibnu Maghazili, Muhammad Al-Shabban, Al-Mawardi, Al-Kanji Al-Syafi&#039;i, As-Sam&#039;ani, Al-Khawarizmi, Al-Sya&#039;rani, Al-Daraquthni, Ibnu Shabagh Al-Maliki, Al-Syablanji, Muhyiddin Al-Thabari, Ibnu Hajar Al-Haitami, Syaikh Manshur Ali Nashif, Muhammad bin Thalhah, Jalaluddin Al-Suyuthi, Syaikh Sulaiman Al-Hanafi, Al-Qurthubi, Al-Baghawi, dan lain-lain yang telah mencatat berita tentang Mahdi secara rinci dalam kitab-kitab mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat Ayatullah Shafi Golpayegani, Navid-e Amn wa Aman, Tehran, Darul Kutub Al-Islamiyah, halaman 91-92.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa riwayat ini membahas mengenai nasab beliau, sebagian mengenai metode pemerintahan dan penyebaran keadilan, dan sebagian lainnya mengenai tanda-tanda serta peristiwa sebelum kemunculannya, serta hal-hal lain yang terkait dengan beliau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang peneliti menulis: &amp;quot;Tidaklah berlebihan jika kita menyatakan bahwa tidak ada seorang pun ahli hadis dari kalangan Muslim kecuali dia telah meriwayatkan beberapa hadis yang memberikan kabar gembira tentang kemunculan Imam Mahdi as pada akhir zaman.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Sayid Tsamir Hasyim Al-Amidi, Dar Intizar-e Qoqnoos, terjemahan Mahdi Alizadeh, Qom, Muassasah Imam Khomeini, cetakan pertama, 1379 HS, halaman 66.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penulis yang sama juga memberikan daftar lengkap beberapa halaman mengenai ulama dan ahli hadis Ahlusunah yang telah meriwayatkan hadis dan riwayat tentang Imam Mahdi as dalam kitab-kitab mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat Dar Intizar-e Qoqnoos, halaman 66-68.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Ulama Ahlusunah dan Pengakuan atas Riwayat Mahdi as ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keabsahan hadis-hadis tentang Mahdi as telah diakui oleh banyak ulama besar Ahlusunah. Berdasarkan penelitian mendalam oleh Al-Amidi, jumlah ulama yang secara tegas mengakui keabsahan hadis-hadis tentang Mahdi as mencapai lebih dari 60 orang. Di sini, kami hanya menyebutkan beberapa nama di antaranya:&lt;br /&gt;
* Imam Tirmidzi (W. 279 H); beliau menganggap riwayat-riwayat tentang Mahdi sebagai hasan dan sahih.&lt;br /&gt;
* Hafiz Abu Ja&#039;far Al-Uqaili (W. 322 H);&lt;br /&gt;
* Hakim Naisaburi (W. 405 H);&lt;br /&gt;
* Imam Baihaqi (W. 458 H);&lt;br /&gt;
* Imam Baghawi (W. 510 H);&lt;br /&gt;
* Al-Qurthubi Al-Maliki (W. 671 H);&lt;br /&gt;
* [[Ibnu Taimiyah]] (W. 728 H); beliau menulis: &amp;quot;Hadis-hadis yang dia-yaitu Allamah al-Hilli-gunakan untuk membuktikan kebangkitan Mahdi adalah hadis-hadis yang sahih.&amp;quot;&lt;br /&gt;
* Hafiz Adz-Dzahabi (W. 748 H);&lt;br /&gt;
* Hafiz Ibnu Qayyim (W. 751 H);&lt;br /&gt;
* Al-Taftazani (W. 793 H);&lt;br /&gt;
* Nuruddin Al-Haitsami (W. 807 H);&lt;br /&gt;
* Al-Suyuthi (W. 911 H);&lt;br /&gt;
* Al-Syaukani (W. 1250 H).&amp;lt;ref&amp;gt;Dar Intizar-e Qoqnoos, halaman 72-76.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang lebih menarik, ulama besar kontemporer Ahlusunah seperti Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga menerima keabsahan riwayat-riwayat tentang Mahdi; sebagaimana yang dikisahkan oleh Ustadz Khosroshahi bahwa Syaikh bin Baz dalam sebuah ceramah tentang &amp;quot;Mahdi&amp;quot; berkata: &amp;quot;Saya mengetahui banyak hadis-hadis ini, dan di antaranya, sebagaimana yang dikatakan oleh Asy-Syaukani, Ibnu Qayyim, dan lainnya, saya menemukan hadis-hadis yang sahih, hasan (baik), dan dhaif yang diperkuat, serta berita-berita palsu. Namun, dari semua itu, apa yang sanadnya kuat sudah cukup bagi kita! Baik itu sendiri &#039;sahih&#039; atau menjadi sahih karena sanad hadis lain, atau sendiri hasan, atau menjadi hasan karena sanad hadis lain. Demikian juga hadis-hadis dhaif jika diperkuat dan saling menguatkan, maka itu menjadi hujjah di mata ulama; oleh karena itu, mutawatir-nya dari segi keragaman lafaz, makna, banyaknya jalur, dan keragaman sumber diterima, dan ulama terpercaya telah memberikan pendapat tentang keabsahan dan kemutawatirannya, dan kami telah melihat bahwa ulama telah membuktikan banyak hal dengan kurang dari ini, dan yang benar adalah bahwa mayoritas ulama sepakat tentang keabsahan masalah Mahdi dan bahwa dia adalah benar dan akan muncul di akhir zaman. Jika ada ulama yang memiliki pendapat yang bertentangan dengan ini, pendapatnya tidak dianggap.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Sayid Hadi Khosroshahi, Mushlih Jahani wa Mahdi Muntazhar, Tehran, Penerbitan Ettela&#039;at, cetakan kedua, 1374 HS, halaman 106.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, seorang ulama kontemporer Saudi yang telah melakukan penelitian mendalam tentang Mahdi as, mengatakan tentang hal ini dan motivasi karyanya: ::&amp;quot;Saya telah menulis baris-baris ini untuk menunjukkan kesalahan dan kekeliruan dia (salah satu ulama Qatar) dalam risalah itu, agar menjadi jelas bahwa banyak hadis sahih yang menunjukkan kemunculan Mahdi di akhir zaman, dan ulama masa lalu dan kontemporer Ahlusunah sepakat tentang hal ini; kecuali mereka yang telah menyimpang dari jalan kebenaran dan mengikuti pendapat yang aneh.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Mushlih Jahani wa Mahdi Muntazhar, halaman 113.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ulama Sunni ini telah melakukan penelitian mendalam tentang Mahdi Al-Muntazhar as dan membuktikan keabsahan riwayat-riwayat tentang Mahdi dan kemunculannya. Ustadz Khosroshahi telah menerbitkannya dalam bahasa Persia dengan judul &amp;quot;Mushlih Jahani wa Mahdi Muntazhar az Didgah-e Syiah wa Ahlusunah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kemutawatiran Hadis tentang Mahdi as dalam Sumber Ahlusunah ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan merujuk kepada kitab-kitab ulama hadis besar Ahlusunah, kita melihat bahwa mereka telah meriwayatkan banyak hadis tentang Imam Mahdi as dari [[Rasulullah saw]] dalam kitab-kitab mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat Al-Amidi, op.cit., halaman 69.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sebenarnya, ulama hadis Ahlusunah dari masa ke masa telah sangat memperhatikan hadis-hadis tentang Imam Mahdi as dan mengumpulkannya baik dalam kitab-kitab hadis umum maupun khusus. Di antara ulama hadis terkenal Ahlusunah yang telah berusaha meriwayatkan hadis-hadis tentang Mahdi as adalah: Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Nasa&#039;i dalam kitab &amp;quot;Sunan&amp;quot; mereka, Ahmad bin Hanbal dalam &amp;quot;Musnad,&amp;quot; dan Hakim Naisaburi dalam kitab &amp;quot;Al-Mustadrak &#039;ala Ash-Shahihain.&amp;quot; Beberapa ulama dan ahli hadis Ahlusunah lainnya seperti As-Suyuthi, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan pemilik &amp;quot;Kanzul Ummal&amp;quot; juga telah menulis karya khusus dan terpisah tentang Imam Mahdi as.&amp;lt;ref&amp;gt;Shenakht-e Hazrat Mahdi as, halaman 28.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebanyak 17 ulama besar Ahlusunah telah secara tegas menyatakan bahwa hadis-hadis tentang Mahdi dalam kitab-kitab mereka bersifat mutawatir.&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat Mahdi Pishva&#039;i, Sireh-ye Pishvayan, Qom, Penerbitan Muassasah Imam Shadiq, cetakan kedelapan, 1378 HS, halaman 698.&amp;lt;/ref&amp;gt; Al-Amidi, salah satu peneliti yang telah banyak bekerja dalam bidang ini, menulis: &amp;quot;Ulama ilmu dirayah dan beberapa orang yang memiliki keahlian dalam pengajaran atau penelitian ilmu hadis telah secara tegas menyatakan bahwa hadis-hadis tentang Mahdi dalam kitab-kitab Ahlusunah, seperti Shahih dan Musnad, bersifat mutawatir.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Dar Intizar-e Qoqnoos, halaman 76.&amp;lt;/ref&amp;gt; Kemudian beliau secara detail menyebutkan nama-nama dan pernyataan mereka. Di antara mereka, terdapat nama-nama besar seperti Al-Barbahari Al-Hanbali (W. 329 H), Muhammad bin Husain Al-Abri Al-Syafi&#039;i (W. 363 H), Al-Qurthubi Al-Maliki (W. 671 H), Hafiz Jamaluddin Al-Mizi (W. 742 H), Ibnu Qayyim Al-Jauzi (W. 751 H), Syamsuddin Al-Sakhawi (W. 902 H), Al-Suyuthi (wafat 911 H), Ibnu Hajar Al-Haitami (W. 974 H), dan Al-Muttaqi Al-Hindi (W. 975 H), dan lain-lain.&amp;lt;ref&amp;gt;Dar Intizar-e Qoqnoos, halaman 76-80.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlu dicatat bahwa hadis mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh banyak perawi di setiap tingkatan sehingga mustahil bagi mereka untuk sepakat berbohong. Berita seperti ini biasanya memberikan kepastian. Sebaliknya, hadis ahad hanya memberikan dugaan.&amp;lt;ref&amp;gt;Syaikh Abdullah Mamaqani, Miqyas al-Hidayah fi Ilm ad-Dirayah, Qom, Muassasah Al-Bait li Ihya at-Turats, cetakan pertama, 1411 H, jilid 1, halaman 108-112.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Contoh Pernyataan Ulama Ahlusunah tentang Kemutawatiran Berita Mahdi ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Hafiz Abu Abdullah Al-Kanji Al-Syafi&#039;i (W. 658 H) dalam kitab &amp;quot;Al-Bayan fi Akhbar Sahib az-Zaman&amp;quot; menulis: {{arabic|translation=&amp;quot;Hadis-hadis Nabi saw tentang Mahdi, karena banyaknya perawi, telah mencapai tingkat mutawatir.&amp;quot;}}&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Bayan fi Akhbar Sahib az-Zaman, Qom, Muassasah An-Nasyr Al-Islami, cetakan keenam, 1417 H, halaman 124.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Ibnu Hajar Al-Asqalani Al-Syafi&#039;i (W. 852 H), dalam kitab &amp;quot;Fath al-Bari fi Syarh Shahih al-Bukhari,&amp;quot; menulis: {{arabic|translation=&amp;quot;Ada hadis-hadis mutawatir yang menunjukkan bahwa Mahdi as berasal dari umat ini, dan Isa as akan turun dari langit dan shalat di belakangnya.&amp;quot;}}&amp;lt;ref&amp;gt;Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, jilid 6, halaman 493-494.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Syaikh Manshur Ali Nashif, seorang ulama besar kontemporer Al-Azhar dan penulis kitab &amp;quot;AlTaj al-Jami&#039; li al-Ushul,&amp;quot; menulis: {{arabic|translation=&amp;quot;Di antara ulama masa lalu dan sekarang, terkenal bahwa di akhir zaman pasti akan muncul seorang laki-laki dari Ahlul Bait Nabi yang namanya Mahdi. Dia akan menguasai semua negara Islam. Semua Muslim akan mengikutinya, dia akan berbuat adil di antara mereka, dan dia akan memperkuat agama. Kemudian Dajjal akan muncul, dan Isa Al-Masih akan turun dari langit dan membunuh Dajjal, atau bekerja sama dengan Mahdi dalam membunuh Dajjal. Sabda dan hadis Nabi tentang Mahdi telah diriwayatkan oleh sekelompok sahabat Nabi yang baik, dan ulama hadis besar seperti Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Thabrani, Abu Ya&#039;la, Al-Bazzar, Imam Ahmad bin Hanbal, dan Hakim Naisaburi telah meriwayatkan hadis-hadis tersebut dalam kitab-kitab mereka.&amp;quot;}}&amp;lt;ref&amp;gt;At-Taj al-Jami&#039; li al-Ushul, Kairo, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, cetakan kedua, jilid 5, halaman 310.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Contoh Riwayat tentang Mahdi (ajf) dalam Sumber-Sumber Ahlusunah ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Janji tentang Kemunculan Sang Penyelamat===&lt;br /&gt;
* Dari [[Ummu Salamah]] diriwayatkan: &amp;quot;Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: {{arabic|translation=&amp;quot;Mahdi yang dijanjikan berasal dari keturunanku dan anak-anak [[Fatimah sa]].&amp;quot;}}&amp;lt;ref&amp;gt;Abu Dawud, Sunan, tahqiq Sa&#039;id Muhammad Al-Lahham, Darul Fikr, cetakan pertama, 1410 H, jilid 2, halaman 310.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
* [[Imam Ali bin Abi Thalib as]] meriwayatkan dari Nabi saw bahwa beliau bersabda: {{arabic|translation=&amp;quot;Jika dunia hanya tersisa satu hari, Allah akan mengutus seorang laki-laki dari Ahlul Baitku untuk memenuhi bumi dengan keadilan, sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman.&amp;quot;}}&amp;lt;ref&amp;gt;Ibid.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Abu Sa&#039;id Al-Khudri berkata: &amp;quot;Rasulullah saw bersabda: {{arabic|translation=&amp;quot;Mahdi kami memiliki dahi yang lebar dan hidung yang mancung. Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan, sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman. Dia akan memerintah selama tujuh tahun.&amp;quot;}}&amp;lt;ref&amp;gt;Ibid., halaman 208.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, semua mazhab dalam agama Islam meyakini Imam Mahdi as dan kemunculannya di akhir zaman sebagai sang penyelamat. Namun, mengenai waktu kelahiran beliau, berbagai mazhab Islam memiliki pendapat yang berbeda. Ibnu Abi Al-Hadid, seorang ulama Ahlusunah, menulis tentang Imam Zaman: &amp;quot;Telah menjadi kesepakatan di antara semua Muslim bahwa usia dunia dan hukum-hukum syariat tidak akan berakhir kecuali setelah [[kemunculan Mahdi as]].&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Shafi Golpayegani, Luthfullah, Muntakhab al-Atsar, Tehran, Mansyurat Maktabah Shadr, tanpa tahun, halaman 3.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Perbedaan Pendapat antara Ahlusunah dan Syiah tentang Imam Zaman as==&lt;br /&gt;
Tidak diragukan lagi bahwa semua mazhab Islam, baik [[Ahlusunah]] maupun [[Syiah]], serta semua cabang yang berasal dari keduanya, meyakini [[Imam Zaman ajf]] dan kemunculannya di [[akhir zaman]]. Namun, mengenai apakah beliau saat ini masih hidup atau akan lahir di akhir zaman, terdapat perbedaan pendapat di antara mazhab-mazhab Islam. Perbedaan ini cukup mencolok di kalangan Ahlusunah, dan dapat dibagi menjadi dua poin:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Keyakinan bahwa Mahdi as Masih Hidup===&lt;br /&gt;
Sebagian ulama Ahlusunah meyakini bahwa Imam Mahdi ajf telah lahir dan saat ini masih hidup, serta akan muncul di akhir zaman. Di antara yang berpendapat demikian adalah Hafiz Sulaiman bin Ibrahim Al-Qunduzi Al-Hanafi (1294 H), Syaikh Mu&#039;min bin Hasan bin Mu&#039;min Al-Syablanji Al-Syafi&#039;i, Sibth Ibnu Al-Jauzi (654 H), Al-Kanji Al-Syafi&#039;i (658 H), dan lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Qunduzi Al-Hanafi dalam Yanabi&#039; al-Mawaddah menjelaskan secara rinci tentang ayah, ibu, dan proses kelahiran beliau berdasarkan riwayat [[Hakimah Khatun]], putri [[Imam Jawad as]].&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Qunduzi Al-Hanafi, Sulaiman bin Ibrahim, Yanabi&#039; al-Mawaddah, Qom, Penerbitan Syarif Radhi, cetakan pertama, 1371 HS, jilid 2, halaman 464.&amp;lt;/ref&amp;gt; Al-Syablanji dalam Nur al-Abshar,&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Syablanji Al-Syafi&#039;i, Mu&#039;min bin Hasan bin Mu&#039;min, Nur al-Abshar, Beirut, Darul Jabil, 1409 H, halaman 342.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ibnu Al-Jauzi dalam Tadzkirat al-Khawash,&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Al-Jauzi, Tadzkirat al-Khawash, Beirut, Muassasah Ahlul Bait, 1401 H, halaman 325.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan Al-Kanji Al-Syafi&#039;i dalam Al-Bayan juga menyebutkan hal-hal serupa.&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Kanji Al-Syafi&#039;i, Al-Bayan fi Akhbar Sahib az-Zaman ajf, Mansyurat Muassasah Al-Hadi lil Mathbu&#039;at, 1399 H, halaman 148.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kelahiran di Akhir Zaman===&lt;br /&gt;
Sebagian ulama Ahlusunah lainnya berpendapat bahwa Imam Mahdi ajf akan lahir di akhir zaman dan kemudian muncul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mayoritas ulama Ahlusunah termasuk dalam kelompok kedua ini, meskipun dalam riwayat-riwayat mereka sering disebutkan bahwa beliau berasal dari keturunan [[Nabi saw]], [[Ali bin Abi Thalib as]], [[Sayidah Fatimah sa]], kemudian dari keturunan [[Imam Husain as]], serta dari keturunan [[Imam Ridha as]] dan [[Imam Hasan Al-Askari as]].&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Juwaini, Ibrahim bin Muhammad, Fara&#039;id as-Simthin, Beirut, Muassasah Al-Muhammadi lil Thiba&#039;ah wan Nasyr, cetakan pertama, 1400 H, jilid 2, halaman 318, 320, 323, 329, dan 337.&amp;lt;/ref&amp;gt; Namun, pada akhirnya mereka mengatakan bahwa beliau belum lahir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bacaan Lebih Lanjut ==&lt;br /&gt;
* Imam-Imam Ahlul Bait as dalam Pandangan Ahlusunah, Dawud Al-Hamami.&lt;br /&gt;
* Al-Imam Al-Mahdi &#039;inda Ahlusunah, Mahdi Faqih Imani.&lt;br /&gt;
* Muntakhab al-Atsar, Ayatullah Shafi Golpayegani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch =مهدویت&lt;br /&gt;
 | subbranch1 =مهدویت نزد اهل‌سنت&lt;br /&gt;
 | subbranch2 =&lt;br /&gt;
 | subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه =&lt;br /&gt;
 | تیترها =&lt;br /&gt;
 | ویرایش =شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی =شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر =شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی نویسنده =&lt;br /&gt;
 | ارزیابی کمی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت = ب&lt;br /&gt;
 | کیفیت = ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
{{footnotes}}&lt;br /&gt;
[[en:Imam al-Mahdi (aj) in Sunni Beliefs]]&lt;br /&gt;
[[fa:امام زمان(ع) در عقاید اهل‌سنت]]&lt;br /&gt;
[[es:El Imam Mahdi (P) en las Creencias de los Sunitas]]&lt;br /&gt;
[[ar:الإمام المهدي (ع) في عقائد أهل السنة]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Imam_Mahdi_as_Dalam_Keyakinan_Ahlusunah&amp;diff=929</id>
		<title>Imam Mahdi as Dalam Keyakinan Ahlusunah</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Imam_Mahdi_as_Dalam_Keyakinan_Ahlusunah&amp;diff=929"/>
		<updated>2025-02-20T20:21:30Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Apakah Ahlusunah meyakini Imam Mahdi as? Siapakah yang mereka anggap sebagai juru selamat Islam?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
{{portal|مهدویت}}&lt;br /&gt;
Keyakinan akan kemunculan seorang penyelamat pada akhir zaman bukanlah suatu hal yang eksklusif bagi kalangan [[Syiah]]. Seluruh umat Islam meyakini bahwa Mahdi berasal dari keturunan Nabi dan merupakan keturunan Husain as, meskipun banyak dari [[Ahlusunah]] meyakini bahwa kelahirannya akan terjadi pada akhir zaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyaknya riwayat mengenai [[Imam Mahdi as]] dalam kitab-kitab hadis dan sumber-sumber otentik Ahlusunah menunjukkan betapa pentingnya riwayat-riwayat ini di kalangan ulama Ahlusunah. Dalam riwayat-riwayat tersebut, selain nama dan ciri-ciri sang penyelamat, beberapa karakteristik lainnya juga disebutkan. Di satu sisi, riwayat-riwayat tentang Mahdi bersifat mutawatir (diriwayatkan oleh banyak orang), dan di sisi lain, banyak ulama Ahlusunah telah mengakui keabsahan riwayat-riwayat tersebut. Kedua hal ini menunjukkan bahwa riwayat-riwayat tentang Mahdi diterima oleh Ahlusunah, dan klaim bahwa riwayat-riwayat tersebut palsu merupakan klaim yang tidak berdasar dan tidak diterima.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Perawi Hadis tentang Mahdi as ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak sahabat dan tabi&#039;in yang meriwayatkan hadis-hadis tentang [[Imam Mahdi as]]. Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, seorang penulis kontemporer Ahlusunah dan dosen di Universitas Madinah, dalam sebuah artikel panjang berjudul &amp;quot;Aqidah Ahlusunah wal Atsar fi Al-Mahdi Al-Muntazhar,&amp;quot; telah mengumpulkan nama-nama 26 sahabat yang meriwayatkan hadis tentang Imam Mahdi as: Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Abdurrahman bin Auf, Hasan bin Ali, Ummu Salamah, Ummu Habibah, Abdullah bin Mas&#039;ud, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amr bin Ash, Abu Sa&#039;id Al-Khudri, Jabir bin Abdullah dari kalangan sahabat, dan dari kalangan tabi&#039;in seperti Muhammad bin Hanafiyah, Qatadah, Makhul, Sa&#039;id bin Jubair, dan lain-lain.&amp;lt;ref&amp;gt;Ali Ridha Ali Nuri, Shenakht-e Hazrat Mahdi as, Qom, Zamzam Hidayat, cetakan ketiga, 1385 HS, halaman 28.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang peneliti lain menyebutkan bahwa terdapat 33 sahabat yang meriwayatkan hadis tentang Mahdi. Selain nama-nama yang telah disebutkan di atas, dia juga menyebutkan nama-nama seperti Thalhah bin Abdullah, Abdullah bin Abbas, Ammar bin Yasir, Tsauban, Qarah bin Iyas Al-Muzani, Abdullah bin Harits, Abu Hurairah, Hudzaifah bin Yaman, Abu Umamah, Jabir bin Majah, Anas bin Malik, dan Imran bin Hushain.&amp;lt;ref&amp;gt;Gholam Hasan Muharrami, Negareshi Tarikhi be Hayat-e Imam Zaman as, Qom, Partow Wilayat, cetakan kedua, 1392 HS, halaman 42.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, persoalan Mahdawiyyah secara umum diterima di kalangan umat Islam, dan ulama besar [[Ahlusunah]] juga telah mengakui keabsahannya. Di antara mereka, kita dapat menyebut nama-nama seperti Abu Dawud, Ahmad bin Hanbal, Tirmidzi, Ibnu Majah, Hakim, Nasa&#039;i, Thabrani, Ruyani, Abu Nu&#039;aim Al-Isfahani, Ad-Dailami, Al-Baihaqi, Al-Tsa&#039;labi, Al-Hamuwaini, Al-Munawi, Ibnu Maghazili, Muhammad Al-Shabban, Al-Mawardi, Al-Kanji Al-Syafi&#039;i, As-Sam&#039;ani, Al-Khawarizmi, Al-Sya&#039;rani, Al-Daraquthni, Ibnu Shabagh Al-Maliki, Al-Syablanji, Muhyiddin Al-Thabari, Ibnu Hajar Al-Haitami, Syaikh Manshur Ali Nashif, Muhammad bin Thalhah, Jalaluddin Al-Suyuthi, Syaikh Sulaiman Al-Hanafi, Al-Qurthubi, Al-Baghawi, dan lain-lain yang telah mencatat berita tentang Mahdi secara rinci dalam kitab-kitab mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat Ayatullah Shafi Golpayegani, Navid-e Amn wa Aman, Tehran, Darul Kutub Al-Islamiyah, halaman 91-92.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa riwayat ini membahas mengenai nasab beliau, sebagian mengenai metode pemerintahan dan penyebaran keadilan, dan sebagian lainnya mengenai tanda-tanda serta peristiwa sebelum kemunculannya, serta hal-hal lain yang terkait dengan beliau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang peneliti menulis: &amp;quot;Tidaklah berlebihan jika kita menyatakan bahwa tidak ada seorang pun ahli hadis dari kalangan Muslim kecuali dia telah meriwayatkan beberapa hadis yang memberikan kabar gembira tentang kemunculan Imam Mahdi as pada akhir zaman.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Sayid Tsamir Hasyim Al-Amidi, Dar Intizar-e Qoqnoos, terjemahan Mahdi Alizadeh, Qom, Muassasah Imam Khomeini, cetakan pertama, 1379 HS, halaman 66.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penulis yang sama juga memberikan daftar lengkap beberapa halaman mengenai ulama dan ahli hadis Ahlusunah yang telah meriwayatkan hadis dan riwayat tentang Imam Mahdi as dalam kitab-kitab mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat Dar Intizar-e Qoqnoos, halaman 66-68.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Ulama Ahlusunah dan Pengakuan atas Riwayat Mahdi as ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keabsahan hadis-hadis tentang Mahdi as telah diakui oleh banyak ulama besar Ahlusunah. Berdasarkan penelitian mendalam oleh Al-Amidi, jumlah ulama yang secara tegas mengakui keabsahan hadis-hadis tentang Mahdi as mencapai lebih dari 60 orang. Di sini, kami hanya menyebutkan beberapa nama di antaranya:&lt;br /&gt;
* Imam Tirmidzi (W. 279 H); beliau menganggap riwayat-riwayat tentang Mahdi sebagai hasan dan sahih.&lt;br /&gt;
* Hafiz Abu Ja&#039;far Al-Uqaili (W. 322 H);&lt;br /&gt;
* Hakim Naisaburi (W. 405 H);&lt;br /&gt;
* Imam Baihaqi (W. 458 H);&lt;br /&gt;
* Imam Baghawi (W. 510 H);&lt;br /&gt;
* Al-Qurthubi Al-Maliki (W. 671 H);&lt;br /&gt;
* [[Ibnu Taimiyah]] (W. 728 H); beliau menulis: &amp;quot;Hadis-hadis yang dia-yaitu Allamah al-Hilli-gunakan untuk membuktikan kebangkitan Mahdi adalah hadis-hadis yang sahih.&amp;quot;&lt;br /&gt;
* Hafiz Adz-Dzahabi (W. 748 H);&lt;br /&gt;
* Hafiz Ibnu Qayyim (W. 751 H);&lt;br /&gt;
* Al-Taftazani (W. 793 H);&lt;br /&gt;
* Nuruddin Al-Haitsami (W. 807 H);&lt;br /&gt;
* Al-Suyuthi (W. 911 H);&lt;br /&gt;
* Al-Syaukani (W. 1250 H).&amp;lt;ref&amp;gt;Dar Intizar-e Qoqnoos, halaman 72-76.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang lebih menarik, ulama besar kontemporer Ahlusunah seperti Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga menerima keabsahan riwayat-riwayat tentang Mahdi; sebagaimana yang dikisahkan oleh Ustadz Khosroshahi bahwa Syaikh bin Baz dalam sebuah ceramah tentang &amp;quot;Mahdi&amp;quot; berkata: &amp;quot;Saya mengetahui banyak hadis-hadis ini, dan di antaranya, sebagaimana yang dikatakan oleh Asy-Syaukani, Ibnu Qayyim, dan lainnya, saya menemukan hadis-hadis yang sahih, hasan (baik), dan dhaif yang diperkuat, serta berita-berita palsu. Namun, dari semua itu, apa yang sanadnya kuat sudah cukup bagi kita! Baik itu sendiri &#039;sahih&#039; atau menjadi sahih karena sanad hadis lain, atau sendiri hasan, atau menjadi hasan karena sanad hadis lain. Demikian juga hadis-hadis dhaif jika diperkuat dan saling menguatkan, maka itu menjadi hujjah di mata ulama; oleh karena itu, mutawatir-nya dari segi keragaman lafaz, makna, banyaknya jalur, dan keragaman sumber diterima, dan ulama terpercaya telah memberikan pendapat tentang keabsahan dan kemutawatirannya, dan kami telah melihat bahwa ulama telah membuktikan banyak hal dengan kurang dari ini, dan yang benar adalah bahwa mayoritas ulama sepakat tentang keabsahan masalah Mahdi dan bahwa dia adalah benar dan akan muncul di akhir zaman. Jika ada ulama yang memiliki pendapat yang bertentangan dengan ini, pendapatnya tidak dianggap.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Sayid Hadi Khosroshahi, Mushlih Jahani wa Mahdi Muntazhar, Tehran, Penerbitan Ettela&#039;at, cetakan kedua, 1374 HS, halaman 106.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, seorang ulama kontemporer Saudi yang telah melakukan penelitian mendalam tentang Mahdi as, mengatakan tentang hal ini dan motivasi karyanya: ::&amp;quot;Saya telah menulis baris-baris ini untuk menunjukkan kesalahan dan kekeliruan dia (salah satu ulama Qatar) dalam risalah itu, agar menjadi jelas bahwa banyak hadis sahih yang menunjukkan kemunculan Mahdi di akhir zaman, dan ulama masa lalu dan kontemporer Ahlusunah sepakat tentang hal ini; kecuali mereka yang telah menyimpang dari jalan kebenaran dan mengikuti pendapat yang aneh.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Mushlih Jahani wa Mahdi Muntazhar, halaman 113.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ulama Sunni ini telah melakukan penelitian mendalam tentang Mahdi Al-Muntazhar as dan membuktikan keabsahan riwayat-riwayat tentang Mahdi dan kemunculannya. Ustadz Khosroshahi telah menerbitkannya dalam bahasa Persia dengan judul &amp;quot;Mushlih Jahani wa Mahdi Muntazhar az Didgah-e Syiah wa Ahlusunah.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kemutawatiran Hadis tentang Mahdi as dalam Sumber Ahlusunah ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan merujuk kepada kitab-kitab ulama hadis besar Ahlusunah, kita melihat bahwa mereka telah meriwayatkan banyak hadis tentang Imam Mahdi as dari [[Rasulullah saw]] dalam kitab-kitab mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat Al-Amidi, op.cit., halaman 69.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sebenarnya, ulama hadis Ahlusunah dari masa ke masa telah sangat memperhatikan hadis-hadis tentang Imam Mahdi as dan mengumpulkannya baik dalam kitab-kitab hadis umum maupun khusus. Di antara ulama hadis terkenal Ahlusunah yang telah berusaha meriwayatkan hadis-hadis tentang Mahdi as adalah: Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Nasa&#039;i dalam kitab &amp;quot;Sunan&amp;quot; mereka, Ahmad bin Hanbal dalam &amp;quot;Musnad,&amp;quot; dan Hakim Naisaburi dalam kitab &amp;quot;Al-Mustadrak &#039;ala Ash-Shahihain.&amp;quot; Beberapa ulama dan ahli hadis Ahlusunah lainnya seperti As-Suyuthi, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan pemilik &amp;quot;Kanzul Ummal&amp;quot; juga telah menulis karya khusus dan terpisah tentang Imam Mahdi as.&amp;lt;ref&amp;gt;Shenakht-e Hazrat Mahdi as, halaman 28.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebanyak 17 ulama besar Ahlusunah telah secara tegas menyatakan bahwa hadis-hadis tentang Mahdi dalam kitab-kitab mereka bersifat mutawatir.&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat Mahdi Pishva&#039;i, Sireh-ye Pishvayan, Qom, Penerbitan Muassasah Imam Shadiq, cetakan kedelapan, 1378 HS, halaman 698.&amp;lt;/ref&amp;gt; Al-Amidi, salah satu peneliti yang telah banyak bekerja dalam bidang ini, menulis: &amp;quot;Ulama ilmu dirayah dan beberapa orang yang memiliki keahlian dalam pengajaran atau penelitian ilmu hadis telah secara tegas menyatakan bahwa hadis-hadis tentang Mahdi dalam kitab-kitab Ahlusunah, seperti Shahih dan Musnad, bersifat mutawatir.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Dar Intizar-e Qoqnoos, halaman 76.&amp;lt;/ref&amp;gt; Kemudian beliau secara detail menyebutkan nama-nama dan pernyataan mereka. Di antara mereka, terdapat nama-nama besar seperti Al-Barbahari Al-Hanbali (W. 329 H), Muhammad bin Husain Al-Abri Al-Syafi&#039;i (W. 363 H), Al-Qurthubi Al-Maliki (W. 671 H), Hafiz Jamaluddin Al-Mizi (W. 742 H), Ibnu Qayyim Al-Jauzi (W. 751 H), Syamsuddin Al-Sakhawi (W. 902 H), Al-Suyuthi (wafat 911 H), Ibnu Hajar Al-Haitami (W. 974 H), dan Al-Muttaqi Al-Hindi (W. 975 H), dan lain-lain.&amp;lt;ref&amp;gt;Dar Intizar-e Qoqnoos, halaman 76-80.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlu dicatat bahwa hadis mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh banyak perawi di setiap tingkatan sehingga mustahil bagi mereka untuk sepakat berbohong. Berita seperti ini biasanya memberikan kepastian. Sebaliknya, hadis ahad hanya memberikan dugaan.&amp;lt;ref&amp;gt;Syaikh Abdullah Mamaqani, Miqyas al-Hidayah fi Ilm ad-Dirayah, Qom, Muassasah Al-Bait li Ihya at-Turats, cetakan pertama, 1411 H, jilid 1, halaman 108-112.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Contoh Pernyataan Ulama Ahlusunah tentang Kemutawatiran Berita Mahdi ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Hafiz Abu Abdullah Al-Kanji Al-Syafi&#039;i (W. 658 H) dalam kitab &amp;quot;Al-Bayan fi Akhbar Sahib az-Zaman&amp;quot; menulis: {{arabic|translation=&amp;quot;Hadis-hadis Nabi saw tentang Mahdi, karena banyaknya perawi, telah mencapai tingkat mutawatir.&amp;quot;}}&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Bayan fi Akhbar Sahib az-Zaman, Qom, Muassasah An-Nasyr Al-Islami, cetakan keenam, 1417 H, halaman 124.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Ibnu Hajar Al-Asqalani Al-Syafi&#039;i (W. 852 H), dalam kitab &amp;quot;Fath al-Bari fi Syarh Shahih al-Bukhari,&amp;quot; menulis: {{arabic|translation=&amp;quot;Ada hadis-hadis mutawatir yang menunjukkan bahwa Mahdi as berasal dari umat ini, dan Isa as akan turun dari langit dan shalat di belakangnya.&amp;quot;}}&amp;lt;ref&amp;gt;Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, jilid 6, halaman 493-494.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Syaikh Manshur Ali Nashif, seorang ulama besar kontemporer Al-Azhar dan penulis kitab &amp;quot;AlTaj al-Jami&#039; li al-Ushul,&amp;quot; menulis: {{arabic|translation=&amp;quot;Di antara ulama masa lalu dan sekarang, terkenal bahwa di akhir zaman pasti akan muncul seorang laki-laki dari Ahlul Bait Nabi yang namanya Mahdi. Dia akan menguasai semua negara Islam. Semua Muslim akan mengikutinya, dia akan berbuat adil di antara mereka, dan dia akan memperkuat agama. Kemudian Dajjal akan muncul, dan Isa Al-Masih akan turun dari langit dan membunuh Dajjal, atau bekerja sama dengan Mahdi dalam membunuh Dajjal. Sabda dan hadis Nabi tentang Mahdi telah diriwayatkan oleh sekelompok sahabat Nabi yang baik, dan ulama hadis besar seperti Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Thabrani, Abu Ya&#039;la, Al-Bazzar, Imam Ahmad bin Hanbal, dan Hakim Naisaburi telah meriwayatkan hadis-hadis tersebut dalam kitab-kitab mereka.&amp;quot;}}&amp;lt;ref&amp;gt;At-Taj al-Jami&#039; li al-Ushul, Kairo, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, cetakan kedua, jilid 5, halaman 310.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Contoh Riwayat tentang Mahdi (ajf) dalam Sumber-Sumber Ahlusunah ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Janji tentang Kemunculan Sang Penyelamat===&lt;br /&gt;
* Dari [[Ummu Salamah]] diriwayatkan: &amp;quot;Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: {{arabic|translation=&amp;quot;Mahdi yang dijanjikan berasal dari keturunanku dan anak-anak [[Fatimah sa]].&amp;quot;}}&amp;lt;ref&amp;gt;Abu Dawud, Sunan, tahqiq Sa&#039;id Muhammad Al-Lahham, Darul Fikr, cetakan pertama, 1410 H, jilid 2, halaman 310.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
* [[Imam Ali bin Abi Thalib as]] meriwayatkan dari Nabi saw bahwa beliau bersabda: {{arabic|translation=&amp;quot;Jika dunia hanya tersisa satu hari, Allah akan mengutus seorang laki-laki dari Ahlul Baitku untuk memenuhi bumi dengan keadilan, sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman.&amp;quot;}}&amp;lt;ref&amp;gt;Ibid.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
* Abu Sa&#039;id Al-Khudri berkata: &amp;quot;Rasulullah saw bersabda: {{arabic|translation=&amp;quot;Mahdi kami memiliki dahi yang lebar dan hidung yang mancung. Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan, sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman. Dia akan memerintah selama tujuh tahun.&amp;quot;}}&amp;lt;ref&amp;gt;Ibid., halaman 208.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, semua mazhab dalam agama Islam meyakini Imam Mahdi as dan kemunculannya di akhir zaman sebagai sang penyelamat. Namun, mengenai waktu kelahiran beliau, berbagai mazhab Islam memiliki pendapat yang berbeda. Ibnu Abi Al-Hadid, seorang ulama Ahlusunah, menulis tentang Imam Zaman: &amp;quot;Telah menjadi kesepakatan di antara semua Muslim bahwa usia dunia dan hukum-hukum syariat tidak akan berakhir kecuali setelah [[kemunculan Mahdi as]].&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Shafi Golpayegani, Luthfullah, Muntakhab al-Atsar, Tehran, Mansyurat Maktabah Shadr, tanpa tahun, halaman 3.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Perbedaan Pendapat antara Ahlusunah dan Syiah tentang Imam Zaman as==&lt;br /&gt;
Tidak diragukan lagi bahwa semua mazhab Islam, baik [[Ahlusunah]] maupun [[Syiah]], serta semua cabang yang berasal dari keduanya, meyakini [[Imam Zaman ajf]] dan kemunculannya di [[akhir zaman]]. Namun, mengenai apakah beliau saat ini masih hidup atau akan lahir di akhir zaman, terdapat perbedaan pendapat di antara mazhab-mazhab Islam. Perbedaan ini cukup mencolok di kalangan Ahlusunah, dan dapat dibagi menjadi dua poin:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Keyakinan bahwa Mahdi as Masih Hidup===&lt;br /&gt;
Sebagian ulama Ahlusunah meyakini bahwa Imam Mahdi ajf telah lahir dan saat ini masih hidup, serta akan muncul di akhir zaman. Di antara yang berpendapat demikian adalah Hafiz Sulaiman bin Ibrahim Al-Qunduzi Al-Hanafi (1294 H), Syaikh Mu&#039;min bin Hasan bin Mu&#039;min Al-Syablanji Al-Syafi&#039;i, Sibth Ibnu Al-Jauzi (654 H), Al-Kanji Al-Syafi&#039;i (658 H), dan lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Qunduzi Al-Hanafi dalam Yanabi&#039; al-Mawaddah menjelaskan secara rinci tentang ayah, ibu, dan proses kelahiran beliau berdasarkan riwayat [[Hakimah Khatun]], putri [[Imam Jawad as]].&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Qunduzi Al-Hanafi, Sulaiman bin Ibrahim, Yanabi&#039; al-Mawaddah, Qom, Penerbitan Syarif Radhi, cetakan pertama, 1371 HS, jilid 2, halaman 464.&amp;lt;/ref&amp;gt; Al-Syablanji dalam Nur al-Abshar,&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Syablanji Al-Syafi&#039;i, Mu&#039;min bin Hasan bin Mu&#039;min, Nur al-Abshar, Beirut, Darul Jabil, 1409 H, halaman 342.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ibnu Al-Jauzi dalam Tadzkirat al-Khawash,&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Al-Jauzi, Tadzkirat al-Khawash, Beirut, Muassasah Ahlul Bait, 1401 H, halaman 325.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan Al-Kanji Al-Syafi&#039;i dalam Al-Bayan juga menyebutkan hal-hal serupa.&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Kanji Al-Syafi&#039;i, Al-Bayan fi Akhbar Sahib az-Zaman ajf, Mansyurat Muassasah Al-Hadi lil Mathbu&#039;at, 1399 H, halaman 148.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kelahiran di Akhir Zaman===&lt;br /&gt;
Sebagian ulama Ahlusunah lainnya berpendapat bahwa Imam Mahdi ajf akan lahir di akhir zaman dan kemudian muncul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mayoritas ulama Ahlusunah termasuk dalam kelompok kedua ini, meskipun dalam riwayat-riwayat mereka sering disebutkan bahwa beliau berasal dari keturunan [[Nabi saw]], [[Ali bin Abi Thalib as]], [[Sayidah Fatimah sa]], kemudian dari keturunan [[Imam Husain as]], serta dari keturunan [[Imam Ridha as]] dan [[Imam Hasan Al-Askari as]].&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Juwaini, Ibrahim bin Muhammad, Fara&#039;id as-Simthin, Beirut, Muassasah Al-Muhammadi lil Thiba&#039;ah wan Nasyr, cetakan pertama, 1400 H, jilid 2, halaman 318, 320, 323, 329, dan 337.&amp;lt;/ref&amp;gt; Namun, pada akhirnya mereka mengatakan bahwa beliau belum lahir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Bacaan Lebih Lanjut ==&lt;br /&gt;
* Imam-Imam Ahlul Bait as dalam Pandangan Ahlusunah, Dawud Al-Hamami.&lt;br /&gt;
* Al-Imam Al-Mahdi &#039;inda Ahlusunah, Mahdi Faqih Imani.&lt;br /&gt;
* Muntakhab al-Atsar, Ayatullah Shafi Golpayegani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch =مهدویت&lt;br /&gt;
 | subbranch1 =مهدویت نزد اهل‌سنت&lt;br /&gt;
 | subbranch2 =&lt;br /&gt;
 | subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه =&lt;br /&gt;
 | تیترها =&lt;br /&gt;
 | ویرایش =شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی =شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر =شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی نویسنده =&lt;br /&gt;
 | ارزیابی کمی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت = ب&lt;br /&gt;
 | کیفیت = ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
{{footnotes}}&lt;br /&gt;
[[en:Imam al-Mahdi (aj) in Sunni Beliefs]]&lt;br /&gt;
[[fa:امام زمان(ع) در عقاید اهل‌سنت]]&lt;br /&gt;
[[es:El Imam Mahdi (P) en las Creencias de los Sunitas]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Ushuluddin&amp;diff=928</id>
		<title>Ushuluddin</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Ushuluddin&amp;diff=928"/>
		<updated>2025-02-20T18:11:18Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Apa yang dimaksud dengan Ushuluddin dan sebutkan apa saja yang termasuk dalam Ushuluddin?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Ushuluddin&#039;&#039;&#039; atau prinsip-prinsip agama dalam Islam meliputi tentang [[tauhid]], [[kenabian]], dan [[hari kebangkitan]]. Ketiga prinsip ini dianggap sebagai dasar dan fondasi agama. Ulama Syiah menambahkan prinsip [[keadilan]] dan [[imamah]] ke dalam tiga prinsip ini, sehingga Ushuluddin dalam Syiah berjumlah lima. Ketidaktahuan dan ketidakpercayaan terhadap Ushuluddin ini dapat mengeluarkan seseorang dari Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istilah &amp;quot;Ushuluddin&amp;quot; tidak disebutkan dalam Al-Qur&#039;an atau hadis, dan istilah ini diciptakan oleh beberapa teolog. Tidak jelas kapan istilah ini mulai digunakan atau siapa yang pertama kali menggunakannya. Para pencetus istilah ini menyebut keyakinan-keyakinan ini sebagai Ushuluddin karena menurut mereka ilmu-ilmu keagamaan seperti hadis, fikih, dan tafsir didasarkan pada prinsip-prinsip ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sejarah Istilah ==&lt;br /&gt;
Istilah &amp;quot;Ushuluddin&amp;quot; sangat terkenal dan memainkan peran penting dalam sejarah pemikiran keagamaan Islam, namun dalam Al-Qur&#039;an dan hadis Syiah maupun Sunni, tidak ada pembagian pengetahuan agama menjadi prinsip dan cabang. Hal ini menunjukkan bahwa kedua istilah ini diciptakan oleh para teolog. Beberapa ulama Muslim seperti [[Ibnu Taimiyah]] (wafat 728 H), yang pada dasarnya menganggap ilmu kalam dan ilmu filsafat bertentangan dengan agama dan keimanan, dan memiliki pandangan yang sangat ekstrem dalam hal ini, berpendapat bahwa karena istilah &amp;quot;Ushuluddin&amp;quot; bukanlah istilah Qurani atau hadis, maka penggunaan istilah ini bertentangan dengan ajaran [[Nabi Muhammad (SAW)]].{{membutuhkan referensi|date=November 2024}} Bagaimanapun, tidak jelas kapan istilah ini mulai digunakan atau siapa yang pertama kali menggunakannya. Ibnu Nadim juga mengaitkan sebuah risalah berjudul &#039;&#039;Ushul al-Din&#039;&#039; kepada Abu Musa al-Murdar, yang menunjukkan bahwa istilah ini sudah dikenal dan mapan pada awal abad ke-3 Hijriyah.&amp;lt;ref&amp;gt;Gozashte, Naser, &amp;quot;Ushul al-Din&amp;quot;, Ensiklopedia Iran, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 4, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kedudukan ==&lt;br /&gt;
Prinsip-prinsip keyakinan Islam adalah iman dan keyakinan kepada tauhid, kenabian, dan hari kebangkitan. Ketiga prinsip ini dianggap sebagai fondasi agama Islam, di mana semua proposisi dalam agama ini mendapatkan maknanya dari salah satu atau ketiga prinsip ini. Oleh karena itu, semua orang yang memeluk agama Islam, meskipun memiliki perbedaan pendapat yang signifikan dan terkadang bertentangan mengenai detail dan interpretasi keyakinan ini, semuanya percaya pada prinsip-prinsip ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para teolog Syiah memiliki perbedaan pendapat mengenai berapa jumlah Ushuluddin dan apa saja yang termasuk di dalamnya. Pendapat yang umum adalah bahwa Ushuluddin mencakup tiga hal: tauhid, kenabian, dan hari kebangkitan; namun, keadilan dan imamah juga harus ditambahkan sebagai prinsip mazhab.&amp;lt;ref&amp;gt;Gozashte, Naser, &amp;quot;Ushul ad-Din&amp;quot;, Ensiklopedia Iran, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 4, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ketidaktahuan dan ketidakpercayaan terhadap Ushuluddin dapat mengeluarkan seseorang dari Islam, dan ketidaktahuan serta ketidakpercayaan terhadap prinsip-prinsip mazhab dapat mengeluarkannya dari mazhab Syiah.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok peneliti, &amp;quot;Ushul al-Din&amp;quot;, Ensiklopedia Teologi Islam, halaman 51.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak ulama Islam percaya bahwa dalam Ushuluddin, taklid (mengikuti tanpa pengetahuan) tidak diperbolehkan, dan keyakinan atau kepastian dalam Ushuluddin harus didasarkan pada bukti. Klaim ijma (konsensus) juga dibuat mengenai hal ini. Kelompok lain, termasuk Abu Hanifah, Sufyan ats-Tsauri, Al-Auza&#039;i, Malik, Asy-Syafi&#039;i, Ahmad bin Hanbal, dan Ahlul Hadis, berpendapat bahwa meskipun berargumen tentang prinsip-prinsip keyakinan adalah wajib dan meninggalkannya dianggap sebagai dosa, iman yang diperoleh melalui taklid dapat diterima.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok peneliti, &amp;quot;Ushul al-Din&amp;quot;, Ensiklopedia Teologi Islam, halaman 51.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut banyak ulama agama, keislaman seseorang tidak mungkin terjadi tanpa keyakinan pada Ushuluddin, dan penolakan terhadap salah satu prinsip ini dapat menyebabkan kekafiran dan layak mendapatkan azab. Para pencetus istilah ini menyebut keyakinan-keyakinan ini sebagai Ushuluddin karena menurut mereka ilmu-ilmu keagamaan seperti hadis, fikih, dan tafsir didasarkan pada prinsip-prinsip ini; dikatakan bahwa agama seperti pohon yang memiliki akar, dan Ushuluddin adalah akar agama yang keberadaannya menentukan kehidupan pohon tersebut.&amp;lt;ref&amp;gt;Gozashte, Nashir, &amp;quot;Ushul al-Din&amp;quot;, Ensiklopedia Iran, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 4, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Contoh Prinsip-Prinsip Agama ==&lt;br /&gt;
=== Tauhid ===&lt;br /&gt;
Tauhid adalah ajaran keyakinan paling mendasar dalam Islam yang memiliki berbagai aspek teoretis dan praktis. Menurut konsep tauhid, Allah adalah satu-satunya, memiliki semua sifat kesempurnaan, tidak ada yang menyerupai-Nya, bebas dari perubahan, Pencipta tunggal alam semesta, dan tidak memiliki sekutu; pengaturan alam semesta dilakukan sesuai dengan kehendak-Nya, dan pengetahuan serta kekuasaan-Nya meliputi seluruh alam semesta; semua makhluk harus menyembah-Nya, dan penyembahan ini tidak memerlukan perantara. Menurut Al-Qur&#039;an,{{membutuhkan referensi|date=November 2024}} keyakinan tauhid berakar pada fitrah manusia, dan setiap keyakinan atau perilaku non-tauhid adalah tanda penyimpangan dari dasar eksistensi ini dan disebabkan oleh faktor psikologis, lingkungan, geografis, sejarah, dan lainnya. Semua nabi adalah penyampai tauhid, dan upaya terbesar mereka adalah menghilangkan kemusyrikan dan praktik-praktik syirik.&amp;lt;ref&amp;gt;Taramirad, Hasan, dan lainnya, &amp;quot;Tauhid&amp;quot;, Ensiklopedia Dunia Islam, Yayasan Ensiklopedia Islam, 1393 H, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Kenabian ===&lt;br /&gt;
Keyakinan pada kenabian berarti bahwa Nabi Muhammad (SAW) adalah utusan dan pesuruh Allah, dan sebagai bagian dari rangkaian nabi, ia dipilih oleh Allah sebagai nabi terakhir. Al-Qur&#039;an adalah kumpulan firman Allah yang diwahyukan kepadanya.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, &amp;quot;Islam&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, jilid 8, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Hari Kebangkitan ===&lt;br /&gt;
Hari kebangkitan berarti kebangkitan kembali.{{membutuhkan referensi|date=November 2024}} Yang dimaksud dengan hari kebangkitan dalam perkataan para teolog dan filsuf adalah kehidupan setelah kematian di mana manusia akan dibangkitkan kembali. Hari kebangkitan adalah hari di mana perbuatan manusia akan diadili, orang-orang baik akan menerima pahala atas kebaikan mereka, dan orang-orang jahat akan dihukum atas perbuatan buruk mereka. Salah satu masalah penting yang telah lama menjadi perhatian agama-agama, teolog, dan filsuf adalah masalah kehidupan setelah kematian dan hari kebangkitan. Pengikut agama-agama percaya pada kehidupan setelah kematian dan menganggapnya sebagai salah satu masalah agama yang paling mendasar.&amp;lt;ref&amp;gt;Sajjadi, Ja&#039;far, Kamus Pengetahuan Islam, jilid 3, halaman 1815.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Keadilan ===&lt;br /&gt;
Meskipun sifat &amp;quot;keadilan&amp;quot; juga merupakan salah satu sifat perbuatan Allah, pentingnya dan penekanan pada sifat ini muncul karena perdebatan sengit antara Asy&#039;ariyah dengan Syiah dan Mu&#039;tazilah mengenai hal ini, dan perdebatan ini menyebabkan Mu&#039;tazilah dan Syiah dikenal sebagai kelompok yang menekankan keadilan, dan secara bertahap prinsip keadilan bersama dengan imamah menjadi ciri khas mazhab Syiah. Mengingat konsep keadilan yang luas, yang mencakup keadilan keyakinan, moral, dan sosial, pantaslah prinsip keyakinan ini dianggap sebagai salah satu pilar Islam.&amp;lt;ref&amp;gt;&amp;quot;[http://www.makarem.ir/main.aspx?typeinfo=42&amp;amp;lid=0&amp;amp;mid=412783&amp;amp;catid=-2 Keadilan sebagai Prinsip Agama]&amp;quot;, Situs Informasi Kantor Ayatullah Makarim Syirazi, dipublikasikan: 10 Mehr 1397 H, diakses: 9 Aban 1402 H.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Imamah ===&lt;br /&gt;
Imamah adalah posisi ilahi, dan semua tugas para nabi—kecuali menerima wahyu dan hal-hal yang serupa—juga berlaku untuk para imam. Oleh karena itu, kemaksuman, yang merupakan syarat kenabian, juga berlaku untuk imam. Perbedaan ini membuat kita menganggap imamah sebagai bagian dari Ushuluddin.&amp;lt;ref&amp;gt;&amp;quot;[https://makarem.ir/main.aspx?lid=0&amp;amp;typeinfo=43&amp;amp;mid=393448 Definisi Imamah]&amp;quot;, Situs Informasi Kantor Ayatullah Makarim Syirazi, dipublikasikan: 29 Farvardin 1395 H, diakses: 9 Aban 1402 H.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imamah tanpa diragukan lagi menempati posisi dan peran sentral dalam pemikiran teologi Syiah Imamiyah. Keyakinan pada &amp;quot;nash&amp;quot; (penunjukan) dan &amp;quot;kemaksuman&amp;quot; di satu sisi, serta peran yang diberikan Syiah kepada posisi spiritual imam, yaitu otoritas keagamaan eksklusif para imam, dapat menunjukkan pentingnya posisi ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Anshari, Hasan, &amp;quot;Imamah&amp;quot;, Ensiklopedia Besar Islam, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, entri terkait.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan Lebih Lanjut ==&lt;br /&gt;
* Muhaqqiq Ardabili, &#039;&#039;&#039;Ushul al-Din&#039;&#039;&#039;, disunting oleh Mohsen Sadeghi, Qom, Bustan Kitab, 1387 H.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Pranala Terkait ==&lt;br /&gt;
* [[Furu&#039;uddin (Cabang-cabang agama)]]&lt;br /&gt;
* [[Perbedaan antara Ushuluddin dan Furu&#039;uddin]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch =کلام&lt;br /&gt;
|subbranch1 =&lt;br /&gt;
|subbranch2 =&lt;br /&gt;
|subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه =شد&lt;br /&gt;
 | تیترها =شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش =شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی =شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر =شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | ارزیابی کمی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت =ج&lt;br /&gt;
 | کیفیت =ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa:اصول دین]]&lt;br /&gt;
[[ar:أصول الدین]]&lt;br /&gt;
[[fr:Principes fondementaux de la religion]]&lt;br /&gt;
[[ru:Основы религии]]&lt;br /&gt;
[[en:Fundamental Principles of Religion]]&lt;br /&gt;
[[es:Principios de la religión]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Imam_Husain_as_Melaknat_Tentara_Kufah&amp;diff=927</id>
		<title>Imam Husain as Melaknat Tentara Kufah</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Imam_Husain_as_Melaknat_Tentara_Kufah&amp;diff=927"/>
		<updated>2025-02-20T17:23:44Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Apakah benar Imam Husain as Melaknat Tentara Kufah pada Hari Asyura?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
{{portal|اندازه=گوچک|امام حسین}}&lt;br /&gt;
Telah disebutkan bahwa [[Imam Husain as]] melaknat tentara [[Kufah]] pada hari [[Asyura]]. Hal ini benar, karena Imam Husain as melaknat tentara Kufah karena mereka telah mengingkari janji mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Najmi, Muhammad Shadiqi, &#039;&#039;Sukhanan-e Husain bin Ali as az Madineh ta Karbala&#039;&#039;, hlm. 252, Qom:Bustan-e Kitab&amp;lt;/ref&amp;gt; Laknat ini diucapkan pada akhir khutbah kedua Imam Husain as pada hari Asyura&amp;lt;ref&amp;gt;khwarazmi, Muwaffaq bin Ahmad, Maktal al-Husain alaihissalam, Biji, Anwar al-Huda, 1423H, J2, hlm. 10.&amp;lt;/ref&amp;gt;. Dalam doa tersebut, beliau memohon kepada [[Allah]] untuk menimpakan bencana kepada orang-orang Kufah karena kedzaliman dan pengkhianatan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Laknat-laknat Imam Husain as==&lt;br /&gt;
Laknat Imam Husain as pada hari Asyura mencakup dua hal, yaitu:&lt;br /&gt;
# Tidak turunnya hujan dan terjadinya kekeringan seperti pada masa [[Nabi Yusuf]].&lt;br /&gt;
# Ditimpakan kepada mereka seorang budak dari suku Tsaqif yang akan menyiksa mereka dengan air yang sangat pahit dan beracun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Imam Husain as]] pada suatu waktu di hari [[Asyura]] berdoa: &lt;br /&gt;
::&amp;quot;Ya Allah! Jangan turunkan hujan rahmat-Mu kepada mereka, dan turunkan kepada mereka kekeringan dan kelaparan seperti pada masa Nabi Yusuf. Juga, utuslah seorang dari suku Tsaqif untuk menguasai mereka dan memberinya air yang pahit dan beracun.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Luhuf fi Qatli al-Thuffuf, Sayyid bin Tawus, hlm. 99, Teheran, Nashr-e Jahan, edisi pertama, 1348H.&amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa orang menganggap bahwa orang yang dimaksud oleh Imam Husain as adalah [[Mukhtar al-Thaqafi]]&amp;lt;ref&amp;gt;Husseini Shahrastani, Hibb al-Din, Nuhdat al-Hussain alaihissalam, Karbala, Rabita al-Nashr al-Islami, 1969M, hlm. 179.&amp;lt;/ref&amp;gt;. Selain itu, [[Hajjaj bin Yusuf al-Tsaqafi]], yang berasal dari suku Tsaqif dan juga menjadi gubernur [[Kufah]], dikenal sangat memusuhi Syiah dan membunuh banyak orang Kufah&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah, al-Ma&#039;arif, tahqiq Tharwat Akasha, Kairo, al-Hay&#039;a al-Misriyya al-Aama li-Kitab, 1992 M, hlm. 395.&amp;lt;/ref&amp;gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{text and translation&lt;br /&gt;
| title=Doa Laknat Imam Husain as terhadap Orang-orang Kufah&lt;br /&gt;
| عنوان ستون راست = text&lt;br /&gt;
| عنوان ستون چپ = translation|اللّهُمَّ احْبِسْ عَنْهُمْ قَطْرَ السَّماءِ وَابْعَثْ عَلَیْهِمْ سِنِینَ کَسِنی یُوسُفَ وَسَلِّط عَلَیْهِمْ غُلامَ ثَقیف یَسْقیهِمْ کَاساً مُصَبَّرَةً فَلا یَدَعُ فیهم اَحَداً قَتْلَةً بَقَتْلَةٍ وَضَرْبَةً بِضَرْبَةٍ یَنْتَقِمُ لی وَلاَوْلیائی وَلاهْلِ بَیْتی وَاشْیاعِی مِنْهُمْ فَاِنَّهُمْ کَذَّبُونا وَخَذَلُونا وَاَنْتَ رَبُّنا عَلَیْکَ تَوَکَّلْنا وَاَلیْکَ الْمَصیرُ.|&amp;quot;Ya Allah! Jangan turunkan hujan kepada mereka dan utuslah tahun-tahun kekeringan seperti pada zaman Nabi Yusuf. Perintahkanlah seorang dari suku Tsaqif untuk menguasai mereka dan memberinya air yang sangat pahit dan beracun. Jangan ada satu pun di antara mereka yang luput dari hukuman. Balaslah pembunuhan mereka dengan pembunuhan, pukulan mereka dengan pukulan, dan ambil pembalasan untuk saya, keluarga saya, dan pengikut saya. Karena mereka telah mendustakan kami, meninggalkan kami, dan Engkau adalah Tuhan kami, kepada-Mu kami bertawakal dan hanya kepada-Mu kami kembali.&amp;quot;&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch =تاریخ&lt;br /&gt;
 | subbranch1 =تاریخ و سیره معصومان&lt;br /&gt;
 | subbranch2 =امام حسین(ع)&lt;br /&gt;
 | subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه =-&lt;br /&gt;
 | تیترها =-&lt;br /&gt;
 | ویرایش =شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی =شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر =شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی =شد&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت =ج&lt;br /&gt;
 | کیفیت =ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[رده:درگاه امام حسین(ع)]]&lt;br /&gt;
[[fa:نفرین شدن سپاه کوفه توسط امام حسین(ع)]]&lt;br /&gt;
[[bn:কুফার সৈন্যদলকে ইমাম হুসাইনের (আ.) অভিশাপ]]&lt;br /&gt;
[[en:The Curse on the Army of Kufa by Imam Hussein (AS)]]&lt;br /&gt;
[[ru:Проклятие куфийского войска Имамом Хусейном (А)]]&lt;br /&gt;
[[ur:لشکر کوفہ کے بارے میں امام حسین (ع) کی بد دعا]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Keutamaan_Menghadiri_Proses_Pemakaman&amp;diff=926</id>
		<title>Keutamaan Menghadiri Proses Pemakaman</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Keutamaan_Menghadiri_Proses_Pemakaman&amp;diff=926"/>
		<updated>2025-02-20T16:55:36Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Apakah prosesi pemakaman bermanfaat bagi jenazah atau bagi mereka yang menghadirinya?&lt;br /&gt;
{{question end}}  &lt;br /&gt;
Dianjurkan untuk [[menghadiri prosesi]] pemakaman karena hal ini mengingatkan peserta akan [[kematian]] dan [[akhirat]]. Selain itu, salah satu manfaat menghadiri pemakaman adalah pahala yang diperoleh baik bagi peserta maupun bagi almarhum. [[Nabi Muhammad saw]] menganjurkan untuk menghadiri pemakaman karena hal ini dapat mengingatkan seseorang akan kehidupan setelah kematian. [[Imam Ja&#039;far Shadiq as]] juga menyarankan agar keluarga almarhum memberitahukan orang lain tentang wafatnya kerabat mereka agar mereka dapat menghadiri pemakaman, menyalatkannya, dan dengan demikian memperoleh pahala serta [[beristighfar]] untuk almarhum.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Mengingat Kematian dan Akhirat==  &lt;br /&gt;
Beberapa riwayat menyebutkan bahwa salah satu manfaat menghadiri pemakaman adalah untuk mengingat [[Kematian|kematian]] dan [[Akhirat|akhirat]]. [[Nabi Muhammad saw]] menganjurkan kehadiran dalam pemakaman karena hal ini mengingatkan manusia pada kehidupan setelah mati. Dalam [[riwayat]] disebutkan bahwa ketika beliau menghadiri pemakaman, beliau tampak sedih dan berbicara lebih sedikit.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Abbas Qummi, Safinah al-Bihar, Penerbit Oswa, jilid 4, hlm. 565.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
{{جعبه نقل قول| عنوان = | نقل‌قول = [[امام صادق(ع)]]:{{-}}Imam Ja&#039;far Shadiq as: &amp;quot;Ketika menghadiri pemakaman, anggaplah bahwa Allah telah mengembalikanmu ke dunia. Sekarang, pikirkan bagaimana engkau akan menebus kesalahanmu.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Husaini Tehrani, Ma&#039;ad Shanasi, jilid 3, hlm. 34.&amp;lt;/ref&amp;gt;| منبع = | تراز = چپ| عرض = ۲۳۰px| اندازه خط = 14px|رنگ پس‌زمینه =#FFF9E7| گیومه نقل‌قول =| تراز منبع = چپ}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Imam Muhammad Baqir as]] lebih mengutamakan menghadiri pemakaman dibandingkan dengan menghadiri jamuan, karena pemakaman mengingatkan manusia akan kematian dan akhirat.&amp;lt;ref&amp;gt;Allamah Majlisi, &#039;&#039;Bihar al-Anwar&#039;&#039;, 1403 H, jilid 78, hlm. 284.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Nabi Muhammad saw]] juga memberikan nasihat kepada [[Abu Dzar al-Ghifari]] mengenai prosesi pemakaman dan memperingatkannya bahwa saat mengikuti jenazah, pikirannya harus sibuk dengan renungan dan kekhusyukan, karena pada akhirnya ia sendiri akan mengalami hal yang sama.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabarsi, &#039;&#039;Makarim al-Akhlaq&#039;&#039;, 1412 H, hlm. 465.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam suatu pemakaman, Imam Ali as mendengar seseorang tertawa dan berkata:  &lt;br /&gt;
::&amp;quot;Seolah-olah kematian hanya ditakdirkan untuk orang lain, bukan untuk kita.&amp;quot;&amp;lt;ref name=&amp;quot;:1&amp;quot;/&amp;gt;  &lt;br /&gt;
Beliau kemudian mengingatkan bahwa orang-orang yang kini sedang dikuburkan tidak akan kembali, dan kita juga tidak akan kekal di dunia ini.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:1&amp;quot;&amp;gt;Shubhi Shaleh, Nahjul Balaghah, Hikmah 122, hlm. 490.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Penghapusan Dosa bagi yang Hadir dan yang Meninggal==  &lt;br /&gt;
Salah satu manfaat menghadiri pemakaman adalah pahala yang diperoleh oleh peserta prosesi.&amp;lt;ref&amp;gt;Al-Anwar al-Nu&#039;maniyyah, hlm. 220.&amp;lt;/ref&amp;gt; Riwayat dari [[Imam Muhammad Baqir as]] menyebutkan bahwa ada empat bentuk syafaat bagi mereka yang menghadiri pemakaman.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Abbas Qummi, Safinah al-Bihar wa Madinah al-Hikam, Penerbit Oswa, jilid 4, hlm. 565.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para malaikat juga memberi kabar gembira tentang surga kepada mereka yang menghadiri prosesi pemakaman.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot;&amp;gt;Al-Kulaini, &#039;&#039;Al-Kafi&#039;&#039;, 1407 H, jilid 3, hlm. 172.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa setiap orang yang mengiringi jenazah seorang mukmin hingga dimakamkan, [[Allah]] akan mengutus tujuh puluh malaikat untuk menemaninya di hari kiamat serta memohonkan ampunan baginya.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammad Baqir Majlisi, Zad al-Ma&#039;ad, hlm. 54-55.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Imam Ja&#039;far Shadiq as]] menyarankan agar keluarga almarhum mengumumkan berita kematian agar banyak orang yang menghadiri pemakaman, menyalatkannya, dan memperoleh pahala serta mendoakan almarhum.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabarsi, Makarim al-Akhlaq, 1412 H, hlm. 360.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Muhammad Baqir as juga menyatakan bahwa pengampunan dosa adalah hadiah bagi mereka yang menghadiri pemakaman.&amp;lt;ref name=&amp;quot;:0&amp;quot; /&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ajaran [[Islam]], pemakaman mengutamakan nilai kemanusiaan. Dalam satu [[Riwayat|riwayat]] disebutkan bahwa suatu ketika Nabi dan para sahabat sedang duduk ketika jenazah seseorang lewat. Nabi dan para sahabat segera berdiri untuk memberi penghormatan. Seseorang memberi tahu Nabi bahwa jenazah itu adalah seorang Yahudi, dan mereka bertanya mengapa beliau tetap menunjukkan penghormatan kepadanya. Nabi menjawab:  &lt;br /&gt;
::&amp;quot;Bukankah dia seorang manusia?&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Bihar al-Anwar, jilid 18, hlm. 254.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{footnotes|۲}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
  | main branch = کلام&lt;br /&gt;
| subbranch1 = معاد&lt;br /&gt;
|subbranch2 =احکام جنازه&lt;br /&gt;
|subbranch3 =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه =شد&lt;br /&gt;
 | تیترها =شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش =شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی =شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر =&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی =شد&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت =ب&lt;br /&gt;
 | کیفیت =ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[fa:فضیلت تشییع جنازه]]&lt;br /&gt;
[[es:La virtud de acompañar el funeral]]&lt;br /&gt;
[[bn:মৃত ব্যক্তি দাফন অনুষ্ঠানে শরীক হওয়ার ফযিলত]]&lt;br /&gt;
[[ur:جنازے میں شرکت کی فضیلت]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Imam_Husain_as&amp;diff=925</id>
		<title>Imam Husain as</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Imam_Husain_as&amp;diff=925"/>
		<updated>2025-02-19T22:22:56Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Siapakah Imam Husain (as)?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Imam Husain as&#039;&#039;&#039; ([[4 H-61 H]]) adalah [[Imam]] ketiga [[Syiah]] setelah [[Imam Ali as]] dan [[Imam Hasan as]]. Beliau adalah cucu [[Nabi Muhammad saw]] dan anak dari [[Imam Ali as]] serta [[Sayidah Fatimah sa]], serta adik dari [[Imam Hasan as]]. Masa imamah Imam Husain as diketahui selama sebelas tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut sumber-sumber terpercaya dari [[Syiah]] dan [[Sunni]], Imam Husain as termasuk dalam [[Ashabul Kisa]] dan dianggap sebagai manifestasi dari [[Ayat Tathir]] serta kata &amp;quot;abna&#039;ana&amp;quot; dalam [[Ayat Mubahalah]]. Imam Husain as sangat dicintai oleh Nabi Muhammad saw, yang menyebutnya sebagai lentera petunjuk, kapal keselamatan, dan [[penghulu pemuda surga]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat sedikit laporan tentang kehidupan Imam Husain as sebelum masa imamahnya, seperti kehadirannya dalam tiga peperangan bersama ayahnya, dukungannya terhadap [[perdamaian Imam Hasan as]] dengan [[Muawiyah bin Abu Sufyan]], dan kesetiaannya kepada saudaranya. Setelah syahidnya Imam Hasan as, Imam Husain as tidak melakukan tindakan apa pun terhadap Muawiyah dan tetap setia pada perjanjian yang dibuat oleh saudaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepuluh tahun dari masa imamah Imam Husain as bertepatan dengan pemerintahan Muawiyah. Imam Husain as menentang beberapa tindakan Muawiyah, seperti pembunuhan terhadap beberapa [[sahabat Nabi saw]] dan pengangkatan [[Yazid bin Muawiyah]] sebagai putra mahkota. Imam Husain as menyatakan bahwa Yazid tidak layak dan dirinyalah yang lebih berhak atas [[kekhalifahan]]. Dalam sebuah khutbah, Imam Husain as menyampaikan posisi politiknya terhadap Bani Umayyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kematian Muawiyah, Imam Husain as menolak untuk berbaiat kepada Yazid, yang dianggapnya tidak sah. Pada 28 Rajab tahun 60 H, setelah diperintahkan untuk dibunuh jika menolak berbaiat, Imam Husain as meninggalkan Madinah menuju Mekah. Beliau menerima banyak surat dari penduduk Kufah yang memintanya untuk memimpin mereka. Setelah utusannya, Muslim bin Aqil, mengonfirmasi dukungan penduduk Kufah, Imam Husain as berangkat menuju Kufah pada 8 Dzulhijjah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ubaidullah bin Ziyad, gubernur Kufah, mengirim pasukan di bawah komando Hurr bin Yazid untuk menghadang dan memblokir jalan Imam Husain as. Setelah jalannya terhalang, Imam Husain as terpaksa menuju Karbala. Akhirnya, setelah pertempuran dengan pasukan Kufah pada hari Asyura, Imam Husain as dan para sahabatnya gugur sebagai syahid, dan keluarganya ditawan. Jenazah Imam Husain as dan para sahabatnya dimakamkan pada tanggal 11 atau 13 Muharram oleh sekelompok orang dari Bani Asad di Karbala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kedudukan Imam==&lt;br /&gt;
[[Fail:نام امام حسین(ع) در ایاصوفیه.jpg|250px|thumb|Nama Imam Husain as di Masjid Hagia Sophia, Turki]]&lt;br /&gt;
Husain bin Ali as adalah Imam ketiga [[Syiah]], setelah Imam Ali as dan Imam Hasan as. Imam Husain as memiliki kedudukan yang sangat istimewa di kalangan umat Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau dianggap sebagai orang yang paling mulia dan pemimpin Bani Hasyim;&amp;lt;ref&amp;gt;Yaqubi, Ahmad bin Abi Yaqub, Tarikh al-Yaqubi, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 226; Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 363.&amp;lt;/ref&amp;gt; sehingga pendapatnya diutamakan di antara Bani Hasyim lainnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 414–416.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam sebuah riwayat dari [[Nabi Muhammad saw]] yang diriwayatkan oleh beberapa sumber [[Syiah]] dan [[Sunni]], Husain disebut sebagai salah satu dari Asbat (keturunan Nabi).&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, &#039;&#039;Ansab al-Asyraf&#039;&#039;, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 142; Syekh Mufid, &#039;&#039;Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad&#039;&#039;, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 127; Maqrizi, Taqiyuddin, &#039;&#039;Imta&#039; al-Asma&#039; bima li al-Nabi min al-Ahwal wa al-Amwal wa al-Hafadah wa al-Mata&#039; &#039;&#039;, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1420 H, jilid 6, hlm. 19.&amp;lt;/ref&amp;gt; Asbat dalam ayat dan riwayat merujuk pada Imam atau pemimpin yang dipilih oleh Allah dan berasal dari keturunan para nabi.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammadi Rei Syahri, Muhammad dan kawan-kawan, Ensiklopedia Imam Husain as, terjemahan oleh Muhammad Muradi, Qum, Dar al-Hadits, 1430 H, jilid 1, hlm. 474–477.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as bagi umat Islam, khususnya Syiah, setelah [[Peristiwa Karbala]] pada tahun [[61 H]] dianggap sebagai sosok yang memperjuangkan kebenaran, pemberani, dan rela berkorban.&amp;lt;ref&amp;gt;Haj Manouchehri, Faramarz, &amp;quot;Husain as, Imam&amp;quot;, dalam Ensiklopedia Besar Islam, jilid 20, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, 1391 HS, hlm. 681.&amp;lt;/ref&amp;gt; Kedudukannya yang tinggi di kalangan umat Islam terutama berasal dari perjuangannya di jalan Allah dan pengorbanan jiwa, harta, dan keluarganya.&amp;lt;ref&amp;gt;[https://hawzah.net/fa/Article/View/82145 Ayyub, &amp;quot;Keutamaan Imam Husain as dalam Hadis-hadis Ahlusunah&amp;quot;].&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peristiwa Karbala sebagai bentuk pertama pelecehan dan serangan terbuka terhadap keluarga Nabi saw memiliki pengaruh besar pada budaya Syiah.&amp;lt;ref&amp;gt;Haj Manouchehri, Faramarz, &amp;quot;Husain as, Imam&amp;quot;, dalam Ensiklopedia Besar Islam, jilid 20, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, 1391 HS, hlm. 686.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sehingga, perjuangannya menjadi simbol amar ma&#039;ruf nahi munkar, melawan kezaliman, pengorbanan, dan kesediaan berkorban.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhadditsi, Jawad, Budaya Asyura, Qum, Penerbit Ma&#039;ruf, cetakan ketujuh belas, 1393 HS, hlm. 372.&amp;lt;/ref&amp;gt; Hal ini juga menjadi landasan bagi pemberontakan Syiah melawan penguasa yang zalim.&amp;lt;ref&amp;gt;Haj Manouchehri, Faramarz, &amp;quot;Husain as, Imam&amp;quot;, dalam Ensiklopedia Besar Islam, jilid 20, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, 1391 HS, hlm. 687.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam ranah budaya umum, umat Islam bahkan pengikut agama lain menganggap Husain bin Ali as sebagai simbol dan teladan pengorbanan, ketidakmampuan menerima kezaliman, cinta kebebasan, menjaga nilai-nilai, dan memperjuangkan kebenaran.&amp;lt;ref&amp;gt;[http://www.iwpeace.com/news/36736 &amp;quot;Budaya Asyura Melampaui Batas Muslim&amp;quot;, situs web Majelis Perdamaian Islam Dunia].&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan-bulan [[Muharram]] dan [[Safar]] memiliki tempat khusus dalam budaya Syiah, terutama pada hari-hari [[Tasua]] dan [[Asyura]] serta [[Arbain Husaini]], di mana berbagai ritual diadakan untuk memperingati peristiwa ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Haj Manouchehri, Faramarz, &amp;quot;Husain as, Imam&amp;quot;, dalam Ensiklopedia Besar Islam, jilid 20, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, 1391 HS, hlm. 689.&amp;lt;/ref&amp;gt; Syiah, mengikuti [[para Imam as]], ketika minum air, mengingat kehausan Imam Husain dan mengucapkan salam untuknya.&amp;lt;ref&amp;gt;Haj Manouchehri, Faramarz, &amp;quot;Husain as, Imam&amp;quot;, dalam Ensiklopedia Besar Islam, jilid 20, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, 1391 HS, hlm. 681; Muhadditsi, Jawad, Budaya Asyura, Qum, Penerbit Ma&#039;ruf, cetakan ketujuh belas, 1393 HS, hlm. 508.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Cucu Nabi Muhammad saw==&lt;br /&gt;
[[Fail:نام امام حسین(ع) بر دیوار مسجد النبی.JPG|250px|thumb|Nama Imam Husain as di dinding Masjid Nabawi]]&lt;br /&gt;
Imam Husain as lahir pada tanggal 3&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Masyhadi, Muhammad bin Ja&#039;far, Al-Mazar [Al-Kabir], penelitian oleh Jawad al-Qayyumi al-Isfahani, Qum, Muassasah al-Nashr al-Islami, 1419 H, hlm. 397; Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Mishbah al-Mutahajjid, Beirut, Muassasah Fiqh al-Syiah, 1411 H, hlm. 826, 828; Sayid bin Thawus, Ali bin Musa, Iqbal al-A&#039;mal, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1367 HS, hlm. 689–690.&amp;lt;/ref&amp;gt; atau 5 Sya&#039;ban&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27.&amp;lt;/ref&amp;gt; tahun ke-4 Hijriah di [[Madinah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Yaqubi, Ahmad bin Abi Yaqub, Tarikh al-Yaqubi, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 246; Dulabi, Muhammad bin Ahmad, Al-Dzurriyah al-Thahirah, cetakan oleh Muhammad Jawad Husaini Jalali, Qum, 1407 H, hlm. 102, 121; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1962 M, jilid 2, hlm. 555; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau berasal dari keluarga [[Bani Hasyim]] dan [[Quraisy]], cucu [[Nabi Muhammad saw]], anak dari [[Imam Ali as]] dan [[Sayidah Fatimah sa]], serta adik dari [[Imam Hasan as]].&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27.&amp;lt;/ref&amp;gt; [[Abbas as]], [[Muhammad bin Hanafiyah]] adalah saudara-saudaranya, dan [[Sayidah Zainab sa]] serta [[Ummu Kultsum]] adalah saudari-saudarinya.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber-sumber dari kedua mazhab menyebutkan bahwa Nabi saw memilih nama &amp;quot;Husain&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27; Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Beirut, Dar Shadir, tanpa tahun, jilid 1, hlm. 98, 118.&amp;lt;/ref&amp;gt; atas perintah [[Allah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 3, hlm. 397; Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 244.&amp;lt;/ref&amp;gt; Nama Husain setara dengan Syabir&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Manzur, Muhammad bin Mukarram, Lisan al-Arab, Beirut, Dar Sadir, 1414 H, jilid 4, hlm. 393; Zabidi Wasti, Murtadha Husaini, Taj al-Arus min Jawahir al-Qamus, Beirut, Dar al-Fikr, 1414 H, jilid 7, hlm. 4.&amp;lt;/ref&amp;gt;, yang merupakan nama salah satu putra [[Harun]].&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 13, hlm. 171.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ummu Fadhl&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 129; Maqrizi, Taqiyuddin, Imta&#039; al-Asma&#039; bima li al-Nabi min al-Ahwal wa al-Amwal wa al-Hafadah wa al-Mata&#039;, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1420 H, jilid 12, hlm. 237; Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun, jilid 6, hlm. 230.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan ibu dari Abdullah bin Yaqthar&amp;lt;ref&amp;gt;Samawi, Muhammad bin Thahir, Ibsar al-&#039;Ain fi Ansar al-Husain as, Qum, Universitas Syahid Muhallati, cetakan pertama, 1419 H, hlm. 93.&amp;lt;/ref&amp;gt; disebut sebagai pengasuh Imam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kunyah]] Husain bin Ali as adalah [[Abu Abdillah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27; Ibnu Abi Syaibah, Al-Musannaf fi al-Ahadits wa al-Atsar, cetakan oleh Sa&#039;id Muhammad Lahham, Beirut, 1409 H, jilid 8, hlm. 65; Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Ma&#039;arif, penelitian oleh Tsarwat &#039;Akasyah, Kairo, Hai&#039;ah al-Mishriyah al-&#039;Ammah lil Kitab, 1960 M, jilid 1, hlm. 213.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau dikenal dengan gelar-gelar seperti Sayid Syabab Ahl al-Jannah (penghulu pemuda surga), Zakiy, Thayyib, Wafiy, Sayid, dan Al-Tabi&#039; li Mardhatillah.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Abi al-Tsalj, Tarikh al-A&#039;immah, dalam Majmu&#039;ah Nafisah fi Tarikh al-A&#039;immah, cetakan oleh Mahmud Mar&#039;asyi, Qum, Perpustakaan Ayatullah Mar&#039;asyi Najafi, 1406 H, hlm. 28; Ibnu Thalhah al-Syafi&#039;i, Mathalib al-Su&#039;ul fi Manaqib Al al-Rasul, cetakan oleh Majid bin Ahmad &#039;Athiyah, tanpa tempat, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 374; untuk daftar gelar Imam Husain as, lihat: Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, cetakan oleh Yusuf Baqa&#039;i, 1385 HS, jilid 4, hlm. 86.&amp;lt;/ref&amp;gt; [[Tsaarullah]], [[Qatil al-&#039;Abarat]],&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Quluwaih, Ja&#039;far bin Muhammad, Kamil al-Ziyarat, Najaf, Dar al-Murtadhawiyah, 1356 H, hlm. 176.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan [[Sayid al-Syuhada]]&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat: Himyari, Abdullah bin Ja&#039;far, Qurb al-Isnad, Qum, Muassasah Al al-Bait as, cetakan pertama, 1413 H, hlm. 99–100; Ibnu Quluwaih, Ja&#039;far bin Muhammad, Kamil al-Ziyarat, cetakan oleh Jawad Qayyumi Isfahani, Qum, 1417 H, hlm. 216–219; Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Amali, Qum, Dar al-Thaqafah, 1414 H, hlm. 49–50.&amp;lt;/ref&amp;gt; adalah gelar-gelar lain yang disebutkan dalam [[ziarah]]-ziarah untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Keutamaan dan Sifat Lahiriah serta Perilaku==&lt;br /&gt;
[[Fail:مقام رأس الحسین در اسرائیل.jpg|250px|thumb|Makam Ra&#039;s al-Husain di kota Ashkelon di wilayah pendudukan Palestina. Tempat ini dijaga dan diziarahi oleh sebagian Syiah (Bohra Ismailiyah).&amp;lt;ref&amp;gt;«[https://nournews.ir/Fa/News/74717/مقام-%C2«Ø±Ø£Ø³-Ø§ÙØ­Ø³ÛÙ%C2»-Ø¯Ø±-Ø³Ø±Ø²ÙÛÙâÙØ§Û-Ø§Ø´ØºØ§ÙÛ Makam «Ra&#039;s al-Husain» di Wilayah Pendudukan]», situs Nour News, tanggal kunjungan: 10 Mordad 1402 HS.&amp;lt;/ref&amp;gt;]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sumber-sumber Syiah dan Sunni, Husain bin Ali as adalah salah satu dari [[Ashabul Kisa]]&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat: Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, &#039;&#039;Al-Kafi&#039;&#039;, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 HS, jilid 1, hlm. 287; Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, 1423 H, jilid 15, hlm. 190.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan salah satu dari [[Ahlul Bait]] yang [[Ayat Tathir]] turun tentang mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 1, hlm. 331; Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Tafsir al-Qur&#039;an al-&#039;Azhim, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1419 H, jilid 3, hlm. 799; Syaukani, Muhammad bin Ali, Fath al-Qadir, Beirut, Alam al-Kutub, tanpa tahun, jilid 4, hlm. 279.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau bersama saudaranya, Imam Hasan as, dianggap sebagai manifestasi dari kata &amp;quot;abna&#039;ana&amp;quot; (anak-anak kami) dalam [[Ayat Mubahalah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Zamakhsyari, Mahmud, Al-Kasyaf &#039;an Haqaiq Ghawamid al-Tanzil, Qum, Nasyr al-Balaghah, cetakan kedua, 1415 H, terkait ayat 61 Surah Ali Imran; Fakhr Razi, Muhammad bin Umar, Al-Tafsir al-Kabir, Beirut, Dar al-Fikr, 1405 H, terkait ayat 61 Surah Ali Imran.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber-sumber terpercaya [[Ahlusunah]] meriwayatkan banyak hadis tentang kedudukan dan keutamaan Husain bin Ali as.&amp;lt;ref&amp;gt;Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, 1423 H, jilid 15, hlm. 190; Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 376–410; Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 7; Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Tafsir al-Qur&#039;an al-&#039;Azhim, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1419 H, jilid 3, hlm. 799.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sebagaimana diriwayatkan dari Nabi saw bahwa Husain as adalah lentera petunjuk dan kapal keselamatan&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali bin Babawaih, Kamal al-Din wa Tamam al-Ni&#039;mah, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1395 HS, jilid 1, hlm. 265.&amp;lt;/ref&amp;gt; serta [[penghulu pemuda surga]].&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 7; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27.&amp;lt;/ref&amp;gt; Juga dalam sebuah riwayat, Nabi saw bersabda, [[Aku dari Husain|Husain dariku dan aku dari Husain]].&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 142; Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 385.&amp;lt;/ref&amp;gt; Barangsiapa mencintai keduanya (Hasan dan Husain), maka ia mencintaiku, dan barangsiapa memusuhi mereka, maka ia memusuhiku.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 266; Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 13, hlm. 198–199; Arbili, Ali bin Isa, Kasyf al-Ghummah fi Ma&#039;rifah al-A&#039;immah, Qum, Radhi, cetakan pertama, 1421 H, jilid 1, hlm. 602.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dikatakan bahwa [[Rasulullah saw]] di antara [[Ahlul Bait]]-nya, lebih mencintai [[Hasanain|Hasan dan Husain as]] daripada yang lain&amp;lt;ref&amp;gt;Tirmidzi, Muhammad bin Isa, Sunan Tirmidzi, penelitian oleh Abdurrahman Muhammad Utsman, Beirut, Dar al-Fikr, 1403 H, jilid 5, hlm. 323.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan kecintaan ini sedemikian rupa sehingga terkadang ketika keduanya masuk ke [[masjid]], beliau menghentikan khutbahnya, turun dari mimbar, dan memeluk mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 5, hlm. 354; Tirmidzi, Muhammad bin Isa, Sunan Tirmidzi, penelitian oleh Abdurrahman Muhammad Utsman, Beirut, Dar al-Fikr, 1403 H, jilid 5, hlm. 322; Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban, penelitian oleh Syu&#039;aib Arnauth, tanpa tempat, Al-Risalah, 1993 M, jilid 13, hlm. 402; Hakim Naisaburi, Al-Mustadrak &#039;ala al-Shahihain, penelitian oleh Yusuf Abdurrahman al-Mar&#039;asyi, Beirut, 1406 H, jilid 1, hlm. 287.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam riwayat disebutkan bahwa Allah menjadikan kesembuhan dalam [[tanah]] Husain as dan [[pengabulan doa]] di samping makamnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 4, hlm. 82; Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar al-Jami&#039;ah li Durar Akhbar al-A&#039;immah al-Athhar, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 HS, jilid 98, hlm. 69.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam kitab [[Al-Khashaish al-Husainiyah]], lebih dari tiga ratus keistimewaan khusus Imam Husain disebutkan.&amp;lt;ref&amp;gt;Syusytari, Syekh Ja&#039;far, Al-Khashaish al-Husainiyah, Syarif Radhi, cetakan pertama, tanpa tahun, hlm. 20.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kebanyakan sumber hadis, sejarah, dan rijal, disebutkan tentang kemiripan Husain as dengan [[Nabi Muhammad saw]]&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 142, 453; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27; Thabrani, Sulaiman bin Ahmad, Al-Mu&#039;jam al-Kabir, Kairo, Dar al-Nasyr, Maktabah Ibnu Taimiyah, cetakan kedua, tanpa tahun, jilid 3, hlm. 95.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan dalam sebuah riwayat, beliau disebut sebagai orang yang paling mirip dengan Nabi saw.&amp;lt;ref&amp;gt;Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 3, hlm. 261; Tirmidzi, Muhammad bin Isa, Sunan Tirmidzi, penelitian oleh Abdurrahman Muhammad Utsman, Beirut, Dar al-Fikr, 1403 H, jilid 5, hlm. 325.&amp;lt;/ref&amp;gt; Tentang beliau, dikatakan bahwa terkadang beliau mengenakan pakaian dari bulu atau memakai sorban dari bulu&amp;lt;ref&amp;gt;Thabrani, Sulaiman bin Ahmad, Al-Mu&#039;jam al-Kabir, Kairo, Dar al-Nasyr, Maktabah Ibnu Taimiyah, cetakan kedua, tanpa tahun, jilid 3, hlm. 101.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan mewarnai rambut serta janggutnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 6, hlm. 419–422; Ibnu Abi Syaibah, Al-Musannaf fi al-Ahadits wa al-Atsar, cetakan oleh Sa&#039;id Muhammad Lahham, Beirut, 1409 H, jilid 6, hlm. 3, 15.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as sangat dermawan dan dikenal dengan kedermawanannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammadi Rey Shahri, Muhammad dan kawan-kawan, Ensiklopedia Imam Husain as, terjemahan oleh Muhammad Muradi, Qum, Dar al-Hadits, 1430 H, jilid 2, hlm. 114–118.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau duduk bersama orang-orang miskin, menerima undangan mereka, makan bersama mereka, mengundang mereka ke rumahnya, dan tidak menahan apa yang ada di rumahnya dari mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 411; Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 14, hlm. 181.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau membebaskan budak-budak dan [[hamba sahaya]]nya sebagai balasan atas perilaku baik mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 70, hlm. 196–197; Ibnu Hazm, Al-Muhalla, penelitian oleh Muhammad Syakir, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun, jilid 8, hlm. 515; Arbili, Ali bin Isa, &#039;&#039;Kasyf al-Ghummah fi Ma&#039;rifah al-A&#039;immah as&#039;&#039;, cetakan oleh Ali Fadhili, Qum, 1426 H, jilid 2, hlm. 476.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam sumber-sumber disebutkan bahwa beliau menunaikan [[haji]] dengan berjalan kaki sebanyak 25 kali.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 401; Ibnu Abd al-Barr, Al-Isti&#039;ab fi Ma&#039;rifah al-Ashab, penelitian oleh Ali Muhammad al-Bajawi, Beirut, Dar al-Jil, cetakan pertama, 1412 H, jilid 1, hlm. 397.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Istri dan Anak-anak==&lt;br /&gt;
[[Fail:Mosibat Karbala.jpg|250px|thumb|Lukisan &amp;quot;Musibah Karbala&amp;quot; dalam gaya lukisan kafe oleh Husain Qollar Aghasi]]&lt;br /&gt;
{{main|Daftar Istri dan Anak-anak Imam Husain as}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Syahrbanu]] adalah nama salah satu istri Imam, yang dikatakan sebagai putri Yazdegerd, raja Sasani, dan ibu dari [[Imam Sajjad as]]. Para peneliti kontemporer meragukan nasab Syahrbanu.&amp;lt;ref&amp;gt;Sebagai contoh, lihat: Muthahhari, Murtadha, &#039;&#039;Khidmat-e Mutaqabil-e Islam va Iran&#039;&#039;, Teheran, Penerbit Sadra, 1380 HS, hlm. 131–133; Syariati Ali, Tasyayyu&#039;-e Alawi va Tasyayyu&#039;-e Safawi, Teheran, Chapkhash, 1377 HS, hlm. 91; Syahidi, Sayid Ja&#039;far, Zindagani Ali bin al-Husain, Teheran, Daftar Nasyr Farhang, 1365 HS, hlm. 12.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu istri Imam lainnya adalah [[Rabab]], putri Amru al-Qais bin Adi. Dia adalah ibu dari [[Sukainah binti Husain|Sukainah]] dan [[Abdullah bin al-Husain|Abdullah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Isfahani, Abul Faraj, &#039;&#039;Maqatil al-Thalibiyyin&#039;&#039;, penelitian oleh Ahmad Saqr, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, tanpa tahun, hlm. 59; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 135.&amp;lt;/ref&amp;gt; Rabab hadir di [[Karbala]] dan bersama para tawanan pergi ke [[Syam]].&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1408 H, jilid 8, hlm. 229.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sebagian besar sumber menyebutkan bahwa Abdullah (Ali Asghar) masih bayi saat syahid.&amp;lt;ref&amp;gt;Mus&#039;ab bin Abdullah, Kitab Nasab Quraisy, cetakan oleh Levi Provencal, Kairo, 1953 M, jilid 1, hlm. 59; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 468; Bukhari, Sahl bin Abdullah, Sirr al-Silsilah al-Alawiyah, cetakan oleh Muhammad Sadiq Bahar al-Ulum, Najaf, 1381 H, jilid 1, hlm. 30.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Laila binti Abi Murrah|Layla]], putri Abi Murrah bin Urwah bin Mas&#039;ud al-Tsaqafi,&amp;lt;ref&amp;gt;Mus&#039;ab bin Abdullah, &#039;&#039;Kitab Nasab Quraisy&#039;&#039;, cetakan oleh Levi Provencal, Kairo, 1953 M, hlm. 57; Yaqubi, Ahmad bin Abi Yaqub, Tarikh al-Yaqubi, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 246–247; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 446.&amp;lt;/ref&amp;gt; adalah nama salah satu istri Imam lainnya. Dia adalah ibu dari [[Ali Akbar as]]&amp;lt;ref&amp;gt;Maqrizi, Taqiyuddin, Imta&#039; al-Asma&#039; bima li al-Nabi min al-Ahwal wa al-Amwal wa al-Hafadah wa al-Mata&#039;, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1420 H, jilid 6, hlm. 269.&amp;lt;/ref&amp;gt; yang syahid dalam [[Peristiwa Karbala]].&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 446; Isfahani, Abul Faraj, Maqatil al-Thalibiyyin, penelitian oleh Ahmad Saqr, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, tanpa tahun, hlm. 80.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Umm Ishaq binti Thalhah bin Ubaidullah|Umm Ishaq]], putri Thalhah bin Ubaidullah, juga dianggap sebagai salah satu istri Imam Husain as. Dia adalah ibu dari [[Fatimah binti Husain|Fatimah]], putri sulung Imam Husain as.&amp;lt;ref&amp;gt;Isfahani, Abul Faraj, Kitab al-Aghani, Kairo, 1383 H, jilid 21, hlm. 78.&amp;lt;/ref&amp;gt; Umm Ishaq sebelumnya adalah istri [[Imam Hasan Mujtaba as]] dan setelah syahidnya Imam Hasan, dia menikah dengan Imam Husain as.&amp;lt;ref&amp;gt;Isfahani, Abul Faraj, Kitab al-Aghani, Kairo, 1383 H, jilid 21, hlm. 78.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Thalhah al-Syafi&#039;i dalam kitab [[Mathalib al-Su&#039;ul fi Manaqib Al al-Rasul]] menyebutkan bahwa Imam memiliki sepuluh anak.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Thalhah al-Syafi&#039;i, Mathalib al-Su&#039;ul fi Manaqib Al al-Rasul, cetakan oleh Majid bin Ahmad Athiyah, tanpa tempat, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 69.&amp;lt;/ref&amp;gt; Namun, beberapa sumber menyebutkan bahwa Imam memiliki empat putra dan dua putri&amp;lt;ref&amp;gt;Mus&#039;ab bin Abdullah, Kitab Nasab Quraisy, cetakan oleh Levi Provencal, Kairo, 1953 M, jilid 1, hlm. 57–59; Bukhari, Sahl bin Abdullah, Sirr al-Silsilah al-Alawiyah, cetakan oleh Muhammad Sadiq Bahar al-Ulum, Najaf, 1381 H, jilid 1, hlm. 30; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 135.&amp;lt;/ref&amp;gt; atau enam putra dan tiga putri.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Dalail al-Imamah, Beirut, Muassasah al-A&#039;lami lil Mathbu&#039;at, 1408 H, jilid 1, hlm. 74; Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 4, hlm. 77; Ibnu Thalhah al-Syafi&#039;i, Mathalib al-Su&#039;ul fi Manaqib Al al-Rasul, cetakan oleh Majid bin Ahmad Athiyah, tanpa tempat, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 69.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam kitab [[Lubab al-Ansab]]&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Funduq al-Baihaqi, Ali bin Zaid, Lubab al-Ansab wa al-Alqab wa al-A&#039;qab, penelitian oleh Mahdi Rajai, Qum, Maktabah Ayatullah al-Mar&#039;asyi, 1385 HS, hlm. 355.&amp;lt;/ref&amp;gt; dari sumber abad keenam, disebutkan tentang seorang putri bernama [[Ruqayyah binti Husain|Ruqayyah]], dan dalam kitab [[Kamil al-Bahai]] dari sumber abad ketujuh, disebutkan tentang seorang putri berusia empat tahun yang meninggal di [[Syam]].&amp;lt;ref&amp;gt;Kasyifi Sabzawari, Mulla Husain, Rawdhah al-Syuhada, Qum, Nawaid Islam, 1382 HS, hlm. 484.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Masa Tiga Khalifah==&lt;br /&gt;
Sedikit informasi sejarah yang dilaporkan tentang periode 25 tahun kehidupan Imam Husain as selama masa tiga khalifah.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammadi Rey Shahri, Muhammad dan kawan-kawan, Ensiklopedia Imam Husain as, terjemahan oleh Muhammad Muradi, Qum, Dar al-Hadits, 1430 H, jilid 2, hlm. 325.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dikatakan bahwa beliau menikmati penghormatan khusus dari khalifah kedua.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 14, hlm. 175; Sibth bin al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawash, Qum, Mansyurat al-Syarif al-Radhi, cetakan pertama, 1418 H, hlm. 211–212.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada laporan tentang Imam Husain as selama masa pemerintahan Utsman, di mana Imam bersama ayah dan saudaranya mengantar Abu Dzar, yang diasingkan oleh khalifah ketiga ke Rabdzah, meskipun bertentangan dengan perintah khalifah.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1365 HS, jilid 8, hlm. 206–207; Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, 1385–1387 H, jilid 8, hlm. 253–254.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa sumber [[Ahlusunah]] menyebutkan kehadiran beliau bersama saudaranya dalam beberapa penaklukan seperti Afrika pada tahun 26 H&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Khaldun, Al-&#039;Ibar, 1401 H, jilid 2, hlm. 573–574.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan [[Tabaristan]] pada tahun 30 H.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 4, hlm. 269.&amp;lt;/ref&amp;gt; Namun, laporan semacam ini tidak ditemukan dalam sumber Syiah. Beberapa peneliti Syiah seperti [[Ja&#039;far Murtadha Amili]] menganggap laporan-laporan ini sebagai palsu.&amp;lt;ref&amp;gt;Ja&#039;far Murtadha, Al-Hayah al-Siyasiyah lil Imam al-Hasan, Dar al-Sirah, hlm. 158.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Kehadiran Imam Hasan as dan Imam Husain as dalam Penaklukan Iran}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu laporan lain yang menyebutkan Imam Husain as adalah pemberontakan terhadap Utsman dan pembunuhan khalifah. Imam bersama saudaranya, Imam Hasan as, meskipun tidak senang dengan kinerja khalifah, melindungi rumah Utsman.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 59; Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 5, hlm. 558.&amp;lt;/ref&amp;gt; Laporan ini memiliki pendukung dan penentang di antara para peneliti Syiah.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammadi Rei Shahri, Muhammad dan kawan-kawan, Ensiklopedia Imam Husain as, terjemahan oleh Muhammad Muradi, Qum, Dar al-Hadits, 1430 H, jilid 2, hlm. 331–332.&amp;lt;/ref&amp;gt; [[Sayid Murtadha]] setelah meragukan pengiriman Hasanain as oleh Amirul Mukminin as, menyatakan bahwa alasannya adalah untuk mencegah pembunuhan sengaja terhadap Utsman dan memberikan air serta makanan kepada keluarganya, bukan untuk mencegah pencopotan Utsman dari kekhalifahan, karena Utsman layak dicopot karena tindakan-tindakannya yang tidak pantas.&amp;lt;ref&amp;gt;Sayid Murtadha, Ali bin Husain, &#039;&#039;Al-Syafi fi al-Imamah&#039;&#039;, Qum, Muassasah Ismailiyan, cetakan kedua, 1410 H, jilid 4, hlm. 242.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Pertahanan Imam Hasan as dan Imam Husain as atas Rumah Utsman}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Masa Pemerintahan Imam Ali as==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat sedikit laporan tentang Imam Husain as selama masa pemerintahan Imam Ali as. Salah satunya adalah bahwa beliau membacakan khutbah setelah [[baiat]] masyarakat kepada [[Amirul Mukminin as]].&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, &#039;&#039;Bihar al-Anwar al-Jami&#039;ah li Durar Akhbar al-A&#039;immah al-Athhar&#039;&#039;, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 HS, jilid 10, hlm. 121.&amp;lt;/ref&amp;gt; Kehadiran Imam Husain as dalam Perang Jamal dan kepemimpinannya atas sayap kiri pasukan Imam Ali as tercatat dalam berbagai sumber.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Muhammad bin Nu&#039;man, Al-Jamal wa al-Nusrah li Sayid al-Itrah fi Harb al-Basrah, Qum, Kongres Syekh Mufid, 1413 H, hlm. 348; Dzahabi, Syamsuddin, Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A&#039;lam, Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, cetakan kedua, 1409 H, jilid 3, hlm. 485.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau juga hadir dalam [[Perang Shiffin|Perang Shiffin]] dan menjadi salah satu komandan sayap kanan pasukan.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu A&#039;tsam, Ahmad, Al-Futuh, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, 1411 H, jilid 3, hlm. 24; Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, &#039;&#039;Manaqib Al Abi Thalib&#039;&#039;, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 3, hlm. 168.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam Husain as membacakan khutbah untuk mendorong masyarakat berjihad&amp;lt;ref&amp;gt;Manqari, Nashr bin Muzahim, Waq&#039;ah Shiffin, penelitian oleh Abdussalam Muhammad Harun, Kairo, 1382 H, hlm. 114–115.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan terlibat dalam upaya merebut kembali air dari pasukan Syam.&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar al-Jami&#039;ah li Durar Akhbar al-A&#039;immah al-Athhar, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 HS, jilid 44, hlm. 266.&amp;lt;/ref&amp;gt; Meskipun demikian, disebutkan bahwa berdasarkan laporan-laporan terkait Perang Shiffin, Imam Ali as mencegah Hasanain as untuk ikut berperang, dengan alasan menjaga keturunan Nabi saw.&amp;lt;ref&amp;gt;Arbili, Ali bin Isa, Kasyf al-Ghummah fi Ma&#039;rifah al-A&#039;immah, Qum, Radhi, cetakan pertama, 1421 H, jilid 1, hlm. 569; Sayid Radhi, Muhammad bin Husain, Nahj al-Balaghah, penelitian oleh Shubhi Shalih, Qum, Hijrah, 1414 H, khutbah 207, hlm. 323.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ada juga laporan tentang kehadirannya dalam [[Perang Nahrawan]].&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Abd al-Barr, Al-Isti&#039;ab fi Ma&#039;rifah al-Ashab, penelitian oleh Ali Muhammad al-Bajawi, Beirut, Dar al-Jail, cetakan pertama, 1412 H, jilid 3, hlm. 939.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak sumber menyebutkan bahwa Imam Husain as berada di sisi Imam Ali as saat [[syahid]]&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 147.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan hadir dalam prosesi pemakamannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 181; Syekh Mufid, Muhammad bin Nu&#039;man, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Beirut, 1414 H; jilid 1, hlm. 25.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dikatakan bahwa Imam Husain as sedang menjalankan misi di [[Mada&#039;in]] ketika ayahnya terluka, dan setelah menerima surat dari Imam Hasan as, beliau kembali ke Kufah.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 HS, jilid 3, hlm. 220; Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 2, hlm. 497–498.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Masa Imam Hasan as==&lt;br /&gt;
Husain bin Ali as selama masa imamah dan pemerintahan saudaranya, [[Imam Hasan as]], menunjukkan penghormatan yang besar kepadanya. Bahkan disebutkan bahwa beliau sepenuhnya taat pada perintah saudaranya dan tidak berbicara dalam majelis di mana Imam Hasan as hadir.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 HS, jilid 1, hlm. 291; Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 3, hlm. 401.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ketaatan dan kepatuhannya kepada saudaranya sedemikian rupa sehingga beliau menolak permintaan baiat dari beberapa kelompok Khawarij yang bersikeras untuk berperang melawan pasukan Syam.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 184.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as mendukung saudaranya dalam peristiwa [[perdamaian dengan Muawiyah]] dan mengonfirmasi tindakannya&amp;lt;ref&amp;gt;Dinawari, Ahmad bin Dawud, Al-Akhbar al-Thiwal, penelitian oleh Abdulmun&#039;im Amir dengan tinjauan oleh Jamaluddin Syial, Qum, Mansyurat Radhi, 1368 HS, hlm. 221.&amp;lt;/ref&amp;gt; serta menegaskan imamahnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thusi, Ikhtiyar Ma&#039;rifah al-Rijal (Rijal al-Kasyi), Masyhad, Universitas Masyhad, 1348 HS, hlm. 110.&amp;lt;/ref&amp;gt; Meskipun demikian, beberapa laporan menyebutkan bahwa beliau tidak berbaiat kepada Muawiyah&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu A&#039;tsam, Ahmad, Al-Futuh, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, 1411 H, jilid 4, hlm. 292; Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 4, hlm. 35.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan merasa tidak puas dengan tindakan saudaranya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 160; Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 13, hlm. 267.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as setelah perdamaian dengan Muawiyah pada [[tahun 41 H]], kembali dari [[Kufah]] ke [[Madinah]] bersama saudaranya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 165; Ibnu Jauzi, Abdurrahman bin Ali, Al-Muntazam fi Tarikh al-Umam wa al-Muluk, penelitian oleh Muhammad Abdulqadir Atha dan Mustafa Abdulqadir Atha, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1992 M, jilid 5, hlm. 184.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Masa Imamah==&lt;br /&gt;
[[Fail:Emam hossein.jpg|250px|thumb|Lukisan rakyat tentang Imam Husain as karya Muhammad Tajwidi, gouache, 1351 HS.&amp;lt;ref&amp;gt;Yasini, Radhiyah, «[https://negareh.shahed.ac.ir/article_356_d795c939486fd14a24bfb563a741891d.pdf Perkembangan Seni Lukis Islam Iran dari Penafian hingga Penyerupaan]» hlm. 14.&amp;lt;/ref&amp;gt;]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as menjadi [[imam]] setelah [[syahid]]nya saudaranya pada tahun [[50 H]] dan memegang imamah hingga tahun [[61 H]].&amp;lt;ref&amp;gt;Shabiri, Husain, Tarikh Firaq Islamiyah Firaq Syiah wa Firaq Mansub biha, Teheran, Samt, cetakan kelima, 1388 HS, jilid 1, hlm. 181.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ulama Syiah, selain argumen umum untuk membuktikan [[imamah dua belas imam]],&amp;lt;ref&amp;gt;Sebagai contoh, lihat: Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali bin Babawaih, Al-I&#039;tiqadat al-Imamiyah, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan kedua, 1414 H, hlm. 104; Ibnu Babawaih al-Qummi, Abul Hasan bin Ali, Al-Imamah wa al-Tabshirah min al-Hairah, penelitian: Ali Akbar Ghaffari, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1363 HS, hlm. 104.&amp;lt;/ref&amp;gt; juga merujuk pada argumen khusus tentang imamah Husain bin Ali as, termasuk riwayat dari [[Nabi saw]] yang menyebutnya sebagai imam.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Muhammad bin Nu&#039;man, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Beirut, 1414 H; jilid 2, hlm. 30.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sebagaimana penegasan Imam Ali as tentang imamah Husain as setelah [[Imam Hasan as]]&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 HS, jilid 1, hlm. 297.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan pengenalan beliau oleh Imam Hasan sebagai imam setelahnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 HS, jilid 1, hlm. 301.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as setelah syahidnya Imam Hasan as tidak melanggar baiatnya kepada Muawiyah.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 32.&amp;lt;/ref&amp;gt; Bahkan beliau menolak permintaan sebagian Syiah untuk mengumpulkan pasukan dan berperang melawan Muawiyah karena menjaga janji dan membela tindakan saudaranya.&amp;lt;ref&amp;gt;Dinawari, Ahmad bin Dawud, Al-Akhbar al-Thiwal, penelitian oleh Abdulmun&#039;im Amir dengan tinjauan oleh Jamaluddin Syial, Qum, Mansyurat Radhi, 1368 HS, hlm. 220.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau menunda keputusan dalam hal ini hingga setelah kematian Muawiyah.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 150.&amp;lt;/ref&amp;gt; Menurut Syekh Mufid, Imam Husain as hingga kematian Muawiyah tidak mengajak masyarakat kepada dirinya karena [[taqiyah]] dan perjanjian yang dibuat dalam peristiwa [[perdamaian Imam Hasan]]. Namun, setelah kematian Muawiyah, beliau menjelaskan kedudukannya kepada mereka yang tidak mengetahuinya.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Muhammad bin Nu&#039;man, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Beirut, 1414 H, jilid 2, hlm. 31.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Sikap Terhadap Tindakan Muawiyah==&lt;br /&gt;
Menurut sumber sejarah, Imam Husain as tidak melakukan tindakan melawan pemerintahan Muawiyah, tetapi beberapa sejarawan berdasarkan beberapa bukti dan percakapan antara mereka meyakini bahwa Imam as secara politik tidak menerima legitimasi Muawiyah.&amp;lt;ref&amp;gt;Ja&#039;fariyan, Rasul, Hayat Fikri wa Siyasi Imamane Syiah, Qum, Anshariyan, cetakan keenam, 1381 HS, hlm. 175.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan dalam beberapa kasus menentang kebijakan Muawiyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Protes Imam Husain as terhadap tindakan Muawiyah dalam membunuh orang-orang seperti [[Hujr bin Adi]], [[Amr bin Hamq al-Khuza&#039;i]], dan [[Abdullah bin Yahya al-Hadhrami]] tercatat dalam berbagai sumber.&amp;lt;ref&amp;gt;Dinawari, Ahmad bin Dawud, Al-Akhbar al-Thiwal, penelitian oleh Abdulmun&#039;im Amir dengan tinjauan oleh Jamaluddin Syial, Qum, Mansyurat Radhi, 1368 HS, hlm. 224–225; Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 5, hlm. 120–121; Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 202–204.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam dalam suratnya kepada Muawiyah mengecam pembunuhan para sahabat Imam Ali as dan mengecam tindakan buruk Muawiyah, menyebut jihad melawannya sebagai keharusan untuk menghidupkan agama dan menganggap pemerintahannya sebagai fitnah besar bagi [[umat]] Islam.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 5, hlm. 121–122; Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 440; Thusi, Ikhtiyar Ma&#039;rifah al-Rijal (Rijal al-Kasyi), Masyhad, Universitas Masyhad, 1348 HS, hlm. 50; Dzahabi, Syamsuddin, Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A&#039;lam, Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, cetakan kedua, 1409 H, jilid 5, hlm. 6; Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 14, hlm. 206.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Muawiyah pada tahun 56 H, bertentangan dengan ketentuan [[perjanjian damai Imam Hasan]] yang melarang penunjukan penerus, mengajak masyarakat untuk berbaiat kepada Yazid,&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun, jilid 8, hlm. 79.&amp;lt;/ref&amp;gt; beberapa tokoh, termasuk Imam Husain as, menolak berbaiat.&amp;lt;ref&amp;gt;http://ensani.ir/fa/article/45732/&amp;lt;/ref&amp;gt; Muawiyah pergi ke Madinah untuk mendapatkan dukungan para tokoh kota tersebut untuk penunjukan Yazid sebagai putra mahkota.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 204.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam Husain dalam sebuah majelis yang dihadiri oleh Muawiyah, [[Ibnu Abbas]], dan beberapa pejabat serta keluarga Umayyah, mengecam Muawiyah dan memperingatkannya untuk tidak berusaha menjadikan Yazid sebagai penerus. Beliau menegaskan kedudukan dan haknya serta membantah argumen Muawiyah untuk mendapatkan baiat kepada Yazid.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 208–209.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sebuah majelis lain yang dihadiri oleh masyarakat umum, Imam Husain menanggapi ucapan Muawiyah tentang kelayakan Yazid. Beliau menyatakan bahwa dirinya lebih layak secara individu dan keluarga untuk menjadi khalifah, sementara Yazid digambarkan sebagai pemabuk dan pengikut hawa nafsu.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, tahqiq Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, halaman 211.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 58 Hijriah, Imam Husain as menyampaikan khutbah protes di Mina akibat tekanan Muawiyah terhadap Syiah.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok peneliti sejarah, Tarikh Qiyam wa Maqtal Jami&#039; Sayid al-Syuhada, 1389 H, jilid 1, halaman 392.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam khutbah ini, beliau menyebutkan keutamaan Amirul Mukminin as dan Ahlul Bait, mengajak untuk melakukan amar ma&#039;ruf nahi munkar, menekankan pentingnya tugas ini dalam Islam, serta menjelaskan kewajiban ulama untuk bangkit melawan para penindas dan bahaya diamnya ulama di hadapan penguasa zalim.&amp;lt;ref&amp;gt;Harrani, Hasan bin Syu&#039;bah, Tuhaf al-&#039;Uqul, Qum, Jamaah Mudarrisin, 1404 H, halaman 68.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Ketidakbangkitannya Imam Husain as pada masa Muawiyah}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Reaksi Terhadap Kekhalifahan Yazid==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kematian Muawiyah pada 15 Rajab tahun 60 Hijriah, Yazid naik takhta.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 155; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 32.&amp;lt;/ref&amp;gt; Untuk melegitimasi pemerintahannya, Yazid berusaha memaksa para tokoh besar seperti Imam Husain as yang menolak baiat kepadanya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 338.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam Husain as menolak untuk berbaiat&amp;lt;ref&amp;gt;Abu Mikhnaf, Maqtal al-Husain as, tahqiq dan ta&#039;liq Husain al-Ghaffari, Qum, Mathba&#039;ah Ilmiyah, tanpa tahun, halaman 5; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 33.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan pergi bersama keluarga serta pengikutnya dari Madinah ke Mekah.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 160; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 34.&amp;lt;/ref&amp;gt; Di sana, beliau disambut oleh masyarakat dan para jamaah umrah.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 156; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 36.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam tinggal di kota ini selama lebih dari empat bulan.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 66.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syiah Kufah yang mengetahui penolakan Imam untuk berbaiat mengirim surat-surat yang mengundang beliau ke Kufah.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 157–159; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 36–38.&amp;lt;/ref&amp;gt; Husain bin Ali mengutus Muslim bin Aqil ke Kufah untuk memastikan situasi. Setelah melihat sambutan dan baiat masyarakat, Muslim memanggil Imam Husain ke Kufah.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 41.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam kemudian berangkat bersama keluarga dan pengikutnya pada tanggal 8 Dzulhijjah dari Mekah menuju Kufah.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 160; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 66.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut beberapa laporan, Imam Husain as mengetahui adanya rencana pembunuhan terhadap dirinya di Mekah. Untuk menjaga kesucian Mekah, beliau meninggalkan kota tersebut menuju Irak.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;d, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, halaman 450; Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun, jilid 8, halaman 159 dan 161.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Aktivitas Politik Imam Husain as Sebelum Qiyam}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Peristiwa Karbala==&lt;br /&gt;
{{poem|Ketika kekhalifahan terlepas dari Al-Qur&#039;an|Racun kebebasan dituangkan ke dalam mulut|Di tanah Karbala, hujan turun dan pergi|Bunga lalale tumbuh di reruntuhan|Hingga hari kiamat, ia menghentikan tirani|Gelombang darahnya menciptakan taman|Darahnya menjelaskan rahasia ini|Membangunkan umat yang tertidur|Pedang &amp;quot;La&amp;quot; ia hunus|Mengalirkan darah para pengikut kebatilan|Rahasia Al-Qur&#039;an kami pelajari dari Husain|Dari apinya, kami menyimpan nyala|Wahai angin, wahai utusan yang jauh|Sampaikan air mata kami ke tanah sucinya&amp;lt;ref&amp;gt;Iqbal Lahori, Ramuz-e-Bekhudi, &amp;quot;[https://ganjoor.net/iqbal/romooz-bikhodi/sh13 Bagian 13, tentang makna kebebasan Islam dan rahasia peristiwa Karbala]&amp;quot;&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
|Align = kiri&lt;br /&gt;
|Judul= Tentang Makna Kebebasan Islam dan Rahasia Peristiwa Karbala&lt;br /&gt;
|Penyair= Iqbal Lahori}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peristiwa Karbala terjadi akibat penolakan Imam Husain as untuk berbaiat kepada Yazid. Husain as memenuhi undangan penduduk Kufah dan berangkat bersama keluarga serta pengikutnya menuju Kufah. Namun, di daerah bernama Dzuhusam, beliau dihadang oleh pasukan yang dipimpin oleh Hurr bin Yazid al-Riyahi dan terpaksa mengubah rute perjalanannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 408; Ibnu Miskawaih, Ahmad bin Muhammad, Tajarib al-Umam wa Ta&#039;aqub al-Himam, tahqiq: Abu al-Qasim Imami, Teheran, Surush, 1379 H; jilid 2, halaman 67; Ibnu Atsir, Ali bin Abi al-Karam, Al-Kamil fi al-Tarikh, Beirut, Dar Shadir, 1965 M, jilid 4, halaman 51.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kafilah Imam tiba di Karbala pada tanggal 2 Muharram&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu A&#039;tsam, Ahmad, Al-Futuh, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, 1411 H, jilid 5, halaman 83; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 409; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 84; Ibnu Miskawaih, Ahmad bin Muhammad, Tajarib al-Umam wa Ta&#039;aqub al-Himam, tahqiq: Abu al-Qasim Imami, Teheran, Surush, 1379 H, jilid 2, halaman 68.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan pada tanggal 3 Muharram, pasukan dari Kufah yang dipimpin oleh Umar bin Sa&#039;ad tiba di Karbala.&amp;lt;ref&amp;gt;Dinawari, Ahmad bin Dawud, Al-Akhbar al-Thiwal, tahqiq Abdul Mun&#039;im Amir, Qum, Mansyurat Razi, 1368 H, halaman 253; Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 176; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 409; Ibnu Atsir, Ali bin Abi al-Karam, Al-Kamil fi al-Tarikh, Beirut, Dar Shadir, 1965 M, jilid 4, halaman 52.&amp;lt;/ref&amp;gt; Menurut laporan sejarah, beberapa perundingan terjadi antara Husain bin Ali dan Umar bin Sa&#039;ad;&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 414; Ibnu Miskawaih, Ahmad bin Muhammad, Tajarib al-Umam wa Ta&#039;aqub al-Himam, tahqiq: Abu al-Qasim Imami, Teheran, Surush, 1379 H; jilid 2, halaman 71.&amp;lt;/ref&amp;gt; namun Ibnu Ziyad hanya menerima baiat Husain as kepada Yazid atau perang.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 182; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 414; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 88.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada malam Asyura, Imam Husain as melepas baiat dari para pengikutnya setelah menyampaikan pidato; namun mereka menegaskan kesetiaan dan dukungan mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 91–94.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertempuran dimulai pada pagi hari Asyura. Setelah para sahabat dan kerabat Imam as gugur,&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 446; Isfahani, Abu al-Faraj, Maqatil al-Thalibiyyin, tahqiq Ahmad Saqr, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, tanpa tahun, halaman 80.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam sendiri maju ke medan perang dan gugur sebagai syahid pada sore hari.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad, 1413 H, jilid 2, halaman 112.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
{{see also|Daftar Syuhada Karbala}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syamr bin Dzil Jausyan&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 112; Khuwarizmi, Muaffaq bin Ahmad, Maqtal al-Husain as, Qum, Anwar al-Huda, cetakan kedua, 1423 H, jilid 2, halaman 41; Thabarsi, Fadhl bin Hasan, I&#039;lam al-Wara bi A&#039;lam al-Huda, Teheran, Islamiyah, 1390 H, jilid 1, halaman 469.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan menurut riwayat lain, Sinan bin Anas&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 450–453; Ibnu Sa&#039;d, Al-Thabaqat al-Kubra, cetakan Ihsan Abbas, Beirut, 1968, jilid 6, halaman 441; Isfahani, Abu al-Faraj, Maqatil al-Thalibiyyin, tahqiq Ahmad Saqr, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, tanpa tahun, halaman 118; Mas&#039;udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jilid 3, halaman 62.&amp;lt;/ref&amp;gt; memenggal kepala beliau dan mengirimkannya kepada Ibnu Ziyad pada hari yang sama.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 411; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 456.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Pembunuh Imam Husain as}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluarga Imam Husain as ditawan dan dibawa ke Kufah, kemudian ke Syam.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 456.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Lama Masa Penawanan Ahlul Bait as Setelah Peristiwa Karbala}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jenazah Imam Husain as dan para syuhada Karbala dimakamkan pada tanggal 11&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 455.&amp;lt;/ref&amp;gt; atau 13 Muharram oleh sekelompok orang dari Bani Asad, dan menurut riwayat lain, dengan kehadiran Imam Sajjad as di tempat syahid.&amp;lt;ref&amp;gt;Musawi al-Muqarram, Abdul Razzaq, Maqtal al-Husain as, Beirut, Dar al-Kitab al-Islamiyah, halaman 335–336.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Fail:حرم امام حسین.jpg|250px|thumb|Foto tertua yang diyakini sebagai Haram Imam Husain as]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Reaksi Terhadap Peristiwa Karbala==  &lt;br /&gt;
Kebangkitan Imam Husain as dan kesyahidannya menimbulkan banyak reaksi dan memicu gerakan revolusioner serta protes selama bertahun-tahun, seperti Kebangkitan Tawwabin, Kebangkitan Mukhtar, Kebangkitan Zaid bin Ali, dan Kebangkitan Yahya bin Zaid.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, dalam Kebangkitan Siyah Jamegan yang dipimpin oleh Abu Muslim al-Khurasani—yang mengakibatkan kejatuhan Dinasti Umayyah—slogan &amp;quot;Ya Latharat al-Husain&amp;quot; (Wahai Penuntut Balas Kematian Husain) digunakan.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 9, halaman 317.&amp;lt;/ref&amp;gt; Revolusi Islam Iran juga dianggap terinspirasi oleh kebangkitan Imam Husain as.&amp;lt;ref&amp;gt;[http://farsi.rouhollah.ir/library/sahifeh?volume=17&amp;amp;tid=22 Khomeini, Sahifeh Nur, 1379 H, jilid 17, halaman 58.]&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat banyak riwayat yang meramalkan kesyahidan Husain bin Ali as.&amp;lt;ref&amp;gt;Rei Syahri, Danesyameh Imam Husain, 1388 H, jilid 3, halaman 166–317.&amp;lt;/ref&amp;gt; Salah satunya adalah Hadits Lauh yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad (saw), di mana Allah memuliakan Husain dengan kesyahidan dan menjadikannya sebagai syahid terbaik.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 H, jilid 1, halaman 528; Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Ghaibah, Qum, Dar al-Ma&#039;arif al-Islamiyah, 1411 H, halaman 145.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tujuan Kebangkitan==  &lt;br /&gt;
Terdapat berbagai pandangan mengenai tujuan Imam Husain as dalam kebangkitannya. Beberapa ulama seperti Luthfullah Shafi, Murtadha Muthahhari, Sayid Muhsin Amin, dan Ali Syariati menyatakan bahwa tujuan Husain bin Ali as adalah untuk mencapai syahid.&amp;lt;ref&amp;gt;Esfandiyari, Asyura Syenasi, 1387 H, halaman 157.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayid Murtadha&amp;lt;ref&amp;gt;Sayid Murtadha, Ali bin Husain, Tanzih al-Anbiya, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan kedua, 1409 H, halaman 227–228.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan ulama kontemporer seperti Shalehi Najaf Abadi menyatakan bahwa tujuan Imam adalah untuk membentuk pemerintahan.&amp;lt;ref&amp;gt;Shalehi Najaf Abadi, Nimatullah, Syahid Javid, Teheran, Omid Farda, 1387 H, halaman 157–158.&amp;lt;/ref&amp;gt; Selain itu, ada juga pandangan lain seperti tujuan untuk menyelamatkan nyawa.&amp;lt;ref&amp;gt;Asytahardi, Ali Panah, Haft Saleh Chera Seda Dar Avard?, Qum, Penerbit Allamah, cetakan pertama, 1391 H, halaman 154.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{main|Kebangkitan Asyura: Gerakan Ilahi atau Keinginan Rakyat?|Kesadaran Imam Husain as tentang Akhir Kebangkitan}}  &lt;br /&gt;
[[File:Tazie ashora.jpg|thumb|Bagian dari tradisi Taziyah|280x280px]]  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kebangkitan Imam dalam Pandangan Ahlusunah==  &lt;br /&gt;
{{main|Pandangan Al-Ghazali tentang Kebangkitan Imam Husain as}}  &lt;br /&gt;
Di kalangan Ahlusunah, terdapat dua pandangan tentang Kebangkitan Imam Husain as: sebagian mengkritiknya, sementara banyak yang memujinya.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Khaldun, sejarawan Ahlusunah abad ke-9, menekankan bahwa syarat untuk memerangi para penindas adalah adanya pemimpin yang adil. Ia menyebut Husain as sebagai orang yang paling adil untuk memimpin perlawanan ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, Beirut, Dar al-Fikr, 1401 H, jilid 1, halaman 217.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ia juga menyatakan bahwa ketika kefasikan Yazid menjadi jelas bagi semua orang, Husain merasa wajib untuk bangkit melawannya karena ia merasa memiliki kelayakan dan kekuatan untuk melakukannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jilid 1, halaman 216.&amp;lt;/ref&amp;gt; Syihabuddin Alusi, ulama Ahlusunah abad ke-13, dalam kitab Ruh al-Ma&#039;ani, mengkritik dan mengutuk Ibnu Arabi yang mencela Imam Husain. Ia menyatakan bahwa klaim Ibnu Arabi tentang kebangkitan Husain sebagai sumber kejahatan dan ketidakbaikan adalah dusta dan fitnah besar.&amp;lt;ref&amp;gt;Alusi, Ruh al-Ma&#039;ani, tahqiq: Ali Abdul Bari Athiyah, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1415 H, jilid 13, halaman 228.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abbas Mahmud Al-Aqqad, penulis dan sastrawan Mesir abad ke-14, dalam bukunya Abu al-Syuhada: Al-Husain bin Ali, menulis bahwa situasi pada masa Yazid telah mencapai titik di mana hanya syahid yang dapat menyelesaikannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Aqqad, Abbas Mahmud, Abu al-Syuhada Al-Husain bin Ali, Teheran, Al-Majma&#039; al-Alami li al-Taqrib, cetakan kedua, 1429 H, halaman 207.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ia percaya bahwa kebangkitan seperti ini hanya dapat dilakukan oleh manusia langka yang diciptakan untuk tujuan ini, dan gerakan mereka tidak dapat dibandingkan dengan orang lain karena mereka memahami dan menuntut sesuatu yang berbeda.&amp;lt;ref&amp;gt;Aqqad, Abbas Mahmud, Abu al-Syuhada Al-Husain bin Ali, Teheran, Al-Majma&#039; al-Alami li al-Taqrib, cetakan kedua, 1429 H, halaman 141.&amp;lt;/ref&amp;gt; Thaha Husain, penulis Ahlusunah, berpendapat bahwa penolakan Husain untuk berbaiat bukan karena keras kepala, tetapi karena ia tahu bahwa berbaiat kepada Yazid berarti mengkhianati hati nuraninya dan bertentangan dengan agamanya, karena baginya berbaiat kepada Yazid adalah dosa.&amp;lt;ref&amp;gt;Husain, Thaha, Ali wa Banuh, Kairo, Dar al-Ma&#039;arif, tanpa tahun, halaman 239.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar Farrukh juga menekankan bahwa diam di hadapan kezaliman tidak dapat dibenarkan. Ia percaya bahwa umat Islam saat ini membutuhkan seorang &amp;quot;Husain&amp;quot; yang bangkit untuk membimbing kita ke jalan yang benar dalam membela kebenaran.&amp;lt;ref&amp;gt;Farrukh, Umar, Tajdid fi al-Muslimin la fi al-Islam, Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, tanpa tahun, halaman 152.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tradisi Berkabung==  &lt;br /&gt;
Syiah dan bahkan non-Syiah melakukan tradisi berkabung untuk Imam Husain dan syuhada Karbala selama bulan Muharram. Syiah memiliki ritual berkabung yang umum, seperti pembacaan kisah tragedi Karbala (rawdhah), memukul dada (sineh-zani), pertunjukan teater tragedi Karbala (ta&#039;ziyah), dan membaca ziarah seperti Ziarah Asyura, Ziarah Warits, dan Ziarah Nahiyah Muqaddasah secara individu atau berkelompok.&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat: [http://fa.abna24.com/news/اخبار-آسیای-شرقی/عزاداری-ماه-محرم-در-کشورهای-جنوب-شرقی-آسیا-برگزار-می‌شود_725804.html «Tradisi Berkabung Bulan Muharram di Negara Asia Tenggara», ABNA News Agency]; [http://www.beytoote.com/art/city-country/different-cities2-muharram.html «Adat dan Tradisi Masyarakat di Berbagai Kota Iran pada Bulan Muharram», Situs Beytoote.]&amp;lt;/ref&amp;gt; Tempat yang dikhususkan untuk berkabung disebut Husainiyah.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tradisi berkabung untuk Imam Husain as dimulai sejak hari-hari pertama setelah Asyura.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 206.&amp;lt;/ref&amp;gt; Menurut sebuah riwayat, ketika tawanan Karbala tiba di Syam, para wanita Bani Hasyim berkabung selama beberapa hari dengan mengenakan pakaian hitam.&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 H, jilid 45, halaman 196.&amp;lt;/ref&amp;gt; Setelah berkuasanya pemerintahan Syiah dan berkurangnya tekanan terhadap Syiah, tradisi berkabung menjadi resmi.&amp;lt;ref&amp;gt;Aeinehvand, Sadeq dan Velayati, Ali Akbar, Sunnat Azadari wa Manqabat-Khani dar Tarikh Syiah Imamiyah, dengan pengantar Muhammad Taqi-Zadeh Davari, Qum, Muassasah Syiah-Syenasi, cetakan kedua, 1386 H, halaman 65–66, mengutip Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, jilid 11, halaman 183; Ibnu Jauzi, Abdul Rahman bin Ali, Al-Muntazam fi Tarikh Thabari, tahqiq Muhammad Abdul Qadir Atha dan Mustafa Abdul Qadir Atha, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1992 M, jilid 7, halaman 15.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sumber Syiah dan Ahlusunah disebutkan bahwa Nabi Muhammad (saw) menangis saat kelahiran Husain dan memberitakan kesyahidannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 129; Maqrizi, Taqiyuddin, Imta&#039; al-Asma&#039;, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1420 H, jilid 12, halaman 237; Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun, jilid 6, halaman 230.&amp;lt;/ref&amp;gt; Menurut laporan sejarah dan hadis, para Imam Syiah sangat menekankan pentingnya berkabung dan menangis untuk mengenang Husain bin Ali, serta menganjurkan Syiah untuk menjaga ingatan tentang Asyura.&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 H, jilid 44, bab 34, halaman 278–296.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{main|Perkembangan Tradisi Berkabung|Kesedihan dan Tangisan dalam Berkabung untuk Imam Husain as|Tradisi Berkabung Para Imam Syiah untuk Imam Husain as}}  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Makam Imam Husain as==  &lt;br /&gt;
[[Fail:حرم امام حسین(ع).jpg|250px|thumb|Pemandangan Makam Imam Husain as pada tahun 1932 M.]]&lt;br /&gt;
Menurut laporan yang ada, bangunan pertama di atas makam Husain bin Ali as dibangun pada masa Mukhtar al-Tsaqafi atas perintahnya. Sejak saat itu, bangunan makam telah beberapa kali direnovasi dan diperluas.&amp;lt;ref&amp;gt;Al Tu&#039;mah, Salman Hadi, Karbala wa Haram-ha-ye Muthahhar, Teheran, Masyar, tanpa tahun, halaman 89–112.&amp;lt;/ref&amp;gt; Makam Imam Husain as beberapa kali dihancurkan oleh beberapa khalifah Abbasiyah&amp;lt;ref&amp;gt;Isfahani, Abu al-Faraj, Maqatil al-Thalibiyyin, tahqiq Ahmad Saqr, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, tanpa tahun, halaman 477.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan kelompok Wahabi.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, Negahi Now be Jaryan-e Asyura, 1387 H, halaman 425.&amp;lt;/ref&amp;gt; Misalnya, Khalifah Al-Mutawakkil Abbasi memerintahkan untuk membajak tanah Hair dan mengalirkan air ke makam.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Amali, Qum, Dar al-Tsaqafah, 1414 H, halaman 327; Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 2, halaman 211.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Area sekitar makam Imam Husain as disebut Hair Husaini. Area ini memiliki keutamaan dan hukum fikih khusus, dan seorang musafir dapat melaksanakan shalat lengkap di dalamnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabathabai Yazdi, Sayid Muhammad Kazhim, &#039;&#039;Al-Urwah al-Wutsqa&#039;&#039;, Beirut, 1404 H, jilid 2, halaman 164.&amp;lt;/ref&amp;gt; Terdapat beberapa pendapat tentang luas pasti Hair, dan minimalnya adalah area dengan radius 11 meter dari makam Imam Husain, yang memiliki tingkat keutamaan tertinggi.&amp;lt;ref&amp;gt;Kalidar, Abdul Jawad, Tarikh Karbala wa Hair al-Husain Alaih al-Salam, Najaf, cetakan ofset Qum, 1376 H, halaman 51–52, 58–60.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ziarah ke Makam Imam Husain as==  &lt;br /&gt;
Dalam riwayat para Imam Maksum, ziarah ke makam Imam Husain as tidak hanya ditekankan, tetapi juga dianggap sebagai salah satu amalan terbaik dan paling utama.&amp;lt;ref&amp;gt;Muassasah Imam Hadi as, Jami&#039; Ziyarat al-Ma&#039;sumin, Qum, Payam Imam Hadi as, 1389 H, jilid 3, halaman 36–69.&amp;lt;/ref&amp;gt; Bahkan, pahalanya disamakan dengan haji dan umrah.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qulawiyah, Ja&#039;far bin Muhammad, Kamil al-Ziyarat, Najaf, Dar al-Murtadhawiyah, 1356 H, halaman 158–161.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kitab-kitab ziarah, terdapat beberapa ziarah mutlak untuk Imam Husain yang dapat dibaca kapan saja&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammadi Risyahri, Muhammad dan kawan-kawan, Danesyameh Imam Husain as, terjemahan Muhammad Muradi, Qum, Dar al-Hadits, 1430 H, jilid 12, halaman 256–452.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan beberapa ziarah khusus yang dibaca pada waktu tertentu.&amp;lt;ref&amp;gt;[https://hawzah.net/fa/Magazine/View/6444/8140/107167/زیارت-های-مخصوصه-امام-حسین «Ziarah Khusus Imam Husain», Situs Informasi Hauzah.]&amp;lt;/ref&amp;gt; Ziarah Asyura, Ziarah Warits, dan Ziarah Nahiyah Muqaddasah adalah beberapa ziarah yang paling terkenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Arbain Husaini==&lt;br /&gt;
{{main|Arbain Husaini}}&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Syiah melakukan tradisi berkabung pada hari ke-40 setelah kesyahidan Imam Husain as, yang dikenal sebagai Arbain Husaini. Pada hari ini, para pecinta Imam Husain as pergi berziarah ke makam beliau di Karbala.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut beberapa laporan sejarah, tawanan Karbala dalam perjalanan kembali dari Syam ke Madinah berziarah ke makam syuhada Karbala pada hari Arbain.&amp;lt;ref&amp;gt;Sayid bin Thawus, Ali bin Musa, Al-Luhuf &#039;ala Qatla al-Thufuf, Qum, Aswah, 1414 H, halaman 225.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dikatakan bahwa Jabir bin Abdullah al-Anshari adalah orang pertama yang hadir di makam Imam Husain as pada hari ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Mishbah al-Mutahajjid, Beirut, Muassasah Fiqh al-Syiah, 1411 H, halaman 787.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anjuran untuk melakukan ziarah Arbain telah mendorong umat Syiah dari berbagai penjuru dunia untuk berbondong-bondong menuju Karbala setiap tahunnya. Perjalanan ini, yang biasanya dilakukan dengan berjalan kaki, dianggap sebagai salah satu prosesi terbesar di dunia. Sumber berita melaporkan bahwa jumlah peziarah Arbain pada tahun 1398 Hijriah mencapai lebih dari 18 juta orang.&amp;lt;ref&amp;gt;[https://www.irna.ir/news/83522637/ «Jumlah Peziarah Arbain Tahun Ini Melebihi 18 Juta», Kantor Berita Republik Islam.]&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Riwayat-Riwayat Imam Husain== &lt;br /&gt;
Dalam berbagai sumber hadis dan sejarah, terdapat banyak referensi tentang ucapan,&amp;lt;ref&amp;gt;Ma&#039;had Penelitian Baqir al-Ulum as, Mausu&#039;ah Kalimat al-Imam al-Husain, 1416 H, pengantar, halaman Z.&amp;lt;/ref&amp;gt; doa,&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, Tehran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 H, jilid 95, halaman 214.&amp;lt;/ref&amp;gt; surat,&amp;lt;ref&amp;gt;Ahmadi Miyanji, Ali, Makatib al-A&#039;immah, Ayatullah Ahmadi Miyanji, Qum, Dar al-Hadits, 1426 H, jilid 3, halaman 83–156.&amp;lt;/ref&amp;gt; syair,&amp;lt;ref&amp;gt;Karbasi, Muhammad Shadiq, Da&#039;irat al-Ma&#039;arif al-Husainiyah, Diwan al-Imam al-Husain, London, Al-Markaz al-Husaini li al-Dirasat, 2001 M, jilid 1 dan 2.&amp;lt;/ref&amp;gt; khutbah,&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Syu&#039;bah Harrani, Hasan bin Ali, Tuhaf al-&#039;Uqul, Qum, Jamaah Mudarrisin, 1404 H, halaman 237–240; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 97–98.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan wasiat Imam Husain as.&amp;lt;ref&amp;gt;Khuwarizmi, Muaffaq bin Ahmad, Maqtal al-Husain as, Qum, Anwar al-Huda, cetakan kedua, 1423 H, jilid 1, halaman 273.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam buku Musnad al-Imam al-Syahid karya Azizullah Atharadi dan Mausu&#039;ah Kalimat al-Imam al-Husain, semua riwayat dari Imam as telah dikumpulkan.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Karya-Karya tentang Kehidupan Imam== &lt;br /&gt;
Tentang kepribadian dan kehidupan Husain bin Ali as, banyak karya telah ditulis dalam bentuk ensiklopedia, biografi, maqtal (kisah kesyahidan), dan sejarah analitis. Lebih dari empat puluh buku dan artikel telah membahas topik &amp;quot;bibliografi Imam Husain&amp;quot;.&amp;lt;ref&amp;gt;[http://www.ensani.ir/fa/content/187015/default.aspx Esfandiyari, «Bibliografi Bibliografi Imam Husain as», halaman 41.]&amp;lt;/ref&amp;gt; Sebagai contoh, dalam «Bibliografi Khusus Imam Husain», disebutkan 1.428 karya dengan detail penerbitan.&amp;lt;ref&amp;gt;Safar Ali Pour, Heshmatullah, Kitab Syenasi Ikhtisasi Imam Husain, Qum, Yaqut, 1381 H, halaman 255.&amp;lt;/ref&amp;gt; Agha Buzurg Tehrani juga dalam bukunya Al-Dzari&#039;ah ila Tashanif al-Syiah memperkenalkan 985 buku tentang topik ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Esfandiyari, Muhammad, Kitab Syenasi Tarikhi Imam Husain as, Tehran, Organisasi Penerbitan dan Percetakan, 1380 H, halaman 491.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan Kaki ==&lt;br /&gt;
{{footnotes|3}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch = تاریخ&lt;br /&gt;
 | subbranch1 = تاریخ و سیره معصومان&lt;br /&gt;
 | subbranch2 = امام حسین(ع)&lt;br /&gt;
 | subbranch3 =&lt;br /&gt;
 | شاخه فرعی۴ =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه =شد&lt;br /&gt;
 | تیترها =شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش =شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی =شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر =شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی نویسنده =&lt;br /&gt;
 | ارزیابی کمی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت =ج&lt;br /&gt;
 | کیفیت =ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[bn:ইমাম হুসাইন আলাইহিস সালাম]]&lt;br /&gt;
[[fa:امام حسین علیه‌السلام]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Imam_Husain_as&amp;diff=924</id>
		<title>Imam Husain as</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Imam_Husain_as&amp;diff=924"/>
		<updated>2025-02-19T22:18:38Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{text start}}&lt;br /&gt;
{{question}}&lt;br /&gt;
Siapakah Imam Husain (as)?&lt;br /&gt;
{{question end}}&lt;br /&gt;
{{answer}}&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Imam Husain as&#039;&#039;&#039; ([[4 H-61 H]]) adalah [[Imam]] ketiga [[Syiah]] setelah [[Imam Ali as]] dan [[Imam Hasan as]]. Beliau adalah cucu [[Nabi Muhammad saw]] dan anak dari [[Imam Ali as]] serta [[Sayidah Fatimah sa]], serta adik dari [[Imam Hasan as]]. Masa imamah Imam Husain as diketahui selama sebelas tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut sumber-sumber terpercaya dari [[Syiah]] dan [[Sunni]], Imam Husain as termasuk dalam [[Ashabul Kisa]] dan dianggap sebagai manifestasi dari [[Ayat Tathir]] serta kata &amp;quot;abna&#039;ana&amp;quot; dalam [[Ayat Mubahalah]]. Imam Husain as sangat dicintai oleh Nabi Muhammad saw, yang menyebutnya sebagai lentera petunjuk, kapal keselamatan, dan [[penghulu pemuda surga]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat sedikit laporan tentang kehidupan Imam Husain as sebelum masa imamahnya, seperti kehadirannya dalam tiga peperangan bersama ayahnya, dukungannya terhadap [[perdamaian Imam Hasan as]] dengan [[Muawiyah bin Abu Sufyan]], dan kesetiaannya kepada saudaranya. Setelah syahidnya Imam Hasan as, Imam Husain as tidak melakukan tindakan apa pun terhadap Muawiyah dan tetap setia pada perjanjian yang dibuat oleh saudaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepuluh tahun dari masa imamah Imam Husain as bertepatan dengan pemerintahan Muawiyah. Imam Husain as menentang beberapa tindakan Muawiyah, seperti pembunuhan terhadap beberapa [[sahabat Nabi saw]] dan pengangkatan [[Yazid bin Muawiyah]] sebagai putra mahkota. Imam Husain as menyatakan bahwa Yazid tidak layak dan dirinyalah yang lebih berhak atas [[kekhalifahan]]. Dalam sebuah khutbah, Imam Husain as menyampaikan posisi politiknya terhadap Bani Umayyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kematian Muawiyah, Imam Husain as menolak untuk berbaiat kepada Yazid, yang dianggapnya tidak sah. Pada 28 Rajab tahun 60 H, setelah diperintahkan untuk dibunuh jika menolak berbaiat, Imam Husain as meninggalkan Madinah menuju Mekah. Beliau menerima banyak surat dari penduduk Kufah yang memintanya untuk memimpin mereka. Setelah utusannya, Muslim bin Aqil, mengonfirmasi dukungan penduduk Kufah, Imam Husain as berangkat menuju Kufah pada 8 Dzulhijjah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ubaidullah bin Ziyad, gubernur Kufah, mengirim pasukan di bawah komando Hurr bin Yazid untuk menghadang dan memblokir jalan Imam Husain as. Setelah jalannya terhalang, Imam Husain as terpaksa menuju Karbala. Akhirnya, setelah pertempuran dengan pasukan Kufah pada hari Asyura, Imam Husain as dan para sahabatnya gugur sebagai syahid, dan keluarganya ditawan. Jenazah Imam Husain as dan para sahabatnya dimakamkan pada tanggal 11 atau 13 Muharram oleh sekelompok orang dari Bani Asad di Karbala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kedudukan Imam==&lt;br /&gt;
[[Fail:نام امام حسین(ع) در ایاصوفیه.jpg|250px|thumb|Nama Imam Husain as di Masjid Hagia Sophia, Turki]]&lt;br /&gt;
Husain bin Ali as adalah Imam ketiga [[Syiah]], setelah Imam Ali as dan Imam Hasan as. Imam Husain as memiliki kedudukan yang sangat istimewa di kalangan umat Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau dianggap sebagai orang yang paling mulia dan pemimpin Bani Hasyim;&amp;lt;ref&amp;gt;Yaqubi, Ahmad bin Abi Yaqub, Tarikh al-Yaqubi, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 226; Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 363.&amp;lt;/ref&amp;gt; sehingga pendapatnya diutamakan di antara Bani Hasyim lainnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 414–416.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam sebuah riwayat dari [[Nabi Muhammad saw]] yang diriwayatkan oleh beberapa sumber [[Syiah]] dan [[Sunni]], Husain disebut sebagai salah satu dari Asbat (keturunan Nabi).&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, &#039;&#039;Ansab al-Asyraf&#039;&#039;, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 142; Syekh Mufid, &#039;&#039;Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad&#039;&#039;, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 127; Maqrizi, Taqiyuddin, &#039;&#039;Imta&#039; al-Asma&#039; bima li al-Nabi min al-Ahwal wa al-Amwal wa al-Hafadah wa al-Mata&#039; &#039;&#039;, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1420 H, jilid 6, hlm. 19.&amp;lt;/ref&amp;gt; Asbat dalam ayat dan riwayat merujuk pada Imam atau pemimpin yang dipilih oleh Allah dan berasal dari keturunan para nabi.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammadi Rei Syahri, Muhammad dan kawan-kawan, Ensiklopedia Imam Husain as, terjemahan oleh Muhammad Muradi, Qum, Dar al-Hadits, 1430 H, jilid 1, hlm. 474–477.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as bagi umat Islam, khususnya Syiah, setelah [[Peristiwa Karbala]] pada tahun [[61 H]] dianggap sebagai sosok yang memperjuangkan kebenaran, pemberani, dan rela berkorban.&amp;lt;ref&amp;gt;Haj Manouchehri, Faramarz, &amp;quot;Husain as, Imam&amp;quot;, dalam Ensiklopedia Besar Islam, jilid 20, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, 1391 HS, hlm. 681.&amp;lt;/ref&amp;gt; Kedudukannya yang tinggi di kalangan umat Islam terutama berasal dari perjuangannya di jalan Allah dan pengorbanan jiwa, harta, dan keluarganya.&amp;lt;ref&amp;gt;[https://hawzah.net/fa/Article/View/82145 Ayyub, &amp;quot;Keutamaan Imam Husain as dalam Hadis-hadis Ahlusunah&amp;quot;].&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peristiwa Karbala sebagai bentuk pertama pelecehan dan serangan terbuka terhadap keluarga Nabi saw memiliki pengaruh besar pada budaya Syiah.&amp;lt;ref&amp;gt;Haj Manouchehri, Faramarz, &amp;quot;Husain as, Imam&amp;quot;, dalam Ensiklopedia Besar Islam, jilid 20, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, 1391 HS, hlm. 686.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sehingga, perjuangannya menjadi simbol amar ma&#039;ruf nahi munkar, melawan kezaliman, pengorbanan, dan kesediaan berkorban.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhadditsi, Jawad, Budaya Asyura, Qum, Penerbit Ma&#039;ruf, cetakan ketujuh belas, 1393 HS, hlm. 372.&amp;lt;/ref&amp;gt; Hal ini juga menjadi landasan bagi pemberontakan Syiah melawan penguasa yang zalim.&amp;lt;ref&amp;gt;Haj Manouchehri, Faramarz, &amp;quot;Husain as, Imam&amp;quot;, dalam Ensiklopedia Besar Islam, jilid 20, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, 1391 HS, hlm. 687.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam ranah budaya umum, umat Islam bahkan pengikut agama lain menganggap Husain bin Ali as sebagai simbol dan teladan pengorbanan, ketidakmampuan menerima kezaliman, cinta kebebasan, menjaga nilai-nilai, dan memperjuangkan kebenaran.&amp;lt;ref&amp;gt;[http://www.iwpeace.com/news/36736 &amp;quot;Budaya Asyura Melampaui Batas Muslim&amp;quot;, situs web Majelis Perdamaian Islam Dunia].&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan-bulan [[Muharram]] dan [[Safar]] memiliki tempat khusus dalam budaya Syiah, terutama pada hari-hari [[Tasua]] dan [[Asyura]] serta [[Arbain Husaini]], di mana berbagai ritual diadakan untuk memperingati peristiwa ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Haj Manouchehri, Faramarz, &amp;quot;Husain as, Imam&amp;quot;, dalam Ensiklopedia Besar Islam, jilid 20, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, 1391 HS, hlm. 689.&amp;lt;/ref&amp;gt; Syiah, mengikuti [[para Imam as]], ketika minum air, mengingat kehausan Imam Husain dan mengucapkan salam untuknya.&amp;lt;ref&amp;gt;Haj Manouchehri, Faramarz, &amp;quot;Husain as, Imam&amp;quot;, dalam Ensiklopedia Besar Islam, jilid 20, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, 1391 HS, hlm. 681; Muhadditsi, Jawad, Budaya Asyura, Qum, Penerbit Ma&#039;ruf, cetakan ketujuh belas, 1393 HS, hlm. 508.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Cucu Nabi Muhammad saw==&lt;br /&gt;
[[Fail:نام امام حسین(ع) بر دیوار مسجد النبی.JPG|250px|thumb|Nama Imam Husain as di dinding Masjid Nabawi]]&lt;br /&gt;
Imam Husain as lahir pada tanggal 3&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Masyhadi, Muhammad bin Ja&#039;far, Al-Mazar [Al-Kabir], penelitian oleh Jawad al-Qayyumi al-Isfahani, Qum, Muassasah al-Nashr al-Islami, 1419 H, hlm. 397; Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Mishbah al-Mutahajjid, Beirut, Muassasah Fiqh al-Syiah, 1411 H, hlm. 826, 828; Sayid bin Thawus, Ali bin Musa, Iqbal al-A&#039;mal, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1367 HS, hlm. 689–690.&amp;lt;/ref&amp;gt; atau 5 Sya&#039;ban&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27.&amp;lt;/ref&amp;gt; tahun ke-4 Hijriah di [[Madinah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Yaqubi, Ahmad bin Abi Yaqub, Tarikh al-Yaqubi, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 246; Dulabi, Muhammad bin Ahmad, Al-Dzurriyah al-Thahirah, cetakan oleh Muhammad Jawad Husaini Jalali, Qum, 1407 H, hlm. 102, 121; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1962 M, jilid 2, hlm. 555; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau berasal dari keluarga [[Bani Hasyim]] dan [[Quraisy]], cucu [[Nabi Muhammad saw]], anak dari [[Imam Ali as]] dan [[Sayidah Fatimah sa]], serta adik dari [[Imam Hasan as]].&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27.&amp;lt;/ref&amp;gt; [[Abbas as]], [[Muhammad bin Hanafiyah]] adalah saudara-saudaranya, dan [[Sayidah Zainab sa]] serta [[Ummu Kultsum]] adalah saudari-saudarinya.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber-sumber dari kedua mazhab menyebutkan bahwa Nabi saw memilih nama &amp;quot;Husain&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27; Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Beirut, Dar Shadir, tanpa tahun, jilid 1, hlm. 98, 118.&amp;lt;/ref&amp;gt; atas perintah [[Allah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 3, hlm. 397; Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 244.&amp;lt;/ref&amp;gt; Nama Husain setara dengan Syabir&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Manzur, Muhammad bin Mukarram, Lisan al-Arab, Beirut, Dar Sadir, 1414 H, jilid 4, hlm. 393; Zabidi Wasti, Murtadha Husaini, Taj al-Arus min Jawahir al-Qamus, Beirut, Dar al-Fikr, 1414 H, jilid 7, hlm. 4.&amp;lt;/ref&amp;gt;, yang merupakan nama salah satu putra [[Harun]].&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 13, hlm. 171.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ummu Fadhl&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 129; Maqrizi, Taqiyuddin, Imta&#039; al-Asma&#039; bima li al-Nabi min al-Ahwal wa al-Amwal wa al-Hafadah wa al-Mata&#039;, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1420 H, jilid 12, hlm. 237; Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun, jilid 6, hlm. 230.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan ibu dari Abdullah bin Yaqthar&amp;lt;ref&amp;gt;Samawi, Muhammad bin Thahir, Ibsar al-&#039;Ain fi Ansar al-Husain as, Qum, Universitas Syahid Muhallati, cetakan pertama, 1419 H, hlm. 93.&amp;lt;/ref&amp;gt; disebut sebagai pengasuh Imam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kunyah]] Husain bin Ali as adalah [[Abu Abdillah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27; Ibnu Abi Syaibah, Al-Musannaf fi al-Ahadits wa al-Atsar, cetakan oleh Sa&#039;id Muhammad Lahham, Beirut, 1409 H, jilid 8, hlm. 65; Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Ma&#039;arif, penelitian oleh Tsarwat &#039;Akasyah, Kairo, Hai&#039;ah al-Mishriyah al-&#039;Ammah lil Kitab, 1960 M, jilid 1, hlm. 213.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau dikenal dengan gelar-gelar seperti Sayid Syabab Ahl al-Jannah (penghulu pemuda surga), Zakiy, Thayyib, Wafiy, Sayid, dan Al-Tabi&#039; li Mardhatillah.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Abi al-Tsalj, Tarikh al-A&#039;immah, dalam Majmu&#039;ah Nafisah fi Tarikh al-A&#039;immah, cetakan oleh Mahmud Mar&#039;asyi, Qum, Perpustakaan Ayatullah Mar&#039;asyi Najafi, 1406 H, hlm. 28; Ibnu Thalhah al-Syafi&#039;i, Mathalib al-Su&#039;ul fi Manaqib Al al-Rasul, cetakan oleh Majid bin Ahmad &#039;Athiyah, tanpa tempat, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 374; untuk daftar gelar Imam Husain as, lihat: Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, cetakan oleh Yusuf Baqa&#039;i, 1385 HS, jilid 4, hlm. 86.&amp;lt;/ref&amp;gt; [[Tsaarullah]], [[Qatil al-&#039;Abarat]],&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Quluwaih, Ja&#039;far bin Muhammad, Kamil al-Ziyarat, Najaf, Dar al-Murtadhawiyah, 1356 H, hlm. 176.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan [[Sayid al-Syuhada]]&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat: Himyari, Abdullah bin Ja&#039;far, Qurb al-Isnad, Qum, Muassasah Al al-Bait as, cetakan pertama, 1413 H, hlm. 99–100; Ibnu Quluwaih, Ja&#039;far bin Muhammad, Kamil al-Ziyarat, cetakan oleh Jawad Qayyumi Isfahani, Qum, 1417 H, hlm. 216–219; Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Amali, Qum, Dar al-Thaqafah, 1414 H, hlm. 49–50.&amp;lt;/ref&amp;gt; adalah gelar-gelar lain yang disebutkan dalam [[ziarah]]-ziarah untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Keutamaan dan Sifat Lahiriah serta Perilaku==&lt;br /&gt;
[[Fail:مقام رأس الحسین در اسرائیل.jpg|250px|thumb|Makam Ra&#039;s al-Husain di kota Ashkelon di wilayah pendudukan Palestina. Tempat ini dijaga dan diziarahi oleh sebagian Syiah (Bohra Ismailiyah).&amp;lt;ref&amp;gt;«[https://nournews.ir/Fa/News/74717/مقام-%C2«Ø±Ø£Ø³-Ø§ÙØ­Ø³ÛÙ%C2»-Ø¯Ø±-Ø³Ø±Ø²ÙÛÙâÙØ§Û-Ø§Ø´ØºØ§ÙÛ Makam «Ra&#039;s al-Husain» di Wilayah Pendudukan]», situs Nour News, tanggal kunjungan: 10 Mordad 1402 HS.&amp;lt;/ref&amp;gt;]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sumber-sumber Syiah dan Sunni, Husain bin Ali as adalah salah satu dari [[Ashabul Kisa]]&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat: Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, &#039;&#039;Al-Kafi&#039;&#039;, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 HS, jilid 1, hlm. 287; Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, 1423 H, jilid 15, hlm. 190.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan salah satu dari [[Ahlul Bait]] yang [[Ayat Tathir]] turun tentang mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 1, hlm. 331; Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Tafsir al-Qur&#039;an al-&#039;Azhim, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1419 H, jilid 3, hlm. 799; Syaukani, Muhammad bin Ali, Fath al-Qadir, Beirut, Alam al-Kutub, tanpa tahun, jilid 4, hlm. 279.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau bersama saudaranya, Imam Hasan as, dianggap sebagai manifestasi dari kata &amp;quot;abna&#039;ana&amp;quot; (anak-anak kami) dalam [[Ayat Mubahalah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Zamakhsyari, Mahmud, Al-Kasyaf &#039;an Haqaiq Ghawamid al-Tanzil, Qum, Nasyr al-Balaghah, cetakan kedua, 1415 H, terkait ayat 61 Surah Ali Imran; Fakhr Razi, Muhammad bin Umar, Al-Tafsir al-Kabir, Beirut, Dar al-Fikr, 1405 H, terkait ayat 61 Surah Ali Imran.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber-sumber terpercaya [[Ahlusunah]] meriwayatkan banyak hadis tentang kedudukan dan keutamaan Husain bin Ali as.&amp;lt;ref&amp;gt;Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, 1423 H, jilid 15, hlm. 190; Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 376–410; Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 7; Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Tafsir al-Qur&#039;an al-&#039;Azhim, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1419 H, jilid 3, hlm. 799.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sebagaimana diriwayatkan dari Nabi saw bahwa Husain as adalah lentera petunjuk dan kapal keselamatan&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali bin Babawaih, Kamal al-Din wa Tamam al-Ni&#039;mah, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1395 HS, jilid 1, hlm. 265.&amp;lt;/ref&amp;gt; serta [[penghulu pemuda surga]].&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 7; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27.&amp;lt;/ref&amp;gt; Juga dalam sebuah riwayat, Nabi saw bersabda, [[Aku dari Husain|Husain dariku dan aku dari Husain]].&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 142; Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 385.&amp;lt;/ref&amp;gt; Barangsiapa mencintai keduanya (Hasan dan Husain), maka ia mencintaiku, dan barangsiapa memusuhi mereka, maka ia memusuhiku.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 266; Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 13, hlm. 198–199; Arbili, Ali bin Isa, Kasyf al-Ghummah fi Ma&#039;rifah al-A&#039;immah, Qum, Radhi, cetakan pertama, 1421 H, jilid 1, hlm. 602.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dikatakan bahwa [[Rasulullah saw]] di antara [[Ahlul Bait]]-nya, lebih mencintai [[Hasanain|Hasan dan Husain as]] daripada yang lain&amp;lt;ref&amp;gt;Tirmidzi, Muhammad bin Isa, Sunan Tirmidzi, penelitian oleh Abdurrahman Muhammad Utsman, Beirut, Dar al-Fikr, 1403 H, jilid 5, hlm. 323.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan kecintaan ini sedemikian rupa sehingga terkadang ketika keduanya masuk ke [[masjid]], beliau menghentikan khutbahnya, turun dari mimbar, dan memeluk mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 5, hlm. 354; Tirmidzi, Muhammad bin Isa, Sunan Tirmidzi, penelitian oleh Abdurrahman Muhammad Utsman, Beirut, Dar al-Fikr, 1403 H, jilid 5, hlm. 322; Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban, penelitian oleh Syu&#039;aib Arnauth, tanpa tempat, Al-Risalah, 1993 M, jilid 13, hlm. 402; Hakim Naisaburi, Al-Mustadrak &#039;ala al-Shahihain, penelitian oleh Yusuf Abdurrahman al-Mar&#039;asyi, Beirut, 1406 H, jilid 1, hlm. 287.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam riwayat disebutkan bahwa Allah menjadikan kesembuhan dalam [[tanah]] Husain as dan [[pengabulan doa]] di samping makamnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 4, hlm. 82; Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar al-Jami&#039;ah li Durar Akhbar al-A&#039;immah al-Athhar, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 HS, jilid 98, hlm. 69.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam kitab [[Al-Khashaish al-Husainiyah]], lebih dari tiga ratus keistimewaan khusus Imam Husain disebutkan.&amp;lt;ref&amp;gt;Syusytari, Syekh Ja&#039;far, Al-Khashaish al-Husainiyah, Syarif Radhi, cetakan pertama, tanpa tahun, hlm. 20.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kebanyakan sumber hadis, sejarah, dan rijal, disebutkan tentang kemiripan Husain as dengan [[Nabi Muhammad saw]]&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 142, 453; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27; Thabrani, Sulaiman bin Ahmad, Al-Mu&#039;jam al-Kabir, Kairo, Dar al-Nasyr, Maktabah Ibnu Taimiyah, cetakan kedua, tanpa tahun, jilid 3, hlm. 95.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan dalam sebuah riwayat, beliau disebut sebagai orang yang paling mirip dengan Nabi saw.&amp;lt;ref&amp;gt;Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 3, hlm. 261; Tirmidzi, Muhammad bin Isa, Sunan Tirmidzi, penelitian oleh Abdurrahman Muhammad Utsman, Beirut, Dar al-Fikr, 1403 H, jilid 5, hlm. 325.&amp;lt;/ref&amp;gt; Tentang beliau, dikatakan bahwa terkadang beliau mengenakan pakaian dari bulu atau memakai sorban dari bulu&amp;lt;ref&amp;gt;Thabrani, Sulaiman bin Ahmad, Al-Mu&#039;jam al-Kabir, Kairo, Dar al-Nasyr, Maktabah Ibnu Taimiyah, cetakan kedua, tanpa tahun, jilid 3, hlm. 101.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan mewarnai rambut serta janggutnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 6, hlm. 419–422; Ibnu Abi Syaibah, Al-Musannaf fi al-Ahadits wa al-Atsar, cetakan oleh Sa&#039;id Muhammad Lahham, Beirut, 1409 H, jilid 6, hlm. 3, 15.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as sangat dermawan dan dikenal dengan kedermawanannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammadi Rey Shahri, Muhammad dan kawan-kawan, Ensiklopedia Imam Husain as, terjemahan oleh Muhammad Muradi, Qum, Dar al-Hadits, 1430 H, jilid 2, hlm. 114–118.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau duduk bersama orang-orang miskin, menerima undangan mereka, makan bersama mereka, mengundang mereka ke rumahnya, dan tidak menahan apa yang ada di rumahnya dari mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 411; Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 14, hlm. 181.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau membebaskan budak-budak dan [[hamba sahaya]]nya sebagai balasan atas perilaku baik mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 70, hlm. 196–197; Ibnu Hazm, Al-Muhalla, penelitian oleh Muhammad Syakir, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun, jilid 8, hlm. 515; Arbili, Ali bin Isa, &#039;&#039;Kasyf al-Ghummah fi Ma&#039;rifah al-A&#039;immah as&#039;&#039;, cetakan oleh Ali Fadhili, Qum, 1426 H, jilid 2, hlm. 476.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam sumber-sumber disebutkan bahwa beliau menunaikan [[haji]] dengan berjalan kaki sebanyak 25 kali.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 401; Ibnu Abd al-Barr, Al-Isti&#039;ab fi Ma&#039;rifah al-Ashab, penelitian oleh Ali Muhammad al-Bajawi, Beirut, Dar al-Jil, cetakan pertama, 1412 H, jilid 1, hlm. 397.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Istri dan Anak-anak==&lt;br /&gt;
[[Fail:Mosibat Karbala.jpg|250px|thumb|Lukisan &amp;quot;Musibah Karbala&amp;quot; dalam gaya lukisan kafe oleh Husain Qollar Aghasi]]&lt;br /&gt;
{{main|Daftar Istri dan Anak-anak Imam Husain as}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Syahrbanu]] adalah nama salah satu istri Imam, yang dikatakan sebagai putri Yazdegerd, raja Sasani, dan ibu dari [[Imam Sajjad as]]. Para peneliti kontemporer meragukan nasab Syahrbanu.&amp;lt;ref&amp;gt;Sebagai contoh, lihat: Muthahhari, Murtadha, &#039;&#039;Khidmat-e Mutaqabil-e Islam va Iran&#039;&#039;, Teheran, Penerbit Sadra, 1380 HS, hlm. 131–133; Syariati Ali, Tasyayyu&#039;-e Alawi va Tasyayyu&#039;-e Safawi, Teheran, Chapkhash, 1377 HS, hlm. 91; Syahidi, Sayid Ja&#039;far, Zindagani Ali bin al-Husain, Teheran, Daftar Nasyr Farhang, 1365 HS, hlm. 12.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu istri Imam lainnya adalah [[Rabab]], putri Amru al-Qais bin Adi. Dia adalah ibu dari [[Sukainah binti Husain|Sukainah]] dan [[Abdullah bin al-Husain|Abdullah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Isfahani, Abul Faraj, &#039;&#039;Maqatil al-Thalibiyyin&#039;&#039;, penelitian oleh Ahmad Saqr, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, tanpa tahun, hlm. 59; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 135.&amp;lt;/ref&amp;gt; Rabab hadir di [[Karbala]] dan bersama para tawanan pergi ke [[Syam]].&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1408 H, jilid 8, hlm. 229.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sebagian besar sumber menyebutkan bahwa Abdullah (Ali Asghar) masih bayi saat syahid.&amp;lt;ref&amp;gt;Mus&#039;ab bin Abdullah, Kitab Nasab Quraisy, cetakan oleh Levi Provencal, Kairo, 1953 M, jilid 1, hlm. 59; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 468; Bukhari, Sahl bin Abdullah, Sirr al-Silsilah al-Alawiyah, cetakan oleh Muhammad Sadiq Bahar al-Ulum, Najaf, 1381 H, jilid 1, hlm. 30.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Laila binti Abi Murrah|Layla]], putri Abi Murrah bin Urwah bin Mas&#039;ud al-Tsaqafi,&amp;lt;ref&amp;gt;Mus&#039;ab bin Abdullah, &#039;&#039;Kitab Nasab Quraisy&#039;&#039;, cetakan oleh Levi Provencal, Kairo, 1953 M, hlm. 57; Yaqubi, Ahmad bin Abi Yaqub, Tarikh al-Yaqubi, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 246–247; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 446.&amp;lt;/ref&amp;gt; adalah nama salah satu istri Imam lainnya. Dia adalah ibu dari [[Ali Akbar as]]&amp;lt;ref&amp;gt;Maqrizi, Taqiyuddin, Imta&#039; al-Asma&#039; bima li al-Nabi min al-Ahwal wa al-Amwal wa al-Hafadah wa al-Mata&#039;, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1420 H, jilid 6, hlm. 269.&amp;lt;/ref&amp;gt; yang syahid dalam [[Peristiwa Karbala]].&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 446; Isfahani, Abul Faraj, Maqatil al-Thalibiyyin, penelitian oleh Ahmad Saqr, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, tanpa tahun, hlm. 80.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Umm Ishaq binti Thalhah bin Ubaidullah|Umm Ishaq]], putri Thalhah bin Ubaidullah, juga dianggap sebagai salah satu istri Imam Husain as. Dia adalah ibu dari [[Fatimah binti Husain|Fatimah]], putri sulung Imam Husain as.&amp;lt;ref&amp;gt;Isfahani, Abul Faraj, Kitab al-Aghani, Kairo, 1383 H, jilid 21, hlm. 78.&amp;lt;/ref&amp;gt; Umm Ishaq sebelumnya adalah istri [[Imam Hasan Mujtaba as]] dan setelah syahidnya Imam Hasan, dia menikah dengan Imam Husain as.&amp;lt;ref&amp;gt;Isfahani, Abul Faraj, Kitab al-Aghani, Kairo, 1383 H, jilid 21, hlm. 78.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Thalhah al-Syafi&#039;i dalam kitab [[Mathalib al-Su&#039;ul fi Manaqib Al al-Rasul]] menyebutkan bahwa Imam memiliki sepuluh anak.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Thalhah al-Syafi&#039;i, Mathalib al-Su&#039;ul fi Manaqib Al al-Rasul, cetakan oleh Majid bin Ahmad Athiyah, tanpa tempat, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 69.&amp;lt;/ref&amp;gt; Namun, beberapa sumber menyebutkan bahwa Imam memiliki empat putra dan dua putri&amp;lt;ref&amp;gt;Mus&#039;ab bin Abdullah, Kitab Nasab Quraisy, cetakan oleh Levi Provencal, Kairo, 1953 M, jilid 1, hlm. 57–59; Bukhari, Sahl bin Abdullah, Sirr al-Silsilah al-Alawiyah, cetakan oleh Muhammad Sadiq Bahar al-Ulum, Najaf, 1381 H, jilid 1, hlm. 30; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 135.&amp;lt;/ref&amp;gt; atau enam putra dan tiga putri.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Dalail al-Imamah, Beirut, Muassasah al-A&#039;lami lil Mathbu&#039;at, 1408 H, jilid 1, hlm. 74; Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 4, hlm. 77; Ibnu Thalhah al-Syafi&#039;i, Mathalib al-Su&#039;ul fi Manaqib Al al-Rasul, cetakan oleh Majid bin Ahmad Athiyah, tanpa tempat, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 69.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam kitab [[Lubab al-Ansab]]&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Funduq al-Baihaqi, Ali bin Zaid, Lubab al-Ansab wa al-Alqab wa al-A&#039;qab, penelitian oleh Mahdi Rajai, Qum, Maktabah Ayatullah al-Mar&#039;asyi, 1385 HS, hlm. 355.&amp;lt;/ref&amp;gt; dari sumber abad keenam, disebutkan tentang seorang putri bernama [[Ruqayyah binti Husain|Ruqayyah]], dan dalam kitab [[Kamil al-Bahai]] dari sumber abad ketujuh, disebutkan tentang seorang putri berusia empat tahun yang meninggal di [[Syam]].&amp;lt;ref&amp;gt;Kasyifi Sabzawari, Mulla Husain, Rawdhah al-Syuhada, Qum, Nawaid Islam, 1382 HS, hlm. 484.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Masa Tiga Khalifah==&lt;br /&gt;
Sedikit informasi sejarah yang dilaporkan tentang periode 25 tahun kehidupan Imam Husain as selama masa tiga khalifah.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammadi Rey Shahri, Muhammad dan kawan-kawan, Ensiklopedia Imam Husain as, terjemahan oleh Muhammad Muradi, Qum, Dar al-Hadits, 1430 H, jilid 2, hlm. 325.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dikatakan bahwa beliau menikmati penghormatan khusus dari khalifah kedua.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 14, hlm. 175; Sibth bin al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawash, Qum, Mansyurat al-Syarif al-Radhi, cetakan pertama, 1418 H, hlm. 211–212.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada laporan tentang Imam Husain as selama masa pemerintahan Utsman, di mana Imam bersama ayah dan saudaranya mengantar Abu Dzar, yang diasingkan oleh khalifah ketiga ke Rabdzah, meskipun bertentangan dengan perintah khalifah.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1365 HS, jilid 8, hlm. 206–207; Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, 1385–1387 H, jilid 8, hlm. 253–254.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa sumber [[Ahlusunah]] menyebutkan kehadiran beliau bersama saudaranya dalam beberapa penaklukan seperti Afrika pada tahun 26 H&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Khaldun, Al-&#039;Ibar, 1401 H, jilid 2, hlm. 573–574.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan [[Tabaristan]] pada tahun 30 H.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 4, hlm. 269.&amp;lt;/ref&amp;gt; Namun, laporan semacam ini tidak ditemukan dalam sumber Syiah. Beberapa peneliti Syiah seperti [[Ja&#039;far Murtadha Amili]] menganggap laporan-laporan ini sebagai palsu.&amp;lt;ref&amp;gt;Ja&#039;far Murtadha, Al-Hayah al-Siyasiyah lil Imam al-Hasan, Dar al-Sirah, hlm. 158.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Kehadiran Imam Hasan as dan Imam Husain as dalam Penaklukan Iran}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu laporan lain yang menyebutkan Imam Husain as adalah pemberontakan terhadap Utsman dan pembunuhan khalifah. Imam bersama saudaranya, Imam Hasan as, meskipun tidak senang dengan kinerja khalifah, melindungi rumah Utsman.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 59; Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 5, hlm. 558.&amp;lt;/ref&amp;gt; Laporan ini memiliki pendukung dan penentang di antara para peneliti Syiah.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammadi Rei Shahri, Muhammad dan kawan-kawan, Ensiklopedia Imam Husain as, terjemahan oleh Muhammad Muradi, Qum, Dar al-Hadits, 1430 H, jilid 2, hlm. 331–332.&amp;lt;/ref&amp;gt; [[Sayid Murtadha]] setelah meragukan pengiriman Hasanain as oleh Amirul Mukminin as, menyatakan bahwa alasannya adalah untuk mencegah pembunuhan sengaja terhadap Utsman dan memberikan air serta makanan kepada keluarganya, bukan untuk mencegah pencopotan Utsman dari kekhalifahan, karena Utsman layak dicopot karena tindakan-tindakannya yang tidak pantas.&amp;lt;ref&amp;gt;Sayid Murtadha, Ali bin Husain, &#039;&#039;Al-Syafi fi al-Imamah&#039;&#039;, Qum, Muassasah Ismailiyan, cetakan kedua, 1410 H, jilid 4, hlm. 242.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Pertahanan Imam Hasan as dan Imam Husain as atas Rumah Utsman}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Masa Pemerintahan Imam Ali as==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat sedikit laporan tentang Imam Husain as selama masa pemerintahan Imam Ali as. Salah satunya adalah bahwa beliau membacakan khutbah setelah [[baiat]] masyarakat kepada [[Amirul Mukminin as]].&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, &#039;&#039;Bihar al-Anwar al-Jami&#039;ah li Durar Akhbar al-A&#039;immah al-Athhar&#039;&#039;, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 HS, jilid 10, hlm. 121.&amp;lt;/ref&amp;gt; Kehadiran Imam Husain as dalam Perang Jamal dan kepemimpinannya atas sayap kiri pasukan Imam Ali as tercatat dalam berbagai sumber.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Muhammad bin Nu&#039;man, Al-Jamal wa al-Nusrah li Sayid al-Itrah fi Harb al-Basrah, Qum, Kongres Syekh Mufid, 1413 H, hlm. 348; Dzahabi, Syamsuddin, Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A&#039;lam, Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, cetakan kedua, 1409 H, jilid 3, hlm. 485.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau juga hadir dalam [[Perang Shiffin|Perang Shiffin]] dan menjadi salah satu komandan sayap kanan pasukan.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu A&#039;tsam, Ahmad, Al-Futuh, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, 1411 H, jilid 3, hlm. 24; Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, &#039;&#039;Manaqib Al Abi Thalib&#039;&#039;, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 3, hlm. 168.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam Husain as membacakan khutbah untuk mendorong masyarakat berjihad&amp;lt;ref&amp;gt;Manqari, Nashr bin Muzahim, Waq&#039;ah Shiffin, penelitian oleh Abdussalam Muhammad Harun, Kairo, 1382 H, hlm. 114–115.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan terlibat dalam upaya merebut kembali air dari pasukan Syam.&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar al-Jami&#039;ah li Durar Akhbar al-A&#039;immah al-Athhar, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 HS, jilid 44, hlm. 266.&amp;lt;/ref&amp;gt; Meskipun demikian, disebutkan bahwa berdasarkan laporan-laporan terkait Perang Shiffin, Imam Ali as mencegah Hasanain as untuk ikut berperang, dengan alasan menjaga keturunan Nabi saw.&amp;lt;ref&amp;gt;Arbili, Ali bin Isa, Kasyf al-Ghummah fi Ma&#039;rifah al-A&#039;immah, Qum, Radhi, cetakan pertama, 1421 H, jilid 1, hlm. 569; Sayid Radhi, Muhammad bin Husain, Nahj al-Balaghah, penelitian oleh Shubhi Shalih, Qum, Hijrah, 1414 H, khutbah 207, hlm. 323.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ada juga laporan tentang kehadirannya dalam [[Perang Nahrawan]].&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Abd al-Barr, Al-Isti&#039;ab fi Ma&#039;rifah al-Ashab, penelitian oleh Ali Muhammad al-Bajawi, Beirut, Dar al-Jail, cetakan pertama, 1412 H, jilid 3, hlm. 939.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak sumber menyebutkan bahwa Imam Husain as berada di sisi Imam Ali as saat [[syahid]]&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 147.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan hadir dalam prosesi pemakamannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 181; Syekh Mufid, Muhammad bin Nu&#039;man, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Beirut, 1414 H; jilid 1, hlm. 25.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dikatakan bahwa Imam Husain as sedang menjalankan misi di [[Mada&#039;in]] ketika ayahnya terluka, dan setelah menerima surat dari Imam Hasan as, beliau kembali ke Kufah.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 HS, jilid 3, hlm. 220; Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 2, hlm. 497–498.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Masa Imam Hasan as==&lt;br /&gt;
Husain bin Ali as selama masa imamah dan pemerintahan saudaranya, [[Imam Hasan as]], menunjukkan penghormatan yang besar kepadanya. Bahkan disebutkan bahwa beliau sepenuhnya taat pada perintah saudaranya dan tidak berbicara dalam majelis di mana Imam Hasan as hadir.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 HS, jilid 1, hlm. 291; Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 3, hlm. 401.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ketaatan dan kepatuhannya kepada saudaranya sedemikian rupa sehingga beliau menolak permintaan baiat dari beberapa kelompok Khawarij yang bersikeras untuk berperang melawan pasukan Syam.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 184.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as mendukung saudaranya dalam peristiwa [[perdamaian dengan Muawiyah]] dan mengonfirmasi tindakannya&amp;lt;ref&amp;gt;Dinawari, Ahmad bin Dawud, Al-Akhbar al-Thiwal, penelitian oleh Abdulmun&#039;im Amir dengan tinjauan oleh Jamaluddin Syial, Qum, Mansyurat Radhi, 1368 HS, hlm. 221.&amp;lt;/ref&amp;gt; serta menegaskan imamahnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thusi, Ikhtiyar Ma&#039;rifah al-Rijal (Rijal al-Kasyi), Masyhad, Universitas Masyhad, 1348 HS, hlm. 110.&amp;lt;/ref&amp;gt; Meskipun demikian, beberapa laporan menyebutkan bahwa beliau tidak berbaiat kepada Muawiyah&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu A&#039;tsam, Ahmad, Al-Futuh, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, 1411 H, jilid 4, hlm. 292; Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 4, hlm. 35.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan merasa tidak puas dengan tindakan saudaranya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 160; Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 13, hlm. 267.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as setelah perdamaian dengan Muawiyah pada [[tahun 41 H]], kembali dari [[Kufah]] ke [[Madinah]] bersama saudaranya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 165; Ibnu Jauzi, Abdurrahman bin Ali, Al-Muntazam fi Tarikh al-Umam wa al-Muluk, penelitian oleh Muhammad Abdulqadir Atha dan Mustafa Abdulqadir Atha, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1992 M, jilid 5, hlm. 184.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Masa Imamah==&lt;br /&gt;
[[Fail:Emam hossein.jpg|250px|thumb|Lukisan rakyat tentang Imam Husain as karya Muhammad Tajwidi, gouache, 1351 HS.&amp;lt;ref&amp;gt;Yasini, Radhiyah, «[https://negareh.shahed.ac.ir/article_356_d795c939486fd14a24bfb563a741891d.pdf Perkembangan Seni Lukis Islam Iran dari Penafian hingga Penyerupaan]» hlm. 14.&amp;lt;/ref&amp;gt;]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as menjadi [[imam]] setelah [[syahid]]nya saudaranya pada tahun [[50 H]] dan memegang imamah hingga tahun [[61 H]].&amp;lt;ref&amp;gt;Shabiri, Husain, Tarikh Firaq Islamiyah Firaq Syiah wa Firaq Mansub biha, Teheran, Samt, cetakan kelima, 1388 HS, jilid 1, hlm. 181.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ulama Syiah, selain argumen umum untuk membuktikan [[imamah dua belas imam]],&amp;lt;ref&amp;gt;Sebagai contoh, lihat: Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali bin Babawaih, Al-I&#039;tiqadat al-Imamiyah, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan kedua, 1414 H, hlm. 104; Ibnu Babawaih al-Qummi, Abul Hasan bin Ali, Al-Imamah wa al-Tabshirah min al-Hairah, penelitian: Ali Akbar Ghaffari, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1363 HS, hlm. 104.&amp;lt;/ref&amp;gt; juga merujuk pada argumen khusus tentang imamah Husain bin Ali as, termasuk riwayat dari [[Nabi saw]] yang menyebutnya sebagai imam.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Muhammad bin Nu&#039;man, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Beirut, 1414 H; jilid 2, hlm. 30.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sebagaimana penegasan Imam Ali as tentang imamah Husain as setelah [[Imam Hasan as]]&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 HS, jilid 1, hlm. 297.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan pengenalan beliau oleh Imam Hasan sebagai imam setelahnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 HS, jilid 1, hlm. 301.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as setelah syahidnya Imam Hasan as tidak melanggar baiatnya kepada Muawiyah.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 32.&amp;lt;/ref&amp;gt; Bahkan beliau menolak permintaan sebagian Syiah untuk mengumpulkan pasukan dan berperang melawan Muawiyah karena menjaga janji dan membela tindakan saudaranya.&amp;lt;ref&amp;gt;Dinawari, Ahmad bin Dawud, Al-Akhbar al-Thiwal, penelitian oleh Abdulmun&#039;im Amir dengan tinjauan oleh Jamaluddin Syial, Qum, Mansyurat Radhi, 1368 HS, hlm. 220.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau menunda keputusan dalam hal ini hingga setelah kematian Muawiyah.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 150.&amp;lt;/ref&amp;gt; Menurut Syekh Mufid, Imam Husain as hingga kematian Muawiyah tidak mengajak masyarakat kepada dirinya karena [[taqiyah]] dan perjanjian yang dibuat dalam peristiwa [[perdamaian Imam Hasan]]. Namun, setelah kematian Muawiyah, beliau menjelaskan kedudukannya kepada mereka yang tidak mengetahuinya.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Muhammad bin Nu&#039;man, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Beirut, 1414 H, jilid 2, hlm. 31.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Sikap Terhadap Tindakan Muawiyah==&lt;br /&gt;
Menurut sumber sejarah, Imam Husain as tidak melakukan tindakan melawan pemerintahan Muawiyah, tetapi beberapa sejarawan berdasarkan beberapa bukti dan percakapan antara mereka meyakini bahwa Imam as secara politik tidak menerima legitimasi Muawiyah.&amp;lt;ref&amp;gt;Ja&#039;fariyan, Rasul, Hayat Fikri wa Siyasi Imamane Syiah, Qum, Anshariyan, cetakan keenam, 1381 HS, hlm. 175.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan dalam beberapa kasus menentang kebijakan Muawiyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Protes Imam Husain as terhadap tindakan Muawiyah dalam membunuh orang-orang seperti [[Hujr bin Adi]], [[Amr bin Hamq al-Khuza&#039;i]], dan [[Abdullah bin Yahya al-Hadhrami]] tercatat dalam berbagai sumber.&amp;lt;ref&amp;gt;Dinawari, Ahmad bin Dawud, Al-Akhbar al-Thiwal, penelitian oleh Abdulmun&#039;im Amir dengan tinjauan oleh Jamaluddin Syial, Qum, Mansyurat Radhi, 1368 HS, hlm. 224–225; Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 5, hlm. 120–121; Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 202–204.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam dalam suratnya kepada Muawiyah mengecam pembunuhan para sahabat Imam Ali as dan mengecam tindakan buruk Muawiyah, menyebut jihad melawannya sebagai keharusan untuk menghidupkan agama dan menganggap pemerintahannya sebagai fitnah besar bagi [[umat]] Islam.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 5, hlm. 121–122; Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 440; Thusi, Ikhtiyar Ma&#039;rifah al-Rijal (Rijal al-Kasyi), Masyhad, Universitas Masyhad, 1348 HS, hlm. 50; Dzahabi, Syamsuddin, Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A&#039;lam, Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, cetakan kedua, 1409 H, jilid 5, hlm. 6; Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 14, hlm. 206.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Muawiyah pada tahun 56 H, bertentangan dengan ketentuan [[perjanjian damai Imam Hasan]] yang melarang penunjukan penerus, mengajak masyarakat untuk berbaiat kepada Yazid,&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun, jilid 8, hlm. 79.&amp;lt;/ref&amp;gt; beberapa tokoh, termasuk Imam Husain as, menolak berbaiat.&amp;lt;ref&amp;gt;http://ensani.ir/fa/article/45732/&amp;lt;/ref&amp;gt; Muawiyah pergi ke Madinah untuk mendapatkan dukungan para tokoh kota tersebut untuk penunjukan Yazid sebagai putra mahkota.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 204.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam Husain dalam sebuah majelis yang dihadiri oleh Muawiyah, [[Ibnu Abbas]], dan beberapa pejabat serta keluarga Umayyah, mengecam Muawiyah dan memperingatkannya untuk tidak berusaha menjadikan Yazid sebagai penerus. Beliau menegaskan kedudukan dan haknya serta membantah argumen Muawiyah untuk mendapatkan baiat kepada Yazid.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 208–209.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sebuah majelis lain yang dihadiri oleh masyarakat umum, Imam Husain menanggapi ucapan Muawiyah tentang kelayakan Yazid. Beliau menyatakan bahwa dirinya lebih layak secara individu dan keluarga untuk menjadi khalifah, sementara Yazid digambarkan sebagai pemabuk dan pengikut hawa nafsu.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, tahqiq Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, halaman 211.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 58 Hijriah, Imam Husain as menyampaikan khutbah protes di Mina akibat tekanan Muawiyah terhadap Syiah.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok peneliti sejarah, Tarikh Qiyam wa Maqtal Jami&#039; Sayid al-Syuhada, 1389 H, jilid 1, halaman 392.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam khutbah ini, beliau menyebutkan keutamaan Amirul Mukminin as dan Ahlul Bait, mengajak untuk melakukan amar ma&#039;ruf nahi munkar, menekankan pentingnya tugas ini dalam Islam, serta menjelaskan kewajiban ulama untuk bangkit melawan para penindas dan bahaya diamnya ulama di hadapan penguasa zalim.&amp;lt;ref&amp;gt;Harrani, Hasan bin Syu&#039;bah, Tuhaf al-&#039;Uqul, Qum, Jamaah Mudarrisin, 1404 H, halaman 68.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Ketidakbangkitannya Imam Husain as pada masa Muawiyah}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Reaksi Terhadap Kekhalifahan Yazid==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kematian Muawiyah pada 15 Rajab tahun 60 Hijriah, Yazid naik takhta.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 155; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 32.&amp;lt;/ref&amp;gt; Untuk melegitimasi pemerintahannya, Yazid berusaha memaksa para tokoh besar seperti Imam Husain as yang menolak baiat kepadanya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 338.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam Husain as menolak untuk berbaiat&amp;lt;ref&amp;gt;Abu Mikhnaf, Maqtal al-Husain as, tahqiq dan ta&#039;liq Husain al-Ghaffari, Qum, Mathba&#039;ah Ilmiyah, tanpa tahun, halaman 5; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 33.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan pergi bersama keluarga serta pengikutnya dari Madinah ke Mekah.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 160; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 34.&amp;lt;/ref&amp;gt; Di sana, beliau disambut oleh masyarakat dan para jamaah umrah.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 156; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 36.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam tinggal di kota ini selama lebih dari empat bulan.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 66.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syiah Kufah yang mengetahui penolakan Imam untuk berbaiat mengirim surat-surat yang mengundang beliau ke Kufah.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 157–159; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 36–38.&amp;lt;/ref&amp;gt; Husain bin Ali mengutus Muslim bin Aqil ke Kufah untuk memastikan situasi. Setelah melihat sambutan dan baiat masyarakat, Muslim memanggil Imam Husain ke Kufah.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 41.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam kemudian berangkat bersama keluarga dan pengikutnya pada tanggal 8 Dzulhijjah dari Mekah menuju Kufah.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 160; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 66.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut beberapa laporan, Imam Husain as mengetahui adanya rencana pembunuhan terhadap dirinya di Mekah. Untuk menjaga kesucian Mekah, beliau meninggalkan kota tersebut menuju Irak.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;d, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, halaman 450; Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun, jilid 8, halaman 159 dan 161.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Aktivitas Politik Imam Husain as Sebelum Qiyam}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Peristiwa Karbala==&lt;br /&gt;
{{poem|Ketika kekhalifahan terlepas dari Al-Qur&#039;an|Racun kebebasan dituangkan ke dalam mulut|Di tanah Karbala, hujan turun dan pergi|Bunga lalale tumbuh di reruntuhan|Hingga hari kiamat, ia menghentikan tirani|Gelombang darahnya menciptakan taman|Darahnya menjelaskan rahasia ini|Membangunkan umat yang tertidur|Pedang &amp;quot;La&amp;quot; ia hunus|Mengalirkan darah para pengikut kebatilan|Rahasia Al-Qur&#039;an kami pelajari dari Husain|Dari apinya, kami menyimpan nyala|Wahai angin, wahai utusan yang jauh|Sampaikan air mata kami ke tanah sucinya&amp;lt;ref&amp;gt;Iqbal Lahori, Ramuz-e-Bekhudi, &amp;quot;[https://ganjoor.net/iqbal/romooz-bikhodi/sh13 Bagian 13, tentang makna kebebasan Islam dan rahasia peristiwa Karbala]&amp;quot;&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
|Align = kiri&lt;br /&gt;
|Judul= Tentang Makna Kebebasan Islam dan Rahasia Peristiwa Karbala&lt;br /&gt;
|Penyair= Iqbal Lahori}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peristiwa Karbala terjadi akibat penolakan Imam Husain as untuk berbaiat kepada Yazid. Husain as memenuhi undangan penduduk Kufah dan berangkat bersama keluarga serta pengikutnya menuju Kufah. Namun, di daerah bernama Dzuhusam, beliau dihadang oleh pasukan yang dipimpin oleh Hurr bin Yazid al-Riyahi dan terpaksa mengubah rute perjalanannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 408; Ibnu Miskawaih, Ahmad bin Muhammad, Tajarib al-Umam wa Ta&#039;aqub al-Himam, tahqiq: Abu al-Qasim Imami, Teheran, Surush, 1379 H; jilid 2, halaman 67; Ibnu Atsir, Ali bin Abi al-Karam, Al-Kamil fi al-Tarikh, Beirut, Dar Shadir, 1965 M, jilid 4, halaman 51.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kafilah Imam tiba di Karbala pada tanggal 2 Muharram&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu A&#039;tsam, Ahmad, Al-Futuh, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, 1411 H, jilid 5, halaman 83; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 409; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 84; Ibnu Miskawaih, Ahmad bin Muhammad, Tajarib al-Umam wa Ta&#039;aqub al-Himam, tahqiq: Abu al-Qasim Imami, Teheran, Surush, 1379 H, jilid 2, halaman 68.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan pada tanggal 3 Muharram, pasukan dari Kufah yang dipimpin oleh Umar bin Sa&#039;ad tiba di Karbala.&amp;lt;ref&amp;gt;Dinawari, Ahmad bin Dawud, Al-Akhbar al-Thiwal, tahqiq Abdul Mun&#039;im Amir, Qum, Mansyurat Razi, 1368 H, halaman 253; Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 176; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 409; Ibnu Atsir, Ali bin Abi al-Karam, Al-Kamil fi al-Tarikh, Beirut, Dar Shadir, 1965 M, jilid 4, halaman 52.&amp;lt;/ref&amp;gt; Menurut laporan sejarah, beberapa perundingan terjadi antara Husain bin Ali dan Umar bin Sa&#039;ad;&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 414; Ibnu Miskawaih, Ahmad bin Muhammad, Tajarib al-Umam wa Ta&#039;aqub al-Himam, tahqiq: Abu al-Qasim Imami, Teheran, Surush, 1379 H; jilid 2, halaman 71.&amp;lt;/ref&amp;gt; namun Ibnu Ziyad hanya menerima baiat Husain as kepada Yazid atau perang.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 182; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 414; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 88.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada malam Asyura, Imam Husain as melepas baiat dari para pengikutnya setelah menyampaikan pidato; namun mereka menegaskan kesetiaan dan dukungan mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 91–94.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertempuran dimulai pada pagi hari Asyura. Setelah para sahabat dan kerabat Imam as gugur,&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 446; Isfahani, Abu al-Faraj, Maqatil al-Thalibiyyin, tahqiq Ahmad Saqr, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, tanpa tahun, halaman 80.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam sendiri maju ke medan perang dan gugur sebagai syahid pada sore hari.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad, 1413 H, jilid 2, halaman 112.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
{{see also|Daftar Syuhada Karbala}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syamr bin Dzil Jausyan&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 112; Khuwarizmi, Muaffaq bin Ahmad, Maqtal al-Husain as, Qum, Anwar al-Huda, cetakan kedua, 1423 H, jilid 2, halaman 41; Thabarsi, Fadhl bin Hasan, I&#039;lam al-Wara bi A&#039;lam al-Huda, Teheran, Islamiyah, 1390 H, jilid 1, halaman 469.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan menurut riwayat lain, Sinan bin Anas&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 450–453; Ibnu Sa&#039;d, Al-Thabaqat al-Kubra, cetakan Ihsan Abbas, Beirut, 1968, jilid 6, halaman 441; Isfahani, Abu al-Faraj, Maqatil al-Thalibiyyin, tahqiq Ahmad Saqr, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, tanpa tahun, halaman 118; Mas&#039;udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jilid 3, halaman 62.&amp;lt;/ref&amp;gt; memenggal kepala beliau dan mengirimkannya kepada Ibnu Ziyad pada hari yang sama.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 411; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 456.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Pembunuh Imam Husain as}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluarga Imam Husain as ditawan dan dibawa ke Kufah, kemudian ke Syam.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 456.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Lama Masa Penawanan Ahlul Bait as Setelah Peristiwa Karbala}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jenazah Imam Husain as dan para syuhada Karbala dimakamkan pada tanggal 11&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 455.&amp;lt;/ref&amp;gt; atau 13 Muharram oleh sekelompok orang dari Bani Asad, dan menurut riwayat lain, dengan kehadiran Imam Sajjad as di tempat syahid.&amp;lt;ref&amp;gt;Musawi al-Muqarram, Abdul Razzaq, Maqtal al-Husain as, Beirut, Dar al-Kitab al-Islamiyah, halaman 335–336.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Fail:حرم امام حسین.jpg|250px|thumb|Foto tertua yang diyakini sebagai Haram Imam Husain as]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Reaksi Terhadap Peristiwa Karbala==  &lt;br /&gt;
Kebangkitan Imam Husain as dan kesyahidannya menimbulkan banyak reaksi dan memicu gerakan revolusioner serta protes selama bertahun-tahun, seperti Kebangkitan Tawwabin, Kebangkitan Mukhtar, Kebangkitan Zaid bin Ali, dan Kebangkitan Yahya bin Zaid.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, dalam Kebangkitan Siyah Jamegan yang dipimpin oleh Abu Muslim al-Khurasani—yang mengakibatkan kejatuhan Dinasti Umayyah—slogan &amp;quot;Ya Latharat al-Husain&amp;quot; (Wahai Penuntut Balas Kematian Husain) digunakan.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 9, halaman 317.&amp;lt;/ref&amp;gt; Revolusi Islam Iran juga dianggap terinspirasi oleh kebangkitan Imam Husain as.&amp;lt;ref&amp;gt;[http://farsi.rouhollah.ir/library/sahifeh?volume=17&amp;amp;tid=22 Khomeini, Sahifeh Nur, 1379 H, jilid 17, halaman 58.]&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat banyak riwayat yang meramalkan kesyahidan Husain bin Ali as.&amp;lt;ref&amp;gt;Rei Syahri, Danesyameh Imam Husain, 1388 H, jilid 3, halaman 166–317.&amp;lt;/ref&amp;gt; Salah satunya adalah Hadits Lauh yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad (saw), di mana Allah memuliakan Husain dengan kesyahidan dan menjadikannya sebagai syahid terbaik.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 H, jilid 1, halaman 528; Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Ghaibah, Qum, Dar al-Ma&#039;arif al-Islamiyah, 1411 H, halaman 145.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tujuan Kebangkitan==  &lt;br /&gt;
Terdapat berbagai pandangan mengenai tujuan Imam Husain as dalam kebangkitannya. Beberapa ulama seperti Luthfullah Shafi, Murtadha Muthahhari, Sayid Muhsin Amin, dan Ali Syariati menyatakan bahwa tujuan Husain bin Ali as adalah untuk mencapai syahid.&amp;lt;ref&amp;gt;Esfandiyari, Asyura Syenasi, 1387 H, halaman 157.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayid Murtadha&amp;lt;ref&amp;gt;Sayid Murtadha, Ali bin Husain, Tanzih al-Anbiya, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan kedua, 1409 H, halaman 227–228.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan ulama kontemporer seperti Shalehi Najaf Abadi menyatakan bahwa tujuan Imam adalah untuk membentuk pemerintahan.&amp;lt;ref&amp;gt;Shalehi Najaf Abadi, Nimatullah, Syahid Javid, Teheran, Omid Farda, 1387 H, halaman 157–158.&amp;lt;/ref&amp;gt; Selain itu, ada juga pandangan lain seperti tujuan untuk menyelamatkan nyawa.&amp;lt;ref&amp;gt;Asytahardi, Ali Panah, Haft Saleh Chera Seda Dar Avard?, Qum, Penerbit Allamah, cetakan pertama, 1391 H, halaman 154.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{Lihat juga|Kebangkitan Asyura: Gerakan Ilahi atau Keinginan Rakyat?|Kesadaran Imam Husain as tentang Akhir Kebangkitan}}  &lt;br /&gt;
[[File:Tazie ashora.jpg|thumb|Bagian dari tradisi Taziyah|280x280px]]  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kebangkitan Imam dalam Pandangan Ahlusunah==  &lt;br /&gt;
{{Lihat juga|Pandangan Al-Ghazali tentang Kebangkitan Imam Husain as}}  &lt;br /&gt;
Di kalangan Ahlusunah, terdapat dua pandangan tentang Kebangkitan Imam Husain as: sebagian mengkritiknya, sementara banyak yang memujinya.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Khaldun, sejarawan Ahlusunah abad ke-9, menekankan bahwa syarat untuk memerangi para penindas adalah adanya pemimpin yang adil. Ia menyebut Husain as sebagai orang yang paling adil untuk memimpin perlawanan ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, Beirut, Dar al-Fikr, 1401 H, jilid 1, halaman 217.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ia juga menyatakan bahwa ketika kefasikan Yazid menjadi jelas bagi semua orang, Husain merasa wajib untuk bangkit melawannya karena ia merasa memiliki kelayakan dan kekuatan untuk melakukannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jilid 1, halaman 216.&amp;lt;/ref&amp;gt; Syihabuddin Alusi, ulama Ahlusunah abad ke-13, dalam kitab Ruh al-Ma&#039;ani, mengkritik dan mengutuk Ibnu Arabi yang mencela Imam Husain. Ia menyatakan bahwa klaim Ibnu Arabi tentang kebangkitan Husain sebagai sumber kejahatan dan ketidakbaikan adalah dusta dan fitnah besar.&amp;lt;ref&amp;gt;Alusi, Ruh al-Ma&#039;ani, tahqiq: Ali Abdul Bari Athiyah, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1415 H, jilid 13, halaman 228.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abbas Mahmud Al-Aqqad, penulis dan sastrawan Mesir abad ke-14, dalam bukunya Abu al-Syuhada: Al-Husain bin Ali, menulis bahwa situasi pada masa Yazid telah mencapai titik di mana hanya syahid yang dapat menyelesaikannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Aqqad, Abbas Mahmud, Abu al-Syuhada Al-Husain bin Ali, Teheran, Al-Majma&#039; al-Alami li al-Taqrib, cetakan kedua, 1429 H, halaman 207.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ia percaya bahwa kebangkitan seperti ini hanya dapat dilakukan oleh manusia langka yang diciptakan untuk tujuan ini, dan gerakan mereka tidak dapat dibandingkan dengan orang lain karena mereka memahami dan menuntut sesuatu yang berbeda.&amp;lt;ref&amp;gt;Aqqad, Abbas Mahmud, Abu al-Syuhada Al-Husain bin Ali, Teheran, Al-Majma&#039; al-Alami li al-Taqrib, cetakan kedua, 1429 H, halaman 141.&amp;lt;/ref&amp;gt; Thaha Husain, penulis Ahlusunah, berpendapat bahwa penolakan Husain untuk berbaiat bukan karena keras kepala, tetapi karena ia tahu bahwa berbaiat kepada Yazid berarti mengkhianati hati nuraninya dan bertentangan dengan agamanya, karena baginya berbaiat kepada Yazid adalah dosa.&amp;lt;ref&amp;gt;Husain, Thaha, Ali wa Banuh, Kairo, Dar al-Ma&#039;arif, tanpa tahun, halaman 239.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar Farrukh juga menekankan bahwa diam di hadapan kezaliman tidak dapat dibenarkan. Ia percaya bahwa umat Islam saat ini membutuhkan seorang &amp;quot;Husain&amp;quot; yang bangkit untuk membimbing kita ke jalan yang benar dalam membela kebenaran.&amp;lt;ref&amp;gt;Farrukh, Umar, Tajdid fi al-Muslimin la fi al-Islam, Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, tanpa tahun, halaman 152.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tradisi Berkabung==  &lt;br /&gt;
Syiah dan bahkan non-Syiah melakukan tradisi berkabung untuk Imam Husain dan syuhada Karbala selama bulan Muharram. Syiah memiliki ritual berkabung yang umum, seperti pembacaan kisah tragedi Karbala (rawdhah), memukul dada (sineh-zani), pertunjukan teater tragedi Karbala (ta&#039;ziyah), dan membaca ziarah seperti Ziarah Asyura, Ziarah Warits, dan Ziarah Nahiyah Muqaddasah secara individu atau berkelompok.&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat: [http://fa.abna24.com/news/اخبار-آسیای-شرقی/عزاداری-ماه-محرم-در-کشورهای-جنوب-شرقی-آسیا-برگزار-می‌شود_725804.html «Tradisi Berkabung Bulan Muharram di Negara Asia Tenggara», ABNA News Agency]; [http://www.beytoote.com/art/city-country/different-cities2-muharram.html «Adat dan Tradisi Masyarakat di Berbagai Kota Iran pada Bulan Muharram», Situs Beytoote.]&amp;lt;/ref&amp;gt; Tempat yang dikhususkan untuk berkabung disebut Husainiyah.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tradisi berkabung untuk Imam Husain as dimulai sejak hari-hari pertama setelah Asyura.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 206.&amp;lt;/ref&amp;gt; Menurut sebuah riwayat, ketika tawanan Karbala tiba di Syam, para wanita Bani Hasyim berkabung selama beberapa hari dengan mengenakan pakaian hitam.&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 H, jilid 45, halaman 196.&amp;lt;/ref&amp;gt; Setelah berkuasanya pemerintahan Syiah dan berkurangnya tekanan terhadap Syiah, tradisi berkabung menjadi resmi.&amp;lt;ref&amp;gt;Aeinehvand, Sadeq dan Velayati, Ali Akbar, Sunnat Azadari wa Manqabat-Khani dar Tarikh Syiah Imamiyah, dengan pengantar Muhammad Taqi-Zadeh Davari, Qum, Muassasah Syiah-Syenasi, cetakan kedua, 1386 H, halaman 65–66, mengutip Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, jilid 11, halaman 183; Ibnu Jauzi, Abdul Rahman bin Ali, Al-Muntazam fi Tarikh Thabari, tahqiq Muhammad Abdul Qadir Atha dan Mustafa Abdul Qadir Atha, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1992 M, jilid 7, halaman 15.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sumber Syiah dan Ahlusunah disebutkan bahwa Nabi Muhammad (saw) menangis saat kelahiran Husain dan memberitakan kesyahidannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 129; Maqrizi, Taqiyuddin, Imta&#039; al-Asma&#039;, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1420 H, jilid 12, halaman 237; Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun, jilid 6, halaman 230.&amp;lt;/ref&amp;gt; Menurut laporan sejarah dan hadis, para Imam Syiah sangat menekankan pentingnya berkabung dan menangis untuk mengenang Husain bin Ali, serta menganjurkan Syiah untuk menjaga ingatan tentang Asyura.&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 H, jilid 44, bab 34, halaman 278–296.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{Lihat juga|Perkembangan Tradisi Berkabung|Kesedihan dan Tangisan dalam Berkabung untuk Imam Husain as|Tradisi Berkabung Para Imam Syiah untuk Imam Husain as}}  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Makam Imam Husain as==  &lt;br /&gt;
[[Fail:حرم امام حسین(ع).jpg|250px|thumb|Pemandangan Makam Imam Husain as pada tahun 1932 M.]]&lt;br /&gt;
Menurut laporan yang ada, bangunan pertama di atas makam Husain bin Ali as dibangun pada masa Mukhtar al-Tsaqafi atas perintahnya. Sejak saat itu, bangunan makam telah beberapa kali direnovasi dan diperluas.&amp;lt;ref&amp;gt;Al Tu&#039;mah, Salman Hadi, Karbala wa Haram-ha-ye Muthahhar, Teheran, Masyar, tanpa tahun, halaman 89–112.&amp;lt;/ref&amp;gt; Makam Imam Husain as beberapa kali dihancurkan oleh beberapa khalifah Abbasiyah&amp;lt;ref&amp;gt;Isfahani, Abu al-Faraj, Maqatil al-Thalibiyyin, tahqiq Ahmad Saqr, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, tanpa tahun, halaman 477.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan kelompok Wahabi.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, Negahi Now be Jaryan-e Asyura, 1387 H, halaman 425.&amp;lt;/ref&amp;gt; Misalnya, Khalifah Al-Mutawakkil Abbasi memerintahkan untuk membajak tanah Hair dan mengalirkan air ke makam.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Amali, Qum, Dar al-Tsaqafah, 1414 H, halaman 327; Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 2, halaman 211.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Area sekitar makam Imam Husain as disebut Hair Husaini. Area ini memiliki keutamaan dan hukum fikih khusus, dan seorang musafir dapat melaksanakan shalat lengkap di dalamnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabathabai Yazdi, Sayid Muhammad Kazhim, &#039;&#039;Al-Urwah al-Wutsqa&#039;&#039;, Beirut, 1404 H, jilid 2, halaman 164.&amp;lt;/ref&amp;gt; Terdapat beberapa pendapat tentang luas pasti Hair, dan minimalnya adalah area dengan radius 11 meter dari makam Imam Husain, yang memiliki tingkat keutamaan tertinggi.&amp;lt;ref&amp;gt;Kalidar, Abdul Jawad, Tarikh Karbala wa Hair al-Husain Alaih al-Salam, Najaf, cetakan ofset Qum, 1376 H, halaman 51–52, 58–60.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ziarah ke Makam Imam Husain as==  &lt;br /&gt;
Dalam riwayat para Imam Maksum, ziarah ke makam Imam Husain as tidak hanya ditekankan, tetapi juga dianggap sebagai salah satu amalan terbaik dan paling utama.&amp;lt;ref&amp;gt;Muassasah Imam Hadi as, Jami&#039; Ziyarat al-Ma&#039;sumin, Qum, Payam Imam Hadi as, 1389 H, jilid 3, halaman 36–69.&amp;lt;/ref&amp;gt; Bahkan, pahalanya disamakan dengan haji dan umrah.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qulawiyah, Ja&#039;far bin Muhammad, Kamil al-Ziyarat, Najaf, Dar al-Murtadhawiyah, 1356 H, halaman 158–161.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kitab-kitab ziarah, terdapat beberapa ziarah mutlak untuk Imam Husain yang dapat dibaca kapan saja&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammadi Risyahri, Muhammad dan kawan-kawan, Danesyameh Imam Husain as, terjemahan Muhammad Muradi, Qum, Dar al-Hadits, 1430 H, jilid 12, halaman 256–452.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan beberapa ziarah khusus yang dibaca pada waktu tertentu.&amp;lt;ref&amp;gt;[https://hawzah.net/fa/Magazine/View/6444/8140/107167/زیارت-های-مخصوصه-امام-حسین «Ziarah Khusus Imam Husain», Situs Informasi Hauzah.]&amp;lt;/ref&amp;gt; Ziarah Asyura, Ziarah Warits, dan Ziarah Nahiyah Muqaddasah adalah beberapa ziarah yang paling terkenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Arbain Husaini==&lt;br /&gt;
{{Artikel Utama|Arbain Husaini}}&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Syiah melakukan tradisi berkabung pada hari ke-40 setelah kesyahidan Imam Husain as, yang dikenal sebagai Arbain Husaini. Pada hari ini, para pecinta Imam Husain as pergi berziarah ke makam beliau di Karbala.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut beberapa laporan sejarah, tawanan Karbala dalam perjalanan kembali dari Syam ke Madinah berziarah ke makam syuhada Karbala pada hari Arbain.&amp;lt;ref&amp;gt;Sayid bin Thawus, Ali bin Musa, Al-Luhuf &#039;ala Qatla al-Thufuf, Qum, Aswah, 1414 H, halaman 225.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dikatakan bahwa Jabir bin Abdullah al-Anshari adalah orang pertama yang hadir di makam Imam Husain as pada hari ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Mishbah al-Mutahajjid, Beirut, Muassasah Fiqh al-Syiah, 1411 H, halaman 787.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anjuran untuk melakukan ziarah Arbain telah mendorong umat Syiah dari berbagai penjuru dunia untuk berbondong-bondong menuju Karbala setiap tahunnya. Perjalanan ini, yang biasanya dilakukan dengan berjalan kaki, dianggap sebagai salah satu prosesi terbesar di dunia. Sumber berita melaporkan bahwa jumlah peziarah Arbain pada tahun 1398 Hijriah mencapai lebih dari 18 juta orang.&amp;lt;ref&amp;gt;[https://www.irna.ir/news/83522637/ «Jumlah Peziarah Arbain Tahun Ini Melebihi 18 Juta», Kantor Berita Republik Islam.]&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Riwayat-Riwayat Imam Husain== &lt;br /&gt;
Dalam berbagai sumber hadis dan sejarah, terdapat banyak referensi tentang ucapan,&amp;lt;ref&amp;gt;Ma&#039;had Penelitian Baqir al-Ulum as, Mausu&#039;ah Kalimat al-Imam al-Husain, 1416 H, pengantar, halaman Z.&amp;lt;/ref&amp;gt; doa,&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, Tehran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 H, jilid 95, halaman 214.&amp;lt;/ref&amp;gt; surat,&amp;lt;ref&amp;gt;Ahmadi Miyanji, Ali, Makatib al-A&#039;immah, Ayatullah Ahmadi Miyanji, Qum, Dar al-Hadits, 1426 H, jilid 3, halaman 83–156.&amp;lt;/ref&amp;gt; syair,&amp;lt;ref&amp;gt;Karbasi, Muhammad Shadiq, Da&#039;irat al-Ma&#039;arif al-Husainiyah, Diwan al-Imam al-Husain, London, Al-Markaz al-Husaini li al-Dirasat, 2001 M, jilid 1 dan 2.&amp;lt;/ref&amp;gt; khutbah,&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Syu&#039;bah Harrani, Hasan bin Ali, Tuhaf al-&#039;Uqul, Qum, Jamaah Mudarrisin, 1404 H, halaman 237–240; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 97–98.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan wasiat Imam Husain as.&amp;lt;ref&amp;gt;Khuwarizmi, Muaffaq bin Ahmad, Maqtal al-Husain as, Qum, Anwar al-Huda, cetakan kedua, 1423 H, jilid 1, halaman 273.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam buku Musnad al-Imam al-Syahid karya Azizullah Atharadi dan Mausu&#039;ah Kalimat al-Imam al-Husain, semua riwayat dari Imam as telah dikumpulkan.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Karya-Karya tentang Kehidupan Imam== &lt;br /&gt;
Tentang kepribadian dan kehidupan Husain bin Ali as, banyak karya telah ditulis dalam bentuk ensiklopedia, biografi, maqtal (kisah kesyahidan), dan sejarah analitis. Lebih dari empat puluh buku dan artikel telah membahas topik &amp;quot;bibliografi Imam Husain&amp;quot;.&amp;lt;ref&amp;gt;[http://www.ensani.ir/fa/content/187015/default.aspx Esfandiyari, «Bibliografi Bibliografi Imam Husain as», halaman 41.]&amp;lt;/ref&amp;gt; Sebagai contoh, dalam «Bibliografi Khusus Imam Husain», disebutkan 1.428 karya dengan detail penerbitan.&amp;lt;ref&amp;gt;Safar Ali Pour, Heshmatullah, Kitab Syenasi Ikhtisasi Imam Husain, Qum, Yaqut, 1381 H, halaman 255.&amp;lt;/ref&amp;gt; Agha Buzurg Tehrani juga dalam bukunya Al-Dzari&#039;ah ila Tashanif al-Syiah memperkenalkan 985 buku tentang topik ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Esfandiyari, Muhammad, Kitab Syenasi Tarikhi Imam Husain as, Tehran, Organisasi Penerbitan dan Percetakan, 1380 H, halaman 491.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan Kaki ==&lt;br /&gt;
{{footnotes|3}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch = تاریخ&lt;br /&gt;
 | subbranch1 = تاریخ و سیره معصومان&lt;br /&gt;
 | subbranch2 = امام حسین(ع)&lt;br /&gt;
 | subbranch3 =&lt;br /&gt;
 | شاخه فرعی۴ =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه =شد&lt;br /&gt;
 | تیترها =شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش =شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی =شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر =شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی نویسنده =&lt;br /&gt;
 | ارزیابی کمی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت =ج&lt;br /&gt;
 | کیفیت =ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[bn:ইমাম হুসাইন আলাইহিস সালাম]]&lt;br /&gt;
[[fa:امام حسین علیه‌السلام]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Imam_Husain_as&amp;diff=923</id>
		<title>Imam Husain as</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Imam_Husain_as&amp;diff=923"/>
		<updated>2025-02-19T22:16:56Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Catatan Kaki */ ابرابزار&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Imam Husain as&#039;&#039;&#039; ([[4 H-61 H]]) adalah [[Imam]] ketiga [[Syiah]] setelah [[Imam Ali as]] dan [[Imam Hasan as]]. Beliau adalah cucu [[Nabi Muhammad saw]] dan anak dari [[Imam Ali as]] serta [[Sayidah Fatimah sa]], serta adik dari [[Imam Hasan as]]. Masa imamah Imam Husain as diketahui selama sebelas tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut sumber-sumber terpercaya dari [[Syiah]] dan [[Sunni]], Imam Husain as termasuk dalam [[Ashabul Kisa]] dan dianggap sebagai manifestasi dari [[Ayat Tathir]] serta kata &amp;quot;abna&#039;ana&amp;quot; dalam [[Ayat Mubahalah]]. Imam Husain as sangat dicintai oleh Nabi Muhammad saw, yang menyebutnya sebagai lentera petunjuk, kapal keselamatan, dan [[penghulu pemuda surga]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat sedikit laporan tentang kehidupan Imam Husain as sebelum masa imamahnya, seperti kehadirannya dalam tiga peperangan bersama ayahnya, dukungannya terhadap [[perdamaian Imam Hasan as]] dengan [[Muawiyah bin Abu Sufyan]], dan kesetiaannya kepada saudaranya. Setelah syahidnya Imam Hasan as, Imam Husain as tidak melakukan tindakan apa pun terhadap Muawiyah dan tetap setia pada perjanjian yang dibuat oleh saudaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepuluh tahun dari masa imamah Imam Husain as bertepatan dengan pemerintahan Muawiyah. Imam Husain as menentang beberapa tindakan Muawiyah, seperti pembunuhan terhadap beberapa [[sahabat Nabi saw]] dan pengangkatan [[Yazid bin Muawiyah]] sebagai putra mahkota. Imam Husain as menyatakan bahwa Yazid tidak layak dan dirinyalah yang lebih berhak atas [[kekhalifahan]]. Dalam sebuah khutbah, Imam Husain as menyampaikan posisi politiknya terhadap Bani Umayyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kematian Muawiyah, Imam Husain as menolak untuk berbaiat kepada Yazid, yang dianggapnya tidak sah. Pada 28 Rajab tahun 60 H, setelah diperintahkan untuk dibunuh jika menolak berbaiat, Imam Husain as meninggalkan Madinah menuju Mekah. Beliau menerima banyak surat dari penduduk Kufah yang memintanya untuk memimpin mereka. Setelah utusannya, Muslim bin Aqil, mengonfirmasi dukungan penduduk Kufah, Imam Husain as berangkat menuju Kufah pada 8 Dzulhijjah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ubaidullah bin Ziyad, gubernur Kufah, mengirim pasukan di bawah komando Hurr bin Yazid untuk menghadang dan memblokir jalan Imam Husain as. Setelah jalannya terhalang, Imam Husain as terpaksa menuju Karbala. Akhirnya, setelah pertempuran dengan pasukan Kufah pada hari Asyura, Imam Husain as dan para sahabatnya gugur sebagai syahid, dan keluarganya ditawan. Jenazah Imam Husain as dan para sahabatnya dimakamkan pada tanggal 11 atau 13 Muharram oleh sekelompok orang dari Bani Asad di Karbala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kedudukan Imam==&lt;br /&gt;
[[Fail:نام امام حسین(ع) در ایاصوفیه.jpg|250px|thumb|Nama Imam Husain as di Masjid Hagia Sophia, Turki]]&lt;br /&gt;
Husain bin Ali as adalah Imam ketiga [[Syiah]], setelah Imam Ali as dan Imam Hasan as. Imam Husain as memiliki kedudukan yang sangat istimewa di kalangan umat Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau dianggap sebagai orang yang paling mulia dan pemimpin Bani Hasyim;&amp;lt;ref&amp;gt;Yaqubi, Ahmad bin Abi Yaqub, Tarikh al-Yaqubi, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 226; Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 363.&amp;lt;/ref&amp;gt; sehingga pendapatnya diutamakan di antara Bani Hasyim lainnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 414–416.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam sebuah riwayat dari [[Nabi Muhammad saw]] yang diriwayatkan oleh beberapa sumber [[Syiah]] dan [[Sunni]], Husain disebut sebagai salah satu dari Asbat (keturunan Nabi).&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, &#039;&#039;Ansab al-Asyraf&#039;&#039;, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 142; Syekh Mufid, &#039;&#039;Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad&#039;&#039;, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 127; Maqrizi, Taqiyuddin, &#039;&#039;Imta&#039; al-Asma&#039; bima li al-Nabi min al-Ahwal wa al-Amwal wa al-Hafadah wa al-Mata&#039; &#039;&#039;, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1420 H, jilid 6, hlm. 19.&amp;lt;/ref&amp;gt; Asbat dalam ayat dan riwayat merujuk pada Imam atau pemimpin yang dipilih oleh Allah dan berasal dari keturunan para nabi.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammadi Rei Syahri, Muhammad dan kawan-kawan, Ensiklopedia Imam Husain as, terjemahan oleh Muhammad Muradi, Qum, Dar al-Hadits, 1430 H, jilid 1, hlm. 474–477.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as bagi umat Islam, khususnya Syiah, setelah [[Peristiwa Karbala]] pada tahun [[61 H]] dianggap sebagai sosok yang memperjuangkan kebenaran, pemberani, dan rela berkorban.&amp;lt;ref&amp;gt;Haj Manouchehri, Faramarz, &amp;quot;Husain as, Imam&amp;quot;, dalam Ensiklopedia Besar Islam, jilid 20, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, 1391 HS, hlm. 681.&amp;lt;/ref&amp;gt; Kedudukannya yang tinggi di kalangan umat Islam terutama berasal dari perjuangannya di jalan Allah dan pengorbanan jiwa, harta, dan keluarganya.&amp;lt;ref&amp;gt;[https://hawzah.net/fa/Article/View/82145 Ayyub, &amp;quot;Keutamaan Imam Husain as dalam Hadis-hadis Ahlusunah&amp;quot;].&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peristiwa Karbala sebagai bentuk pertama pelecehan dan serangan terbuka terhadap keluarga Nabi saw memiliki pengaruh besar pada budaya Syiah.&amp;lt;ref&amp;gt;Haj Manouchehri, Faramarz, &amp;quot;Husain as, Imam&amp;quot;, dalam Ensiklopedia Besar Islam, jilid 20, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, 1391 HS, hlm. 686.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sehingga, perjuangannya menjadi simbol amar ma&#039;ruf nahi munkar, melawan kezaliman, pengorbanan, dan kesediaan berkorban.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhadditsi, Jawad, Budaya Asyura, Qum, Penerbit Ma&#039;ruf, cetakan ketujuh belas, 1393 HS, hlm. 372.&amp;lt;/ref&amp;gt; Hal ini juga menjadi landasan bagi pemberontakan Syiah melawan penguasa yang zalim.&amp;lt;ref&amp;gt;Haj Manouchehri, Faramarz, &amp;quot;Husain as, Imam&amp;quot;, dalam Ensiklopedia Besar Islam, jilid 20, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, 1391 HS, hlm. 687.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam ranah budaya umum, umat Islam bahkan pengikut agama lain menganggap Husain bin Ali as sebagai simbol dan teladan pengorbanan, ketidakmampuan menerima kezaliman, cinta kebebasan, menjaga nilai-nilai, dan memperjuangkan kebenaran.&amp;lt;ref&amp;gt;[http://www.iwpeace.com/news/36736 &amp;quot;Budaya Asyura Melampaui Batas Muslim&amp;quot;, situs web Majelis Perdamaian Islam Dunia].&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan-bulan [[Muharram]] dan [[Safar]] memiliki tempat khusus dalam budaya Syiah, terutama pada hari-hari [[Tasua]] dan [[Asyura]] serta [[Arbain Husaini]], di mana berbagai ritual diadakan untuk memperingati peristiwa ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Haj Manouchehri, Faramarz, &amp;quot;Husain as, Imam&amp;quot;, dalam Ensiklopedia Besar Islam, jilid 20, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, 1391 HS, hlm. 689.&amp;lt;/ref&amp;gt; Syiah, mengikuti [[para Imam as]], ketika minum air, mengingat kehausan Imam Husain dan mengucapkan salam untuknya.&amp;lt;ref&amp;gt;Haj Manouchehri, Faramarz, &amp;quot;Husain as, Imam&amp;quot;, dalam Ensiklopedia Besar Islam, jilid 20, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, 1391 HS, hlm. 681; Muhadditsi, Jawad, Budaya Asyura, Qum, Penerbit Ma&#039;ruf, cetakan ketujuh belas, 1393 HS, hlm. 508.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Cucu Nabi Muhammad saw==&lt;br /&gt;
[[Fail:نام امام حسین(ع) بر دیوار مسجد النبی.JPG|250px|thumb|Nama Imam Husain as di dinding Masjid Nabawi]]&lt;br /&gt;
Imam Husain as lahir pada tanggal 3&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Masyhadi, Muhammad bin Ja&#039;far, Al-Mazar [Al-Kabir], penelitian oleh Jawad al-Qayyumi al-Isfahani, Qum, Muassasah al-Nashr al-Islami, 1419 H, hlm. 397; Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Mishbah al-Mutahajjid, Beirut, Muassasah Fiqh al-Syiah, 1411 H, hlm. 826, 828; Sayid bin Thawus, Ali bin Musa, Iqbal al-A&#039;mal, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1367 HS, hlm. 689–690.&amp;lt;/ref&amp;gt; atau 5 Sya&#039;ban&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27.&amp;lt;/ref&amp;gt; tahun ke-4 Hijriah di [[Madinah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Yaqubi, Ahmad bin Abi Yaqub, Tarikh al-Yaqubi, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 246; Dulabi, Muhammad bin Ahmad, Al-Dzurriyah al-Thahirah, cetakan oleh Muhammad Jawad Husaini Jalali, Qum, 1407 H, hlm. 102, 121; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1962 M, jilid 2, hlm. 555; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau berasal dari keluarga [[Bani Hasyim]] dan [[Quraisy]], cucu [[Nabi Muhammad saw]], anak dari [[Imam Ali as]] dan [[Sayidah Fatimah sa]], serta adik dari [[Imam Hasan as]].&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27.&amp;lt;/ref&amp;gt; [[Abbas as]], [[Muhammad bin Hanafiyah]] adalah saudara-saudaranya, dan [[Sayidah Zainab sa]] serta [[Ummu Kultsum]] adalah saudari-saudarinya.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber-sumber dari kedua mazhab menyebutkan bahwa Nabi saw memilih nama &amp;quot;Husain&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27; Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Beirut, Dar Shadir, tanpa tahun, jilid 1, hlm. 98, 118.&amp;lt;/ref&amp;gt; atas perintah [[Allah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 3, hlm. 397; Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 244.&amp;lt;/ref&amp;gt; Nama Husain setara dengan Syabir&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Manzur, Muhammad bin Mukarram, Lisan al-Arab, Beirut, Dar Sadir, 1414 H, jilid 4, hlm. 393; Zabidi Wasti, Murtadha Husaini, Taj al-Arus min Jawahir al-Qamus, Beirut, Dar al-Fikr, 1414 H, jilid 7, hlm. 4.&amp;lt;/ref&amp;gt;, yang merupakan nama salah satu putra [[Harun]].&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 13, hlm. 171.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ummu Fadhl&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 129; Maqrizi, Taqiyuddin, Imta&#039; al-Asma&#039; bima li al-Nabi min al-Ahwal wa al-Amwal wa al-Hafadah wa al-Mata&#039;, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1420 H, jilid 12, hlm. 237; Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun, jilid 6, hlm. 230.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan ibu dari Abdullah bin Yaqthar&amp;lt;ref&amp;gt;Samawi, Muhammad bin Thahir, Ibsar al-&#039;Ain fi Ansar al-Husain as, Qum, Universitas Syahid Muhallati, cetakan pertama, 1419 H, hlm. 93.&amp;lt;/ref&amp;gt; disebut sebagai pengasuh Imam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kunyah]] Husain bin Ali as adalah [[Abu Abdillah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27; Ibnu Abi Syaibah, Al-Musannaf fi al-Ahadits wa al-Atsar, cetakan oleh Sa&#039;id Muhammad Lahham, Beirut, 1409 H, jilid 8, hlm. 65; Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Ma&#039;arif, penelitian oleh Tsarwat &#039;Akasyah, Kairo, Hai&#039;ah al-Mishriyah al-&#039;Ammah lil Kitab, 1960 M, jilid 1, hlm. 213.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau dikenal dengan gelar-gelar seperti Sayid Syabab Ahl al-Jannah (penghulu pemuda surga), Zakiy, Thayyib, Wafiy, Sayid, dan Al-Tabi&#039; li Mardhatillah.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Abi al-Tsalj, Tarikh al-A&#039;immah, dalam Majmu&#039;ah Nafisah fi Tarikh al-A&#039;immah, cetakan oleh Mahmud Mar&#039;asyi, Qum, Perpustakaan Ayatullah Mar&#039;asyi Najafi, 1406 H, hlm. 28; Ibnu Thalhah al-Syafi&#039;i, Mathalib al-Su&#039;ul fi Manaqib Al al-Rasul, cetakan oleh Majid bin Ahmad &#039;Athiyah, tanpa tempat, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 374; untuk daftar gelar Imam Husain as, lihat: Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, cetakan oleh Yusuf Baqa&#039;i, 1385 HS, jilid 4, hlm. 86.&amp;lt;/ref&amp;gt; [[Tsaarullah]], [[Qatil al-&#039;Abarat]],&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Quluwaih, Ja&#039;far bin Muhammad, Kamil al-Ziyarat, Najaf, Dar al-Murtadhawiyah, 1356 H, hlm. 176.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan [[Sayid al-Syuhada]]&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat: Himyari, Abdullah bin Ja&#039;far, Qurb al-Isnad, Qum, Muassasah Al al-Bait as, cetakan pertama, 1413 H, hlm. 99–100; Ibnu Quluwaih, Ja&#039;far bin Muhammad, Kamil al-Ziyarat, cetakan oleh Jawad Qayyumi Isfahani, Qum, 1417 H, hlm. 216–219; Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Amali, Qum, Dar al-Thaqafah, 1414 H, hlm. 49–50.&amp;lt;/ref&amp;gt; adalah gelar-gelar lain yang disebutkan dalam [[ziarah]]-ziarah untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Keutamaan dan Sifat Lahiriah serta Perilaku==&lt;br /&gt;
[[Fail:مقام رأس الحسین در اسرائیل.jpg|250px|thumb|Makam Ra&#039;s al-Husain di kota Ashkelon di wilayah pendudukan Palestina. Tempat ini dijaga dan diziarahi oleh sebagian Syiah (Bohra Ismailiyah).&amp;lt;ref&amp;gt;«[https://nournews.ir/Fa/News/74717/مقام-%C2«Ø±Ø£Ø³-Ø§ÙØ­Ø³ÛÙ%C2»-Ø¯Ø±-Ø³Ø±Ø²ÙÛÙâÙØ§Û-Ø§Ø´ØºØ§ÙÛ Makam «Ra&#039;s al-Husain» di Wilayah Pendudukan]», situs Nour News, tanggal kunjungan: 10 Mordad 1402 HS.&amp;lt;/ref&amp;gt;]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sumber-sumber Syiah dan Sunni, Husain bin Ali as adalah salah satu dari [[Ashabul Kisa]]&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat: Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, &#039;&#039;Al-Kafi&#039;&#039;, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 HS, jilid 1, hlm. 287; Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, 1423 H, jilid 15, hlm. 190.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan salah satu dari [[Ahlul Bait]] yang [[Ayat Tathir]] turun tentang mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 1, hlm. 331; Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Tafsir al-Qur&#039;an al-&#039;Azhim, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1419 H, jilid 3, hlm. 799; Syaukani, Muhammad bin Ali, Fath al-Qadir, Beirut, Alam al-Kutub, tanpa tahun, jilid 4, hlm. 279.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau bersama saudaranya, Imam Hasan as, dianggap sebagai manifestasi dari kata &amp;quot;abna&#039;ana&amp;quot; (anak-anak kami) dalam [[Ayat Mubahalah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Zamakhsyari, Mahmud, Al-Kasyaf &#039;an Haqaiq Ghawamid al-Tanzil, Qum, Nasyr al-Balaghah, cetakan kedua, 1415 H, terkait ayat 61 Surah Ali Imran; Fakhr Razi, Muhammad bin Umar, Al-Tafsir al-Kabir, Beirut, Dar al-Fikr, 1405 H, terkait ayat 61 Surah Ali Imran.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber-sumber terpercaya [[Ahlusunah]] meriwayatkan banyak hadis tentang kedudukan dan keutamaan Husain bin Ali as.&amp;lt;ref&amp;gt;Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, 1423 H, jilid 15, hlm. 190; Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 376–410; Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 7; Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Tafsir al-Qur&#039;an al-&#039;Azhim, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1419 H, jilid 3, hlm. 799.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sebagaimana diriwayatkan dari Nabi saw bahwa Husain as adalah lentera petunjuk dan kapal keselamatan&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali bin Babawaih, Kamal al-Din wa Tamam al-Ni&#039;mah, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1395 HS, jilid 1, hlm. 265.&amp;lt;/ref&amp;gt; serta [[penghulu pemuda surga]].&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 7; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27.&amp;lt;/ref&amp;gt; Juga dalam sebuah riwayat, Nabi saw bersabda, [[Aku dari Husain|Husain dariku dan aku dari Husain]].&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 142; Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 385.&amp;lt;/ref&amp;gt; Barangsiapa mencintai keduanya (Hasan dan Husain), maka ia mencintaiku, dan barangsiapa memusuhi mereka, maka ia memusuhiku.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 266; Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 13, hlm. 198–199; Arbili, Ali bin Isa, Kasyf al-Ghummah fi Ma&#039;rifah al-A&#039;immah, Qum, Radhi, cetakan pertama, 1421 H, jilid 1, hlm. 602.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dikatakan bahwa [[Rasulullah saw]] di antara [[Ahlul Bait]]-nya, lebih mencintai [[Hasanain|Hasan dan Husain as]] daripada yang lain&amp;lt;ref&amp;gt;Tirmidzi, Muhammad bin Isa, Sunan Tirmidzi, penelitian oleh Abdurrahman Muhammad Utsman, Beirut, Dar al-Fikr, 1403 H, jilid 5, hlm. 323.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan kecintaan ini sedemikian rupa sehingga terkadang ketika keduanya masuk ke [[masjid]], beliau menghentikan khutbahnya, turun dari mimbar, dan memeluk mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 5, hlm. 354; Tirmidzi, Muhammad bin Isa, Sunan Tirmidzi, penelitian oleh Abdurrahman Muhammad Utsman, Beirut, Dar al-Fikr, 1403 H, jilid 5, hlm. 322; Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban, penelitian oleh Syu&#039;aib Arnauth, tanpa tempat, Al-Risalah, 1993 M, jilid 13, hlm. 402; Hakim Naisaburi, Al-Mustadrak &#039;ala al-Shahihain, penelitian oleh Yusuf Abdurrahman al-Mar&#039;asyi, Beirut, 1406 H, jilid 1, hlm. 287.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam riwayat disebutkan bahwa Allah menjadikan kesembuhan dalam [[tanah]] Husain as dan [[pengabulan doa]] di samping makamnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 4, hlm. 82; Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar al-Jami&#039;ah li Durar Akhbar al-A&#039;immah al-Athhar, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 HS, jilid 98, hlm. 69.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam kitab [[Al-Khashaish al-Husainiyah]], lebih dari tiga ratus keistimewaan khusus Imam Husain disebutkan.&amp;lt;ref&amp;gt;Syusytari, Syekh Ja&#039;far, Al-Khashaish al-Husainiyah, Syarif Radhi, cetakan pertama, tanpa tahun, hlm. 20.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kebanyakan sumber hadis, sejarah, dan rijal, disebutkan tentang kemiripan Husain as dengan [[Nabi Muhammad saw]]&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 142, 453; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27; Thabrani, Sulaiman bin Ahmad, Al-Mu&#039;jam al-Kabir, Kairo, Dar al-Nasyr, Maktabah Ibnu Taimiyah, cetakan kedua, tanpa tahun, jilid 3, hlm. 95.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan dalam sebuah riwayat, beliau disebut sebagai orang yang paling mirip dengan Nabi saw.&amp;lt;ref&amp;gt;Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 3, hlm. 261; Tirmidzi, Muhammad bin Isa, Sunan Tirmidzi, penelitian oleh Abdurrahman Muhammad Utsman, Beirut, Dar al-Fikr, 1403 H, jilid 5, hlm. 325.&amp;lt;/ref&amp;gt; Tentang beliau, dikatakan bahwa terkadang beliau mengenakan pakaian dari bulu atau memakai sorban dari bulu&amp;lt;ref&amp;gt;Thabrani, Sulaiman bin Ahmad, Al-Mu&#039;jam al-Kabir, Kairo, Dar al-Nasyr, Maktabah Ibnu Taimiyah, cetakan kedua, tanpa tahun, jilid 3, hlm. 101.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan mewarnai rambut serta janggutnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 6, hlm. 419–422; Ibnu Abi Syaibah, Al-Musannaf fi al-Ahadits wa al-Atsar, cetakan oleh Sa&#039;id Muhammad Lahham, Beirut, 1409 H, jilid 6, hlm. 3, 15.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as sangat dermawan dan dikenal dengan kedermawanannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammadi Rey Shahri, Muhammad dan kawan-kawan, Ensiklopedia Imam Husain as, terjemahan oleh Muhammad Muradi, Qum, Dar al-Hadits, 1430 H, jilid 2, hlm. 114–118.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau duduk bersama orang-orang miskin, menerima undangan mereka, makan bersama mereka, mengundang mereka ke rumahnya, dan tidak menahan apa yang ada di rumahnya dari mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 411; Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 14, hlm. 181.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau membebaskan budak-budak dan [[hamba sahaya]]nya sebagai balasan atas perilaku baik mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 70, hlm. 196–197; Ibnu Hazm, Al-Muhalla, penelitian oleh Muhammad Syakir, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun, jilid 8, hlm. 515; Arbili, Ali bin Isa, &#039;&#039;Kasyf al-Ghummah fi Ma&#039;rifah al-A&#039;immah as&#039;&#039;, cetakan oleh Ali Fadhili, Qum, 1426 H, jilid 2, hlm. 476.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam sumber-sumber disebutkan bahwa beliau menunaikan [[haji]] dengan berjalan kaki sebanyak 25 kali.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 401; Ibnu Abd al-Barr, Al-Isti&#039;ab fi Ma&#039;rifah al-Ashab, penelitian oleh Ali Muhammad al-Bajawi, Beirut, Dar al-Jil, cetakan pertama, 1412 H, jilid 1, hlm. 397.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Istri dan Anak-anak==&lt;br /&gt;
[[Fail:Mosibat Karbala.jpg|250px|thumb|Lukisan &amp;quot;Musibah Karbala&amp;quot; dalam gaya lukisan kafe oleh Husain Qollar Aghasi]]&lt;br /&gt;
{{main|Daftar Istri dan Anak-anak Imam Husain as}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Syahrbanu]] adalah nama salah satu istri Imam, yang dikatakan sebagai putri Yazdegerd, raja Sasani, dan ibu dari [[Imam Sajjad as]]. Para peneliti kontemporer meragukan nasab Syahrbanu.&amp;lt;ref&amp;gt;Sebagai contoh, lihat: Muthahhari, Murtadha, &#039;&#039;Khidmat-e Mutaqabil-e Islam va Iran&#039;&#039;, Teheran, Penerbit Sadra, 1380 HS, hlm. 131–133; Syariati Ali, Tasyayyu&#039;-e Alawi va Tasyayyu&#039;-e Safawi, Teheran, Chapkhash, 1377 HS, hlm. 91; Syahidi, Sayid Ja&#039;far, Zindagani Ali bin al-Husain, Teheran, Daftar Nasyr Farhang, 1365 HS, hlm. 12.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu istri Imam lainnya adalah [[Rabab]], putri Amru al-Qais bin Adi. Dia adalah ibu dari [[Sukainah binti Husain|Sukainah]] dan [[Abdullah bin al-Husain|Abdullah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Isfahani, Abul Faraj, &#039;&#039;Maqatil al-Thalibiyyin&#039;&#039;, penelitian oleh Ahmad Saqr, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, tanpa tahun, hlm. 59; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 135.&amp;lt;/ref&amp;gt; Rabab hadir di [[Karbala]] dan bersama para tawanan pergi ke [[Syam]].&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1408 H, jilid 8, hlm. 229.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sebagian besar sumber menyebutkan bahwa Abdullah (Ali Asghar) masih bayi saat syahid.&amp;lt;ref&amp;gt;Mus&#039;ab bin Abdullah, Kitab Nasab Quraisy, cetakan oleh Levi Provencal, Kairo, 1953 M, jilid 1, hlm. 59; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 468; Bukhari, Sahl bin Abdullah, Sirr al-Silsilah al-Alawiyah, cetakan oleh Muhammad Sadiq Bahar al-Ulum, Najaf, 1381 H, jilid 1, hlm. 30.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Laila binti Abi Murrah|Layla]], putri Abi Murrah bin Urwah bin Mas&#039;ud al-Tsaqafi,&amp;lt;ref&amp;gt;Mus&#039;ab bin Abdullah, &#039;&#039;Kitab Nasab Quraisy&#039;&#039;, cetakan oleh Levi Provencal, Kairo, 1953 M, hlm. 57; Yaqubi, Ahmad bin Abi Yaqub, Tarikh al-Yaqubi, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 246–247; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 446.&amp;lt;/ref&amp;gt; adalah nama salah satu istri Imam lainnya. Dia adalah ibu dari [[Ali Akbar as]]&amp;lt;ref&amp;gt;Maqrizi, Taqiyuddin, Imta&#039; al-Asma&#039; bima li al-Nabi min al-Ahwal wa al-Amwal wa al-Hafadah wa al-Mata&#039;, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1420 H, jilid 6, hlm. 269.&amp;lt;/ref&amp;gt; yang syahid dalam [[Peristiwa Karbala]].&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 446; Isfahani, Abul Faraj, Maqatil al-Thalibiyyin, penelitian oleh Ahmad Saqr, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, tanpa tahun, hlm. 80.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Umm Ishaq binti Thalhah bin Ubaidullah|Umm Ishaq]], putri Thalhah bin Ubaidullah, juga dianggap sebagai salah satu istri Imam Husain as. Dia adalah ibu dari [[Fatimah binti Husain|Fatimah]], putri sulung Imam Husain as.&amp;lt;ref&amp;gt;Isfahani, Abul Faraj, Kitab al-Aghani, Kairo, 1383 H, jilid 21, hlm. 78.&amp;lt;/ref&amp;gt; Umm Ishaq sebelumnya adalah istri [[Imam Hasan Mujtaba as]] dan setelah syahidnya Imam Hasan, dia menikah dengan Imam Husain as.&amp;lt;ref&amp;gt;Isfahani, Abul Faraj, Kitab al-Aghani, Kairo, 1383 H, jilid 21, hlm. 78.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Thalhah al-Syafi&#039;i dalam kitab [[Mathalib al-Su&#039;ul fi Manaqib Al al-Rasul]] menyebutkan bahwa Imam memiliki sepuluh anak.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Thalhah al-Syafi&#039;i, Mathalib al-Su&#039;ul fi Manaqib Al al-Rasul, cetakan oleh Majid bin Ahmad Athiyah, tanpa tempat, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 69.&amp;lt;/ref&amp;gt; Namun, beberapa sumber menyebutkan bahwa Imam memiliki empat putra dan dua putri&amp;lt;ref&amp;gt;Mus&#039;ab bin Abdullah, Kitab Nasab Quraisy, cetakan oleh Levi Provencal, Kairo, 1953 M, jilid 1, hlm. 57–59; Bukhari, Sahl bin Abdullah, Sirr al-Silsilah al-Alawiyah, cetakan oleh Muhammad Sadiq Bahar al-Ulum, Najaf, 1381 H, jilid 1, hlm. 30; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 135.&amp;lt;/ref&amp;gt; atau enam putra dan tiga putri.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Dalail al-Imamah, Beirut, Muassasah al-A&#039;lami lil Mathbu&#039;at, 1408 H, jilid 1, hlm. 74; Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 4, hlm. 77; Ibnu Thalhah al-Syafi&#039;i, Mathalib al-Su&#039;ul fi Manaqib Al al-Rasul, cetakan oleh Majid bin Ahmad Athiyah, tanpa tempat, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 69.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam kitab [[Lubab al-Ansab]]&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Funduq al-Baihaqi, Ali bin Zaid, Lubab al-Ansab wa al-Alqab wa al-A&#039;qab, penelitian oleh Mahdi Rajai, Qum, Maktabah Ayatullah al-Mar&#039;asyi, 1385 HS, hlm. 355.&amp;lt;/ref&amp;gt; dari sumber abad keenam, disebutkan tentang seorang putri bernama [[Ruqayyah binti Husain|Ruqayyah]], dan dalam kitab [[Kamil al-Bahai]] dari sumber abad ketujuh, disebutkan tentang seorang putri berusia empat tahun yang meninggal di [[Syam]].&amp;lt;ref&amp;gt;Kasyifi Sabzawari, Mulla Husain, Rawdhah al-Syuhada, Qum, Nawaid Islam, 1382 HS, hlm. 484.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Masa Tiga Khalifah==&lt;br /&gt;
Sedikit informasi sejarah yang dilaporkan tentang periode 25 tahun kehidupan Imam Husain as selama masa tiga khalifah.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammadi Rey Shahri, Muhammad dan kawan-kawan, Ensiklopedia Imam Husain as, terjemahan oleh Muhammad Muradi, Qum, Dar al-Hadits, 1430 H, jilid 2, hlm. 325.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dikatakan bahwa beliau menikmati penghormatan khusus dari khalifah kedua.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 14, hlm. 175; Sibth bin al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawash, Qum, Mansyurat al-Syarif al-Radhi, cetakan pertama, 1418 H, hlm. 211–212.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada laporan tentang Imam Husain as selama masa pemerintahan Utsman, di mana Imam bersama ayah dan saudaranya mengantar Abu Dzar, yang diasingkan oleh khalifah ketiga ke Rabdzah, meskipun bertentangan dengan perintah khalifah.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1365 HS, jilid 8, hlm. 206–207; Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, 1385–1387 H, jilid 8, hlm. 253–254.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa sumber [[Ahlusunah]] menyebutkan kehadiran beliau bersama saudaranya dalam beberapa penaklukan seperti Afrika pada tahun 26 H&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Khaldun, Al-&#039;Ibar, 1401 H, jilid 2, hlm. 573–574.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan [[Tabaristan]] pada tahun 30 H.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 4, hlm. 269.&amp;lt;/ref&amp;gt; Namun, laporan semacam ini tidak ditemukan dalam sumber Syiah. Beberapa peneliti Syiah seperti [[Ja&#039;far Murtadha Amili]] menganggap laporan-laporan ini sebagai palsu.&amp;lt;ref&amp;gt;Ja&#039;far Murtadha, Al-Hayah al-Siyasiyah lil Imam al-Hasan, Dar al-Sirah, hlm. 158.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Kehadiran Imam Hasan as dan Imam Husain as dalam Penaklukan Iran}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu laporan lain yang menyebutkan Imam Husain as adalah pemberontakan terhadap Utsman dan pembunuhan khalifah. Imam bersama saudaranya, Imam Hasan as, meskipun tidak senang dengan kinerja khalifah, melindungi rumah Utsman.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 59; Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 5, hlm. 558.&amp;lt;/ref&amp;gt; Laporan ini memiliki pendukung dan penentang di antara para peneliti Syiah.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammadi Rei Shahri, Muhammad dan kawan-kawan, Ensiklopedia Imam Husain as, terjemahan oleh Muhammad Muradi, Qum, Dar al-Hadits, 1430 H, jilid 2, hlm. 331–332.&amp;lt;/ref&amp;gt; [[Sayid Murtadha]] setelah meragukan pengiriman Hasanain as oleh Amirul Mukminin as, menyatakan bahwa alasannya adalah untuk mencegah pembunuhan sengaja terhadap Utsman dan memberikan air serta makanan kepada keluarganya, bukan untuk mencegah pencopotan Utsman dari kekhalifahan, karena Utsman layak dicopot karena tindakan-tindakannya yang tidak pantas.&amp;lt;ref&amp;gt;Sayid Murtadha, Ali bin Husain, &#039;&#039;Al-Syafi fi al-Imamah&#039;&#039;, Qum, Muassasah Ismailiyan, cetakan kedua, 1410 H, jilid 4, hlm. 242.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Pertahanan Imam Hasan as dan Imam Husain as atas Rumah Utsman}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Masa Pemerintahan Imam Ali as==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat sedikit laporan tentang Imam Husain as selama masa pemerintahan Imam Ali as. Salah satunya adalah bahwa beliau membacakan khutbah setelah [[baiat]] masyarakat kepada [[Amirul Mukminin as]].&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, &#039;&#039;Bihar al-Anwar al-Jami&#039;ah li Durar Akhbar al-A&#039;immah al-Athhar&#039;&#039;, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 HS, jilid 10, hlm. 121.&amp;lt;/ref&amp;gt; Kehadiran Imam Husain as dalam Perang Jamal dan kepemimpinannya atas sayap kiri pasukan Imam Ali as tercatat dalam berbagai sumber.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Muhammad bin Nu&#039;man, Al-Jamal wa al-Nusrah li Sayid al-Itrah fi Harb al-Basrah, Qum, Kongres Syekh Mufid, 1413 H, hlm. 348; Dzahabi, Syamsuddin, Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A&#039;lam, Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, cetakan kedua, 1409 H, jilid 3, hlm. 485.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau juga hadir dalam [[Perang Shiffin|Perang Shiffin]] dan menjadi salah satu komandan sayap kanan pasukan.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu A&#039;tsam, Ahmad, Al-Futuh, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, 1411 H, jilid 3, hlm. 24; Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, &#039;&#039;Manaqib Al Abi Thalib&#039;&#039;, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 3, hlm. 168.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam Husain as membacakan khutbah untuk mendorong masyarakat berjihad&amp;lt;ref&amp;gt;Manqari, Nashr bin Muzahim, Waq&#039;ah Shiffin, penelitian oleh Abdussalam Muhammad Harun, Kairo, 1382 H, hlm. 114–115.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan terlibat dalam upaya merebut kembali air dari pasukan Syam.&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar al-Jami&#039;ah li Durar Akhbar al-A&#039;immah al-Athhar, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 HS, jilid 44, hlm. 266.&amp;lt;/ref&amp;gt; Meskipun demikian, disebutkan bahwa berdasarkan laporan-laporan terkait Perang Shiffin, Imam Ali as mencegah Hasanain as untuk ikut berperang, dengan alasan menjaga keturunan Nabi saw.&amp;lt;ref&amp;gt;Arbili, Ali bin Isa, Kasyf al-Ghummah fi Ma&#039;rifah al-A&#039;immah, Qum, Radhi, cetakan pertama, 1421 H, jilid 1, hlm. 569; Sayid Radhi, Muhammad bin Husain, Nahj al-Balaghah, penelitian oleh Shubhi Shalih, Qum, Hijrah, 1414 H, khutbah 207, hlm. 323.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ada juga laporan tentang kehadirannya dalam [[Perang Nahrawan]].&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Abd al-Barr, Al-Isti&#039;ab fi Ma&#039;rifah al-Ashab, penelitian oleh Ali Muhammad al-Bajawi, Beirut, Dar al-Jail, cetakan pertama, 1412 H, jilid 3, hlm. 939.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak sumber menyebutkan bahwa Imam Husain as berada di sisi Imam Ali as saat [[syahid]]&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 147.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan hadir dalam prosesi pemakamannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 181; Syekh Mufid, Muhammad bin Nu&#039;man, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Beirut, 1414 H; jilid 1, hlm. 25.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dikatakan bahwa Imam Husain as sedang menjalankan misi di [[Mada&#039;in]] ketika ayahnya terluka, dan setelah menerima surat dari Imam Hasan as, beliau kembali ke Kufah.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 HS, jilid 3, hlm. 220; Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 2, hlm. 497–498.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Masa Imam Hasan as==&lt;br /&gt;
Husain bin Ali as selama masa imamah dan pemerintahan saudaranya, [[Imam Hasan as]], menunjukkan penghormatan yang besar kepadanya. Bahkan disebutkan bahwa beliau sepenuhnya taat pada perintah saudaranya dan tidak berbicara dalam majelis di mana Imam Hasan as hadir.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 HS, jilid 1, hlm. 291; Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 3, hlm. 401.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ketaatan dan kepatuhannya kepada saudaranya sedemikian rupa sehingga beliau menolak permintaan baiat dari beberapa kelompok Khawarij yang bersikeras untuk berperang melawan pasukan Syam.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 184.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as mendukung saudaranya dalam peristiwa [[perdamaian dengan Muawiyah]] dan mengonfirmasi tindakannya&amp;lt;ref&amp;gt;Dinawari, Ahmad bin Dawud, Al-Akhbar al-Thiwal, penelitian oleh Abdulmun&#039;im Amir dengan tinjauan oleh Jamaluddin Syial, Qum, Mansyurat Radhi, 1368 HS, hlm. 221.&amp;lt;/ref&amp;gt; serta menegaskan imamahnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thusi, Ikhtiyar Ma&#039;rifah al-Rijal (Rijal al-Kasyi), Masyhad, Universitas Masyhad, 1348 HS, hlm. 110.&amp;lt;/ref&amp;gt; Meskipun demikian, beberapa laporan menyebutkan bahwa beliau tidak berbaiat kepada Muawiyah&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu A&#039;tsam, Ahmad, Al-Futuh, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, 1411 H, jilid 4, hlm. 292; Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 4, hlm. 35.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan merasa tidak puas dengan tindakan saudaranya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 160; Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 13, hlm. 267.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as setelah perdamaian dengan Muawiyah pada [[tahun 41 H]], kembali dari [[Kufah]] ke [[Madinah]] bersama saudaranya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 165; Ibnu Jauzi, Abdurrahman bin Ali, Al-Muntazam fi Tarikh al-Umam wa al-Muluk, penelitian oleh Muhammad Abdulqadir Atha dan Mustafa Abdulqadir Atha, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1992 M, jilid 5, hlm. 184.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Masa Imamah==&lt;br /&gt;
[[Fail:Emam hossein.jpg|250px|thumb|Lukisan rakyat tentang Imam Husain as karya Muhammad Tajwidi, gouache, 1351 HS.&amp;lt;ref&amp;gt;Yasini, Radhiyah, «[https://negareh.shahed.ac.ir/article_356_d795c939486fd14a24bfb563a741891d.pdf Perkembangan Seni Lukis Islam Iran dari Penafian hingga Penyerupaan]» hlm. 14.&amp;lt;/ref&amp;gt;]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as menjadi [[imam]] setelah [[syahid]]nya saudaranya pada tahun [[50 H]] dan memegang imamah hingga tahun [[61 H]].&amp;lt;ref&amp;gt;Shabiri, Husain, Tarikh Firaq Islamiyah Firaq Syiah wa Firaq Mansub biha, Teheran, Samt, cetakan kelima, 1388 HS, jilid 1, hlm. 181.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ulama Syiah, selain argumen umum untuk membuktikan [[imamah dua belas imam]],&amp;lt;ref&amp;gt;Sebagai contoh, lihat: Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali bin Babawaih, Al-I&#039;tiqadat al-Imamiyah, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan kedua, 1414 H, hlm. 104; Ibnu Babawaih al-Qummi, Abul Hasan bin Ali, Al-Imamah wa al-Tabshirah min al-Hairah, penelitian: Ali Akbar Ghaffari, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1363 HS, hlm. 104.&amp;lt;/ref&amp;gt; juga merujuk pada argumen khusus tentang imamah Husain bin Ali as, termasuk riwayat dari [[Nabi saw]] yang menyebutnya sebagai imam.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Muhammad bin Nu&#039;man, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Beirut, 1414 H; jilid 2, hlm. 30.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sebagaimana penegasan Imam Ali as tentang imamah Husain as setelah [[Imam Hasan as]]&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 HS, jilid 1, hlm. 297.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan pengenalan beliau oleh Imam Hasan sebagai imam setelahnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 HS, jilid 1, hlm. 301.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as setelah syahidnya Imam Hasan as tidak melanggar baiatnya kepada Muawiyah.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 32.&amp;lt;/ref&amp;gt; Bahkan beliau menolak permintaan sebagian Syiah untuk mengumpulkan pasukan dan berperang melawan Muawiyah karena menjaga janji dan membela tindakan saudaranya.&amp;lt;ref&amp;gt;Dinawari, Ahmad bin Dawud, Al-Akhbar al-Thiwal, penelitian oleh Abdulmun&#039;im Amir dengan tinjauan oleh Jamaluddin Syial, Qum, Mansyurat Radhi, 1368 HS, hlm. 220.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau menunda keputusan dalam hal ini hingga setelah kematian Muawiyah.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 150.&amp;lt;/ref&amp;gt; Menurut Syekh Mufid, Imam Husain as hingga kematian Muawiyah tidak mengajak masyarakat kepada dirinya karena [[taqiyah]] dan perjanjian yang dibuat dalam peristiwa [[perdamaian Imam Hasan]]. Namun, setelah kematian Muawiyah, beliau menjelaskan kedudukannya kepada mereka yang tidak mengetahuinya.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Muhammad bin Nu&#039;man, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Beirut, 1414 H, jilid 2, hlm. 31.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Sikap Terhadap Tindakan Muawiyah==&lt;br /&gt;
Menurut sumber sejarah, Imam Husain as tidak melakukan tindakan melawan pemerintahan Muawiyah, tetapi beberapa sejarawan berdasarkan beberapa bukti dan percakapan antara mereka meyakini bahwa Imam as secara politik tidak menerima legitimasi Muawiyah.&amp;lt;ref&amp;gt;Ja&#039;fariyan, Rasul, Hayat Fikri wa Siyasi Imamane Syiah, Qum, Anshariyan, cetakan keenam, 1381 HS, hlm. 175.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan dalam beberapa kasus menentang kebijakan Muawiyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Protes Imam Husain as terhadap tindakan Muawiyah dalam membunuh orang-orang seperti [[Hujr bin Adi]], [[Amr bin Hamq al-Khuza&#039;i]], dan [[Abdullah bin Yahya al-Hadhrami]] tercatat dalam berbagai sumber.&amp;lt;ref&amp;gt;Dinawari, Ahmad bin Dawud, Al-Akhbar al-Thiwal, penelitian oleh Abdulmun&#039;im Amir dengan tinjauan oleh Jamaluddin Syial, Qum, Mansyurat Radhi, 1368 HS, hlm. 224–225; Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 5, hlm. 120–121; Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 202–204.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam dalam suratnya kepada Muawiyah mengecam pembunuhan para sahabat Imam Ali as dan mengecam tindakan buruk Muawiyah, menyebut jihad melawannya sebagai keharusan untuk menghidupkan agama dan menganggap pemerintahannya sebagai fitnah besar bagi [[umat]] Islam.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 5, hlm. 121–122; Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 440; Thusi, Ikhtiyar Ma&#039;rifah al-Rijal (Rijal al-Kasyi), Masyhad, Universitas Masyhad, 1348 HS, hlm. 50; Dzahabi, Syamsuddin, Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A&#039;lam, Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, cetakan kedua, 1409 H, jilid 5, hlm. 6; Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 14, hlm. 206.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Muawiyah pada tahun 56 H, bertentangan dengan ketentuan [[perjanjian damai Imam Hasan]] yang melarang penunjukan penerus, mengajak masyarakat untuk berbaiat kepada Yazid,&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun, jilid 8, hlm. 79.&amp;lt;/ref&amp;gt; beberapa tokoh, termasuk Imam Husain as, menolak berbaiat.&amp;lt;ref&amp;gt;http://ensani.ir/fa/article/45732/&amp;lt;/ref&amp;gt; Muawiyah pergi ke Madinah untuk mendapatkan dukungan para tokoh kota tersebut untuk penunjukan Yazid sebagai putra mahkota.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 204.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam Husain dalam sebuah majelis yang dihadiri oleh Muawiyah, [[Ibnu Abbas]], dan beberapa pejabat serta keluarga Umayyah, mengecam Muawiyah dan memperingatkannya untuk tidak berusaha menjadikan Yazid sebagai penerus. Beliau menegaskan kedudukan dan haknya serta membantah argumen Muawiyah untuk mendapatkan baiat kepada Yazid.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 208–209.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sebuah majelis lain yang dihadiri oleh masyarakat umum, Imam Husain menanggapi ucapan Muawiyah tentang kelayakan Yazid. Beliau menyatakan bahwa dirinya lebih layak secara individu dan keluarga untuk menjadi khalifah, sementara Yazid digambarkan sebagai pemabuk dan pengikut hawa nafsu.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, tahqiq Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, halaman 211.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 58 Hijriah, Imam Husain as menyampaikan khutbah protes di Mina akibat tekanan Muawiyah terhadap Syiah.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok peneliti sejarah, Tarikh Qiyam wa Maqtal Jami&#039; Sayid al-Syuhada, 1389 H, jilid 1, halaman 392.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam khutbah ini, beliau menyebutkan keutamaan Amirul Mukminin as dan Ahlul Bait, mengajak untuk melakukan amar ma&#039;ruf nahi munkar, menekankan pentingnya tugas ini dalam Islam, serta menjelaskan kewajiban ulama untuk bangkit melawan para penindas dan bahaya diamnya ulama di hadapan penguasa zalim.&amp;lt;ref&amp;gt;Harrani, Hasan bin Syu&#039;bah, Tuhaf al-&#039;Uqul, Qum, Jamaah Mudarrisin, 1404 H, halaman 68.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Ketidakbangkitannya Imam Husain as pada masa Muawiyah}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Reaksi Terhadap Kekhalifahan Yazid==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kematian Muawiyah pada 15 Rajab tahun 60 Hijriah, Yazid naik takhta.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 155; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 32.&amp;lt;/ref&amp;gt; Untuk melegitimasi pemerintahannya, Yazid berusaha memaksa para tokoh besar seperti Imam Husain as yang menolak baiat kepadanya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 338.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam Husain as menolak untuk berbaiat&amp;lt;ref&amp;gt;Abu Mikhnaf, Maqtal al-Husain as, tahqiq dan ta&#039;liq Husain al-Ghaffari, Qum, Mathba&#039;ah Ilmiyah, tanpa tahun, halaman 5; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 33.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan pergi bersama keluarga serta pengikutnya dari Madinah ke Mekah.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 160; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 34.&amp;lt;/ref&amp;gt; Di sana, beliau disambut oleh masyarakat dan para jamaah umrah.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 156; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 36.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam tinggal di kota ini selama lebih dari empat bulan.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 66.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syiah Kufah yang mengetahui penolakan Imam untuk berbaiat mengirim surat-surat yang mengundang beliau ke Kufah.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 157–159; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 36–38.&amp;lt;/ref&amp;gt; Husain bin Ali mengutus Muslim bin Aqil ke Kufah untuk memastikan situasi. Setelah melihat sambutan dan baiat masyarakat, Muslim memanggil Imam Husain ke Kufah.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 41.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam kemudian berangkat bersama keluarga dan pengikutnya pada tanggal 8 Dzulhijjah dari Mekah menuju Kufah.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 160; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 66.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut beberapa laporan, Imam Husain as mengetahui adanya rencana pembunuhan terhadap dirinya di Mekah. Untuk menjaga kesucian Mekah, beliau meninggalkan kota tersebut menuju Irak.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;d, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, halaman 450; Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun, jilid 8, halaman 159 dan 161.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Aktivitas Politik Imam Husain as Sebelum Qiyam}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Peristiwa Karbala==&lt;br /&gt;
{{poem|Ketika kekhalifahan terlepas dari Al-Qur&#039;an|Racun kebebasan dituangkan ke dalam mulut|Di tanah Karbala, hujan turun dan pergi|Bunga lalale tumbuh di reruntuhan|Hingga hari kiamat, ia menghentikan tirani|Gelombang darahnya menciptakan taman|Darahnya menjelaskan rahasia ini|Membangunkan umat yang tertidur|Pedang &amp;quot;La&amp;quot; ia hunus|Mengalirkan darah para pengikut kebatilan|Rahasia Al-Qur&#039;an kami pelajari dari Husain|Dari apinya, kami menyimpan nyala|Wahai angin, wahai utusan yang jauh|Sampaikan air mata kami ke tanah sucinya&amp;lt;ref&amp;gt;Iqbal Lahori, Ramuz-e-Bekhudi, &amp;quot;[https://ganjoor.net/iqbal/romooz-bikhodi/sh13 Bagian 13, tentang makna kebebasan Islam dan rahasia peristiwa Karbala]&amp;quot;&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
|Align = kiri&lt;br /&gt;
|Judul= Tentang Makna Kebebasan Islam dan Rahasia Peristiwa Karbala&lt;br /&gt;
|Penyair= Iqbal Lahori}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peristiwa Karbala terjadi akibat penolakan Imam Husain as untuk berbaiat kepada Yazid. Husain as memenuhi undangan penduduk Kufah dan berangkat bersama keluarga serta pengikutnya menuju Kufah. Namun, di daerah bernama Dzuhusam, beliau dihadang oleh pasukan yang dipimpin oleh Hurr bin Yazid al-Riyahi dan terpaksa mengubah rute perjalanannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 408; Ibnu Miskawaih, Ahmad bin Muhammad, Tajarib al-Umam wa Ta&#039;aqub al-Himam, tahqiq: Abu al-Qasim Imami, Teheran, Surush, 1379 H; jilid 2, halaman 67; Ibnu Atsir, Ali bin Abi al-Karam, Al-Kamil fi al-Tarikh, Beirut, Dar Shadir, 1965 M, jilid 4, halaman 51.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kafilah Imam tiba di Karbala pada tanggal 2 Muharram&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu A&#039;tsam, Ahmad, Al-Futuh, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, 1411 H, jilid 5, halaman 83; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 409; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 84; Ibnu Miskawaih, Ahmad bin Muhammad, Tajarib al-Umam wa Ta&#039;aqub al-Himam, tahqiq: Abu al-Qasim Imami, Teheran, Surush, 1379 H, jilid 2, halaman 68.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan pada tanggal 3 Muharram, pasukan dari Kufah yang dipimpin oleh Umar bin Sa&#039;ad tiba di Karbala.&amp;lt;ref&amp;gt;Dinawari, Ahmad bin Dawud, Al-Akhbar al-Thiwal, tahqiq Abdul Mun&#039;im Amir, Qum, Mansyurat Razi, 1368 H, halaman 253; Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 176; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 409; Ibnu Atsir, Ali bin Abi al-Karam, Al-Kamil fi al-Tarikh, Beirut, Dar Shadir, 1965 M, jilid 4, halaman 52.&amp;lt;/ref&amp;gt; Menurut laporan sejarah, beberapa perundingan terjadi antara Husain bin Ali dan Umar bin Sa&#039;ad;&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 414; Ibnu Miskawaih, Ahmad bin Muhammad, Tajarib al-Umam wa Ta&#039;aqub al-Himam, tahqiq: Abu al-Qasim Imami, Teheran, Surush, 1379 H; jilid 2, halaman 71.&amp;lt;/ref&amp;gt; namun Ibnu Ziyad hanya menerima baiat Husain as kepada Yazid atau perang.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 182; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 414; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 88.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada malam Asyura, Imam Husain as melepas baiat dari para pengikutnya setelah menyampaikan pidato; namun mereka menegaskan kesetiaan dan dukungan mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 91–94.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertempuran dimulai pada pagi hari Asyura. Setelah para sahabat dan kerabat Imam as gugur,&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 446; Isfahani, Abu al-Faraj, Maqatil al-Thalibiyyin, tahqiq Ahmad Saqr, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, tanpa tahun, halaman 80.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam sendiri maju ke medan perang dan gugur sebagai syahid pada sore hari.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad, 1413 H, jilid 2, halaman 112.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
{{see also|Daftar Syuhada Karbala}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syamr bin Dzil Jausyan&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 112; Khuwarizmi, Muaffaq bin Ahmad, Maqtal al-Husain as, Qum, Anwar al-Huda, cetakan kedua, 1423 H, jilid 2, halaman 41; Thabarsi, Fadhl bin Hasan, I&#039;lam al-Wara bi A&#039;lam al-Huda, Teheran, Islamiyah, 1390 H, jilid 1, halaman 469.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan menurut riwayat lain, Sinan bin Anas&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 450–453; Ibnu Sa&#039;d, Al-Thabaqat al-Kubra, cetakan Ihsan Abbas, Beirut, 1968, jilid 6, halaman 441; Isfahani, Abu al-Faraj, Maqatil al-Thalibiyyin, tahqiq Ahmad Saqr, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, tanpa tahun, halaman 118; Mas&#039;udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jilid 3, halaman 62.&amp;lt;/ref&amp;gt; memenggal kepala beliau dan mengirimkannya kepada Ibnu Ziyad pada hari yang sama.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 411; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 456.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Pembunuh Imam Husain as}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluarga Imam Husain as ditawan dan dibawa ke Kufah, kemudian ke Syam.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 456.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Lama Masa Penawanan Ahlul Bait as Setelah Peristiwa Karbala}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jenazah Imam Husain as dan para syuhada Karbala dimakamkan pada tanggal 11&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 455.&amp;lt;/ref&amp;gt; atau 13 Muharram oleh sekelompok orang dari Bani Asad, dan menurut riwayat lain, dengan kehadiran Imam Sajjad as di tempat syahid.&amp;lt;ref&amp;gt;Musawi al-Muqarram, Abdul Razzaq, Maqtal al-Husain as, Beirut, Dar al-Kitab al-Islamiyah, halaman 335–336.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Fail:حرم امام حسین.jpg|250px|thumb|Foto tertua yang diyakini sebagai Haram Imam Husain as]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Reaksi Terhadap Peristiwa Karbala==  &lt;br /&gt;
Kebangkitan Imam Husain as dan kesyahidannya menimbulkan banyak reaksi dan memicu gerakan revolusioner serta protes selama bertahun-tahun, seperti Kebangkitan Tawwabin, Kebangkitan Mukhtar, Kebangkitan Zaid bin Ali, dan Kebangkitan Yahya bin Zaid.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, dalam Kebangkitan Siyah Jamegan yang dipimpin oleh Abu Muslim al-Khurasani—yang mengakibatkan kejatuhan Dinasti Umayyah—slogan &amp;quot;Ya Latharat al-Husain&amp;quot; (Wahai Penuntut Balas Kematian Husain) digunakan.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 9, halaman 317.&amp;lt;/ref&amp;gt; Revolusi Islam Iran juga dianggap terinspirasi oleh kebangkitan Imam Husain as.&amp;lt;ref&amp;gt;[http://farsi.rouhollah.ir/library/sahifeh?volume=17&amp;amp;tid=22 Khomeini, Sahifeh Nur, 1379 H, jilid 17, halaman 58.]&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat banyak riwayat yang meramalkan kesyahidan Husain bin Ali as.&amp;lt;ref&amp;gt;Rei Syahri, Danesyameh Imam Husain, 1388 H, jilid 3, halaman 166–317.&amp;lt;/ref&amp;gt; Salah satunya adalah Hadits Lauh yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad (saw), di mana Allah memuliakan Husain dengan kesyahidan dan menjadikannya sebagai syahid terbaik.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 H, jilid 1, halaman 528; Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Ghaibah, Qum, Dar al-Ma&#039;arif al-Islamiyah, 1411 H, halaman 145.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tujuan Kebangkitan==  &lt;br /&gt;
Terdapat berbagai pandangan mengenai tujuan Imam Husain as dalam kebangkitannya. Beberapa ulama seperti Luthfullah Shafi, Murtadha Muthahhari, Sayid Muhsin Amin, dan Ali Syariati menyatakan bahwa tujuan Husain bin Ali as adalah untuk mencapai syahid.&amp;lt;ref&amp;gt;Esfandiyari, Asyura Syenasi, 1387 H, halaman 157.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayid Murtadha&amp;lt;ref&amp;gt;Sayid Murtadha, Ali bin Husain, Tanzih al-Anbiya, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan kedua, 1409 H, halaman 227–228.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan ulama kontemporer seperti Shalehi Najaf Abadi menyatakan bahwa tujuan Imam adalah untuk membentuk pemerintahan.&amp;lt;ref&amp;gt;Shalehi Najaf Abadi, Nimatullah, Syahid Javid, Teheran, Omid Farda, 1387 H, halaman 157–158.&amp;lt;/ref&amp;gt; Selain itu, ada juga pandangan lain seperti tujuan untuk menyelamatkan nyawa.&amp;lt;ref&amp;gt;Asytahardi, Ali Panah, Haft Saleh Chera Seda Dar Avard?, Qum, Penerbit Allamah, cetakan pertama, 1391 H, halaman 154.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{Lihat juga|Kebangkitan Asyura: Gerakan Ilahi atau Keinginan Rakyat?|Kesadaran Imam Husain as tentang Akhir Kebangkitan}}  &lt;br /&gt;
[[File:Tazie ashora.jpg|thumb|Bagian dari tradisi Taziyah|280x280px]]  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kebangkitan Imam dalam Pandangan Ahlusunah==  &lt;br /&gt;
{{Lihat juga|Pandangan Al-Ghazali tentang Kebangkitan Imam Husain as}}  &lt;br /&gt;
Di kalangan Ahlusunah, terdapat dua pandangan tentang Kebangkitan Imam Husain as: sebagian mengkritiknya, sementara banyak yang memujinya.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Khaldun, sejarawan Ahlusunah abad ke-9, menekankan bahwa syarat untuk memerangi para penindas adalah adanya pemimpin yang adil. Ia menyebut Husain as sebagai orang yang paling adil untuk memimpin perlawanan ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, Beirut, Dar al-Fikr, 1401 H, jilid 1, halaman 217.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ia juga menyatakan bahwa ketika kefasikan Yazid menjadi jelas bagi semua orang, Husain merasa wajib untuk bangkit melawannya karena ia merasa memiliki kelayakan dan kekuatan untuk melakukannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jilid 1, halaman 216.&amp;lt;/ref&amp;gt; Syihabuddin Alusi, ulama Ahlusunah abad ke-13, dalam kitab Ruh al-Ma&#039;ani, mengkritik dan mengutuk Ibnu Arabi yang mencela Imam Husain. Ia menyatakan bahwa klaim Ibnu Arabi tentang kebangkitan Husain sebagai sumber kejahatan dan ketidakbaikan adalah dusta dan fitnah besar.&amp;lt;ref&amp;gt;Alusi, Ruh al-Ma&#039;ani, tahqiq: Ali Abdul Bari Athiyah, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1415 H, jilid 13, halaman 228.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abbas Mahmud Al-Aqqad, penulis dan sastrawan Mesir abad ke-14, dalam bukunya Abu al-Syuhada: Al-Husain bin Ali, menulis bahwa situasi pada masa Yazid telah mencapai titik di mana hanya syahid yang dapat menyelesaikannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Aqqad, Abbas Mahmud, Abu al-Syuhada Al-Husain bin Ali, Teheran, Al-Majma&#039; al-Alami li al-Taqrib, cetakan kedua, 1429 H, halaman 207.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ia percaya bahwa kebangkitan seperti ini hanya dapat dilakukan oleh manusia langka yang diciptakan untuk tujuan ini, dan gerakan mereka tidak dapat dibandingkan dengan orang lain karena mereka memahami dan menuntut sesuatu yang berbeda.&amp;lt;ref&amp;gt;Aqqad, Abbas Mahmud, Abu al-Syuhada Al-Husain bin Ali, Teheran, Al-Majma&#039; al-Alami li al-Taqrib, cetakan kedua, 1429 H, halaman 141.&amp;lt;/ref&amp;gt; Thaha Husain, penulis Ahlusunah, berpendapat bahwa penolakan Husain untuk berbaiat bukan karena keras kepala, tetapi karena ia tahu bahwa berbaiat kepada Yazid berarti mengkhianati hati nuraninya dan bertentangan dengan agamanya, karena baginya berbaiat kepada Yazid adalah dosa.&amp;lt;ref&amp;gt;Husain, Thaha, Ali wa Banuh, Kairo, Dar al-Ma&#039;arif, tanpa tahun, halaman 239.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar Farrukh juga menekankan bahwa diam di hadapan kezaliman tidak dapat dibenarkan. Ia percaya bahwa umat Islam saat ini membutuhkan seorang &amp;quot;Husain&amp;quot; yang bangkit untuk membimbing kita ke jalan yang benar dalam membela kebenaran.&amp;lt;ref&amp;gt;Farrukh, Umar, Tajdid fi al-Muslimin la fi al-Islam, Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, tanpa tahun, halaman 152.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tradisi Berkabung==  &lt;br /&gt;
Syiah dan bahkan non-Syiah melakukan tradisi berkabung untuk Imam Husain dan syuhada Karbala selama bulan Muharram. Syiah memiliki ritual berkabung yang umum, seperti pembacaan kisah tragedi Karbala (rawdhah), memukul dada (sineh-zani), pertunjukan teater tragedi Karbala (ta&#039;ziyah), dan membaca ziarah seperti Ziarah Asyura, Ziarah Warits, dan Ziarah Nahiyah Muqaddasah secara individu atau berkelompok.&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat: [http://fa.abna24.com/news/اخبار-آسیای-شرقی/عزاداری-ماه-محرم-در-کشورهای-جنوب-شرقی-آسیا-برگزار-می‌شود_725804.html «Tradisi Berkabung Bulan Muharram di Negara Asia Tenggara», ABNA News Agency]; [http://www.beytoote.com/art/city-country/different-cities2-muharram.html «Adat dan Tradisi Masyarakat di Berbagai Kota Iran pada Bulan Muharram», Situs Beytoote.]&amp;lt;/ref&amp;gt; Tempat yang dikhususkan untuk berkabung disebut Husainiyah.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tradisi berkabung untuk Imam Husain as dimulai sejak hari-hari pertama setelah Asyura.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 206.&amp;lt;/ref&amp;gt; Menurut sebuah riwayat, ketika tawanan Karbala tiba di Syam, para wanita Bani Hasyim berkabung selama beberapa hari dengan mengenakan pakaian hitam.&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 H, jilid 45, halaman 196.&amp;lt;/ref&amp;gt; Setelah berkuasanya pemerintahan Syiah dan berkurangnya tekanan terhadap Syiah, tradisi berkabung menjadi resmi.&amp;lt;ref&amp;gt;Aeinehvand, Sadeq dan Velayati, Ali Akbar, Sunnat Azadari wa Manqabat-Khani dar Tarikh Syiah Imamiyah, dengan pengantar Muhammad Taqi-Zadeh Davari, Qum, Muassasah Syiah-Syenasi, cetakan kedua, 1386 H, halaman 65–66, mengutip Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, jilid 11, halaman 183; Ibnu Jauzi, Abdul Rahman bin Ali, Al-Muntazam fi Tarikh Thabari, tahqiq Muhammad Abdul Qadir Atha dan Mustafa Abdul Qadir Atha, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1992 M, jilid 7, halaman 15.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sumber Syiah dan Ahlusunah disebutkan bahwa Nabi Muhammad (saw) menangis saat kelahiran Husain dan memberitakan kesyahidannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 129; Maqrizi, Taqiyuddin, Imta&#039; al-Asma&#039;, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1420 H, jilid 12, halaman 237; Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun, jilid 6, halaman 230.&amp;lt;/ref&amp;gt; Menurut laporan sejarah dan hadis, para Imam Syiah sangat menekankan pentingnya berkabung dan menangis untuk mengenang Husain bin Ali, serta menganjurkan Syiah untuk menjaga ingatan tentang Asyura.&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 H, jilid 44, bab 34, halaman 278–296.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{Lihat juga|Perkembangan Tradisi Berkabung|Kesedihan dan Tangisan dalam Berkabung untuk Imam Husain as|Tradisi Berkabung Para Imam Syiah untuk Imam Husain as}}  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Makam Imam Husain as==  &lt;br /&gt;
[[Fail:حرم امام حسین(ع).jpg|250px|thumb|Pemandangan Makam Imam Husain as pada tahun 1932 M.]]&lt;br /&gt;
Menurut laporan yang ada, bangunan pertama di atas makam Husain bin Ali as dibangun pada masa Mukhtar al-Tsaqafi atas perintahnya. Sejak saat itu, bangunan makam telah beberapa kali direnovasi dan diperluas.&amp;lt;ref&amp;gt;Al Tu&#039;mah, Salman Hadi, Karbala wa Haram-ha-ye Muthahhar, Teheran, Masyar, tanpa tahun, halaman 89–112.&amp;lt;/ref&amp;gt; Makam Imam Husain as beberapa kali dihancurkan oleh beberapa khalifah Abbasiyah&amp;lt;ref&amp;gt;Isfahani, Abu al-Faraj, Maqatil al-Thalibiyyin, tahqiq Ahmad Saqr, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, tanpa tahun, halaman 477.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan kelompok Wahabi.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, Negahi Now be Jaryan-e Asyura, 1387 H, halaman 425.&amp;lt;/ref&amp;gt; Misalnya, Khalifah Al-Mutawakkil Abbasi memerintahkan untuk membajak tanah Hair dan mengalirkan air ke makam.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Amali, Qum, Dar al-Tsaqafah, 1414 H, halaman 327; Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 2, halaman 211.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Area sekitar makam Imam Husain as disebut Hair Husaini. Area ini memiliki keutamaan dan hukum fikih khusus, dan seorang musafir dapat melaksanakan shalat lengkap di dalamnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabathabai Yazdi, Sayid Muhammad Kazhim, &#039;&#039;Al-Urwah al-Wutsqa&#039;&#039;, Beirut, 1404 H, jilid 2, halaman 164.&amp;lt;/ref&amp;gt; Terdapat beberapa pendapat tentang luas pasti Hair, dan minimalnya adalah area dengan radius 11 meter dari makam Imam Husain, yang memiliki tingkat keutamaan tertinggi.&amp;lt;ref&amp;gt;Kalidar, Abdul Jawad, Tarikh Karbala wa Hair al-Husain Alaih al-Salam, Najaf, cetakan ofset Qum, 1376 H, halaman 51–52, 58–60.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ziarah ke Makam Imam Husain as==  &lt;br /&gt;
Dalam riwayat para Imam Maksum, ziarah ke makam Imam Husain as tidak hanya ditekankan, tetapi juga dianggap sebagai salah satu amalan terbaik dan paling utama.&amp;lt;ref&amp;gt;Muassasah Imam Hadi as, Jami&#039; Ziyarat al-Ma&#039;sumin, Qum, Payam Imam Hadi as, 1389 H, jilid 3, halaman 36–69.&amp;lt;/ref&amp;gt; Bahkan, pahalanya disamakan dengan haji dan umrah.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qulawiyah, Ja&#039;far bin Muhammad, Kamil al-Ziyarat, Najaf, Dar al-Murtadhawiyah, 1356 H, halaman 158–161.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kitab-kitab ziarah, terdapat beberapa ziarah mutlak untuk Imam Husain yang dapat dibaca kapan saja&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammadi Risyahri, Muhammad dan kawan-kawan, Danesyameh Imam Husain as, terjemahan Muhammad Muradi, Qum, Dar al-Hadits, 1430 H, jilid 12, halaman 256–452.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan beberapa ziarah khusus yang dibaca pada waktu tertentu.&amp;lt;ref&amp;gt;[https://hawzah.net/fa/Magazine/View/6444/8140/107167/زیارت-های-مخصوصه-امام-حسین «Ziarah Khusus Imam Husain», Situs Informasi Hauzah.]&amp;lt;/ref&amp;gt; Ziarah Asyura, Ziarah Warits, dan Ziarah Nahiyah Muqaddasah adalah beberapa ziarah yang paling terkenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Arbain Husaini==&lt;br /&gt;
{{Artikel Utama|Arbain Husaini}}&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Syiah melakukan tradisi berkabung pada hari ke-40 setelah kesyahidan Imam Husain as, yang dikenal sebagai Arbain Husaini. Pada hari ini, para pecinta Imam Husain as pergi berziarah ke makam beliau di Karbala.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut beberapa laporan sejarah, tawanan Karbala dalam perjalanan kembali dari Syam ke Madinah berziarah ke makam syuhada Karbala pada hari Arbain.&amp;lt;ref&amp;gt;Sayid bin Thawus, Ali bin Musa, Al-Luhuf &#039;ala Qatla al-Thufuf, Qum, Aswah, 1414 H, halaman 225.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dikatakan bahwa Jabir bin Abdullah al-Anshari adalah orang pertama yang hadir di makam Imam Husain as pada hari ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Mishbah al-Mutahajjid, Beirut, Muassasah Fiqh al-Syiah, 1411 H, halaman 787.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anjuran untuk melakukan ziarah Arbain telah mendorong umat Syiah dari berbagai penjuru dunia untuk berbondong-bondong menuju Karbala setiap tahunnya. Perjalanan ini, yang biasanya dilakukan dengan berjalan kaki, dianggap sebagai salah satu prosesi terbesar di dunia. Sumber berita melaporkan bahwa jumlah peziarah Arbain pada tahun 1398 Hijriah mencapai lebih dari 18 juta orang.&amp;lt;ref&amp;gt;[https://www.irna.ir/news/83522637/ «Jumlah Peziarah Arbain Tahun Ini Melebihi 18 Juta», Kantor Berita Republik Islam.]&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Riwayat-Riwayat Imam Husain== &lt;br /&gt;
Dalam berbagai sumber hadis dan sejarah, terdapat banyak referensi tentang ucapan,&amp;lt;ref&amp;gt;Ma&#039;had Penelitian Baqir al-Ulum as, Mausu&#039;ah Kalimat al-Imam al-Husain, 1416 H, pengantar, halaman Z.&amp;lt;/ref&amp;gt; doa,&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, Tehran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 H, jilid 95, halaman 214.&amp;lt;/ref&amp;gt; surat,&amp;lt;ref&amp;gt;Ahmadi Miyanji, Ali, Makatib al-A&#039;immah, Ayatullah Ahmadi Miyanji, Qum, Dar al-Hadits, 1426 H, jilid 3, halaman 83–156.&amp;lt;/ref&amp;gt; syair,&amp;lt;ref&amp;gt;Karbasi, Muhammad Shadiq, Da&#039;irat al-Ma&#039;arif al-Husainiyah, Diwan al-Imam al-Husain, London, Al-Markaz al-Husaini li al-Dirasat, 2001 M, jilid 1 dan 2.&amp;lt;/ref&amp;gt; khutbah,&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Syu&#039;bah Harrani, Hasan bin Ali, Tuhaf al-&#039;Uqul, Qum, Jamaah Mudarrisin, 1404 H, halaman 237–240; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 97–98.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan wasiat Imam Husain as.&amp;lt;ref&amp;gt;Khuwarizmi, Muaffaq bin Ahmad, Maqtal al-Husain as, Qum, Anwar al-Huda, cetakan kedua, 1423 H, jilid 1, halaman 273.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam buku Musnad al-Imam al-Syahid karya Azizullah Atharadi dan Mausu&#039;ah Kalimat al-Imam al-Husain, semua riwayat dari Imam as telah dikumpulkan.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Karya-Karya tentang Kehidupan Imam== &lt;br /&gt;
Tentang kepribadian dan kehidupan Husain bin Ali as, banyak karya telah ditulis dalam bentuk ensiklopedia, biografi, maqtal (kisah kesyahidan), dan sejarah analitis. Lebih dari empat puluh buku dan artikel telah membahas topik &amp;quot;bibliografi Imam Husain&amp;quot;.&amp;lt;ref&amp;gt;[http://www.ensani.ir/fa/content/187015/default.aspx Esfandiyari, «Bibliografi Bibliografi Imam Husain as», halaman 41.]&amp;lt;/ref&amp;gt; Sebagai contoh, dalam «Bibliografi Khusus Imam Husain», disebutkan 1.428 karya dengan detail penerbitan.&amp;lt;ref&amp;gt;Safar Ali Pour, Heshmatullah, Kitab Syenasi Ikhtisasi Imam Husain, Qum, Yaqut, 1381 H, halaman 255.&amp;lt;/ref&amp;gt; Agha Buzurg Tehrani juga dalam bukunya Al-Dzari&#039;ah ila Tashanif al-Syiah memperkenalkan 985 buku tentang topik ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Esfandiyari, Muhammad, Kitab Syenasi Tarikhi Imam Husain as, Tehran, Organisasi Penerbitan dan Percetakan, 1380 H, halaman 491.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan Kaki ==&lt;br /&gt;
{{footnotes|3}}&lt;br /&gt;
{{tree&lt;br /&gt;
 | main branch = تاریخ&lt;br /&gt;
 | subbranch1 = تاریخ و سیره معصومان&lt;br /&gt;
 | subbranch2 = امام حسین(ع)&lt;br /&gt;
 | subbranch3 =&lt;br /&gt;
 | شاخه فرعی۴ =&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{تکمیل مقاله&lt;br /&gt;
 | شناسه =شد&lt;br /&gt;
 | تیترها =شد&lt;br /&gt;
 | ویرایش =شد&lt;br /&gt;
 | لینک‌دهی =شد&lt;br /&gt;
 | ناوبری =&lt;br /&gt;
 | نمایه =&lt;br /&gt;
 | تغییر مسیر =شد&lt;br /&gt;
 | ارجاعات =&lt;br /&gt;
 | بازبینی نویسنده =&lt;br /&gt;
 | ارزیابی کمی =&lt;br /&gt;
 | تکمیل =&lt;br /&gt;
 | اولویت =ج&lt;br /&gt;
 | کیفیت =ب&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
{{text end}}&lt;br /&gt;
[[bn:ইমাম হুসাইন আলাইহিস সালাম]]&lt;br /&gt;
[[fa:امام حسین علیه‌السلام]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Imam_Husain_as&amp;diff=922</id>
		<title>Imam Husain as</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Imam_Husain_as&amp;diff=922"/>
		<updated>2025-02-19T22:16:02Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Makam Imam Husain as */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Imam Husain as&#039;&#039;&#039; ([[4 H-61 H]]) adalah [[Imam]] ketiga [[Syiah]] setelah [[Imam Ali as]] dan [[Imam Hasan as]]. Beliau adalah cucu [[Nabi Muhammad saw]] dan anak dari [[Imam Ali as]] serta [[Sayidah Fatimah sa]], serta adik dari [[Imam Hasan as]]. Masa imamah Imam Husain as diketahui selama sebelas tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut sumber-sumber terpercaya dari [[Syiah]] dan [[Sunni]], Imam Husain as termasuk dalam [[Ashabul Kisa]] dan dianggap sebagai manifestasi dari [[Ayat Tathir]] serta kata &amp;quot;abna&#039;ana&amp;quot; dalam [[Ayat Mubahalah]]. Imam Husain as sangat dicintai oleh Nabi Muhammad saw, yang menyebutnya sebagai lentera petunjuk, kapal keselamatan, dan [[penghulu pemuda surga]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat sedikit laporan tentang kehidupan Imam Husain as sebelum masa imamahnya, seperti kehadirannya dalam tiga peperangan bersama ayahnya, dukungannya terhadap [[perdamaian Imam Hasan as]] dengan [[Muawiyah bin Abu Sufyan]], dan kesetiaannya kepada saudaranya. Setelah syahidnya Imam Hasan as, Imam Husain as tidak melakukan tindakan apa pun terhadap Muawiyah dan tetap setia pada perjanjian yang dibuat oleh saudaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepuluh tahun dari masa imamah Imam Husain as bertepatan dengan pemerintahan Muawiyah. Imam Husain as menentang beberapa tindakan Muawiyah, seperti pembunuhan terhadap beberapa [[sahabat Nabi saw]] dan pengangkatan [[Yazid bin Muawiyah]] sebagai putra mahkota. Imam Husain as menyatakan bahwa Yazid tidak layak dan dirinyalah yang lebih berhak atas [[kekhalifahan]]. Dalam sebuah khutbah, Imam Husain as menyampaikan posisi politiknya terhadap Bani Umayyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kematian Muawiyah, Imam Husain as menolak untuk berbaiat kepada Yazid, yang dianggapnya tidak sah. Pada 28 Rajab tahun 60 H, setelah diperintahkan untuk dibunuh jika menolak berbaiat, Imam Husain as meninggalkan Madinah menuju Mekah. Beliau menerima banyak surat dari penduduk Kufah yang memintanya untuk memimpin mereka. Setelah utusannya, Muslim bin Aqil, mengonfirmasi dukungan penduduk Kufah, Imam Husain as berangkat menuju Kufah pada 8 Dzulhijjah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ubaidullah bin Ziyad, gubernur Kufah, mengirim pasukan di bawah komando Hurr bin Yazid untuk menghadang dan memblokir jalan Imam Husain as. Setelah jalannya terhalang, Imam Husain as terpaksa menuju Karbala. Akhirnya, setelah pertempuran dengan pasukan Kufah pada hari Asyura, Imam Husain as dan para sahabatnya gugur sebagai syahid, dan keluarganya ditawan. Jenazah Imam Husain as dan para sahabatnya dimakamkan pada tanggal 11 atau 13 Muharram oleh sekelompok orang dari Bani Asad di Karbala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kedudukan Imam==&lt;br /&gt;
[[Fail:نام امام حسین(ع) در ایاصوفیه.jpg|250px|thumb|Nama Imam Husain as di Masjid Hagia Sophia, Turki]]&lt;br /&gt;
Husain bin Ali as adalah Imam ketiga [[Syiah]], setelah Imam Ali as dan Imam Hasan as. Imam Husain as memiliki kedudukan yang sangat istimewa di kalangan umat Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau dianggap sebagai orang yang paling mulia dan pemimpin Bani Hasyim;&amp;lt;ref&amp;gt;Yaqubi, Ahmad bin Abi Yaqub, Tarikh al-Yaqubi, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 226; Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 363.&amp;lt;/ref&amp;gt; sehingga pendapatnya diutamakan di antara Bani Hasyim lainnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 414–416.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam sebuah riwayat dari [[Nabi Muhammad saw]] yang diriwayatkan oleh beberapa sumber [[Syiah]] dan [[Sunni]], Husain disebut sebagai salah satu dari Asbat (keturunan Nabi).&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, &#039;&#039;Ansab al-Asyraf&#039;&#039;, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 142; Syekh Mufid, &#039;&#039;Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad&#039;&#039;, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 127; Maqrizi, Taqiyuddin, &#039;&#039;Imta&#039; al-Asma&#039; bima li al-Nabi min al-Ahwal wa al-Amwal wa al-Hafadah wa al-Mata&#039; &#039;&#039;, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1420 H, jilid 6, hlm. 19.&amp;lt;/ref&amp;gt; Asbat dalam ayat dan riwayat merujuk pada Imam atau pemimpin yang dipilih oleh Allah dan berasal dari keturunan para nabi.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammadi Rei Syahri, Muhammad dan kawan-kawan, Ensiklopedia Imam Husain as, terjemahan oleh Muhammad Muradi, Qum, Dar al-Hadits, 1430 H, jilid 1, hlm. 474–477.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as bagi umat Islam, khususnya Syiah, setelah [[Peristiwa Karbala]] pada tahun [[61 H]] dianggap sebagai sosok yang memperjuangkan kebenaran, pemberani, dan rela berkorban.&amp;lt;ref&amp;gt;Haj Manouchehri, Faramarz, &amp;quot;Husain as, Imam&amp;quot;, dalam Ensiklopedia Besar Islam, jilid 20, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, 1391 HS, hlm. 681.&amp;lt;/ref&amp;gt; Kedudukannya yang tinggi di kalangan umat Islam terutama berasal dari perjuangannya di jalan Allah dan pengorbanan jiwa, harta, dan keluarganya.&amp;lt;ref&amp;gt;[https://hawzah.net/fa/Article/View/82145 Ayyub, &amp;quot;Keutamaan Imam Husain as dalam Hadis-hadis Ahlusunah&amp;quot;].&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peristiwa Karbala sebagai bentuk pertama pelecehan dan serangan terbuka terhadap keluarga Nabi saw memiliki pengaruh besar pada budaya Syiah.&amp;lt;ref&amp;gt;Haj Manouchehri, Faramarz, &amp;quot;Husain as, Imam&amp;quot;, dalam Ensiklopedia Besar Islam, jilid 20, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, 1391 HS, hlm. 686.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sehingga, perjuangannya menjadi simbol amar ma&#039;ruf nahi munkar, melawan kezaliman, pengorbanan, dan kesediaan berkorban.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhadditsi, Jawad, Budaya Asyura, Qum, Penerbit Ma&#039;ruf, cetakan ketujuh belas, 1393 HS, hlm. 372.&amp;lt;/ref&amp;gt; Hal ini juga menjadi landasan bagi pemberontakan Syiah melawan penguasa yang zalim.&amp;lt;ref&amp;gt;Haj Manouchehri, Faramarz, &amp;quot;Husain as, Imam&amp;quot;, dalam Ensiklopedia Besar Islam, jilid 20, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, 1391 HS, hlm. 687.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam ranah budaya umum, umat Islam bahkan pengikut agama lain menganggap Husain bin Ali as sebagai simbol dan teladan pengorbanan, ketidakmampuan menerima kezaliman, cinta kebebasan, menjaga nilai-nilai, dan memperjuangkan kebenaran.&amp;lt;ref&amp;gt;[http://www.iwpeace.com/news/36736 &amp;quot;Budaya Asyura Melampaui Batas Muslim&amp;quot;, situs web Majelis Perdamaian Islam Dunia].&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan-bulan [[Muharram]] dan [[Safar]] memiliki tempat khusus dalam budaya Syiah, terutama pada hari-hari [[Tasua]] dan [[Asyura]] serta [[Arbain Husaini]], di mana berbagai ritual diadakan untuk memperingati peristiwa ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Haj Manouchehri, Faramarz, &amp;quot;Husain as, Imam&amp;quot;, dalam Ensiklopedia Besar Islam, jilid 20, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, 1391 HS, hlm. 689.&amp;lt;/ref&amp;gt; Syiah, mengikuti [[para Imam as]], ketika minum air, mengingat kehausan Imam Husain dan mengucapkan salam untuknya.&amp;lt;ref&amp;gt;Haj Manouchehri, Faramarz, &amp;quot;Husain as, Imam&amp;quot;, dalam Ensiklopedia Besar Islam, jilid 20, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, 1391 HS, hlm. 681; Muhadditsi, Jawad, Budaya Asyura, Qum, Penerbit Ma&#039;ruf, cetakan ketujuh belas, 1393 HS, hlm. 508.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Cucu Nabi Muhammad saw==&lt;br /&gt;
[[Fail:نام امام حسین(ع) بر دیوار مسجد النبی.JPG|250px|thumb|Nama Imam Husain as di dinding Masjid Nabawi]]&lt;br /&gt;
Imam Husain as lahir pada tanggal 3&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Masyhadi, Muhammad bin Ja&#039;far, Al-Mazar [Al-Kabir], penelitian oleh Jawad al-Qayyumi al-Isfahani, Qum, Muassasah al-Nashr al-Islami, 1419 H, hlm. 397; Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Mishbah al-Mutahajjid, Beirut, Muassasah Fiqh al-Syiah, 1411 H, hlm. 826, 828; Sayid bin Thawus, Ali bin Musa, Iqbal al-A&#039;mal, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1367 HS, hlm. 689–690.&amp;lt;/ref&amp;gt; atau 5 Sya&#039;ban&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27.&amp;lt;/ref&amp;gt; tahun ke-4 Hijriah di [[Madinah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Yaqubi, Ahmad bin Abi Yaqub, Tarikh al-Yaqubi, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 246; Dulabi, Muhammad bin Ahmad, Al-Dzurriyah al-Thahirah, cetakan oleh Muhammad Jawad Husaini Jalali, Qum, 1407 H, hlm. 102, 121; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1962 M, jilid 2, hlm. 555; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau berasal dari keluarga [[Bani Hasyim]] dan [[Quraisy]], cucu [[Nabi Muhammad saw]], anak dari [[Imam Ali as]] dan [[Sayidah Fatimah sa]], serta adik dari [[Imam Hasan as]].&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27.&amp;lt;/ref&amp;gt; [[Abbas as]], [[Muhammad bin Hanafiyah]] adalah saudara-saudaranya, dan [[Sayidah Zainab sa]] serta [[Ummu Kultsum]] adalah saudari-saudarinya.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber-sumber dari kedua mazhab menyebutkan bahwa Nabi saw memilih nama &amp;quot;Husain&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27; Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Beirut, Dar Shadir, tanpa tahun, jilid 1, hlm. 98, 118.&amp;lt;/ref&amp;gt; atas perintah [[Allah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 3, hlm. 397; Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 244.&amp;lt;/ref&amp;gt; Nama Husain setara dengan Syabir&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Manzur, Muhammad bin Mukarram, Lisan al-Arab, Beirut, Dar Sadir, 1414 H, jilid 4, hlm. 393; Zabidi Wasti, Murtadha Husaini, Taj al-Arus min Jawahir al-Qamus, Beirut, Dar al-Fikr, 1414 H, jilid 7, hlm. 4.&amp;lt;/ref&amp;gt;, yang merupakan nama salah satu putra [[Harun]].&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 13, hlm. 171.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ummu Fadhl&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 129; Maqrizi, Taqiyuddin, Imta&#039; al-Asma&#039; bima li al-Nabi min al-Ahwal wa al-Amwal wa al-Hafadah wa al-Mata&#039;, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1420 H, jilid 12, hlm. 237; Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun, jilid 6, hlm. 230.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan ibu dari Abdullah bin Yaqthar&amp;lt;ref&amp;gt;Samawi, Muhammad bin Thahir, Ibsar al-&#039;Ain fi Ansar al-Husain as, Qum, Universitas Syahid Muhallati, cetakan pertama, 1419 H, hlm. 93.&amp;lt;/ref&amp;gt; disebut sebagai pengasuh Imam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kunyah]] Husain bin Ali as adalah [[Abu Abdillah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27; Ibnu Abi Syaibah, Al-Musannaf fi al-Ahadits wa al-Atsar, cetakan oleh Sa&#039;id Muhammad Lahham, Beirut, 1409 H, jilid 8, hlm. 65; Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Ma&#039;arif, penelitian oleh Tsarwat &#039;Akasyah, Kairo, Hai&#039;ah al-Mishriyah al-&#039;Ammah lil Kitab, 1960 M, jilid 1, hlm. 213.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau dikenal dengan gelar-gelar seperti Sayid Syabab Ahl al-Jannah (penghulu pemuda surga), Zakiy, Thayyib, Wafiy, Sayid, dan Al-Tabi&#039; li Mardhatillah.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Abi al-Tsalj, Tarikh al-A&#039;immah, dalam Majmu&#039;ah Nafisah fi Tarikh al-A&#039;immah, cetakan oleh Mahmud Mar&#039;asyi, Qum, Perpustakaan Ayatullah Mar&#039;asyi Najafi, 1406 H, hlm. 28; Ibnu Thalhah al-Syafi&#039;i, Mathalib al-Su&#039;ul fi Manaqib Al al-Rasul, cetakan oleh Majid bin Ahmad &#039;Athiyah, tanpa tempat, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 374; untuk daftar gelar Imam Husain as, lihat: Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, cetakan oleh Yusuf Baqa&#039;i, 1385 HS, jilid 4, hlm. 86.&amp;lt;/ref&amp;gt; [[Tsaarullah]], [[Qatil al-&#039;Abarat]],&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Quluwaih, Ja&#039;far bin Muhammad, Kamil al-Ziyarat, Najaf, Dar al-Murtadhawiyah, 1356 H, hlm. 176.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan [[Sayid al-Syuhada]]&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat: Himyari, Abdullah bin Ja&#039;far, Qurb al-Isnad, Qum, Muassasah Al al-Bait as, cetakan pertama, 1413 H, hlm. 99–100; Ibnu Quluwaih, Ja&#039;far bin Muhammad, Kamil al-Ziyarat, cetakan oleh Jawad Qayyumi Isfahani, Qum, 1417 H, hlm. 216–219; Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Amali, Qum, Dar al-Thaqafah, 1414 H, hlm. 49–50.&amp;lt;/ref&amp;gt; adalah gelar-gelar lain yang disebutkan dalam [[ziarah]]-ziarah untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Keutamaan dan Sifat Lahiriah serta Perilaku==&lt;br /&gt;
[[Fail:مقام رأس الحسین در اسرائیل.jpg|250px|thumb|Makam Ra&#039;s al-Husain di kota Ashkelon di wilayah pendudukan Palestina. Tempat ini dijaga dan diziarahi oleh sebagian Syiah (Bohra Ismailiyah).&amp;lt;ref&amp;gt;«[https://nournews.ir/Fa/News/74717/مقام-%C2«Ø±Ø£Ø³-Ø§ÙØ­Ø³ÛÙ%C2»-Ø¯Ø±-Ø³Ø±Ø²ÙÛÙâÙØ§Û-Ø§Ø´ØºØ§ÙÛ Makam «Ra&#039;s al-Husain» di Wilayah Pendudukan]», situs Nour News, tanggal kunjungan: 10 Mordad 1402 HS.&amp;lt;/ref&amp;gt;]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sumber-sumber Syiah dan Sunni, Husain bin Ali as adalah salah satu dari [[Ashabul Kisa]]&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat: Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, &#039;&#039;Al-Kafi&#039;&#039;, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 HS, jilid 1, hlm. 287; Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, 1423 H, jilid 15, hlm. 190.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan salah satu dari [[Ahlul Bait]] yang [[Ayat Tathir]] turun tentang mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 1, hlm. 331; Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Tafsir al-Qur&#039;an al-&#039;Azhim, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1419 H, jilid 3, hlm. 799; Syaukani, Muhammad bin Ali, Fath al-Qadir, Beirut, Alam al-Kutub, tanpa tahun, jilid 4, hlm. 279.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau bersama saudaranya, Imam Hasan as, dianggap sebagai manifestasi dari kata &amp;quot;abna&#039;ana&amp;quot; (anak-anak kami) dalam [[Ayat Mubahalah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Zamakhsyari, Mahmud, Al-Kasyaf &#039;an Haqaiq Ghawamid al-Tanzil, Qum, Nasyr al-Balaghah, cetakan kedua, 1415 H, terkait ayat 61 Surah Ali Imran; Fakhr Razi, Muhammad bin Umar, Al-Tafsir al-Kabir, Beirut, Dar al-Fikr, 1405 H, terkait ayat 61 Surah Ali Imran.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber-sumber terpercaya [[Ahlusunah]] meriwayatkan banyak hadis tentang kedudukan dan keutamaan Husain bin Ali as.&amp;lt;ref&amp;gt;Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, 1423 H, jilid 15, hlm. 190; Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 376–410; Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 7; Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Tafsir al-Qur&#039;an al-&#039;Azhim, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1419 H, jilid 3, hlm. 799.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sebagaimana diriwayatkan dari Nabi saw bahwa Husain as adalah lentera petunjuk dan kapal keselamatan&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali bin Babawaih, Kamal al-Din wa Tamam al-Ni&#039;mah, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1395 HS, jilid 1, hlm. 265.&amp;lt;/ref&amp;gt; serta [[penghulu pemuda surga]].&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 7; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27.&amp;lt;/ref&amp;gt; Juga dalam sebuah riwayat, Nabi saw bersabda, [[Aku dari Husain|Husain dariku dan aku dari Husain]].&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 142; Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 385.&amp;lt;/ref&amp;gt; Barangsiapa mencintai keduanya (Hasan dan Husain), maka ia mencintaiku, dan barangsiapa memusuhi mereka, maka ia memusuhiku.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 266; Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 13, hlm. 198–199; Arbili, Ali bin Isa, Kasyf al-Ghummah fi Ma&#039;rifah al-A&#039;immah, Qum, Radhi, cetakan pertama, 1421 H, jilid 1, hlm. 602.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dikatakan bahwa [[Rasulullah saw]] di antara [[Ahlul Bait]]-nya, lebih mencintai [[Hasanain|Hasan dan Husain as]] daripada yang lain&amp;lt;ref&amp;gt;Tirmidzi, Muhammad bin Isa, Sunan Tirmidzi, penelitian oleh Abdurrahman Muhammad Utsman, Beirut, Dar al-Fikr, 1403 H, jilid 5, hlm. 323.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan kecintaan ini sedemikian rupa sehingga terkadang ketika keduanya masuk ke [[masjid]], beliau menghentikan khutbahnya, turun dari mimbar, dan memeluk mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 5, hlm. 354; Tirmidzi, Muhammad bin Isa, Sunan Tirmidzi, penelitian oleh Abdurrahman Muhammad Utsman, Beirut, Dar al-Fikr, 1403 H, jilid 5, hlm. 322; Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban, penelitian oleh Syu&#039;aib Arnauth, tanpa tempat, Al-Risalah, 1993 M, jilid 13, hlm. 402; Hakim Naisaburi, Al-Mustadrak &#039;ala al-Shahihain, penelitian oleh Yusuf Abdurrahman al-Mar&#039;asyi, Beirut, 1406 H, jilid 1, hlm. 287.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam riwayat disebutkan bahwa Allah menjadikan kesembuhan dalam [[tanah]] Husain as dan [[pengabulan doa]] di samping makamnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 4, hlm. 82; Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar al-Jami&#039;ah li Durar Akhbar al-A&#039;immah al-Athhar, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 HS, jilid 98, hlm. 69.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam kitab [[Al-Khashaish al-Husainiyah]], lebih dari tiga ratus keistimewaan khusus Imam Husain disebutkan.&amp;lt;ref&amp;gt;Syusytari, Syekh Ja&#039;far, Al-Khashaish al-Husainiyah, Syarif Radhi, cetakan pertama, tanpa tahun, hlm. 20.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kebanyakan sumber hadis, sejarah, dan rijal, disebutkan tentang kemiripan Husain as dengan [[Nabi Muhammad saw]]&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 142, 453; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27; Thabrani, Sulaiman bin Ahmad, Al-Mu&#039;jam al-Kabir, Kairo, Dar al-Nasyr, Maktabah Ibnu Taimiyah, cetakan kedua, tanpa tahun, jilid 3, hlm. 95.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan dalam sebuah riwayat, beliau disebut sebagai orang yang paling mirip dengan Nabi saw.&amp;lt;ref&amp;gt;Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 3, hlm. 261; Tirmidzi, Muhammad bin Isa, Sunan Tirmidzi, penelitian oleh Abdurrahman Muhammad Utsman, Beirut, Dar al-Fikr, 1403 H, jilid 5, hlm. 325.&amp;lt;/ref&amp;gt; Tentang beliau, dikatakan bahwa terkadang beliau mengenakan pakaian dari bulu atau memakai sorban dari bulu&amp;lt;ref&amp;gt;Thabrani, Sulaiman bin Ahmad, Al-Mu&#039;jam al-Kabir, Kairo, Dar al-Nasyr, Maktabah Ibnu Taimiyah, cetakan kedua, tanpa tahun, jilid 3, hlm. 101.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan mewarnai rambut serta janggutnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 6, hlm. 419–422; Ibnu Abi Syaibah, Al-Musannaf fi al-Ahadits wa al-Atsar, cetakan oleh Sa&#039;id Muhammad Lahham, Beirut, 1409 H, jilid 6, hlm. 3, 15.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as sangat dermawan dan dikenal dengan kedermawanannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammadi Rey Shahri, Muhammad dan kawan-kawan, Ensiklopedia Imam Husain as, terjemahan oleh Muhammad Muradi, Qum, Dar al-Hadits, 1430 H, jilid 2, hlm. 114–118.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau duduk bersama orang-orang miskin, menerima undangan mereka, makan bersama mereka, mengundang mereka ke rumahnya, dan tidak menahan apa yang ada di rumahnya dari mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 411; Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 14, hlm. 181.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau membebaskan budak-budak dan [[hamba sahaya]]nya sebagai balasan atas perilaku baik mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 70, hlm. 196–197; Ibnu Hazm, Al-Muhalla, penelitian oleh Muhammad Syakir, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun, jilid 8, hlm. 515; Arbili, Ali bin Isa, &#039;&#039;Kasyf al-Ghummah fi Ma&#039;rifah al-A&#039;immah as&#039;&#039;, cetakan oleh Ali Fadhili, Qum, 1426 H, jilid 2, hlm. 476.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam sumber-sumber disebutkan bahwa beliau menunaikan [[haji]] dengan berjalan kaki sebanyak 25 kali.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 401; Ibnu Abd al-Barr, Al-Isti&#039;ab fi Ma&#039;rifah al-Ashab, penelitian oleh Ali Muhammad al-Bajawi, Beirut, Dar al-Jil, cetakan pertama, 1412 H, jilid 1, hlm. 397.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Istri dan Anak-anak==&lt;br /&gt;
[[Fail:Mosibat Karbala.jpg|250px|thumb|Lukisan &amp;quot;Musibah Karbala&amp;quot; dalam gaya lukisan kafe oleh Husain Qollar Aghasi]]&lt;br /&gt;
{{main|Daftar Istri dan Anak-anak Imam Husain as}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Syahrbanu]] adalah nama salah satu istri Imam, yang dikatakan sebagai putri Yazdegerd, raja Sasani, dan ibu dari [[Imam Sajjad as]]. Para peneliti kontemporer meragukan nasab Syahrbanu.&amp;lt;ref&amp;gt;Sebagai contoh, lihat: Muthahhari, Murtadha, &#039;&#039;Khidmat-e Mutaqabil-e Islam va Iran&#039;&#039;, Teheran, Penerbit Sadra, 1380 HS, hlm. 131–133; Syariati Ali, Tasyayyu&#039;-e Alawi va Tasyayyu&#039;-e Safawi, Teheran, Chapkhash, 1377 HS, hlm. 91; Syahidi, Sayid Ja&#039;far, Zindagani Ali bin al-Husain, Teheran, Daftar Nasyr Farhang, 1365 HS, hlm. 12.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu istri Imam lainnya adalah [[Rabab]], putri Amru al-Qais bin Adi. Dia adalah ibu dari [[Sukainah binti Husain|Sukainah]] dan [[Abdullah bin al-Husain|Abdullah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Isfahani, Abul Faraj, &#039;&#039;Maqatil al-Thalibiyyin&#039;&#039;, penelitian oleh Ahmad Saqr, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, tanpa tahun, hlm. 59; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 135.&amp;lt;/ref&amp;gt; Rabab hadir di [[Karbala]] dan bersama para tawanan pergi ke [[Syam]].&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1408 H, jilid 8, hlm. 229.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sebagian besar sumber menyebutkan bahwa Abdullah (Ali Asghar) masih bayi saat syahid.&amp;lt;ref&amp;gt;Mus&#039;ab bin Abdullah, Kitab Nasab Quraisy, cetakan oleh Levi Provencal, Kairo, 1953 M, jilid 1, hlm. 59; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 468; Bukhari, Sahl bin Abdullah, Sirr al-Silsilah al-Alawiyah, cetakan oleh Muhammad Sadiq Bahar al-Ulum, Najaf, 1381 H, jilid 1, hlm. 30.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Laila binti Abi Murrah|Layla]], putri Abi Murrah bin Urwah bin Mas&#039;ud al-Tsaqafi,&amp;lt;ref&amp;gt;Mus&#039;ab bin Abdullah, &#039;&#039;Kitab Nasab Quraisy&#039;&#039;, cetakan oleh Levi Provencal, Kairo, 1953 M, hlm. 57; Yaqubi, Ahmad bin Abi Yaqub, Tarikh al-Yaqubi, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 246–247; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 446.&amp;lt;/ref&amp;gt; adalah nama salah satu istri Imam lainnya. Dia adalah ibu dari [[Ali Akbar as]]&amp;lt;ref&amp;gt;Maqrizi, Taqiyuddin, Imta&#039; al-Asma&#039; bima li al-Nabi min al-Ahwal wa al-Amwal wa al-Hafadah wa al-Mata&#039;, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1420 H, jilid 6, hlm. 269.&amp;lt;/ref&amp;gt; yang syahid dalam [[Peristiwa Karbala]].&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 446; Isfahani, Abul Faraj, Maqatil al-Thalibiyyin, penelitian oleh Ahmad Saqr, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, tanpa tahun, hlm. 80.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Umm Ishaq binti Thalhah bin Ubaidullah|Umm Ishaq]], putri Thalhah bin Ubaidullah, juga dianggap sebagai salah satu istri Imam Husain as. Dia adalah ibu dari [[Fatimah binti Husain|Fatimah]], putri sulung Imam Husain as.&amp;lt;ref&amp;gt;Isfahani, Abul Faraj, Kitab al-Aghani, Kairo, 1383 H, jilid 21, hlm. 78.&amp;lt;/ref&amp;gt; Umm Ishaq sebelumnya adalah istri [[Imam Hasan Mujtaba as]] dan setelah syahidnya Imam Hasan, dia menikah dengan Imam Husain as.&amp;lt;ref&amp;gt;Isfahani, Abul Faraj, Kitab al-Aghani, Kairo, 1383 H, jilid 21, hlm. 78.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Thalhah al-Syafi&#039;i dalam kitab [[Mathalib al-Su&#039;ul fi Manaqib Al al-Rasul]] menyebutkan bahwa Imam memiliki sepuluh anak.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Thalhah al-Syafi&#039;i, Mathalib al-Su&#039;ul fi Manaqib Al al-Rasul, cetakan oleh Majid bin Ahmad Athiyah, tanpa tempat, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 69.&amp;lt;/ref&amp;gt; Namun, beberapa sumber menyebutkan bahwa Imam memiliki empat putra dan dua putri&amp;lt;ref&amp;gt;Mus&#039;ab bin Abdullah, Kitab Nasab Quraisy, cetakan oleh Levi Provencal, Kairo, 1953 M, jilid 1, hlm. 57–59; Bukhari, Sahl bin Abdullah, Sirr al-Silsilah al-Alawiyah, cetakan oleh Muhammad Sadiq Bahar al-Ulum, Najaf, 1381 H, jilid 1, hlm. 30; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 135.&amp;lt;/ref&amp;gt; atau enam putra dan tiga putri.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Dalail al-Imamah, Beirut, Muassasah al-A&#039;lami lil Mathbu&#039;at, 1408 H, jilid 1, hlm. 74; Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 4, hlm. 77; Ibnu Thalhah al-Syafi&#039;i, Mathalib al-Su&#039;ul fi Manaqib Al al-Rasul, cetakan oleh Majid bin Ahmad Athiyah, tanpa tempat, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 69.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam kitab [[Lubab al-Ansab]]&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Funduq al-Baihaqi, Ali bin Zaid, Lubab al-Ansab wa al-Alqab wa al-A&#039;qab, penelitian oleh Mahdi Rajai, Qum, Maktabah Ayatullah al-Mar&#039;asyi, 1385 HS, hlm. 355.&amp;lt;/ref&amp;gt; dari sumber abad keenam, disebutkan tentang seorang putri bernama [[Ruqayyah binti Husain|Ruqayyah]], dan dalam kitab [[Kamil al-Bahai]] dari sumber abad ketujuh, disebutkan tentang seorang putri berusia empat tahun yang meninggal di [[Syam]].&amp;lt;ref&amp;gt;Kasyifi Sabzawari, Mulla Husain, Rawdhah al-Syuhada, Qum, Nawaid Islam, 1382 HS, hlm. 484.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Masa Tiga Khalifah==&lt;br /&gt;
Sedikit informasi sejarah yang dilaporkan tentang periode 25 tahun kehidupan Imam Husain as selama masa tiga khalifah.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammadi Rey Shahri, Muhammad dan kawan-kawan, Ensiklopedia Imam Husain as, terjemahan oleh Muhammad Muradi, Qum, Dar al-Hadits, 1430 H, jilid 2, hlm. 325.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dikatakan bahwa beliau menikmati penghormatan khusus dari khalifah kedua.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 14, hlm. 175; Sibth bin al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawash, Qum, Mansyurat al-Syarif al-Radhi, cetakan pertama, 1418 H, hlm. 211–212.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada laporan tentang Imam Husain as selama masa pemerintahan Utsman, di mana Imam bersama ayah dan saudaranya mengantar Abu Dzar, yang diasingkan oleh khalifah ketiga ke Rabdzah, meskipun bertentangan dengan perintah khalifah.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1365 HS, jilid 8, hlm. 206–207; Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, 1385–1387 H, jilid 8, hlm. 253–254.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa sumber [[Ahlusunah]] menyebutkan kehadiran beliau bersama saudaranya dalam beberapa penaklukan seperti Afrika pada tahun 26 H&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Khaldun, Al-&#039;Ibar, 1401 H, jilid 2, hlm. 573–574.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan [[Tabaristan]] pada tahun 30 H.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 4, hlm. 269.&amp;lt;/ref&amp;gt; Namun, laporan semacam ini tidak ditemukan dalam sumber Syiah. Beberapa peneliti Syiah seperti [[Ja&#039;far Murtadha Amili]] menganggap laporan-laporan ini sebagai palsu.&amp;lt;ref&amp;gt;Ja&#039;far Murtadha, Al-Hayah al-Siyasiyah lil Imam al-Hasan, Dar al-Sirah, hlm. 158.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Kehadiran Imam Hasan as dan Imam Husain as dalam Penaklukan Iran}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu laporan lain yang menyebutkan Imam Husain as adalah pemberontakan terhadap Utsman dan pembunuhan khalifah. Imam bersama saudaranya, Imam Hasan as, meskipun tidak senang dengan kinerja khalifah, melindungi rumah Utsman.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 59; Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 5, hlm. 558.&amp;lt;/ref&amp;gt; Laporan ini memiliki pendukung dan penentang di antara para peneliti Syiah.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammadi Rei Shahri, Muhammad dan kawan-kawan, Ensiklopedia Imam Husain as, terjemahan oleh Muhammad Muradi, Qum, Dar al-Hadits, 1430 H, jilid 2, hlm. 331–332.&amp;lt;/ref&amp;gt; [[Sayid Murtadha]] setelah meragukan pengiriman Hasanain as oleh Amirul Mukminin as, menyatakan bahwa alasannya adalah untuk mencegah pembunuhan sengaja terhadap Utsman dan memberikan air serta makanan kepada keluarganya, bukan untuk mencegah pencopotan Utsman dari kekhalifahan, karena Utsman layak dicopot karena tindakan-tindakannya yang tidak pantas.&amp;lt;ref&amp;gt;Sayid Murtadha, Ali bin Husain, &#039;&#039;Al-Syafi fi al-Imamah&#039;&#039;, Qum, Muassasah Ismailiyan, cetakan kedua, 1410 H, jilid 4, hlm. 242.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Pertahanan Imam Hasan as dan Imam Husain as atas Rumah Utsman}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Masa Pemerintahan Imam Ali as==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat sedikit laporan tentang Imam Husain as selama masa pemerintahan Imam Ali as. Salah satunya adalah bahwa beliau membacakan khutbah setelah [[baiat]] masyarakat kepada [[Amirul Mukminin as]].&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, &#039;&#039;Bihar al-Anwar al-Jami&#039;ah li Durar Akhbar al-A&#039;immah al-Athhar&#039;&#039;, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 HS, jilid 10, hlm. 121.&amp;lt;/ref&amp;gt; Kehadiran Imam Husain as dalam Perang Jamal dan kepemimpinannya atas sayap kiri pasukan Imam Ali as tercatat dalam berbagai sumber.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Muhammad bin Nu&#039;man, Al-Jamal wa al-Nusrah li Sayid al-Itrah fi Harb al-Basrah, Qum, Kongres Syekh Mufid, 1413 H, hlm. 348; Dzahabi, Syamsuddin, Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A&#039;lam, Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, cetakan kedua, 1409 H, jilid 3, hlm. 485.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau juga hadir dalam [[Perang Shiffin|Perang Shiffin]] dan menjadi salah satu komandan sayap kanan pasukan.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu A&#039;tsam, Ahmad, Al-Futuh, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, 1411 H, jilid 3, hlm. 24; Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, &#039;&#039;Manaqib Al Abi Thalib&#039;&#039;, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 3, hlm. 168.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam Husain as membacakan khutbah untuk mendorong masyarakat berjihad&amp;lt;ref&amp;gt;Manqari, Nashr bin Muzahim, Waq&#039;ah Shiffin, penelitian oleh Abdussalam Muhammad Harun, Kairo, 1382 H, hlm. 114–115.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan terlibat dalam upaya merebut kembali air dari pasukan Syam.&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar al-Jami&#039;ah li Durar Akhbar al-A&#039;immah al-Athhar, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 HS, jilid 44, hlm. 266.&amp;lt;/ref&amp;gt; Meskipun demikian, disebutkan bahwa berdasarkan laporan-laporan terkait Perang Shiffin, Imam Ali as mencegah Hasanain as untuk ikut berperang, dengan alasan menjaga keturunan Nabi saw.&amp;lt;ref&amp;gt;Arbili, Ali bin Isa, Kasyf al-Ghummah fi Ma&#039;rifah al-A&#039;immah, Qum, Radhi, cetakan pertama, 1421 H, jilid 1, hlm. 569; Sayid Radhi, Muhammad bin Husain, Nahj al-Balaghah, penelitian oleh Shubhi Shalih, Qum, Hijrah, 1414 H, khutbah 207, hlm. 323.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ada juga laporan tentang kehadirannya dalam [[Perang Nahrawan]].&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Abd al-Barr, Al-Isti&#039;ab fi Ma&#039;rifah al-Ashab, penelitian oleh Ali Muhammad al-Bajawi, Beirut, Dar al-Jail, cetakan pertama, 1412 H, jilid 3, hlm. 939.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak sumber menyebutkan bahwa Imam Husain as berada di sisi Imam Ali as saat [[syahid]]&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 147.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan hadir dalam prosesi pemakamannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 181; Syekh Mufid, Muhammad bin Nu&#039;man, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Beirut, 1414 H; jilid 1, hlm. 25.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dikatakan bahwa Imam Husain as sedang menjalankan misi di [[Mada&#039;in]] ketika ayahnya terluka, dan setelah menerima surat dari Imam Hasan as, beliau kembali ke Kufah.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 HS, jilid 3, hlm. 220; Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 2, hlm. 497–498.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Masa Imam Hasan as==&lt;br /&gt;
Husain bin Ali as selama masa imamah dan pemerintahan saudaranya, [[Imam Hasan as]], menunjukkan penghormatan yang besar kepadanya. Bahkan disebutkan bahwa beliau sepenuhnya taat pada perintah saudaranya dan tidak berbicara dalam majelis di mana Imam Hasan as hadir.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 HS, jilid 1, hlm. 291; Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 3, hlm. 401.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ketaatan dan kepatuhannya kepada saudaranya sedemikian rupa sehingga beliau menolak permintaan baiat dari beberapa kelompok Khawarij yang bersikeras untuk berperang melawan pasukan Syam.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 184.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as mendukung saudaranya dalam peristiwa [[perdamaian dengan Muawiyah]] dan mengonfirmasi tindakannya&amp;lt;ref&amp;gt;Dinawari, Ahmad bin Dawud, Al-Akhbar al-Thiwal, penelitian oleh Abdulmun&#039;im Amir dengan tinjauan oleh Jamaluddin Syial, Qum, Mansyurat Radhi, 1368 HS, hlm. 221.&amp;lt;/ref&amp;gt; serta menegaskan imamahnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thusi, Ikhtiyar Ma&#039;rifah al-Rijal (Rijal al-Kasyi), Masyhad, Universitas Masyhad, 1348 HS, hlm. 110.&amp;lt;/ref&amp;gt; Meskipun demikian, beberapa laporan menyebutkan bahwa beliau tidak berbaiat kepada Muawiyah&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu A&#039;tsam, Ahmad, Al-Futuh, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, 1411 H, jilid 4, hlm. 292; Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 4, hlm. 35.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan merasa tidak puas dengan tindakan saudaranya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 160; Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 13, hlm. 267.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as setelah perdamaian dengan Muawiyah pada [[tahun 41 H]], kembali dari [[Kufah]] ke [[Madinah]] bersama saudaranya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 165; Ibnu Jauzi, Abdurrahman bin Ali, Al-Muntazam fi Tarikh al-Umam wa al-Muluk, penelitian oleh Muhammad Abdulqadir Atha dan Mustafa Abdulqadir Atha, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1992 M, jilid 5, hlm. 184.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Masa Imamah==&lt;br /&gt;
[[Fail:Emam hossein.jpg|250px|thumb|Lukisan rakyat tentang Imam Husain as karya Muhammad Tajwidi, gouache, 1351 HS.&amp;lt;ref&amp;gt;Yasini, Radhiyah, «[https://negareh.shahed.ac.ir/article_356_d795c939486fd14a24bfb563a741891d.pdf Perkembangan Seni Lukis Islam Iran dari Penafian hingga Penyerupaan]» hlm. 14.&amp;lt;/ref&amp;gt;]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as menjadi [[imam]] setelah [[syahid]]nya saudaranya pada tahun [[50 H]] dan memegang imamah hingga tahun [[61 H]].&amp;lt;ref&amp;gt;Shabiri, Husain, Tarikh Firaq Islamiyah Firaq Syiah wa Firaq Mansub biha, Teheran, Samt, cetakan kelima, 1388 HS, jilid 1, hlm. 181.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ulama Syiah, selain argumen umum untuk membuktikan [[imamah dua belas imam]],&amp;lt;ref&amp;gt;Sebagai contoh, lihat: Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali bin Babawaih, Al-I&#039;tiqadat al-Imamiyah, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan kedua, 1414 H, hlm. 104; Ibnu Babawaih al-Qummi, Abul Hasan bin Ali, Al-Imamah wa al-Tabshirah min al-Hairah, penelitian: Ali Akbar Ghaffari, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1363 HS, hlm. 104.&amp;lt;/ref&amp;gt; juga merujuk pada argumen khusus tentang imamah Husain bin Ali as, termasuk riwayat dari [[Nabi saw]] yang menyebutnya sebagai imam.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Muhammad bin Nu&#039;man, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Beirut, 1414 H; jilid 2, hlm. 30.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sebagaimana penegasan Imam Ali as tentang imamah Husain as setelah [[Imam Hasan as]]&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 HS, jilid 1, hlm. 297.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan pengenalan beliau oleh Imam Hasan sebagai imam setelahnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 HS, jilid 1, hlm. 301.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as setelah syahidnya Imam Hasan as tidak melanggar baiatnya kepada Muawiyah.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 32.&amp;lt;/ref&amp;gt; Bahkan beliau menolak permintaan sebagian Syiah untuk mengumpulkan pasukan dan berperang melawan Muawiyah karena menjaga janji dan membela tindakan saudaranya.&amp;lt;ref&amp;gt;Dinawari, Ahmad bin Dawud, Al-Akhbar al-Thiwal, penelitian oleh Abdulmun&#039;im Amir dengan tinjauan oleh Jamaluddin Syial, Qum, Mansyurat Radhi, 1368 HS, hlm. 220.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau menunda keputusan dalam hal ini hingga setelah kematian Muawiyah.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 150.&amp;lt;/ref&amp;gt; Menurut Syekh Mufid, Imam Husain as hingga kematian Muawiyah tidak mengajak masyarakat kepada dirinya karena [[taqiyah]] dan perjanjian yang dibuat dalam peristiwa [[perdamaian Imam Hasan]]. Namun, setelah kematian Muawiyah, beliau menjelaskan kedudukannya kepada mereka yang tidak mengetahuinya.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Muhammad bin Nu&#039;man, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Beirut, 1414 H, jilid 2, hlm. 31.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Sikap Terhadap Tindakan Muawiyah==&lt;br /&gt;
Menurut sumber sejarah, Imam Husain as tidak melakukan tindakan melawan pemerintahan Muawiyah, tetapi beberapa sejarawan berdasarkan beberapa bukti dan percakapan antara mereka meyakini bahwa Imam as secara politik tidak menerima legitimasi Muawiyah.&amp;lt;ref&amp;gt;Ja&#039;fariyan, Rasul, Hayat Fikri wa Siyasi Imamane Syiah, Qum, Anshariyan, cetakan keenam, 1381 HS, hlm. 175.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan dalam beberapa kasus menentang kebijakan Muawiyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Protes Imam Husain as terhadap tindakan Muawiyah dalam membunuh orang-orang seperti [[Hujr bin Adi]], [[Amr bin Hamq al-Khuza&#039;i]], dan [[Abdullah bin Yahya al-Hadhrami]] tercatat dalam berbagai sumber.&amp;lt;ref&amp;gt;Dinawari, Ahmad bin Dawud, Al-Akhbar al-Thiwal, penelitian oleh Abdulmun&#039;im Amir dengan tinjauan oleh Jamaluddin Syial, Qum, Mansyurat Radhi, 1368 HS, hlm. 224–225; Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 5, hlm. 120–121; Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 202–204.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam dalam suratnya kepada Muawiyah mengecam pembunuhan para sahabat Imam Ali as dan mengecam tindakan buruk Muawiyah, menyebut jihad melawannya sebagai keharusan untuk menghidupkan agama dan menganggap pemerintahannya sebagai fitnah besar bagi [[umat]] Islam.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 5, hlm. 121–122; Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 440; Thusi, Ikhtiyar Ma&#039;rifah al-Rijal (Rijal al-Kasyi), Masyhad, Universitas Masyhad, 1348 HS, hlm. 50; Dzahabi, Syamsuddin, Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A&#039;lam, Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, cetakan kedua, 1409 H, jilid 5, hlm. 6; Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 14, hlm. 206.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Muawiyah pada tahun 56 H, bertentangan dengan ketentuan [[perjanjian damai Imam Hasan]] yang melarang penunjukan penerus, mengajak masyarakat untuk berbaiat kepada Yazid,&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun, jilid 8, hlm. 79.&amp;lt;/ref&amp;gt; beberapa tokoh, termasuk Imam Husain as, menolak berbaiat.&amp;lt;ref&amp;gt;http://ensani.ir/fa/article/45732/&amp;lt;/ref&amp;gt; Muawiyah pergi ke Madinah untuk mendapatkan dukungan para tokoh kota tersebut untuk penunjukan Yazid sebagai putra mahkota.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 204.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam Husain dalam sebuah majelis yang dihadiri oleh Muawiyah, [[Ibnu Abbas]], dan beberapa pejabat serta keluarga Umayyah, mengecam Muawiyah dan memperingatkannya untuk tidak berusaha menjadikan Yazid sebagai penerus. Beliau menegaskan kedudukan dan haknya serta membantah argumen Muawiyah untuk mendapatkan baiat kepada Yazid.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 208–209.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sebuah majelis lain yang dihadiri oleh masyarakat umum, Imam Husain menanggapi ucapan Muawiyah tentang kelayakan Yazid. Beliau menyatakan bahwa dirinya lebih layak secara individu dan keluarga untuk menjadi khalifah, sementara Yazid digambarkan sebagai pemabuk dan pengikut hawa nafsu.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, tahqiq Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, halaman 211.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 58 Hijriah, Imam Husain as menyampaikan khutbah protes di Mina akibat tekanan Muawiyah terhadap Syiah.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok peneliti sejarah, Tarikh Qiyam wa Maqtal Jami&#039; Sayid al-Syuhada, 1389 H, jilid 1, halaman 392.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam khutbah ini, beliau menyebutkan keutamaan Amirul Mukminin as dan Ahlul Bait, mengajak untuk melakukan amar ma&#039;ruf nahi munkar, menekankan pentingnya tugas ini dalam Islam, serta menjelaskan kewajiban ulama untuk bangkit melawan para penindas dan bahaya diamnya ulama di hadapan penguasa zalim.&amp;lt;ref&amp;gt;Harrani, Hasan bin Syu&#039;bah, Tuhaf al-&#039;Uqul, Qum, Jamaah Mudarrisin, 1404 H, halaman 68.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Ketidakbangkitannya Imam Husain as pada masa Muawiyah}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Reaksi Terhadap Kekhalifahan Yazid==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kematian Muawiyah pada 15 Rajab tahun 60 Hijriah, Yazid naik takhta.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 155; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 32.&amp;lt;/ref&amp;gt; Untuk melegitimasi pemerintahannya, Yazid berusaha memaksa para tokoh besar seperti Imam Husain as yang menolak baiat kepadanya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 338.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam Husain as menolak untuk berbaiat&amp;lt;ref&amp;gt;Abu Mikhnaf, Maqtal al-Husain as, tahqiq dan ta&#039;liq Husain al-Ghaffari, Qum, Mathba&#039;ah Ilmiyah, tanpa tahun, halaman 5; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 33.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan pergi bersama keluarga serta pengikutnya dari Madinah ke Mekah.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 160; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 34.&amp;lt;/ref&amp;gt; Di sana, beliau disambut oleh masyarakat dan para jamaah umrah.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 156; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 36.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam tinggal di kota ini selama lebih dari empat bulan.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 66.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syiah Kufah yang mengetahui penolakan Imam untuk berbaiat mengirim surat-surat yang mengundang beliau ke Kufah.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 157–159; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 36–38.&amp;lt;/ref&amp;gt; Husain bin Ali mengutus Muslim bin Aqil ke Kufah untuk memastikan situasi. Setelah melihat sambutan dan baiat masyarakat, Muslim memanggil Imam Husain ke Kufah.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 41.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam kemudian berangkat bersama keluarga dan pengikutnya pada tanggal 8 Dzulhijjah dari Mekah menuju Kufah.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 160; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 66.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut beberapa laporan, Imam Husain as mengetahui adanya rencana pembunuhan terhadap dirinya di Mekah. Untuk menjaga kesucian Mekah, beliau meninggalkan kota tersebut menuju Irak.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;d, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, halaman 450; Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun, jilid 8, halaman 159 dan 161.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Aktivitas Politik Imam Husain as Sebelum Qiyam}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Peristiwa Karbala==&lt;br /&gt;
{{poem|Ketika kekhalifahan terlepas dari Al-Qur&#039;an|Racun kebebasan dituangkan ke dalam mulut|Di tanah Karbala, hujan turun dan pergi|Bunga lalale tumbuh di reruntuhan|Hingga hari kiamat, ia menghentikan tirani|Gelombang darahnya menciptakan taman|Darahnya menjelaskan rahasia ini|Membangunkan umat yang tertidur|Pedang &amp;quot;La&amp;quot; ia hunus|Mengalirkan darah para pengikut kebatilan|Rahasia Al-Qur&#039;an kami pelajari dari Husain|Dari apinya, kami menyimpan nyala|Wahai angin, wahai utusan yang jauh|Sampaikan air mata kami ke tanah sucinya&amp;lt;ref&amp;gt;Iqbal Lahori, Ramuz-e-Bekhudi, &amp;quot;[https://ganjoor.net/iqbal/romooz-bikhodi/sh13 Bagian 13, tentang makna kebebasan Islam dan rahasia peristiwa Karbala]&amp;quot;&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
|Align = kiri&lt;br /&gt;
|Judul= Tentang Makna Kebebasan Islam dan Rahasia Peristiwa Karbala&lt;br /&gt;
|Penyair= Iqbal Lahori}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peristiwa Karbala terjadi akibat penolakan Imam Husain as untuk berbaiat kepada Yazid. Husain as memenuhi undangan penduduk Kufah dan berangkat bersama keluarga serta pengikutnya menuju Kufah. Namun, di daerah bernama Dzuhusam, beliau dihadang oleh pasukan yang dipimpin oleh Hurr bin Yazid al-Riyahi dan terpaksa mengubah rute perjalanannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 408; Ibnu Miskawaih, Ahmad bin Muhammad, Tajarib al-Umam wa Ta&#039;aqub al-Himam, tahqiq: Abu al-Qasim Imami, Teheran, Surush, 1379 H; jilid 2, halaman 67; Ibnu Atsir, Ali bin Abi al-Karam, Al-Kamil fi al-Tarikh, Beirut, Dar Shadir, 1965 M, jilid 4, halaman 51.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kafilah Imam tiba di Karbala pada tanggal 2 Muharram&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu A&#039;tsam, Ahmad, Al-Futuh, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, 1411 H, jilid 5, halaman 83; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 409; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 84; Ibnu Miskawaih, Ahmad bin Muhammad, Tajarib al-Umam wa Ta&#039;aqub al-Himam, tahqiq: Abu al-Qasim Imami, Teheran, Surush, 1379 H, jilid 2, halaman 68.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan pada tanggal 3 Muharram, pasukan dari Kufah yang dipimpin oleh Umar bin Sa&#039;ad tiba di Karbala.&amp;lt;ref&amp;gt;Dinawari, Ahmad bin Dawud, Al-Akhbar al-Thiwal, tahqiq Abdul Mun&#039;im Amir, Qum, Mansyurat Razi, 1368 H, halaman 253; Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 176; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 409; Ibnu Atsir, Ali bin Abi al-Karam, Al-Kamil fi al-Tarikh, Beirut, Dar Shadir, 1965 M, jilid 4, halaman 52.&amp;lt;/ref&amp;gt; Menurut laporan sejarah, beberapa perundingan terjadi antara Husain bin Ali dan Umar bin Sa&#039;ad;&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 414; Ibnu Miskawaih, Ahmad bin Muhammad, Tajarib al-Umam wa Ta&#039;aqub al-Himam, tahqiq: Abu al-Qasim Imami, Teheran, Surush, 1379 H; jilid 2, halaman 71.&amp;lt;/ref&amp;gt; namun Ibnu Ziyad hanya menerima baiat Husain as kepada Yazid atau perang.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 182; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 414; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 88.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada malam Asyura, Imam Husain as melepas baiat dari para pengikutnya setelah menyampaikan pidato; namun mereka menegaskan kesetiaan dan dukungan mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 91–94.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertempuran dimulai pada pagi hari Asyura. Setelah para sahabat dan kerabat Imam as gugur,&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 446; Isfahani, Abu al-Faraj, Maqatil al-Thalibiyyin, tahqiq Ahmad Saqr, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, tanpa tahun, halaman 80.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam sendiri maju ke medan perang dan gugur sebagai syahid pada sore hari.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad, 1413 H, jilid 2, halaman 112.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
{{see also|Daftar Syuhada Karbala}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syamr bin Dzil Jausyan&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 112; Khuwarizmi, Muaffaq bin Ahmad, Maqtal al-Husain as, Qum, Anwar al-Huda, cetakan kedua, 1423 H, jilid 2, halaman 41; Thabarsi, Fadhl bin Hasan, I&#039;lam al-Wara bi A&#039;lam al-Huda, Teheran, Islamiyah, 1390 H, jilid 1, halaman 469.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan menurut riwayat lain, Sinan bin Anas&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 450–453; Ibnu Sa&#039;d, Al-Thabaqat al-Kubra, cetakan Ihsan Abbas, Beirut, 1968, jilid 6, halaman 441; Isfahani, Abu al-Faraj, Maqatil al-Thalibiyyin, tahqiq Ahmad Saqr, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, tanpa tahun, halaman 118; Mas&#039;udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jilid 3, halaman 62.&amp;lt;/ref&amp;gt; memenggal kepala beliau dan mengirimkannya kepada Ibnu Ziyad pada hari yang sama.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 411; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 456.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Pembunuh Imam Husain as}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluarga Imam Husain as ditawan dan dibawa ke Kufah, kemudian ke Syam.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 456.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Lama Masa Penawanan Ahlul Bait as Setelah Peristiwa Karbala}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jenazah Imam Husain as dan para syuhada Karbala dimakamkan pada tanggal 11&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 455.&amp;lt;/ref&amp;gt; atau 13 Muharram oleh sekelompok orang dari Bani Asad, dan menurut riwayat lain, dengan kehadiran Imam Sajjad as di tempat syahid.&amp;lt;ref&amp;gt;Musawi al-Muqarram, Abdul Razzaq, Maqtal al-Husain as, Beirut, Dar al-Kitab al-Islamiyah, halaman 335–336.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Fail:حرم امام حسین.jpg|250px|thumb|Foto tertua yang diyakini sebagai Haram Imam Husain as]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Reaksi Terhadap Peristiwa Karbala==  &lt;br /&gt;
Kebangkitan Imam Husain as dan kesyahidannya menimbulkan banyak reaksi dan memicu gerakan revolusioner serta protes selama bertahun-tahun, seperti Kebangkitan Tawwabin, Kebangkitan Mukhtar, Kebangkitan Zaid bin Ali, dan Kebangkitan Yahya bin Zaid.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, dalam Kebangkitan Siyah Jamegan yang dipimpin oleh Abu Muslim al-Khurasani—yang mengakibatkan kejatuhan Dinasti Umayyah—slogan &amp;quot;Ya Latharat al-Husain&amp;quot; (Wahai Penuntut Balas Kematian Husain) digunakan.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 9, halaman 317.&amp;lt;/ref&amp;gt; Revolusi Islam Iran juga dianggap terinspirasi oleh kebangkitan Imam Husain as.&amp;lt;ref&amp;gt;[http://farsi.rouhollah.ir/library/sahifeh?volume=17&amp;amp;tid=22 Khomeini, Sahifeh Nur, 1379 H, jilid 17, halaman 58.]&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat banyak riwayat yang meramalkan kesyahidan Husain bin Ali as.&amp;lt;ref&amp;gt;Rei Syahri, Danesyameh Imam Husain, 1388 H, jilid 3, halaman 166–317.&amp;lt;/ref&amp;gt; Salah satunya adalah Hadits Lauh yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad (saw), di mana Allah memuliakan Husain dengan kesyahidan dan menjadikannya sebagai syahid terbaik.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 H, jilid 1, halaman 528; Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Ghaibah, Qum, Dar al-Ma&#039;arif al-Islamiyah, 1411 H, halaman 145.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tujuan Kebangkitan==  &lt;br /&gt;
Terdapat berbagai pandangan mengenai tujuan Imam Husain as dalam kebangkitannya. Beberapa ulama seperti Luthfullah Shafi, Murtadha Muthahhari, Sayid Muhsin Amin, dan Ali Syariati menyatakan bahwa tujuan Husain bin Ali as adalah untuk mencapai syahid.&amp;lt;ref&amp;gt;Esfandiyari, Asyura Syenasi, 1387 H, halaman 157.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayid Murtadha&amp;lt;ref&amp;gt;Sayid Murtadha, Ali bin Husain, Tanzih al-Anbiya, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan kedua, 1409 H, halaman 227–228.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan ulama kontemporer seperti Shalehi Najaf Abadi menyatakan bahwa tujuan Imam adalah untuk membentuk pemerintahan.&amp;lt;ref&amp;gt;Shalehi Najaf Abadi, Nimatullah, Syahid Javid, Teheran, Omid Farda, 1387 H, halaman 157–158.&amp;lt;/ref&amp;gt; Selain itu, ada juga pandangan lain seperti tujuan untuk menyelamatkan nyawa.&amp;lt;ref&amp;gt;Asytahardi, Ali Panah, Haft Saleh Chera Seda Dar Avard?, Qum, Penerbit Allamah, cetakan pertama, 1391 H, halaman 154.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{Lihat juga|Kebangkitan Asyura: Gerakan Ilahi atau Keinginan Rakyat?|Kesadaran Imam Husain as tentang Akhir Kebangkitan}}  &lt;br /&gt;
[[File:Tazie ashora.jpg|thumb|Bagian dari tradisi Taziyah|280x280px]]  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kebangkitan Imam dalam Pandangan Ahlusunah==  &lt;br /&gt;
{{Lihat juga|Pandangan Al-Ghazali tentang Kebangkitan Imam Husain as}}  &lt;br /&gt;
Di kalangan Ahlusunah, terdapat dua pandangan tentang Kebangkitan Imam Husain as: sebagian mengkritiknya, sementara banyak yang memujinya.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Khaldun, sejarawan Ahlusunah abad ke-9, menekankan bahwa syarat untuk memerangi para penindas adalah adanya pemimpin yang adil. Ia menyebut Husain as sebagai orang yang paling adil untuk memimpin perlawanan ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, Beirut, Dar al-Fikr, 1401 H, jilid 1, halaman 217.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ia juga menyatakan bahwa ketika kefasikan Yazid menjadi jelas bagi semua orang, Husain merasa wajib untuk bangkit melawannya karena ia merasa memiliki kelayakan dan kekuatan untuk melakukannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jilid 1, halaman 216.&amp;lt;/ref&amp;gt; Syihabuddin Alusi, ulama Ahlusunah abad ke-13, dalam kitab Ruh al-Ma&#039;ani, mengkritik dan mengutuk Ibnu Arabi yang mencela Imam Husain. Ia menyatakan bahwa klaim Ibnu Arabi tentang kebangkitan Husain sebagai sumber kejahatan dan ketidakbaikan adalah dusta dan fitnah besar.&amp;lt;ref&amp;gt;Alusi, Ruh al-Ma&#039;ani, tahqiq: Ali Abdul Bari Athiyah, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1415 H, jilid 13, halaman 228.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abbas Mahmud Al-Aqqad, penulis dan sastrawan Mesir abad ke-14, dalam bukunya Abu al-Syuhada: Al-Husain bin Ali, menulis bahwa situasi pada masa Yazid telah mencapai titik di mana hanya syahid yang dapat menyelesaikannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Aqqad, Abbas Mahmud, Abu al-Syuhada Al-Husain bin Ali, Teheran, Al-Majma&#039; al-Alami li al-Taqrib, cetakan kedua, 1429 H, halaman 207.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ia percaya bahwa kebangkitan seperti ini hanya dapat dilakukan oleh manusia langka yang diciptakan untuk tujuan ini, dan gerakan mereka tidak dapat dibandingkan dengan orang lain karena mereka memahami dan menuntut sesuatu yang berbeda.&amp;lt;ref&amp;gt;Aqqad, Abbas Mahmud, Abu al-Syuhada Al-Husain bin Ali, Teheran, Al-Majma&#039; al-Alami li al-Taqrib, cetakan kedua, 1429 H, halaman 141.&amp;lt;/ref&amp;gt; Thaha Husain, penulis Ahlusunah, berpendapat bahwa penolakan Husain untuk berbaiat bukan karena keras kepala, tetapi karena ia tahu bahwa berbaiat kepada Yazid berarti mengkhianati hati nuraninya dan bertentangan dengan agamanya, karena baginya berbaiat kepada Yazid adalah dosa.&amp;lt;ref&amp;gt;Husain, Thaha, Ali wa Banuh, Kairo, Dar al-Ma&#039;arif, tanpa tahun, halaman 239.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar Farrukh juga menekankan bahwa diam di hadapan kezaliman tidak dapat dibenarkan. Ia percaya bahwa umat Islam saat ini membutuhkan seorang &amp;quot;Husain&amp;quot; yang bangkit untuk membimbing kita ke jalan yang benar dalam membela kebenaran.&amp;lt;ref&amp;gt;Farrukh, Umar, Tajdid fi al-Muslimin la fi al-Islam, Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, tanpa tahun, halaman 152.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tradisi Berkabung==  &lt;br /&gt;
Syiah dan bahkan non-Syiah melakukan tradisi berkabung untuk Imam Husain dan syuhada Karbala selama bulan Muharram. Syiah memiliki ritual berkabung yang umum, seperti pembacaan kisah tragedi Karbala (rawdhah), memukul dada (sineh-zani), pertunjukan teater tragedi Karbala (ta&#039;ziyah), dan membaca ziarah seperti Ziarah Asyura, Ziarah Warits, dan Ziarah Nahiyah Muqaddasah secara individu atau berkelompok.&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat: [http://fa.abna24.com/news/اخبار-آسیای-شرقی/عزاداری-ماه-محرم-در-کشورهای-جنوب-شرقی-آسیا-برگزار-می‌شود_725804.html «Tradisi Berkabung Bulan Muharram di Negara Asia Tenggara», ABNA News Agency]; [http://www.beytoote.com/art/city-country/different-cities2-muharram.html «Adat dan Tradisi Masyarakat di Berbagai Kota Iran pada Bulan Muharram», Situs Beytoote.]&amp;lt;/ref&amp;gt; Tempat yang dikhususkan untuk berkabung disebut Husainiyah.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tradisi berkabung untuk Imam Husain as dimulai sejak hari-hari pertama setelah Asyura.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 206.&amp;lt;/ref&amp;gt; Menurut sebuah riwayat, ketika tawanan Karbala tiba di Syam, para wanita Bani Hasyim berkabung selama beberapa hari dengan mengenakan pakaian hitam.&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 H, jilid 45, halaman 196.&amp;lt;/ref&amp;gt; Setelah berkuasanya pemerintahan Syiah dan berkurangnya tekanan terhadap Syiah, tradisi berkabung menjadi resmi.&amp;lt;ref&amp;gt;Aeinehvand, Sadeq dan Velayati, Ali Akbar, Sunnat Azadari wa Manqabat-Khani dar Tarikh Syiah Imamiyah, dengan pengantar Muhammad Taqi-Zadeh Davari, Qum, Muassasah Syiah-Syenasi, cetakan kedua, 1386 H, halaman 65–66, mengutip Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, jilid 11, halaman 183; Ibnu Jauzi, Abdul Rahman bin Ali, Al-Muntazam fi Tarikh Thabari, tahqiq Muhammad Abdul Qadir Atha dan Mustafa Abdul Qadir Atha, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1992 M, jilid 7, halaman 15.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sumber Syiah dan Ahlusunah disebutkan bahwa Nabi Muhammad (saw) menangis saat kelahiran Husain dan memberitakan kesyahidannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 129; Maqrizi, Taqiyuddin, Imta&#039; al-Asma&#039;, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1420 H, jilid 12, halaman 237; Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun, jilid 6, halaman 230.&amp;lt;/ref&amp;gt; Menurut laporan sejarah dan hadis, para Imam Syiah sangat menekankan pentingnya berkabung dan menangis untuk mengenang Husain bin Ali, serta menganjurkan Syiah untuk menjaga ingatan tentang Asyura.&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 H, jilid 44, bab 34, halaman 278–296.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{Lihat juga|Perkembangan Tradisi Berkabung|Kesedihan dan Tangisan dalam Berkabung untuk Imam Husain as|Tradisi Berkabung Para Imam Syiah untuk Imam Husain as}}  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Makam Imam Husain as==  &lt;br /&gt;
[[Fail:حرم امام حسین(ع).jpg|250px|thumb|Pemandangan Makam Imam Husain as pada tahun 1932 M.]]&lt;br /&gt;
Menurut laporan yang ada, bangunan pertama di atas makam Husain bin Ali as dibangun pada masa Mukhtar al-Tsaqafi atas perintahnya. Sejak saat itu, bangunan makam telah beberapa kali direnovasi dan diperluas.&amp;lt;ref&amp;gt;Al Tu&#039;mah, Salman Hadi, Karbala wa Haram-ha-ye Muthahhar, Teheran, Masyar, tanpa tahun, halaman 89–112.&amp;lt;/ref&amp;gt; Makam Imam Husain as beberapa kali dihancurkan oleh beberapa khalifah Abbasiyah&amp;lt;ref&amp;gt;Isfahani, Abu al-Faraj, Maqatil al-Thalibiyyin, tahqiq Ahmad Saqr, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, tanpa tahun, halaman 477.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan kelompok Wahabi.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, Negahi Now be Jaryan-e Asyura, 1387 H, halaman 425.&amp;lt;/ref&amp;gt; Misalnya, Khalifah Al-Mutawakkil Abbasi memerintahkan untuk membajak tanah Hair dan mengalirkan air ke makam.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Amali, Qum, Dar al-Tsaqafah, 1414 H, halaman 327; Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 2, halaman 211.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Area sekitar makam Imam Husain as disebut Hair Husaini. Area ini memiliki keutamaan dan hukum fikih khusus, dan seorang musafir dapat melaksanakan shalat lengkap di dalamnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabathabai Yazdi, Sayid Muhammad Kazhim, &#039;&#039;Al-Urwah al-Wutsqa&#039;&#039;, Beirut, 1404 H, jilid 2, halaman 164.&amp;lt;/ref&amp;gt; Terdapat beberapa pendapat tentang luas pasti Hair, dan minimalnya adalah area dengan radius 11 meter dari makam Imam Husain, yang memiliki tingkat keutamaan tertinggi.&amp;lt;ref&amp;gt;Kalidar, Abdul Jawad, Tarikh Karbala wa Hair al-Husain Alaih al-Salam, Najaf, cetakan ofset Qum, 1376 H, halaman 51–52, 58–60.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ziarah ke Makam Imam Husain as==  &lt;br /&gt;
Dalam riwayat para Imam Maksum, ziarah ke makam Imam Husain as tidak hanya ditekankan, tetapi juga dianggap sebagai salah satu amalan terbaik dan paling utama.&amp;lt;ref&amp;gt;Muassasah Imam Hadi as, Jami&#039; Ziyarat al-Ma&#039;sumin, Qum, Payam Imam Hadi as, 1389 H, jilid 3, halaman 36–69.&amp;lt;/ref&amp;gt; Bahkan, pahalanya disamakan dengan haji dan umrah.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qulawiyah, Ja&#039;far bin Muhammad, Kamil al-Ziyarat, Najaf, Dar al-Murtadhawiyah, 1356 H, halaman 158–161.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kitab-kitab ziarah, terdapat beberapa ziarah mutlak untuk Imam Husain yang dapat dibaca kapan saja&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammadi Risyahri, Muhammad dan kawan-kawan, Danesyameh Imam Husain as, terjemahan Muhammad Muradi, Qum, Dar al-Hadits, 1430 H, jilid 12, halaman 256–452.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan beberapa ziarah khusus yang dibaca pada waktu tertentu.&amp;lt;ref&amp;gt;[https://hawzah.net/fa/Magazine/View/6444/8140/107167/زیارت-های-مخصوصه-امام-حسین «Ziarah Khusus Imam Husain», Situs Informasi Hauzah.]&amp;lt;/ref&amp;gt; Ziarah Asyura, Ziarah Warits, dan Ziarah Nahiyah Muqaddasah adalah beberapa ziarah yang paling terkenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Arbain Husaini==&lt;br /&gt;
{{Artikel Utama|Arbain Husaini}}&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Syiah melakukan tradisi berkabung pada hari ke-40 setelah kesyahidan Imam Husain as, yang dikenal sebagai Arbain Husaini. Pada hari ini, para pecinta Imam Husain as pergi berziarah ke makam beliau di Karbala.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut beberapa laporan sejarah, tawanan Karbala dalam perjalanan kembali dari Syam ke Madinah berziarah ke makam syuhada Karbala pada hari Arbain.&amp;lt;ref&amp;gt;Sayid bin Thawus, Ali bin Musa, Al-Luhuf &#039;ala Qatla al-Thufuf, Qum, Aswah, 1414 H, halaman 225.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dikatakan bahwa Jabir bin Abdullah al-Anshari adalah orang pertama yang hadir di makam Imam Husain as pada hari ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Mishbah al-Mutahajjid, Beirut, Muassasah Fiqh al-Syiah, 1411 H, halaman 787.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anjuran untuk melakukan ziarah Arbain telah mendorong umat Syiah dari berbagai penjuru dunia untuk berbondong-bondong menuju Karbala setiap tahunnya. Perjalanan ini, yang biasanya dilakukan dengan berjalan kaki, dianggap sebagai salah satu prosesi terbesar di dunia. Sumber berita melaporkan bahwa jumlah peziarah Arbain pada tahun 1398 Hijriah mencapai lebih dari 18 juta orang.&amp;lt;ref&amp;gt;[https://www.irna.ir/news/83522637/ «Jumlah Peziarah Arbain Tahun Ini Melebihi 18 Juta», Kantor Berita Republik Islam.]&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Riwayat-Riwayat Imam Husain== &lt;br /&gt;
Dalam berbagai sumber hadis dan sejarah, terdapat banyak referensi tentang ucapan,&amp;lt;ref&amp;gt;Ma&#039;had Penelitian Baqir al-Ulum as, Mausu&#039;ah Kalimat al-Imam al-Husain, 1416 H, pengantar, halaman Z.&amp;lt;/ref&amp;gt; doa,&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, Tehran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 H, jilid 95, halaman 214.&amp;lt;/ref&amp;gt; surat,&amp;lt;ref&amp;gt;Ahmadi Miyanji, Ali, Makatib al-A&#039;immah, Ayatullah Ahmadi Miyanji, Qum, Dar al-Hadits, 1426 H, jilid 3, halaman 83–156.&amp;lt;/ref&amp;gt; syair,&amp;lt;ref&amp;gt;Karbasi, Muhammad Shadiq, Da&#039;irat al-Ma&#039;arif al-Husainiyah, Diwan al-Imam al-Husain, London, Al-Markaz al-Husaini li al-Dirasat, 2001 M, jilid 1 dan 2.&amp;lt;/ref&amp;gt; khutbah,&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Syu&#039;bah Harrani, Hasan bin Ali, Tuhaf al-&#039;Uqul, Qum, Jamaah Mudarrisin, 1404 H, halaman 237–240; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 97–98.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan wasiat Imam Husain as.&amp;lt;ref&amp;gt;Khuwarizmi, Muaffaq bin Ahmad, Maqtal al-Husain as, Qum, Anwar al-Huda, cetakan kedua, 1423 H, jilid 1, halaman 273.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam buku Musnad al-Imam al-Syahid karya Azizullah Atharadi dan Mausu&#039;ah Kalimat al-Imam al-Husain, semua riwayat dari Imam as telah dikumpulkan.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Karya-Karya tentang Kehidupan Imam== &lt;br /&gt;
Tentang kepribadian dan kehidupan Husain bin Ali as, banyak karya telah ditulis dalam bentuk ensiklopedia, biografi, maqtal (kisah kesyahidan), dan sejarah analitis. Lebih dari empat puluh buku dan artikel telah membahas topik &amp;quot;bibliografi Imam Husain&amp;quot;.&amp;lt;ref&amp;gt;[http://www.ensani.ir/fa/content/187015/default.aspx Esfandiyari, «Bibliografi Bibliografi Imam Husain as», halaman 41.]&amp;lt;/ref&amp;gt; Sebagai contoh, dalam «Bibliografi Khusus Imam Husain», disebutkan 1.428 karya dengan detail penerbitan.&amp;lt;ref&amp;gt;Safar Ali Pour, Heshmatullah, Kitab Syenasi Ikhtisasi Imam Husain, Qum, Yaqut, 1381 H, halaman 255.&amp;lt;/ref&amp;gt; Agha Buzurg Tehrani juga dalam bukunya Al-Dzari&#039;ah ila Tashanif al-Syiah memperkenalkan 985 buku tentang topik ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Esfandiyari, Muhammad, Kitab Syenasi Tarikhi Imam Husain as, Tehran, Organisasi Penerbitan dan Percetakan, 1380 H, halaman 491.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{ck}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Imam_Husain_as&amp;diff=921</id>
		<title>Imam Husain as</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://ms.wikipasokh.com/index.php?title=Imam_Husain_as&amp;diff=921"/>
		<updated>2025-02-19T22:15:21Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Abadiyuwono2014: /* Peristiwa Karbala */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&#039;&#039;&#039;Imam Husain as&#039;&#039;&#039; ([[4 H-61 H]]) adalah [[Imam]] ketiga [[Syiah]] setelah [[Imam Ali as]] dan [[Imam Hasan as]]. Beliau adalah cucu [[Nabi Muhammad saw]] dan anak dari [[Imam Ali as]] serta [[Sayidah Fatimah sa]], serta adik dari [[Imam Hasan as]]. Masa imamah Imam Husain as diketahui selama sebelas tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut sumber-sumber terpercaya dari [[Syiah]] dan [[Sunni]], Imam Husain as termasuk dalam [[Ashabul Kisa]] dan dianggap sebagai manifestasi dari [[Ayat Tathir]] serta kata &amp;quot;abna&#039;ana&amp;quot; dalam [[Ayat Mubahalah]]. Imam Husain as sangat dicintai oleh Nabi Muhammad saw, yang menyebutnya sebagai lentera petunjuk, kapal keselamatan, dan [[penghulu pemuda surga]].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat sedikit laporan tentang kehidupan Imam Husain as sebelum masa imamahnya, seperti kehadirannya dalam tiga peperangan bersama ayahnya, dukungannya terhadap [[perdamaian Imam Hasan as]] dengan [[Muawiyah bin Abu Sufyan]], dan kesetiaannya kepada saudaranya. Setelah syahidnya Imam Hasan as, Imam Husain as tidak melakukan tindakan apa pun terhadap Muawiyah dan tetap setia pada perjanjian yang dibuat oleh saudaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepuluh tahun dari masa imamah Imam Husain as bertepatan dengan pemerintahan Muawiyah. Imam Husain as menentang beberapa tindakan Muawiyah, seperti pembunuhan terhadap beberapa [[sahabat Nabi saw]] dan pengangkatan [[Yazid bin Muawiyah]] sebagai putra mahkota. Imam Husain as menyatakan bahwa Yazid tidak layak dan dirinyalah yang lebih berhak atas [[kekhalifahan]]. Dalam sebuah khutbah, Imam Husain as menyampaikan posisi politiknya terhadap Bani Umayyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kematian Muawiyah, Imam Husain as menolak untuk berbaiat kepada Yazid, yang dianggapnya tidak sah. Pada 28 Rajab tahun 60 H, setelah diperintahkan untuk dibunuh jika menolak berbaiat, Imam Husain as meninggalkan Madinah menuju Mekah. Beliau menerima banyak surat dari penduduk Kufah yang memintanya untuk memimpin mereka. Setelah utusannya, Muslim bin Aqil, mengonfirmasi dukungan penduduk Kufah, Imam Husain as berangkat menuju Kufah pada 8 Dzulhijjah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ubaidullah bin Ziyad, gubernur Kufah, mengirim pasukan di bawah komando Hurr bin Yazid untuk menghadang dan memblokir jalan Imam Husain as. Setelah jalannya terhalang, Imam Husain as terpaksa menuju Karbala. Akhirnya, setelah pertempuran dengan pasukan Kufah pada hari Asyura, Imam Husain as dan para sahabatnya gugur sebagai syahid, dan keluarganya ditawan. Jenazah Imam Husain as dan para sahabatnya dimakamkan pada tanggal 11 atau 13 Muharram oleh sekelompok orang dari Bani Asad di Karbala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kedudukan Imam==&lt;br /&gt;
[[Fail:نام امام حسین(ع) در ایاصوفیه.jpg|250px|thumb|Nama Imam Husain as di Masjid Hagia Sophia, Turki]]&lt;br /&gt;
Husain bin Ali as adalah Imam ketiga [[Syiah]], setelah Imam Ali as dan Imam Hasan as. Imam Husain as memiliki kedudukan yang sangat istimewa di kalangan umat Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau dianggap sebagai orang yang paling mulia dan pemimpin Bani Hasyim;&amp;lt;ref&amp;gt;Yaqubi, Ahmad bin Abi Yaqub, Tarikh al-Yaqubi, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 226; Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 363.&amp;lt;/ref&amp;gt; sehingga pendapatnya diutamakan di antara Bani Hasyim lainnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 414–416.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam sebuah riwayat dari [[Nabi Muhammad saw]] yang diriwayatkan oleh beberapa sumber [[Syiah]] dan [[Sunni]], Husain disebut sebagai salah satu dari Asbat (keturunan Nabi).&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, &#039;&#039;Ansab al-Asyraf&#039;&#039;, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 142; Syekh Mufid, &#039;&#039;Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad&#039;&#039;, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 127; Maqrizi, Taqiyuddin, &#039;&#039;Imta&#039; al-Asma&#039; bima li al-Nabi min al-Ahwal wa al-Amwal wa al-Hafadah wa al-Mata&#039; &#039;&#039;, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1420 H, jilid 6, hlm. 19.&amp;lt;/ref&amp;gt; Asbat dalam ayat dan riwayat merujuk pada Imam atau pemimpin yang dipilih oleh Allah dan berasal dari keturunan para nabi.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammadi Rei Syahri, Muhammad dan kawan-kawan, Ensiklopedia Imam Husain as, terjemahan oleh Muhammad Muradi, Qum, Dar al-Hadits, 1430 H, jilid 1, hlm. 474–477.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as bagi umat Islam, khususnya Syiah, setelah [[Peristiwa Karbala]] pada tahun [[61 H]] dianggap sebagai sosok yang memperjuangkan kebenaran, pemberani, dan rela berkorban.&amp;lt;ref&amp;gt;Haj Manouchehri, Faramarz, &amp;quot;Husain as, Imam&amp;quot;, dalam Ensiklopedia Besar Islam, jilid 20, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, 1391 HS, hlm. 681.&amp;lt;/ref&amp;gt; Kedudukannya yang tinggi di kalangan umat Islam terutama berasal dari perjuangannya di jalan Allah dan pengorbanan jiwa, harta, dan keluarganya.&amp;lt;ref&amp;gt;[https://hawzah.net/fa/Article/View/82145 Ayyub, &amp;quot;Keutamaan Imam Husain as dalam Hadis-hadis Ahlusunah&amp;quot;].&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peristiwa Karbala sebagai bentuk pertama pelecehan dan serangan terbuka terhadap keluarga Nabi saw memiliki pengaruh besar pada budaya Syiah.&amp;lt;ref&amp;gt;Haj Manouchehri, Faramarz, &amp;quot;Husain as, Imam&amp;quot;, dalam Ensiklopedia Besar Islam, jilid 20, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, 1391 HS, hlm. 686.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sehingga, perjuangannya menjadi simbol amar ma&#039;ruf nahi munkar, melawan kezaliman, pengorbanan, dan kesediaan berkorban.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhadditsi, Jawad, Budaya Asyura, Qum, Penerbit Ma&#039;ruf, cetakan ketujuh belas, 1393 HS, hlm. 372.&amp;lt;/ref&amp;gt; Hal ini juga menjadi landasan bagi pemberontakan Syiah melawan penguasa yang zalim.&amp;lt;ref&amp;gt;Haj Manouchehri, Faramarz, &amp;quot;Husain as, Imam&amp;quot;, dalam Ensiklopedia Besar Islam, jilid 20, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, 1391 HS, hlm. 687.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam ranah budaya umum, umat Islam bahkan pengikut agama lain menganggap Husain bin Ali as sebagai simbol dan teladan pengorbanan, ketidakmampuan menerima kezaliman, cinta kebebasan, menjaga nilai-nilai, dan memperjuangkan kebenaran.&amp;lt;ref&amp;gt;[http://www.iwpeace.com/news/36736 &amp;quot;Budaya Asyura Melampaui Batas Muslim&amp;quot;, situs web Majelis Perdamaian Islam Dunia].&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan-bulan [[Muharram]] dan [[Safar]] memiliki tempat khusus dalam budaya Syiah, terutama pada hari-hari [[Tasua]] dan [[Asyura]] serta [[Arbain Husaini]], di mana berbagai ritual diadakan untuk memperingati peristiwa ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Haj Manouchehri, Faramarz, &amp;quot;Husain as, Imam&amp;quot;, dalam Ensiklopedia Besar Islam, jilid 20, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, 1391 HS, hlm. 689.&amp;lt;/ref&amp;gt; Syiah, mengikuti [[para Imam as]], ketika minum air, mengingat kehausan Imam Husain dan mengucapkan salam untuknya.&amp;lt;ref&amp;gt;Haj Manouchehri, Faramarz, &amp;quot;Husain as, Imam&amp;quot;, dalam Ensiklopedia Besar Islam, jilid 20, Teheran, Pusat Ensiklopedia Besar Islam, 1391 HS, hlm. 681; Muhadditsi, Jawad, Budaya Asyura, Qum, Penerbit Ma&#039;ruf, cetakan ketujuh belas, 1393 HS, hlm. 508.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Cucu Nabi Muhammad saw==&lt;br /&gt;
[[Fail:نام امام حسین(ع) بر دیوار مسجد النبی.JPG|250px|thumb|Nama Imam Husain as di dinding Masjid Nabawi]]&lt;br /&gt;
Imam Husain as lahir pada tanggal 3&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Masyhadi, Muhammad bin Ja&#039;far, Al-Mazar [Al-Kabir], penelitian oleh Jawad al-Qayyumi al-Isfahani, Qum, Muassasah al-Nashr al-Islami, 1419 H, hlm. 397; Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Mishbah al-Mutahajjid, Beirut, Muassasah Fiqh al-Syiah, 1411 H, hlm. 826, 828; Sayid bin Thawus, Ali bin Musa, Iqbal al-A&#039;mal, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1367 HS, hlm. 689–690.&amp;lt;/ref&amp;gt; atau 5 Sya&#039;ban&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27.&amp;lt;/ref&amp;gt; tahun ke-4 Hijriah di [[Madinah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Yaqubi, Ahmad bin Abi Yaqub, Tarikh al-Yaqubi, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 246; Dulabi, Muhammad bin Ahmad, Al-Dzurriyah al-Thahirah, cetakan oleh Muhammad Jawad Husaini Jalali, Qum, 1407 H, hlm. 102, 121; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1962 M, jilid 2, hlm. 555; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau berasal dari keluarga [[Bani Hasyim]] dan [[Quraisy]], cucu [[Nabi Muhammad saw]], anak dari [[Imam Ali as]] dan [[Sayidah Fatimah sa]], serta adik dari [[Imam Hasan as]].&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27.&amp;lt;/ref&amp;gt; [[Abbas as]], [[Muhammad bin Hanafiyah]] adalah saudara-saudaranya, dan [[Sayidah Zainab sa]] serta [[Ummu Kultsum]] adalah saudari-saudarinya.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber-sumber dari kedua mazhab menyebutkan bahwa Nabi saw memilih nama &amp;quot;Husain&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27; Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Beirut, Dar Shadir, tanpa tahun, jilid 1, hlm. 98, 118.&amp;lt;/ref&amp;gt; atas perintah [[Allah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 3, hlm. 397; Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 244.&amp;lt;/ref&amp;gt; Nama Husain setara dengan Syabir&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Manzur, Muhammad bin Mukarram, Lisan al-Arab, Beirut, Dar Sadir, 1414 H, jilid 4, hlm. 393; Zabidi Wasti, Murtadha Husaini, Taj al-Arus min Jawahir al-Qamus, Beirut, Dar al-Fikr, 1414 H, jilid 7, hlm. 4.&amp;lt;/ref&amp;gt;, yang merupakan nama salah satu putra [[Harun]].&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 13, hlm. 171.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ummu Fadhl&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 129; Maqrizi, Taqiyuddin, Imta&#039; al-Asma&#039; bima li al-Nabi min al-Ahwal wa al-Amwal wa al-Hafadah wa al-Mata&#039;, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1420 H, jilid 12, hlm. 237; Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun, jilid 6, hlm. 230.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan ibu dari Abdullah bin Yaqthar&amp;lt;ref&amp;gt;Samawi, Muhammad bin Thahir, Ibsar al-&#039;Ain fi Ansar al-Husain as, Qum, Universitas Syahid Muhallati, cetakan pertama, 1419 H, hlm. 93.&amp;lt;/ref&amp;gt; disebut sebagai pengasuh Imam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Kunyah]] Husain bin Ali as adalah [[Abu Abdillah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27; Ibnu Abi Syaibah, Al-Musannaf fi al-Ahadits wa al-Atsar, cetakan oleh Sa&#039;id Muhammad Lahham, Beirut, 1409 H, jilid 8, hlm. 65; Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Ma&#039;arif, penelitian oleh Tsarwat &#039;Akasyah, Kairo, Hai&#039;ah al-Mishriyah al-&#039;Ammah lil Kitab, 1960 M, jilid 1, hlm. 213.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau dikenal dengan gelar-gelar seperti Sayid Syabab Ahl al-Jannah (penghulu pemuda surga), Zakiy, Thayyib, Wafiy, Sayid, dan Al-Tabi&#039; li Mardhatillah.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Abi al-Tsalj, Tarikh al-A&#039;immah, dalam Majmu&#039;ah Nafisah fi Tarikh al-A&#039;immah, cetakan oleh Mahmud Mar&#039;asyi, Qum, Perpustakaan Ayatullah Mar&#039;asyi Najafi, 1406 H, hlm. 28; Ibnu Thalhah al-Syafi&#039;i, Mathalib al-Su&#039;ul fi Manaqib Al al-Rasul, cetakan oleh Majid bin Ahmad &#039;Athiyah, tanpa tempat, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 374; untuk daftar gelar Imam Husain as, lihat: Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, cetakan oleh Yusuf Baqa&#039;i, 1385 HS, jilid 4, hlm. 86.&amp;lt;/ref&amp;gt; [[Tsaarullah]], [[Qatil al-&#039;Abarat]],&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Quluwaih, Ja&#039;far bin Muhammad, Kamil al-Ziyarat, Najaf, Dar al-Murtadhawiyah, 1356 H, hlm. 176.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan [[Sayid al-Syuhada]]&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat: Himyari, Abdullah bin Ja&#039;far, Qurb al-Isnad, Qum, Muassasah Al al-Bait as, cetakan pertama, 1413 H, hlm. 99–100; Ibnu Quluwaih, Ja&#039;far bin Muhammad, Kamil al-Ziyarat, cetakan oleh Jawad Qayyumi Isfahani, Qum, 1417 H, hlm. 216–219; Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Amali, Qum, Dar al-Thaqafah, 1414 H, hlm. 49–50.&amp;lt;/ref&amp;gt; adalah gelar-gelar lain yang disebutkan dalam [[ziarah]]-ziarah untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Keutamaan dan Sifat Lahiriah serta Perilaku==&lt;br /&gt;
[[Fail:مقام رأس الحسین در اسرائیل.jpg|250px|thumb|Makam Ra&#039;s al-Husain di kota Ashkelon di wilayah pendudukan Palestina. Tempat ini dijaga dan diziarahi oleh sebagian Syiah (Bohra Ismailiyah).&amp;lt;ref&amp;gt;«[https://nournews.ir/Fa/News/74717/مقام-%C2«Ø±Ø£Ø³-Ø§ÙØ­Ø³ÛÙ%C2»-Ø¯Ø±-Ø³Ø±Ø²ÙÛÙâÙØ§Û-Ø§Ø´ØºØ§ÙÛ Makam «Ra&#039;s al-Husain» di Wilayah Pendudukan]», situs Nour News, tanggal kunjungan: 10 Mordad 1402 HS.&amp;lt;/ref&amp;gt;]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sumber-sumber Syiah dan Sunni, Husain bin Ali as adalah salah satu dari [[Ashabul Kisa]]&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat: Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, &#039;&#039;Al-Kafi&#039;&#039;, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 HS, jilid 1, hlm. 287; Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, 1423 H, jilid 15, hlm. 190.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan salah satu dari [[Ahlul Bait]] yang [[Ayat Tathir]] turun tentang mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 1, hlm. 331; Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Tafsir al-Qur&#039;an al-&#039;Azhim, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1419 H, jilid 3, hlm. 799; Syaukani, Muhammad bin Ali, Fath al-Qadir, Beirut, Alam al-Kutub, tanpa tahun, jilid 4, hlm. 279.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau bersama saudaranya, Imam Hasan as, dianggap sebagai manifestasi dari kata &amp;quot;abna&#039;ana&amp;quot; (anak-anak kami) dalam [[Ayat Mubahalah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Zamakhsyari, Mahmud, Al-Kasyaf &#039;an Haqaiq Ghawamid al-Tanzil, Qum, Nasyr al-Balaghah, cetakan kedua, 1415 H, terkait ayat 61 Surah Ali Imran; Fakhr Razi, Muhammad bin Umar, Al-Tafsir al-Kabir, Beirut, Dar al-Fikr, 1405 H, terkait ayat 61 Surah Ali Imran.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber-sumber terpercaya [[Ahlusunah]] meriwayatkan banyak hadis tentang kedudukan dan keutamaan Husain bin Ali as.&amp;lt;ref&amp;gt;Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, 1423 H, jilid 15, hlm. 190; Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 376–410; Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 7; Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Tafsir al-Qur&#039;an al-&#039;Azhim, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1419 H, jilid 3, hlm. 799.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sebagaimana diriwayatkan dari Nabi saw bahwa Husain as adalah lentera petunjuk dan kapal keselamatan&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali bin Babawaih, Kamal al-Din wa Tamam al-Ni&#039;mah, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1395 HS, jilid 1, hlm. 265.&amp;lt;/ref&amp;gt; serta [[penghulu pemuda surga]].&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 7; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27.&amp;lt;/ref&amp;gt; Juga dalam sebuah riwayat, Nabi saw bersabda, [[Aku dari Husain|Husain dariku dan aku dari Husain]].&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 142; Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 385.&amp;lt;/ref&amp;gt; Barangsiapa mencintai keduanya (Hasan dan Husain), maka ia mencintaiku, dan barangsiapa memusuhi mereka, maka ia memusuhiku.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 266; Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 13, hlm. 198–199; Arbili, Ali bin Isa, Kasyf al-Ghummah fi Ma&#039;rifah al-A&#039;immah, Qum, Radhi, cetakan pertama, 1421 H, jilid 1, hlm. 602.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dikatakan bahwa [[Rasulullah saw]] di antara [[Ahlul Bait]]-nya, lebih mencintai [[Hasanain|Hasan dan Husain as]] daripada yang lain&amp;lt;ref&amp;gt;Tirmidzi, Muhammad bin Isa, Sunan Tirmidzi, penelitian oleh Abdurrahman Muhammad Utsman, Beirut, Dar al-Fikr, 1403 H, jilid 5, hlm. 323.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan kecintaan ini sedemikian rupa sehingga terkadang ketika keduanya masuk ke [[masjid]], beliau menghentikan khutbahnya, turun dari mimbar, dan memeluk mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 5, hlm. 354; Tirmidzi, Muhammad bin Isa, Sunan Tirmidzi, penelitian oleh Abdurrahman Muhammad Utsman, Beirut, Dar al-Fikr, 1403 H, jilid 5, hlm. 322; Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban, penelitian oleh Syu&#039;aib Arnauth, tanpa tempat, Al-Risalah, 1993 M, jilid 13, hlm. 402; Hakim Naisaburi, Al-Mustadrak &#039;ala al-Shahihain, penelitian oleh Yusuf Abdurrahman al-Mar&#039;asyi, Beirut, 1406 H, jilid 1, hlm. 287.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam riwayat disebutkan bahwa Allah menjadikan kesembuhan dalam [[tanah]] Husain as dan [[pengabulan doa]] di samping makamnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 4, hlm. 82; Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar al-Jami&#039;ah li Durar Akhbar al-A&#039;immah al-Athhar, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 HS, jilid 98, hlm. 69.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam kitab [[Al-Khashaish al-Husainiyah]], lebih dari tiga ratus keistimewaan khusus Imam Husain disebutkan.&amp;lt;ref&amp;gt;Syusytari, Syekh Ja&#039;far, Al-Khashaish al-Husainiyah, Syarif Radhi, cetakan pertama, tanpa tahun, hlm. 20.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kebanyakan sumber hadis, sejarah, dan rijal, disebutkan tentang kemiripan Husain as dengan [[Nabi Muhammad saw]]&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 142, 453; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 27; Thabrani, Sulaiman bin Ahmad, Al-Mu&#039;jam al-Kabir, Kairo, Dar al-Nasyr, Maktabah Ibnu Taimiyah, cetakan kedua, tanpa tahun, jilid 3, hlm. 95.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan dalam sebuah riwayat, beliau disebut sebagai orang yang paling mirip dengan Nabi saw.&amp;lt;ref&amp;gt;Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 3, hlm. 261; Tirmidzi, Muhammad bin Isa, Sunan Tirmidzi, penelitian oleh Abdurrahman Muhammad Utsman, Beirut, Dar al-Fikr, 1403 H, jilid 5, hlm. 325.&amp;lt;/ref&amp;gt; Tentang beliau, dikatakan bahwa terkadang beliau mengenakan pakaian dari bulu atau memakai sorban dari bulu&amp;lt;ref&amp;gt;Thabrani, Sulaiman bin Ahmad, Al-Mu&#039;jam al-Kabir, Kairo, Dar al-Nasyr, Maktabah Ibnu Taimiyah, cetakan kedua, tanpa tahun, jilid 3, hlm. 101.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan mewarnai rambut serta janggutnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 6, hlm. 419–422; Ibnu Abi Syaibah, Al-Musannaf fi al-Ahadits wa al-Atsar, cetakan oleh Sa&#039;id Muhammad Lahham, Beirut, 1409 H, jilid 6, hlm. 3, 15.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as sangat dermawan dan dikenal dengan kedermawanannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammadi Rey Shahri, Muhammad dan kawan-kawan, Ensiklopedia Imam Husain as, terjemahan oleh Muhammad Muradi, Qum, Dar al-Hadits, 1430 H, jilid 2, hlm. 114–118.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau duduk bersama orang-orang miskin, menerima undangan mereka, makan bersama mereka, mengundang mereka ke rumahnya, dan tidak menahan apa yang ada di rumahnya dari mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 411; Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 14, hlm. 181.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau membebaskan budak-budak dan [[hamba sahaya]]nya sebagai balasan atas perilaku baik mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 70, hlm. 196–197; Ibnu Hazm, Al-Muhalla, penelitian oleh Muhammad Syakir, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun, jilid 8, hlm. 515; Arbili, Ali bin Isa, &#039;&#039;Kasyf al-Ghummah fi Ma&#039;rifah al-A&#039;immah as&#039;&#039;, cetakan oleh Ali Fadhili, Qum, 1426 H, jilid 2, hlm. 476.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam sumber-sumber disebutkan bahwa beliau menunaikan [[haji]] dengan berjalan kaki sebanyak 25 kali.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 401; Ibnu Abd al-Barr, Al-Isti&#039;ab fi Ma&#039;rifah al-Ashab, penelitian oleh Ali Muhammad al-Bajawi, Beirut, Dar al-Jil, cetakan pertama, 1412 H, jilid 1, hlm. 397.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Istri dan Anak-anak==&lt;br /&gt;
[[Fail:Mosibat Karbala.jpg|250px|thumb|Lukisan &amp;quot;Musibah Karbala&amp;quot; dalam gaya lukisan kafe oleh Husain Qollar Aghasi]]&lt;br /&gt;
{{main|Daftar Istri dan Anak-anak Imam Husain as}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Syahrbanu]] adalah nama salah satu istri Imam, yang dikatakan sebagai putri Yazdegerd, raja Sasani, dan ibu dari [[Imam Sajjad as]]. Para peneliti kontemporer meragukan nasab Syahrbanu.&amp;lt;ref&amp;gt;Sebagai contoh, lihat: Muthahhari, Murtadha, &#039;&#039;Khidmat-e Mutaqabil-e Islam va Iran&#039;&#039;, Teheran, Penerbit Sadra, 1380 HS, hlm. 131–133; Syariati Ali, Tasyayyu&#039;-e Alawi va Tasyayyu&#039;-e Safawi, Teheran, Chapkhash, 1377 HS, hlm. 91; Syahidi, Sayid Ja&#039;far, Zindagani Ali bin al-Husain, Teheran, Daftar Nasyr Farhang, 1365 HS, hlm. 12.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu istri Imam lainnya adalah [[Rabab]], putri Amru al-Qais bin Adi. Dia adalah ibu dari [[Sukainah binti Husain|Sukainah]] dan [[Abdullah bin al-Husain|Abdullah]].&amp;lt;ref&amp;gt;Isfahani, Abul Faraj, &#039;&#039;Maqatil al-Thalibiyyin&#039;&#039;, penelitian oleh Ahmad Saqr, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, tanpa tahun, hlm. 59; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 135.&amp;lt;/ref&amp;gt; Rabab hadir di [[Karbala]] dan bersama para tawanan pergi ke [[Syam]].&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1408 H, jilid 8, hlm. 229.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sebagian besar sumber menyebutkan bahwa Abdullah (Ali Asghar) masih bayi saat syahid.&amp;lt;ref&amp;gt;Mus&#039;ab bin Abdullah, Kitab Nasab Quraisy, cetakan oleh Levi Provencal, Kairo, 1953 M, jilid 1, hlm. 59; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 468; Bukhari, Sahl bin Abdullah, Sirr al-Silsilah al-Alawiyah, cetakan oleh Muhammad Sadiq Bahar al-Ulum, Najaf, 1381 H, jilid 1, hlm. 30.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Laila binti Abi Murrah|Layla]], putri Abi Murrah bin Urwah bin Mas&#039;ud al-Tsaqafi,&amp;lt;ref&amp;gt;Mus&#039;ab bin Abdullah, &#039;&#039;Kitab Nasab Quraisy&#039;&#039;, cetakan oleh Levi Provencal, Kairo, 1953 M, hlm. 57; Yaqubi, Ahmad bin Abi Yaqub, Tarikh al-Yaqubi, Beirut, Dar Sadir, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 246–247; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 446.&amp;lt;/ref&amp;gt; adalah nama salah satu istri Imam lainnya. Dia adalah ibu dari [[Ali Akbar as]]&amp;lt;ref&amp;gt;Maqrizi, Taqiyuddin, Imta&#039; al-Asma&#039; bima li al-Nabi min al-Ahwal wa al-Amwal wa al-Hafadah wa al-Mata&#039;, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1420 H, jilid 6, hlm. 269.&amp;lt;/ref&amp;gt; yang syahid dalam [[Peristiwa Karbala]].&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 446; Isfahani, Abul Faraj, Maqatil al-Thalibiyyin, penelitian oleh Ahmad Saqr, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, tanpa tahun, hlm. 80.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Umm Ishaq binti Thalhah bin Ubaidullah|Umm Ishaq]], putri Thalhah bin Ubaidullah, juga dianggap sebagai salah satu istri Imam Husain as. Dia adalah ibu dari [[Fatimah binti Husain|Fatimah]], putri sulung Imam Husain as.&amp;lt;ref&amp;gt;Isfahani, Abul Faraj, Kitab al-Aghani, Kairo, 1383 H, jilid 21, hlm. 78.&amp;lt;/ref&amp;gt; Umm Ishaq sebelumnya adalah istri [[Imam Hasan Mujtaba as]] dan setelah syahidnya Imam Hasan, dia menikah dengan Imam Husain as.&amp;lt;ref&amp;gt;Isfahani, Abul Faraj, Kitab al-Aghani, Kairo, 1383 H, jilid 21, hlm. 78.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Thalhah al-Syafi&#039;i dalam kitab [[Mathalib al-Su&#039;ul fi Manaqib Al al-Rasul]] menyebutkan bahwa Imam memiliki sepuluh anak.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Thalhah al-Syafi&#039;i, Mathalib al-Su&#039;ul fi Manaqib Al al-Rasul, cetakan oleh Majid bin Ahmad Athiyah, tanpa tempat, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 69.&amp;lt;/ref&amp;gt; Namun, beberapa sumber menyebutkan bahwa Imam memiliki empat putra dan dua putri&amp;lt;ref&amp;gt;Mus&#039;ab bin Abdullah, Kitab Nasab Quraisy, cetakan oleh Levi Provencal, Kairo, 1953 M, jilid 1, hlm. 57–59; Bukhari, Sahl bin Abdullah, Sirr al-Silsilah al-Alawiyah, cetakan oleh Muhammad Sadiq Bahar al-Ulum, Najaf, 1381 H, jilid 1, hlm. 30; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 135.&amp;lt;/ref&amp;gt; atau enam putra dan tiga putri.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Dalail al-Imamah, Beirut, Muassasah al-A&#039;lami lil Mathbu&#039;at, 1408 H, jilid 1, hlm. 74; Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 4, hlm. 77; Ibnu Thalhah al-Syafi&#039;i, Mathalib al-Su&#039;ul fi Manaqib Al al-Rasul, cetakan oleh Majid bin Ahmad Athiyah, tanpa tempat, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 69.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam kitab [[Lubab al-Ansab]]&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Funduq al-Baihaqi, Ali bin Zaid, Lubab al-Ansab wa al-Alqab wa al-A&#039;qab, penelitian oleh Mahdi Rajai, Qum, Maktabah Ayatullah al-Mar&#039;asyi, 1385 HS, hlm. 355.&amp;lt;/ref&amp;gt; dari sumber abad keenam, disebutkan tentang seorang putri bernama [[Ruqayyah binti Husain|Ruqayyah]], dan dalam kitab [[Kamil al-Bahai]] dari sumber abad ketujuh, disebutkan tentang seorang putri berusia empat tahun yang meninggal di [[Syam]].&amp;lt;ref&amp;gt;Kasyifi Sabzawari, Mulla Husain, Rawdhah al-Syuhada, Qum, Nawaid Islam, 1382 HS, hlm. 484.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Masa Tiga Khalifah==&lt;br /&gt;
Sedikit informasi sejarah yang dilaporkan tentang periode 25 tahun kehidupan Imam Husain as selama masa tiga khalifah.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammadi Rey Shahri, Muhammad dan kawan-kawan, Ensiklopedia Imam Husain as, terjemahan oleh Muhammad Muradi, Qum, Dar al-Hadits, 1430 H, jilid 2, hlm. 325.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dikatakan bahwa beliau menikmati penghormatan khusus dari khalifah kedua.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 14, hlm. 175; Sibth bin al-Jauzi, Tadhkirah al-Khawash, Qum, Mansyurat al-Syarif al-Radhi, cetakan pertama, 1418 H, hlm. 211–212.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada laporan tentang Imam Husain as selama masa pemerintahan Utsman, di mana Imam bersama ayah dan saudaranya mengantar Abu Dzar, yang diasingkan oleh khalifah ketiga ke Rabdzah, meskipun bertentangan dengan perintah khalifah.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1365 HS, jilid 8, hlm. 206–207; Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, 1385–1387 H, jilid 8, hlm. 253–254.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa sumber [[Ahlusunah]] menyebutkan kehadiran beliau bersama saudaranya dalam beberapa penaklukan seperti Afrika pada tahun 26 H&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Khaldun, Al-&#039;Ibar, 1401 H, jilid 2, hlm. 573–574.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan [[Tabaristan]] pada tahun 30 H.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 4, hlm. 269.&amp;lt;/ref&amp;gt; Namun, laporan semacam ini tidak ditemukan dalam sumber Syiah. Beberapa peneliti Syiah seperti [[Ja&#039;far Murtadha Amili]] menganggap laporan-laporan ini sebagai palsu.&amp;lt;ref&amp;gt;Ja&#039;far Murtadha, Al-Hayah al-Siyasiyah lil Imam al-Hasan, Dar al-Sirah, hlm. 158.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Kehadiran Imam Hasan as dan Imam Husain as dalam Penaklukan Iran}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu laporan lain yang menyebutkan Imam Husain as adalah pemberontakan terhadap Utsman dan pembunuhan khalifah. Imam bersama saudaranya, Imam Hasan as, meskipun tidak senang dengan kinerja khalifah, melindungi rumah Utsman.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 59; Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 5, hlm. 558.&amp;lt;/ref&amp;gt; Laporan ini memiliki pendukung dan penentang di antara para peneliti Syiah.&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammadi Rei Shahri, Muhammad dan kawan-kawan, Ensiklopedia Imam Husain as, terjemahan oleh Muhammad Muradi, Qum, Dar al-Hadits, 1430 H, jilid 2, hlm. 331–332.&amp;lt;/ref&amp;gt; [[Sayid Murtadha]] setelah meragukan pengiriman Hasanain as oleh Amirul Mukminin as, menyatakan bahwa alasannya adalah untuk mencegah pembunuhan sengaja terhadap Utsman dan memberikan air serta makanan kepada keluarganya, bukan untuk mencegah pencopotan Utsman dari kekhalifahan, karena Utsman layak dicopot karena tindakan-tindakannya yang tidak pantas.&amp;lt;ref&amp;gt;Sayid Murtadha, Ali bin Husain, &#039;&#039;Al-Syafi fi al-Imamah&#039;&#039;, Qum, Muassasah Ismailiyan, cetakan kedua, 1410 H, jilid 4, hlm. 242.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Pertahanan Imam Hasan as dan Imam Husain as atas Rumah Utsman}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Masa Pemerintahan Imam Ali as==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat sedikit laporan tentang Imam Husain as selama masa pemerintahan Imam Ali as. Salah satunya adalah bahwa beliau membacakan khutbah setelah [[baiat]] masyarakat kepada [[Amirul Mukminin as]].&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, &#039;&#039;Bihar al-Anwar al-Jami&#039;ah li Durar Akhbar al-A&#039;immah al-Athhar&#039;&#039;, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 HS, jilid 10, hlm. 121.&amp;lt;/ref&amp;gt; Kehadiran Imam Husain as dalam Perang Jamal dan kepemimpinannya atas sayap kiri pasukan Imam Ali as tercatat dalam berbagai sumber.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Muhammad bin Nu&#039;man, Al-Jamal wa al-Nusrah li Sayid al-Itrah fi Harb al-Basrah, Qum, Kongres Syekh Mufid, 1413 H, hlm. 348; Dzahabi, Syamsuddin, Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A&#039;lam, Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, cetakan kedua, 1409 H, jilid 3, hlm. 485.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau juga hadir dalam [[Perang Shiffin|Perang Shiffin]] dan menjadi salah satu komandan sayap kanan pasukan.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu A&#039;tsam, Ahmad, Al-Futuh, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, 1411 H, jilid 3, hlm. 24; Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, &#039;&#039;Manaqib Al Abi Thalib&#039;&#039;, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 3, hlm. 168.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam Husain as membacakan khutbah untuk mendorong masyarakat berjihad&amp;lt;ref&amp;gt;Manqari, Nashr bin Muzahim, Waq&#039;ah Shiffin, penelitian oleh Abdussalam Muhammad Harun, Kairo, 1382 H, hlm. 114–115.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan terlibat dalam upaya merebut kembali air dari pasukan Syam.&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar al-Jami&#039;ah li Durar Akhbar al-A&#039;immah al-Athhar, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 HS, jilid 44, hlm. 266.&amp;lt;/ref&amp;gt; Meskipun demikian, disebutkan bahwa berdasarkan laporan-laporan terkait Perang Shiffin, Imam Ali as mencegah Hasanain as untuk ikut berperang, dengan alasan menjaga keturunan Nabi saw.&amp;lt;ref&amp;gt;Arbili, Ali bin Isa, Kasyf al-Ghummah fi Ma&#039;rifah al-A&#039;immah, Qum, Radhi, cetakan pertama, 1421 H, jilid 1, hlm. 569; Sayid Radhi, Muhammad bin Husain, Nahj al-Balaghah, penelitian oleh Shubhi Shalih, Qum, Hijrah, 1414 H, khutbah 207, hlm. 323.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ada juga laporan tentang kehadirannya dalam [[Perang Nahrawan]].&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Abd al-Barr, Al-Isti&#039;ab fi Ma&#039;rifah al-Ashab, penelitian oleh Ali Muhammad al-Bajawi, Beirut, Dar al-Jail, cetakan pertama, 1412 H, jilid 3, hlm. 939.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak sumber menyebutkan bahwa Imam Husain as berada di sisi Imam Ali as saat [[syahid]]&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 147.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan hadir dalam prosesi pemakamannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 181; Syekh Mufid, Muhammad bin Nu&#039;man, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Beirut, 1414 H; jilid 1, hlm. 25.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dikatakan bahwa Imam Husain as sedang menjalankan misi di [[Mada&#039;in]] ketika ayahnya terluka, dan setelah menerima surat dari Imam Hasan as, beliau kembali ke Kufah.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 HS, jilid 3, hlm. 220; Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 2, hlm. 497–498.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Masa Imam Hasan as==&lt;br /&gt;
Husain bin Ali as selama masa imamah dan pemerintahan saudaranya, [[Imam Hasan as]], menunjukkan penghormatan yang besar kepadanya. Bahkan disebutkan bahwa beliau sepenuhnya taat pada perintah saudaranya dan tidak berbicara dalam majelis di mana Imam Hasan as hadir.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 HS, jilid 1, hlm. 291; Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 3, hlm. 401.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ketaatan dan kepatuhannya kepada saudaranya sedemikian rupa sehingga beliau menolak permintaan baiat dari beberapa kelompok Khawarij yang bersikeras untuk berperang melawan pasukan Syam.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 184.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as mendukung saudaranya dalam peristiwa [[perdamaian dengan Muawiyah]] dan mengonfirmasi tindakannya&amp;lt;ref&amp;gt;Dinawari, Ahmad bin Dawud, Al-Akhbar al-Thiwal, penelitian oleh Abdulmun&#039;im Amir dengan tinjauan oleh Jamaluddin Syial, Qum, Mansyurat Radhi, 1368 HS, hlm. 221.&amp;lt;/ref&amp;gt; serta menegaskan imamahnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thusi, Ikhtiyar Ma&#039;rifah al-Rijal (Rijal al-Kasyi), Masyhad, Universitas Masyhad, 1348 HS, hlm. 110.&amp;lt;/ref&amp;gt; Meskipun demikian, beberapa laporan menyebutkan bahwa beliau tidak berbaiat kepada Muawiyah&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu A&#039;tsam, Ahmad, Al-Futuh, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, 1411 H, jilid 4, hlm. 292; Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 4, hlm. 35.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan merasa tidak puas dengan tindakan saudaranya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 160; Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 13, hlm. 267.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as setelah perdamaian dengan Muawiyah pada [[tahun 41 H]], kembali dari [[Kufah]] ke [[Madinah]] bersama saudaranya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, hlm. 165; Ibnu Jauzi, Abdurrahman bin Ali, Al-Muntazam fi Tarikh al-Umam wa al-Muluk, penelitian oleh Muhammad Abdulqadir Atha dan Mustafa Abdulqadir Atha, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1992 M, jilid 5, hlm. 184.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Masa Imamah==&lt;br /&gt;
[[Fail:Emam hossein.jpg|250px|thumb|Lukisan rakyat tentang Imam Husain as karya Muhammad Tajwidi, gouache, 1351 HS.&amp;lt;ref&amp;gt;Yasini, Radhiyah, «[https://negareh.shahed.ac.ir/article_356_d795c939486fd14a24bfb563a741891d.pdf Perkembangan Seni Lukis Islam Iran dari Penafian hingga Penyerupaan]» hlm. 14.&amp;lt;/ref&amp;gt;]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as menjadi [[imam]] setelah [[syahid]]nya saudaranya pada tahun [[50 H]] dan memegang imamah hingga tahun [[61 H]].&amp;lt;ref&amp;gt;Shabiri, Husain, Tarikh Firaq Islamiyah Firaq Syiah wa Firaq Mansub biha, Teheran, Samt, cetakan kelima, 1388 HS, jilid 1, hlm. 181.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ulama Syiah, selain argumen umum untuk membuktikan [[imamah dua belas imam]],&amp;lt;ref&amp;gt;Sebagai contoh, lihat: Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali bin Babawaih, Al-I&#039;tiqadat al-Imamiyah, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan kedua, 1414 H, hlm. 104; Ibnu Babawaih al-Qummi, Abul Hasan bin Ali, Al-Imamah wa al-Tabshirah min al-Hairah, penelitian: Ali Akbar Ghaffari, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1363 HS, hlm. 104.&amp;lt;/ref&amp;gt; juga merujuk pada argumen khusus tentang imamah Husain bin Ali as, termasuk riwayat dari [[Nabi saw]] yang menyebutnya sebagai imam.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Muhammad bin Nu&#039;man, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Beirut, 1414 H; jilid 2, hlm. 30.&amp;lt;/ref&amp;gt; Sebagaimana penegasan Imam Ali as tentang imamah Husain as setelah [[Imam Hasan as]]&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 HS, jilid 1, hlm. 297.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan pengenalan beliau oleh Imam Hasan sebagai imam setelahnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 HS, jilid 1, hlm. 301.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Husain as setelah syahidnya Imam Hasan as tidak melanggar baiatnya kepada Muawiyah.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, pertama, 1413 H, jilid 2, hlm. 32.&amp;lt;/ref&amp;gt; Bahkan beliau menolak permintaan sebagian Syiah untuk mengumpulkan pasukan dan berperang melawan Muawiyah karena menjaga janji dan membela tindakan saudaranya.&amp;lt;ref&amp;gt;Dinawari, Ahmad bin Dawud, Al-Akhbar al-Thiwal, penelitian oleh Abdulmun&#039;im Amir dengan tinjauan oleh Jamaluddin Syial, Qum, Mansyurat Radhi, 1368 HS, hlm. 220.&amp;lt;/ref&amp;gt; Beliau menunda keputusan dalam hal ini hingga setelah kematian Muawiyah.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, hlm. 150.&amp;lt;/ref&amp;gt; Menurut Syekh Mufid, Imam Husain as hingga kematian Muawiyah tidak mengajak masyarakat kepada dirinya karena [[taqiyah]] dan perjanjian yang dibuat dalam peristiwa [[perdamaian Imam Hasan]]. Namun, setelah kematian Muawiyah, beliau menjelaskan kedudukannya kepada mereka yang tidak mengetahuinya.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Muhammad bin Nu&#039;man, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifat Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Beirut, 1414 H, jilid 2, hlm. 31.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Sikap Terhadap Tindakan Muawiyah==&lt;br /&gt;
Menurut sumber sejarah, Imam Husain as tidak melakukan tindakan melawan pemerintahan Muawiyah, tetapi beberapa sejarawan berdasarkan beberapa bukti dan percakapan antara mereka meyakini bahwa Imam as secara politik tidak menerima legitimasi Muawiyah.&amp;lt;ref&amp;gt;Ja&#039;fariyan, Rasul, Hayat Fikri wa Siyasi Imamane Syiah, Qum, Anshariyan, cetakan keenam, 1381 HS, hlm. 175.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan dalam beberapa kasus menentang kebijakan Muawiyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Protes Imam Husain as terhadap tindakan Muawiyah dalam membunuh orang-orang seperti [[Hujr bin Adi]], [[Amr bin Hamq al-Khuza&#039;i]], dan [[Abdullah bin Yahya al-Hadhrami]] tercatat dalam berbagai sumber.&amp;lt;ref&amp;gt;Dinawari, Ahmad bin Dawud, Al-Akhbar al-Thiwal, penelitian oleh Abdulmun&#039;im Amir dengan tinjauan oleh Jamaluddin Syial, Qum, Mansyurat Radhi, 1368 HS, hlm. 224–225; Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 5, hlm. 120–121; Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 202–204.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam dalam suratnya kepada Muawiyah mengecam pembunuhan para sahabat Imam Ali as dan mengecam tindakan buruk Muawiyah, menyebut jihad melawannya sebagai keharusan untuk menghidupkan agama dan menganggap pemerintahannya sebagai fitnah besar bagi [[umat]] Islam.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, penelitian oleh Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 5, hlm. 121–122; Ibnu Sa&#039;ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, hlm. 440; Thusi, Ikhtiyar Ma&#039;rifah al-Rijal (Rijal al-Kasyi), Masyhad, Universitas Masyhad, 1348 HS, hlm. 50; Dzahabi, Syamsuddin, Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A&#039;lam, Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, cetakan kedua, 1409 H, jilid 5, hlm. 6; Ibnu Asakir, Ali bin Hasan, Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1415 H, jilid 14, hlm. 206.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Muawiyah pada tahun 56 H, bertentangan dengan ketentuan [[perjanjian damai Imam Hasan]] yang melarang penunjukan penerus, mengajak masyarakat untuk berbaiat kepada Yazid,&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun, jilid 8, hlm. 79.&amp;lt;/ref&amp;gt; beberapa tokoh, termasuk Imam Husain as, menolak berbaiat.&amp;lt;ref&amp;gt;http://ensani.ir/fa/article/45732/&amp;lt;/ref&amp;gt; Muawiyah pergi ke Madinah untuk mendapatkan dukungan para tokoh kota tersebut untuk penunjukan Yazid sebagai putra mahkota.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 204.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam Husain dalam sebuah majelis yang dihadiri oleh Muawiyah, [[Ibnu Abbas]], dan beberapa pejabat serta keluarga Umayyah, mengecam Muawiyah dan memperingatkannya untuk tidak berusaha menjadikan Yazid sebagai penerus. Beliau menegaskan kedudukan dan haknya serta membantah argumen Muawiyah untuk mendapatkan baiat kepada Yazid.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, penelitian oleh Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, hlm. 208–209.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sebuah majelis lain yang dihadiri oleh masyarakat umum, Imam Husain menanggapi ucapan Muawiyah tentang kelayakan Yazid. Beliau menyatakan bahwa dirinya lebih layak secara individu dan keluarga untuk menjadi khalifah, sementara Yazid digambarkan sebagai pemabuk dan pengikut hawa nafsu.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qutaibah al-Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, tahqiq Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan pertama, 1410 H, jilid 1, halaman 211.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 58 Hijriah, Imam Husain as menyampaikan khutbah protes di Mina akibat tekanan Muawiyah terhadap Syiah.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok peneliti sejarah, Tarikh Qiyam wa Maqtal Jami&#039; Sayid al-Syuhada, 1389 H, jilid 1, halaman 392.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam khutbah ini, beliau menyebutkan keutamaan Amirul Mukminin as dan Ahlul Bait, mengajak untuk melakukan amar ma&#039;ruf nahi munkar, menekankan pentingnya tugas ini dalam Islam, serta menjelaskan kewajiban ulama untuk bangkit melawan para penindas dan bahaya diamnya ulama di hadapan penguasa zalim.&amp;lt;ref&amp;gt;Harrani, Hasan bin Syu&#039;bah, Tuhaf al-&#039;Uqul, Qum, Jamaah Mudarrisin, 1404 H, halaman 68.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Ketidakbangkitannya Imam Husain as pada masa Muawiyah}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Reaksi Terhadap Kekhalifahan Yazid==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kematian Muawiyah pada 15 Rajab tahun 60 Hijriah, Yazid naik takhta.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 155; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 32.&amp;lt;/ref&amp;gt; Untuk melegitimasi pemerintahannya, Yazid berusaha memaksa para tokoh besar seperti Imam Husain as yang menolak baiat kepadanya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 338.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam Husain as menolak untuk berbaiat&amp;lt;ref&amp;gt;Abu Mikhnaf, Maqtal al-Husain as, tahqiq dan ta&#039;liq Husain al-Ghaffari, Qum, Mathba&#039;ah Ilmiyah, tanpa tahun, halaman 5; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 33.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan pergi bersama keluarga serta pengikutnya dari Madinah ke Mekah.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 160; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 34.&amp;lt;/ref&amp;gt; Di sana, beliau disambut oleh masyarakat dan para jamaah umrah.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 156; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 36.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam tinggal di kota ini selama lebih dari empat bulan.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 66.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syiah Kufah yang mengetahui penolakan Imam untuk berbaiat mengirim surat-surat yang mengundang beliau ke Kufah.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 157–159; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 36–38.&amp;lt;/ref&amp;gt; Husain bin Ali mengutus Muslim bin Aqil ke Kufah untuk memastikan situasi. Setelah melihat sambutan dan baiat masyarakat, Muslim memanggil Imam Husain ke Kufah.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 41.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam kemudian berangkat bersama keluarga dan pengikutnya pada tanggal 8 Dzulhijjah dari Mekah menuju Kufah.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 160; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 66.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut beberapa laporan, Imam Husain as mengetahui adanya rencana pembunuhan terhadap dirinya di Mekah. Untuk menjaga kesucian Mekah, beliau meninggalkan kota tersebut menuju Irak.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Sa&#039;d, Al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan kedua, 1418 H, jilid 10, halaman 450; Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun, jilid 8, halaman 159 dan 161.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Aktivitas Politik Imam Husain as Sebelum Qiyam}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Peristiwa Karbala==&lt;br /&gt;
{{poem|Ketika kekhalifahan terlepas dari Al-Qur&#039;an|Racun kebebasan dituangkan ke dalam mulut|Di tanah Karbala, hujan turun dan pergi|Bunga lalale tumbuh di reruntuhan|Hingga hari kiamat, ia menghentikan tirani|Gelombang darahnya menciptakan taman|Darahnya menjelaskan rahasia ini|Membangunkan umat yang tertidur|Pedang &amp;quot;La&amp;quot; ia hunus|Mengalirkan darah para pengikut kebatilan|Rahasia Al-Qur&#039;an kami pelajari dari Husain|Dari apinya, kami menyimpan nyala|Wahai angin, wahai utusan yang jauh|Sampaikan air mata kami ke tanah sucinya&amp;lt;ref&amp;gt;Iqbal Lahori, Ramuz-e-Bekhudi, &amp;quot;[https://ganjoor.net/iqbal/romooz-bikhodi/sh13 Bagian 13, tentang makna kebebasan Islam dan rahasia peristiwa Karbala]&amp;quot;&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
|Align = kiri&lt;br /&gt;
|Judul= Tentang Makna Kebebasan Islam dan Rahasia Peristiwa Karbala&lt;br /&gt;
|Penyair= Iqbal Lahori}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peristiwa Karbala terjadi akibat penolakan Imam Husain as untuk berbaiat kepada Yazid. Husain as memenuhi undangan penduduk Kufah dan berangkat bersama keluarga serta pengikutnya menuju Kufah. Namun, di daerah bernama Dzuhusam, beliau dihadang oleh pasukan yang dipimpin oleh Hurr bin Yazid al-Riyahi dan terpaksa mengubah rute perjalanannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 408; Ibnu Miskawaih, Ahmad bin Muhammad, Tajarib al-Umam wa Ta&#039;aqub al-Himam, tahqiq: Abu al-Qasim Imami, Teheran, Surush, 1379 H; jilid 2, halaman 67; Ibnu Atsir, Ali bin Abi al-Karam, Al-Kamil fi al-Tarikh, Beirut, Dar Shadir, 1965 M, jilid 4, halaman 51.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kafilah Imam tiba di Karbala pada tanggal 2 Muharram&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu A&#039;tsam, Ahmad, Al-Futuh, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, 1411 H, jilid 5, halaman 83; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 409; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 84; Ibnu Miskawaih, Ahmad bin Muhammad, Tajarib al-Umam wa Ta&#039;aqub al-Himam, tahqiq: Abu al-Qasim Imami, Teheran, Surush, 1379 H, jilid 2, halaman 68.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan pada tanggal 3 Muharram, pasukan dari Kufah yang dipimpin oleh Umar bin Sa&#039;ad tiba di Karbala.&amp;lt;ref&amp;gt;Dinawari, Ahmad bin Dawud, Al-Akhbar al-Thiwal, tahqiq Abdul Mun&#039;im Amir, Qum, Mansyurat Razi, 1368 H, halaman 253; Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 176; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 409; Ibnu Atsir, Ali bin Abi al-Karam, Al-Kamil fi al-Tarikh, Beirut, Dar Shadir, 1965 M, jilid 4, halaman 52.&amp;lt;/ref&amp;gt; Menurut laporan sejarah, beberapa perundingan terjadi antara Husain bin Ali dan Umar bin Sa&#039;ad;&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 414; Ibnu Miskawaih, Ahmad bin Muhammad, Tajarib al-Umam wa Ta&#039;aqub al-Himam, tahqiq: Abu al-Qasim Imami, Teheran, Surush, 1379 H; jilid 2, halaman 71.&amp;lt;/ref&amp;gt; namun Ibnu Ziyad hanya menerima baiat Husain as kepada Yazid atau perang.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 182; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 414; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 88.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada malam Asyura, Imam Husain as melepas baiat dari para pengikutnya setelah menyampaikan pidato; namun mereka menegaskan kesetiaan dan dukungan mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 91–94.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertempuran dimulai pada pagi hari Asyura. Setelah para sahabat dan kerabat Imam as gugur,&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 446; Isfahani, Abu al-Faraj, Maqatil al-Thalibiyyin, tahqiq Ahmad Saqr, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, tanpa tahun, halaman 80.&amp;lt;/ref&amp;gt; Imam sendiri maju ke medan perang dan gugur sebagai syahid pada sore hari.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad, 1413 H, jilid 2, halaman 112.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
{{see also|Daftar Syuhada Karbala}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syamr bin Dzil Jausyan&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 112; Khuwarizmi, Muaffaq bin Ahmad, Maqtal al-Husain as, Qum, Anwar al-Huda, cetakan kedua, 1423 H, jilid 2, halaman 41; Thabarsi, Fadhl bin Hasan, I&#039;lam al-Wara bi A&#039;lam al-Huda, Teheran, Islamiyah, 1390 H, jilid 1, halaman 469.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan menurut riwayat lain, Sinan bin Anas&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 450–453; Ibnu Sa&#039;d, Al-Thabaqat al-Kubra, cetakan Ihsan Abbas, Beirut, 1968, jilid 6, halaman 441; Isfahani, Abu al-Faraj, Maqatil al-Thalibiyyin, tahqiq Ahmad Saqr, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, tanpa tahun, halaman 118; Mas&#039;udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jilid 3, halaman 62.&amp;lt;/ref&amp;gt; memenggal kepala beliau dan mengirimkannya kepada Ibnu Ziyad pada hari yang sama.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 411; Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 456.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Pembunuh Imam Husain as}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluarga Imam Husain as ditawan dan dibawa ke Kufah, kemudian ke Syam.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 456.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{see also|Lama Masa Penawanan Ahlul Bait as Setelah Peristiwa Karbala}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jenazah Imam Husain as dan para syuhada Karbala dimakamkan pada tanggal 11&amp;lt;ref&amp;gt;Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H, jilid 5, halaman 455.&amp;lt;/ref&amp;gt; atau 13 Muharram oleh sekelompok orang dari Bani Asad, dan menurut riwayat lain, dengan kehadiran Imam Sajjad as di tempat syahid.&amp;lt;ref&amp;gt;Musawi al-Muqarram, Abdul Razzaq, Maqtal al-Husain as, Beirut, Dar al-Kitab al-Islamiyah, halaman 335–336.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Fail:حرم امام حسین.jpg|250px|thumb|Foto tertua yang diyakini sebagai Haram Imam Husain as]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Reaksi Terhadap Peristiwa Karbala==  &lt;br /&gt;
Kebangkitan Imam Husain as dan kesyahidannya menimbulkan banyak reaksi dan memicu gerakan revolusioner serta protes selama bertahun-tahun, seperti Kebangkitan Tawwabin, Kebangkitan Mukhtar, Kebangkitan Zaid bin Ali, dan Kebangkitan Yahya bin Zaid.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, dalam Kebangkitan Siyah Jamegan yang dipimpin oleh Abu Muslim al-Khurasani—yang mengakibatkan kejatuhan Dinasti Umayyah—slogan &amp;quot;Ya Latharat al-Husain&amp;quot; (Wahai Penuntut Balas Kematian Husain) digunakan.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 9, halaman 317.&amp;lt;/ref&amp;gt; Revolusi Islam Iran juga dianggap terinspirasi oleh kebangkitan Imam Husain as.&amp;lt;ref&amp;gt;[http://farsi.rouhollah.ir/library/sahifeh?volume=17&amp;amp;tid=22 Khomeini, Sahifeh Nur, 1379 H, jilid 17, halaman 58.]&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat banyak riwayat yang meramalkan kesyahidan Husain bin Ali as.&amp;lt;ref&amp;gt;Rei Syahri, Danesyameh Imam Husain, 1388 H, jilid 3, halaman 166–317.&amp;lt;/ref&amp;gt; Salah satunya adalah Hadits Lauh yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad (saw), di mana Allah memuliakan Husain dengan kesyahidan dan menjadikannya sebagai syahid terbaik.&amp;lt;ref&amp;gt;Kulaini, Muhammad bin Ya&#039;qub, Al-Kafi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1362 H, jilid 1, halaman 528; Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Ghaibah, Qum, Dar al-Ma&#039;arif al-Islamiyah, 1411 H, halaman 145.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tujuan Kebangkitan==  &lt;br /&gt;
Terdapat berbagai pandangan mengenai tujuan Imam Husain as dalam kebangkitannya. Beberapa ulama seperti Luthfullah Shafi, Murtadha Muthahhari, Sayid Muhsin Amin, dan Ali Syariati menyatakan bahwa tujuan Husain bin Ali as adalah untuk mencapai syahid.&amp;lt;ref&amp;gt;Esfandiyari, Asyura Syenasi, 1387 H, halaman 157.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayid Murtadha&amp;lt;ref&amp;gt;Sayid Murtadha, Ali bin Husain, Tanzih al-Anbiya, Beirut, Dar al-Adhwa&#039;, cetakan kedua, 1409 H, halaman 227–228.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan ulama kontemporer seperti Shalehi Najaf Abadi menyatakan bahwa tujuan Imam adalah untuk membentuk pemerintahan.&amp;lt;ref&amp;gt;Shalehi Najaf Abadi, Nimatullah, Syahid Javid, Teheran, Omid Farda, 1387 H, halaman 157–158.&amp;lt;/ref&amp;gt; Selain itu, ada juga pandangan lain seperti tujuan untuk menyelamatkan nyawa.&amp;lt;ref&amp;gt;Asytahardi, Ali Panah, Haft Saleh Chera Seda Dar Avard?, Qum, Penerbit Allamah, cetakan pertama, 1391 H, halaman 154.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{Lihat juga|Kebangkitan Asyura: Gerakan Ilahi atau Keinginan Rakyat?|Kesadaran Imam Husain as tentang Akhir Kebangkitan}}  &lt;br /&gt;
[[File:Tazie ashora.jpg|thumb|Bagian dari tradisi Taziyah|280x280px]]  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kebangkitan Imam dalam Pandangan Ahlusunah==  &lt;br /&gt;
{{Lihat juga|Pandangan Al-Ghazali tentang Kebangkitan Imam Husain as}}  &lt;br /&gt;
Di kalangan Ahlusunah, terdapat dua pandangan tentang Kebangkitan Imam Husain as: sebagian mengkritiknya, sementara banyak yang memujinya.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Khaldun, sejarawan Ahlusunah abad ke-9, menekankan bahwa syarat untuk memerangi para penindas adalah adanya pemimpin yang adil. Ia menyebut Husain as sebagai orang yang paling adil untuk memimpin perlawanan ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, Beirut, Dar al-Fikr, 1401 H, jilid 1, halaman 217.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ia juga menyatakan bahwa ketika kefasikan Yazid menjadi jelas bagi semua orang, Husain merasa wajib untuk bangkit melawannya karena ia merasa memiliki kelayakan dan kekuatan untuk melakukannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jilid 1, halaman 216.&amp;lt;/ref&amp;gt; Syihabuddin Alusi, ulama Ahlusunah abad ke-13, dalam kitab Ruh al-Ma&#039;ani, mengkritik dan mengutuk Ibnu Arabi yang mencela Imam Husain. Ia menyatakan bahwa klaim Ibnu Arabi tentang kebangkitan Husain sebagai sumber kejahatan dan ketidakbaikan adalah dusta dan fitnah besar.&amp;lt;ref&amp;gt;Alusi, Ruh al-Ma&#039;ani, tahqiq: Ali Abdul Bari Athiyah, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1415 H, jilid 13, halaman 228.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abbas Mahmud Al-Aqqad, penulis dan sastrawan Mesir abad ke-14, dalam bukunya Abu al-Syuhada: Al-Husain bin Ali, menulis bahwa situasi pada masa Yazid telah mencapai titik di mana hanya syahid yang dapat menyelesaikannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Aqqad, Abbas Mahmud, Abu al-Syuhada Al-Husain bin Ali, Teheran, Al-Majma&#039; al-Alami li al-Taqrib, cetakan kedua, 1429 H, halaman 207.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ia percaya bahwa kebangkitan seperti ini hanya dapat dilakukan oleh manusia langka yang diciptakan untuk tujuan ini, dan gerakan mereka tidak dapat dibandingkan dengan orang lain karena mereka memahami dan menuntut sesuatu yang berbeda.&amp;lt;ref&amp;gt;Aqqad, Abbas Mahmud, Abu al-Syuhada Al-Husain bin Ali, Teheran, Al-Majma&#039; al-Alami li al-Taqrib, cetakan kedua, 1429 H, halaman 141.&amp;lt;/ref&amp;gt; Thaha Husain, penulis Ahlusunah, berpendapat bahwa penolakan Husain untuk berbaiat bukan karena keras kepala, tetapi karena ia tahu bahwa berbaiat kepada Yazid berarti mengkhianati hati nuraninya dan bertentangan dengan agamanya, karena baginya berbaiat kepada Yazid adalah dosa.&amp;lt;ref&amp;gt;Husain, Thaha, Ali wa Banuh, Kairo, Dar al-Ma&#039;arif, tanpa tahun, halaman 239.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar Farrukh juga menekankan bahwa diam di hadapan kezaliman tidak dapat dibenarkan. Ia percaya bahwa umat Islam saat ini membutuhkan seorang &amp;quot;Husain&amp;quot; yang bangkit untuk membimbing kita ke jalan yang benar dalam membela kebenaran.&amp;lt;ref&amp;gt;Farrukh, Umar, Tajdid fi al-Muslimin la fi al-Islam, Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, tanpa tahun, halaman 152.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Tradisi Berkabung==  &lt;br /&gt;
Syiah dan bahkan non-Syiah melakukan tradisi berkabung untuk Imam Husain dan syuhada Karbala selama bulan Muharram. Syiah memiliki ritual berkabung yang umum, seperti pembacaan kisah tragedi Karbala (rawdhah), memukul dada (sineh-zani), pertunjukan teater tragedi Karbala (ta&#039;ziyah), dan membaca ziarah seperti Ziarah Asyura, Ziarah Warits, dan Ziarah Nahiyah Muqaddasah secara individu atau berkelompok.&amp;lt;ref&amp;gt;Lihat: [http://fa.abna24.com/news/اخبار-آسیای-شرقی/عزاداری-ماه-محرم-در-کشورهای-جنوب-شرقی-آسیا-برگزار-می‌شود_725804.html «Tradisi Berkabung Bulan Muharram di Negara Asia Tenggara», ABNA News Agency]; [http://www.beytoote.com/art/city-country/different-cities2-muharram.html «Adat dan Tradisi Masyarakat di Berbagai Kota Iran pada Bulan Muharram», Situs Beytoote.]&amp;lt;/ref&amp;gt; Tempat yang dikhususkan untuk berkabung disebut Husainiyah.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tradisi berkabung untuk Imam Husain as dimulai sejak hari-hari pertama setelah Asyura.&amp;lt;ref&amp;gt;Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, tahqiq Suhail Zakkar dan Riyadh Zarkali, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H, jilid 3, halaman 206.&amp;lt;/ref&amp;gt; Menurut sebuah riwayat, ketika tawanan Karbala tiba di Syam, para wanita Bani Hasyim berkabung selama beberapa hari dengan mengenakan pakaian hitam.&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 H, jilid 45, halaman 196.&amp;lt;/ref&amp;gt; Setelah berkuasanya pemerintahan Syiah dan berkurangnya tekanan terhadap Syiah, tradisi berkabung menjadi resmi.&amp;lt;ref&amp;gt;Aeinehvand, Sadeq dan Velayati, Ali Akbar, Sunnat Azadari wa Manqabat-Khani dar Tarikh Syiah Imamiyah, dengan pengantar Muhammad Taqi-Zadeh Davari, Qum, Muassasah Syiah-Syenasi, cetakan kedua, 1386 H, halaman 65–66, mengutip Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, jilid 11, halaman 183; Ibnu Jauzi, Abdul Rahman bin Ali, Al-Muntazam fi Tarikh Thabari, tahqiq Muhammad Abdul Qadir Atha dan Mustafa Abdul Qadir Atha, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1992 M, jilid 7, halaman 15.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sumber Syiah dan Ahlusunah disebutkan bahwa Nabi Muhammad (saw) menangis saat kelahiran Husain dan memberitakan kesyahidannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 129; Maqrizi, Taqiyuddin, Imta&#039; al-Asma&#039;, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1420 H, jilid 12, halaman 237; Ibnu Katsir, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun, jilid 6, halaman 230.&amp;lt;/ref&amp;gt; Menurut laporan sejarah dan hadis, para Imam Syiah sangat menekankan pentingnya berkabung dan menangis untuk mengenang Husain bin Ali, serta menganjurkan Syiah untuk menjaga ingatan tentang Asyura.&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 H, jilid 44, bab 34, halaman 278–296.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{Lihat juga|Perkembangan Tradisi Berkabung|Kesedihan dan Tangisan dalam Berkabung untuk Imam Husain as|Tradisi Berkabung Para Imam Syiah untuk Imam Husain as}}  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Makam Imam Husain as==  &lt;br /&gt;
[[File:Harram Imam Husain.jpg|thumb|Pemandangan Makam Imam Husain as pada tahun 1932 M.|250x250px]]  &lt;br /&gt;
Menurut laporan yang ada, bangunan pertama di atas makam Husain bin Ali as dibangun pada masa Mukhtar al-Tsaqafi atas perintahnya. Sejak saat itu, bangunan makam telah beberapa kali direnovasi dan diperluas.&amp;lt;ref&amp;gt;Al Tu&#039;mah, Salman Hadi, Karbala wa Haram-ha-ye Muthahhar, Teheran, Masyar, tanpa tahun, halaman 89–112.&amp;lt;/ref&amp;gt; Makam Imam Husain as beberapa kali dihancurkan oleh beberapa khalifah Abbasiyah&amp;lt;ref&amp;gt;Isfahani, Abu al-Faraj, Maqatil al-Thalibiyyin, tahqiq Ahmad Saqr, Beirut, Dar al-Ma&#039;rifah, tanpa tahun, halaman 477.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan kelompok Wahabi.&amp;lt;ref&amp;gt;Kelompok penulis, Negahi Now be Jaryan-e Asyura, 1387 H, halaman 425.&amp;lt;/ref&amp;gt; Misalnya, Khalifah Al-Mutawakkil Abbasi memerintahkan untuk membajak tanah Hair dan mengalirkan air ke makam.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Amali, Qum, Dar al-Tsaqafah, 1414 H, halaman 327; Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jilid 2, halaman 211.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Area sekitar makam Imam Husain as disebut Hair Husaini. Area ini memiliki keutamaan dan hukum fikih khusus, dan seorang musafir dapat melaksanakan shalat lengkap di dalamnya.&amp;lt;ref&amp;gt;Thabathabai Yazdi, Sayid Muhammad Kazhim, &#039;&#039;Al-Urwah al-Wutsqa&#039;&#039;, Beirut, 1404 H, jilid 2, halaman 164.&amp;lt;/ref&amp;gt; Terdapat beberapa pendapat tentang luas pasti Hair, dan minimalnya adalah area dengan radius 11 meter dari makam Imam Husain, yang memiliki tingkat keutamaan tertinggi.&amp;lt;ref&amp;gt;Kalidar, Abdul Jawad, Tarikh Karbala wa Hair al-Husain Alaih al-Salam, Najaf, cetakan ofset Qum, 1376 H, halaman 51–52, 58–60.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Ziarah ke Makam Imam Husain as==  &lt;br /&gt;
Dalam riwayat para Imam Maksum, ziarah ke makam Imam Husain as tidak hanya ditekankan, tetapi juga dianggap sebagai salah satu amalan terbaik dan paling utama.&amp;lt;ref&amp;gt;Muassasah Imam Hadi as, Jami&#039; Ziyarat al-Ma&#039;sumin, Qum, Payam Imam Hadi as, 1389 H, jilid 3, halaman 36–69.&amp;lt;/ref&amp;gt; Bahkan, pahalanya disamakan dengan haji dan umrah.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Qulawiyah, Ja&#039;far bin Muhammad, Kamil al-Ziyarat, Najaf, Dar al-Murtadhawiyah, 1356 H, halaman 158–161.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kitab-kitab ziarah, terdapat beberapa ziarah mutlak untuk Imam Husain yang dapat dibaca kapan saja&amp;lt;ref&amp;gt;Muhammadi Risyahri, Muhammad dan kawan-kawan, Danesyameh Imam Husain as, terjemahan Muhammad Muradi, Qum, Dar al-Hadits, 1430 H, jilid 12, halaman 256–452.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan beberapa ziarah khusus yang dibaca pada waktu tertentu.&amp;lt;ref&amp;gt;[https://hawzah.net/fa/Magazine/View/6444/8140/107167/زیارت-های-مخصوصه-امام-حسین «Ziarah Khusus Imam Husain», Situs Informasi Hauzah.]&amp;lt;/ref&amp;gt; Ziarah Asyura, Ziarah Warits, dan Ziarah Nahiyah Muqaddasah adalah beberapa ziarah yang paling terkenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Arbain Husaini==&lt;br /&gt;
{{Artikel Utama|Arbain Husaini}}&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Syiah melakukan tradisi berkabung pada hari ke-40 setelah kesyahidan Imam Husain as, yang dikenal sebagai Arbain Husaini. Pada hari ini, para pecinta Imam Husain as pergi berziarah ke makam beliau di Karbala.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut beberapa laporan sejarah, tawanan Karbala dalam perjalanan kembali dari Syam ke Madinah berziarah ke makam syuhada Karbala pada hari Arbain.&amp;lt;ref&amp;gt;Sayid bin Thawus, Ali bin Musa, Al-Luhuf &#039;ala Qatla al-Thufuf, Qum, Aswah, 1414 H, halaman 225.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dikatakan bahwa Jabir bin Abdullah al-Anshari adalah orang pertama yang hadir di makam Imam Husain as pada hari ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, Mishbah al-Mutahajjid, Beirut, Muassasah Fiqh al-Syiah, 1411 H, halaman 787.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anjuran untuk melakukan ziarah Arbain telah mendorong umat Syiah dari berbagai penjuru dunia untuk berbondong-bondong menuju Karbala setiap tahunnya. Perjalanan ini, yang biasanya dilakukan dengan berjalan kaki, dianggap sebagai salah satu prosesi terbesar di dunia. Sumber berita melaporkan bahwa jumlah peziarah Arbain pada tahun 1398 Hijriah mencapai lebih dari 18 juta orang.&amp;lt;ref&amp;gt;[https://www.irna.ir/news/83522637/ «Jumlah Peziarah Arbain Tahun Ini Melebihi 18 Juta», Kantor Berita Republik Islam.]&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Riwayat-Riwayat Imam Husain== &lt;br /&gt;
Dalam berbagai sumber hadis dan sejarah, terdapat banyak referensi tentang ucapan,&amp;lt;ref&amp;gt;Ma&#039;had Penelitian Baqir al-Ulum as, Mausu&#039;ah Kalimat al-Imam al-Husain, 1416 H, pengantar, halaman Z.&amp;lt;/ref&amp;gt; doa,&amp;lt;ref&amp;gt;Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, Tehran, Islamiyah, cetakan kedua, 1363 H, jilid 95, halaman 214.&amp;lt;/ref&amp;gt; surat,&amp;lt;ref&amp;gt;Ahmadi Miyanji, Ali, Makatib al-A&#039;immah, Ayatullah Ahmadi Miyanji, Qum, Dar al-Hadits, 1426 H, jilid 3, halaman 83–156.&amp;lt;/ref&amp;gt; syair,&amp;lt;ref&amp;gt;Karbasi, Muhammad Shadiq, Da&#039;irat al-Ma&#039;arif al-Husainiyah, Diwan al-Imam al-Husain, London, Al-Markaz al-Husaini li al-Dirasat, 2001 M, jilid 1 dan 2.&amp;lt;/ref&amp;gt; khutbah,&amp;lt;ref&amp;gt;Ibnu Syu&#039;bah Harrani, Hasan bin Ali, Tuhaf al-&#039;Uqul, Qum, Jamaah Mudarrisin, 1404 H, halaman 237–240; Syekh Mufid, Al-Irsyad fi Ma&#039;rifah Hujaj Allah &#039;ala al-&#039;Ibad, Qum, Kongres Syekh Mufid, cetakan pertama, 1413 H, jilid 2, halaman 97–98.&amp;lt;/ref&amp;gt; dan wasiat Imam Husain as.&amp;lt;ref&amp;gt;Khuwarizmi, Muaffaq bin Ahmad, Maqtal al-Husain as, Qum, Anwar al-Huda, cetakan kedua, 1423 H, jilid 1, halaman 273.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dalam buku Musnad al-Imam al-Syahid karya Azizullah Atharadi dan Mausu&#039;ah Kalimat al-Imam al-Husain, semua riwayat dari Imam as telah dikumpulkan.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Karya-Karya tentang Kehidupan Imam== &lt;br /&gt;
Tentang kepribadian dan kehidupan Husain bin Ali as, banyak karya telah ditulis dalam bentuk ensiklopedia, biografi, maqtal (kisah kesyahidan), dan sejarah analitis. Lebih dari empat puluh buku dan artikel telah membahas topik &amp;quot;bibliografi Imam Husain&amp;quot;.&amp;lt;ref&amp;gt;[http://www.ensani.ir/fa/content/187015/default.aspx Esfandiyari, «Bibliografi Bibliografi Imam Husain as», halaman 41.]&amp;lt;/ref&amp;gt; Sebagai contoh, dalam «Bibliografi Khusus Imam Husain», disebutkan 1.428 karya dengan detail penerbitan.&amp;lt;ref&amp;gt;Safar Ali Pour, Heshmatullah, Kitab Syenasi Ikhtisasi Imam Husain, Qum, Yaqut, 1381 H, halaman 255.&amp;lt;/ref&amp;gt; Agha Buzurg Tehrani juga dalam bukunya Al-Dzari&#039;ah ila Tashanif al-Syiah memperkenalkan 985 buku tentang topik ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Esfandiyari, Muhammad, Kitab Syenasi Tarikhi Imam Husain as, Tehran, Organisasi Penerbitan dan Percetakan, 1380 H, halaman 491.&amp;lt;/ref&amp;gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Catatan Kaki==&lt;br /&gt;
{{ck}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Abadiyuwono2014</name></author>
	</entry>
</feed>